cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Kompos yang Diperkaya Bakteri Penambat Nitrogen dan Pelarut Fosfat terhadap Pertumbuhan Tanaman Kapri dan Aktivitas Enzim Fosfatase dalam Tanah Widawati, S; Suliasih, Suliasih; Muharam, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v20n3.2010.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan pupuk organik dalam budidaya sayuran memiliki beberapa keuntungan, terutama untukmempertahankan kondisi tanah dan menekan penggunaan pupuk anorganik. Penelitian dilaksanakan di DesaCidawu (1.250 m dpl.), Cibodas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, mulai bulan Januari sampai Desember2007. Sampel tanah dikoleksi dari daerah berbeda di Pontianak, Kalimantan Barat. Penelitian bertujuan mengetahuipengaruh kompos yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat (phosphate solubilizing bacteria=PSB) terhadappertumbuhan tanaman kapri dan aktivitas enzim fosfatase di dalam tanah. Penelitian menggunakan rancangan acakkelompok dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Varietas kapri yang digunakan ialah varietas lokal. Perlakuanterdiri atas (A) tanpa pupuk, (B) pupuk anorganik (TSP+KCl+Urea), (C) kotoran ayam + sekam, (D) kompos, dan(E) kompos plus, yaitu kompos yang diberi campuran bakteri, yaitu bakteri penambat nitrogen simbiotik, bakteripenambat nitrogen nonsimbiotik, dan bakteri pelarut fosfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran bakteriyang diisolasi dari tanah gambut di Kalimantan Barat yang terkandung dalam kompos plus dapat beradaptasi denganbaik pada lahan di lokasi penelitian. Populasi total SNFB, NSNFB, dan PSB meningkat masing-masing menjadi 9,15x 108, 9,34 x 108, dan 9,35 x 108 sel/g tanah. Keberadaan campuran bakteri tersebut mampu meningkatkan aktivitasenzim fosfatase asam dan basa di dalam tanah. Peningkatan tertinggi aktivitas enzim fosfomonoesterase asam danbasa dicapai pada perlakuan kompos plus. Perlakuan tersebut juga meningkatkan berat buah kapri dibandingkandengan kontrol (75,32 %), perlakuan pupuk kimia (45,48%), kotoran ayam + sekam ( 31,19 %), dan kompos (15,60%). Pemanfaatan campuran bakteri pelarut fosfat tersebut dalam kompos diharapkan dapat digunakan secara meluasdalam pembudidayaan kapri dalam sistem organic farming (OF), sehingga berperan dalam peningkatan produksi dansekaligus menekan penggunaan pupuk anorganik.ABSTRACT. Widawati, S., Suliasih, and A. Muharam. 2010. The Effect of Compost Enriched with SymbioticNitrogen Fixing and Phosphate Solubilizing Bacteria on the Growth of Peas and the Activity of PhosphataseEnzymes in the Soil. The use of organic materials on cultivation of vegetable crops has some advantages, especiallyfor maintaining suitable soil conditions and decreasing the utilization of inorganic fertilizers. The research wascarried out at Cidawu Village, Cibodas (1,250 m asl.), Cianjur, West Java, from January to December 2007. Soilsamples were collected from some different areas in Pontianak, West Kalimantan. The research was aimed todetermine the effect of compost enriched with mixed phosphate solubilizing bacteria (PSB) on the growth of peasand on the activity of phosphatase enzymes in the soil. A randomized block design with five treatments and threereplications was used in the experiment. A local variety of peas was utilized in the experiment. The treatments werethe addition of fertilizers consisted of (A) without any fertilizer, (B) with inorganic fertilizers i.e. TSP+KCl+Urea,(C) with chicken dung + rice husk, (D) with compost, and (E) with compost plus (compost enriched with symbioticnitrogen fixing bacteria/SNFB, nonsymbiotic nitrogen fixing bacteria/NSNFB, and PSB). The results showed thatthe mixed bacteria isolated from peat soil in West Kalimantan in the compost plus (treatment E) properly adaptedin soil conditions at the site of the experiment. The total populations of SNFB, NSNFB, and PSB were increased upto 9.15 x 108, 9.34 x 108, and 9.35 x 108 cell/g soil, respectively. The occurrence of the mixed bacteria increased theactivity of acid and alkaline phosphatases in the soil. The highest activities of acid and alkaline phosphomonoesteraseenzymes in the soil achieved by the treatment of compost plus. The treatment increased the fresh weight of peascompared to control (75.32 %), to the chemical fertilizers (45.48%), to chicken dung+rice husk ( 31.19 %), and tocompost (15.60 %). The widely application of the mixed PSB in compost is hopefully established in cultivation ofpeas in the organic farming (OF) system, then it will confidently support on the increase of peas production, and thedecrease of inorganic fertilizers as well.
Pengujian Kisaran Inang Nematoda Bentuk Ginjal (Rotylenchulus reniformis Linford dan Oliveira) Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v19n4.2009.p%p

Abstract

Rotylenchulus reniformis merupakan salah satu nematoda semiendoparasit penting yang menyerangberbagai jenis tanaman hortikultura di Indonesia. Nematoda ini dapat ditemukan di dataran rendah maupun datarantinggi di Indonesia. Salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan R. reniformis ialah melalui penerapan rotasitanaman dan sanitasi lingkungan, termasuk memusnahkan tanaman inang alternatif. Untuk itu, diperlukan pengujianstatus inang berbagai jenis tanaman dan spesies gulma terhadap R. reniformis. Penelitian dilaksanakan pada bulan April2002 sampai Januari 2003 di Rumah Kaca dan Laboratorium Nematologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung,Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur (1.100 m dpl.). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5ulangan. Sebanyak 84 jenis tanaman sayuran, tanaman hias, dan berbagai spesies gulma digunakan sebagai perlakuan.Setiap tanaman diinokulasi dengan 1.000 ekor nematoda yang merupakan campuran larva, nematoda jantan, dan betinapradewasa. Status inang ditentukan dengan kriteria faktor reproduksi R. reniformis lebih dari 1 = tanaman inang R.reniformis dan faktor reproduksi kurang dari 1 = bukan tanaman inang. Faktor reproduksi merupakan perbandinganantara populasi akhir dan populasi awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 41 jenis tanaman sayuran yangdiuji, 24 di antaranya merupakan tanaman inang R. reniformis. Cabai, wortel, dan bawang-bawangan bukan inangR. reniformis. Tujuh spesies gulma berdaun lebar dapat digolongkan sebagai inang R. reniformis. Semua gulmamonokotil yang diuji bukan inang R. reniformis. Populasi R. reniformis tidak dapat berkembang pada hibrida Tagetespatula dan T. erecta, Crotalaria usaramoensis, dan Ricinus communisABSTRACT. Marwoto, B. 2009. Study of Host Range of Reniform Nematode (Rotylenchulus reniformis Linfordand Oliveira ). Rotylenchulus reniformis is one of the most important semiendoparasitic nematode attacking differentspecies of horticultural crops and weeds in Indonesia. The nematode can be found in the lowland and highland areasin Indonesia. One of the most reliable control measures of the nematode in the field is by applying crop rotation anderadicating alternative hosts. Before applying those control measures, a research on the host status of different cropsand weed species to the nematode is necessarily to be done. This study was conducted on April 2002 to January2003 at the Greenhouse and Nematology Laboratory of The Research Institute for Ornamental Crops, Cianjur, WestJava (1,100 asl.). A completely randomized design with 5 replications was used in this study. A total of 84 speciesand varieties of vegetables, ornamental crops, and weeds were used as treatments. Every variety of the crops and theweeds were inoculated with 1,000 nematode population, comprised of larvae, male, and pre-adult female. Host statuswas determined by the following criteria reproductive factor: >1=host plant and reproductive factor; and <1=non-hostplant; where reproductive factor was ratio between initial population and final population. The results showed that ofthe 41 species and varieties of vegetable crops tested, 24 species were determined as non-host of R. reniformis. Amongthem were chili pepper, carrot, shallots, and garlic. Seven weed species were categorized as host of R. reniformis.Monocot weeds were mostly proven as non-host of R. reniformis. Population of R. reniformis could not grow onTagetes patula and T. erecta hibryds, Crotalaria usaramoensis, and Ricinus communis
Pengaruh Lama Penyimpanan Entris terhadap Keberhasilan Sambung Pucuk Beberapa Varietas Avokad Anwarudin syah, Muhammad Jawal
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n4.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Kendala yang sering dihadapi dalam perbanyakan avokad secara sambung pucuk adalah jauhnya jarak antara pohon induk dengan lokasi pembibitan, sehingga dibutuhkan waktu agak lama mulai dari pengambilan entris sampai penyambungan. Selain itu jumlah bibit yang akan disambung sering dalam jumlah yang banyak, sehingga tidak bisa disambung dalam waktu sehari dan entris yang belum tersambung harus disimpan untuk keesokan harinya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penyimpanan entris terhadap keberhasilan sambung pucuk beberapa varietas avokad. Penelitian dilakukan di rumah pembibitan Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok selama 6 bulan mulai Juni sampai Desember 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 ulangan. Faktor perlakuan pertama adalah lama penyimpanan entris yang terdiri dari 3 taraf, yaitu entris tidak disimpan, entris disimpan selama 2 dan 4 hari, sedangkan faktor kedua adalah varietas avokad yang terdiri dari varietas Mega Murapi, Mega Gagauan, dan Aripan. Setiap unit perlakuan terdiri dari 5 tanaman yang disambung. Parameter yang diamati meliputi persentase keberhasilan penyambungan, persentase pecah tunas, panjang tunas, dan jumlah daun yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya penyimpanan entris mempengaruhi keberhasilan sambung pucuk dan panjang tunas, yaitu semakin lama entris disimpan semakin rendah tingkat keberhasilan sambung pucuk dan semakin pendek tunas yang terbentuk. Interaksi antara lama penyimpanan entris dengan varietas berpengaruh terhadap persentase pecah tunas dan pembentukan daun bibit sambung avokad.ABSTRACT. Jawal, M. Anwarudin Syah. 2008. The Effect of Scion Storage on Successfulness of Top Grafting of Some Avocado Varieties. Problems encountered in avocado top grafting multiplication was the long distance between mother plant and the nursery location, so that took some times for scion to be grafted. Beside that, in case of big quantity of seedling should be prepared, the work would not be finished within a day. Experiment was conducted in nursery house of Indonesian Tropical Fruits Research Institute Solok from June to December 2005, and arranged in a 3 x 3 factorial with 3 replications. The first factor was scion storage duration which consisted of 0, 2, and 4 days and the second factor was avocado varieties which consisted of 3 varieties: Mega Murapi, Mega Gagauan, and Aripan. Each treatment consisted of 5 grafted plants. Parameter observed were the percentage of top grafted successfulness, percentage of bud break, leaf number, and shoot length. The results showed that scion storage duration affected top grafting successfulness and shoot length of grafted avocado. There was an interaction between scion storage duration and avocado varieties on the percentage of bud break and leaf number of grafted seedling avocado.
Kemangkusan Nematoda Entomopatogen Steinernema carpocapsae terhadap Hama Penggerek Umbi/Daun (Phthorimaea operculella Zell.) Kentang Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n1.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari patogenisitas nematoda Steinernema carpocapsae terhadap larva Phthorimaea operculella di rumah kaca. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Kabupaten Bandung mulai Agustus 2003-Agustus 2004. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Pengujian dilakukan menggunakan metode kertas saring dan penyemprotan. Perlakuan yang diuji yaitu 4 macam tingkat kepadatan populasi nematoda S. carpocapsae (200, 400, 800, dan 1.600 JI/ml), insektisida pembanding, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kertas saring dengan kepadatan S. carpocapsae 800 JI/ml pada 144 jam setelah aplikasi, efektif dalam mengendalikan larva P. operculella pada tanaman kentang di rumah kaca dengan mortalitas 100%, sedangkan pada metode penyemprotan dengan kepadatan S. carpocapsae 800 dan 1.600 JI/ml pada 144 jam setelah aplikasi dengan mortalitas 97,5 dan 100% berturut-turut.ABSTRACT. 2008 Effctivit Uhan, T.S. 2008. The Effectivity of Steinernema carpocapsae Against Pototatoto Tuber Mototh (Phthorimaea operculella Zell.).The objective of this research was to find out the pathogenicity of Steinernema carpocapsae nematodes Lembang strains on mortality of Phthorimaea operculella on potato plant in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Pest and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung, at 1,250 m asl, from August 2003 to August 2004. The experiment was arranged in a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. Testing was done by using filter paper method and spraying method. The treatments were 4 level density of S. carpocapsae nematodes (200, 400, 800, and 1,600 JI/ml), one insecticide as comparison, and control. The results showed that filter paper method with density of S. carpocapsae 800 JI/ml at 144 hours after application was effective to control larvae of P. operculella on potato plant in a greenhouse with mortality of 100%, while spraying method with density of S. carpocapsae 800 and 1,600 JI/ml at 144 hours after application caused mortality 97.5% and 100% of P. operculella, respectively
Respons Pembentukan Tunas Aksiler dan Adventif pada Kultur Anthurium secara In Vitro Winarto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n1.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Perbanyakan bahan tanaman merupakan salah satu masalah penting dalam budidaya anthurium untuk tujuan komersial. Secara konvensional, tanaman ini diperbanyak melalui biji dan anakan, tetapi teknik ini memerlukan waktu dan proses yang lama hingga 3 tahun. Penelitian bertujuan mengetahui respons pembentukan tunas aksiler dan adventif pada kultur anthurium secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Juli 2004 hingga Februari 2005. Variasi eksplan, seperti ruas batang kesatu dan kedua digunakan untuk induksi pembentukan tunas aksiler, sementara akar, hipokotil, dan daun muda digunakan untuk induksi tunas adventif. Eksplan-eksplan tersebut dipanen dari beberapa kultivar dan aksesi anthurium. Medium M2, M4, dan modifikasi medium M4 menggunakan 150 ml/l air kelapa, 2,5 mg/l 2,4-D, 2 g/l asam pantotenat, dan 50 ppm cefotaxim diuji dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kultur jaringan anthurium dipengaruhi oleh kultivar, jenis, dan kondisi eksplan, dan media tumbuhnya. Tiap eksplan dan kultivar/aksesi memiliki kompatibilitas yang berbeda dengan medium tumbuhnya. Induksi tunas adventif merupakan teknik perbanyakan yang lebih potensial dan sesuai dikembangkan pada anthurium dibandingkan induksi tunas aksiler. M4 merupakan medium dasar yang potensial dan sesuai untuk dikembangkan pada perbanyakan anthurium secara in vitro. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam mengembangkan dan mengaplikasikan teknik kultur jaringan pada perbanyakan anthurium.ABSTRACT. Winarto, B. 2007. Response of Axillary and Adventitious Shoot Formation of In Vitro Anthurium Culture. Planting material propagation is one of important problems in anthurium cultivation for commercial purposes. Conventionally, the plant is generally propagated by seed and shoot, however those technique were time consuming. The objective of this experiment was to know response of axillary and adventitious shoot formation of in vitro anthurium culture. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from July 2004 to February 2005. Variation of explant such as first and second node was used for induction of axillary shoot formation, while young root, hypocotyl, and leaf were used for stimulating adventitious shoot regeneration. The explants harvested from several cultivars and accessions of anthurium. Media of M2, M4, and modified-M4 using150 ml/l coconut water, 2.5 mg/l 2,4-D, 2 g/l pantothenic acid, and 50 ppm cefotaxim were used in this experiment. Results of the study indicated that the success of anthurium tissue culture was affected by cultivars, explant type and condition, and growth medium. Each explant and cultivar had its compatibility to different growth media. Adventitious shoot formation was potential and suitable technique to be developed than axillary shoot proliferation. M4 was the appropriate and suitable basic medium that could be developed for in vitro propagation of anthurium. Results of this research could be expected as one of important consideration points in developing and applying tissue culture technique on anthurium propagation.
Pengkajian Subsitusi Aquades dengan Sumber Air Lainnya pada Perbanyakan Mikro Pisang Barangan dan Stroberi Simatupang, Sortha
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n4.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Pengkajian ini bertujuan mencari alternatif sumber air lain pengganti air destilasi dalam pembuatan media perbanyakan mikro pisang Barangan dan stroberi. Waktu pelaksanaan pengkajian untuk pisang Barangan dilakukan Maret sampai Juni 2004 dan pada stroberi dilakukan pada Juli sampai September 2004. Sumber air untuk media yang dikaji ialah aquades, Air PDAM, air sumur jernih, air sumur kuning, air hulu sungai Sembahe, air hilir sungai di Medan, air hujan, air minum isi ulang, dan air kolam ikan. Masing-masing penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Pengkajian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Medan. Media dasar yang digunakan ialah media MS. Eksperimen menggunakan rancangan RBD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsitusi aquades dengan air hujan, air sumur jernih, dan air minum isi ulang dapat digunakan untuk perbanyakan mikro plantlet pisang Barangan, dan stroberi secara in vitro.ABSTRACT. Simatupang, S. 2006. Study on substitution of distilled water by other water sources on micro multiplication of Barangan banana and strawberry. The objective of this assessment was to determine the alternative of water resources in order to substitute distilled water in media preparation for micro multiplication of Barangan banana and strawberry. The assessment conducted for Barangan banana was on March thru June 2004 and for strawberry was on July thru September 2004 in tissue culture laboratory of North Sumatera Agriculture Service. The sources of water for media preparation to be assessed were distilled water, water from PDAM, clean water from well, brown to yellow color of water from well, upstream water in Sembahe, downstream water in Medan, rain water, mineral water, and fish pond water. Basal media used was MS media. The experimental design used was a complete randomized design. The result showed that rain water, clean water from well, and mineral water can substitute distilled water for micropropagation of plantlet Barangan banana and strawberry.
Pertumbuhan, Hasil, dan Kelayakan Finansial Penggunaan Mulsa dan Pupuk Buatan pada Usahatani Cabai Merah di Luar Musim Soetiarso, Thomas Agoes; Ameriana, Mieke; Prabaningrum, Laksminiwati; Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan, hasil, dan kelayakan finansial penggunaan mulsa dan pupuk buatan pada usahatani cabai merah di luar musim. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Bandung, Jawa Barat (±1.250 m dpl) pada musim hujan (Oktober 1999 – Juli 2000). Rancangan percobaan menggunakan petak terpisah. Mulsa sebagai petak utama dan sebagai anak petak adalah dosis pemupukan berimbang, serta ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tidak terjadi interaksi yang nyata antara mulsa plastik hitam perak dan dosis pupuk (NPK) terhadap pertumbuhan dan hasil cabai. Secara independen, penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat meningkatkan jumlah buah sehat per tanaman, bobot buah sehat per tanaman, dan bobot buah sehat per petak secara nyata. Penggunaan mulsa plastik hitam perak juga dapat menekan serangan Thrips, namun tidak berpengaruh terhadap kerusakan akibat serangan ulat grayak, Spodoptera litura. Penggunaan ketiga dosis pupuk (NPK) yang diuji tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah buah sehat per tanaman, bobot buah sehat per tanaman, bobot buah sehat per petak, dan tidak berpengaruh terhadap kerusakan tanaman cabai oleh Thrips dan S. litura. Secara teknis penggunaan mulsa plastik hitam perak dan dosis pupuk (150 kg N/ha + 150 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha) memberikan hasil produksi cabai yang tinggi (147,36 kg per 220 m2) dan efisien dari segi penggunaan pupuk. Secara ekonomis hasil analisis anggaran parsial juga menunjukkan bahwa perlakuan tersebut merupakan perlakuan yang paling menguntungkan, ditunjukkan oleh tingkat pengembalian marjinalnya paling tinggi (557,51%). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai teknologi alternatif untuk usahatani cabai merah di luar musim.The objectives of this experiment were to assess the growth, yield, and financial feasibility of the use of mulch and inorganic fertilizer on hot pepper off-season cultivation. The experiment was conducted in Margahayu Experimental Garden, Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung, West Jawa (± 1,250 m asl) by using split plot design. Mulch was designed as main plot, while balanced-fertilization was arranged as subplot. Each combination was repeated 3 times. Results indicated that there was no significant interaction between the use of black-silver plastic mulch and (NPK) fertilizer dosages. Independently, the use of black-silver plastic mulch could significantly increase the number and weight of healthy fruits per plant, and the weight of healthy fruits per plot. The use of black-silver plastic mulch could also suppress the infestation by Thrips, but unable to prevent yield loss caused by Spodoptera litura. The three dosage levels of (NPK) fertilizer did not show any significant effects to the number and weight of healthy fruits per plant, and the weight of healthy fruits per plot. Furthermore, these treatments also did not show any relationships with yield loss caused by Thrips and S. litura. Technically, the use of plastic mulch and fertilizer (150 kg N/ha + 150 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha) provided a relatively high yield (147.36 kg per 220 m2) and indicated high efficiency of fertilizer use. Meanwhile, partial budget analysis also showed that such treatment provided the highest profit as indicated by highest of marginal return (557.51%). It suggests that this technological component may be used as an alternative agronomic practices in hot pepper off-season cultivation.
Peningkatan Infektivitas Jamur Entomopatogen, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. pada Berbagai Bahan Carrier untuk Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar di Lapangan Hasyim, Ahsol
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilaksanakan di kebun petani pisang di daerah Baso, Kabupaten Agam dari bulan Oktober 2002 sampai Februari 2003. Penelitian bertujuan mengetahui peningkatan infektivitas jamur entomopatogen, Beauveria bassiana menggunakan bahan carrier dan model bahan perangkap yang baik untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus Germar. Untuk mengetahui peningkatan infektivitas jamur B. bassiana, penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 bahan carrier sebagai perlakuan, yaitu tepung jagung, tepung beras, tepung maizena, talk, minyak sayur, air, dan kontrol (konidia kering). Jamur B. bassiana yang telah dicampur dengan bahan carrier sebanyak 100 g atau 100 ml disebarkan pada potongan bonggol bagian atas kemudian ditutup dengan batang semu pisang. � � Sedangkan untuk mengetahui model alat perangkap yang baik digunakan 3 macam bahan perangkap yaitu (1) bonggol pisang + batang semu, (2) bonggol pisang, dan (3) batang semu dengan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras merupakan carrier yang paling baik dalam pemanfaatan B. bassiana dan menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling tinggi dibandingkan carrier minyak sayur dan air yang menyebabkan mortalitas paling rendah atau sama dengan B. bassiana tanpa bahan carrier. Mortalitas hama penggerek bonggol C. sordidus yang paling tinggi, yakni 95% diperoleh jika menggunakan B.bassiana dengan tepung beras sebagai carrier pada perangkap bonggol dan ditutupi batang semu pisang. Sedangkan B. bassiana dengan menggunakan minyak atau air dan tanpa substrat carrier hanya dapat menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling rendah, yaitu berturut-turut 72, 75, dan 70%. Mortalitas hama penggerek bonggol pisang yang disebabkan oleh jamur B. bassiana yang dicampur dengan carrier tepung beras, paling tinggi diperoleh menggunakan alat perangkap bonggol pisang dengan batang semu. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa berbagai carrier berbentuk tepung dapat meningkatkan infektivitas jamur entomopatogen, B. bassiana dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus di lapangan.ABSTRACT. Hasyim, A. 2007. Enhancing Infectious Capacity of Entomopathogen Fungi, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuill. Using Various Carrier Materials in Controlling Banana Corm Borer, Cosmopolites sordidus Germar under Field Condition. This experiment was conducted at Baso banana farmer field, Agam District from October 2002 to February 2003. The objectives of these studies were to know the infectious capacity of entomopathogen fungi, Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin using various carrier materials and to know the best trapping model in controlling banana corm borer Cosmopolites sordidus Germar. A randomized complete design with 7 treatments and 4 replications were used in this study. The treatments consisted of 6 carriers, i.e. corn powder, talc, rice powder, maizena powder, vegetable oil, water, and control (dry conidia). Amount of 100 g or 100 ml mixture of B. bassiana were distributed by hand or sprayed with water on cut surface of the banana corm then covered by sliced banana pseudostem. Futhermore, 3 types of trapping model i.e (1) banana corm + pseudostem, (2) banana corm, and (3) pseudostem were used with 6 replications to find out the best trapping design. The results showed that rice powder was the best carrier for delivery of B. bassiana and caused highest mortality of banana corm borer. On the other hand, vegetable oil, water, and without carrier material caused the lowest mortality of banana corm borer. The highest mortality of adult banana weevil borer, C. sordidus reached 95% when weevil exposure using rice powder carrier on corm and pseudostem. While the B. bassiana exposure using liquid carrier such as vegetable oil, water carrier, and without carrier material on corm and pseudostem caused the lowest mortality of C. sordidus of 72, 75, and 70% respectively. The highest mortality of banana corm borer caused by B. bassiana was found in the treatment with rice powder as a carrier material and pseudostem trapping design. The results demonstrated that powder as a carrier could enhance the infectious capacity of entomopathogenic fungus B. bassiana against banana weevil borer, C. sordidus under field condition
Efikasi Pestisida Biorasional untuk Mengendalikan Thrips palmi Karny pada Tanaman Kentang Suryaningsih, E
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Dalam upaya untuk mendapatkan pestisida alternatif, percobaan lapangan telah dikerjakan di Kebun Percobaan Margahayu (elevasi 1.250 m dpl), Lembang, Jawa Barat dari bulan Oktober 2001 sampai Januari 2002. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok, 12 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari pestisida biorasional Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, Agonal 866, dan pestisida sintetis Deltametrin 2.5 EC. Hasil percobaan menunjukkan bahwa semua pestisida biorasional sama efektifnya dibandingkan dengan Deltametrin 2.5 EC konsentrasi 0,25%. Hasil penelitian ini paralel dengan hasil-hasil penelitian tentang pestisida biorasional lainnya, dengan sangat kuat memberi indikasi bahwa pestisida biorasional yang berasal dari tumbuhan akan mampu menggantikan posisi pestisida sintetik dalam mengendalikan T. palmi untuk mengurangi penggunaan pestisida sintetik pada budidaya kentang.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2008 . The Efficacy of Biorational Pesticides to Control ontrol Thrips palmi Karny on Potato Plant . In order to investigate an alternative pesticide, namely biorational pesticides, field experiment was conducted at Margahayu Research Station (elevation 1,250 m asl), Lembang, West Java, from October 2001 until January 2002. The treatments was laid in a randomized block design, with 3 replications. The treatments were biorational pesticides Phrogonal 866, 666, 466, Phronical 826, 626, 426, 846, 646, 446, Agonal 866, and syntetic pesticides Deltamethrin 2.5 EC. The results of the experiment showed that all of the biorationals tested were found to be as effective as Deltamethrin 2.5 EC (0.25%) in controlling T. palmi on potato. However, biorationals consisting A. indica, T. candida, and N. tabacum in higher portion gave higher efficacy compared with synthetic insecticide Deltamethrin 2.5 EC. The results of this experiment were in line with the results of other biorational pesticide experiments, which was strongly gave indication that biorational pesticides derived from plants would be able to replace synthetic pesticides in controlling T. palmi, and to reduce the quantity of synthetic pesticide application on potato cultivation.
Uji Stabilitas Hasil Umbi 7 Genotip Kentang di Dataran Tinggi Pulau Jawa Kusmana, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n4.2005.p%p

Abstract

Untuk mengetahui stabilitas 7 genotip kentang pada berbagai kondisi lingkungan di Pulau Jawa, telah dilakukan uji multilokasi. Lokasi pengujan adalah 2 kali di Pangalengan dan Garut, masing-masing sekali di Lembang, Cipanas, Ciwidey, Magelang, Banjarnegara, dan Pasuruan. Rancangan percobaan yang digunakan acak kelompok dengan 4 ulangan setiap petak percobaan ditanami 30 tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa satu-satunya genotip yang stabil adalah I-1085 dengan nilai koefisien regresi b=1 dan simpangan regresi δij=0. Genotip Atlantik menghendaki lingkungan yang menguntungkan ditandai dengan nilai b>1, sebaliknya genotip Panda dapat beradaptasi pada lingkungan yang kurang menguntungkan dengan nilai b<1. Potensi hasil tinggi ditampilkan oleh genotip 380584.3 (33,5 t/ha) dan genotip FBA-4 (28,1 t/ha) dengan b=1 namun δij=0.Yield stability evaluation of 7 potato genotypes in highland of Jawa Island. The aim of the research was to observe tuber yield stability of 7 potato genotypes at different environment of Jawa Island. Multilocation trials were located at Pangalengan and Garut for 2 seasons, Lembang, Cipanas, Ciwidey, Magelang, Banjarnegara, and Pasuruan (1 season) respectively. Experimental was arranged in a randomized complete block design with 4 replications, consisted of 30 plants per plot. The results of the experiment indicated that genotypes of I-1085 were stable to all location, showed by b=1and δij =0. Whereas, Atlantic was adapted to favorable environments showed by b>1. Panda was adapted to unfavorable environment showed by b<1. The highest tuber yield were obtained from genotypes 380584.3 (33.5 t/ha) and FBA-4 (28.1 t/ha), with b=1 but δij=0.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue