cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pertumbuhan dan Hasil Umbi Kentang Kultivar Granola dengan Aplikasi Mepiquat Klorida di Dataran Medium Maja, Jawa Barat Sumiati, Etty
Jurnal Hortikultura Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v9n1.1999.p%p

Abstract

Abstrak. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi dan jumlah aplikasi optimum xat pengatur tumbuh (ZPT) mepiquat klorida untuk memaksimalkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang kultivar Granola yang ditanam di dataran medium Maja, Jawa Barat. Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan telah digunakan. Pemberian mepiquat klorida terdiri atas empat taraf konsentrasi, yaitu 4,6,8 ml/l diaplikasikan satu kali pada umur 42 hari setelah tanam dan yang diaplikasikan dua kali masing-masing setengah konsentrasi pada umur 35 dan 42 hari setelah tanam bibit umbi kentang dan kontrol, sehingga jumlah perlakuan ada sembilan. Hasil penelitian mengungkapkan tidak terjadi gejala fitotoksisitas klorosis, dan gejala abnormal lainnya pada tanaman kentang kultivar Granola yang disemprot laturan meiquat klorida tersebut, mepiquat  klorida konsentrasi 4 sampai 16 m/l yang diberikan satu atau dua kali mereduksi luas daun 17% sampai 37%, meningkatkan bobot umbi segar total sebesar 14% sampai 25%. Hasil bobot umbi tertinggi diperoleh dari pemberian mepiquat klorida konsentrasi 6 ml/l satu kali aplikasi pada 42 hst. Penerapan teknologi yang dihasilkan dapat menguntungkan melalui peingkatan hasil umbi kentang kultivar Granola sekitar 25% yang ditanam di dataran medium dengan pemberian ZPT yang tepat. Abstract. Research has been carried out to find out the optimal concentration and optimal number of application of plant growth regulator mepiquat cloride and to maximize both the growth and yield of potato cv. Granola at Maja medium elevation (560 m above sea level). A Randomized Block Design wit three replications was set up in the field.Treatments consisted of four levels of mepiquat chloride concentrations, viz.4,6,8, 16 ml/l which were applied once at 42 days after planting nd twice in a half dosage at 35 and 42 days after plantng, respectively, and control. Research results revealed that there was no phytotoxicity symptom, no chlorosis, and abnormality on potatoplants cv. Granola treated with mepiquat cloride at concentration of 4 to16 ml/l for both at once and at twice have reduced leaf area by 17-37%, increased total fresh weight of potato tuber by 14% to 25%; however, the highest yield of potato tuber was gained from plants treated with mepiquat chloride 6 ml/l applied at 42 days after planting. The users may get benefit trough improvement of potato yield cv Granola around 255 which is cultivated in medium elevation with proper dosage and frequency of growth regulator application.    
Pengaruh Cara Pengolahan Tanah dan Tanaman Kacang-kacangan sebagai Tanaman Penutup Tanah terhadap Kesuburan Tanah dan Hasil Kubis di Dataran Tinggi Rosliani, Rini; Sumarni, Nani; Sulastrini, Ineu
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n1.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK.  Kubis umumnya dibudidayakan secara intensif di dataran tinggi.  Penanaman kubis secara terus menerus menyebabkan terjadinya penurunan produktivitas lahan dan tanaman.  Untuk mempertahankan keberlanjutan produksi, maka budidaya sayuran harus dilakukan dengan cara yang dapat mengurangi terjadinya penurunan produktivitas lahan.  Percobaan dilaksanakan di dataran tinggi Pangalengan, mulai bulan Agustus sampai Desember 2005.  Tujuan percobaan adalah untuk mengetahui pengaruh cara pengolahan tanah dan penggunaan tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah terhadap kesuburan tanah serta hasil tanaman kubis di dataran tinggi.  Percobaan dilakukan menggunakan rancangan petak terpisah dengan empat ulangan. Perlakuan meliputi cara pengolahan tanah (minimum/barisan dan konvensional) sebagai petak utama dan penanaman kubis dengan tanaman kacang-kacangan (kacang buncis tegak, kacang merah, dan kacang tanah) sebagai penutup tanah dan mulsa plastik hitam (kontrol) sebagai anak petak. Hasil percobaan menunjukkan pengolahan tanah minimum/barisan mempunyai sifat kimia dan fisik  tanah cenderung tidak berbeda nyata dengan pengolahan tanah konvensional. Tanaman penutup tanah dari jenis tanaman kacang-kacangan mempunyai residu hara (C organik dan P total tanah) dan populasi mikroba tanah serta pertumbuhan dan hasil kubis yang lebih baik daripada penggunaan mulsa plastik, meskipun untuk fisik tanah tidak ada perbedaan.  Jadi, tanaman kacang-kacangan sebagai tanaman penutup tanah yang ditumpangsarikan dengan tanaman kubis dapat digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah dan hasil tanaman kubis.  