cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan
ISSN : 19784163     EISSN : 26545292     DOI : -
Jurnal Teknologi Pangan is one of Food Technology Journal in Indonesia managed by Department of Food Technology at UPN Veteran East Java. This journal has been published since 2007 and registered with ISSN 1978-4163, ISSN 2654-5292 (Online). Recently, Jurnal Teknologi Pangan begin to be upload ine-journal of UPN Veteran Jatim and will be one of the e-jpurnals that can be read by every people all over the world.
Arjuna Subject : -
Articles 201 Documents
EKSPLORASI DAN ISOLASI JAMUR LIAR YANG TUMBUH PADA AREAL HUTAN SEKUNDER DI WILAYAH KELURAHAN SUNGAI KELEDANG, SAMARINDA (Expolration And Isolation Of Mushrooms Wildly Grown On Secondary Forest In Sungai Keledang Village, Samarinda) Zamroni, Ahmad; Hamdi, Saipul
REKAPANGAN Vol 10, No 1 (2016): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJamur adalah salah satu potensi kekayaan alam Indonesia yang mengandung berbagai manfaat untuk kehidupan manusia. Akan tetapi, potensi ini belum dieksplorasi dan didokumentasikan dengan baik sehingga sampai saat ini potensi tersebut belum termanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, eksplorasi dan identifikasi jamur yang tumbuh liar sangat diperlukan sebagai langkah awal dalam pemanfaatan keanekaragaman jamur yang ada di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengeksplorasi, mengidentifikasi dan mengisolasi jamur yang tumbuh di areal hutan sekunder di wilayah Kelurahan Sungai Keledang, Samarinda. Sebanyak 16 jenis jamur telah berhasil didapatkan dan diidentifikasi. Sebagian besar jamur yang didapatkan merupakan jamur dari genus atau spesies yang telah dikenal memiliki nilai kegunaan yang penting terutama dalam kaitannya sebagai sumber nutrisi, sumber antioksidan, obat-obatan, penghasil enzim komersial, decolorization agent serta berperan dalam bioremidiasi. Jamur-jamur yang didapatkan tersebut juga telah berhasil diisolasi dan dipreservasi dalam bentuk koleksi biakan murni jamur dalam agar miring serta koleksi suspensi spora jamur dalam gliserol 15%.Kata kunci: eksplorasi, isolasi, jamur liar, bioaktifABSTRACTMushroom is one of Indonesia’s natural resources containing abundant benefits to mankind. Unfortunately, this potency has not yet been explored and well-documented so that Indonesia’s mushrooms resources are less utilized. Therefore, exploration and identification of wild mushrooms is needed as a first step toward utilization of mushrooms diversity in Indonesia. This reasearch is aimed to explore, identify and isolate mushrooms wildly grown on secondary forest in Sungai Keledang village, Samarinda, East Kalimantan. A total of 16 species of mushrooms has been collected and identified. Most of it are wildly known as species or genus providing benefits as source of nutrition, antioxidant, medicine, enzime producer, decolorization agent or bioremidiation. The collected mushrooms has been successfully isolated and preserved as pure mycelium culture in agar slant and pure spore suspension in 15% glycerol.Keywords: eksplorasi, isolasi, jamur liar, bioaktif
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK CINCAU HIJAU (Cyclea barbata Miers) TERHADAP OVERRUN DAN DAYA TERIMA ES KRIM Zella, Zella Widaronia; Cucuk, Cucuk Suprihartini; Arya, Arya Ulilalbab; Enggar, Enggar Anggraeni
REKAPANGAN Vol 11, No 1 (2017): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cincau hijau merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan untuk kesehatan. Kandunganpolifenol dan flavonoid yang terkandung di dalam daun cincau hijau berfungsi sebagai antioksidan. Es krimmerupakan makanan yang sangat popular dan digemari berbagai kalangan. Penambahan ekstrak cincau hijaupada adonan es krim diharapkan dapat meningkatkan manfaat dalam segi kesehatan serta penganekaragamanolahan berbahan dasar ekstrak cincau hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruhpenambahan ekstrak cincau hijau terhadap overrun dan daya terima pada es krim. Hipotesis dari penelitian iniadalah ada pengaruh penambahan ekstrak cincau hijau terhadap overrun dan daya terima pada es krim. Jenispenelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dimana menggunakan desain penelitianRancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 replikasi serta 1 kontrol. Perlakuan yang digunakan yaituperbandingan ekstrak cincau hijau dengan adonan es krim (55% : 45%), (65% : 35%) dan (75% : 25%). Dataakan dianalisis menggunakan program SPSS 17. Untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak cincau hijauterhadap overrun menggunakan uji statistik One Way Anova, serta daya terima es krim dianalisis menggunakanuji statistik Friedman Rank dan uji Duncan diperlukan jika ada perbedaan. Berdasarkan uji One Way Anova adapengaruh terhadap overrun (0,009 < α = 0,01), sedangkan pada uji Friedman Rank ada pengaruh terhadapwarna (0,00 < α = 0,05), aroma (0,00 < α = 0,05), tekstur (0,00 < α = 0,05), dan rasa (0,00 < α = 0,05). Nilaitertinggi overrun terdapat pada perlakuan kontrol namun belum memenuhi standar overrun rumah tangga. Dayaterima tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol.Kata kunci : Ekstrak cincau hijau, es krim, daya terima, overrun
PEMBUATAN YOGHURT BUBUK SUSU KAMBING ETTAWA (Making Yoghurt Powdered Goat Milk Ettawa) HP, Sudaryati; Djajati, Sri i; Fachrizal, Novan Tri
REKAPANGAN Vol 10, No 2 (2016): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKYoghurt susu kambing memiliki kandungan gizi lebih unggul dari Yoghurtsusu sapi, salah satu diantaranya adalah kandungan protein susu kambing relatif lebihtinggi, yaitu 4,3% dibanding susu sapi 3%. Akan tetapi karena pada kenyataannyaterdapat beberapa orang yang kurang menyukai yoghurt susu kambing dikarenakanbau amis, sehingga perlu dibuat menjadi yoghurt bubuk agar bau amis dari susuberkurang. Selain itu yoghurt bubuk memiliki daya simpan lebih lama dan dapatdisimpan dalam suhu ruang. Akan tetapi membuat yoghurt bubuk dibutuhkan bahanpengisi dan penstabil yaitu maltodekstrin dan Na-CMC untuk mengikat dan melindungisenyawa-senyawa yang mudah rusak oleh panas pada saat pengeringan. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan maltodekstrin dan Na-CMC terhadap kuwalitas yoghurt bubuk susu kambing ettawa serta menentukanperlakuan kombinasi terbaik dari perlakuan penambahan maltodekstrin dan Na-CMCterhadap mutu yoghurt bubuk susu kambing yang disukai konsumen. penelitian inimenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor yaitupenambahan Maltodekstrin (10%, 15% dan 20%) dan penambahan Na-CMC (1%,1.5% dan 2%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah padapenambahan Maltodekstrin 20% dan penambahan Na-CMC 1.5% yang menghasilkanproduk yoghurt bubuk susu kambing ettawa dengan total bakteri asam laktat 9.0988log cfu, kadar air 1.9%, rendemen 41.7%, daya larut 87.42%, kadar abu 2.19%, protein14.26%,dan lemak 12.83%.Kata kunci : Yoghurt bubuk, susu kambing, maltodekstrin dan Na-CMCABSTRACTGoat milk yogurt has nutritional content is superior to the cows milk Yoghurt,one of which is a goats milk protein content is relatively higher, i.e. 4.3% compared to3% of cows milk. However, because in fact there are some people who are less fondof goats milk yogurt because the fishy smell, so it needs to be made into yoghurtpowder so that the fishy smell of the milk decreases. In addition the yoghurt powderhas a save life longer and can be stored inroom temperature. But making yoghurtpowder fillers and stabilizers necessary i.e. maltodekstrin and Na-CMC for binding andprotecting the compounds that are easily damaged by heat when drying. The purposeof this research is to know the influence of the addition of maltodekstrin and Na-CMCquality towards the of powdered goats milk yoghurt ettawa and determine the bestcombination of treatment of adding maltodekstrin and Na-CMC against quality yoghurtpowdered goats milk favored consumers. This study used a Randomized CompleteDesign (RAL) factorial pattern with two factors, namely the addition of Maltodekstrin(10%, 15% and 20%) and the addition of Na-CMC (1%, 1.5% and 2%). The resultsshowed that the best treatment was the addition of Maltodekstrin 20% and the additionof Na-CMC 1.5% that produce powdered goats milk yogurt ettawa with total lactic acidbacteria 9.0988 log cfu, 1.9% water content, yield which 41.7%, solublelity 87.42%,2.19% ash, protein, and fat 14.26% and 12.83%.Keywords: yoghurt, goats milk, Maltodekstrin, Na-CMC
PROFILING ATRIBUT JAMU KUNYIT ASAM DAN JAMU SINOM DENGAN METODE RATA (Rate-All-that-Apply) PADA BEBERAPA KOTA di JAWA TIMUR (Profiling Attribute Of Jamu Kunyit Asam And Sinom By Rata (Rate-All-That-Apply) At Several Cities In East Java) Fibrianto, Kiki; Dwihindarti, Mayrizky
REKAPANGAN Vol 10, No 1 (2016): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKJamu merupakan salah satu obat tradisional di Indonesia yang diolah dengan cara pengolahan sederhana berdasarkan pengalaman turun-temurun. Profiling produk jamu merupakan salah satu pendekatan sensori yang dapat menjadi suatu upaya dalam perbaikan daya terima konsumen terhadap produk. Metode yang digunakan merupakan pendekatan sensori terbaru, yaitu metode RATA (Rate-All-that-Apply) yang bersifat objektif kuantitatif. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terdapat 13 atribut sensoris yang memiliki intensitas berbeda antara jamu kunyit asam dan sinom.Kata kunci : Jamu, Profiling, RATAABSTRACTJamu is known as a typical Indonesian traditional medicine which is produced by simple processing based on experience over generations. Product profiling to jamu is one of sensory approach that can improve consumer acceptance to product. Sensory evaluation is related to sensory perception. Sensory perception can be influenced by demography factor. Method of this research is the latest knowledge approach. RATA (Rate-All-that-Apply)method is a quantitative methods are objective. The aim of this review is to know the distinguishing attributes of jamu and the influence of demography factors of human in product profiling. This current study suggest that there are 13 perceived sensory attributes with different intensities for distinguishing kunyit asam and sinom.Keywords : Jamu, Profiling, RATA
PENGARUH KOMPOSISI DAN SUHU TERHADAP KUAT TARIK LEATHER KANGKUNG DAN OPTIMASINYA (Influence Of Composition And Temperature Against The Strong Pull Of Leather Ipomoea Reptans Poir And Optimization) Amir, Ach. Faizal; Fakhry, Muhammad; Purwandari, Umi
REKAPANGAN Vol 10, No 2 (2016): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKFruit leather merupakan makanan ringan yang berbentuk lembaran tipismempunyai tekstur sedikit liat dan mudah digulung. Penelitian ini bertujuan untukmengkaji pengaruh komposisi dan suhu terhadap kuat tarik leather kangkung.Penelitian ini menggunakan Response Surface Methodology (RSM) dengan 3 faktoryaitu kadar pektin, asam sitrat dan suhu dan 5 level masing-masing faktor, yaitudengan kadar pektin 4, 6, 8, 10, 12%, asam sitrat 0,1, 0,2, 0,3, 0,4, 0,5% dan suhu 50,55, 60, 65, 70oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai kadar pektinmaka akan tinggi nilai kuat tarik, penambahan asam sitrat juga menambah kuat tarik.Semakin tinggi suhu maka akan mempengaruhi tekstur kekerasan. Optimum kuat tarikleather kangkung adalah 0,7170 kg.force dengan kadar pektin sebanyak 7,3986%,asam sitrat 0,2896% dan suhu 50,0oC dengan nilai composite desirability d = 0,05515.Kata Kunci : Kangkung, Leather, Pektin, Asam Sitrat, Suhu, (RSM).ABSTRACTFruit leather is snacks in the shape of a thin sheet, e.astic texture and easilyrolled. This research assessed the influence of composition and temperature on thetensile strength of water spinach (Ipomoea reptans Poir) leather. This researchemployed the Response Surface methodology (RSM) with the three factors, namelythe level of pectin, citric acid and temperature at 5 levels of each factor, with pectinlevels of 4, 6, 8, 10, 12%, citric acid 0.1, 0.2, 0.3, 0.4, 0.5% and temperature of 50, 55,60, 65, 70oC. The results showed that the higher levels of pectin the higher tensilestrength. Similarly, pectin concentration also showed positive correlation on tensilestrength of the leather. Temperature significantly and positively affected tensilestrength. Optimum tensile strength of leather was 0.7170 kg.force with 7.3986% pectin,0.2896% citric acid and 50oC, with the value of the desirability of composite d =0.05515.Key words : Ipomoea reptan poir, leather, pectin, citric acid, tempetature (RSM).
Kajian Pengaruh Suhu dan Lama Ekstraksi Secara Pengukusan Terhadap Kadar Albumin Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus) JURNAL TEKNOLOGI PANGAN, Matheus Nugroho
REKAPANGAN Vol 6, No 2 (2012): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe objective of this study is to determine the temperature and duration ofthe right steaming extraction to obtain albumin content and yield that optimalfrom the Gabus fish (Ophiocephalus striatus). The research method is todetermine the temperature in the range 40-90oC, and the steaming extractionwaterbath for 25-35 minutes, to obtain yield and albumin content of optimal fishGabus coarse extract . Testing temperature and extraction time is steamingtoward yield, albumin content and albumin yield of fish Gabus meat using GroupRandomized Factorial design analysis (RAKF). The results showed that nointeraction between the various factors treated with the higher temperature rangeof 40-90oC, and the range of 25-35 minutes longer steaming. The highestalbumin yield extract of the common snakehead of 2.459 g/100g fish, bysteaming temperature 60°C for 25-35 minutesKey words: fish Gabus (Ophiocephalus striatus), extraction, yieldAbstrakTujuan penelitian ini untuk menentukan suhu dan lama ekstraksipengukusan yang tepat untuk mendapatkan rendemen dan kadar albumin yangoptimal dari ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Metode penelitian adalahmenentukan suhu pada kisaran 40-90oC, dan ekstraksi secara pengukusanwaterbath selama 25-35 menit, untuk mendapatkan rendemen dan kadaralbumin ekstrak kasar ikan gabus yang optimal. Pengujian suhu dan lamaekstraksi secara pengukusan terhadap rendemen, kadar albumin dan rendemenalbumin daging ikan gabus menggunakan analisa Rancangan Acak KelompokFaktorial (RAKF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan interaksiantara berbagai faktor perlakuan dengan semakin tinggi suhu kisaran 40-90oC,dan lama pengukusan kisaran 25-35 menit. Rendemen albumin tertinggi ekstrakikan gabus sebesar 2,459 g/100g, oleh suhu pengukusan 60oC selama 25-35menit.Kata kunci : ikan gabus (Ophiocephalus striatus), ekstraksi, rendemen
KAJIAN PEMANFAATAN BIJI NANGKA DENGAN PLASTICIZER GLISERIN DARI MINYAK JELANTAH SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN EDIBLE COATING Wulandari, Diah Mahita Nur; Saktihono, Putri Indrian; Susilowati, Titi
REKAPANGAN Vol 10, No 2 (2016): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBiji nangka adalah salah satu sumber pati yang belum banyak dimanfaatkanselama ini, bahan ini merupakan limbah padat dari pengolahan makanaan berbahandasar buah Nangka. Biji nangka mempunyai kadar karbohidrat yang tinggi, sehinggadapat diekstrak senyawa patinya sebagai bahan edible coating. Proses polimerisasipati biji nangka sebagai edible coating dapat dibantu dengan penambahan plasticizergliserin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan plasticizergliserin terhadap uji mekanik berupa elongation dan tensile strength. Penelitian inidilakukan melalui tiga tahapan, yaitu pembuatan pati dari biji nangka, gliserin dariminyak jelantah, dan pembuatan edible coating. Metode yang digunakan dalampembuatan edible coating adalah pencampuran pati 10, 15, 20, 25, 30 gram denganmenggunakan plasticizer gliserin sebanyak 30, 40, 50 dan 60 mL. Hasil uji mekanik,yaitu tensile strength dan elongation, menunjukkan bahwa kenaikan kadar gliserinmengakibatkan penurunan tensile strength dan kenaikan elongation. Edible coatingyang dihasilkan dapat digunakan sebagai pengemas makanan, yaitu lombok kecil,lombok besar, tomat serta buah stroberi, dan dapat menghambat proses pembusukan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tensile strength paling besar adalah pada pati 10gram dan 50mL gliserin yaitu sebesar 33,39 Mpa, Sedangkan elongation of breakadalah sebesar 23,87%.Kata Kunci: Biji Nangka, gliserin, pati, edible coatingABSTRACTJackfruits seed is one of starch resource that haven’t used yet in many things.Jackfruit seeds have high levels of carbohydrates, that can be extracted its starchcompounds as a material of the edible coating. The polymerization process of jackfruitseeds starch to edible coatings can be assisted by the addition of a plasticizer glycerin.This research aims to know the influence of the addition of glycerin as plasticizertoward the mechanical test (elongation break and tensile strength). The research doneby three stages that were making starch from the jackfruits seed, glycerin from usedoils, and making of edible coatings. The methods were used in the manufacture of anedible coatings were 10,15, 20, 25, 30 grams respectively, and using glycerin asplasticizer 30, 40, 50 and 60 ml. The results of mechanical test are tensile strengthand elongation at break, showed that the increasing of the quantity of a substance inglycerin made tensile strength and elongation at the break. Edible coating producedcan be used as food chili are small chili large, tomato a fruit, as the strawberry andcould impede the process of putrefaction.The result showed that the most are tensilestrength on starch 10 grams and glycerin are 50ml of 33,39 mpa, the elongation atbreak is 23,87%Keywords : Jackfruit seed, glycerin, starch, edible coating
ANALISA HISTOKIMIA DAN KIMIA TERHADAP HIPOKOTIL BRUGUIERA GYMNORHIZA (L) LAMK. SELAMA FASE MATANG (MATURE) (Histochemical and chemical analysis of hypocotile Bruguiera gymnorhiza (L) Lamk during the mature phase) Handayani, Sri
REKAPANGAN Vol 10, No 2 (2016): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTanaman Bruguiera gymnorhiza (L) Lamk disamping mempunyai berbagai fungsibiologis, hipokotil tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan karenakandungan karbohidratnya cukup tinggi, dan sebagai sumber biofarmasi karenamengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, dantriterpenoid. Berdasarkan hal tersebut,maka hipokotil B. gymnorhizadapatdikembangkan sebagai bahan pangan alternatif yang berpotensi sebagai foodfungsional . Sebagai langkah awal dalam pengembangan, diperlukan informasi tentangkeberadaan beberapa komponen senyawa dalam hipokotil tersebut baik analisa secarahistokimia maupun kimia.Analisa histokimia dan kimia pada penelitian ini, dilakukan pada hipokotil (buah)B. gymnorhiza. pada fase matang (mature). Hipokotil fase matang dicirikan denganperubahan warna kulit dari hijau tua [(umur 77 hari setelah anthesis (HSA)], menjadiwarna hijau-ungu (umur 89 HSA), dan berarkhir dengan warna ungu (umur 107 HSA).Hasil analisa histokimia menginformasikan bahwa granula pati pada buah B.gymnorhiza terkonsentrasi pada mesokarp dan endokarp, protein pada auter borderantara mesokarp dan endokarp, lemak pada mesokarp, serat dan tanin pada eksokarpdan mesokarp. Granula pati terbanyak terdapat pada endokarp hipokotil berwarnaungu, molekul protein dan globula lemak pada ketiga warna hipokotil jumlahnya relatifsedikit. komponen selulosa terbesar terdapat pada hipokotil warna ungu, dankandungan tannin terbanyak terdapat pada hipokotil warna hijau-unguKomponen kimia hasil analisa hipokotil warna hijau, hijau-ungu dan unguberturut-turut sebagai berikut: air (62,55; 61,95; dan 61,90%bk), protein (1,61; 1,85;dan1,91%), lemak (0,37; 0,38; dan 0,19%), abu (1,39; 1,05; dan 1,10%), pati (17,94;18,43; dan18,45%), amilosa (0,41; 0,40 dan 0,39%), amilopektin (17,53; 18,03; dan18,06%), serat kasar (2,65; 2,79; dan 2,93%), pektin (0,94; 0,87; dan 0,76% sebagaiasam pektat), tanin (4,49; 4,94; dan 3,54%), dan HCN (16,92; 15,88; dan12,71 ppm).Kata kunci : analisa histokimia dan kimia, Bruguiera gymnorhiza (L) Lamk, fasematangABSTRACTPlants of Bruguiera gymnorrhiza (L) Lamk addition to having a variety ofbiological functions, hipokotil this plant can also be used as a sources because theycontain high carbohydrate, and as a source of biopharmaceuticals because theycontain secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, phenols, tannins, andtriterpenoids. Based on this, the hypocotyls B. gymnorhiza can be developed as analternative food material that has potential as a functional food. As a first step in thedevelopment, the necessary information about histochemistry and chemical analysis.the presence of some components of the compound in the hypocotile.Histochemical and chemical analysis performed on hipokotil (fruit) Bruguieragymnorhiza (L) Lamk. in mature stage. Hypocotile mature phase is characterized bychanges in skin color from dark green [(age 77 days after anthesis (DAA)], and thengreen-purple (age 89 DAA), and ends the color purple (age 107 DAA).Histochemical analysis results to inform that the starch granules in hypocotileB. gymnorhiza concentrated on mesocarp and endocarp, protein on auter borderbetween mesocarp and endocarp, fat globules on mesocarp, fiber and tannins oneksokarp and mesokarp. Most starch granules contained in hipokotil endocarp purple,protein molecules and globules of fat in three colors hypokotile relatively few. Thecellulose component contained in hipocotile purple color and tannin content containedin the most green-purple color hypocotileThe chemical components of the analysis results hypocotile green, green,purple and purple in a row as follows: water (62.55; 61.95; and 61,90%db), protein(1,61; 1,85; dan1,91 %), fat (0,37; 0,38; and 0,19%), ash (1,39; 1,05; and 1,10%),starch (17,94; 18,43; dan18,45 %), amylose (0,41; 0,40 and 0,39%), amylopectin(17,53; 18,03; and 18,06%), crude fiber (2,65; 2,79; and 2,93%), pectin (0,94; 0,87;and 0,76% as pektat acid), tannins (4,49; 4,94; and 3,54%) and HCN (16,92; 15,88;dan12,71 ppm).Keywords: histochemical and chemical analysis, Bruguiera gymnorhiza (L) Lamk,mature phase
PRODUKSI PROTEIN SEL TUNGGAL (SPIRULINA SP.) SEBAGAI BAHAN BAKU SUPER FOOD UPAYA PENANGGULANGAN GIZI BURUK (Production of Single Cell Protein (Spirulina Sp.) As Raw Materials of Super Food) Erna Rofidah, Dwi Riesya Amanatin Siti Duratun N.
REKAPANGAN Vol 6, No 2 (2012): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe Type of fertilizer is economical as MET (Sprouts Extract media) and urea Whichmay be an option in developing a culture of Spirulina sp., Because in addition to the low costit also has a macronutrient and micronutrient content which supports cell growth of Spirulinasp. The Research is carried out by modifying the growing medium Spirulina sp. to optimizeits role and functions, namely the combination of urea concentration and bean sproutsextract media (MET). The Combinations are as follows: P1: MET 2% urea 80 ppm, P2: MET2% urea 100 ppm, P3: MET 2% urea 120 ppm, P4: MET 4% urea 80 ppm, P5: MET 4% urea100 ppm, P6: 4% urea MET 120 ppm, P7: MET 6% urea 80 ppm, P8: MET 6% urea 100ppm, P9: MET 6% urea 120 ppm, and P10: sea water. highest cell density (19.53 x 103sinusoid / ml in media treatment of P1. ANOVA test results (at p> 0.05) showed the influenceof MET combination with urea fertilizer to the cell density of Spirulina sp. multiple comparisontest results for cell density Spirulina sp. showed a significant difference between the mediatreatment of sea water by the combination of MET, except between P1 to P10. this is anindication that the concentration of MET combination with urea fertilizer has the potential tobe used as an alternative fertilizer in cultured Spirulina sp. To obtain high cell biomass andlow fertilizer costs. So it can be applied in the production of single cell protein (PST) fromSpirulina sp. as a super food.Key words: Spirulina sp., Urea fertilizer, bean sprouts extract media (MET) cell density AbstrakJenis pupuk yang bersifat ekonomis seperti MET (media Ekstrak Tauge) dan ureadapat menjadi pilihan dalam mengembangkan kultur Spirulina sp., karena selain biaya yangrendah juga memiliki kandungan makronutrien dan mikronutrien yang mendukungpertumbuhan sel Spirulina sp. Penelitian dilakukan dengan memodifikasi media tumbuhSpirulina sp. untuk mengoptimalkan peran dan fungsinya yaitu penambahan beberapakombinasi konsentrasi pupuk Urea dan media ekstrak tauge (MET). Kombinasi yangdilakukan adalah : P1 : MET 2% pupuk urea 80 ppm, P2 : MET 2% pupuk urea 100 ppm, P3: MET 2% pupuk urea 120 ppm, P4 : MET 4% pupuk urea 80 ppm, P5 : MET 4% pupuk urea100 ppm, P6 : MET 4% pupuk urea 120 ppm, P7: MET 6% pupuk urea 80 ppm, P8: MET 6%pupuk urea 100 ppm, P9: MET 6% pupuk urea 120 ppm, dan P10 : air laut. kepadatan seltertinggi (19,53 x 103 sinusoid/ml dalam media perlakuan P1. Hasil uji ANOVA (pada p>0,05) menunjukkan adanya pengaruh kombinasi MET dengan pupuk urea terhadapkepadatan sel Spirulina sp. Hasil uji perbandingan berganda terhadap kepadatan selSpirulina sp. menunjukkan adanya perbedaan nyata antara media perlakuan air laut dengandengan kombinasi MET, kecuali antara P1 dengan P10. Hal ini memberikan indikasi bahwakombinasi konsentrasi MET dengan pupuk urea memiliki potensi untuk dijadikan pupukalternatif dalam kultur Spirulina sp. untuk memperoleh biomasa sel yang tinggi serta biayapupuk yang rendah sehingga dapat diaplikasikan dalam produksi protein sel tunggal (PST)dari Spirulina sp. sebagai super food.Kata kuci: Spirulina sp., pupuk urea, media ekstrak tauge (MET) kepadatan sel
Pembuatan Pektin Berwarna dari Ampas Apel dan Bunga Potong Sortiran Indria, Indria Purwantiningrum; Nisa, Fithri Choirun
REKAPANGAN Vol 11, No 1 (2017): REKAPANGAN
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan pektin sebagai pengental alami dalam berbagai produk pangan telah banyak diakukan.Ekstraksi pektin dari ampas apel dapat meningkatkan nilai ekonomis apel sortiran. Namun, untuk memberikaninovasi terhadap produk pektin, dilakukan kombinasi penambahan warna merah alami yang diperoleh daripigmen antosianin. Pigmen ini dapat diperoleh dari berbagai jenis bunga antara lain bunga mawar potong.Kombinasi pektin dari ampas apel dengan antosianin dari bunga mawar potong diharapkan dapat menghasilkanbahan tambahan pangan alami yang efektif dan aman digunakan oleh masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk secara efektif memperoleh ekstrak pektin dari ampas apel untukmempertahankan warna antosianin dari bunga mawar potong sortiran. Optimasi ekstraksi pektin didekati melaluipenggunaan asam yang tepat serta perbandingan bahan: pelarut. Hasil yang diharapkan adalah produksi pektindengan rendemen tertinggi serta memiliki kemampuan untuk mempertahankan stabilitas antosianin.Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh rendemen total pektin tertinggi diberikan olehperlakuan kadar antosianin 75% dengan perbandingan bahan: pelarut 1: 75; yaitu 38. 47%. Sedangkan hasilterendah diberikan oleh perlakuan kadar antosianin 60% dengan perbandingan bahan: pelarut 1:125 yaitu 3.59%. Tingkat kemerahan rendemen yang tertinggi diperoleh dari perlakuan kadar antosianin 75% denganperbandingan bahan: pelarut 1:75. Berdasarkan uji lanjut Duncan, perlakuan K3P3 (antosianin 75% dan asamsitrat 1:75) memberikan hasil total pektin paling optimal. Perlakuan ini tidak berbeda signifikan dengan perlakuanK4P3, K4P2, K3P2, K2P3, K4P4 dan K2P2. Namun untuk tingkat kemerahan perlakuan K3P3 tidak berbedasignifikan dengan K2P2 dan K3P3. Dengan demikian perlakuan terbaik adalah perlakuan kadar antosianin 75%dengan perbandingan bahan:pelarut 1:75.