cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nadwa : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19791739     EISSN : 25028057     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 522 Documents
The Refinement on Character education to Strengthening Islamic Education in Industrial Era 4.0 Adun priyanto
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.5563

Abstract

The research is to know the strengthening of Islamic educations in accordance with the need for the Industrial era 4.0 industrial era (turbulence era). Within those advancements, character education has become an oasis in the middle of morality decadences of millennial generation in the present society and a fort to prevent the destruction of a nation. The research method uses literature study by collecting data from documentation using the descriptive-analysis method. The results of the study concluded, Islamic education transformation is greatly required to gain solutions by strengthening Islamic educational management, Islamic educational leadership, and educational policy on character educations. Character education in Islamic Education does not only teach right or wrong but also teaches students to commit to doing the right thing. The character emphasizes practice in the students’ daily lives such as the implementation of, honest (Siddiq), trustworthy (Amanah), smart (fathonah) and conveys the truth (tabligh), in relationship, a good citizen attitude.   AbstrakMasyarakat Islam harus melakukan modernisasi pendidikan Islam dalam segala aspek pendidikan, kurikulum, tata kelola institusi, model dan strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan era industri 4.0 (era turbulensi). Dalam kemajuan tersebut, pendidikan karakter telah menjadi oase di tengah dekadensi moralitas generasi milenial di masyarakat saat ini dan benteng pencegah kehancuran suatu bangsa. Metode penelitian menggunakan studi pustaka dengan mengumpulkan data dari dokumentasi menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan, transformasi pendidikan Islam sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi dengan memperkuat manajemen pendidikan Islam, kepemimpinan pendidikan Islam, dan kebijakan pendidikan pada pendidikan karakter. Pendidikan karakter dalam Pendidikan Islam tidak mengajarkan benar atau salah, tetapi juga mengajarkan siswa untuk berkomitmen melakukan hal yang benar. Karakter tersebut menekankan pada praktik dalam kehidupan sehari-hari siswa seperti pelaksanaan, jujur (siddiq), amanah (amanah), cerdas (fathonah) dan menyampaikan kebenaran (tabligh), dalam menjalin hubungan, sikap warga negara yang baik. 
Tantangan Pengembangan Pendidikan Keguruan di Era Global Fitri Oviyanti
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.562

Abstract

Globalization barrage pass major changes to the world order as a whole. This era is characterized by the process of life worldwide, the advancement of science and technology, especially in the field of communication as well as the transformation and cross-cultural. Changes brought about by globalization are also experienced by the world of education with teachers as practitioners. Challenges faced by teachers in the global era, such as the development of science and technology are so rapid and fundamental; moral crisis that swept the nation and thestate, social crisis and a crisis of identity as a nation. All that obviously requires prospective teachers and qualified professionals. Teacher education programs must be able to provide excellent service to the students so that they can esta-blish qualified teacher. Improving the quality of education will foster public confidence that still exist in the future? AbstrakGlobalisasi mewariskan rentetan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh. Era ini ditandai dengan proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan  teknologi, terutama dalam bidang transformasi dan komunikasiserta terjadinya lintas budaya. Perubahan yang dibawa oleh globalisasi ini juga dialami oleh dunia pendidikan dengan guru sebagai praktisinya. Tantangan yang dihadapi guru di era global, seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno-logi yang begitu cepat dan mendasar; krisis moral yang melanda bangsa dan negara, krisis sosial dan krisis identitas sebagai bangsa. Semua itu jelas menuntut calon guru yang profesional dan bermutu. Program pendidikan guru harusmampu memberikan pelayanan prima kepada mahasiswa sehingga mampu mencetak guru yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan ini akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat sehingga tetap eksis di masa datang.
Konsep Pendidikan Islam dengan Paradigma Humanis Subaidi Subaidi
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 1 (2016): Pendidikan Islam dan Humanisme
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2016.10.1.900

Abstract

Education is a rehumanisme, that was oriented to form individuals who able to understand the reality itself and the surrounding communities. The aim of education is to create significant social change in the life of mankind. One of the contents of the national education goals is to appreciate the reality of humanity and the potential that owned learners (human). Islam in its victorius was a center of the study of various discipline. It was proved by the emergence of Muslim scientists. But over time, the Islamic intellectualism began to decline along with cultural understanding and taqlid, whereas al-Qur`an have many signaled to examines all disciplines, not limited to the religious sciences. It can be seen from the verses of al-Qur`an that ordered to examine the verses kauniyah. Thus Islamic comprehensive assessment is a paradigm of Humanist Islamic Education or in other words, humanize human accordance with the primary task of man as a khalifah on earth.Abstrak:Pendidikan merupakan pemanusiaan kembali manusia (humanisasi) yang berorientasi pada bentuknya individu yang mampu memahami realitas dirinya dan masyarakat sekitarnya serta bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial secara signifikan dalam kehidupan umat manusia. Salah satu isi dari tujuan pendidikan nasional adalah menghargai realitas kemanusiaan dan berbagai potensi yang dimilki peserta didik (manusia). Islam pada masa kejayaannya menjadi pusat kajian berbagai disiplin ilmu, hal ini terbukti dengan bermunculannya para ilmuwan muslim. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, intelektualisme Islam itu mulai redup seiring dengan pemahaman dan budaya taqlid, padahal al-Qur`an banyak memberikan isyarat agar mengkaji semua disiplin ilmu, tidak terbatas ilmu-ilmu agama saja. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat al-Qur`an yang memerintahkan untuk mengkaji ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian Pengkajian Islam secara komprehenshif baik ilmu agama maupun umum adalah sebagai Paradigma Pendidikan Islam Humanis atau dengan kata lain memanusiakan manusia sesuai dengan tugas utama manusia sebagai khalifah di muka bumi.
The Cultivation of Tolerance Value in Madrasah through Tahfidh Hadits Ahmad Musyafiq
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2938

Abstract

This article will analyze the content and learning process of the tahfidh hadith in Integrated Madrasah Ibtidaiyah (MIT) Nurul Islam Ngaliyan Semarang related to the cultivation of tolerance values. This study uses content analysis and in-depth interviews. The results of this study are that first, most of the contents of the tahfid hadith package contain ghairu mahdlah (social) worship which reaches 83%, in which there is a tolerance value, while the hadith about worship is 17%. Second, the tahfidh learning process uses a variety of methods, namely writing, reading, memorizing, translating and monitoring the application of the values contained in the hadith in everyday life. AbstrakArtikel ini akan menganalisa isi dan proses pembelajaran tahfidh hadis  di Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT)  Nurul Islam Ngaliyan Semarang terkait dengan penanaman nilai-nilai toleransi. Penelitian ini menggunakan analisis isi dan wawancara mendalam. Hasilnya adalah bahwa pertama, sebagian besar isi paket hadis tahfidh memuat ibadah ghairu mahdlah (sosial) yang mencapai 83%, yang di dalamnya terdapat nilai toleransi, sedangkan hadits tentang ibadah mahdhah 17%. Kedua, Proses pembelajaran tahfidh hadits menggunakan berbagai variasi metode yaitu menulis, membaca, menghafal, menerjemah dan pemantauan penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam hadits dalam kehidupan sehari-hari . 
Needs Analysis of The Islamic Arabic Material Teaching Based on Communicative for University Students Dwi Mawanti
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 2 (2019): Islamic Education and Trancendence
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2019.13.2.4995

Abstract

Teaching materials are one of the important components needed in the learning process. The Arabic language course program is a compulsory course for second semester students department in Islamic Education (PAI) Walisongo State Islamic University (UIN) Semarang. This study aims to describe the students' needs for communicative Arabic based teaching materials for students department in Islamic education at the Faculty of Tarbiyah and Education (FITK) UIN Walisongo Semarang. The results of this study indicate that 41.56% of students require renewal of Arabic course material developed with communicative principles that contain topics of Islamic education in accordance with the department of Islamic education. these materials include Quran-Hadith, Aqedah, Tafsir, Sufism, Fiqh and Islamic History.. AbstrakBahan ajar adalah salah satu komponen penting yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Program kursus Bahasa Arab adalah kursus wajib untuk mahasiswa semester dua di jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kebutuhan siswa akan bahan ajar Bahasa Arab berbasis komunikatif untuk siswa jurusan pendidikan agama islam di Fakultas Ilmu tarbiyah dan kependidikan (FITK) UIN Walisongo Semarang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 41,56% siswa membutuhkan pembaharuan materi kursus bahasa Arab yang dikembangkan dengan prinsip-prinsip komunikatif yang berisi topik-topik pendidikan Islam sesuai dengan departemen pendidikan Islam. bahan-bahan ini termasuk Quran-Hadits, Akidah, Tafsir, Sufisme, Fiqh dan Sejarah Islam.
Pengembangan Standarisasi Pondok Pesantren Umar Sidiq
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.544

Abstract

Pesantren as a forerunner to the original Indonesian educational institution just legally recognized in 2003 through the National Education Law No. 20/ 2003. The pesantren educations that were initially oriented only on deepen-ing religious knowledge have begun to include general subjects. The inclu-sion of these subjects is expected to expand the horizons of students’ thought in which they will also take the national examination held by the govern-ment. The informal education outcomes are appreciated to be equivalent to formal education after passing the assessment of equivalency process con-ducted by agencies appointed by the government or local authorities by ref-erence to national education standards. The pesantren has a special place and position in the national education system. Therefore, the pesantren should always make improvements and increase its education quality.AbstrakPesantren sebagai cikal bakal lembaga pendidikan yang asli Indonesia baru mendapat pengakuan secara yuridis pada tahun 2003 melalui UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pendidikan pesantren yang pada mulanya hanya berorientasi pada pendalaman ilmu agama semata-mata mulai memasukkan mata pelajaran umum. Masuknya mata pelajaran ini diharapkan untuk memperluas cakrawala berpikir para santri dan biasanya pula para santri mengikuti ujian negara yang diadakan oleh pemerintah. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional memiliki tempat dan posisi yang istimewa. Karena itu, sudah sepantasnya jika kalangan pesantren terus berupaya mela-kukan berbagai perbaikan dan meningkatkan kualitas serta mutu pendidikan di pesantren.
Signifikansi Paradigma Pendidikan Kritis dalam Dunia Posrealitas Gianto Gianto
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 6, No 2 (2012): Signifikansi Pendidikan Profetis
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2012.6.2.588

Abstract

New world as a result of the development of science and technology mutakhir makes sign no longer reflect reality. Representation is no longer associated with the truth. The new world was built by various forms of distortion of reality, free game mark, meaning irregularities and artificiality meaning. The new world was built by many reality distortions, the free sign game, the deviation and appear-ance of meaning. A new reality world draws a metamorphosis which is got by human, from what mentioned as a reality condition, turn to post-reality. The post-reality will not effect at all to human if the critical awareness of human is kept on. Yet, if the critical awareness of human has been eroded, the human has artificial awareness. Actually, the post-reality is not a threat for human’s life if the critical awareness is kept on. Yet, if the critical awareness of human is erod-ed, human will be pressed and dominated by post-reality world.AbstrakDunia baru akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir menjadikan tanda tidak lagi merefleksikan realitas. Representasi tidak lagi berkaitan dengan kebenaran. Dunia baru itu dibangun oleh berbagai bentuk dis-torsi realitas, permainan bebas tanda, penyimpangan makna dan kesemuan mak-na. Dunia realitas baru tersebut melukiskan sebuah metamorfosis yang dialami oleh manusia, dari apa yang disebut sebagai kondisi realitas, ke arah apa yang disebut sebagai kondisi posrealitas (post-reality). Realitas dunia posrealitas ter-sebut tidak akan berdampak apa-apa terhadap manusia jika fakultas kesadaran kritis manusia tetap terjaga, akan tetapi jika fakultas kritis manusia telah terde-gradasi maka yang akan terjadi adalah manusia yang berkesadaran artifisial. Sebenarnya posrealitas bukanlah sebuah ancaman bagi kehidupan manusia se-jauh fakultas kritis manusia masih terjaga dengan baik, akan tetapi jika fakultas kritis manusia telah terdegradasi maka yang terjadi adalah manusia yang tertin-das dan terdominasi oleh dunia posrealitas.
Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama Melalui Pendidikan Islam Substantif Nanang Hasan Susanto
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 1 (2018): Islamic Education and Peace
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.1.2151

Abstract

The increase of Islamic radicalism in Indonesia are the fact on social reality in Indonesia at present day. Therefore it is necessary to trace the basic substance of Islamic education. Through literature study and descriptive analysis, this study concludes that Islamic radicalism can be prevent by understanding the basis fundamental of islamic education in the form of 3 main points, namely: First, not mistaken in interpreting the Holy Qur'an, Second, not be trapped in the formalization of religion. The efforts of religion groups to establish the Khilafah Islamiyah (Islamic Empire) which is often triggered violence’s in making it happen are categorized as a trapped on the formalization of religion. Third, implement a religious life with Hanif, that is to implement a religious life with a right attitude, Sincere and passionate truth, in accordance with what is exemplified by Prophet Ibrahim as the father of monotheis, and in accordance with the content of QS Ar-Rum verse 30.Abstrak.Menguatnya gerakan Islam radikal  merupakan  fakta yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menelusuri substansi mendasar pendidikan Islam. Melalui studi pustaka dan analisis deskriptif, penelitian ini menawarkan sebuah gagasan, bahwa radikalisme atas nama agama dapat ditangkal dengan memahami substansi mendasar pendidikan agama Islam berupa 3 hal pokok, yakni Pertama, tidak salah dalam menafsirkan kitab suci Al-Qur’an, Kedua, beragama tidak terjebak pada formalisasi agama. Upaya berbagai kelompok untuk mendirikan Khilafah Islamiyah yang seringkali disertai kekerasan dalam mewujudkannya, dikategorikan sebagai bentuk keterjebakan pada formalisasi agama. Ketiga, menjalankan kehidupan beragama dengan hanif, yakni menjalankan kehidupan beragama dengan sikap yang lurus, tulus dan bersemangat kebenaran, sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Ibrahim sebagai bapak monotheis, dan sesuai dengan kandungan Q.S. ar-Rum ayat 30.
An Introduction to a Vygotskian Tradition: The Potential of Sociocultural Activity Theory for Studies into Cognitive Development in Islamic Education Dery Tria Agustin
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2021.15.2.9815

Abstract

This paper presents the potential of sociocultural activity theory as a combined theoretical and analytical framework for cognitive-developmental research in Islamic education. The paper is divided into three main sections. The first section briefly explains Vygotsky’s sociocultural theory, especially the concepts of mediation and the genetic method. The second section accounts for the related activity theory, that is, the second-generation activity theory, including the second-generation activity system model and its notion of contradiction. Drawing on a larger study into teacher cognition, the third section reports how sociocultural activity theory informed the study’s methodology, especially data collection and analysis techniques. Finally, this paper concludes with implications for future Islamic educational researchers seeking to conduct cognitive-developmental studies in their settings.
Disharmony of Parents and Children in an Online Learning during the Covid-19 Pandemic in Indonesia Fitri Oviyanti; Hasse Jubba; Zuhdiyah Zuhdiyah
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2021.15.2.9643

Abstract

The disharmony of parents and children in online learning during the pandemic was a crucial phenomenon. This disharmony had caused difficulties for children to improve their learning motivation. In line with that, this study not only mapped out the forms of disharmony between parents and children in online learning but also analyzed the causes behind disharmony and its implications for children’s learning motivation. The data of this study was collected based on interviews with three different groups of informants by taking into account the structural characteristics of the groups. The results of this study showed that the emotional pressure, inability, and unpreparedness of parents and children in dealing with changes in learning traditions during the pandemic had strengthened the disharmony between them. The disharmony had a consequence on the decline in children’s learning motivation in online learning during the Covid-19 pandemic. The inability and unpreparedness of parents to accompany their children in online learning throughout the pandemic were crucial factors that caused disharmony. This study suggested the need to expand the cases studied and added data sources to enable understanding of the impact of the Covid-19 pandemic on the disharmony of parents and children.

Filter by Year

2012 2025