cover
Contact Name
Indri Seta Septadina
Contact Email
indri.andriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
rulanadnindya.md@fk.unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 24067431     EISSN : 26140411     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya with registered number ISSN 2406-7431 (Print) and ISSN 2614-0411 (Online), is a scientific journal managed by Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya, Indonesia. It publishes original research articles and reviews in Biomedical Sciences, Medicine (Neurology, Cardiovascular, Respiratory, Gastrointestinal, Urogenital, Endocrine and Metabolism, Integument, Mental Health, Obstetry and Gynecology, Ophtalmology, ENT, Musculusceletal) and Public Health Medicine.
Arjuna Subject : -
Articles 641 Documents
KADAR GLUKOSA Mus musculus MODEL DIABETES DENGAN PERLAKUAN BEBERAPA JENIS MAKANAN LOKAL Dewi Permatasari Akyuwen; Veince Benjamin Silahooy
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.20484

Abstract

Abstrak Penatalaksanaan penyakit diabetes bertujuan untuk mengendalikan kadar glukosa. Pengendalian dapat dilakukan bersama dengan adaptasi gaya hidup dan pola makan. Penerapan diet yang salah dapat memperburuk kondisi penderita diabetes. Terdapat beberapa temuan di wilayah kerja puskesmas taniwel dimana pasien beranggapan bahwa beras subsidi dan beberapa jenis makanan lokal memiliki kadar glukosa yang rendah, sehingga dapat dikonsumsi dalam jumlah banyak. Untuk membuktikan itu perlu diuji secara ilmiah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji beberapa makanan lokal yang dianggap memiliki kadar glukosa rendah terhadap penderita diabetes. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Data kemudian dianalisa dengan ANOVA one-way dan uji lanjut LSD. Hasil menunjukkan perbedaan penurunan kadar glukosa pada K+, P1, P2, dan P3. K- tidak mengalami penurunan GDS dari menit 30 sampai 120. Uji anova menunjukan nilai signifikansi 0,001. Hasil uji lanjut LSD menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05) pada kelompok K+, P1, P2, dan P3. Hasil analisa ini menyimpulkan bahwa kadar glukosa mencit yang mengkonsumsi beras subsidi, beras komersil, keladi dan pisang tidak memiliki perbedaan bermakna dalam penurunan kadar glukosa. Konsumsi berlebih tidak dianjurkan, sehingga diet dengan makanan lokal ini tetap perlu mendapatkan anjuran dan pengawasan dari tenaga kesehatan. Kata kunci: diabetes, makanan lokal, mus musculus Abstract Management of diabetes aims to control glucose levels. Control can be done together with lifestyle adaptations and diet. Application of the wrong diet can worse the condition of diabetics. There were several findings in the area of the Taniwel Health Center where there are patients who think that subsidized rice and some types of local food have low glucose levels, so they can be consumed in large quantities. To prove it, the teory needs to be tested scientifically. The purpose of this study was to test some local foods that are considered to have low glucose levels for diabetics. This study used a completely randomized design with 5 treatments and 3 replications. The data were then analyzed by one-way ANOVA and LSD test. The results showed differences in the decrease in glucose levels at K+, P1, P2, and P3. K- did not decrease from 30 to 120 minutes. The ANOVA test showed a significance value of 0.001. The results of the LSD test showed no significant difference (p > 0.05) in the K+, P1, P2, and P3 groups. The results of this analysis concluded that the glucose levels of mice consuming subsidized rice, commercial rice, taro and bananas did not have a significant difference in decreasing glucose levels. Excessive consumption is not recommended, so a diet with local foods still needs to get advice and supervision from health workers. Keywords: diabetic, local foods, mus musculus
CARPAL TUNNEL SYNDROM: ANATOMICAL PERSPECTIVE Msy Rulan Adnindya; Msy Syarenta Adenina; Tri Suciati; Indri Seta Septadina; Wardiansah Wardiansah
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22362

Abstract

ABSTRAKSindrom terowongan carpal, yang dikenal dengan Carpal Tunnel Syndrome (CTS), adalah kondisi medis yang terjadi ketika nervus medianus, yang melintasi pergelangan tangan menuju jari-jari tengah dan ibu jari, terjepit atau tertekan di dalam terowongan carpal. Terowongan carpal terletak di pergelangan tangan dan terdiri dari tulang dan jaringan ikat yang membentuk lantai dan atap terowongan. Nervus medianus dan tendon otot-otot fleksor tangan melintasi terowongan ini. Rata-rata, setidaknya 3,8% dari orang yang mengeluhkan nyeri, ketidakresponsifan, dan sensasi gatal di tangan mereka menderita CTS. CTS dijumpai 276 per 100.000 laporan tahunan. Prevalensi kondisi ini dapat bervariasi tergantung pada faktor-faktor seperti populasi, gaya hidup, dan kebiasaan kerja. Terowongan carpal adalah jalur osseo-fibrous yang sempit yang ditemukan di bagian depan pergelangan tangan. berfungsi sebagai pintu masuk ke telapak tangan untuk nervus medianus, tendon dari flexor digitorum superficialis, flexor digitorum profundus dan flexor pollicis longus. Struktur abnormal di dalam dan di sekitar terowongan carpal dapat meningkatkan volume terowongan carpal yang dapat mengakibatkan kompresi nervus medianus. Kompresi nervus medianus dimanifestasikan oleh kelemahan dan hilangnya kekuatan otot-otot thenar, dan hilangnya sensasi kulit dari permukaan palmar dari tiga setengah digit lateral. Oleh karena itu, pengetahuan tentang struktur di dalam dan di sekitar terowongan carpal serta lokasi kompresi berguna dalam menentukan patologi dan pengobatan yang tepat untuk neuropati kompresi. AbstractCarpal Tunnel Syndrome: Anatomical ReviewCompression of the median nerve within the carpal tunnel is called carpal tunnel syndrome and is manifested by weakness and wasting of the thenar muscles. Carpal tunnel syndrome, also known as carpal tunnel syndrome (CTS), is a medical condition that occurs when the median nerve, which crosses the wrist toward the middle fingers and thumb, is pinched or compressed within the carpal tunnel. The carpal tunnel is located at the wrist and consists of bone and connective tissue that make up the floor and roof of the tunnel. The median nerve and tendons of the flexor muscles of the hand cross this tunnel. On average, at least 3.8% of people who complain of pain, unresponsiveness, and itching sensations in their hands suffer from CTS. CTS was found at 276 per 100,000 annual reports. The prevalence of this condition can vary depending on factors such as population, lifestyle, and work habits. The carpal tunnel is a narrow osseo-fibrous pathway found at the front of the wrist. serves as the entrance to the palm for the median nerve, tendons of the flexor digitorum superficialis, flexor digitorum profundus, and flexor pollicis longus. Abnormal structures in and around the carpal tunnel can increase the volume of the carpal tunnel which can result in compression of the median nerve. Compression of the median nerve is manifested by weakness and loss of strength of the thenar muscles and loss of skin sensation from the palmar surface of the three and a half lateral digits. Therefore, knowledge of the structures in and around the carpal tunnel as well as the location of compression is useful in determining the pathology and appropriate treatment for compression neuropathy.Keywords: CTS, Anatomy, Hand, Carpal Tunnel
MANAJEMEN INFEKSI RABIES BERISIKO TINGGI: STUDI KASUS TANPA SERUM ANTI-RABIES Mahdika Ambarwaty; Mario B. Nara; Defranky Theodorus; Riry Ambarsarie
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.21898

Abstract

AbstrakRabies merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius terutama di daerah dan telah masuk dalam program daerah namun terabaikan selama masa pandemi. Seorang anak laki laki berusia empat tahun dibawa ke RSUD TC Hillers Maumere datang dengan keluhan demam dan mual muntah lebih dari lima kali. Dari anamnesis melalui keluarganya diketahui bahwa pasien memiliki riwayat digigit anjing di area wajah dan pergelangan tangan kanan pada 14 hari sebelum muncul keluhan. Pada kasus ini pasien sudah mendapatkan perawatan luka dan Vaksin Anti Rabies (VAR) dosis kedua tetapi tidak mendapatkan Serum Anti Rabies (SAR). Pada kasus dengan area gigitan resiko tinggi, pemberian VAR harus disertai pemberian SAR untuk mengurangi moralitas. Kata kunci: rabies, serum anti-rabies, anakAbstract Rabies is a serious public health problem, especially in the regions and has been included in regional programs but neglected during the pandemic. A four-year-old boy taken to TC Hillers Maumere Hospital came in complaining of fever and nausea, vomiting more than five times. From the history through his family, it is known that the patient had a history of being bitten by a dog in the face and right wrist area in the 14 days before complaints appeared. In this case, the patient has received wound care and the second dose of Anti-Rabies Vaccine (VAR) but did not get Anti-Rabies Serum (SAR). In cases with high-risk bite areas, VAR should be accompanied by SAR to reduce mortality.  Keywords: rabies, anti-rabies serum, child
ORIENTASI SEKSUAL BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN MENTAL PADA LAKI-LAKI BERUSIA 20-25 TAHUN Alita Adiwarna; Kartini Kartini; Erita Istriana
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22082

Abstract

Abstrak Kasus gangguan mental di Indonesia mengalami peningkatan dan berdampak pada penurunan produktivitas manusia. Salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental dalam tahap perkembangan manusia adalah bagaimana orientasi seksualnya. Penelitian terdahulu mengungkapkan bahwa orang dewasa dengan orientasi seksual abnormal memiliki kesejahteraan mental yang terganggu namun penelitian lainnya menunjukkan laki-laki aseksual memiliki mental yang sejahtera. Penelitian ini bertujuan menilai hubungan orientasi seksual dan kesehatan mental pada laki-laki berusia 20 -25 tahun. Desain penelitian observatif analitik dengan pendekatan cross-sectional, sebanyak 119 subjek laki – laki berusia 20-25 tahun berlokasi di salah satu restoran dan bar di wilayah Jakarta. Teknik pengambilan sampel non-random dengan metode consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala Kinsey (orientasi seksual heteroseksual-homoseksual) dan skala kesehatan mental. Data dianalisis dengan uji Chi-square dan tingkat kemaknaan p<0.05. Sebanyak 55.5% subjek laki-laki berusia 23-25 tahun, 82.4% berstatus bekerja, 65.6% memiliki keluarga tiri/tunggal. Sebanyak 60.5% subjek dengan orientasi seksual abnormal dan 63.9% kesehatan mentalnya terganggu. Uji Chi-Square untuk menilai hubungan orientasi seksual dan kesehatan mental menunjukkan nilai p=0.00 sehingga disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara orientasi seksual dan kesehatan mental laki-laki berusia 20-25 tahun di salah satu bar di Jakarta. Kata kunci: Kesehatan mental, laki-laki, orientasi seksual. Abstract  Sexual orientation was associated with mental health in men aged 20-25 years in a bar in Jakarta Cases of mental disorders in Indonesia have increased and had an impact on decreasing human productivity. One of the factors that influences mental health at this stage of human development is sexual orientation. Previous studies had revealed that adults with abnormal sexual orientation have impaired mental well-being, but other studies had shown asexual men to be mentally well. This study aimed to assess the relationship between sexual orientation and mental health in men aged 20-25 years. Analytical observation research design with a cross-sectional approach: as many as 119 male subjects aged 20-25 years were located in one of the restaurants and bars in the Jakarta area. A non-random sampling technique with consecutive sampling methods had been used for sample collection. Data were collected using the Kinsey scale (heterosexual-homosexual sexual orientation) and the mental health scale. The data were analyzed with the Chi-square test and a significant level of p<0.05. 55.5% of male subjects between the ages of 23 and 25, 82.4% were employed, and 65.6% had a step/single family. As many as 60.5% of subjects have an abnormal sexual orientation, and 63.9% have impaired mental health. The Chi-Square test to assess the association between sexual orientation and mental health showed a value of p=0.00. It was concluded that there was a significant association between sexual orientation and mental health in men aged 20 to 25 in a bar in Jakarta. Keywords: Mental health, men, sexual orientation 
POLA ASUH PEMBERIAN STIMULASI BERBAHASA TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 3-5 TAHUN DI PUSKESMAS WILAYAH BANTEN Angeline Wijaya; Herwanto Herwanto
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22042

Abstract

Abstrak Peran orang tua dalam mengasuh merupakan faktor yang penting dalam mencapai perkembangan anak yang optimal termasuk perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa yang optimal dapat didukung dengan pemberian stimulasi berbahasa secara berkesinambungan, seperti bermain bersama, membaca buku dongeng, mengajak anak bernyanyi, memberikan buku bergambar, bahkan berdialog dengan anak mampu meningkatkan pemahaman dan respon anak dalam berbahasa. Interaksi antar aorag tua dan anak juga dibutuhkan untuk pemantauan tumbuh kembang agar dapat melakukan deteksi dini bila terjadi perkembangan bahasa yang tidak sesuai atau keterlambatan bicara. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pemberian stimulasi berbahasa terhadap perkembangan bahasa pada anak usia 3-5 tahun di Puskesmas Wilayah Banten. Penelitian merupakan studi analitik observatif menggunakan metode potong melintang. Pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik konsekutif dengan subyek orang tua serta anak usia 3-5 tahun sebanyak 71 responden. Pengambilan data penelitian dilakukan menggunakan kuesioner pemberian stimulus dan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), kedua kuesioner tersebut digunakan untuk menilai frekuensi orang tua dalam pemberian stimulus dan perkembangan bahasa pada anak. Analisis hasil penelitian menggunakan uji statistik Chi-square, dan dari hasil analisis pada penelitian ini didapatkan nilai p < 0,05 sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemberian stimulasi berbahasa dengan perkembangan bahasa anak. Kata kunci: Pola asuh, stimulasi berbahasa, perkembangan bahasa, keterlambatan bicara Abstract Parenting is important in achieving optimal child development, including language development. Providing continuous language stimulation, such as playing together, reading fairy tales, singing together, giving illustrated magazine and having dialogue with children can improve children’s understanding and response in language. Parent-child interaction is also needed to monitor growth and development so that early detection can occur if there is speech delay. This study was made to know the relationship between language stimulation and language development in children aged 3-5 years at the Health Center in Banten region. Design of the research used analytic observational and the study used cross sectional  method. The sampling method was carried out by consecutive technique, parents and children aged 3-5 years as subjects and total 71 respondents collected. Research data collected using language stimulation questionnaire and Developmental Pre Screening Questionnaire to asses language development in children. Analysis of the study used the Chi-Square statistical test, and the p-value < 0,05 was obtained, therefore it can be conclude that there is a significant relationship between the language stimulation and language development in children Keywords: Parenting, language stimulation, language development, speech delay  
PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA: SYSTEMATIC REVIEW Muhammad Farhan; Yudhie Tanta; Indri Seta Septadina
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22237

Abstract

Abstrak Hipertensi dapat terjadi pada semua usia dan jenis kelamin yang berdampak terjadinya berbagai komplikasi, termasuk gangguan kognitif. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipertensi terhadap gangguan fungsi kognitif, khususnya pada populasi lanjut usia. Studi ini dibuat menyesuaikan PRISMA melalui database PubMed, Science Direct, Europe PMC, Willey Online Library, Sage Journal, dan DOAJ dengan pemfokusan pada hipertensi dan fungsi kognitif pada lansia. Terpilih lima studi terpilih dengan partisipan berjumlah 16.435. Hasil observasi berupa adanya pengaruh hipertensi terhadap gangguan fungsi kognitif pada lansia, terutama pada domain memori dan kecepatan pemrosesan. Dapat disimpulkan bahwa tingginya tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik, berpengaruh terhadap gangguan fungsi kognitif. Kata kunci: Hipertensi, Gangguan Kognitif, Lansia Abstract Hypertension can occur to every age and gender, can be complicated to vary diseases, including cognitive impairment. This study aims to determine the effects of hypertension to cognitive impairment in Elder. This study was adjusted by PRISMA through PubMed, Sciece Direct, Europe PMC, Willey Online Library, Sage Journal, and DOAJ databases with highlighted to hypertension and cognitive function in elder. Five studies were selected with 16.435 participants. The results showed that hypertension affect the cognitve function in elder, especially in domain of memory and processing speed. In the conclusion, high blood pressure, either systolic and diastolic, affects cognitive impairment Keywords: Hypertension, Cognitive Impairment, Elder
STUDI PUSTAKA: PERBANDINGAN STREAK RETINOSKOPI DAN AUTOREFRAKTOMETER DALAM MENENTUKAN KELAINAN REFRAKSI Abraham Adiwidjaja Sutjiono; Jeremi Christianto Jalil Tanggulungan; Ardo Sanjaya; Julia Windi Gunadi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22204

Abstract

Kelainan refraksi atau ametropia adalah penyebab umum gangguan penglihatan yang dibagi menjadi miopi, hipermetropi, astigmatisma, dan presbiopia. Kelainan refraksi tidak dapat dicegah, namun dapat didiagnosis dari pemeriksaan mata dan dapat dikoreksi dengan menggunakan lensa kacamata, lensa kontak dan juga dengan tindakan operasi. Sampai saat ini standar baku emas untuk menghitung status refraksi seseorang masih menggunakan retinoskopi dan refraksi subjektif. Studi pustaka ini bertujuan untuk membahas mengenai perbandingan keakuratan antara hasil retinoskopi dan autorefraktometer untuk menentukan status refraksi seseorang. Retinoskopi merupakan suatu metode objektif yang paling sering digunakan oleh dokter mata dalam menentukan optical power seseorang dengan menggunakan alat yaitu retinoskop. Namun, sekarang ini autorefraktometer telah digunakan secara luas untuk menghitung status refraktif seseorang. Autorefraktometer atau automated objective refractor adalah metode elektronik otomatis untuk mengukur kelainan refraksi secara objektif yang telah banyak digunakan di klinik maupun toko-toko kacamata dikarenakan hanya membutuhkan waktu yang singkat dan prosedur pemeriksaan yang sederhana. Terdapat 5 penelitian yang membandingkan keakuratan retinoskopi dan autorefractometer dalam menentukan status refraksi. Studi Pustaka ini ini menyimpulkan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan retinoskopi memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan autorefraktometer dalam menentukan status refraksi seseorang.
MANIFESTASI KLINIS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) Enny Nugraheni; Debie Rizqoh; Mulya Sundari
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.21425

Abstract

Abstrak Demam Berdarah Dengue ada penyakit infeksi yang disebabkan virus dengue. Manusia akan terinfeksi setelah diinfeksi oleh nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus DENV. Virus dengue terdiri dari 4 serotipe yaitu DENV-1, 2, 3 dan 4. Virus dengue dapat menyebabkan dua tipe infeksi yaitu infeksi primer dan infeksi sekunder. Infeksi primer dapat muncul sebagai demam akut atau disebut demam dengue yang akan dinetralisir dalam tujuh hari oleh respon imun. Sedangkan infeksi sekunder cenderung akan lebih berat dan akan mengakibatkan demam berdarah dengue (DBD) atau sindrom renjatan dengue (SRD).Manifestasi klinis DBD dapat diklasifikasikan berdasarkan kondisi klinis pasien dan hasil pemeriksaan penunjang. Kasus simptomatik dapat dibedakan menjadi beberapa klasifikasi diantaranya adalah undifferentiated febrile illness (UF), Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD), sindrom renjatan dengue (SRD) dan unusual dengue (UD). Manifestasi klinis dapat berdampak pada organ dan sistem yang ada di seluruh tubuh. Manifestasi klinis dengue bervariasi dari yang ringan sampai dengan berat. Manifestasi utama berupa adanya plasma leakage yang digambarkan pada fase awal adanya pendarahan ringan sampai berat. Tanda plasma leakage juga dapat ditemukan pada multiple organ Klasifikasi DBD dapat dilakukan berdasarkan WHO 1997 dan WHO 2009. Manifestasi klinis ini penting diketahui dan dipahami untuk menegakkan diagnosis yang cepat sehingga dapat melakukan penatalaksanaan DBD dengan baik sehingga mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. Kata kunci: Syok, Infeksi, Gejala AbstractDengue Hemorrhagic Fever is an infectious disease caused by the dengue virus. Humans will become infected after being infected by the Aedes Aegypti mosquito that carries the DENV virus. Dengue virus consists of 4 serotypes namely DENV-1, 2, 3 and 4. Dengue virus can cause two types of infection, namely primary infection and secondary infection. Primary infection may appear as acute fever or called dengue fever which will be neutralized within seven days by the immune response. While secondary infections tend to be more severe and will result in dengue hemorrhagic fever (DHF) or dengue shock syndrome (SRD). The clinical manifestations of DHF can be classified based on the patient's clinical condition and the results of investigations. Symptomatic cases can be divided into several classifications including undifferentiated febrile illness (UF), Dengue Fever (DD), Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), Dengue shock syndrome (SRD) and unusual dengue (UD). Clinical manifestations can impact organs and systems throughout the body. Dengue clinical manifestations vary from mild to severe. The main manifestation is the presence of plasma leakage which is described in the initial phase of light to heavy bleeding. Plasma leakage signs can also be found in multiple organs. Classification of DHF can be done based on WHO 1997 and WHO 2009. . It is important to know and understand these clinical manifestations in order to make a quick diagnosis so that DHF can be managed properly, thereby reducing morbidity and mortality.Keywords: Shock, infection, symptom
HUBUNGAN POLA MAKAN DAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEJADIAN ANEMIA Putri Yana Harahap; Amelia Eka Damayanty
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22064

Abstract

Abstrak Anemia merupakan masalah gizi di dunia, khususnya negara berkembang yakni salah satunya Indonesia. Anemia sering terjadi pada remaja yang dapat dipengaruhi oleh pola makan. Pola makan merupakan cara memperoleh makanan (berapa kali dalam satu hari), jenis makanan, dan frekuensi makan. Pola makan tidak sesuai dapat mengakibatkan asupan gizi (makronutrien dan mikronutrien) yang berlebih atau berkurang. Selain pola makan, IMT juga memengaruhi kejadian anemia. IMT merupakan pengukuran dalam pemantauan status gizi yang sederhana. Untuk mengetahui hubungan pola makan dan indeks massa tubuh (IMT) dengan kejadian anemia pada mahasiswa/i angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Pendekatan cross-sectional, data diambil satu kali pada waktu yang sama. Pengambilan data menggunakan data primer berupa kuesioner, antropometri, dan pengecekan kadar Hb. Uji T independent untuk pola makan dengan anemia diperoleh hasil P<0.05. Sedangkan, hipotesis uji spearman untuk IMT dengan anemia diperoleh hasil P>0.05, Terdapat hubungan pola makan dengan kejadian anemia pada mahasiswa/i dan tidak terdapat hubungan IMT dengan kejadian anemia pada mahasiswa/i. Kata Kunci : Anemia, Pola Makan, Indeks Massa Tubuh Abstract The Relationship Between Eating and BMI With The Incidence of Anemia in  FK UMSU 2019 Students.Anemia is a nutritional problem in the world, especially developing countries, one of which is Indonesia. Anemia often occurs in adolescents which can be influenced by diet. Diet is a way of obtaining food (how many times a day), the type of food, and the frequency of eating. Inappropriate eating patterns can result in excessive or reduced intake of nutrients (macronutrients and micronutrients). In addition to diet, BMI also affects the incidence of anemia. BMI is a measurement in monitoring simple nutritional status. To find out the relationship between diet and body mass index (BMI) with the incidence of anemia in class 2019 students at the Faculty of Medicine, Muhammadiyah University, North Sumatra. Cross-sectional approach, data is taken once at the same time. Data collection used primary data in the form of questionnaires, anthropometry, and checking Hb levels. Independent T-test for eating patterns with anemia obtained P <0.05. Meanwhile, the Spearman test hypothesis for BMI with anemia obtained results of P> 0.05, there was a relationship between diet and the incidence of anemia in college students and there was no relationship between BMI and the incidence of anemia in college students.  
STATUS ANEMIA TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN SUBTIPE DIFFUSE LARGE B-CELL LYMPHOMA Angga Febriyanto; Krisna Murti; Soilia Fertilita
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 10, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V10I3.22336

Abstract

AbstrakDiffuse large B-cell lymphoma (DLBCL) merupakan neoplasma sel-B sedang atau besar yang pola pertumbuhanya secara difus dengan inti besar. Sekitar 30-40 % kasus limfoma merupakan DLBCL. Berdasarkan fiturmolekuler dan cell of origin (COO), DLBCL dibagi menjadi subtipegerminal center B-cell (GCB) dan activated B-cell (ABC) / non-germinal center B-cell (non-GCB). Anemia menjadi salah satu kondisi klinis yang seringmenyertai limfoma. Anemia pada limfoma dikaitkan dengan prognostik yang lebihburuk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan subtipe molekular DLBCL dengan anemia. Penelitian ini adalah jenis penelitian cross-sectional, dengan sampel adalah semua pasien yang terdiagnosis DLBCL di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang tahun 2017-2021 sesuai kriteria yang ditentukan. Data Hb yang diambil adalah hasil pemeriksaan Hb paling awal pasien sebelum dilakukan biopsi. Dari 93 sampel, kasus DLBCL tinggi pada kelompokusia<60 tahun (64,5%), jenis kelaminlaki-laki (58,1%), lokasi ekstranodal (72%), varian sentroblastik (75,3%), dan subtipe non-GCB (75,3%). Anemia terjadi pada 76,3% kasus. Derajat mild (69%) memiliki proporsi yang paling tinggi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara subtipe molekular DLBCL baik dengan status anemia (p= 0,97) maupun dengan derajat anemia (p= 0,97). Berdasarkan hasil penelitian, tidak terdapat hubungan yang bermakna subtipe molekular DLBCL dengan status anemia dan derajat anemia.Kata Kunci: DLBCL, SubtipeMolekular, GCB, Non-GCB, Anemia.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 3 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 3 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 10 No. 3 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 3 (2023) Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 2 (2023) Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 1 (2023) Vol. 9 No. 3 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 9, No 3 (2022) Vol 9, No 2 (2022) Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 9, No 1 (2022) Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 8 No. 3 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 8, No 3 (2021) Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 8, No 2 (2021) Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 8, No 1 (2021) Vol 7, No 3 (2020) Vol. 7 No. 3 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 7, No 2 (2020) Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 7, No 1 (2020) Vol 6, No 3 (2019) Vol. 6 No. 3 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 6, No 2 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 6, No 1 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 3 (2018): Oktober 2018 Vol 5, No 3 (2018) Vol. 5 No. 3 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 5 No. 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 2 (2018) Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 1 (2018) Vol 4, No 3 (2017) Vol. 4 No. 3 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 4, No 2 (2017) Vol 4, No 1 (2017) Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 3, No 3 (2016) Vol. 3 No. 3 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 3 No. 2 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 2 (2016) Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 3 (2015): OKTOBER 2015 Vol. 2 No. 3 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 2, No 3 (2015) Vol 2, No 2 (2015) Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 2, No 1 (2015) Vol. 2 No. 1 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 1, No 1 (2014): Oktober 2014 Vol. 1 No. 1 (2014): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 1, No 1 (2014) More Issue