Pengolahan tanah minimum dan penggunaan tanaman kacang-kacangan yang ditumpangsarikan pada tanaman kubis merupakan cara pengelolaan lahan dan tanaman yang efisien untuk mempertahankan produktivitas lahan dan tanaman kubis.ABSTRACT.  Rosliani, R., N. Sumarni, and I. Sulastrini. 2010. The Effect of Tillage Methods and Legumes as  Cover Crops on Soil Fertility and Yield of Cabbage on Highland. Generally vegetable crops such as cabbage is cultivated intensively on the highland area.  Cultivating vegetable crops continuously all year round can cause decreasing crop and soil productivity. To maintain sustainable production, therefore, vegetable cultivation practices should be done in a way that reduce land degradation. The experiment was conducted at farmer‘s field, Pangalengan from August to December 2005. The objective of the experiment was to find out the effect of tillage method and legumes cover crop to improve soil fertility and yield of cabbage on highland. A split plot design with four replicates was used.  The main plot was tillage method, i.e. minimum (strip) tillage and conventional tillage.  While the subplot was legumes cover crops, i.e stringbean, redbean, and plastic mulch as control. The results showed that minimum tillage did not significantly different to conventional tillage on soil chemical and physical properties, growth, and yield of cabbage.  The cover crops of  leguminose had better nutrient residual (C organic and P soil), population of soil microbial, growth, and yield of cabbage than application of plastic mulch, but did not significantly different on soil physics. Therefore, legumes cover crops could be used for improving soil fertility and yield of cabbage. Minimum tillage and application of  leguminose multiplecrop on cabbage was the efficient methods of crop and soil management  for maintaining crop and land productivity of cabbage in the highland.
Pembibitan Manggis Secara Cepat Melalui Teknik Penyungkupan Akar Ganda dan Pemberian Cendawan Mikoriza Arbuskula M Jawal Anwarudin Syah; T Purnama; D Fatria; F Usman
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n3.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Telah dilakukan penelitian penyediaan bibit manggis secara cepat melalui manipulasi CO2, teknik akar ganda, dan penggunaan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) di Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok mulai Januari sampai Desember 2003. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah manipulasi CO2 , yaitu penempatan semai manggis di dalam dan di luar sungkup plastik beralaskan jerami dalam rumah kasa. Subplot adalah sistem perakaran, yaitu semai manggis berakar tunggal dan semai manggis berakar ganda, sedangkan sub-subplotnya adalah mikoriza, yaitu semai manggis yang diberi dan tanpa CMA. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, bobot kering akar, dan bobot kering total tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penempatan bibit manggis di dalam sungkup plastik beralaskan jerami dapat tumbuh lebih cepat daripada semai manggis di luar sungkup plastik. Sistem perakaran belum menunjukkan pengaruhnya terhadap pertumbuhan bibit manggis, walaupun bibit manggis berakar tunggal masih cenderung tumbuh lebih baik daripada bibit berakar ganda. Pemberiaan CMA belum menunjukkan pengaruh walaupun sudah memperlihatkan kecenderungan bahwa bibit manggis yang diinokulasi CMA memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan bibit manggis tanpa CMA.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah, T. Purnama, D. Fatria, and F. Usman. 2007. Acceleration of Mangosteen Seedling Growth through CO2 Manipulation, Double Root System, and Arbuscular Mychorriza Fungi (AMF) Application. The research was conducted in the Screenhouse of Indonesian Tropical Fruit Research Institute from January to December 2003 using a split-split plot design with 3 replications. The main plot was CO2 manipulation (mangosteen seedlings were placed in the screenhouse with: 1) plastic cover and rice stalk as a base, and 2) without plastic cover. The subplot was rooting system (mangosteen seedling with 1 rooting system and 2 rooting system), and sub-subplot was arbuscular mycorrhizae fungi (mangosteen seedling with and without AMF application). The parameters observed were plant height, leaf number, leaf area, stem diameter, dry weight of root, and dry weight of plant. The results of the experiment indicated that mangosteen seedling put in a plastic cover growth faster compared to uncovered seedling. The rooting system, 1 and 2 rooting system, did not show any significant different in stimulating mangosteen seedling growth, whereas application of AMF could stimulate mangosteen seedling growth.
Jenis Suplemen Substrat untuk Meningkatkan Produksi Tiga Strain Jamur Kuping Sumiati, Ety
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n1.2009.p%p

Abstract

ABSTRAK. Daya hasil jamur kuping (Auricularia spp.) masih perlu diperbaiki. Penelitian bertujuan untukmendapatkan jenis suplemen substrat jamur kuping yang sesuai. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisahdengan 3 ulangan. Petak utama strain jamur kuping, yaitu Auricularia sp-7, Auricularia sp-11, dan Auriculariasp-12. Anak petak terdiri atas 12 jenis suplemen substrat, yaitu bekatul beras 10%, tepung jagung 10%, tepungsingkong/tapioka 10%, ekstrak toge 100 g/l, tepung kacang hijau 10%, kaldu daging sapi 10 g/l, air kelapa segar,NPK 15-15-15 0,1 g/l, asam humik /bionature 0,1 ml/l, ZPT Atonik 0,1 ml/l, PPC Multitonik 0,1 ml/l, dedak 10%,dan kontrol (tanpa suplemen). Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.),Jawa Barat dari bulan Desember 2004 sampai Juli 2005. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada umumnyaaplikasi suplemen alamiah dan sintetik meningkatkan hasil jamur kuping. Bobot segar jamur kuping yang tertinggiberasal dari Auricularia sp11 yang dibudidayakan pada substrat dengan penambahan suplemen NPK 15-15-15 0,1g/l (827,0 g/kg substrat basah), atau PPC Multitonik 0,1 ml/l (899,9 g/kg substrat basah), dan dari Auricularia sp-12 yang dibudidayakan pada substrat dengan penambahan suplemen kaldu daging sapi (872,3 g/kg substrat basah).Bobot segar jamur kuping tertinggi tersebut diperoleh dalam kurun waktu berproduksi selama 124-146 hari denganpanen sebanyak 21-23 kali.ABSTRACT. Sumiati, E. 2009. The Application of Substrate Supplement to Increase the Productivity of ThreeEar Mushroom Strains. The yield of ear mushroom (Auricularia spp.) was necessary to be improved. The goal ofthis experiment was to find out the proper supplements for substrate of ear mushrooms. A split plot design with 3replications was set up. The main plot was 3 strains of ear mushrooms, viz. Auricularia sp-7, Auricularia sp-11, andAuricularia sp-12. While the subplot was supplements, comprised of 12 kinds of supplements, viz. rice bran 10%,corn flour 10%, cassava flour 10%, extract of mungbean sprouts, mungbean flour 10%, beef extract, fresh coconutwater, NPK (15-15-15) 0.1 g/l, humic acid/bionature 0.1 ml/l, PGR Atonik 0.1 ml/l, essential microelements solution0.1 ml/l , rice hulls 10%, and control (without supplement). Research activity was carried out at Indonesian VegetableResearch Institute in Lembang (1,250 m asl) West Java, from December 2004 to July 2005. Research results revealedthat in general the application of those supplements mentioned could increase ear mushroom productivity. The highestyield was gained from Auricularia sp-11 cultivated on substrate + NPK (15-15-15) 0.1 g/l (827.0 g/kg substrate), orsubstrate+essential microelements Multitonic of 0.1 ml/l (899.9 g/kg substrate), and from Auricularia sp-12 cultivatedon substrate + beef extract (872.3 g/kg substrate). These highest yield was collected within a productive period from124 to 146 days with total harvesting times of 21 to 23.
Pengaruh Jenis dan Perbandingan Pelarut terhadap Hasil Ekstraksi Minyak Atsiri Mawar Amiarsih, Dwi; Yulianingsih, -; Diharjo, Sabari Sosro
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mendapatkan jenis dan perbandingan pelarut yang tepat dalam upaya mendapatkan rendemen concrete dan minyak mawar berkadar tinggi dengan mutu prima. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman Balai Penelitian Tanaman Hias, Pasarminggu, Jakarta. Mawar American Beauty, diekstraksi dengan jenis pelarut (heksan, petroleum eter, dan metil isobutil keton) dengan perbandingan bunga dan pelarut (1:1, 1:2, dan 1:3) selama 12 jam. Pengambilan filtrat melalui penyaringan dan pemerasan. Ekstrak dievaporasi vakum untuk mendapatkan concrete. Concrete yang diperoleh dilarutkan dengan etanol 96% dan diuapkan kembali untuk mendapatkan minyak mawar (absolut). Parameter yang diamati adalah rendemen concrete dan absolut, indeks bias, dan komponen penyusun minyak. Rancangan penelitian menggunakan acak lengkap pola faktorial dengan 3 ulangan. Hasil penelitian terbaik menunjukkan bahwa rendemen concrete dan rendemen absolut pada jenis pelarut metil isobutil keton dengan perbandingan bunga dan pelarut 1:3, masing-masing 1,35 dan 0,74%. Mutu minyak mawar yang dihasilkan mempunyai indeks bias 1,49 dan mengandung komponen penyusun minyak atsiri dengan 6 komponen sudah diidentifikasi, yaitu fenil etil alkohol, citronellol, geraniol, metil eugenol, α-pinena, dan β–pinena.ABSTRACT. Amiarsi, D., Yulianingsih, and Sabari S.D. 2006. The effect of kinds and composition of solvent on the yield of rose essential oil. The objective of the study was to find out the best kind and composition of solvent for extraction of rose essential oil with good quality and quantity of concrete and absolute. The treatments were extraction by dipping flower in 3 kinds of solvent (hexane, petroleum ether, andisobuthyl ketone) with composition of flower-solvent (1:1, 1:2, and 1:3) for 12 hours. Solution was separated by filtering and manual pressing. Extract was vacuum evaporated to produce concrete. Concrete was dissolved in ethanol 96% and vacuum evaporated to get absolute rose essential oil. Observations were done on the yield of concrete and absolute, refraction index of absolute, and the composition of essential oil. The experiment was arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications. The results indicated that the highest concrete and absolute rendement was obtained by methyl isobuthyl ketone solvent with composition of 1:3 flower-solvent, i.e. 1.35% and 0.74% respectively. Rose essential oil showed good quality with refraction index of 1.49 and 6 component of essential oil were identified, i.e. fenyl ethyl alcohol, citronellol, geraniol, methyl eugenol, α-pinena, and β–pinena.
Perbedaan Primer RAPD dan ISSR dalam Identifikasi Hubungan Kekerabatan Genetik Jeruk Siam (Citrus suhuniensis L. Tan) Indonesia Agisimanto, Dwi; Martasari, C; Supriyanto, Arry
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n2.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Jeruk siam Indonesia tersebar di berbagai sentra produksi dengan nama yang berbeda menurut lokasi adaptasi. Morfologi jeruk-jeruk tersebut terlihat sama, dengan beberapa karakter spesifik yang berbeda. Penelitian bertujuan membandingkan kemampuan primer RAPD dan ISSR dalam mendeteksi kekerabatan di antara jeruk siam. Sampel DNA dari 19 jenis jeruk siam telah diisolasi dari daun dan diamplifikasi dengan 5 buah primer tunggal RAPD dan ISSR. Produk amplifikasi RAPD dipisahkan dalam gel agarose, sedangkan produk ISSR dalam gel poliakrilamid. Statistik pita DNA dan data matriks setiap tipe primer dihitung dan dendogram terbangun berdasarkan analisis kluster menurut UPGMA menggunakan metode SHAN pada program NTSys-PC versi 2,10. Sebanyak 2.605 buah pita DNA dan 240 lokus telah dieksplorasi oleh primer ISSR, sedangkan dengan primer RAPD hanya 515 dan 38 buah. Dari jumlah pita tersebut lokus polimorfisme primer ISSR 90,08% lebih tinggi dibanding primer RAPD. Sebanyak 16 pita spesifik dijumpai pada jeruk siam Banyuwangi 1, siam Purworejo 1, siam Madu, dan siam Banjar 2 oleh primer ISSR, dan 6 pita pada siam Lumajang 1 dan siam Banjar 3 oleh primer RAPD. Perbedaan statistik pita DNA yang dieksplorasi tersebut berhubungan dengan akurasi kemiripan dan jarak genetik jeruk-jeruk siam pada dendogram yang terbangun. Dendogram yang terbangun oleh primer ISSR memperlihatkan keragaman jeruk siam yang lebih tinggi dengan jarak genetik yang lebih tinggi. Kedekatan hubungan di antara jeruk-jeruk siam ini terbanyak pada kisaran 84-100% (RAPD) atau 74-92% (ISSR). Fokus lebih jauh harus ditujukan kepada identifikasi keragaman siam berdasarkan primer dengan sekuen mikrosatelit yang sudah terpaut kepada sifat tertentu untuk lebih memastikan keragaman siam komersial tersebut.ABSTRACT. Agisimanto, D., C. Martasari, and A. Supriyanto. 2007. Differentiation Between RAPD and ISSR Primer on Genetic Diversity Identification of Siam (Citrus suhuniensis L. Tan) from Indonesia. siam was widely cultivated in several citrus growing areas with some local names. Their high adaptability to difference areas, create difficulties in deciding their original varieties. The objective of the research was to compare RAPD and ISSR primer on the genetics similarities identification among siam cultivars. DNA samples from 19 varieties were isolated and amplified by 5 RAPD and ISSR primers. Amplification products of RAPD were separated in agarose gel, while ISSR in PAGE. The DNA fragments from both primers were scored and dendogram were built based on UPGMA of NTSYS-PC version 2.10. About 2605 DNA fragments and 240 loci were scored from ISSR primers, while RAPD were 515 and 38 respectively. A total number of polymorphism loci of ISSRs were 90.08% higher than RAPDs. About 16 specific loci were identified from siam Banyuwangi 1, siam Purworejo 1, siam Madu, and siam Banjar 2 by ISSR primers, and 6 specific loci from siam Lumajang 1 and siam Banjar 3 by RAPD primers. Two dendogram were established from the primers. Coeficient similarity of siam cultivars revealed by ISSR was lower, ranging from 74 to 92%, than RAPD (84-100%). Future activities should be focused on diversity studies of siam by using primer based on microsatellite sequences which are link to specific characters.
Analisis Keragaman Genetik Manggis Menggunakan Teknik Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP) Makful, Makful; Poernomo, Sudarmadi; Sunyoto, Sunyoto
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n4.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2004 sampai dengan Desember 2005 di Laboratorium PemuliaanBalai Penelitian Tanaman Buah dan Laboratorium Bioteknologi Balai Penelitian Tanaman Perkebunan. Penelitianbertujuan mengetahui keragaman genetik manggis berdasarkan analisis molekuler dengan teknik AFLP menggunakanlima pasang primer. Analisis keragaman menggunakan program NTSys. Hasil amplifikasi amplified fragment lengthplymorphism (AFLP) terhadap sembilan sampel genom manggis menunjukkan adanya keragaman yang tinggi. Denganmetode unweighted pair-group with arithme average (UPGMA) pada koefisien jarak genetik 60% menghasilkansatu kelompok genom. Pada nilai koefisien kesamaan genetik 70%, aksesi manggis dapat dikategorikan menjadi tigakelompok yaitu kelompok 1 terdiri atas sampel 8-(Garcinia sp. manggis hutan-1), 13-(G. mundar), 17-(Garciniasp. manggis hutan-asam), kelompok 2 mencakup sampel 19-(G. mangostana Pasarminggu-2), 20-( G. mangostanaPasarminggu-1), 22-(G. mangostana Jayanti-2), dan kelompok 3 terdiri atas sampel 25-(G. malaccensis-Jambi),26-(G. malaccensis Bukit Kawang Medan PK 1), dan 27-(G. malaccensis Bukit Lang PK 2). Informasi variabilitasgenetik diharapkan dapat mendukung program pemuliaan manggis.ABSTRACT. Makful, S. Purnomo, and Sunyoto. 2010. Analysis of Genetic Diversity of Mangosteen Basedon the Amplified Fragment Length Polymorphism (AFLP) Technique. This experiment was conducted fromMarch 2004 to December 2005 at the Laboratory of Plant Breeding of Indonesian Fruit Research Institute andthe Laboratory of Biotechnology of Indonesian Estate Crop Research Institute. The objective of the study was todetermine genetic diversity of mangosteen. The method used was AFLP technique with five pairs of primers, whiledata obtained was analyzed by the NTSys program. From the AFLP amplification of nine DNA samples, it wasproven that the accessions of mangosteen had a high degree of diversity. Based on analysis of AFLP and unweightedpair-group with arithme average (UPGMA) it was shown that the samples of mangosteen could be grouped into onecluster at relative ecludian distance of 60% and into three clusters at relative ecludian distance of 70%, i.e. cluster1for sample 8-( Garcinia sp. manggis hutan-1), 13-(G. mundar), 17-( Garcinia sp. manggis hutan-asam) samples,cluster 2 for sample 19-(G. mangostana Pasarminggu-2), 20-(G. mangostana Pasarminggu-1), 22-(G. mangostanaJayanti-2) samples, and cluster 3 for sample 25-(G. malaccensis-Jambi), 26-(G. malaccensis Bukit Kawang MedanPK 1), and 27-(G. malaccensis Bukit Lang PK 2) samples. Information of genetic variability is expected to supportthe mangosteen breeding program.
Pertumbuhan dan Hasil 20 Progeni Kentang Asal Biji Botani di Dataran Tinggi Pangalengan, Jawa Barat Gunadi, Nirkadi
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n2.2006.p%p

Abstract

Percobaan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil umbi dari 20 progeni TPS baru dari CIP-Lima, Peru telah dilaksanakan di Desa Padaawas (1.400 m dpl.), Pangalengan, Jawa Barat dari bulan Agustus sampai Desember 2004. Umbi semaian 20 progeni TPS baru, ditanam pada petak-petak percobaan yang diatur dalam rancangan acak kelompok dengan ulangan 4 kali. Kentang kultivar Granola digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 progeni TPS, yaitu AL-624 x TPS-67, CFK-69-1 x TPS-67, MF-II x C95LB-13.2, dan MF-II x TPS-67 memberikan hasil umbi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil umbi dari progeni-progeni lainnya. Hasil umbi per tanaman dari keempat progeni TPS tersebut sebanding dengan hasil umbi per tanaman dari kultivar Granola. Dua progeni yaitu AL-624 x TPS-67 dan CFK-69-1 x TPS-67 juga memberikan hasil umbi per ha sebanding dengan hasil umbi per ha kultivar Granola. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan progeni TPS dalam menggunakan TPS sebagai alternatif bahan tanam dalam produksi kentang, selain umbi bibit tradisional.An onfarm experiment to determine the plant growth and tuber yields of 20 new TPS progenies from CIP-Lima, Peru was conducted in Padaawas, 1,400 m asl., Pangalengan, West Java from August to December 2004. Seedling tuber of 20 new TPS progenies were grown in the experimental plots, which were arranged in a randomized complete block design with 4 replications. The common cultivar of cv. Granola was used as control. The results indicated that 4 progenies of AL-624 x TPS-67, CFK-69-1 x TPS-67, MF-II x C95LB-13.2, and MF-II x TPS-67 had the higher tuber yields than those of other progenies. These 4 progenies had comparable tuber yields per plant to that of cv. Granola. Two progenies of AL-624 x TPS-67 and CFK-69-1 x TPS-67 had also comparable tuber yields per ha to that of cv. Granola. The results could be used as a recommendation in order to select TPS progenies as alternative planting material in potato production using TPS other than traditional seed tuber.
Selektivitas Beberapa Insektisida terhadap Hama Liriomyza huidobrensis Blanchard (Diptera : Agromyzidae) dan Parasitoid Hemiptarsenus varicornis Girault (Hymenoptera : Eulophidae) Setiawati, Wiwin; Somantri, Aang
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Liriomyza huidobrensis merupakan hama baru pada tanaman kentang. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerangtanaman kentang di Puncak, Jawa Barat pada tahun 1994 dan diduga telah resisten terhadap berbagai jenis insektisidadari golongan organofosfat, karbamat, dan piretroid sintetik. Upaya pengendalian hama tersebut diarahkan pada pro -gram pengendalian hama terpadu (PHT). Dalam pro gram tersebut penggunaan insektisida hanya dilakukan apabilapopulasi hama sudah mencapai ambang pengendalian dan jenis insektisida yang digunakan harus selektif. Tujuanpenelitian untuk mengetahui selektivitas 13 jenis insektisida yaitu insektisida yang efektif terhadap hama L.huidobrensis tetapi tidak membahayakan parasitoid Hemiptarsenus varicornis. Metode penelitian yang digunakanadalah metode pencelupan dan umpan beracun (masing-masing terdiri atas enam konsentrasi insektisida yang diujidan empat ulangan). Data mortalitas dikoreksi menggunakan rumus Abbott. Untuk mengetahui nilai LC50 digunakananalisis probit, sedangkan selektivitas insektisida ditentukan dengan membandingkan nilai LC50 insektisida terhadapL. huidobrensis dengan nilai LC50 H. varicornis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida bensultap 50 WP,siromasin 75 WP, dan abamektin 18 EC merupakan insektisida yang pal ing efektif (LC50 masing-masing 3,92; 7,20;dan 0,54 ppm) untuk mengendalikan L. huidobrensis dan mempunyai sifat selektif (SR<1) terhadap parasitoid H.varicornis. Insektisida klorfenapir 100 SC, dimehipo 400 WSC, dimetoat 400 EC, karbosulfan 200 EC, danamamektin 19 EC merupakan jenis insektisida yang mempunyai daya racun cukup tinggi terhadap parasitoid H.varicornis.Kata kunci : Selektivitas; Insektisida; Liriomyza huidobrensis; Hemiptarsenus varicornis; Parasitoid.AB STRACT. Setiawati, W and A. Somantri. 2002. Se lec tiv ity of sev eral in sec ti cides to Liriomyza huidobrensisBlanchard (Diptera : Agromyzidae) and Hemiptarsenus varicornis Girault (Hymenoptera : Eulophidae)parasitoid. The leafminer flies are newly re corded as a pest on po tato in In do ne sia. It was firstly re ported to at tack po -tato in Puncak, West Java in 1994 and its has be come re sis tance to sev eral in sec ti cides such as mem ber oforganophosphorous, carbamate, and syn thetic pyrethroid groups. The IPM is the best strat egy way to con trol this pest.With the de vel op ment of IPM con cept, there has been in creas ing in ter est in mea sur ing and eval u at ing the im pact of in -secticide on use natural enemies. Selectivity of 13 insecticides on L. huidobrensis and its nat u ral en emy, H. varicorniswas in ves ti gated. The ex per i ment aimed to know the se lec tiv ity of 13 in sec ti cides which toxic to L. huidobrensis lar -vae but less or no toxic to parasitoid H. varicornis. Dip ping method and free feed ing method with six con cen tra tionsand four rep li ca tions were used to test the tox ic ity on L. huidobrensis and H. varicornis. The mor tal ity data of L.huidobrensis and H. varicornis were as sessed af ter treat ment and af ter cor rected by us ing the Abbott for mula. Probitanal y sis was used to de ter mine the LC 50 value. The se lec tiv ity ra tio was cal cu lated by di vid ing the LC50 value of L.huidobrensis with the LC 50 value of H. varicornis. The re sult of this ex per i ment in di cated that the most ef fec tive in -secticides to control L. huidobrensis were bensultap 50 WP; cyromazine 75 WP and abamectin 18 EC (LC 50 valuewere 3.92, 7.20, and 0.54 ppm re spec tively) with smaller se lec tiv ity ra tio (SR<1) for H. varicornis. Chlorfenapir 100SC, dimehypo 400 WSC, dimethoate 400 SC, carbosulfan 200 EC, and ammamektin 19 EC were highly toxic in sec ti -cides to H. varicornis.
Pengaruh Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Jaringan Meristem Kentang Kultivar Granola A K Karjadi; A Buchory
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran mulai bulan Maret sampai September 2004 Perlakuannya adalah penumbuhan jaringan meristem kentang varietas Granola pada media MS ditambah suplemen sukrose 30 g/l, air kelapa 100 ml/l, CaP 2 mg/l, myoinositol 100 mg/l, agar 6,5 g/l, pH 5,7, serta zat pengatur tumbuh NAA (0,01, 0,05, dan 0,10 mg/l), BAP/2-ip (0,01 dan 0,05 mg/l). Rancangan menggunakan acak lengkap dengan 19 perlakuan dan setiap perlakuan menggunakan 20 tabung reaksi kultur tanaman yang berisi 3 ml media sebagai ulangan. Hasil yang didapat, 18% jaringan meristem dapat tumbuh menjadi plantlet pada umur 15 minggu setelah tanam. Pertumbuhan jaringan meristem dipengaruhi oleh ketersediaan zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin yang ditambahkan ke dalam media. Penambahan NAA atau sitokinin (BAP, 2-ip) secara tersendiri pada berbagai konsentrasi yang tidak dikombinasikan, memberikan pengaruh yang kurang menguntungkan pada pertumbuhan jaringan meristem. Jaringan meristem kentang Granola tumbuh baik pada media yang berisi kombinasi NAA dan BAP.ABSTRACT. Karjadi, A.K and Buchory A. 2008. The Effect of Auxin and Cytokinin on the Growth of Potato Meristem cv. Granola. The experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute from March until September 2004. The treatments were MS medium with supplement of sucrose 30 g/l, coconut water 100 ml/l, CaP 2 mg/l, myoinositol 100 mg/l, agar 6.5 g/l, pH 5.7, and growth hormone of NAA (0.01, 0.05, 0.10 mg/l) and BAP/2-ip ( 0.01 and 0.05 mg/l). The experiment was arranged in a randomized complete design with 19 medium composition as treatments, and 20 replications of test tube culture with 3 ml medium each treatment. The results showed that 18% of meristem could develop plantlet within 15 weeks after planting. Meristem growth depended on the availability of auxin and cytokinin in the medium. The medium with NAA supplement or cytokinin (BAP, 2-ip) singly, gave negative effect on meristem growth. Granola potato meristem could develop well on combination media of NAA and BAP.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue