cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Penggunaan Pupuk Multihara Lengkap PML-A gro terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai Merah Sutapradja, Holil
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang, dari bulan Mei sampai November 2005, dengan tujuan mendapatkan dosis dan formula pupuk tablet dan pupuk tepung PML-Agro yang tepat untuk meningkatkan hasil cabai merah dan efisiensi aplikasi unsur hara tanaman. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari bentuk pupuk PML-Agro sebagai petak utama, sedangkan dosis dan formula pupuk PML-Agro dan pupuk tunggal sebagai anak petak. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pupuk PML-Agro 2 (600 kg/ha) dan kombinasi pupuk PML-Agro 1 (150 kg/ha)+PML-Agro 3 (150 kg/ha) menghasilkan buah cabai merah tertinggi, meskipun tidak berbeda nyata dengan kombinasi pupuk tunggal (Urea, ZA, TSP, KCl, dan dolomit). Peningkatan hasil dari kedua pupuk tersebut masing-masing sebesar 16,38 dan 11,41%. Penggunaan pupuk tablet dan tepung tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah. Pemberian pupuk PML-Agro 1 (150 kg/ha)+PML-Agro 3 (150 kg/ha) baik dalam bentuk tablet maupun tepung dapat dianjurkan, karena lebih efisien dari penggunaan pupuk PML-Agro 2 (600 kg/ha) maupun pupuk tunggal (Urea, ZA, TSP, KCl, dan dolomit) dengan efisiensi penggunaan hara makro primer 25% lebih rendah daripada pupuk tunggal. Teknologi pemupukan yang dihasilkan ini lebih menguntungkan karena penggunaan pupuk yang efisien dan daya hasil meningkat.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. Application of PML-Agro Complete Multinutrient Fertilizer on Growth and Yield of Hot Pepper.This experiment was conducted at Wera, Subang Experimental Garden, started from May to November 2005, to find out the proper dosage and formulation of tablet and powder fertilizers to increase yield of hot pepper and nutrient efficiency. The experiment was arranged in a split plot design with 3 replications. The treatment consisted of PML-Agro fertilizer as main plot, and dosage formulation of PML-Agro fertilizer and combination of single fertilizers as subplot. The results showed that PML-Agro 2 fertilizer (600 kg/ha) and combination of PML-Agro 1 fertilizer (150 kg/ha)+PML-Agro 3 fertilizer (150 kg/ha) produced highest yield of hot pepper, although both treatments were not significanly different from the combination of single fertilizers (Urea, ZA, TSP, KCl, and dolomit). Yield increased due to the application of both fertilizers were 16.38% and 11.41% respectively. Application of tablet and powder fertilizers did not significantly affect the growth and yield of hot pepper. Combination of PML-Agro 1 fertilizers (150 kg/ha)+PML-Agro 3 fertilizer (150 kg/ha) in tablet and powder forms seemed to be more applicable for farmers, since they were more efficient than those of PML-Agro 2 (600 kg/ha) fertilizer and combination of single fertilizers (Urea, ZA, TSP, KCl, and dolomit) with efficiency of macro nutrient application about 25% lower than that of single fertilizer application. The use of PML-Agro fertilizer was more profitable due to its efficiency and yield improvement.
Adaptasi Agronomis dan Kelayakan Finansial Usahatani Krisan di Daerah Yogyakarta Masyhudi, M F; Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Krisan merupakan salah satu tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat populer dikalangan masyarakat Yogyakarta. Akan tetapi kebutuhan bunga potong ini, di Yogyakarta, justru didatangkan dariluar daerah, seperti Bandungan (Jawa Tengah) dan Batu, Malang (Jawa Timur). Pengkajian yang dilakukan BPTPYogyakarta sejak Juli 2005 sampai Februari 2007 di Dusun Wonokerso, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem,Kabupaten Sleman, ditujukan untuk membuktikan bahwa tanaman krisan dapat beradaptasi dan dibudidayakan denganbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai varietas bunga krisan dapat tumbuh subur dan terbukti budidaya tanamanhias ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Analisis ekonomi usahatani budidaya bunga krisan menunjukkanB/C rasio = 1,05 dan R/C rasio = 2,05 pada tahun 2005. Dengan meningkatnya pengalaman petani maka B/C rasio danR/C rasio berturut-turut menjadi 1,47 dan 2,47 pada tahun 2006, dan kemudian lebih meningkat lagi pada awal tahun2007 dengan B/C rasio= 2,12 dan R/C rasio= 3,12. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa budidaya tanamanbunga potong krisan sangat menguntungkan dan layak untuk dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta.ABSTRACT. Masyhudi, M.F. and Suhardi. 2009. Agronomical Adaptation and Financial Feasibility ofChrysanthemum in Yogyakarta Region. Chrysanthemum is one of the ornamental plants, potential to be developedin the area of Yogyakarta. It is very popular and has high economical value. However, the supply of this commodityin Yogyakarta was still fulfilled by other provinces such as Central Java (Bandungan) and East Java (Batu, Malang).The Assessment Institute for Agricultural Technology Yogyakarta (AIAT Yogyakarta) conducted some experiments onchrysanthemum from July 2005 to February 2007 in Hargobinangun Village, Pakem Subdistrict, Sleman District. Theobjectives of the study were to examine the agronomically adaptation and financial feasibility of chrysanthemum toprove that chrysanthemum can be cultivated and profitable in Yogyakarta. The results indicated that chrysanthemumadapted very well in Hargobinangun, Yogyakarta region. Several varieties of chrysanthemum growth well and gavebenefits to the local farmers. Financial analysis of chrysanthemum cultivation indicated that B/C ratio= 1.05 and R/Cratio = 2.05 can be reached in the first year (2005), with the increased experiences of the farmers in chrysanthemumfarming system, B/C ratio and R/C ratio were also increased to 1.47 and 2.47 in the year of 2006, and B/C ratio= 2.12and R/C ratio= 3.12 in 2007. It can be concluded that chrysanthemum was agronomically well adapted and financiallyviable, hence it was quite potential and prospective to be developed in Yogyakarta region.
Biopestisida Organik Berbahan Aktif Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium pada Anyelir Hanudin, -; Nuryani, Waqiah; Yusuf, Evi Silvia; Marwoto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anyelir (Dianthus caryophillus  L.) merupakan salah satu jenis tanaman hias yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Penyakit utama yang menyerang tanaman ini ialah layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f. sp. dianthi dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi tanaman sekitar 20-60%.  Pengendalian yang selama ini dilakukan oleh petani bertumpu pada penggunaan  pestisida kimia sintetik. Namun penggunaan bahan kimia tersebut tidak mampu mengeradikasi patogen secara sempurna, terutama pada lapisan tanah yang agak dalam. Salah satu cara pengendalian berwawasan lingkungan ialah menggunakan musuh alami.  Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl.), sejak Mei sampai Desember 2009. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh Bacillus subtilis dan Pseudomonas  fluorescens yang diformulasi dalam bentuk biopestisida organik cair dalam pengendalian layu Fusarium pada tanaman anyelir. Rancangan yang digunakan ialah acak  kelompok dengan 10 perlakuan, yaitu 10% ekstrak kascing + 10% molase + B. subtilils + P. fluarescens (BP) dan 10% ekstrak pupuk kandang kuda + 10% molase + BP masing-masing konsentrasi 0,1, 0,3, 0,5, dan 0,7%, dazomet 0,2%, serta kontrol (air ledeng), dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi bakteri antagonis setelah dilakukan proses fermentasi selama 3 minggu,  meningkat dibandingkan sebelum fermentasi.  Rerata populasi awal sebelum fermentasi bakteri antagonis  107-109 cfu/ml meningkat menjadi 1010-1012 cfu/ml pada 3 minggu setelah fermentasi. Populasi kedua agens biokontrol tersebut setelah penyimpanan selama 2 bulan cenderung stabil berkisar antara 1010-1011 cfu/ml.  Perlakuan B. subtilis dan P. fluorescens  yang disuspensikan ke dalam ekstrak kascing + molase pada taraf konsentrasi 0,5% kemudian difermentasikan dalam biofermentor selama 3 minggu secara konsisten dapat menekan serangan F. oxysporum f. sp. dianthi pada anyelir. Implikasi hasil penelitian ini dapat meningkatkan daya saing komoditas tanaman hias melalui pemanfaatan sumber daya alam nasional secara optimal berkelanjutan untuk mendukung industri tanaman hias yang berdaya saing tinggi.Carnation (Dianthus caryophillus  L.) is one of the most economically important cut flowers in Indonesia. The crops is commonly cultivated in the highland areas of the country. Cultivations of the crops in the production center areas have faced various problems, especially wilt disease caused by Fusarium oxysporum  f. sp. dianthi as the most important one. Based on the field observation it is known that the disease could reduce plant production and its yield quality up to 20-60%. To control the disease, farmers usually use a synthetic chemical pesticides.  However the control measures are not sufficiently effective to overcome the diseases problems.  Therefore, an alternative control measures which are more environmentally friendly is necessary. The use of biocontrol agents is nowdays bring popular to be recommended to  control the disease.  A study on the control of fusarial wilt disease on carnation was carried out  in the Laboratory and Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (1,100 m asl.) from May to December 2009, using Bacillus subtilis and Pseudomonas  fluorescens  formulated in the liquid organic pesticide.  The study was arranged in a randomized block design, with 10 treatments i.e. 10% vermi compost + 10% molase + BP and 10% horse manure + 10% molase + BP consentration 0.1, 0.3, 0.5, 0.7% resfectively, dazomet 0,2% and control with four replications. The results showed that population of antagonistic bacterial was increased from  107-109  to 1010-1012 cfu/ml  after 3 weeks fermentation in the organic carrier.  The population of two antagonistic bacteria  was likely stable on 1010-1011 cfu/ml after storing 2 months. The treatments of B. subtilis and P.  fluorescens suspended in the vermi compost extract and molases on the concentration level of  0.5% and formulated in the biofermentor for 3 weeks  were consistenly effective in reducing Fusarium wilt on carnation. The implication of research results could be increase commodity competitive ability of ornamental plants by using national nature resource on a continuity for support the ornamental plants industry with high competitiveness.
Keefektifan Teknik Perangsangan Pembungaan pada Kelengkeng Yulianto, -; Susilo, J; Juanda, D
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Pengkajian ini bertujuan untuk memperoleh teknik perangsangan pembungaan pada tanaman kelengkeng yang efektif. Pengkajian teknik perangsangan pembungaan kelengkeng dilaksanakan di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mulai bulan Juli hingga Desember 2005. Teknik perangsangan pembungaan yang dikaji meliputi (a) pemberian zat pengatur tumbuh paklobutrazol, (b) pemberian pupuk tambahan hara mikro, (c) perundukan dahan, (d) pemangkasan cabang dan tunas air, dan (e) tanpa perlakuan sebagai pembanding. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknik perangsangan pembungaan kelengkeng yang diintroduksikan mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga serta meningkatkan kerapatan bunga dan buah per pohon. Aplikasi paklobutrazol mampu meningkatkan jumlah pohon berbunga paling banyak daripada perlakuan lainnya, tetapi kerapatan buah yang terbentuk lebih rendah daripada perlakuan lainnya. Kerapatan buah tertinggi dihasilkan dari tanaman-tanaman yang diperlakukan dengan perundukan dahan. Kerapatan buah yang tinggi berikutnya terjadi pada perlakuan pemangkasan, pemberian hara mikro, dan aplikasi paklobutrazol.ABSTRACT. Yulianto, J. Susilo, and D. Juanda. 2008. The Effectiveveness of Flowerwerwering Induction Techechechniques on Dragon’s Eye Fr uit. The objective of this experiment was to find out the effective flowering induction technique on dragon’s eye fruit. This study was conducted in Temanggung District from July to December 2005. The treatments were several flowering induction techniques i.e. (a) application of paclobutrazol growth regulator, (b) application of micronutrient fertilizer, (c) branches bent down, (d) pruning, and (e) without treatment (control). The assessment indicated that all of flowering induction techniques applied were able to induce flowering and increased yield per tree. Paclobutrazol application produced more flowers than other treatments, but gave less fruit density. The highest fruit density was produced on the trees with bent down branches, followed by pruning, addition of micronutrient, and paclobutrazol treatments.
Analisis Tingkat Preferensi Petani terhadap Karakterisitik Hasil dan Kualitas Bawang Merah Varietas Lokal dan Impor Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Varietas lokal bawang merah yang kompetitif terhadap varietas impor perlu diketahui untuk mengurangipenggunaan varietas impor. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi varietas lokal yang lebih disukai petanidibanding varietas impor di sentra produksi di Kabupaten Brebes. Penelitian dilakukan di 2 desa di Kabupaten Brebespada bulan Juli-Oktober 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian partisipatif yang didukung denganpercobaan lapangan. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan yangditeliti adalah 10 varietas lokal dan 2 varietas impor. Plot percobaan lapangan digunakan sebagai petak observasi bagipetani partisipan, 28 orang di Desa Kemukten dan 32 orang di Desa Slatri. Data penelitian partisipatif dikumpulkandari jawaban tertulis petani partisipan pada kuesioner yang dibagikan peneliti pada saat petani melakukan observasipada plot percobaan lapangan. Data petani berupa skor tingkat preferensi (TP) petani terhadap atribut karakteristikdaya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aroma dari 12 varietas yang diteliti dianalisismenggunakan metode perceived quality. Hasil penelitan menunjukkan bahwa dari 10 varietas lokal yang diuji, varietaslokal Bima Curut adalah yang paling disukai petani. Walaupun secara agronomis tingkat hasil dan ukuran umbi hasil,varietas impor lebih unggul dibanding varietas lokal Bima Curut, namun TP petani terhadap varietas lokal Bima Curutlebih tinggi 10-23% dibanding TP petani terhadap varietas impor Tanduyung dan Ilokos. Hal ini terjadi karena totalkarakteristik Bima Curut dalam hal daya hasil, jumlah anakan, bentuk umbi, ukuran umbi, warna umbi, dan aromalebih disukai petani dibanding total karakteristik yang dimiliki kedua varietas impor tersebut. Diperlukan dukunganperakitan komponen teknologi pemupukan, budidaya, serta pengendalian hama dan penyakit agar keunggulan varietasBima Curut dapat lebih dioptimalkan.ABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Farmer’s Preference on Yield and Quality Characteristic of Localand Imported Shallots Variety. Local variety of shallots that had competitiveness to imported variety needed tobe identified in order to reduce the use of imported seed variety. The objective of this research was to identify localvariety more preferred by farmers than that of imported variety. Research was conducted in Brebes District fromJuly to October 2005. The approach of research was farmer participatory research supported by field trial plot. Thefield trial design used was RCBD, with 10 local varieties and 2 imported varieties as treatments and 3 replications.The field trial plot was used as an observation plot for farmers participants, 28 farmers in Kemukten Village and 32farmers in Slatri Village. The data from farmer participatory research were collected from farmer’s written answers onthe questionnaire distributed by researchers. Farmers’ data were the level of farmer’s preference to the characteristicsof yield, number of sprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and flavor of 12 shallot varieties tested in the fieldtrial. The data were analyzed using perceived quality methods. The results showed that among local varieties, BimaCurut variety was the most preferred by farmers. Agronomically, the yield of imported varieties were higher and thebulb were bigger than that of Bima Curut. However, the level of farmers preference on Bima Curut were 10 to 23% higher than that of the imported varieties of Tanduyung and Ilokos. The reason was that the total characteristicsof Bima Curut in terms of yield, number of sprouts, bulb shape, bulb size, bulb color, and flavor were preferred byfarmers more than that of the total characteristics of imported varieties. Nonetheless, technological components offertilization, cultivation, disease and pest control still need improvements to increase the competitiveness of BimaCurut variety.
Insiden Penyakit Virus Tular Umbi pada Tigabelas Varietas Bawang Merah Asal Jawa Barat dan Jawa Tengah Gunaeni, Neni; Wulandari, Astri W; Duriat, Ati Srie; Muharam, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit virus tular umbi merupakan salah satu kendala dalam meningkatkan produksi bawang merah. Hal ini disebabkan oleh virus yang infeksinya bersifat sistemik. Apabila partikel virus berada dalam jaringan benih umbi, maka akan sulit untuk dikendalikan dan dapat membawa masalah baru pada pertanaman berikutnya. Penelitian bertujuan mengetahui insiden penyakit virus tular umbi pada 13 varietas bawang merah yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Rancaekek (elevasi 650 m dpl.) dan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (elevasi 1.250 m dpl.), sejak bulan Agustus sampai November 2004. Perlakuan terdiri atas 13 varietas bawang merah, yaitu: Lodra, Sumenep, Batu, Merah Maja, Merah Cigugur, Ciniru, Bima, Bima Curut, Bima Timor, Bima Arjuna, Kuning Tablet, Kuning Gombong, dan Philipina. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) insiden penyakit virus tular umbi pada masing-masing varietas bawang merah asal Jawa Barat dan Jawa Tengah berturut-turut yaitu varietas Lodra 84,67%, Sumenep 82,56-100%, Batu 39,86-78,67%, Merah Maja 95,25%, Merah Cigugur 100%, Ciniru 66,27%, Bima Curut 78,57%, Bima 100%, Bima Timor 57,98%, Bima Arjuna 47,96%, Kuning Tablet 57,48%, Kuning Gombong 97,92%, dan Philipina 97,92 %, (2) gejala infeksi virus pada daun umumnya berupa  klorosis, mosaik bergaris kuning vertikal terputus-putus, garis-garis hijau vertikal, dan ukuran daun menjadi kecil, (3) gejala-gejala tersebut bereaksi positif dengan OYDV(onion yellow dwarf virus) dan SYSV (shallot yellow stripe virus) berdasarkan uji DAS-ELISA (double antibody sandwich-enzyme linked immunosorbent assay). Informasi mengenai insiden virus tular umbi pada bawang merah ini sangat penting dalam rangka mengembangkan metode perbenihan bawang merah bebas virus. Virus disease is one of major problems in increasing shallots production, because its infection has a systemic character. If it is already in shallots bulb tissues, the virus is difficult to be controlled and will cause new problems to the next planting. The experiment was aimed to determine incidence of bulb-borne virus diseases on  thirteen varieties of shallots (Allium cepa var. ascalonicum) originated from West  and Central Java. The experiment was carried out at Indonesian Vegetable Research Institute Lembang (1,250 m asl.) and Rancaekek (650 m asl.), from  August to November 2004. The shallot varieties tested were Lodra, Sumenep, Batu, Merah Maja, Merah Cigugur, Ciniru, Bima, Bima Curut, Bima Timor, Bima Arjuna, Kuning Tablet, Kuning Gombong, and Philipina. A randomized complete block design with three replications were used in this experiment. The results of the experiment showed that  (1) incidence of virus diseases in shallots bulb on variety Lodra was 84.67%, Sumenep 82.56-100%, Batu 39.86-78.67%, Merah Maja 95.25%, Merah Cigugur 100%, Ciniru 66.27%, Bima Curut 78.57%, Bima 100%, Bima Timor 57.98%, Bima Arjuna 47.96%, Kuning Tablet 57.48%, Kuning Gombong 97.92%,  and Philipina 97.92 %, (2) the virus symptoms exhibited on infected shallots were  yellow stripe mosaic, chlorosis,  green stripe leaf,  and leaves became small, and (3) the symptoms were associated with OYDV (onion yellow dwarf virus) and SYSV (shallots yellow stripe virus) base on DAS-ELISA (double antibody sandwich-enzyme linked immunosorbent assay). Information on the incidence of viral diseases on shallots bulb is very important to develop the production technology of virus-free shallots bulb.
Pengaruh Jarak Tanam dan Ukuran Umbi Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang Varietas Granola untuk Bibit Sutapradja, Holil
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK . Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu Lembang, Balai Penelitian Tanaman Sayuran dengan ketinggian 1.250 m dpl dari bulan Juni sampai dengan September 2005. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Masing-masing perlakuan adalah (a) umbi bibit <2,5 g dengan jarak tanam 80x15 cm, (b) umbi bibit <2,5 g dengan jarak tanam 80x30 cm, (c) umbi bibit 2,6-5 g dengan jarak tanam 80x15 cm, (d) umbi bibit 2,6-5 g dengan jarak tanam 80x30 cm, (e) umbi bibit >5,1 g dengan jarak tanam 80x15 cm, dan (f) umbi bibit >5,1 g dengan jarak tanam 80x30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak tanam dan ukuran umbi bibit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kentang varietas Granola untuk bibit. Jarak tanam 80x30 cm dengan ukuran umbi bibit <2,5 g memberikan pengaruh yang baik terhadap pertumbuhan dan hasil kentang Granola dibandingkan perlakuan yang lain.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008.The Effect of Planting Dintance and Seed Size on the Growth and Yield of Granola Potato Variety for Seed Production. This experiment was conducted at Indonesian Vegetable Research Institute with the altitude of 1,250 m asl from June until September 2005. The experiment used a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. The treatments were (a) seed size <2.5 g with spacing of 80x15 cm, (b) seed size <2.5 g. with spacing of 80x30 cm, (c) seed size 2.6-5 g with spacing of 80x15 cm, (d) seed size 2.6-5 g with spacing of 80x30 cm, (e) seed size >5.1 g with spacing of 80x15 cm, and (f) seed size >5.1 g with spacing of 80x30 cm. The results indicated that planting distance and size of seed significantly affect the growth and tuber yield of potato for seed production. Planting distance of 80x30 cm and seed size <2.5 g gave the better yield of potato seed compare with others.
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Tomat Kultivar Intan dan Mutiara pada Berbagai Jenis Tanah Sutapradja, Holil
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu usaha peningkatan produksi tomat adalah dengan mencari kultivar unggul yang cocok pada berbagai lokasi dengan jenis tanah yang berbeda. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang dari bulan September sampai dengan Desember 2005, pada ketinggian 100 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial, terdiri dari 2 faktor (kultivar Intan dan Mutiara) dan 4 jenis tanah (Andosol Lembang, Latosol Jalancagak, Latosol Subang, dan Aluvial Sukamandi) di mana setiap perlakuan diulang 4 kali. Tujuan percobaan adalah, mengetahui pertumbuhan kultivar Intan dan Mutiara yang cocok dan berproduksi baik pada jenis tanah tertentu. Hasil percobaan menunjukkan adanya interaksi antara kultivar dan jenis tanah terhadap bobot buah. Kultivar tomat berpengaruh nyata terhadap perbedaan tinggi tanaman, jumlah cabang, diameter batang, jumlah bunga, dan buah. Kultivar Mutiara memperlihatkan pertumbuhan vegetatif dan hasil yang lebih baik. Hasil tertinggi tomat Mutiara pada jenis tanah Andosol Lembang yaitu sekitar 1,8 kg/tanaman.ABSTRACT. Sutapradja, H. 2008. The Growth and Yield of Intan and Mutiara Tomato Cultivar on Several Type of Soil. One of the effort to increase tomato production is the use of superior cultivar which is adaptive to various locations with different types of soil. The experiment was conducted at Wera, Subang Experimental Garden from September until December 2005, with the elevation 100 m asl. The experiment used a factorial completely randomized design, consisting of 2 factors, i.e. the cultivars (Intan and Mutiara) and soil types (Andosol Lembang, Latosol Jalancagak, Latosol Subang, and Aluvial Sukamandi), with 4 replications. The experiment was conducted to determine the tomato cultivars which gave highest yield for the certain soil type. The results showed that there was interaction between cultivar and soil type on fruit weight per plant. While cultivar was significantly affect plant height, branch number, stem diameter, cluster number, flower number, fruit weight, and fruit number per plant. Mutiara cultivar gave better growth and yield compare to Intan cultivar. The highest yield of Mutiara cultivar (1,8 kg/plant) was achieved by Lembang Andosol soil type.
Perbandingan Teknik Inokulasi Puccinia horiana dan Seleksi Bakteri Antagonis untuk Mengendalikan Penyakit Karat Putih pada Krisan Hanudin, -; Nuryani, Waqiah; Yusuf, Evi Silvia; Djatnika, Ika; Soedarjo, Muchdar
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit karat pada krisan (Dendranthema grandiflora) yang disebabkan oleh Puccinia horiana, merupakan kendala utama dalam budidaya krisan.  Kehilangan hasil krisan oleh patogen tersebut dapat mencapai 100%. Penelitian ini bertujuan (1) mendapatkan teknik inokulasi P. horiana yang efektif menimbulkan gejala penyakit dan (2) mendapatkan bakteri antagonis yang secara efektif dapat mengendalikan penyakit karat putih pada tanaman krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias (1.100 m dpl.) sejak Juni sampai  dengan Desember 2009. Penelitian terdiri dari dua kegiatan. Rancangan yang digunakan pada masing-masing kegiatan ialah acak kelompok dengan 11 perlakuan yaitu pustul karat direndam dalam air, pustul karat pecah direndam dalam air, pustul karat direndam dalam air disimpan 10oC 12 jam, pustul karat pecah direndam dalam air10oC 12 jam, pustul ditempel di atas daun, pustul pecah ditempel di atas daun, pustul ditempel di bawah daun, pustul pecah ditempel dibawah daun, tanaman plus pustul disimpan di samping tanaman uji disungkup, tanaman pustul pecah disimpan di samping tanaman uji disungkup, dan kontrol dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode inokulasi P. horiana  isolat yang paling efektif menimbulkan gejala penyakit karat putih pada krisan ialah perlakuan peletakan tanaman yang terinfeksi P. horiana  dengan pustul yang belum maupun telah pecah di samping tanaman sehat.  Dari hasil uji antagonistik diketahui bahwa isolat bakteri antagonis Corynebacterium-2, merupakan isolat yang paling efektif mengendalikan P. horiana. Kemangkusan bakteri antagonis tersebut dalam menekan P. horiana sebanding dengan fungisida sintetik berbahan aktif azoksistrobin 0,1%. Isolat Corynebacterium-2 berpotensi untuk digunakan lebih lanjut sebagai bahan aktif biopestisida yang efektif untuk mengendalikan penyakit karat putih pada krisan. Pegembangan biopestisida tersebut diharapkan dapat menekan penggunaan pestisida sintetik.White rust disease caused by P. horiana is one of the serious problems on chrysanthemum cultivation. The pathogen causes yield losses  up to 100%. The research was aimed (1) to determine the effective inoculation technique and (2) to select antagonistic bacteria  for effectively controlling the pathogen. The research was carried out  in the Laboratory and  Glasshouse of Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI), from June to December 2009.  The research consisted of two experiments. Each experiments was arranged in a randomized completely block design with 11 treatments i.e. rust pustuls dipped in water, mature rust pustuls dipped in water, rust pustuls dipped in water and stored at 10oC during 12 hours, mature rust pustuls dipped in water and stored at 10oC during 12 hours, pustuls adhered on the leaf, mature pustuls adhered on the leaf, pustuls adhered beneath the leaf, mature rust pustuls adhered beneath the leaf, the plant + pustuls stored beside tested plants covered by transparent plastic, mature pustuls plants stored beside tested plants covered by transparent plastic, and control with three replications. The results indicated that the most effective inoculation technique for the pathogen was locating and infected plant with immature or mature pustuls  surounding  a healthy plant. The effective antagonistic bacteria against the pathogen was Corynebacterium-2. The effectiveness of  the antagonistic bacteria in suppressing P. horiana  was equivalent to synthetic fungicide  azoksistrobin 0.1%. The Corynebacterium-2 isolate will be potentially used as an active ingredient of biopesticide for controlling white rust disease on chrysanthemum. The development of the biopesticide is expected to decrease to utilization of synthetic pesticides.
Keefektifan Nematoda Entomopatogen Steinernema carpocapsae (Rhabditida:Steinernematidae) Isolat Lembang terhadap Mortalitas Larva Agrotis ipsilon Hufn. (Lepidoptera:Noctuidae) pada Tanaman Kubis di Rumah Kaca Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui keefektifan nematoda entomopatogen Steinernema carpocapsae isolat Lembang pada mortalitas larva Agrotis ipsilon pada tanaman kubis di rumah kaca. Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah 5 macam perlakuan tingkat kepadatan populasi nematoda S. carpocapsae (325; 650; 1.300; 2.600; dan 5.200 JI/ml), pestisida sipermetrin 0,5 ml/l, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nematoda entomopatogen S. carpocapsae isolat Lembang mulai tingkat kepadatan 1.300 JI/ml efektif dalam mengendalikan larva A. ipsilon mengakibatlan mortalitas sebesar 56,11% dan mengurangi tingkat kerusakan tanaman kubis sebesar 47,50% pada 96 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. 2008. Effectiveness of Entomopathogenic Nematodes Steinernema carpocapsae (Rhabditida: Steinernematidae) Lembang Strain Against the Mortality of Agrotis ipsilon Hufn. (Lepidoptera: Noctuidae) on Cabbage in the Greenhouse. The purpose of this experiment was to study the effectiveness of entomopathogenic nematodes S. carpocapsae strain Lembang on the mortality of Agrotis ipsilon Hufn. larvae on cabbage in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Entomology and the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, in Lembang, District of Bandung. The experiment was arranged in a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. The treatments were 5 level of entomopathogenic nematodes population density, i.e. 325, 650, 1,300, 2,600, and 5,200 JI/ml, pesticide sipermethrine 0.5 ml/l, and control. The results of this research showed that entomopathogenic nematodes with population density of 1,300 JI/ml was effective to control A. ipsilon larvae, caused 56.11 % mortality and reduced damage up to 47.50% at 96 hours after treatment.

Page 16 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue