cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pengaruh Tanaman Aromatik Dalam Sistem Tanam Tumpangsari Dengan Cabai Merah Terhadap Serangan Trips dan Kutudaun (Effect of Aromatic Plants on Thrips and Aphid Infestation in Intercropping System with Hot Pepper) Tonny Koestoni Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p87-96

Abstract

Tanaman aromatik seperti seledri dan kemangi mengandung minyak esensial yang antara lain bersifat sebagai penolak hama. Oleh karena itu tanaman tersebut dapat digunakan sebagai salah satu cara pengendalian hama dengan cara ditumpangsarikan dengan tanaman utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tanaman seledri dan kemangi yang ditumpangsarikan dengan cabai merah dalam menekan populasi hama trips dan kutudaun pada tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu (1.250 m dpl.), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, dari bulan Maret sampai Agustus 2016.  Penelitian disusun alam rancangan acak kelompok dengan pola petak terpisah. Petak utama ialah sistem tanam (A), yang terdiri atas: (a1) tumpangsari cabai-seledri, (a2) tumpangsari cabai-kemangi, dan (a3) cabai monokultur. Anak petak ialah penyemprotan insektisida (B), yang terdiri atas: (b1) disemprot insektisida 2x/minggu dan (b2) tidak disemprot insektisida. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dalam sistem tumpangsari dengan cabai, seledri dan kemangi mampu menekan populasi trips masing-masing sebesar 35,84% dan 34,76%, serta menekan populasi kutudaun masing-masing sebesar 44% dan 50,25%; (2) penggunaan seledri dan kemangi dibandingkan dengan penggunaan insektisida menunjukkan penekanan yang lebih baik terhadap trips dan kutudaun, sehingga penggunaan tanaman aromatik tersebut dalam sistem tumpangsari dengan cabai mampu menekan penggunaan insektisida hingga 100%; dan (3) penggunaan seledri dan kemangi dalam sistem tanam tumpangsari dengan cabai mampu meningkatkan hasil panen cabai masing-masing sebesar 61,89% dan 65,04%.KeywordsCabai (Capsicum annuum); Seledri (Apium graveolens); Kemangi (Ocimum basilicum); Tumpangsari; HamaAbstractAromatic plants like celery and basil contain essential oils that able to repel the pests. Therefore, these aromatic plants can be used in intercropping system to control pests of the main crop. The aim of the research was to know how far celery and basil in intercropping with hot pepper in reducing thrips and aphid infestation on hot pepper. The activity was carried out in Margahayu Research Garden (1,250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang. The experiment was arranged in a randomized block design with split plot pattern and each combination treatment was replicated four times. The main plot was planting system (A): (a1) hot pepper intercropped with celery, (a2) hot pepper intercropped with basil, and (a3) hot pepper monoculture. The sub plot was insecticide spraying (B): (b1) spray with insecticide 2x/week and (b2) without insecticide spraying. Results showed that: (1) in intercropping system with hot pepper, celery and basil were able to reduce thrips population by 35.84% and 34.76% respectively, and were able to reduce aphid population by 44% and 50,25% respectively; (2) use of celery and basil compared with insecticide showed a better suppression on thrips and aphid population, so that the use of these aromatic plants was able to reduce insecticide spraying by 100%; and (3) use of celery and basil was able to increase the hot pepper yield by 61.89% and 65.04% respectively.
Pengaruh Aplikasi Lecanicillium lecanii Terhadap Ambang Kendali Trips Pada Tanaman Kentang (Effect of Application of Lecanicillium lecanii on Control Threshold of Thrips in Potato) Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestoni Moekasan; Rini Murtiningsih
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p105-112

Abstract

Cendawan entomopatogen Lecanicillium lecanii merupakan musuh alami potensial bagi trips. Pemanfaatannya dalam budidaya kentang diharapkan mampu meningkatkan nilai ambang kendali Thrips palmi dalam rangka mendukung pelestarian lingkungan. Penelitian bertujuan mengevaluasi ambang kendali trips dengan menambahkan penggunaan L. lecanii sebagai agens pengendalian hayati. Penelitian dilakukan di Desa Marga Mekar (1.200 m dpl.), Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dari bulan Mei hingga Agustus 2016. Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan dan tiap perlakuan diulang empat kali. Macam perlakuan yang diuji adalah: (A) ambang kendali satu nimfa trips/daun + L. lecanii, (B) ambang kendali enam nimfa trips/daun + L. lecanii, (C) ambang kendali 11 nimfa trips/daun + L. lecanii, (D) ambang kendali 16 nimfa trips /daun + L. lecanii, (E) penyemprotan insektisida 2x/minggu, dan (F) kontrol, tanpa penyemprotan insektisida dan tanpa L. lecanii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyemprotan L. lecanii (1x/minggu) mampu meningkatkan ambang kendali trips dari 10 nimfa /daun menjadi 16 nimfa/daun, mampu menekan penggunaan insektisida sebesar 56,25–100%, dan mampu menekan kehilangan hasil panen ubi kentang sebesar 34,98–45,74%. Lecanicillium lecanii sebagai pengendali trips lebih tepat digunakan pada musim kemarau, dan pada saat serangan penyakit rendah, untuk menghindari penggunaan fungisida sistemik yang dapat mematikan cendawan entomopatogen tersebut.KeywordsAmbang kendali; Cendawan entomopatogen; Penyemprotan insektisida; Solanum tuberosum L.; Thrips palmi KarnyAbstractLecanicillium lecanii  is one of entomopathogenic fungus that effective against thrips. The use of the fungus in potato cultivation may increase control threshold of thrips in order to hold environment sustainability. The experiment was aimed to evaluate the control threshold of thrips with add L. lecanii as an biological control agent. The experiment had been conducted in Marga Mekar Village (1,200 m asl.), Pangalengan Sub District, Bandung District, West Java Province. The experiment was arranged in randomized block design with six treatments and each treatment was replicated four times. The treatments tested were (A) control threshold one nymph/leaf + L. lecanii, (B) control threshold six nymphs/leaf + L. lecanii, (C) control threshold 11 nymphs/leaf + L. lecanii, (D) control threshold 16 nymphs/leaf + L. lecanii, (E) insecticide spraying 2x/week, and (F) check, without insecticide and without L. lecanii. Result showed that L. lecanii spraying (1x / week) was able to increase the control threshold of thrips of 10 nymphs/leaf to 16 nymphs/leaf, was able to suppress the use of insecticides by 56.25% to 100%, and was able to suppress the yield loss of potato by 34.98% to 45.74%. Lecanicillum lecanii as a biological control agent of thrips more appropriately used in the dry season, when the disease intensity is low, in order to avoid sistemic fungicide application that able kill the entomopathogenic fungus.
Studi Kualitas Regeneran Phalaenopsis Hasil Kultur In Vitro dari Eksplan Tangkai Infloresen, Tunas Pucuk, dan Empulur (The Quality Study of Phalaenopsis Regenerants from In Vitro Propagation of Inflorescence, Shoot Tip, and Pith Explants) Dewi Pramanik; Herni Shintiavira; Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p13-24

Abstract

Anggrek Phalaenopsis memiliki nilai komersial yang tinggi, karena keindahannya dapat dinikmati sepanjang tahun. Hal tersebut berdampak pada kebutuhan benih tanaman yang semakin meningkat. Salah satu cara penyediaan benih secara massal adalah melalui perbanyakan klonal secara in vitro sehingga perlu dilakukan studi kualitas regeneran hasil perbanyakan klonal untuk menjamin ketersediaan benih dengan kualitas baik. Penelitian bertujuan menguji kualitas regeneran yang dihasilkan dari perbanyakan klonal secara in vitro beberapa varietas Phalaenopsis dengan menggunakan eksplan yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Kebun Percobaan Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) sejak bulan Januari 2014 hingga Mei 2015. Penelitian menggunakan dua faktor, yaitu varietas (Ayu Lestari, Ayu Pratiwi, dan Karindra) dan jenis eksplan (tangkai infloresen, tunas pucuk, dan empulur). Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dan setiap perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukan tidak terjadi interaksi yang nyata antara faktor jenis eksplan dan varietas yang diujikan pada semua tahap percobaan. Respon terbaik diperoleh pada eksplan empulur dengan 42,85% eksplan berhasil membentuk kalus pada minggu ke-8 dan hampir 100% kalus tersebut dapat beregenerasi menjadi tunas pada minggu ke-24 dengan tingkat multiplikasi tunas 1,87 kali. Pada minggu ke-32 terbentuk rata-rata 3,13 daun per planlet dengan 2,47 cm panjang daun, 1,36 cm lebar daun, 1,52 akar per planlet, dan panjang akar per planlet mencapai 1,26 cm. Kerapatan stomata memiliki korelasi negatif dengan tingkat abnormalitas planlet. Planlet dengan kerapatan stomata tertinggi dan abnormalitas yang rendah diperoleh pada var. Karindra dan planlet yang berasal dari eksplan empulur dan tunas pucuk. Setelah 8 minggu tahap aklimatisasi, tingkat keberhasilan hidup tertinggi (92%) diperoleh pada tunas yang berasal dari eksplan empulur. Penelitian membuktikan bahwa perbedaan varietas tidak memiliki pengaruh nyata pada tingkat abnormalitas regeneran dan dari eksplan empulur diperoleh jumlah regeneran tertinggi dengan kualitas baik (tingkat abnormalitas rendah).KeywordsKultur jaringan; Kualitas regeneran; Phalaenopsis; Jenis eksplantAbstractPhalaenopsis orchids have a high commercial value, because of its beauty and it can be enjoyed throughout the year. This condition gives the impact on the increasing demand of the seeds. One of the ways of providing mass seeds is through in vitro clonal propagation. However, it is necessary to study the quality of regenerants of clonal propagation products to ensure the availability of qualified seeds. The aimed of this study was to test the quality of regenerants obtained from in vitro clonal propagation of Phalaenopsis using inflorescence stalk, shoot tips, and pith explants. This research was conducted at Tissue Culture Laboratory, Segunung Experimental Station, Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI) from January 2014 to May 2015. The study used two treatments, varieties (Ayu Lestari, Ayu Pratiwi, and Karindra) and type of explant (inflorescence stalk, shoot tips, and pith). Experiments were prepared using a randomized complete block design with two factors and each treatment was replicated three times. The results showed there were no significant interaction between types of explants and varieties tested in all experiment stages. The best response was obtained using pith explants with 42.85% callus formation in the week eighth and nearly 100% callus can regenerate into shoots at week 24th with the rate of shoot multiplication up to 1.87 times. At week 32th the cultures formed planlets with an average number of leaves of 3.13 and an average size of 2.47 cm x 1.36 cm (length x width) and an average number of roots of 1.52 with average length reached 1.26 cm. Stomatal density has negative correlation with plantlet abnormality rate. Plantlets with the highest stomatal density and low abnormality were obtained in var. Karindra and plantlet derived from explant pith and shoot buds. After 8 weeks of acclimatization stage, the highest survival rate (92%) was obtained on the shoot originating from pith explant. This study proved that varietal differences did not have a significant effect on regenerant abnormalities, and the highest number of regenerant with good quality (low abnormality rate) was obtained from pith explant.
Multiplikasi Tunas dan Induksi Perakaran Pada Perbanyakan Rhododendron radians J.J.Sm (Ericaceae) Secara In Vitro [Shoot Multiplication and Root Induction on In Vitro Propagation of Rhododendron radians J.J.Sm (Ericaceae)] Tri Warseno; Dyan Meiningsasi Siswoyo Putri
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p51-58

Abstract

Rhododendron radians merupakan tanaman hias yang hanya ditemukan di Sulawesi Tengah dan Utara. Perbanyakan secara massal diperlukan untuk komersialisasi tanaman tersebut. Penelitian bertujuan mendapatkan teknik mikropropagasi secara in vitro yang tepat untuk R. radians melalui percobaan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) pada media kultur. Penelitian terdiri atas dua tahap percobaan. Percobaan 1 perlakuan kombinasi ZPT untuk proliferasi tunas disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor, yaitu media (delapan kombinasi media) dengan menggunakan dua konsentrasi IAA (0,1 mg/l dan 1,0 mg/l) dan empat konsentrasi 2iP (0, 6, 7, dan 8 mg/l). Percobaan 2 adalah perlakuan IBA untuk pertumbuhan tunas dan pengakaran menggunakan lima variasi media (M1 = media WPM (kontrol), M2 = media WPM + 0,25 mg/l IBA, M3 = media WPM + 0,5 mg/l IBA, M4 = media WPM + 1 mg/l IBA, M5 = media WPM + 5 mg/l IBA). Hasil penelitian menunjukan bahwa media WPM dengan penambahan 1,0 mg/l IAA dan 7,0 mg/l 2iP merupakan media terbaik untuk induksi tunas pada R. radians, dengan jumlah tunas rata-rata 15,80 + 3,45 cm dan tinggi tunas rata-rata 2,36 + 0,25 cm, sedangkan media terbaik untuk induksi akar adalah media M4 (WPM + 1,0 mg/l IBA), dengan persentase eksplan berakar 63,33% dan panjang akar rata-rata 4,7 mm. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai acuan awal untuk melakukan perbanyakan secara massal R. radians dan diharapkan penelitian lebih lanjut dapat dilakukan sampai dengan tahap aklimatisasi.KeywordsAuksin; Media; Mikropropagasi; Rhododendron radiansAbstractRhododendron radians is an ornamental plant that found only in Sulawesi (Central and North). Commercialization of this species requires mass propagated plant materials. This study aimed to determine the proper technique for R. radians micropropagation in vitro. This study used two stages of treatment i.e (1) treatment of IAA on shoot proliferation R. radians arranged in completely randomized design with one factor (eight medium combination), the concentration of plant growth regulators IAA which consisted of two levels: 0.1 mg/l, and 1 mg/l and concentration of growth regulators 2iP consisting of four levels (0,6, 7, and 8 mg / l); (2) IBA treatment on shoot growth and rooting using five variations of the medium (M1 = WPM (control), M2 = WPM + 0.25 mg/l IBA, M3 = WPM + 0.5 mg/l IBA, M4 = WPM + 1 mg/l IBA; M5 = WPM + 5 mg/l IBA). The results showed that the WPM added with 1 mg/l IAA and 7 mg/l 2iP was the best medium for shoot induction initiated from seed culture, with the average number of shoots 15. 80 ± 3.45 cm and an average shoot height of 2.36 ± 0.25 cm. While the best medium for root induction was M4 (WPM + 1 mg / l IBA), with a percentage of 63.33% rooted explants and the average root length of 4.7 mm. The results of this study can be used as a starting point to conduct mass propagation R. radians.
Penentuan Pilihan Model Kelembagaan untuk Pengembangan Perbenihan Bawang Merah Melalui True Shallot Seed di Jawa Timur (Choice Determination of Institutional model for Seed Development of Shallot through True Shallot Seed System in East Java) Sembiring, Asma; Muharam, Agus; Rosliani, Rini; Setiani, Rima
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p259-268

Abstract

Penggunaan biji true shallot seed (TSS) telah diperkenalkan sebagai salah satu alternatif penyediaan benih bawang merah yang sehat dan berkualitas tinggi yang tersedia dalam jumlah yang cukup bagi petani sepanjang tahun. Penggunaan TSS diharapkan dapat mengatasi persoalan kuantitas dan kualitas bawang merah konsumsi serta perbenihan bawang merah di Indonesia. Pembentukan kelembagaan yang tepat perlu dibangun sejalan dengan pengembangan TSS. Pembentukan kelembagaan yang baik dan kuat dapat menghasilkan teknologi inovatif yang tepat dan menjamin ketersediaan benih TSS dalam jangka panjang. Tujuan penelitian yaitu mengetahui model pilihan kelembagaan stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mendukung pengembangan sistem perbenihan TSS bawang merah di Jawa Timur. Survei dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2016 di Jawa Timur melalui interview kepada 35 responden. Analisis data dilakukan menggunakan konsep Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan program statistik Super Decisions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi kelembagaan yang dipilih oleh responden untuk pengembangan perbenihan bawang merah TSS di Jawa Timur adalah opsi 1. Di opsi 1, Balitsa dan BPTP berperan memproduksi TSS kelas jenis Benih Penjenis (BS) dari umbi varietas bawang merah unggul dan memberikan delegasi legalitas/lisensi kepada BBI/BBU/BBH/SWASTA untuk memproduksi/memperbanyak Benih Umbi kelas benih BS. Berikutnya, Perguruan Tinggi (PT)/BPTP/SWASTA menghasilkan TSS dan umbi benih untuk kelas Benih Dasar (BD). Selanjutnya penangkar terpilih memproduksi TSS dan umbi benih kelas Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR). Benih Sebar ditanam oleh petani untuk memproduksi umbi bawang merah konsumsi. Produksi TSS-BP, benih umbi BP, TSS-BR, dan benih umbi BR diawasi dan didampingi oleh BPTP.KeywordsAnalisis hirarkhi proses (AHP); Benih botani bawang merah; Model kelembagaan; Perbenihan bawang merahAbstractThe use of true shallot seed (TSS) has been promoted as an alternative method to obtain healthy and high quality shallot seed that supposed to be adequately available for farmers along the year. The use of TSS is expected to be able of solving quantity and quality problems of shallot table consumption and shallot seed in Indonesia. A functioning institutional setting should be established in line with the development of TSS. The establisment of good and strong institutional could generate innovative appropriate technologies and ensure the availability of TSS in a long term. The objective of this study was to investigate the stakeholders’ choice of some institutional models to support the development of TSS shallot seed system in East Java. A survey was conducted from March to August 2016 to collect data by interviewing 35 respondents. Data were analysed by employing the Analytical Hierarchy Process (AHP) concept and using Super Decisions statistical program. Results indicates that an institutional setting selected by respondents to support the development of TSS shallot seed system in East Java is described in the first option. The first option suggests that Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) and Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) have the role of producing TSS for Breeder Seed class (BS) from high quality shallot bulbs and providing legality delegation or license to BBI/BBU/BBH (Indonesian government seed institutions)/Private in producing/multiplying seed bulbs of BS class. Afterward, the University/AIAT/Private will produce TSS and seed bulbs for Foundation Seed class (FS). Furthermore, selected shallot seed growers will produce TSS and seed bulbs for Stock Seed class (SS) and Extension Seed class (ES). The ES will be used by farmers to produce shallot bulbs for table consumption. Production of FS-TSS, FS-seed bulbs, ES-TSS, and ES-seed bulbs will be monitored and supervised by AIAT.
Respon dan Seleksi Tanaman Kentang Terhadap Kekeringan (Response and Selection of Potato Plants to Drought) Tri Handayani; nFN Kusmana; Helmi Kurniawan
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p163-174

Abstract

Kekeringan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kentang. Persilangan dengan tujuan toleran kekeringan telah dilakukan dan dilanjutkan dengan seleksi terbatas. Tujuan penelitian untuk mempelajari respon tanaman kentang terhadap kekeringan dan melakukan seleksi klon-klon hasil persilangan untuk sifat toleran kekeringan. Materi yang digunakan adalah 78 nomor hasil seleksi progeni kekeringan tahun 2015. Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara tanaman pada kondisi kekeringan dan pengairan normal di dalam Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, pada tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cekaman kekeringan berpengaruh terhadap karakter pertumbuhan dan hasil. Pada kondisi kekeringan, vigor tanaman menurun dan menunjukkan gejala layu, menguning, serta daun menggulung ke atas. Kekeringan juga menyebabkan penurunan pada diameter batang (41,4%), jumlah batang (6,63%), tinggi tanaman (22,43%), diameter kanopi (18,76%), luas daun (53,7%), jumlah ubi pertanaman (17,54%), berat ubi pertanaman (70,35%), panjang ubi (44,45%) serta diameter ubi (42,85%). Respon tanaman terhadap kekeringan yang lain ditunjukkan oleh peningkatan kadar prolin daun dan klorofil. Seleksi berdasarkan perubahan karakter morfologi, pertumbuhan vegetatif serta produksi ubi, diperoleh 26 genotipe yang berpotensi memiliki sifat toleran terhadap kekeringan. Genotipe terseleksi tersebut memiliki kisaran jumlah ubi per tanaman 1,67 – 12,25, berat ubi per tanaman 26,45 – 80,775 g, panjang ubi 2,05 – 3,4 cm serta diameter ubi 1,43 – 3,06 cm. Hasil dari seleksi kekeringan ini akan dilanjutkan ke seleksi di lapangan untuk mendapatkan klon unggul kentang toleran terhadap kekeringan. Ketersediaan klon kentang toleran kekeringan dapat menjawab ancaman menurunnya produksi kentang akibat perubahan iklim.KeywordsSolanum tuberosum L.; Produksi ubi; Prolin; Toleran kekeringan   AbstractDrought is very influential towards the growth and production of the potato crop. A crossing to drought-tolerant genotypes was conducted and continued with a progeny selection. The aims of this study were to study the response of the potato plant to drought stress and to select potato clones resulted from conventional crossing for drought tolerant. The genetic materials tested were 78 progenies resulted from drought selection in 2015. The study was conducted by comparing plants in drought and normal irrigation conditions in the Greenhouse of the Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, in 2016. Results showed that drought stress affected potato growth as well as tuber yield. On drought conditions, potato plants tend to be poor of plant vigor, showed wilting symptom, yellowing leaves and roll up of the leaves. Drought stress caused the decline of stem diameter of (41.4%), main stem number (6.63%), plant height (22.43%), canopy diameter  (18.76%), leaf area  (53.7%), per plant tuber number (17.54%), per plant tuber weight (70.35%), tuber length (44.45%) and tuber diameter (42.85%). Another response to drought was the increasing level of proline and chlorophyll in leaf. Based on morphological character changes, vegetative growth and tuber production, 26 genotypes demonstrated potential drought tolerance. The selected genotypes will be used to the next selection in the field to get stable drought-tolerant potato clones. The availability of drought-tolerant potato clones can respond to the threat of reduced potato production due to climate change. 
Back Matter Djatnika, I
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p%p

Abstract

Pengaruh Asam Salisilat dan K2HPO4 Pada Ketahanan Tanaman Kentang Terhadap Penyakit Busuk Daun di Musim Penghujan (The Effect of Salicylic Acid and K2HPO4 on the Resistance of Potato Plant to Late Blight in Rainy Season) Rasiska Tarigan; Susilawati Barus; nFN Kuswandi
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p209-218

Abstract

Kentang merupakan tanaman pangan bernilai ekonomi tinggi yang rentan terhadap serangan busuk daun (Phytophthora infestans) pada musim penghujan. Penggunaan pestisida sintetik hasilnya belum memuaskan sehingga perlu dilakukan induksi ketahanan terhadap serangan penyakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh  pemberian asam salisilat dan K2HPO4 dalam meningkatkan ketahanan tanaman kentang pada musim penghujan terhadap penyakit busuk daun. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi pada ketinggian tempat 1.340 m dpl. pada bulan September sampai dengan Desember 2015. Tata letak percobaan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dua faktor dengan tiga ulangan dan 18 kombinasi perlakuan. Faktor pertama adalah dosis asam salisilat  (a0 = 0, a1 = 0,1g/L, a2 = 0,2 g/L, a3 = 0,3 g/L, a4 = 0,4 g/L, dan a5 = 0,2 g/L propineb). Faktor kedua adalah dosis K­2HPO4 (k0  =  kontrol, k1 = 0,1 g/L, k2 = 0,2 g/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan 0,1 g/L asam salisilat dan  0,1 g/L K2HPO4 merupakan perlakuan terbaik menurunkan intensitas penyakit P. infestans dan kerusakan umbi kentang. Intensitas penyakit sampai 9 minggu setelah aplikasi hanya 7,46%, sedangkan kerusakan umbi hanya sebesar 0,35%. Jumlah umbi dan persentase kelas umbi per tanaman hanya dipengaruhi oleh K2HPO4, sedangkan bobot umbi tidak dipengaruhi kedua perlakuan. KeywordsKentang; Asam salisilat; K­2HPO4; Ketahanan; Musim penghujanAbstractPotatoes are high economic value crops that are vulnerable to the attack of late blight (Phytophthora infestans) in the rainy season. The use of synthetic pesticides has not been satisfactory, so that should be induced for the disease resistance. The objective of the research was to determine the giving effect of salicylic acid and K2HPO4 in improving the resilience of the potato crop in the rainy season to late blight. The study was conducted at Berastagi Experimental Garden in altitude 1,340 meters above sea level, from September to December 2015. The layout of the trial is based on two factor randomized complete block design with three replications and 18 combination treatments. The first factor is the dose of salicylic acid (A0 = 0, A1 = 0,1g/L, A2 = 0,2 g/L, A3 = 0,3 g/L, A4 = 0,4 g/L and A5 = 0,2 g/L propineb), the second factor is the dose K 2HPO4 (K0 = control, K1 = 0.1 g/L, K2 = 0.2 g / L). The results showed that the combination treatment of 0.1 g/L of salicylic acid and 0,1 g/L K2HPO4 is the best treatment because it can reduce the intensity of the Phytophthora infestans disease and potato tuber damage. The disease intensity up to 9 weeks after application only 7.46%, while the tuber damage only 0.35%. The number and percentage of class tubers per plant only affected by K2HPO4, while the tuber weight was not influenced both treatments.
Karakterisasi dan Keragaan Pertumbuhan Tiga Klon Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Lokal (Characterization and Growth Performance of Three Clone of Local Hot Pepper) Agustina Erlinda Marpaung; Susilawati Barus; Darkam Musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p33-44

Abstract

Cabai merah merupakan komoditas sayuran utama yang memiliki nilai permintaan tinggi di masyarakat Indonesia sehingga ketersediaannya harus terus dilakukan termasuk upaya peningkatan produksi. Penggunaan varietas unggul spesifik lokasi memberi kontribusi cukup besar terhadap peningkatan produksi sayuran secara nasional. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan keragaan pertumbuhan tiga varietas cabai merah lokal spesifik lokasi termasuk melihat keunggulannya dibandingkan dengan cabai merah varietas lainnya yang sudah beredar di pasar. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Berastagi, Kecamatan Dolat Rayat, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl dan jenis tanah Andisol. Kegiatan dilakukan sejak bulan Juni 2015 sampai dengan Maret 2016. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan lima kali ulangan. Kegiatan yang dilakukan meliputi karakterisasi dan keragaan pertumbuhan tanaman tiga cabai merah calon varietas lokal (Batang Ungu, Batang Ungu-Hijau, Batang Hijau) dan pembanding (Kencana dan Rampati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga cabai merah varietas lokal memiliki perbedaan pada umur masa pertumbuhan. Pertumbuhan vegetatif cabai merah Batang Ungu dan Batang Ungu-Hijau berlangsung sampai umur 9 bulan setelah tanam, sedangkan cabai merah Batang Hijau hanya sampai umur 7 BST. Penampilan secara visual tanaman cabai merah Batang Ungu, Batang Ungu-Hijau, dan Rampati lebih tinggi, sedangkan cabai merah Batang Hijau lebih rendah namun diameter kanopi lebih lebar, sedangkan cabai merah Kencana lebih sempit. Waktu mulai berproduksi cabai merah Batang Ungu dan Batang Ungu-Hijau 1 bulan lebih lama dibandingkan cabai merah lainnya. Hasil per tanaman secara umum menunjukkan bahwa cabai merah Batang Ungu lebih tinggi dibandingkan dengan batang Ungu-Hijau, Batang Hijau, Rampati, dan Kencana, di mana total hasil per tanaman secara berurutan masing-masing adalah 1.183,15 g; 1.036,56 g; 700,55 g; 809,88 g ,dan 365,12 g. Hasil uji preferensi terhadap tanaman cabai merah di lapangan memperlihatkan bahwa cabai merah Batang Ungu dan Batang Ungu-Hijau memiliki tampilan keseluruhan dan bentuk/warna daun yang sangat bagus, sedangkan untuk kriteria tinggi tanaman, luas kanopi/tajuk, dan jumlah cabang tergolong bagus. Cabai merah Batang Hijau untuk setiap kriteria tergolong baik. Hasil uji preferensi terhadap buah cabai merah memperlihatkan bahwa cabai merah Batang Ungu, Batang Ungu-Hijau, Batang Hijau, dan varietas Kencana tergolong baik dilihat dari tampilan keseluruhan, yaitu ukuran, warna, bentuk, dan tekstur kulit buah.KeywordsCapsicum annum L.; Karakterisasi; Pertumbuhan; Hasil; Spesifik lokasiAbstractHot pepper is the main vegetable crops that have the highest demand value in Indonesian society, so that their availability should be continue to be made, including efforts to increase production. Using the best varieties specific location is giving a substantial contribution to the improvement of the national vegetable production. The research aims to identify characterize and performance of the growth of three varieties of local hot pepper specific locations including recognition its superiority compared to other varieties of hot pepper that have been released and are available in the market. The research conducted at Berastagi experimental farm, District Dolat Rayat, Karo, North Sumatera, with a height of 1,340 m above sea level (asl.) and the type of soil is Andisol, the activities conducted in June 2015 until March 2016. The design used was a randomized block design, consist of six treatments with five replications. The activities conducted on characterization and growth performance of three hot pepper plant local varieties (Purple Stems, Purple-Green Stems, Green Stem) and plant comparison (Rampati and Kencana). The result showed that three hot pepper local varieties differ in the age of infancy. Hot pepper vegetative growth of Purple Stems and Purple-Green Stems lasted until 9 month after planting (MAP), while the hot pepper Green Stem, growth only until the age of 7 MAP. Visual performance of hot pepper with Purple Stem, Purple-Green Stems, and Rampati variety have higher growth, the hot pepper Green Stems lower but the canopy diameter is wider, while the Kencana variety is narrower. The hot pepper Stems Purple And Purple-Green Stems harvest beginning one month longer than another. Generally, yielding per plant of hot pepper Purple Stem higher than the Purple-Green Stems, Green Stem, Rampati, and Kencana, where the total yield of each was 1,183.15 g; 1,036.56 g; 700.55 g; 809.88 g; and 365.12 g. The result of the preference for hot pepper plants in the field shows that hot pepper Stems Purple and Purple-Green Stems have the all performance and shape/color of the leaves is very good, while the criteria for plant height, diameter canopy, and the number of branches is quite good. Hot pepper Green Stem for each criterion is quite good. The result of the preference for hot peppers shows that hot pepper Stem Purple, Purple-Green Stems, Green Stems, and Kencana varieties quite good views from the overall appearance, size, color, shape, and texture of the skin of the fruit.
Efektivitas Pupuk Hayati Mikoriza Berbasis Azolla (Mikola) Pada Tanaman Bawang Merah (Effectiveness Of Biofertilizer Mycorrhiza Based Azolla (Mikola) On Shallot) Eny Rokhminarsi; Darini Sri Utami; nFN Begananda
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p45-52

Abstract

Bawang merah merupakan jenis sayuran umbi yang potensial secara ekonomi. Produksi dan harganya yang fluktuatif menjadikan komoditas ini perlu mendapat perhatian yang serius, khususnya untuk pengembangan budidayanya ke lahan marjinal yang masih luas di Indonesia. Tujuan penelitian adalah menerapkan bioteknologi pupuk hayati mikoriza spesifik lokasi lahan marjinal berbasis azolla (Mikola) dan pengurangan dosis pupuk anorganik pada budidaya tanaman bawang merah. Metode penelitian berupa percobaan pot di rumah plastik menggunakan rancangan Central Composit Second Order Design dengan 2 faktor. Faktor pertama, dosis pupuk Mikola yaitu 6, 12, 18, 24, 30 g tanaman-1 dan faktor kedua adalah pengurangan dosis pupuk anorganik Urea, ZA, SP 36 dan KCl yaitu 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% dari dosis anjuran. Analisis dilakukan dengan metode Respon Surface Methodology (RSM) dengan model persamaan matematika : Yi= β0X0 + β1X1 + β2X2 + β11X1² 1+ β22X2² +β12X1X2 + εij dengan bantuan program minitab16. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk Mikola pada budidaya tanaman bawang merah di pot dengan dosis 18 gram per tanaman dapat mengurangi pemakaian pupuk anorganik hingga 40% dari dosis rekomendasi dan meningkatkan hasil hingga 15%.KeywordsMikoriza, azolla, pupuk hayati, bawang merah, sayuranAbstractShallots is a kind of tuber vegetable economic potential. Production and the price fluctuating commodity makes it necessary for serious concer, particularly for the development of cultivation into marginal land that is still widespread in Indonesia. The objective of research was to apply of biofertilizer mycorrhizal marginal land of azolla based (Mikola) and dose reduction of inorganic fertilizers in the cultivation of shallot. The research was pot experiment using the Central Composite Second Order Design with 2 factors. The factors are the dose of Mikola namely 6, 12, 18, 24, 30 g plant-1 and reduction of Urea, ZA, SP 36, KCl i.e. 20%, 40%, 60%, 80% and 100% of recommended doses. The analysis using Response Surface Methodology, a mathematical equation: Yi= β0X0 + β1X1 + β2X2 + β11X1² 1+ β22X2² +β12X1X2 + εij. The conclusion showed that the application of Mikola fertilizers on the shallot planting with 18 grams per plant can eliminate the use of inorganic fertilizers up to 40% of the dose recommendation and increase the yield up to 15%.

Page 82 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue