cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 523 Documents
STUDI KOMPARATIF NOVEL DJODO KANG PINASTI KARYA SRI HADIDJOJO DAN NOVEL GUMUK SANDHI KARYA POERWADHIE ATMODIHARDJO Wahyuni Ekawati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.73 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan unsur-unsur intrinsik (meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, dan sudut pandang) yang terdapat dalam novel Djodo Kang Pinasti karya Sri Hadidjojo dan novel Gumuk Sandhi karya Poerwadhie Atmodihardjo. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kialitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Djodo Kang Pinasti karya Sri Hadidjojo dan novel Gumuk Sandhi karya Poerwadhie Atmodihardjo. Data dalam penelitian ini adalah berupa kutipan-kutipan (kalimat) dari novel. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri menggunakan buku dan pulpen. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis yaitu data berupa kata-kata. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dilakukan dengan deskriptif komparatif atau menggunakan perbandingan. Teknik penyajian hasil analisis dalam penelitian ini yaitu dengan teknik informal. Hasil penelitian ini adalah (1) Tema dalam novel Djodo Kang Pinasti karya Sri Hadidjojo dan novel Gumuk Sandhi karya Poerwadhie Atmodihardjo mempunyai persamaan yaitu perjuangan seorang wanita untuk mendapatkan kebahagiaan. (2) Tokoh utama dalam novel Djodo Kang Pinasti yaitu Rara Hartati, sedangkan tokoh utama dalam novel Gumuk Sandhi adalah Marsini. Penokohan tokoh  utama dalam novel Djodo Kang Pinasti dan novel Gumuk Sandhi memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah dicampakkan kekasih dan mendapat suami yang baik. Perbedaannya meliputi pekerjaan, jumlah saudara dan jumlah anak. (3) Alur dalam novel Djodo Kang Pinasti dan novel Gumuk Sandhi memiliki perbedaan. Novel Djodo Kang Pinasti menggunakan alur maju, sedangkan novel Gumuk Sandhi menggunakan alur campuran. (4) Latar tempat dalam novel Djodo Kang Pinasti dan novel Gumuk Sandhi memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya di Semarang, sedangkan perbedaanya di Purworejo dan Paron. (5) Sudut pandang dalam novel Djodo Kang Pinasti karya Sri Hadidjojo dan novel Gumuk Sandhi karya Poerwadhie Atmodihardjo mempunyai persamaan yaitu menggunakan sudut pandang orang ketiga.   Kata kunci : komparatif
KAJIAN FOLKLOR DALAM TRADISI SURAN DI DESA TLOGO PRAGOTO KECAMATAN MIRIT KABUPATEN KEBUMEN Amir Mahmud
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.279 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan permasalahan yaitu: (1) Prosesi tradisi Suran di  desa Tlogo Pragoto, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, (2) Makna simbolis yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan dalam tradisi Suran di desa Tlogo Pragoto, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, (3) Fungsi tradisi Suran di desa Tlogo Pragoto bagi masyarakat pendukungnya. Tempat dan waktu penelitian dilaksanakan di desa Tlogo Pragoto, waktu penelitian dimulai dari bulan November 2013 sampai Maret 2014. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dengan wawancara terstruktur dan teknik catat terhadap para informan yang aktif dalam pelaksanaan tradisi Suran dan mengetahui tentang tradisi Suran. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara, teknik catatan lapangan, dan teknik dokumentasi. Hasil penelitian dapat disimpulkan yaitu (1) prosesi tradisi Suran di desa Tlogo Pragoto yaitu: (a) tirakatan, (b) penyembelihan kerbau, (c) ziarah kubur, (d) kenduri di pasar, (e) pagelaran wayang di pasar, (f) pagelaran wayang di rumah Kepala Desa. (2) ubarampe yang mempunyai makna simbolis yaitu: (a) jenang abang, bermakna jenis penghormatan kepada Ibu (b) jenang putih, bermakna jenis penghormatan kepada Ayah, (c) jajan pasar, bermakna agar para petani mudah dalam bertani dan hasilnya melimpah, (d) ketan dan gula jawa bermakna agar hubungan orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup selalu dekat, (e) pisang raja, bermakna jenis penghormatan kepada Nabi, (f) nasi golong, bermakna agar masyarakat selalu bersatu, (g) nasi tumpeng, bermakna menyembah Tuhan dan menghormati antar sesama manusia, (h) ingkung, bermakna menyucikan orang yang punya hajat dan orang yang ikut tirakatan, dan (i) kembang telon, bermakna untuk mengenang leluhur. (3) fungsi tradisi Suran di Desa Tlogo Pragoto yaitu: (a) berfungsi sebagai pewaris norma sosial, (b) berfungsi sebagai sarana kerukunan hidup, (c) berfungsi sebagai pengungkap kegotong-royongan, dan (d) berfungsi sebagai pelestarian budaya. Kata Kunci: Kajian Folklor, Tradisi Suran
TINJAUAN STRUKTUR DAN SOSIOLOGI CERITA BERSAMBUNG KIDUNG SUKMA LARASING JIWA DALAM MAJALAH DJAKA LODANG EDISI FEBRUARI-JULI TAHUN 2012 KARYA ARDINI PANGASTUTI, B.N Fitriana Apriliani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.233 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan struktur pembangun berupa tema, tokoh dan penokohan, latar, alur, gaya bahasa dan sudut pandang (2) mendeskripsikan aspek sosiologi yang terdapat dalam cerita bersambungKidung Sukma Larasing Jiwakarya Ardini Pangastuti, B.N. Teknik analisis data  digunakan teknik analisis isi, dan dalam penyajian hasil analisis peneliti menggunakan teknik informal. Hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: (1) unsur intrinsik cerita bersambungKidung Sukma Larasing Jiwa karya Ardini Pangastuti, B.N, terdiri dari  (i) tema yang terkandung adalah perjuangan Baskara dalam mendapatkan cinta sejatinya; (ii) tokoh utama dalam cerita bersambungKidung Sukma Larasing Jiwa adalah Baskara dan tokoh tambahan dalam cerita bersambung Kidung Sukma Larasing Jiwaadalah Imel, Arum, Sulis, dan Kang Darsana; (iii) alur yang digunakan adalah alur maju, dan (iv) latar dalam cerita bersambung Kidung Sukma Larasing Jiwa karya Ardini Pangastuti, B.N, terdapat tiga latar yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial, (2) aspek sosial dalam cerita bersambungKidung Sukma Larasing Jiwa karya Ardini Pangastuti, B.N; (i) aspek moral; (ii) aspek pendidikan; (iii) aspek ekonomi; (iv) aspek etika; (v) aspek agama; (vi) aspek cinta kasih. Aspek sosiologi yang menonjol yaitu aspek cinta kasih, karena cerita bersambung ini menggambarkan perjuangan Baskara supaya bisa menemukan Arum wanita terkasihnya.   Kata Kunci: Struktur, Sosiologi, Kidung Sukma Larasing Jiwa
BENTUK DAN MAKNA SIMBOLIK KESENIAN KUBRO DI DESA BANGSRI KECAMATAN KAJORAN KABUPATEN MAGELANG Dwi Priani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.442 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mendeskripsikan permasalahan (1) Bentuk kesenian Kubro di Desa Bangsri, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, (2) Makna simbolik yang terdapat dalam kesenian Kubro di Desa Bangsri, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Jenis penelitian menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dihasilkan dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer terdiri dari sesepuh kesenian Kubro, pengasuh kesenian Kubro, ketua II kelompok kesenian Kubro, perangkat desa, pemain kesenian Kubro dan masyarakat Desa Bangsri. Sumber data sekunder dari dokumentasi, video dan buku-buku. Data penelitian diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi dan wawancara. Lokasi penelitian berada di Desa Bangsri, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Teknik penyajian hasil analisis secara informal. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Bentuk kesenian Kubro meliputi pra pertunjukan sampai pasca pertunjukan kesenian Kubro. Pra pertunjukan kesenian Kubro terdiri dari musyawarah, latihan kesenian Kubro, persiapan tempat, nyekar atau ziarah kubur, mengadakan pertemuan, silaturahmi, pengajian, sesaji, persiapan penari. Pertunjukan kesenian Kubro diwujudkan dalam bentuk seperti: gerak, pelaku, musik, lagu, tata rias, tata busana, pola tempat pertunjukan, waktu pertunjukan, perlengkapan, urutan penyajian. Pasca pertunjukan kesenian Kubro yaitu semua penari kesenian Kubro menari bersama, terkadang sampai kesurupan (ndadi). (2) Makna simbolik kesenian Kubro terdapat pada pra pertunjukan sampai pasca pertunjukan kesenian Kubro. Makna simbolik pra pertunjukan kesenian Kubro terdapat pada nyekar atau ziarah kubur dan sesaji. Makna simbolik pertunjukan kesenian Kubro juga terdapat pada gerak, pelaku, musik, lagu, tata rias, tata busana, pola tempat pertunjukan dan penari yang kesurupan. Makna simbolik terdapat pada pasca pertunjukan yaitu pada saat pemain menari bersama-sama campur menjadi satu.   Kata kunci: kesenian kubro, bentuk, makna
BENTUK DAN FUNGSI KESENIAN KUDA LUMPING DALAM UPACARA MERTI DESA DI DESA KALIWUNGU KECAMATAN BRUNO KABUPATEN PURWOREJO Riska Eka Cahyani
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.283 KB)

Abstract

Abstrak: Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, Penelitian ini mendeskripsikan permasalahan (1) Bentuk kesenian kuda lumping dalam upacara merti desa di Desa Kaliwungu Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo, (2) Keterkaitan kuda lumping dengan upacara merti desa di Desa Kaliwungu Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo, (3) Fungsi pertunjukan kesenian kuda lumping di Desa Kaliwungu Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo. Jenis penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data adalah kepala desa Kaliwungu, sesepuh desa Kaliwungu, penasehat atau sesepuh kelompok kuda lumping dan seksi perlengkapan kelompok kuda lumping. Data dalam penelitian ini data primer yaitu hasil wawancara dan data sekunder yaitu bentuk dan fungsi kesenian kuda lumping dalam upacara merti desa di Desa Kaliwungu. Lokasi penelitian berada di Desa Kaliwungu Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara dan teknik dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Bentuk kesenian kuda lumping dalam upacara merti desa meliputi prosesi/urutan pelaksanaan upacara merti desa meliputi pra pelaksanaan, pelaksanaan dan paska pelaksanaan, waktu dan tempat pelaksanaan merti desa, pelaku dalam merti desa, susunan panitia pelaksana, prosesi/urutan pelaksanaan, sesaji merti desa, tema pertunjukan, waktu dan tempat pertunjukan, tata rias, tata busana, musik/gamelan, lagu, pola pertunjukan meliputi gerak dan desain lantai, pelaku/penari, struktur organisasi, dan sesaji/ubarampe, (2) Keterkaitan kuda lumping dengan upacara merti desa meliputi sejarah merti desa dan sejarah kuda lumping, hubungan kuda lumping dengan merti desa dan (3) Fungsi pertunjukan kuda lumping dalam upacara merti desa.     Kata kunci: Bentuk dan Fungsi, Kesenian Kuda Lumping  
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS WACANA NARASI DENGAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA SISWA KELAS VIII H SMP NEGERI 3 KEBUMEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Dian Kartika Sari
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) Penerapan keterampilan menulis wacana narasi dengan metode CTL; (2) mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis wacana narasi setelah mendapatkan pembelajaran menulis wacana narasi dengan metode CTL pada siswa kelas VIII H SMP Negeri 3 Kebumen. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Kebumen pada bulan Oktober sampai November 2013. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII H sejumlah 20 siswa, laki-laki 8 dan perempuan 12. Objek penelitian adalah keterampilan siswa dalam menulis wacana narasi dengan metode CTL. Penelitian ini terdiri dari tiga kali kegiatan, yaitu kegiatan prasiklus, siklus I, dan siklus II. Masing-masing siklus mengacu pada prosedur penelitian yaitu rencana (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan releksi (reflection). Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan nontes. Teknik tes yang digunakan yaitu hasil menulis wacana narasi siswa, nontes terdiri dari hasil observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi foto. Teknik analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode CTL mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis wacana narasi. Penerapan pembelajaran menulis dengan metode CTL meliputi: prasiklus, yaitu hasil menulis wacana narasi siswa untuk mengetahui kemampuan awal siswa; siklus I, berisi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi; siklus II merupakan kelanjutan dan perbaikan dari siklus I. Langkah-langkah pembelajaran model CTL yaitu: kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna; melaksanakan kegiatan inkuiri; mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan membaca; menciptakan masyarakat belajar; menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran; refleksi diakhir pertemuan. Dari hasil tes prasiklus terlihat persentase ketuntasan sebesar 35% meningkat menjadi 55% pada siklus I dengan peningkatan sebesar 20%. Setelah dilakukan dengan siklus II persentase ketuntasan mencapai 85% dengan peningkatan sebesar 50% hasil prasiklus, dan sebesar 30% dari siklus I. Berdasarkan hasil nontes yang meliputi observasi, angket, wawancara dan dokumentasi foto, hasilnya juga sangat baik. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode CTL mampu meningkatkan keterampilan menulis wacana narasi pada siswa kelas VIII H SMP Negeri 3 Kebumen.   Kata kunci: Wacana narasi, Contextual Teaching And Learning
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PARAGRAF BERHURUF JAWA MENGGUNAKAN MEDIA KARTU BERGAMBAR PADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 2 BUAYAN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Nur wahidah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 3 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.004 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1)Langkah–langkah pembelajaran menulis paragraf sederhana berhuruf Jawa menggunakan media kartu bergambar Wayang pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Buayan; (2) Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Berhuruf Jawa Menggunakan Media Kartu Bergambar pada Siswa Kelas VIII B SMP Negeri 2 Buayan.Penelitian ini adalah jenis Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Buayan pada bulan November 2013 dengan subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas VIII B yang berjumlah 36 siswa dan objek penelitiannya adalah menulis paragraf sederhana berhuruf Jawa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik test yaitu test tertulis berupa soal uraian, dan teknik nontest berupa observasi, jurnal, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian ini meliputi langkah-langkah pembelajaran menggunakan media kartu bergambar dan peningkatan hasil belajar menggunakan media kartu bergambar. Langkah–langkah penelitian tindakan kelas yang dilakukan adalah perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan, pengamatan (Observing), refleksi (Reflecting). Pada tahap perencanaan, peneliti menyiapkan rancangan tindakan berupa menyusun RPP, menyiapkan instrumen berupa soal test, lembar observasi dan lembar jurnal, menyiapkan media. Pada tahap Pelaksanaan, guru melakukan pembelajaran di dalam kelas dengan menggunakan media pembelajaran berupa kartu bergambar Wayang dengan langkah–langkah pelaksanaan adalah tahap pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Tahap selanjutnya yakni observasi, pada tahap ini dilaksanakan bersamaan dengan tahap pelaksanaan, saat pelaksanaan tindakan guru juga melakukan observasi dengan memperhatikan perilaku siswa saat mengikuti pembelajaran. Tahap terakhir adalah refleksi, pada tahap ini guru menganalisis hasil penelitian yang diperoleh. Data tes dan nontes dianalisis untuk mengetahui hasil penelitian pada masing–masing siklus. Hasil penelitian menggunakan media kartu bergambar Wayang dapat meningkatkan hasil belajar keterampilan menulis paragraf sederhana berhuruf Jawa pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Buayan. Nilai rata – rata hasil belajar siswa pada prasiklus sebesar 54,27 dan pada siklus I sebesar 75,19 atau mengalami peningkatan sebesar 38,54%. Pada siklus II rata–rata siswa sebesar 85,44 atau mengalami peningkatan sebesar 13,62 % dari siklus I.   Kata Kunci: Menulis, Media Kartu bergambar, Aksara Jawa
SOSIOBUDAYA MASYARAKAT PURWOREJO SEBAGAI MODEL PENYUSUNAN PENGEMBANGAN DAERAH DITINJAU DARI ASPEK SEJARAH DALAM BABAD BANYUURIP, BABAD DIPANEGARA LAN BABAD NAGARI PURWOREJO Yuli Widiyono; Aris Aryanto; Rochi mansyah
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 4 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.156 KB)

Abstract

Abstrak: Perkembangan kehidupan masyarakat dapat dilihat dari kehidupan sosiobudaya masyarakatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap dan mendeskripsikan 1) transliterasi naskah Babad Banyuurip, Babad Dipanegara lan Babad Nagari Purworejo, 2) bentuk-bentuk sosiobudaya masyarakat Purworejo dalam naskah Babad Banyuurip, Babad Dipanegara lan Babad Nagari Purworejo, 3) model pengembangan Kabupaten Purworejo terkait dengan Babad Banyuurip, Babad Dipanegara lan Babad Nagari Purworejo. Penelitian ini akan menganalisis mengenai isi naskah dari ketiga naskah yang dijadikan sebagai sumber data, yaitu: Babad Banyuurip, Babad Dipanegara lan Babad Nagari Purworejo. Naskah yang digunakan sebagai sumber adalah naskah tunggal. Bentuk penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan cara kerja penelitian filologi. Cara kerja penelitian filologi yang dimaksud meliputi: inventarisasi naskah, deskripsi naskah, dan transliterasi dengan edisi standar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian dengan menggunakan materi dan bahan-bahan yang ada di perpustakaan dengan tujuan untuk mengumpulkan data dan informasi dengan bahan yang terkait. Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa : 1) Pada transliterasi naskah ini tidak dapat dilakukan secara menyeluruh disebabkan oleh kondisi naskah berupa salinan dari naskah sebelumnya sehingga banyak diketemukan tulisan-tulisan yang sudah rusak atau tak terbaca. Untuk membantu mengetahui isi naskah dengan menggunakan terjemahan bebas, 2) Bentuk-bentuk sosiobudaya yang terdapat dalam kedua naskah ini meliputi: sejarah desa Bagelen beserta mitos yang melingkupinya, tentang budaya pengobatan tradisional masyarakat Purworejo, silsilah keturunan dari Nabi Adam sampai dengan Cakranegara 1, masyarakat yang gemar melihat seni pertunjukan wayang kulit, adanya budaya among-among di masyarakat, adanya pendidikan etika Jawa anak kepada orang tua, 3) Dalam Renstra Purworejo, belum diketemukan mengenai pengenalan dan pengembangan tanaman obat herbal. Sehubungan dengan penggalian sosiobudaya yang ada di naskah Babad Banyuurip, diketemukan mengenai pengobatan tradisional Jawa yang memanfaatkan kelapa sebagai obat sakit meriang atau masuk angin. Melihat kondisi geografis Purworejo yang menjadi salah satu penghasil kelapa,   Kata kunci : sosiobudaya, model pengembangan daerah
KAJIAN NILAI MORALITAS DALAM CERITA BERSAMBUNG GARISING PEPESTHEN KARYA SUROSO BC. HK PADA MAJALAH PANJEBAR SEMANGAT EDISI 22-36 TAHUN 2012 Andar Eko Saputro
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 4 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.69 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan struktur pembangun yang meliputi tema, alur cerita, tokoh dan penokohan, dan latar yang terdapat dalam cerita bersambung Garising Pepesthen dalam Majalah Panjebar Semangat Edisi 22-36 Tahun 2012 dan, (2) Mendeskripsikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita bersambung Garising Pepesthen dalam majalah Panjebar Semangat edisi 22-36 Tahun 2012. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat dan pustaka. Instrumen utama adalah peneliti serta instrumen penunjang lainnya seperti pena, pensil dan buku pencatat data yang wujudnya kartu data. Teknik analisis data menggunakan metode content analysis atau analisis isi. Selanjutnya teknik penyajian hasil analisis data menggunakan teknik informal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) unsur pembangun cerita dalam cerita bersambung Garising Pepesthen dalam Majalah Panjebar Semangat adalah tema, alur, tokoh dan penokohan, dan latar. Tema dari cerita bersambung Garising Pepesthen tersebut ialah tentang kisah cinta seorang dokter yang kandas karena suratan takdir. Alur dalam cerita bersambung Garising Pepesthen tersebut adalah alur campuran. Tokoh utama dalam cerita bersambung Garising Pepesthen tersebut adalah Dr. Anggun Wibawa, serta tokoh tambahan  Dr. Endah Ratriningsih, Hardiman, Soesanti, Ni Luh Lusiningtyas, dan Pak Harsa. Latar terdapat di kota Negara, Bali, Desa Kethuthuk, Magelang, Pakuningratan, Candikesuma, Blimbing Malang dan Salatiga. Selanjutnya, (2) nilai-nilai moralitas antara lain: (a) hubungan manusia dengan diri sendiri meliputi: yakin, rindu,sabar, sedih, senang,berani, bijaksana dan marah; (b) hubungan manusia dengan manusia lain meliputi; sopan santun, tenggang rasa, hormat, ramah dan cinta; (c) hubungan manusia dengan alam  meliputi: mencintai kehidupan dan mengenali lingkungan.     Kata Kunci      : nilai moral, cerbung Garising Pepesthen
UPAYA PELESTARIAN TRADISI BARITAN DALAM UPACARA ADAT SEDEKAH BUMI DI DESA KEDUNGWRINGIN KECAMATAN SEMPOR KABUPATEN KEBUMEN Oki Setya Pambudi
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 4, No 4 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.53 KB)

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mendeskipsikan (1) Prosesi tradisi Baritan di Desa Kedungwringin, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen (2) Makna dan fungsi Baritan bagi masyarakat Kedungwringin, Sempor, Kebumen (3) Isi cerita wayang dalam tradisi Baritan di Desa Kedungwringin, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen (4) Ubarampe atau perlengkapan sesaji dan makna simbolik ubarampe dalam tradisi Baritan. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai November 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan pendekatan etnografi. Sumber data penelitian ini berupa informasi dan dokumentasi yang diperoleh dari narasumber yaitu para sesepuh, perangkat desa, dan masyarakat Desa Kedungwringin, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen dalam penelitian ini yaitu handphone untuk merekam wawancara, dan kamera digital untuk mengambil gambar dan merekam. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Prosesi tradisi Baritan di desa Kedungwringin yaitu (a) Praprosesi atau persiapan prosesi, (b) Prosesi atau jalannya upacara tradisi Baritan, (c) Prosesi akhir. (2) Makna tradisi Baritan di desa Kedungwringin adalah (a) Makna budaya, (b) Makna sosial, (c) Makna ekonomi, (d) Makna politik; fungsi tradisi Baritan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt yang telah memberikan rizki, keselamatan dan keamanan. (3) Isi cerita wayang dalam tradisi Baritan mencertiakan perintah Sang Hyang Wenang kepada Bhatara Guru untuk menyebar wiji isining jagad. (4) Ubarampe tradisi Baritan di desa Kedungwringin di bagi menjadi : (a) ubarampe dalam prosesi pemendaman kepala kambing, (b) ubarampe kenduri dalam tradisi Baritan, (c) ubarampe dalam pertunjukan wayang. Kata Kunci : Tradisi Baritan, Sedhekah Bumi