cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,474 Documents
Preferensi Mahasiswa terhadap Faktor Kenyamanan dalam Beraktivitas pada Ruang Makan Kafetaria di Universitas Brawijaya Sofie Ikharul Januarti; Jenny Ernawati; Rinawati P Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.891 KB)

Abstract

Kafetaria kampus lebih dari sekedar tempat makan—kafetaria adalah sebuah tempat untuk bersosialisasi dan bersantai bagi mahasiswa. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kenyamanan mahasiswa UB terhadap desain ruang makan kafetaria UB dan pengaruh kenyamanan desain kafetaria terhadap preferensi mahasiswa dalam beraktivitas di ruang makan kafetaria UB. Lima ruang makan kafetaria UB dijadikan sebagai sampel obyek lokasi pada kajian ini. Lima variabel kenyamanan desain ruang makan kafetaria yang menjadi fokus kajian adalah aspek fungsi, tata ruang, perabotan, pencahayaan, dan suasana. Kajian ini menggunakan dua metode yaitu analisis-deskriptif kualitatif dan metode analisis-deskriptif kuantitatif dengan pendekatan statistik yaitu dengan menggunakan kuesioner dengan multiple-rating scale, analisis nilai rata-rata, analisis korelasi dan regresi. Studi ini mengidentifikasikan bahwa mahasiswa UB menyukai apabila kafetaria difungsikan sebagai tempat makan, bersosialisasi, dan bersantai, dan merasa cukup nyaman dengan desain 5 ruang makan kafetaria UB secara keseluruhan. Selain itu, aspek suasana dan penataan perabot dengan sistem grid teridentifikasi sebagai faktor pengaruh preferensi mahasiswa dalam beraktivitas di ruang makan kafetaria UB.Kata kunci: Kafetaria kampus, desain ruang makan kafetaria, preferensi mahasiswa, kenyamanan mahasiswa
Elemen Pembentuk Arsitektur Tradisional Batak Karo di Kampung Dokan Putra Adytia; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.048 KB)

Abstract

Kampung Dokan merupakan salah satu kampung tradisional yang ada di Kabupaten Karo yang masih memiliki rumah-rumah tradisional adat Batak. Rumah tradisional yang masih dihuni dan digunakan oleh masyarakat Karo di Kampung Dokan sudah mulai menghilang. Saat ini hanya tersisa lima rumah yang ada di Kampung Dokan. Masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana elemen pembentuk rumah ini merupakan salah satu penyebab hilangnya ketertarikan untuk menjaga dan merawat rumah adat Karo. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasil dari penelitian adalah apa saja elemen pembentuk dari rumah adat tradisional Batak Karo di Kampung Dokan.Kata kunci: Elemen pembentuk, Rumah Batak Karo
Optimalisasi Kinerja Pencahayaan Alami pada Kantor (Studi Kasus: Plasa Telkom Blimbing Malang) Fitri Rahmadiina; Muhammad Satya Adhitama; Jusuf Thojib
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (769.246 KB)

Abstract

Kinerja pencahayaan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perancangan kantor, karena hal tersebut akan berpengaruh pada kenyamanan visual pengguna ruang. Indonesia yang memiliki potensi mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun harusnya dapat memanfatkan hal tersebut sebagai pencahayaan alami pada bangunan kantor. Namun selama ini penggunaan pencahayaan alami masih jarang digunakan karena cahaya yang masuk ke bangunan kurang atau berlebih, serta silau yang ikut masuk ke dalam ruangan. Plasa Telkom Blimbing Malang merupakan salah satu kantor di kota Malang yang masih menggunakan sistem pencahayaan buatan karena kinerja pencahayaan alami yang belum optimal pada bangunannya. Metode yang digunakan adalah eksperimental menggunakan simulasi dengan software DIALux 4.12 untuk mengetahui strategi desain yang dapat mengoptimalkan kinerja pencahayaan alami. Strategi yang dapat digunakan antara lain dengan meneliti dimensi bukaan, dimensi dan jumlah layer shading device, dimensi light shelf, dan pemilihan warna & material pada interior bangunan. Rekomendasi desain yang dipilih berdasarkan prosentase kinerjanya yang lebih tinggi dan distribusi pencahayaan dalam ruangan yang lebih merata.Kata kunci: pencahayaan alami, kinerja pencahayaan alami, kantor
Pelestarian Bangunan Kolonial Belanda Kantor Gubernur Jawa Timur (Gouverneur Kantoor Van Oost Java) Tri Ajeng Prameswari; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.01 KB)

Abstract

Surabaya memiliki banyak bangunan peninggalan Belanda yang bersejarah, salah satunya adalah Kantor Gubernur Jawa Timur. Kantor ini memiliki keunikan pada karakter spasial dan visualnya sehingga perlu ditinjau untuk mengetahui arahan pelestarian agar keaslian pada bangunan tetap terjaga. Keunikan karakter visual pada banguan ini terlihat pada atap bangunannya yang datar, memiliki menara jam yang memiliki hiasan pada puncaknya berupa tiang emas dan cat warna putih yang mendominasi pada bangunan ini. Keunikan pada karakter spasialnya adalah bangunan ini merupakan satu-satunya bangunan dengan orientasi pada bagian utara berbatasan dengan viaduct dan sebelah barat berbatasan dengan alun-alun tugu pahlawan yang dulunya adalah gedung pengadilan Paleis Van Justitie. Pelestarian yang ada pada bangunan ini dibagi menjadi tiga potensi yakni potensi tinggi, sedang dan rendah. Untuk elemen rendah dengan teknik preservasi terdiri dari 26 elemen bangunan. Elemen-elemen dengan potensial sedang diarahkan ke teknik pelestarian rehabilitiasi-konservasi terdiri dari 47 elemen. Elemen- elemen dengan potensial rendah terdiri dari 7 elemen diarahkan ke teknik pelestarian rehabilitasi.Kata kunci : pelestarian, bangunan kolonial, surabaya
Pelestarian Bangunan Kolonial Belanda di Jalan Pemuda Depok Novia Estin; Antariksa Antariksa; Noviani Suryasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.832 KB)

Abstract

Kota Depok merupakan salah satu daerah yang memiliki kaitan erat dengan sejarah masa kolonial Belanda. Bangunan kolonial Belanda di jalan Pemuda Depok memiliki karakter yang khas. Namun lambat laun terjadi penurunan fungsi dan fisik bangunan yang ditandai dengan beberapa bangunan kolonial Belanda yang berubah fungsi bahkan ada beberapa bangunan kolonial Belanda yang dihancurkan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakter visual dan karakte spasial bangunan kolonial Belanda di Jalan Pemuda Depok, serta menganalisis dan menentukan strategi pelestarian yang sesuai untuk mempertahankan karakteristik bangunan kolonial Belanda di Jalan Pemuda Depok. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode kualitatif menggunakan pendekatan dengan tiga metode, yaitu metode deskriptif, metode evaluatif dan metode development. Hasil studi menunjukan elemen-elemen visual dan spasial yang masih asli banyak ditemukan pada kelompok kategori bangunan A dan B, sedangkan kelompok kategori bangunan C dan D telah mengalami beberapa perubahan. Pada kategori C perubahan terjadi pada elemen eksterior dan elemen interior, sedangkan pada ketegori D perubahan didominasi pada elemen interior. Arahan pelestarian pada bangunan kolonial di Jalan Pemuda Depok, diklasifikasikan ke dalam tiga kelas elemen-elemen bangunan potensial, yaitu potensial tinggi, potensial sedang dan potensial rendah, kemudian dari tiga tingkatan potensial tersebut ditentukan strategi pelestarian yang sesuai dengan kondisi masing-masing elemen bangunan tersebut.Kata Kunci: pelestarian bangunan, bangunan kolonial, karakter visual, karakter spasial
Penerapan Struktur Rumah Gadang terhadap Hotel Resor di Kawasan Wisata Mandeh, Sumatera Barat Rony Dwi Rizantana; Tito Haripradianto; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1304.394 KB)

Abstract

Kawasan Wisata Mandeh merupakan salah satu kawasan wisata pantai di Sumatera Barat yang sedang menjadi tren. Kawasan ini berada di dua wilayah administratif daerah tingkat dua yaitu Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan sehingga peraturan yang dibuat untuk perencanaan pengembangan kawasan ini dilakukan oleh PemProv Sumatera Barat, PemKot Padang dan PemKab Pesisir Selatan. Perda yang mengatur perencanaan wilayah ini menyebutkan bencana yang sering mengancam wilayah ini adalah gempa sedangkan untuk gelombang besar tidak karena kawasan ini memiliki perairan yang relatif tenang akibat gugusan pulau-pulau kecil. Konsep bangunan tahan gempa sangat diperlukan pada setiap rancangan bangunan yang akan dibangun di daerah tersebut. Rumah Gadang yang merupakan Rumah Tradisional masyarakat setempat telah terbukti dapat bertahan terhadap bencana gempa. Perancangan Hotel Resor pada kawasan ini selanjutnya diarahkan untuk menerapkan struktur Rumah Gadang. Berdasarkan hasil perancangan, konsep struktur yang akan diterapkan untuk Hotel Resor ini mengacu pada Struktur Rumah Gadang daerah Pesisir yang merupakan tipe dari Rumah Gadang sebagai kearifan lokal masyarakatnya.Kata Kunci: Wisata Pantai, Rumah Gadang, Struktur Tahan Gempa, Hotel Resor
Penerapan Prinsip Ruang Kolektif Pada Pusat Komunitas Musik (Studi Pada Galeri Malang Bernyanyi) Dionisius Dino Briananto; Tito Haripradianto; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1376.474 KB)

Abstract

Ruang arsitektur nusantara dimengerti sebagai ruang berkehidupan bersama, yang menunjukkan bahwa ruang berkembangnya adalah arsitektur bagi fitrah manusia. Kolektif; yang merupakan hakikat fitrah berbeda dengan eksklusifitas, sehingga muncul persoalan krisis ruang publik, karena nyatanya hegemoni kota secara spasio-visual didominasi individu terkuat saja secara privat. Terlebih di era open society, tekanan simplifikasi paham global dan ciri-ciri individualisme generasi millenial Kota Malang yang jumlahnya dominan, kurang memberi ruang bagi keragaman dalam kebersamaan masyarakat. Potensi komunitas kesenian kolektif spesifik malah tidak sebanding dengan ketidak-tersediaan ruang berkesenian. Penyebabnya antara lain karena faktor eksternal: ruang berkesenian kurang representatif bagi pelakunya. Menggunakan metode penelusuran 'buku garing' dan 'buku teles', penelitian difokuskan pada Galeri Malang Bernyanyi (GMB) yang memiliki potensi kolektif namun tidak ditunjang dengan ruang berkegiatan representatif sesuai karakternya. Hasil integrasi pemetaan lapangan dan penelusuran kajian teoritik paradigma kontekstual Weak Architecture sebagai solusi krisis arsitektur di ruang publik, kemudian menjadi landasan metode perancangan sebelum proses desain. Hasil perancangan GMB menitik-beratkan pendekatan perilaku untuk mendapat parameter dasar karakter penggunaan ruang yang melalui pemetaan perilaku terhadap setting, atribut dan teritorialitas ruang. Dan variabel penerapan ruang kolektif untuk mendorong hadirnya interaksi, fleksibilitas, dan konektivitas. Yang ketiganya dibagi menjadi 3 tahap sesuai konsep Weak Architecture dalam pustaka Primitive Future.Kata kunci: ruang kolektif, weak architecture, pusat komunitas musik, perilaku
Perubahan Pola Ruang Dalam Pada Home Industry Sarung Tenun Samarinda di Kecamatan Samarinda Seberang Parada Ichwan Parnanda; Herry Santosa; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.678 KB)

Abstract

Sarung Tenun Asli Samarinda merupakan salah satu ikon kota Samarinda. Konsekuensi dari hal tersebut, maka di kota Samarinda banyak dijumpai usaha kerajinan Sarung Tenun Samarinda. Usaha-usaha tersebut berkembang pada rumah-rumah penduduk di Kecamatan Samarinda Seberang. Dengan adanya fungsi produktif yang masuk ke dalam fungsi domestik hunian, maka menyebabkan beberapa perubahan pada pola ruang dalam home industry yang awalnya merupakan fungsi domestik(tempat tinggal dan aktivitas rumah tangga) berubah ke fungsi produktif(proses produksi sarung). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisa pola/bentuk perubahan yang terjadi pada ruang dalam home industry Sarung Tenun Samarinda di Kecamatan Samarinda Seberang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memberikan penggambaran terhadap objek dan permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada 3 jenis perubahan yang terjadi pada home industry Sarung Tenun Samarinda. Sejumlah 61% dari keseluruhan total objek mengalami perubahan kecil, 24% mengalami perubahan sedang dan sisanya yaitu 15% mengalami perubahan besar.Kata kunci: Home industry, Pola ruang dalam, Perubahan Ruang
Pelestarian Bangunan Kolonial Museum Fatahillah di Kawasan Kota Tua Jakarta Bayu Nugroho Putra; Antariksa Antariksa; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1061.047 KB)

Abstract

Belanda sebagai salah satu bangsa yang memperkaya keberagaman adat istiadat dan budaya di Indonesia dibawa pada abad ke-16 ke Indonesia memberikan banyak aspek salah satunya adalah bidang Arsitektur. Salah satu bangunan peninggalan kolonial Belanda adalah Museum Fatahillah. Namun perkembangan bangunan modern saat ini semakin pesat beriringan dengan bertumbuhnya perkembangan jaman, hal ini menyebabkan terlupakannya bangunan bersejarah yang memiliki nilai historis dan kultural yang sangat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter spasial, visual, dan struktural bangunan dan menentukan strategi pelestarian yang tepat. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis, evaluatif, dan development. Hasil studi menunjukkan bahwa bangunan memiliki organisasi ruang grid dan linier. Hal tersebut ditunjukkan pada susunan ruang-ruang yang membentuk bidang-bidang yang berhadapan dan tertata. Massa bangunan terdiri dari tiga jenis yaitu massa primer yang berfungsi sebagai ruang pameran, massa sekunder sebagai area servis dan kantor, dan massa tersier yaitu pada massa menara. Bagian fasade bangunan memiliki pengaruh gaya Neo Klasik dan Barok Klasik yang pesat berkembang pada era awal abad ke-17. Sementara karakter sturktural Museum Fatahillah mempunyai struktur dinding pemikul pada bagian badan bangunan karena pada saat itu belum ditemukan konstruksi kolom-balok beton. Strategi dan arahan pelestarian bangunan Museum Fatahillah terbagi menjadi tindakan preservasi (74 elemen), konservasi (12 elemen), rehabilitasi (4 elemen).Kata kunci: Pelestarian, bangunan kolonial, karakter spasial, karakter visual, karakter struktural
Konsep Agrowisata pada Lahan Konservasi Studi Kasus: Lahan Buah Condet, Jakarta Timur Faudina Faradilla Nanda; Lisa Dwi Wulandari; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.745 KB)

Abstract

Jakarta sebagai destinasi wisata di Indonesia yang menerapkan berbagai jenis wisata yaitu wisata budaya, wisata sejarah dan wisata alam. Contoh wisata alam di Jakarta adalah Taman Wisata Alam Mangrove Angke dan isu pengembangan potensi Sungai Ciliwung sebagai destinasi wisata berbasis alam. Salah satu segmen yang merupakan lahan konservasi di Daerah Aliran Sungai adalah Lahan Buah Condet, Jakarta Timur. Lahan Buah Condet adalah satu-satunya kantong pertanian yang tersisa dari luas Condet yang ditetapkan pada SK Gubernur DCI Jakarta No.DIV-1511/E/74 dan kegiatan perlindungan sungai khususnya bagian sempadan seperti dalam Pasal 20 Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2011. Potensi tapak berupa kontur topografi tapak datar, tanaman endemik khas dominan yaitu Salak dan Duku Condet. Adanya Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 646 Tahun 2016, mendorong pengembangan Lahan Buah Condet sebagai destinasi wisata serta kawasan agrowisata di Jakarta Timur. Permasalahan dalam pengembangan agrowisata adalah lahan perkebunan terbatas, mudah banjir, akses menuju perkebunan di area perumahan warga dan pemanfaatan pola ruang kurang terawat, dikhawatirkan menimbulkan kerusakan pada lahan. Melalui studi pustaka dan studi terdahulu ditemukan beberapa variabel penelitian. Dengan menggabungkan variabel agrowisata, konservasi, serta memperhatikan potensi-potensi lahan, didapatkan solusi konsep agrowisata berupa zonasi, atraksi, aksesibilitas dan fasilitas pada lahan konservasi khususnya Lahan Buah Condet.Kata kunci: agrowisata, konservasi

Page 21 of 148 | Total Record : 1474