cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN
ISSN : 02160897     EISSN : 25026267     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The journal is published by the Center for Social Research and Economy, Policy and Climate Change, Agency for Research, Development and Innovation, Ministry of Environment and Forestry. The name of the publisher has changed because of the merger of the Ministry of Forestry with the Ministry of Environment, becoming the Ministry of Environment and Forestry, Republic of Indonesia (Presidential Decree No. 16/2015). The publisher logo also changes to adjust the Logo of the Ministry of Environment and Forestry.
Arjuna Subject : -
Articles 353 Documents
EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PENGELOLAAN MANGROVE UNTUK MENDUKUNG MITIGASI PERUBAHAN IKLIM DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Mimi Salminah; Iis Alviya
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.715 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2019.16.1.11-29

Abstract

As a climate change mitigation action, East Kalimantan Province has targeted emission reduction from mangrove forest. Mangrove-related policies at national and local levels have been issued before and after the program execution. It is necessary to measure the effectiveness of the policies to identify potential challenges in its implementation, particularly from policy aspect. This analysis is required to support the Government in achieving the emission reduction target, so it would obtain payment compensation from World Bank by 2024. Effectiveness of the policies is analysed using Grindle Theory combined with climate change mitigation principles in mangrove management. The results show that there is still ineffective in implementing climate change mitigation on mangrove management including requirements for technical regulations determining the content of the issued policies, provision of one mangrove and land use data, and of green fish pond management options. Moreover, coordination among related sectors, raising awareness programs, and facilitation for local coastal community to apply sustainable mangrove management play significant role in the effectiveness of the implementation. In theory, the effectiveness of policy implementation is affected by clarity of policy content, both in conceptual and practical terms, through coordination and communication within related actors, both authorities and affected actors.
REVITALISASI MATA PENCAHARIAN DI LAHAN GAMBUT: KERAJINAN ANYAMAN DARI PURUN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK USAHA BERKELANJUTAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR (OKI), SUMATERA SELATAN Bunga Karnisa Goib; Nadia Fitriani; Satrio Adi Wicaksono; Muhammad Yazid; Dessy Adriani
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2298.262 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2019.16.1.67-87

Abstract

This study is conducted to better understand the potential of purun weaving as a suitable business approach that could support peatland restoration in South Sumatra. It aims to analyze the obstacles of purun weaving and its market potential as green products. This study applies qualitative and quantitative methods, including in-depth interviews and surveys. The in-depth interviews invove local business actors in Pedamaran Sub-district, Ogan Komering Ilir Regency (i.e. harvesters, weavers, and traders) and the policy-makers. Online and intercept surveys are conducted to analyze current condition and market potential of purun handicrafts, especially as the example of green products. Identified challenges include lack of market knowledge and connections, unstable supply of raw materials, lack of financial capitalization, and low product quality. The market potential for green products, however, is highly promising, as more than 80% of respondents are willing to pay a higher price for these products. Gaps between existing production system and market potential could be narrowed down by adjusting policies for existing peat swamp areas, improving access to microfinance, and implementing specific capacity building for the weavers. Moreover, suitable marketing strategies are required to support the business sustainability of purun weaving.
PERLUNYA PERBAIKAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN CENDANA DI NTT MENUJU PENGUSAHAAN CENDANA YANG LESTARI Tigor Butarbutar; Geisberd Faah
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2008.5.1.%p

Abstract

Eksploitasi kayu cendana yang tidak berbasis kelestarian dan kurangnya pengetahuan teknis dari masyarakat pada masa dulu menyebabkan kayu cendana menjadi langka. Di samping kurangnya pengetahuan teknis penanaman, peraturan yang mengharuskan untuk menanam hanya terdapat dalam beberapa pasal tanpa penjelasan yang rinci dan tanpa menyebutkan sanksi yang tegas. Tulisan ini merupakan uraian peraturan perundangan yang mengatur eksploitasi kayu cendana yang ada sejak tahun 1956 sampai dengan 1999. Umumnya isi dari peraturan perundangan di atas mengenai fee, pajak dan sanksi-sanksi bagi masyarakat yang mengganggu tanaman cendana di lapangan Kelihatannya peraturan tersebut hanya mengatur eksploitasi tanpa mempertimbangkan rehabilitasi atau penanaman kembali. Pada akhirnya karena kondisi-kondisi di atas menjadikan cendana menjadi sangat langka dan saat ini sangat sulit untuk menemukannya di lapangan, terutama yang berukuran besar. Kedepan, sangat penting untuk menyusun kebijakan yang menyeluruh mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemanenan, fee, pajak dan pemasaran untuk kayu cendana dan turunannya.
STRATEGI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT PINUS DI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN, SUMATERA UTARA Sanudin Sanudin
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2009.6.2.%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor utama yang mempengaruhi pengembangan hutan rakyat pinus (Pinus merkusii) di Humbang Hasundutan serta merumuskan strategi yang tepat bagi pengembangan hutan rakyat pinus berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya tersebut. Metode yang digunakan yaitu dengan cara mengidentifikasi faktorfaktor yang berpengaruh kuat terhadap usaha tersebut dengan menggunakan analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats) berdasarkan pendapat dari para responden yang mengetahui dengan baik mengenai hutan rakyat pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor utama untuk unsur kekuatan yang mempengruhi pengembangan hutan rakyat pinus di Humbang Hasundutan adalah kesesuaian tempat tumbuh dengan nilai pengaruh 0,72; dan unsur kelemahan adalah lemahnya akses petani terhadap pasar dengan nilai pengaruh 0,57. Faktor utama unsur peluang adalah adanya pasar dengan nilai pengaruh 0,81; dan faktor dominan unsur ancaman adalah menurunnya minat masyarakat terhadap pengusahaan pinus dengan nilai pengaruh 0,85. Strategi yang paling sesuai untuk mempertahankan usaha hutan rakyat pinus di Kabupaten Humbang Hasundutan adalah strategi ST (Strengths-Threats), yaitu melalui: 1) pengembangan sistem insentif melalui peningkatan fasilitasi dari berbagai elemen sesuai peran dan fungsinya untuk lebih memberdayakan masyarakat, dan 2) pengembangan kelembagaan pasar yang menciptakan iklim kondusif untuk usaha.
EFEKTIVITAS KEBIJAKAN ALOKASI LAHAN 12,7 JUTA HA UNTUK PERHUTANAN SOSIAL Fitri Nurfatriani; Iis Alviya
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.768 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2019.16.1.47-66

Abstract

The policy of 12.7 million ha land allocation for Social Forestry has been released since 2014.  Social forestry policy places communities as the main actors in forest management. This policy is expected to be a solution to the problems of forest degradation, poverty, and land tenure conflicts. This paper aims to: (1) determine criteria and indicators priority in land allocation policy for social forestry, and (2) analyze the effectiveness of land allocation policy for social forestry. This study uses Pairwise Comparison-AHP and scoring approaches. The results show that the environmental aspect is the top priority in land allocation policy for social forestry, followed by economic and institutional aspects. From environmental aspect, the main priority is to overcome estate forest encroachment issues, while from economic, the priorty of this policy is as a source of income for the communities who live in/ around the forest. The priority of institutional aspects is finding the way of how social forestry can create market network for social forestry commercial products. In terms of social aspects, social forestry is prioritized to overcome tenure conflicts between communities and government. Based on effectiveness index, social forestry land allocation policy is categorized quite effective with the value of 10.79.
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PERHUTANAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF RESOLUSI KONFLIK Slamet Edi Sumanto
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2009.6.1.%p

Abstract

Tujuan pengembangan perhutanan sosial adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengelola hutan sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat sekitar hutan. Perhutanan sosial sebagai kebijakan pengelolaan hutan memiliki sisi dan potensi bagi terjadinya konflik disebabkan antara lain oleh dua hal yakni dikotomi ruang lingkup pengelolaan; di dalam atau di luar kawasan hutan dan fakta historis pengelolaan kawasan antara pulau Jawa dan luar pulau Jawa meliputi aspek kelangkaan sumber daya, klaim ulayat, serta perbedaan kepentingan antara aktoraktor yang terlibat dalam program. Program pemberdayaan melalui perhutanan sosial merupakan salah satu strategi resolusi konflik, tetapi pada beberapa aras dan tujuan terdapat unsur konflik disebabkan antara lain : kebijakan program yang masih bersifat sentralistik, tahapan pemberdayaan yang masih bersifat prosedural, serta penerapan batas/arena aksi, aturan-aturan main dan penetapan stakeholders belum menjadi prioritas dalam perencanaan dan kerangka program pemberdayaan. Tahapan proses belajar bersama melalui pengertian terhadap proses-proses tradisional/lokal yang berkembang, penghargaan terhadap setiap individu/kelompok yang terlibat, dan pemilihan isu atau strategi yang dapat mewakili semua kelompok/individu yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan, membangun komunikasi yang efektif, penerapan perangkat aturan dan sanksi yang jelas, monitoring dan evaluasi bersama, serta perencanaan dan penyediaan sarana atau saluran penyelesaian konflik, merupakan langkah-langkah tahap pemberdayaan yang bijaksana.
PENGEMBANGAN WILAYAH MELALUI PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN Epi Syahadat; Elvida Yosefi Suryandari; Andri Setiadi Kurniawan
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1284.532 KB) | DOI: 10.20886/jakk.2019.16.2.89-103

Abstract

Spatial planning that only prioritizes economic interests has serious environmental impacts. The aims of this paper are: 1) Reviewing spatial planning policy based on spatial plans, 2) Identifying problems of spatial arrangement of forest area, and 3) Finding strategy for solving spatial settlement problems. The result of the study shows that there is disharmony between spatial planning policies of the Ministry of Home Affairs and the Ministry of Environment and Forestry, it requires harmonization and synchronization in its implementation. Problems in spatial planning are: 1) Spatial planning in several regions has not received the main proportion as a basic instrument for the preparation of regional development program plans, 2) Conflict of spatial use between society and government, 3) Dichotomy of interest in spatial plans from excavating local revenue from natural resources without and or less attention to environmental impacts and space, 4) Inefficiency of spatial planning institute as well as supervision of space utilization. Strategy to solve spatial problems in revised spatial plans can be implemented through: 1) Changing designation and function of forest area, 2) Integrating teamwork acceleration of forest area designation and function, and 3) Implementating forest area utilization audit based on sustainability forest.
PELUANG PENGEMBANGAN USAHA EKOWISATA KAWASAN WISATA ALAM SANGKIMA DI TAMAN NASIONAL KUTAI Nilam Sari
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2008.5.2.%p

Abstract

Kawasan Wisata Alam Sangkima merupakan salah satu obyek wisata yang terletak di Taman Nasional Kutai yang memiliki kekayaan dan daya tarik yang beranekaragam sehingga prospektif untuk pengembangan ekowisata dengan obyek yang dapat dipasarkan kepada konsumen dalam dan luar negeri. Hal tersebut bisa memberikan keuntungan yang besar bagi TNK. Untuk melihat peluang ekowisata tersebut digunakan Analisa SWOT. Dari analisis SWOT dapat digambarkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengelolaan wisata alam Sangkima. Dalam mengambil strategi dan program yang relevan maka dipadukan antara kekuatan-kelemahan dan peluang-tantangan sehingga didapat alternatif beberapa strategi untuk menyusun program pengembangan. Dalam upaya pengembangan usaha ekowisata perlu adanya kolaborasi antara pihak pemerintah, Pemda/Dinas Pariwisata, swasta, pihak lain yang terkait termasuk masyarakat sekitar hutan secara aktif. Hal ini dilakukan dalam rangka memberdayakan masyarakat daerah penyangga dalam menjalankan kewajibannya untuk menjaga hutan dan juga memperoleh hak dalam pemanfaatannya. Dengan demikian menciptakan keseimbangan yang positif antara tujuan komersial usaha, lingkungan yang baik dan peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal dapat direalisasikan.
KAJIAN KONSEP KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN MODEL WAY TERUSAN REGISTER 47 Iis Alviya; Elvida Yosefi Suryandari
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2008.5.1.%p

Abstract

Degradasi hutan dan lahan di Kabupaten Lampung Tengah dewasa ini telah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan masyarakat antara lain dengan terjadinya tanah longsor, erosi dan sedimentasi sampai hilangnya biodiversiti dan pendapatan negara dari hasil kayu yang menurun drastis. Untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari, maka seluruh kawasan hutan dibagi ke dalam Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) yang merupakan wilayah pengelolaan hutan terkecil sesuai fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien dan lestari. Tulisan ini bertujuan untuk: (1) mengidentikasi kondisi umum KPH Model Way Terusan Register 47 dan permasalahannya, dan (2) mengkaji konsep pembangunan KPH Model Way Terusan Register 47. Data dan informasi yang terkumpul selanjutnya diolah secara kualitatif dan deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa KPH Model Way Terusan Register 47 telah memiliki konsep pembangunan KPH model yang baik, ditunjang dengan adanya perencanaan jangka pendek hingga panjang (20 tahun). Akan tetapi dalam mengimplementasikan pembangunan KPH ini banyak menghadapi permasalahan baik dari sisi kelembagaan dan sosial. Dari sisi kelembagaan meliputi hambatan pemangku kepentingannya sendiri, peraturan perundangan, organisasi, pendanaan, dan SDM. Pada sisi sosial lebih cenderung kepada klaim lahan oleh masyarakat dan perbedaan jenis tanaman yang akan dikembangkan pada areal KPH model. Untuk merealisasikan KPH ini diperlukan penyamaan persepsi dan sosialisasi yang intensif konsep pengelolaan KPH kepada semua pemangku kepentingan, dengan cara memberikan solusi terhadap hambatan yang ada khususnya kelembagaan dan sosial.
ANALISIS DAYA SAING EKSPOR PANEL-PANEL KAYU INDONESIA DAN MALAYSIA Hariyatno Dwiprabowo
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Publisher : Centre for Research and Development on Social, Economy, Policy and Climate Change

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jakk.2009.6.2.%p

Abstract

Indonesia bersama Malaysia merupakan pengekspor utama pasar dunia untuk kayu lapis keras tropik (tropical hardwood plywood) selama bertahun-tahun. Ekspor kedua negara memiliki pangsa terbesar (dominant players) di dunia untuk jenis kayu lapis tersebut, secara total jika diperhitungkan jenis kayu lapis kayu lunak (softwood plywood), pangsa kedua negara pada tahun 2000 adalah 47 %. Oleh karena itu untuk komoditas kayu lapis tropik, Indonesia dan Malaysia merupakan pesaing (competitor ) untuk segmen pasar tersebut. Selama bertahun-tahun hingga tahun 2003, industri kayu lapis Indonesia mendominasi pasar dunia kayu lapis tropik, namun sejak tahun 2004 Malaysia mengungguli volume ekspor kayu lapis Indonesia. Berbeda dengan kayu lapis, perkembangan ekspor panel kayu non kayu lapis Indonesia kurang menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dengan angka ekspor berfluktuasi dan mengalami stagnasi. Sebaliknya Malaysia menunjukkan perkembangan ekspor panel kayu non kayu lapis yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Industri kayu lapis Indonesia masih memiliki keunggulan komparatif yang cukup tinggi dibandingkan pesaing-pesaingnya namun merosotnya pasokan bahan baku menyebabkan pangsa pasar ekspornya menurun secara tajam. Sebaliknya industri kayu lapis Malaysia dan China disamping memiliki keunggulan komparatif juga berhasil meningkatkan pangsa pasarnya.

Filter by Year

2005 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 1 (2023): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 6, No 3 (2009): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan Vol 4, No 1 (2007): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Vol 3, No 2 (2006): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Vol 3, No 1 (2006): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Vol 2, No 2 (2005): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN Vol 2, No 1 (2005): JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN More Issue