cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Analisis Berkelanjutan Usahatani Tanaman Sayuran Berbasis Pengendalian Hama Terpadu di Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung (Analysis of Sustainability Status of Vegetable Farm Based on Integrated Pest Management at Tanggamus District Lampung Province) nFN Sudiono; Surjono Hadi Sutjahyo; Nurheni Wijayanto; Purnama Hidayat; Rachman Kurniawan
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p297-310

Abstract

Produktivitas usahatani sayuran menghadapi kendala produksi akibat gangguan organisme pengganggu tanaman, hal tersebut dapat diselesaikan melalui praktek pertanian yang baik dan pengendalian hama terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan indikator pengelolaan usahatani tanaman sayuran berkelanjutan dan menganalisis nilai indeks keberlanjutan pengelolaan usahatani berbasis pengendalian hama terpadu. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai Oktober 2015 di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Metode penelitian menggunakan analisis multi dimensional scaling (MDS), leverage analysis, analisis Monte Carlo dengan teknik rapid appraisal for integrated pest management (Rap IPM) yang hasilnya dinyatakan dalam bentuk nilai indeks dan status keberlanjutan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat 60 atribut yang di antaranya terdapat 20 faktor pengungkit atau atribut yang sensitif terhadap nilai indeks dan status keberlanjutan. Indeks keberlanjutan usahatani tanaman sayuran berbasis PHT di Kabupaten Tanggamus termasuk kriteria kurang berkelanjutan, dengan indeks gabungan sebesar 48,13. Indeks keberlanjutan yang paling tinggi adalah dimensi sosial dan ekonomi masing-masing sebesar 60,90 dan 51,39 termasuk kriteria cukup berkelanjutan, sedangkan dimensi ekologi, teknologi, dan kelembagaan masing-masing sebesar 48,54; 38,36; dan 40,61 termasuk kriteria kurang berkelanjutan.KeywordsMulti dimensional scaling (MDS); Hama; Penyakit; Rap IPMAbstractThe yield of vegetable is at risk due to the incidence of pests and pathogens. It was related to good agricultural practices and integrated pest management. The purposes of this research were to identify indicators of sustainable vegetables farm and to analyze index sustainability of vegetable farm based on integrated pest management. The research was conducted from March to October 2015 in Tanggamus District, Lampung Province. This research applied multi dimensional scaling (MDS), leverage analysis, and Monte Carlo analysis by rapid appraisal for integrated pest management (Rap IPM). Research showed that among 60 indicators analyzed there were 20 sensitive indicators that affected sustainability index and status. Sustainability index in Tanggamus District were dimension of social and economy obtained value 60.90 and 51.39, it was categorized as sufficiently sustainable, while sustainability index of ecology, technology, and institution dimensions were 48.54, 38.36, and 40.61 respectively, which were considered as less sustainable.
Optimasi Sistem Penanaman dan Teknik Pemangkasan Tunas Pada Dua Varietas Paprika (Capsicum annuum var. Grossum) [Optimation of Planting System and Shoot Pruning in Two Sweet Pepper (Capsicum annuum var. Grossum) Varieties] Nirkadi Gunadi; Tonny Koestoni Moekasan; Laksminiwati Prabaningrum
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p77-86

Abstract

Hasil paprika sangat tergantung pada pengaturan sistem penanaman dan teknik pemangkasan tunas. Penelitian dengan tujuan untuk mengoptimasi sistem penanaman dan teknik pemangkasan tunas pada dua varietas paprika telah dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat dari bulan Mei 2011 sampai Februari 2012. Tiga faktor perlakuan yang dicoba terdiri atas sistem penanaman (satu dan dua tanaman per polibag) sebagai petak utama, sistem pemangkasan tunas (pemangkasan per buku sisa dua daun dan sisa tiga daun) sebagai anak petak dan varietas (Inspiration dan Spider) sebagai anak-anak petak dicoba dengan menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sistem penanaman berpengaruh nyata terhadap hasil paprika. Rata-rata hasil total dan hasil kelas buah >200 g yang ditanam dengan sistem penanaman satu tanaman per polibag berturut-turut lebih tinggi 14,1% dan 17,0% daripada tanaman yang ditanam dengan sistem penanaman dua tanaman per polibag. Perlakuan sistem pemangkasan tunas hanya berpengaruh nyata terhadap hasil kelas buah >200 g dan sistem pemangkasan sisa tiga daun memberikan hasil kelas buah >200 g lebih tinggi daripada sistem pemangkasan sisa dua daun. Hasil total, hasil kelas buah >200 g dan kelas buah 100–200 g varietas Spider lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas Inspiration. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa tanaman paprika sebaiknya ditanam dengan sistem satu tanaman per polibag dan sistem pemangkasan sisa tiga daun. Bila buah paprika yang diinginkan relatif besar maka varietas Inspiration yang ditanam, sedangkan bila buah dengan ukuran sedang maka varietas Spider yang ditanam.KeywordsCapsicum annuum var. Grossum; Hasil; Sistem penanaman; Sistem pemangkasan; Varietas AbstractYields of sweet peppers depend on planting system and shoot pruning system. A research with the aim to optimize planting system and shoot pruning system in two sweet pepper varieties has been carried out in the Experimental Field of the Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang (1,250 m asl.), West Java from May 2011 until February 2012. Three treatment factors consisted of planting system (one plant and two plants planted per polybag), shoot pruning system (pruning with two leaves and three leaves remaining per node) and variety (Inspiration and Spider) were laid-out using split plot design with three replication. The results indicated that planting system treatment significantly affected the yields of sweet pepper. Average total yields and yields of fruit >200 g from plants using one plant per polybag were 14.1% and 17.0% higher than those of plants using two plants per polybag. The shoot pruning treatment significantly affected only on the yields of fruit >200 g and the shoot pruning system with three leaves remaining per node gave significantly higher yields of fruit >200 g compared to the shoot pruning system with two leaves remaining per node. The total yields, yields of fruit >200 g and yields of fruit 100–200 g of Spider were significantly higher than those of Inspiration with the average total yields of Spider 12.3% higher than Inspiration. The results suggest that sweet pepper should be planted using one plant per polybag and the shoot pruning with three leaves remaining per node. If desired the relatively big size fruit, Inspiration is recommended, however, if desired the medium-size fruit, Spider is recommended. 
Keragaan Morfo-Fisiologi Phaseolus spp. yang Ditanam Pada Ketinggian Tempat yang Berbeda (Morpho-Physiological Performance Phaseolus spp. on Different Altitudes) Delfi Trisnawati; nFN Triadiati; Nisa Rachmania Mubarik
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p59-66

Abstract

Permintaan masyarakat di Indonesia terhadap tanaman legumes meningkat setiap tahunnya, namun produksi legumes di Indonesia belum dapat mencukupi kebutuhan konsumen. Pertumbuhan tanaman legume dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti ketinggian tempat, suhu, intensitas cahaya matahari, dan kelembapan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dan mengevaluasi keragaan morfo-fisiologi Phaseolus spp. yang ditanam pada dua ketinggian tempat yang berbeda. Empat jenis legumes yang digunakan adalah Jackson Wonder Bean (JWB - Phaseolus lunatus), Christmas Bean (CHB - P. lunatus), Cranberry Bean (CRB - P. vulgaris), dan White Kidney Bean (WKB - P. vulgaris). Empat macam kacang tersebut ditanam pada ketinggian tempat 1.100 m dpl. (lokasi I) dan pada ketinggian 250 m dpl. (lokasi II). Peubah fisiologi dipengaruhi oleh lokasi penelitian, sedangkan peubah morfologi dipengaruhi oleh interaksi antara ketinggian tempat dan jenis kacang. Perbedaan kondisi lingkungan memengaruhi habitus JWB (P. vulgaris). CHB (P. lunatus) menghasilkan jumlah polong tertinggi pada ketinggian tempat 1.100 m dpl., yaitu 25,7 polong diikuti dengan BB 100 biji, yaitu 158,3 g. Implikasi penelitian ini adalah pembudidayaan tanaman legumes atau kacang minor pada dua lokasi yang berbeda berdasarkan ketinggian tempat untuk mendapatkan kondisi lingkungan yang sesuai agar pertumbuhan dan produksinya optimal.KeywordsPhaseolus lunatus; Phaseolus vulgaris; Bintil akar; Konduktansi stomata; Laju fotosintesisAbstractThe demand of legumes in Indonesia is increasing every year. The growth performance of legumes is influenced by environmental factors such as altitude land, temperature, light intensity, and air humidity. The aims of this study were to analyze and evaluate the morpho-physiological performance of legumes (Phaseolus spp.) grown in two different altitudes. Four genotypes of bean used in this study were Jackson Wonder Bean (JWB - P. lunatus), Christmas Bean (CHB - P. lunatus), Cranberry Bean (CRB - P. vulgaris), and White Kidney Bean (WKB - P. vulgaris). The four species of beans were grown at 1,100 m asl. (location I) and 250 m asl. (location II). The physiological parameters were influenced by location, meanwhile the morphological parameter was affected by the interaction between the altitude and type of beans. The differences on environmental condition in both field affected the habits of WKB (P. vulgaris). The CHB (P. lunatus) bean produced the highest number of pods at altitude of 1,100 m asl followed by wet weight of 100 seeds is 25.7 and 158.3. The implication of this research is the cultivation of beans minor at two different locations based on the altitude to get the appropriate environmental conditions to be optimal growth and production.
Evaluasi Paket Teknologi Produksi Benih TSS Bawang Merah Varietas Bima Brebes di Dataran Tinggi (Evaluation of the Packages TSS Seed Production Technology of Bima Brebes Varieties in the Highland) Rini Rosliani; Yusdar Hilman; Ineu Sulastrini; Muhammad Prama Yufdy; Rismawita Sinaga; Iteu M M Hidayat
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p67-76

Abstract

Penggunaan biji botani bawang merah atau true seed of shallot (TSS) diyakini dapat memecahkan kendala ketersediaan benih bawang merah di Indonesia. Tujuan penelitian adalah menentukan paket teknologi produksi benih TSS yang menghasilkan pembungaan dan produksi biji yang lebih tinggi. Penelitian teknologi produksi TSS dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Lembang dengan ketinggian tempat 1.250 m dpl. Penelitian menggunakan rancangan petak berpasangan dengan dua perlakuan paket teknologi dan diulang lima kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan A (aplikasi pukan kuda 10 ton/ha dan ayam 5 ton/ha, SP-36 250 kg/ha, NPK 600 kg/ha aplikasi 10 kali (seminggu sekali), aplikasi BAP dan  boron) menghasilkan pembungaan dan produksi biji/TSS yang lebih tinggi daripada paket B (pukan kuda 20 ton/ha, NPK 600 kg/ha dengan dua kali aplikasi, dan aplikasi GA3). Implikasi penelitian menunjukkan bahwa inovasi teknologi produksi TSS yang sedang dikembangkan saat ini sangat layak untuk memproduksi benih TSS yang bermutu tinggi.KeywordsBiji botani bawang merah; BAP; Boron; GA3; PemupukanAbstractThe use of true seed of shallots (TSS) is believed to solve the constraints of the availability of shallot seeds in Indonesia. The research objective was to compare the two packages TSS seed production technology that produces higher flowering and seed production. Research on TSS production technology was carried out at Margahayu Experimental Garden, Lembang with an altitude of 1,250 m above sea level. Research used a paired plot design with two treatments of technology package and five replicates. The results showed that treatment A (horse manure 10 ton/ha + chicken manure 5 ton/ha + SP-36 250 kg/ha + NPK 600 kg/ha application 10 times + BAP 37,5 ppm + boron 3 kg/ha) produce better flowering and seed production/higher TSS than package B (horse manure at a rate of 20 ton/ha, NPK 600 kg/ha with two times application and the use of GA3). The implication of this research showed the TSS production technology innovation that is being developed today is very feasible to produce high quality TSS in support shallot seed.
Kultur Embrio Pisang Liar Musa acuminata ssp. sumatrana yang Langka (Embryo Culture of Endangered Wild Banana Musa acuminata ssp. sumatrana) Ika Roostika; Agus Sutanto; nFN Edison; Nurwita Dewi
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p25-32

Abstract

Musa acuminata ssp. sumatrana adalah pisang liar yang langka dan perlu dilestarikan. Teknik kultur in vitro dapat diterapkan untuk melestarikannya. Penerapan teknik konservasi secara in vitro memerlukan penguasaan metode regenerasi, termasuk formulasi media tumbuh. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh BA, TDZ, dan PVP terhadap daya hidup dan regenerasi embrio M. acuminata ssp. sumatrana. Rancangan percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah BA (0, 1, 3, dan 5 mg/L), faktor kedua adalah TDZ (0 dan 0,1 mg/L) dan faktor ketiga adalah PVP (100 dan 300 mg/L). Peubah yang diamati adalah persentase daya hidup, persentase daya tumbuh, persentase pembentukan akar, jumlah tunas, jumlah akar, dan jumlah daun yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi yang nyata antara taraf BA, TDZ, dan PVP terhadap seluruh peubah yang diamati. Kombinasi perlakuan BA 5 mg/L dengan TDZ 0,1 mg/L dan PVP 300 mg/L menghasilkan persentase hidup, persentase tumbuh, jumlah tunas, dan jumlah daun yang paling tinggi, berturut-turut 100% daya hidup, 100% daya tumbuh, lima tunas/eksplan, dan 15 daun/tunas. Media tersebut dapat diterapkan untuk perbanyakan in vitro M. acuminata ssp. sumatrana dalam penyediaan materi untuk konservasi in vitro.KeywordsMusa acuminata ssp. sumatrana; Pisang liar langka; Regenerasi embrioAbstractMusa acuminata ssp. sumatrana is an endangered wild banana species that should be conserved. The in vitro culture can be applied for conserving wild banana accessions. The establishment of regeneration method, including the use of growth medium, is required in the application of in vitro conservation. The influence of BA, TDZ, and PVP to the survival and growth rate of embryos of M. acuminata ssp. sumatrana will be discussed in this study. The factorial in compeletely randomized design with four replications was used in this study. The first factor was BA (0, 1, 3, and 5 mg/L), the second factor was TDZ (0 and 0.1 mg/L), and the third factor was PVP (100 and 300 mg/L). Variables observed were the percentage of survival rate, the percentage of growth rate, the percentage of root formation, number of shoot, root, and leaf. The result a significant interaction between the concentration of BA, TDZ, and PVP to all observed variables. The combined treatment between 5 mg/L BA, 0.1 mg/L TDZ, and 300 mg/L PVP provided the highest survival rate (100%), growth rate (100%), shoot multiplication (five shoots/explant), and number of leaf (15 leaves/shoot). This medium can be applied for micropropagation of M. acuminata ssp. sumatrana in supplying plant materials for in vitro conservation.
Analisis Isozim dan Patogenisitas Isolat Cladosporium spp. Terhadap Karat Putih Pada Krisan (Isozyme Analysis and Pathogenicity of Cladosporium spp. Isolate Against White Rust on Chrysanthemum) Evi Silvia Yusuf; I Djatnika
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p97-104

Abstract

Cladosporium spp. merupakan mikoparasit potensial untuk mengendalikan beberapa jenis cendawan karat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui patogenisitas 10 isolat Cladosporium spp. yang ditemukan di daerah sentra krisan (Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat) terhadap penyakit karat putih pada krisan dan hubungan kekerabatannya antara isolat Cladosporium spp. Percobaan dilakukan pada bulan April hingga Agustus 2014 di Laboratorium Mikologi Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) dan Laboratorium Patologi dan Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pada percobaan ini dilakukan uji patogenisitas 10 isolat Cladosporium spp. asal Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat terhadap pustul karat pada daun krisan di laboratorium. Untuk menelusuri hubungan genetik antarisolat dilakukan analisis isozim secara elektroforesis dengan menggunakan enzim esterase (EST), acid phospatase (ACP), dan peroksidase (PER). Hasil percobaan menunjukkan sembilan isolat Cladosporoium spp. efektif memparasit pustul karat dengan efektivitas lebih dari 50%. Hasil analisis isozim menunjukkan terdapat dua kelompok Cladosporium spp. yang memiliki koefisien kemiripan 67%.KeywordsCladosporium spp.; Isozim; Mikoparasit; PatogenisitasAbstractCladosporium spp. is a potential mycoparasite for controlling some rust fungi. The aim of the research was to obtain the effectiveness of 10 Cladosporium spp. isolates was found in chrysanthemum central area (Cianjur and West Bandung District) and genetic relationship among the isolats. The research carried on April to Agustus 2014  in Micology Laboratory Indonesian Ornamental Crop Institute and Pathology and Silviculture Laboratory, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University. Pathogenicity of the 10 fungus isolate was tested against rust pustules on chrysanthemum leaves and genetic relationship between isolates was analyzed by electrophoresis isozyme using EST, ACP, and PER enzyme. The results showed that nine of Cladosporoium spp. isolates were effective parasited rust pustule with more than 50% effectiveness. The cluster analysis based on isozyme analysis showed that Cladosporium spp. isolate have two  distinc groups with 67% similarity coefficient.
Evaluasi Resistensi dan Daya Hasil Enam Klon Harapan Kentang Transgenik Terhadap Serangan Penyakit Hawar Daun (Evaluation of Resistance to Late Blight and Tuber Yield of Six Potential Potato Transgenic Clones) Kusmana, nFN; Ambarwati, Alberta Dinar
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p41-50

Abstract

Penyakit hawar daun (Phytophthora infestans) merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman kentang. Kerusakan yang berat akibat penyakit hawar daun dapat menyebabkan kehilangan hasil panen sampai 80%. Gen pembawa ketahanan terhadap penyakit hawar daun dikenal dengan nama gen RB dan telah berhasil dimasukkan ke dalam genom kentang dan menghasilkan kentang transgenik. Tujuan penelitian untuk menguji ketahanan enam klon kentang transgenik terhadap serangan penyakit hawar daun (P. infestans) dan daya hasil. Penelitian dilakukan di Lapangan Uji Terbatas Desa Citere, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, 1.400 m di atas permukaan laut. Rancangan percobaan menggunakan rancangan petak terpisah, dengan petak utama perlakuan tidak disemprot fungisida dan disemprot fungisida dua kali seminggu dan anak petak 10 genotipe kentang yang terdiri atas enam hibrida kentang transgenik, satu genotipe kentang transgenik Katahdin SP951 sebagai pembanding resisten dan tiga varietas pembanding rentan kentang nontransgenik Granola, Atlantic, dan Katahdin. Jumlah ulangan tiga kali dengan populasi tanaman terdiri atas 50 tanaman/plot. Pengamatan dilakukan terhadap vigor tanaman, insiden serangan hawar daun, dan komponen hasil. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa untuk vigor tanaman tidak terjadi interaksi serta antarperlakuan tidak berbeda nyata. Genotipe yang resisten terhadap hawar daun adalah klon 20, 27, 65, dan 66 setara dengan kontrol positif Katahdin SP951 dan nyata lebih resisten dari varietas pembanding Granola, Atlantic, dan Katahdin. Klon yang resisten terhadap hawar daun menampilkan hasil yang tinggi pada plot tidak disemprot fungisida, sementara pada plot disemprot fungisida 20 kali semua genotipe menampilkan hasil optimalnya. Tingkat kehilangan hasil mencapai 18,8–84,4%. Genotipe dengan intensitas serangan hawar daun tinggi memiliki tingkat kehilangan hasil yang juga tinggi. Klon 20 dan 27 menampilkan daya hasil yang relatif tinggi dengan penundaan penggunaan fungisida 7 minggu setelah tanam.KeywordsGenotipe; P. infestans; Solanum tuberosum LAbstractLate blight (Phytophthora infestans) is one of main potato diseases. Due to severe damage to late blight potato, crop will be cause lost of harvest up to 80%. Gene carriers of resistance to late blight known as the RB gene and have been incorporate into the genom of potato and produce transgenic potato. The objective of the research was to test six advanced transgenic potato clones for resistance to late blight (Phytophthora infestans). The research was conducted at Confined Field Trial at Citere Village, Pangalengan District Bandung (1,400 m above sea level). The experimental design was split plot. The main plot was spray with fungicides twice/week and was replicated three times. Subplot were 10 potato genotypes, consists of six transgenic potato hybrids, transgenic Katahdin SP951 as resistant check and three varieties of nontransgenic as susceptible check, i.e. Granola, Atlantic, and Katahdin.  An experimental unit consists of 50 plants/plot, every treatment with three replicates. Plant observed were plant vigor, intensity of late blight damage, tuber yield component, and lost of yield. The result showed that there were no interaction of plant vigor and also all the treatmens were not significantly different. Transgenic potato clones of 20, 27, 65, 66, and Katahdin SP951 were resistant to late blight compare to check varieties of Granola, Atlantic, and Katahdin. The highest yielding at none spraying of fungicides were obtained from the resistance clones. Whereas,  on the 20 sprayed fungicides all of  the clones were high yielding. Tuber yield lossed ranged from 18,8–84,4%, the susceptible genotypes were also showed high losses. Clones 20 and 27 showed reletive high yielding and can be delayed application fungicides for period of 7 weeks after planting. 
Identifikasi Molekuler dan Analisis Kekerabatan Aksesi Nenas Menggunakan Marka RAPD Menunjang Perakitan Varietas Unggul Baru Sri Hadiati; Riry Prihatini; Ellina Mansyah
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p1-12

Abstract

(Molecular Identification and Relationships Among Several Pineapple Accessions Using RAPD Marker to Support the Assembling New Varieties)Produksi dan produktivitas nenas dapat ditingkatkan antara lain melalui penggunaan varietas unggul. Dalam perakitan varietas, dibutuhkan informasi hubungan kekerabatan antartetuanya agar diperoleh efek heterosis yang tinggi melalui kegiatan identifikasi secara molekuler. Penelitian bertujuan (1) mengetahui tingkat polimorfisme primer yang digunakan,(2) mengidentifikasi fragmen DNA spesifik yang membedakan individu atau kelompok individu nenas, dan (3) mengetahui hubungan kekerabatan antarspesies dan aksesi nenas. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei–Desember 2014 di Laboratorium Uji Mutu Benih dan Molekuler Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Sampel yang digunakan sebanyak 19 aksesi dari empat spesies nenas (Ananas comosus, A. bracteatus, A. lucidus, dan A. nanus). Sebanyak 20 marka rapid amplified polymorphism DNA (RAPD) digunakan dalam analisis. Data diskor secara biner kemudian dianalisis menggunakan program NTSYSpc 2,1x. Hasil analisis menunjukkan bahwa polimorfisme 20 primer yang diuji berkisar 33–100% dengan rata-rata 87%. Primer dengan tingkat polimorfisme 100%, yaitu RAPD3, OPA13, OPAV3, OPC12, OPC16, dan OPY15. Kelompok Cayenne dicirikan oleh marka RAPD1 ukuran1.000 base-pair (bp) dan OPAV3 700 bp. Kelompok Queen dapat diidentifikasikan oleh marka RAPD3 ukuran 700 bp, kelompok Spanish dengan marka RAPD2 dan RAPD3 ukuran 1.500 bp. Analisis kluster menunjukkan bahwa 19 aksesi yang diuji terpisah menjadi enam kelompok pada koefisien kesamaan genetik 0,75, yaitu kelompok Queen, Cayenne, Spanish, A. bracteatus, A. lucidus, dan A. nanus. Aksesi yang diuji mempunyai keragaman genetik yang luas dengan koefisien kesamaan genetik berkisar 0,41–0,85. Aksesi yang mempunyai kesamaan genetik tertinggi, yaitu antara N-73 dengan BB (0,85) dan terkecil, yaitu antara N-94 (A. nanus) dengan N-18 (Green Spanish) sebesar 0,41. Implikasi hasil penelitian adalah aksesi yang mempunyai kesamaan genetik tinggi salah satunya dapat dieliminasi untuk efisiensi dalam pengelolaan plasma nutfah, sedangkan aksesi-aksesi yang memiliki kesamaan genetik kecil, baik digunakan sebagai tetua persilangan agar diperoleh variabilitas genetik yang luas dan efek heterosis yang tinggi.KeywordsAnanas spp.; Identifikasi; Karakterisasi; Kekerabatan genetik; Molekuler.AbstractPineapple production and productivity can increased by the use of superior variety. Pertaining to variety assembling, the relationship information among parents are needed to gain heterosis effect through molecular identification activity. This research was aimed to (1) determine the level of polymorphism primers used, (2) identify specific DNA fragments which discrete individual or group of pineapple, and (3) reveal genetic relationship among pineapple species and accessions. The experiment was conducted on May to December 2014 in Seeds Quality Testing and Molecular Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute. Nineteen accessions from four species (Ananas comosus, A. brachteatus, A. lucidus, and A. nanus) of pineapple were used as samples. Twenty rapid amplified polymorphism DNA (RAPD) markers were used on molecular analysis. The data were scored binary and then they were analyzed using NTSYSpc 2.1x computer software. The analysis showed that the 20 primers had 33–100%  polymorphic with 87% in average. Primers with 100% polymorphism level were RAPD3, OPA13, OPAV3, OPC12, OPC16, and OPY15. Cayenne group could be denoted with RAPD1 and OPAV3 markers by 1,000 base-pairs (bp) and 700 bp band, respectively. Meanwhile the Queen group can be identified by 700 bp band  RAPD3 marker. The Spanish group can be specified by1,500 bp band RAPD2 and RAPD3 markers. Based on cluster analysis the 19  accessions were separated  into six groups with 0.75 genetic similarity coefficient i.e., Queen, Cayenne, Spanish, A. bracteatus, A. lucidus, and A. nanus. These accessions had a wide genetic diversity with 0.41 to (0.85) genetic similarity coefficients. The highest genetic similarity coefficient (0.85) was determined between N-73 and BB, whereas the lowest value down to 0.41 was indicated on N-94 (A. nanus) and N-18 (Green Spanish). The implications of this research are that one of two accessions that have high genetic similarities can be eliminated for efficiency in the management of germplasm. While accessions which  have little genetic similarity are both used as crosses parent in order to obtain wide genetic variability and high heterosis effects.
Inovasi Teknologi Tanaman Krisan yang Dibutuhkan Pelaku Usaha (Technology Innovation of Chrysanthemum Needed by Stakeholders) Nur Qomariyah Hayati; nFN Nurmalinda; Budi Marwoto
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p147-162

Abstract

Inovasi merupakan komponen utama dalam peningkatan daya saing. Informasi inovasi teknologi yang sesuai kebutuhan pengguna sangat diperlukan dalam penentuan prioritas program penelitian. Tujuan penelitian adalah memperoleh informasi jenis inovasi teknologi yang dibutuhkan pelaku usaha untuk mengembangkan budidaya tanaman krisan. Penelitian dilakukan di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali pada bulan Januari-Desember 2014. Pemilihan lokasi dan responden dilakukan secara purposive, yaitu dengan menentukan sebanyak 45 petani yang berasal dari 10 kelompok tani yang menanam krisan di masing-masing wilayah. Untuk mengetahui tingkat kepentingan kebutuhan inovasi teknologi dalam pengembangan agribisnis krisan berkelanjutan digunakan skala Likert lima tingkat, yaitu sangat penting, penting, cukup penting, tidak penting, dan sangat tidak penting. Penilaian kepentingan dilakukan berdasarkan perkiraan besarnya tingkat kepentingan suatu inovasi teknologi dalam pengembangan sistem agribisnis krisan. Penilaian pelaku usaha terhadap nilai kepentingan relatif jenis inovasi dari masing-masing subsistem agribisnis merupakan dasar pertimbangan untuk menentukan tingkat prioritas dalam program penelitian ke depan dengan kategori utama, prioritas, maupun potensial.KeywordsIdentifikasi; Inovasi teknologi; Krisan; Pelaku usahaAbstractInnovation is a key component in increasing competitiveness. Informations of technology innovation is necessary in determining the priority of research programs that meet the needs of users. The purpose of this study was to obtain information on the type of technological innovation required by business actors to develop chrysanthemum cultivation. The study was conducted in West Java, Central Java, and Bali in January-December 2014. The selection of location and respondents was done purposively by determining as many as 45 farmers from 10 farmer groups planting chrysanthemums in each region. To know the importance level of technological innovation in the development of sustainable chrysanthemum agribusiness was used five-level Likert scale, that is very important, important, important enough, unimportant, and very unimportant. Assessment of interest is based on the approximate level of importance of a technological innovation in the development of chrysanthemum agribusiness system. The appraisal of business actors on the relative importance of different types of innovation from each agribusiness subsystem is the basis of consideration to determine the priority level in future research programs with major category, priority category, and potential category categories.
Persepsi Petani Sayuran Tentang Dampak Perubahan Iklim di Sulawesi Selatan (Perception of Vegetable Farmers on the Impact of Climate Change in South Sulawesi) Witono Adiyoga; Rofik Sinung Basuki
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p133-146

Abstract

Walaupun masih terdapat ketidakpastian tentang kapan, bagaimana, dan di mana perubahan iklim akan berdampak negatif terhadap produksi pertanian dan ketahanan pangan, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa dampaknya terhadap sektor pertanian di daerah tropis akan semakin parah dibandingkan di daerah temperate. Tujuan penelitian adalah mempelajari persepsi petani tentang dampak perubahan iklim terhadap variabilitas cuaca yang terjadi dan dampak perubahan iklim terhadap usahatani. Penelitian survei dilaksanakan pada ekosistem sayuran di dataran tinggi dan rendah Sulawesi Selatan dari bulan Juni hingga Agustus 2012. Pada setiap ekosistem, 110 petani sayuran dipilih secara acak (total = 220 responden). Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden lintas ekosistem dan pola musim mempersepsi tiga jenis kejadian alam akibat perubahan iklim secara signifikan yang menempati tiga urutan tertinggi pada awal musim tanam, yaitu (a) pola curah hujan sangat tidak menentu, (b) suhu udara meningkat, dan (c) musim hujan datang lebih awal, diikuti oleh minggu-minggu kering. Mayoritas responden juga mempersepsi tiga jenis kejadian cuaca ekstrim akibat perubahan iklim signifikannya menempati tiga urutan tertinggi, yaitu (a) sinar matahari sangat terik, (b) gelombang dan temperatur udara panas dan (c) kekeringan. Kebakaran hutan, asap hasil pembakaran bahan bakar oleh industri, asap kendaraan bermotor, dan penggundulan hutan secara konsisten, dikemukakan sebagian besar petani lintas ekosistem dan pola musim sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Sementara itu, separuh lebih responden menyatakan ketidaksetujuan/keragu-raguannya bahwa usahatani sayuran yang dilakukan secara terus menerus, pembakaran limbah tanaman/rumah tangga, penggunaan pupuk/pestisida kimia berlebih, penggunaan kayu bakar, dan penggunaan air irigasi tinggi memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap terjadinya perubahan iklim. Sebagian besar responden mempersepsi tiga dampak perubahan iklim terhadap usahatani yang signifikansinya menempati tiga urutan tertinggi, yaitu (a) risiko kegagalan panen yang semakin tinggi, (b) risiko kerugian usahatani yang semakin tinggi dan berpengaruh terhadap keberlanjutan usahatani, serta (c) suhu yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan serangan hama dan munculnya hama baru. Kegiatan edukasi terpadu melalui penyuluhan pertanian maupun sekolah lapang iklim perlu terus dilakukan untuk mengoreksi beberapa perbedaan persepsi tentang penyebab perubahan iklim.KeywordsSayuran; Dataran rendah; Dataran tinggi; Variabilitas iklim; Dampak perubahan iklimAbstractVegetable farmers’ perception of climate change impacts in South Sulawesi. Even though there are still uncertainties regarding when, how, and where the climate change will have a negative impact on agricultural production and food security, most scientists agree that the impact of climate change on agricultural sector is more severe in the tropical regions as compared to the temperate regions. The objective of this study was to examine farmers’ perceptions regarding the impacts of climate change on weather/climate variability and on their vegetable farms. A survey was carried out in lowland and highland vegetable areas of South Sulawesi in June until August 2012. In total, there were 220 respondents randomly selected for interview by using a structured questionnaire. Results suggest that most respondents across different ecosystem and seasonal pattern perceive three climates variability as the most important impacts of climate change i.e. (a) high uncertainty of rainfall pattern, (b) increasing air temperature and (c) earlier start of rainy season followed by dry weeks. Those respondents also perceive three most important extreme weathers, such as (a) intense heat/sun, (b) hot air temperature and waves and (c) long dry season. Forest fire, smoke from industrial fuel burning, smoke from motor vehicles and deforestation are consistently identified as factors that significantly contribute to the existence of climate change. Meanwhile, more than half of respondents are disagree or in doubt that continuous vegetable cultivation, crop/household waste, excessive use of fertilizers, and pesticides, use of cooking woods, and excessive use of irrigation water as factors that contribute to climate change. Most respondents perceive three most important impacts of climate change to their vegetable farms i.e. (a) increasing crop failure risk, (b) increasing financial loss risk that directly affects farm sustainability, and (c) increasing air temperature that tends to increase more severe pest/disease incidence and bring out new pests and diseases. A concerted educative effort through agricultural extension or climate field school should be carried out, especially to correct some misperceptions regarding causes of climate change.

Page 81 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue