cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Articles 427 Documents
PENGARUH KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP PERTUMBUHAN BAHAN STEK AKAR SUKUN Danu Danu; A.Z Abidin
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2007.4.2.107-112

Abstract

Tanaman sukun (Artocarpus altilis Fosberg) hanya dapat diperbanyak dengan perbanyakan vegetatif seperti stek akar, stek batang dan stek pucuk. Kenyataannya sering terjadi lokasi penanaman dan lokasi persemaian memiliki jarak yang cukup jauh sehingga diperlukan teknik penyimpanan stek yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bahan kemasan dan lama penyimpanan terhadap pertumbuhan stek akar sukun. Penelitian ini menggunakan rancangan rancangan acak kelompok dengan menguji 2 faktor, yaitu faktor pertama adalah bahan kemasan (karung plastik, serbuk sabut kelapa, pelepah batang pisang kertas merang),  dan faktor kedua adalah periode simpan selama 1; 3; 7; 14; dan 28 hari dengan ulangan sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri 10 stek akar. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tunas dan akar stek. Bahan stek akar sukun dapat disimpan dalam kemasan yang mampu mempertahankan kelembaban tetap tinggi seperti serbuk sabut kelapa lembab dan pelepah batang pisang mampu mempertahankan stek akar tetap baik selama 28 hari, sedangkan kemasan karung plastik dan kertas merang hanya bertahan selama 14 dan 7 hari.
NERACA KEHIDUPAN Arthroschista hilaralis PADA TANAMAN JABON (Anthocephalus cadamba Miq) Selvi Chelya Susanty; Noor Farikhan Haneda; Irdika Mansur
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.512 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2014.11.2.99-104

Abstract

Arthroschista hilaralis merupakan hama defoliator yang pada saat ini banyak menyerang tanaman jabon dengan tingkat kerusakan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji neraca kehidupan A. hilaralis pada tanaman jabon (A. cadamba Miq.). Penelitian dilakukan dengan menggunakan 30 telur A. hilaralis yang dipelihara hingga menjadi imago dan bertelur kembali. Data sintasan spesifik umur (lx) dan keperidian spesifik umur (mx) digunakan sebagai dasar untuk menghitung parameter pertumbuhan populasi, antara lain laju reproduksi kotor (GRR), laju reproduksi bersih (Ro), rata-rata masa generasi (T), dan laju pertumbuhan instrinsik (r). Hasil penelitian menunjuk- kan GRR A. hilaralis adalah 141 individu/generasi, Ro sebesar 70 individu/induk/generasi, T selama 23,5 hari, dan r sebesar 0,18 individu/induk/hari. Tindakan pengelolaan hama secara berkala sangat diperlukan dalam mengontrol perkembangan hama ini, karena tingginya tingkat perkembangan dan cepatnya laju pertumbuhan A. hilaralis.
PERKECAMBAHAN BENIH KEMENYAN (Styrax benzoin Dryander) PADA BEBERAPA MEDIA TABUR DAN PERLAKUAN PENDAHULUAN Dede J. Sudrajat; Megawati Megawati
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.295 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.3.135-144

Abstract

Budidaya kemenyan (Styrax benzoin Dryander) masih terkendala dengan penyediaan bibit dalam jumlah yang mencukupi karena masih rendahnya keberhasilan perkecambahan dan tidak serempaknya perkembangan benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media tabur dan perlakuan pendahuluan yang mampu meningkatkan perkecambahan benih kemenyan.  Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 50 benih.  Media tabur yang digunakan adalah pasir, campuran pasir dan tanah (1 : 1 v/v), serbuk sabut kelapa, campuran pasir dan serbuk sabut kelapa (1 : 1 v/v), abu sekam padi, dan campuran pasir dan abu sekam padi (1 : 1 v/v). Media terbaik dari hasil pengujian tersebut digunakan sebagai media untuk pengujian perlakuan pendahuluan.  Metode perlakuan pendahuluan yang digunakan adalah tanpa perlakuan, perlakuan jemur-rendam selama 1 hari, perlakuan jemur-rendam selama 2 hari, perlakuan jemur-rendam selama 3 hari, peretakan, perendaman dalam asam cuka selama 24 jam, dan perendaman dalam air accu selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media perkecambahan terbaik untuk benih kemenyan adalah media pasir (daya berkecambah 63%, kecepatan berkecambah 0,78%/etmal dan nilai perkecambahan 0,22). Pada media pasir tersebut, perlakuan jemur-rendam selama 3 hari mampu meningkatkan dan mempercepat perkecambahan benih (daya berkecambah 88%, kecepatan berkecambah 2,06%/etmal, dan nilai perkecambahan 1,53). Perlakuan tersebut dapat meningkatkan daya berkecambah sebesar 17%, kecepatan berkecambah 83%, dan nilai perkecamabahan 195% terhadap kontrol (tanpa perlakuan pendahuluan).
KEBERHASILAN STEK PUCUK GANITRI ( Elaeocarpus ganitrus ROXB) PADAAPLIKASI ANTARA MEDIA TANAM DAN HORMON TUMBUH Encep Rachman; Asep Rohandi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.337 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.4.219-225

Abstract

Perbanyakan tanaman ganitri secara generatif mengalami hambatan karena terjadinya dormansi kulit sehingga benih sulit untuk berkecambah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan bibit adalah melalui perbanyakan secara vegetatif dengan stek pucuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tumbuh stek pucuk ganitri (Elaeocarpus ganitrus) pada aplikasi antara media dan hormon tumbuh di persemiaan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan pola faktorial 4 x 4. Faktor A adalah media tumbuh yang terdiri dari : A . Pasir, A . pasir : arang sekam (1 : 1), A . pasir : sabut kelapa (1 : 1) dan A. sabut  kelapa : arang sekam (1 : 1), faktor Badalah hormon /zat pengatur tumbuh (ZPT) IAA yang terdiri dari : B . 0 ppm; B. 100 ppm; B . 200 ppm dan B . 300 ppm, setiap kombinasi perlakuan diulang tiga (3) kali serta masing-masing ulangan terdiri dari 15 stek. Parameter yang diamati adalah persen hidup, keberhasilan pembentukkan tunas (jumlah dan berat kering), perakaran (jumlah, panjang dan berat kering). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media tumbuh pasir dan zat pengatur tumbuh IAA ppm 300 ppm (A1 B4) memberikan pertumbuhan terbaik dibandingkan kombinasi perlakuan yang lain. Hal tersebut ditunjukkan dengan persen hidup, jumlah tunas, jumlah akar, panjang akar berat kering akar berat kering tunas yang lebih tinggi yaitu berturut-turut 97,77%; 5,66 buah; 4,66 buah; 14,35 cm; 0,67 gram dan 1,57 gram.
APLIKASI ATONIK PADA STEK CABANG BAMBU KUNING M. Charomaini; Sri Hariyanti
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.022 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2005.2.1.1-11

Abstract

Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh lama perendaman dan konsentrasi atonik pada pertumbuhan awal stek cabang bambu kuning. Penelitian dilakukan di Arboretum Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta. Metode penelitian dilakukan menggunakan disain faktorial 3 x 3 yang diatur dalam disain acak lengkap yang terdiri dari 2 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi atonik 250 ppm (Al), 500 ppm (A2) dan 750 ppm (A3).  Faktor kedua adalah lama perendaman dalam larutan atonik yaitu: 30 menit (Tl); 60 menit (T2); 90 menit (T3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan di antara konsentrasi atonik 500 ppm dan lama perendaman 30 menit  adalah perlakuan terbaik untuk pertumbuhan  stek cabang bambu  kuning/gading (Bambusa vulgaris var.striata). 
PERTUMBUHAN KAYU KAMPER DAN HOPEA PADA LAHAN ALANG-ALANG DENGAN TEKNIK PENYIAPAN LAHAN TANAM R. Mulyana Omon
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2931.229 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2006.3.1.11-23

Abstract

Pengaruh teknik persiapan lahan tanam telah dilakukan terhadap pertumbuhan Dryobalanops lanceolata dan Hopea sangal pada Jahan alang-alang di hutan lindung Sungai Wain, Balikpapan, Kalimantan Timur. Teknik penyiapan lahan dilakukan sebelum penanaman adalah dengan menggunakan herbisida yang bertujuan untuk memusnahkan alang-alang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi teknik rehabilitasi lahan alang-alang dengan jenis yang sesuai dari famili Dipterocarpaceae. Setiap perlakuan dibuat petak coba dengan ukuran 50 m x 50 m (0,25 ha) dengan jarak tanam 5 m x 5  m. Rancangan percobaan yang digunakan faktorial 2 x 3 dengan pola acak lengkap yang diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis penyiapan lahan tanam dan interaksi antara jenis dan penyiapan lahan tanam tidak berpengaruh nyata terhadap persen hidup tanaman. Untuk perlakuan jenis terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter yang paling besar adalah D.lanceolata, yaitu rata-rata sebesar 39,79 cm dan sebesar 0,38 cm. Perlakuan penyiapan lahan tanam dengan cara disemprot total dengan herbisida lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yaitu dengan rata-rata pertumbuhan  tinggi dan diameter masing-masing sebesar 35,37 cm dan 0,38 cm. Dengan dernikian penanaman jenis dari suku Dipterocarpaceae khusus dari jenis  D. lanceolata dan H. sangal telah memberi harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai jenis komersial untuk ditanam di lahan yang terbuka (alang-alang), dengan perlakuan penyiapan lahan disemprot total dengan herbisida.
PRODUKSI DAN KANDUNGAN HARA SERASAH PADA HUTAN RAKYAT NGLANGGERAN, GUNUNG KIDUL, D.I. YOGYAKARTA Andi Gustiani Salim; Budiadi Budiadi
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.836 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2014.11.2.77-88

Abstract

Bentuk pengelolaan khas hutan rakyat di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, ada tiga macam, yaitu alas (hutan), pekarangan, dan tegalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan jenis serasah dominan serta menganalisis kandungan nutrisinya sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis yang dapat menambah unsur hara pada tanah. Hasil penelitian menunjukkan urutan produksi serasah adalah dari HR3 (6,05 ton/ha/6bln), HR2 (5,64 ton/ha/6 bln) dan HR1 (4,61 ton/ha/6 bln). Berat serasah daun sebesar 5,150 ton/ha (77,07%) di HR3, 5,218 ton/ha (76,22%) di HR2 dan 3,816 ton/ha (66,96 %) di HR1. Produksi serasah tersebut jika terdekomposisi sempurna selama 6 bulan akan menambah unsur hara ke tanah HR3 sebesar 80,56 kg/haN; 3,50 kg/ha P; dan 14,73 kg/ha K, HR2 (69,58 kg/ha N; 3,38 kg/ha P; dan 14,28 kg/ha K), dan paling rendah pada HR1 (53,15 kg/ha N; 1,95 kg/ha P dan 7,18 kg/ha K). Untuk memenuhi kebutuhan hara baik tanaman pertanian maupun tanaman hutan (pohon) kandungan hara serasah ini belum mencukupi sehingga perlu dikombinsikan dengan jenis lain seperti legum. 
KOMPOSISI VIGOR KECAMBAH TUSAM PADA BEBERAPA TINGKAT DEVIGORASI DAN KERAPATAN BENIH Asep Rohandi; Nurin Widyani
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.381 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2009.6.5.209-217

Abstract

Masalah utama yang dijumpai dalam pengadaan benih adalah rendahnya vigor, terutama ketika disimpan untuk jangka waktu lama, dengan demikian mempengaruhi kesuksesan penanaman benih di lapangan. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat devigorasi dan kerapatan benih Pinus merkusii terhadap komposisi vigor kecambah untuk menunjang keberhasilan persemaian. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktor tunggal (kerapatan benih). Kerapatan bervariasi dalam 6 taraf, yang didasarkan sebelum ditentukannya persentase dari benih normal yang tumbuh di berbagai lot benih. Variasi ini didapat lewat perlakuan enam taraf pengusangan (penderaan), yaitu 0, 72, 96, 120, 216, dan 240 jam (sebagai taraf devigorasi). Dari masing-masing enam taraf tersebut diukur kerapatan benih, dengan demikian diperoleh kisaran antara 50-99 benih setiap 600 cm2. Sampai tingkat penderaan 240 jam terlihat bahwa terjadi penurunan persentase pertumbuhan semai sekitar 35% jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa penderaan). Lebih lanjut, kerapatan benih yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap status vigor perkecambahan, kecepatan dan keserempakan berkecambah, nilai delta serta keberhasilan persemaian. Penurunan vigor benih (devigorasi) sebanyak 35% masih dapat diatasi dengan meningkatkan kerapatan benih sebanyak 49 benih setiap 600 cm2. Secara umum, kecambah tusam masuk dalam kriteria normal (N), yaitu normal kuat (K) dan kurang kuat (KK). Dengan pengelompokan seperti ini, diduga bibit tersebut kemungkinan dapat hidup berkelanjutan atau tidak sebelum dilakukan penanaman di lapangan. 
OPTIMASI PERTUMBUHAN Acacia crassicarpa CUNN. EX BENTH. PADATANAH BEKAS TAMBANG BATUBARA DENGAN AMELIORASI TANAH Enny Widyati
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpht.2011.8.1.19-30

Abstract

Salah satu hambatan yang dihadapi dalam kegiatan rehabilitasi lahan bekas tambang adalah tingginya akumulasi logam dalam tanah. merupakan salah satu jenis prioritas yang dikembangkan dalam hutan tanaman industri. Jenis ini juga mempunyai banyak keunggulan untuk ditanam pada kegiatan revegetasi lahan bekas tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan ameliorasi tanah dan inokulasi mikroba terhadap pertumbuhan pada lahan bekas tambang. Sebelum ditanami, tanah diameliorasi dengan bahan organik (1:1 v/v) dan di inkubasi selama 15 hari. Selanjutnya ditanami dengan bibit dalam 2 perlakuan, diinokulasi dengan konsorsium mikroba dan kontrol. Setelah 3 bulan bibit di panen dan diukur kandungan Fe, Mn, Zn dan Cu pada jaringan dan dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ameliorasi tanah dengan dapat menurunkan ketersediaan logam dalam tanah dibandingkan dengan dan kontrol. Perlakuan ini juga memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan perlakuan inokulasi dengan konsorsium mikroba. Ameliorasi tanah dengan juga memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap akumulasi logam dalam jaringan oleh tanpa menunjukkan gejala keracunan.
PENGGUNAAN AIR DAN PERTUMBUHAN STEK BAMBU KUNING DARI BERBAGAI ASAL PROPAGUL M. Charomaini
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1297.286 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2005.2.1.51-59

Abstract

Bambu banyak dikenal sebagai bahan pengganti kayu untuk bangunan, lantai dan kerajinan tangan. Di daerah pedesaan, bambu sangat berguna dan banyak bermanfaat untuk penahan erosi tanah, rebungnya dapat dimakan dan batang tua digunakan sebagai bahan bangunan, kerajinan tangan dan perkakas rumah tangga. Sekitar 12jenis bambu telah ditentukan sebagai jenis yang harus diteliti dan dikembangkan di Indonesia. Bambu kuning/gading adalah salah satunya  yang berprospek  bagus untuk dikembangkan.  Jenis  ini sangat jarang  ditanam masyarakat karena keterbatasan sumber rumpun di alam. Telah dikumpulkan propagul vegetatif dari beberapa sumber tumbuh rumpun yang terbatas dan tersebar yaitu di Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah dan Kalasan, Sleman, Yogyakarta dan telah ditanam di persemaian. Propagul stek batang ditanam secara mendatar dengan perlakuan tidak dan diisi dengan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber propagul dari Kalasan menunjukkan pertumbuhan lebih bagus dalam hal jumlah  batang per rumpun, jumlah rumpun, pertumbuhan  tinggi, persentase pertumbuhan rumpun, persenjadi batang dan rumpun. Perlakuanpengisian  air ke dalam buluh stek batang menghasilkan pertumbuhan yang cepat. 

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 17, No 2 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 17, No 1 (2020): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 2 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 16, No 1 (2019): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 15, No 1 (2018): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 2 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 14, No 1 (2017): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 2 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 13, No 1 (2016): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 12, No 3 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 2 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 2 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 11, No 1 (2014): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2014): JPHT Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 4 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 3 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 2 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 10, No 1 (2013): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 2 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 9, No 1 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 5 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 3 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 2 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 8, No 1 (2011): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 5 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 4 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 3 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 2 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 7, No 1 (2010): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 5 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 4 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 3 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 2 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 6, No 1 (2009): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 3 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 2 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 5, No 1 (2008): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 2 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 4, No 1 (2007): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 3 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 3 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN Vol 1, No 1 (2004): JPHT More Issue