cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri merupakan publikasi ilmiah primer yang memuat hasil penelitian primer komoditas perkebunan yang belum dimuat pada media apapun, diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, DIPA 2011 terbit empat kali setahun.
Arjuna Subject : -
Articles 552 Documents
PENGARUH PUPUK NPK TERHADAP HASIL DAN MUTU TEMBAKAU MADURA VARIETAS PRANCAK-95 / Effect of NPK Fertilizer on Yield and Quality of Madura Tobacco var. Prancak-95 Roni Syaputra; Djajadi Djajadi
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v24n2.2018.47-55

Abstract

Most of tobacco farmers in Madura cultivate tobacco var. Prancak-95, yet the response of the variety to NPK fertilizer had not been identified. The purpose of this study was to examine the effect of NPK fertilizer on growth, yield and quality of madura tobacco var. Prancak-95. The study was conducted on silty loam soil at Lecen-lecen village, Pakong sub district, Pamekasan District, from April to December 2015. Tobacco was planted on early of June 2015 with double row spacing of (130+35)/2 cm x 40 cm. The treatments were arranged using Randomized Block Design with 3 replications. The treatments were 9 combinations of three level of N fertilizer (40, 60, and 80 kg N/ha) and three level of K fertilizer (19, 60.5 and 102 kg K2O/ha), and farmer’s fertilizer package (40 kg N + 36 P + 25 kg K+ 5 tons manure per hectare) as a control treatments. The results showed that yield and quality of madura tobacco var. Prancak-95 was increased when the doses of N and K fertilizers were increased. NPK fertilizer with dosage of 60 kg N + 45 kg P2O5 + 102 kg K2O + 5 tons manure per hectare was enough to produce sliced dried leaf as much 1,168 kg/ha and crop index value of 110.1.Keywords: Nicotiana tabacum L., NPK fertilizers, madura tobacco AbstrakPenanaman tembakau Varietas Prancak-95 telah berkembang luas di Madura, tetapi responnya terhadap pemupukan NPK belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh peningkatan dosis NPK terhadap pertumbuhan, hasil dan mutu tembakau madura varietas Prancak-95. Penelitian dilakukan pada tanah dengan tekstur lempung berdebu di Desa Lecen-lecen, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan dari bulan April hingga Desember 2015. Tanam dilaksanakan pada awal Juni 2015 dengan jarak tanam ganda (130+35)/2 cm x 40 cm. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dan diulang 3 kali. Perlakuan terdiri dari 9 kombinasi paket pupuk dengan 3 tingkat dosis N : 40, 60, dan 80 kg N/ha dan 3 tingkat dosis K : 19, 60,5 dan 102 kg K2O/ha, dengan kontrol paket pemupukan petani. Separuh dosis N sesuai perlakuan diberikan pada tanaman berumur 7 HST, sedangkan sisanya diaplikasikan saat tanaman berumur 21 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi dan mutu tembakau madura varietas Prancak-95 meningkat bila dosis pupuk N dan K ditingkatkan. Dosis pupuk NPK untuk tembakau madura Prancak-95 adalah 60 kg N + 45 kg P2O5 + 102 kg K2O + 5 ton pupuk kandang per hektar. Paket pupuk tersebut dapat menghasilkan tembakau rajangan kering 1.168 kg/ha dengan nilai indeks tanaman 110,1.Kata kunci: Nicotiana tabacum L., pupuk NPK, tembakau madura
POTENSI PRODUKSI NIRA DAN GULA TIGA AKSESI KELAPA GENJAH / Potential Sap and Coconut Sugar Production of Three Accession Dwarf Coconut Meity Aneke Tulalo; Sukmawati Mawardi
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v24n2.2018.87-92

Abstract

The study was conducted to determine the potential of three Dwarf Coconut accessions in the production of sap and coconut sugar. The research was carried out in the Coconut germplasm collections of Indonesian Palm Crop Research Institute in Manado on August to November 2015 using the three Dwarf Coconut accession  ie Waingapu Red Dwarf (WRD), Sweet Green Dwarf (SGD) and Raja Brown Dwarf (RBD). Each accession consisting of six palms, and the  three tapped bunches from each palm were observed. Parameters observed were production of sap/bunches/day, length of tapping/bunches, length of bunches and bunches circumference, pH of sap, brix, and sugar yield. The results showed that coconut WRD, SGD and RBD can produce sap. Potential production of sap varied between accessions. The average production of sap /bunches /day of WRD (1006.57 ml) was higher than that in RBD (627.81 ml) and SGD (740.79 ml). The average length of taping/bunches was 22-23 days, pH 5.5-5,6 and sugar content (brix) 14,47-16,63%. The sap produced by the three coconut accessions can be processed into sugar. The yield of coconut sugar in the form of crystal sugar was 14.25-16.58%.Keywords: potential, Dwarf, coconut, sap, sugar AbstrakPenelitian dilakukan untuk mengetahui potensi tiga aksesi koleksi kelapa Genjah dalam produksi nira dan gula kelapa. Penelitian ini dilakukan di kebun koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Palma di Manado pada bulan Agustus sampai dengan November 2015 menggunakan tiga aksesi kelapa Genjah yaitu Genjah Merah Waingapu (GMW), Genjah Hijau Manis (GHM) dan Genjah Raja (GRA). Masing-masing aksesi diamati enam pohon dan setiap pohon diamati tiga tandan yang disadap. Parameter yang diamati yaitu produksi nira/tandan/hari, lama penyadapan/tandan, panjang tandan dan lingkar tandan yang disadap, pH nira, kadar gula (brix) dan rendemen gula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelapa GHM, GMW dan GRA dapat memproduksi nira. Potensi produksi nira beragam antar aksesi. Rata-rata produksi nira/tandan/hari GMW (1006,57 ml) lebih tinggi dari pada GRA (627,81 ml) dan GHM (740,79 ml). Rata-rata lama penyadapan nira/tandan 22-23 hari, pH nira 5,5-5,6 dan kadar gula (brix) 14,47-16,63%. Nira yang dihasilkan tiga aksesi kelapa Genjah tersebut dapat diolah menjadi gula. Nilai rendemen gula kelapa dalam bentuk kristal/semut 14,25-16,58%.Kata kunci: potensi, kelapa, Genjah, nira, gula
INDUKSI MUTASI DENGAN KOLKISIN DAN SELEKSI IN VITRO TEBU TOLERAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN POLYETHYLENE GLYCOL / Induced Mutation using Colchicine and In vitro Selection using Polyethylene glycol for Drought-Tolerant Sugarcane RR. Sri Hartati; Sri Suhesti; Rossa Yunita; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v24n2.2018.93-104

Abstract

Creating of varieties can be done through mutation breeding at the cellular level, combined with in vitro selection. This research was conducted at the UPBUP from January until December 2017 to find out colchicine concentration and treatment duration which effectively produced tolerant mutant through in vitro drought selection using polyethylene glycol (PEG). The study consists of two stages. The first was mutation induction on sugarcane calli using colchicine, which was arranged factorially with a completely randomized environment design. The first factor was varieties (BL, PS 862, and PSJT 941), the second was colchicine concentration (0,01,0,0 and 0,05%), and the third was colchicine duration treatment (1 and 3 days). Observations were made on the percentage of callus survival. The second stage was in vitro selection of droughts using a PEG 6000, which was arranged factorially with a complete randomized design. The first factor was the concentration of colchicine (0, 0.01, 0.03, and 0.05%), the second was the colchicine duration treatment (1 and 3 days), and the third was PEG concentration (0, 10 and 20%). Selection was done for 4 weeks. Percentage of live callus, regenerated callus, number and height of shoots were observed as a selected criteria. Colchicine treatment in the 0.01 - 0.05% for 3 days on PS 862 and 0.01 - 0.03% for 3 days on PSJT 941 callus resulted mutant passing in vitro drought selection at 10% PEG concentration level. Mutant selection will be continued through in vivo. The optimum mutation treatment for BL has not been obtained.Keywords: chemical mutagen, colchicine, mutation, selection agent, PEG 6000 AbstrakPerakitan varietas tebu toleran kekeringan dapat dilakukan melalui pemuliaan mutasi pada tingkat sel, dikombinasikan dengan seleksi in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Unit Pengelola Benih Unggul Pertanian (UPBUP), Bogor, mulai Januari sampai Desember 2017 dengan tujuan mengetahui konsentrasi dan lama perlakuan mutagen kimia kolkisin, yang dapat menghasilkan mutan tebu yang lolos seleksi kekeringan secara in vitro menggunakan agen penyeleksi polyethylen glycol (PEG). Penelitian terdiri dari 2 tahap. Tahap pertama adalah induksi mutasi pada kalus tebu menggunakan mutagen kimia kolkisin. Penelitian disusun secara faktorial dengan rancangan lingkungan Acak Lengkap. Faktor pertama varietas tebu (BL, PS 862, dan PSJT 941), faktor kedua konsentrasi kolkisin (0, 0,01, 0,03, dan 0,05%), dan faktor ketiga lama perlakuan kolkisin (1 dan 3 hari). Pengamatan dilakukan terhadap persentase kalus hidup. Tahap kedua adalah seleksi kekeringan secara in vitro menggunakan PEG 6000. Penelitian disusun secara faktorial dengan rancangan Acak Lengkap. Faktor pertama konsentrasi kolkisin (0; 0,01; 0,03; dan 0,05%), faktor kedua lama perlakuan kolkisin (1 dan 3 hari), dan faktor ketiga konsentrasi PEG (0; 10; dan 20%). Seleksi dilakukan selama 4 minggu. Persentase kalus hidup, kalus yang berregerenerasi, jumlah dan tinggi tunas, diamati sebagai kriteria kalus mutan lolos seleksi. Perlakuan kolkisin pada kisaran konsentrasi 0,01 – 0,05% selama 3 hari pada kalus PS 862 dan 0,01 – 0,03% selama 3 hari pada PSJT 941 dapat menginduksi kalus mutan yang lolos seleksi kekeringan in vitro pada tingkat konsentrasi PEG 10%. Seleksi mutan akan dilanjutkan secara in vivo. Perlakuan mutasi yang optimum untuk BL belum diperoleh.Kata kunci: mutagen kimia, kolkisin, mutasi, agen penyeleksi, PEG 6000
KERAGAMAN MORFOFISIOLOGI TANAMAN KELAPA SAWIT DI LAHAN GAMBUT / Morphophysiology Performances of Oil Palm on Peat Land . MARLINA; MERY HASMEDA; RENIH HAYATI; DWI PUTRO PRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v23n2.2017.98-104

Abstract

Oil palm plant (Elaeis guineensis Jacq.) has been extensively cultivated on peat land. The aim of this research was to evaluate morpho-physiology and yield of six years old SJ2 variety. The research was conducted on 2,5 until 4 metres depth, hemiks and in land peat at Muara Enim District, South Sumatera, from May 2012 –January 2013. The design of research was on Randomized Block Designed, with one treatment. The treatment was the trunk apperiance, base on slope degrees between the trunk and soil surface, and 2 replications. The trunk appearances based on degree of slope between the trunk and soil surface, composed of: upright (900), moderate slope (600 ≤ angel < 900), high slope (leaning) (450 ≤ angel <600), and lay down (toppling)(00). The result showed the upright and moderate slope plants had narrow leaflets, short and few frond, low LAI (2,53 and; 2,73) and high primary root population density. The leaned and the toppled plants had broad leaflets; high LAI (6,15 and; 4,33); high root surface area density of secondary root; high root dry weight and low primary root population density. The upright plants had better growth quality than the leaned and toppled plants, with low in leaf Al concentration 105,05 ppm and leaf N : P ratio 13,95 and high yield 2,43 kg FFB /plant /harvest on the first year.Keywords: Elaeis guineensis Jacq., morpho-physiology, peat land, performance. AbstrakTanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) sebagian besar ditanam di lahan gambut. Tujuan penelitian mengevaluasi morfo-fisiologi pertumbuhan dan hasil berdasarkan keragaan tanaman kelapa sawit varietas SJ2 umur 6 tahun. Penelitian dilakukan di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada lahan gambut dengan kedalaman antara 2,5 sampai 4 meter, hemiks dan in land pada Mei 2012 sampai Januari tahun 2013. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok, satu perlakuan. Perlakuannya adalah ketegakan tanaman kelapa sawit var. SJ2 umur 6 tahun berdasarkan nilai 0 sudut yang terbentuk antara batang dengan permukaan gambut, dengan ulangan sebanyak 2 kali. Perlakuan perbedaan kenampakan tegak batang, yaitu: tegak (900 ), agak miring (600 ≤ sudut < 900 ), sangat miring (450 ≤ sudut < 6 0 ), dan roboh (00 ). Hasil menunjukkan bahwa tanaman dengan keragaan tegak dan agak miring memiliki anak daun sempit, pelepah pendek dan sedikit dengan ILD rendah 2,53 dan 2,73, serta densitas populasi akar primer tinggi. Tanaman yang sangat miring dan rebah memiliki anak daun luas; ILD tinggi 6,15 dan 4,33; densitas luas area permukaan akar sekunder dan bobot kering populasi akar tinggi, tetapi densitas populasi akar primer rendah. Tanaman dengan keragaan yang tegak lebih mempunyai kualitas pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding yang sangat miring maupun rebah, dengan konsentrasi Al daun 105,05 ppm maupun rasio N : P daun 13,95 yang rendah. Hasil TBS tertinggi 2,43 kg/tanaman/panen di tahun pertama pada tanaman dengan keragaan tegak.Kata kunci: Elaeis guineensis Jacq., keragaan, lahan gambut, morfo-fisiologi.
PEMANFAATAN LIMBAH KOMODITAS PERKEBUNAN UNTUK PEMBUATAN ASAP CAIR / Utilization of Plantation Commodities Waste for Liquid Smoke Sarwendah, Mamik; Feriadi, Feriadi; Wahyuni, Tri; Arisanti, Tiffani Nindya
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.22-30

Abstract

Liquid smoke is the result of condensation of smoke from the pyrolysis process of biomass containing elements of lignin and cellulose. The chemical and physical components of liquid smoke were determined by the raw materials used. The purpose of this study was to determine the characteristics of liquid smoke from different plantation wastes. The raw material used consists of coconut shells, palm shells, and sawdust. Coconut shells were obtained from coconut milk traders in the Pangkal Pinang market. Palm oil shells were taken from palm oil mill waste. Sawdust was a waste of wood craftsmen in Pangkalpinang. Liquid smoke was produced by pyrolysis using a simple tool consisting of a plate with the main components of a combustion tube, a smoke conduit pipe, and a condensing tube. This study used a randomized block design with five replications. The results showed the highest yield of liquid smoke was obtained from coconut shell compared to palm shell liquid and sawdust liquid smoke. Liquid smoke from coconut shel had lower pH and water content than that from oil palm shell and sawdust. The phenol content of coconut shell liquid smoke was 19.45 mg/ml, sawdust liquid smoke 8.24 mg/ml and oil palm shell liquid smoke 19.54 mg/ml. The acid content of coconut shell liquid smoke (7.44%) was higher than that of oil palm shell liquid smoke (5.70%) and sawdust (1.36%).Keywords: phenol, pyrolysis, coconut shell, oil palm shell AbstrakAsap cair merupakan hasil kondensasi asap dari proses pirolisis biomassa yang mengandung unsur lignin dan selulosa. Komponen kimia dan fisika asap cair ditentukan oleh bahan baku yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik asap cair dari limbah komoditas perkebunan yang berbeda. Bahan baku yang digunakan terdiri dari tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Tempurung kelapa diperoleh dari pedagang santan di pasar Pangkal Pinang. Cangkang kelapa sawit diambil dari limbah pabrik kelapa sawit. Serbuk gergaji  merupakan limbah pengrajin kayu yang ada di Pangkalpinang.  Pembuatan asap cair dilakukan dengan pirolisis menggunakan alat sederhana yang tediri dari plat dengan komponen utama tabung pembakaran, pipa penyalur asap,  dan tabung kondensasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan rendemen asap cair dari tempurung kelapa paling tinggi dibandingkan dengan asap cair cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Asap cair tempurung kelapa mempunyai pH dan kadar air yang lebih rendah daripada asap cair cangkang kelapa sawit dan serbuk gergaji. Kandungan fenol asap cair tempurung kelapa 19,45 mg/ml, asap cair serbuk gergaji 8,24 mg/ml dan asap cair cangkang kelapa sawit 19,54 mg/ml. Kandungan  asam asap cair tempurung kelapa (7,44%) lebih tinggi  daripada asap cair cangkang kelapa sawit (5,70 %) dan serbuk gergaji (1,36 %).Kata kunci: fenol, pirolisis, tempurung kelapa, cangkang kelapa sawit
PEMBENTUKAN PLANLET MUTAN TEBU TOLERAN NATRIUM KLORIDA DENGAN MUTASI DAN SELEKSI IN VITRO / Mutant Planlet Formation of Sugarcane Tolerant Sodium Chloride Through In Vitro Selection and Mutation Rossa Yunita; RR. Sri Hartati; Sri Suhesti; Syafaruddin Syafaruddin
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.37-44

Abstract

The needs of sugarcane continue to increase so extensification of farming is needed to meet the demand. However, the available land is the sub-optimal land such as saline land. For this reason, salinity tolerant varieties are needed. To used create sugarcane varieties that are tolerant to salinity stress induction mutation technology using gamma rays combined with in vitro selection using NaCl can be used. The purpose of this study was to obtain sugarcane mutant planlets which were tolerant to the salinity resulted from the induction mutations and in vitro selection. The plant material used in this study were PS862 and PSJT941 sugarcane varieties. The environmental design used in this study was a completely randomized design. This study consisted of four main stages of activity namely (1) mutation induction using gamma ray irradiation (5, 10, 15 20, 25.30 and 35 Gy) and in vitro selection on media containing NaCl; (2) bud regeneration in MS medium + BA 3 mg / l + Zeatin 0.3 mg / l + Proline 100 mg / l for sugarcane callus PS862 and MS varieties + BA 3 mg / l + Zeatin 0.1 mg / l + Proline 100 mg / l for sugarcane callus PSJT941 and (3) root induction on MS + IBA 1 mg / l. The results of this study were 122 mutant plantlets originating from the PS862 variety and 66 mutant planlets originating from PSJT941 which were tolerant to NaCl salt stress. The mutants obtained were salinity tolerant because they were able to grow on media containing NaCl. To produce a population that is salinity tolerant, it is necessary to test it in a greenhouse and in the field that is gripped by salinity.Keywords : Salt stress, iradiation, PS862, PSJT941, Saccharum sp AbstrakKebutuhan komoditas tebu terus meningkat, sehingga diperlukan ekstensifikasi untuk memenuhinya dapat dilakukan dengan cara ekstensifikasi. Namun demikian, lahan yang tersedia adalah lahan sub optimal seperti lahan salin, untuk itu diperlukan varietas toleran salinitas.  Untuk merakit varietas tebu yang toleran terhadap cekaman salinitas dapat mengunakan teknologi mutasi induksi dengan menggunakan sinar gamma yang dikombinasikan dengan seleksi in vitro, Sedangkan untuk menyeleksi kalus secara in vitro digunakan NaCl. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan   planlet-planlet mutan tebu toleran salinitas hasil mutasi induksi dan seleksi in vitro. Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah kalus tebu varietas PS862 dan PSJT941. Rancangan lingkungan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak lengkap.  Penelitian ini yang  terdiri  atas empat tahap  kegiatan utama yaitu (1) induksi mutasi dengan menggunakan iradisi sinar gamma  (5, 10, 15 20, 25,30 dan 35 Gy) dan seleksi in vitro pada media yang mengandung NaCl;  (2) regenerasi tunas pada media MS + BA 3 mg/l + Zeatin 0,3 mg/l + Prolin 100 mg/l untuk kalus tebu varietas PS862  dan MS + BA 3 mg/l + Zeatin 0,1 mg/l + Prolin 100 mg/l untuk kalus tebu PSJT941dan (3) induksi akar pada media MS + IBA 1 mg/l. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah  122  planlet mutan  yang berasal dari varietas PS862 dan 66 planlet mutan yang berasal dari PSJT941 yang toleran cekaman garam NaCl. Mutan yang diperoleh memiliki sifat toleran salinitas karena mampu tumbuh pada media yang mengadung NaCl.  Untuk menghasilkan populasi yang toleran salinitas perlu dilakukan pengujian di rumah kaca dan di lapang yang tercekam salinitas.Kata Kunci :  Cekaman garam, iradiasi, PS862, PSJT941, Saccharum sp.
PERTUMBUHAN BENIH KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) PADA MEDIA TANAM KOMBINASI ANTARA GAMBUT, TANAH LAPISAN ATAS DAN ARANG SEKAM PADI DI PEMBIBITAN AWAL/The Growth of Oil Palm Seeds (Elaeis guineensis Jacq.) on Combinated Media of Peat, Topsoil an Marlin Sefrila; Lucy Robiartini B.; Astuti Kurnianingsih; Ilham Setiawan S.
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.31-36

Abstract

Growth medium is very important to produce good quality of seedling. The use of different growing media would give a different influence on plant colonization, as each medium type has different nutrient content.  The purpose of the study was to evaluate the growth of oil palm seedlings in a variety of growing media composition in pre-nursery. The research was carried out in smallholder estate of Keramasan Karyajaya Village, Kertapati Sub district of South Sumatra from September 2017 until December 2017. The design used was completely randomized design with growing media (M) as treatments: M0 (topsoil/controls), M1 (peat), M2 (topsoil+rice husk charcoal), M3 (peat + rice husk charcoal), M4 (topsoil+peat+rice husk charcoal). The observed variables were plant height number of leaves, greenness of leaves, and the number of survival seeds. The results of this study showed that growth media significantly affected plant height and the greenness of leaves. The percentage of oil palm seeds growing on peat media increase about 13% compared to the top soil medium. So, peat moss media can be used as an alternative media to replace the top soil media.Key words: topsoil, peat, rice husk charcoal, oil palm, pre-nursery AbstrakMedia pembibitan sangat penting dalam menghasilkan bibit yang berkualitas baik. Penggunaan media tanam yang berbeda-beda diduga akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman, karena setiap jenis media tanam memiliki kandungan unsur hara yang berbeda.  Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pertumbuhan benih kelapa sawit pada berbagai komposisi media tanam di pembibitan awal. Penelitian dilaksanakan di perkebunan rakyat Desa Keramasan Karyajaya, Kecamatan Kertapati, Sumatera Selatan dari bulan September 2017 sampai Desember 2017. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan media tanam (M): M0 (Tanah lapisan atas/kontrol), M1 (Gambut), M2 (Tanah lapisan atas+arang sekam padi), M3 (Gambut+arang sekam padi), M4 (Tanah lapisan atas+gambut+arang sekam padi). Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, tingkat kehijauan daun, dan jumlah benih yang hidup.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan media tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan tingkat kehijauan. Persentase tumbuh benih kelapa sawit pada media gambut naik sekitar 13% jika dibandingkan dengan media tanah lapisan atas, sehingga media gambut dapat digunakan sebagi media alternatif untuk menggantikan media tanah lapisan atas.Kata kunci: Tanah lapisan atas, gambut, arang sekam padi, kelapa sawit, pembibitan awal
PERBANDINGAN UJI TETRAZOLIUM DAN RADICLE EMERGENCE DALAM MENDUGA VIABILITAS BENIH KOPI ARABIKA (Coffea arabica L.) / The Comparison of Tetrazolium and Radicle Emergence Test to Estimate the Viability of Arabica Coffee (Coffea arabica L.) Seeds Septyan Adi Pramana; Bambang Pujiasmanto; Amalia Tetrani Sakya
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.1-10

Abstract

Development of seed testing methods needs to be conducted in order to obtain fast, precise and applicable result in the field. The objective of this study was to compare the two rapid test methods of Arabica coffee seed viability, the tetrazolium and radicle emergence tests. The experiment was conducted at Quality Seed Testing Laboratory, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya from beginning of January until March 2018. Three lots of Arabica coffee (Coffea arabica var. Sigarar Utang) (Lot A = harvest in 1st week of August, 2017; Lot B = 3rd week of August, 2017; and Lot C = 1st week of September, 2017) were obtained  from Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute, Jember. The experiments used completely randomized design with four replications. The result showed that the viability test using TZ was faster (4 days) than using RE (14 days). Regression equation models for estimating seed viability are less precise, while the estimation method of paired sample t-test was sufficient to predict the actual value of the seed viability. Redicle emergence is longer than tetrazolium which is for 14 days. The regression equation model of the radicle emergence is  sufficient to predict the seed physiological quality parameter.Keywords: viability, tetrazolium, radicle emergence, coffee seed AbstrakPengembangan metodologi uji benih untuk memperoleh hasil yang cepat, tepat dan aplikatif di lapangan.  Tujuan penelitian adalah membandingkan dua metode pengujian viabilitias benih kopi Arabika, yaitu uji tetrazolium dan radicle emergence (kemunculan radikula). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Mutu Benih, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya, mulai bulan Januari sampai Maret 2018. Tiga lot benih kopi Arabika varietas Sigarar Utang (Lot A : panen minggu I bulan Agustus 2017, Lot B : minggu III bulan Agustus 2017, Lot C : minggu I bulan September 2017) diperoleh dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap satu faktor (lot benih) dengan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian viabilitas kopi dengan metode TZ lebih cepat (4 hari) dibandingkan dengan metode kemunculan radikula (14 hari). Penggunaan model regresi untuk menduga viabilitas biji kurang tepat, sementara penggunaan t-test berpasangan sangat tepat untuk menduga nilai yang sebenarnya dari viabilitas biji. Oleh karena itu, metode pendugaan mutu benih kopi Arabika berdasarkan kemunculan radikula lebih tepat untuk digunakan di lapangan.Kata kunci: viabilitas, tetrazolium, kemunculan radikula, benih kopi
PERBAIKAN TEKNIK PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PERKEBUNAN PALA BANDA (Myristica Fragrants Houtt) DI MALUKU / Control Techniques Improvement of Banda Nutmeg Pest and Disease in Maluku Marietje Pesireron; Sheny Kaihatu; Risma Suneth; Yacob Ayal
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.45-58

Abstract

Banda Nutmeg (Myristica fragrans Houtt.) is a native plant of Maluku Islands. The aim of the study was to improve control technique of pest and disease Banda nutmeg in Maluku. The location of this study was in Pulau Ay village, Banda Naira District, Central Maluku Regency. This Study began in 2014 - 2015 through a survey of pest and disease identification. The research used Randomized Block Design (RBD) consisting of 6 (six) treatments followed by DMRT test. Treatment of Integrated Pest Management (IPM) includes: (A) Sanitation + furadan 3G pesticides), (B) Sanitation + Beauvaria bassiana, (C) Sanitation + Shell charcoal + Additional fertilizer (M2C), (D) Sanitation + Shell charcoal + Liquid Organic Fertilizer (LOF), (E) Sanitation + Biotris and (F) farmers' Practices. Results of identification, the main pests and diseases were stem borers (Batocera hercules) and stem cancer (Phytopthora palmivora). Pest and disease attacks, decline fruit production for the last 5 years from 3000-5000 fruits/tree/year to 457 - 2905 fruits/tree/year. After the treatment, the production increases 1,850 - 3,000 fruits/tree/year. The effective technology component applied was Treatment B (Sanitation + Beauvaria Bassiana), followed by treatment D (Sanitation + Shell charcoal + LOF), treatment C (Sanitation + Shell Charcoal + M2C) and treatment E (Sanitation + Biotris). The control treatment which was economically beneficial, were: treatment D (Sanitation + shell charcoal + LOF), followed by treatment C (Sanitation + shell charcoal + M2C), B (Sanitation + Beauvaria bassiana) and treatment A (Sanitation + furadan 3G pesticides).Keyword: Integrated control, Banda Nutmeg, LOF, B. bassiana, biotris AbstrakPala Banda (Myristica fragrans  Houtt.) merupakan tanaman asli Kepulauan Maluku. Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji teknik pengendalian hama dan penyakit terpadu pada pala Banda di Maluku. Lokasi penelitian di Desa Pulau Ay, Kecamatan  Banda  Naira, Kabupaten Maluku Tengah. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 -2015, dimulai dengan survei identifikasi hama dan penyakit utama tanaman pala. Penelitian pengendalian hama dan penyakit menggunakan Racangan Acak Kelompok  (RAK) yang terdiri atas 6 perlakuan, yaitu (A) Sanitasi + furadan pestisida 3G), (B)   Sanitasi + Beauveria bassiana, (C) Sanitasi + Arang tempurung + Pupuk tambahan (M2C), (D) Sanitasi + Arang tempurung + pupuk organik cair, (E) Sanitasi + Insektisida nabati Biotris dan (F) kebiasaan petani. Hasil identifikasi diketahui bahwa hama utama pada pertanaman pala di Maluku adalah penggerek batang (Batocera hercules) dan penyakit utamanya adalah kanker batang (Phytophthora   palmivora). Akibat serangan hama dan penyakit maka produksi buah pala selama 5 tahun terakhir menurun dari dari 3000 - 5000 buah/pohon/tahun menjadi 457 - 2905 buah/pohon/tahun. Setelah dilakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu maka produksi meningkat menjadi 1.850 -3.000 buah/pohon/tahun. Paket pengendalian terbaik adalah perlakuan sanitasi + B. bassiana, diikuti dengan perlakuan sanitasi + arang tempurung + hormon, perlakuan sanitasi + arang tempurung + pupuk tambahan, dan perlakuan sanitasi + insektisida hayati biotris. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman pala yang paling menguntungkan adalah  sanitasi + arang tempurung  + pupuk organik cair. Oleh karena itu, perlakuan tersebut perlu diuji pada skala komersial sebelum direkomendasikan kepada petani.Kata kunci: Pengendalian terpadu, pala Banda, LOF, B. bassiana, biotris
POTENSI BAKTERI ENDOFIT ASAL TANAMAN LADA SEBAGAI PELARUT FOSFAT DAN PENGIKAT NITROGEN SERTA PENGHASIL IAA / Potency of Endophytic Bacteria from Black Pepper as Phosphate Solubilization, Nitrogen Fixation and IAA Production Gusmaini Gusmaini; Andriana Kartikawati
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v25n1.2019.11-21

Abstract

The potential of endophytic bacteria to promote plant growth has been already well known. However, research on indigenous endophytic bacteria from wild or cultivated pepper plants are still limited.  The research was conducted in Microbiology Laboratory and Glass House of Research Institute for Spice and Medicinal Crops, Bogor, West Java  from June 2015 to April 2016. The objective of this study was to isolate and characterize the potential of endophytic bacteria from cultivated and wild pepper plants as phosphate (P) solubilizing, N2 fixation, and IAA hormone producers. Endophytic bacteria were isolated from the roots and leaves of both cultivated and wild pepper plants. The surfaces part of plant samples were sterilized using alcohol 70% and sodium hypochlorite 2%. Healthy parts of plants (roots and leaves) are selected as samples. Then, 1 g of plant part was crushed into small particles, extracted, filtered and cultured on Trypticase Soy Agar medium, with 3 replications for each dilution. All bacterial isolates were assessed their capability as P solubilizing, N2 fixation, and IAA hormone producer. The result showed the different capability of each endophytic bacteria derived from cultivated and wild pepper plants in promoting plant growth. The results of isolation of endophytic bacteria were obtained by 23 isolates from P. nigrum and 11 isolates from P. colubrinum. The endophytic bacteria could be grouped as followed: four isolates were IAA producers; 21 isolates possessed two functions (10 isolates as N2 fixation and IAA producers,  while 11 isolates as P solubilizing, and IAA producers); and nine isolates have three functions as P solubilizing, N2 fixation, and IAA producer viz. Ca3(1)2, La0(2)1, La2(2)2, La4(1)3, La4(3)1, La4(3)2, La4(3)3, La4(3)4, and Ld0(2)2.  All 34 endophytic bacterial isolates obtained from this study can potentially be used to improve nutrient use efficiency and accelerate plant growth. Furthermore, it is necessary to further examine the role of endophytic bacteria, which have single or multiple functions, in improving plant growth and fertilizer use efficiency for pepper plants.Keywords : Piper nigrum, Piper colubrinum, endophytic bacteria, P solubilizing, N2 fixation, phytohormone.AbstrakPotensi bakteri endofit untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman sudah banyak diketahui. Namun bakteri endofit indigenus tanaman lada, baik lada yang sudah dibudidayakan maupun lada liar belum banyak dilakukan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor, Jawa Barat pada bulan Juni 2015–April 2016. Penelitian bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi potensi bakteri endofit yang berasal dari tanaman lada budidaya dan liar sebagai pelarut P, pengikat N, dan penghasil hormon IAA in vitro. Bakteri endofit diisolasi dari akar dan daun tanaman lada budidaya dan lada liar. Permukaan sampel bagian tanaman disteril dengan menggunakan alkohol 70% dan sodium hypochlorite 2%. Bagian tanaman (akar dan daun) yang sehat dipilih sebagai contoh. Setiap bagian tanaman sebanyak 1 g ditimbang kemudian digerus sampai halus kemudian ekstraknya disaring dan ditumbuhkan pada medium Trypticase Soy Agar dengan 3 ulangan untuk tiap pengenceran. Semua isolat bakteri yang diperoleh diukur kemampuannya sebagai pelarut fosfat (P), pengikat N, dan penghasil IAA invitro. Hasil isolasi dan karakterisasi menunjukkan kemampuan setiap bakteri endofit yang berasal dari lada budidaya dan liar yang berfungsi sebagai pemicu pertumbuhan tanaman berbeda-beda. Dari hasil isolasi diperoleh sebanyak 23 isolat dari Piper nigrum dan 11 isolat dari P. colubrinum. Bakteri endofit tersebut dapat dikelompokkan menjadi penghasil IAA (4 isolat), 21 isolat berfungsi ganda (10 isolat sebagai pengikat N2 dan penghasil IAA serta 11 isolat sebagai pelarut P dan penghasil IAA), dan 9 isolat berfungsi ketiganya (pelarut P, pengikat N2 dan sekaligus penghasil IAA).  Hasil penelitian  mengindikasikan bahwa isolat bakteri endofit tersebut dapat dimanfaatkan untuk memacu pertumbuhan tanaman. Peran bakteri endofit tersebut perlu diuji lebih lanjut aktivitas dan kestabilannya dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman.Kata kunci : Piper nigrum, Piper colubrinum, lbakteri endofit, pelarut P, pengikat N, fitohormon.

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue