cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
Kapitalisasi Politik Identitas dalam Produk Halal; Industri Fashion dan Kosmetika Yulianti Muthmainnah
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 14, No 1 (2021): PALASTREN
Publisher : IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v14i1.7031

Abstract

Isu produk halal merupakan fenomena industri yang dekat dengan politik identitas, karena produk halal menjanjikan standar jaminan atas ketaatan konsumen pada norma-norma agama terutama terkait kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi. Jilbab dan kosmetika halal merupakan dua contoh produk yang sangat dekat dengan politik identitas dan seolah-olah menggaransi kebutuhan konsumen atas produk halal. Beragam materi iklan maupun informasi tentang konten halal dalam sebuah produk merupakan jawaban atas kebutuhan konsumen terkait dua produk halal yang kebanyakan dikonsumsi oleh perempuan (muslimah). Penelitian ini berupaya menjelaskan pandangan, persepsi, dan respon atas produk fashion dan kosmetika dengan jaminan produk halal yang diperoleh dari questioner, analisis iklan produk halal, dan kajian pustaka terkait materi produk halal tersebut.   
KONSTRUKSI SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM LITERATUR PESANTREN KLASIK: (STUDI TERHADAP KITAB UQUD AL-LUJJAYN KARYA NAWAWI AL BANTANI) Ainaul Mardhiyyah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 1 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i1.978

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kitab kuning klasik yang sudah sangat populer di pesantren Indonesia. Kitab itu adalah Uqud Al-Lujjayn fi Huquq al-Zawjayn karangan Nawawi al-Bantani. Sebagai sebuah buku yang menjelaskan tentang hak dan kewajiban dari pasangan dalam Islam, ada beberapa penggambaran seksualitas perempuan yang dapat dibahas dalam empat bentuk,yaitu identitas diri, tindakan seksual, perilaku seksual danorientasi seksual. Penelitian ini mendapatkan pernyataan penutup bahwa pandangan Nawawi terhadap seksualitas perempuan tidak terlepas dari kondisi zaman yang membesarkannya. Karenanya, perlu dilakukan beberapa upaya untuk merekonstruksi pandangan Nawawi pada seksualitas perempuan di Pesantren dengan membaca ulang teks Islam.Kata kunci: Seksualitas Perempuan, Pesantren, KitabKuning. This research focuses on an old yellow book which hasbeen very popular in the Indonesian Islamic boarding schools (pesantren). It is Uqud Al-Lujayn  fi Huqu qal-Zawjayn of  Nawawi al-Bantani.  As a book whichdealts with the right and obligation  of a couple in Islam,there are some  illustrate women’s sexuality which canbe discussed in four forms, namely self identity,  sexualaction, sexual behavior and sexual orientation. Thisresearch get a concluding remark that Nawawi’s view on women’s sexuality depend on his zeitgeist, so we needsome attempts to reconstruct Nawawi’s view on women’ssexuality  in pesantren by rereading Islamic text.  Keywords : Women’s Sexuality, Islamic Boarding Schools, Kitab Kuning.
NASIB TRAGIS DAN CITRA TKI DALAM BINGKAI MEDIA muhammad busro
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2714

Abstract

Kajian ini tertujuan untuk mendeskripsikan berbagai nasib tragis dan citra tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini banyak medapat sorotan dari berbagai media, baik cetak maupun elektrorik. Metode yang digunakan dalan penulisan kajian ini adalah metode kepustakaan dengan melakukan penelusuruan terhadap berbagau sumber-sumber ilmiah yang meliputi, buku, jurnal, dan berita dari berbagai media. Berdasarkan hasil pembacaan terhadap seluruh sumber tersebut dapat disimpulkan bahwa banyak sekali nasib tragis yang dialami oleh TKI, yang seluruhnya menggabarkan citra buruk manjemen TKI mulai dari penyiapan dasar hukum untuk perlindungan, proses mobilisasi, pelatihan, pemberangkatan, penempatan, monitoring, hingga proses pemulangan.  Oleh karena itu, pemerintah, BNP2TKI, Disnaker, PJTKI, dan semua pemangku kepentingan hendaknya selalu berupaya untuk meningkatkan manajemen TKI dari hulu hingga hilir.
MODEL ADAPTASI DIRI REMAJA MELALUI KOMUNIKASI BAHASA IBU : TELAAH PSIKOLOGIS ATAS PENDIDIKAN KELUARGA DI DESA TANJUNG KARANG, KABUPATEN KUDUS, JAWA TENGAH Muzdalifah Muzdalifah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.939

Abstract

Tujuan utama dari penelitian ini adalah menggambarkan peran ibu dalam membimbing penyesuaian diri remajadi Tanjungkarang Jati Kudus. Metode penelitian adalah metode kualitatif yang menggunakan wawancara,observasi dan dokumentasi untuk mengumpulkan data.Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran perempuan (ibu) dalam penyesuaian diri remaja terletak pada pembinaan: belajar  mandiri langsung, pentingnya pendidikan, perhatian pada lawan jenis, kepatuhan pada pemerintah, panduan untuk dapat mengelola waktu,tanggung jawab dalam menggunakan uang, motivasi dalam menyelesaikan kecemasan, konflik dan frustrasi.Kata kunci: Remaja, Adaptasi, Pendidikan Keluarga.
Perempuan dan Warung Kopi: Persepsi, Simbol dan Eksistensi Anggaunita Kiranantika; Titis Dwi Haryuni
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.7359

Abstract

Warung kopi merupakan tempat ngongkrong bagi kalangan masyarakat untuk menikmati secangkir kopi panas. Budaya ngopi menjadi rutinitas yang harus dilakukan oleh kaum laki-laki. Pemilik warung memutar otak dengan menggunakan perempuan sebagai daya tarik menarik pelanggan dan mempertahankan eksistensi di tengah maraknya coffee shop. Warung kopi ini biasa disebut dengan warung kopi pangku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana persepsi pelayan perempuan bekerja di kopi pangku beserta simbol yang digunakan dalam menjalankan praktek prostitusi terselubung sebagai pelayan warung kopi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Lokasi penelitian yaitu pada 5 warung kopi pangku yang berada di Kabupaten Ponorogo, Propinsi Jawa Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dan penentuan informan menggunakan purposive sampling dengan melakukan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan persepsi perempuan bekerja di warung kopi di Kabupaten Ponorogo yaitu kebutuhan ekonomi, rendahnya pendidikan namun ingin penghasilan yang besar dan keinginan untuk hidup secara mandiri. Selanjutnya, simbol yang dilakukan pelayan perempuan dalam menjalankan prostitusi terselubung adalah berupa pakaian ketat, mini dan seksi yang digunakan; make up yang dipakai; melalui bahasa verbal dengan nada mendesah dan gestur tubuh.
DIMENSI-DIMENSI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA DI ERA INDUSTRIALISAI Briliyan Erna Wati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 1 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i1.1002

Abstract

Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah kelompok marginalyang paling rentan terhadap kelalaian yang dilakukanoleh majikan. Hal ini terbukti dengan tidak adanyakejelasan hukum atau perlindungan bagi status mereka.Seharusnya jaminan konstitusional sebagai bentukkepedulian negara untuk memberikan perlindunganekonomi, sosial serta keadilan dan kesejahteraan bagipekerja rumah tangga sudah ada sejak kemerdekaanIndonesia. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkanbetapa pentingnya regulasi perlindungan pekerjarumah tangga. Temuan dari artikel ini adalah bahwaada berbagai alasan baik normatif, hukum dan bahkanpraktis yang menunjukkan bahwa perlindungan hukumbagi pekerja rumah tangga harus diatur dalam undangundangkhusus dan harus direalisasikan. Pertama,keberadaan undang-undang tentang pekerja rumah tangga sebagai bentuk perlindungan hukum bagi pekerja rumah tangga sebagai titik tolak bagi pemerintah untuksecara bertahap merubah status hukum Pekerja RumahTangga (sebagai pekerja non formal) menjadi pekerja formal. Pergeseran ini penting karena itu berdampakpositif pada nilai ekonomi mereka.kata kunci: Pekerja Rumah Tangga, PerlindunganHukum, Peraturan Household Workers (PRT) are marginal groups whichare the most vulnerable to the abuse of the employer.This proved by the absence of legal clarity or protectionfor their work. Constitutional Guarantees  as a formof  state contracts in order to provide Economical andSocial protection as well as justice and welfare for humanincluding domestic workers should be a fundamentalregulation since Indonesian independence. This articleaimed to show how important is the regulation in terms ofhousehold worker protection. The finding of this article isthat the existence of normative , legal and even practicalreasons to strengthen the argument that the protection ofthe law for domestic workers should be regulated in thelegislation specifically in  Drafts or Bill on Protection of Household Workers. There are many reasons strengthenthe argument that the protection of the law againstHousehold Workers (PRT) should be realized. First, theexistence of legislation on domestic workers as a form oflegal protection for domestic workers as a strating pointfor the government to gradually bring the HouseholdWorkers (as non formal workers) into formal workers.This shift is important because of it’s positive impact on their economic value.keywords: household workers, legal protection, legislation
Peran Perempuan dalam Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Studi atas Peran Nyai Halimatus Sa’diah di Kabupaten Sumenep) Akhmad Anwar Dani; Ahmadi Ahmadi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.4369

Abstract

The majority of Hajj and Umrah pilgrims from Indonesia are women, but the management is dominated by men. Government regulations on managing the organization of pilgrimage limit the role of women in a very minimal portion. In some cases, the presence of female counselors was felt to be more effective in assisting female worshipers. The study of the women’ role in Hajj and Umrah management in Indonesia is still minimal. Therefore, this study focuses on the role of Nyai Halimatus Sya'diah as a guide of Hajj and Umrah in Sumenep Regency. The descriptive qualitative approaches are used to understand this phenomenon. Based on the data collected by interviews and documentation, it was concluded that the role of Nyai Halimatus Sya'diah as a guide of Hajj and Umrah can be divided into 4 roles: tour leader, leader of worship, travel facilitator, intermediary between worshipers and travel.AbstrakJamaah haji dan umrah didominasi oleh wanita, namun pengelolaannya didominasi oleh laki-laki. Regulasi yang disusun pemerintah dalam pengelolaan penyelenggaraan haji membatasi peran wanita dalam porsi yang sangat minim. Dalam beberapa kasus, keberadaan pembimbing wanita dirasakan lebih efektif untuk mendampingi jamaah wanita. Penelitian ini fokus pada peran Nyai Halimatus Sya’diah sebagai pembimbing haji dan umrah di Kabupaten Sumenep. Pendekatan kualitatif deskriptis digunakan untuk memahami fenomena tersebut. Berdasarkan data-data yang dikumpulkan dengan wawancara dan dokumentasi, disimpulkan bahwa peran Nyai Halimatus Sya’diah sebagai pembimbing haji dan umrah dapat dibagi dalam 4 peran, tour leader (pemimpin rombongan), pembimbing ibadah, fasilitator perjalanan, perantara antara jamaah dan travel.Keyword : haji dan umrah; peran wanita; islam 
RATU BALQIS DALAM NARASI SEMIOTIKA AL QUR’AN Fathurrosyid Fathurrosyid
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 6, No 2 (2013): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v6i2.986

Abstract

Penelitian ini membahas perspektif wacana dan hubungan gender dalam Al-Qur’an, terutama di wilayah publik politikdengan menggunakan kisah objek formal, Ratu Balqis di Kerajaan Saba’ di Qs. al-Naml (27): 29-44.Menerapkan semiotika yang memberi arti dan maknayang mampu merekonstruksi pemahaman yang telah terkesan kaku dan eksklusif pada kisah Ratu Balqis.Melalui pemahaman semiotik, hubungan antara pria dan wanita mengacu pada simbol kesetaraan gender di antara mereka. Dalam konteks ayat-ayat ini Ratu Balqis ternyata menjadi simbol feminis sejati dengan menjelaskanketaatan dan penyerahan dirinya hanya untuk Allah swt,bukan untuk Nabi Sulaiman. Karena keduanya adalah hamba Allah swt yang tidak boleh mengklaim dirinya superior, sementara yang lain ditekan sebagai inferior.Keterlibatan Nabi Sulaiman dalam pengakuan Balqi sadalah hanya sebagai aktor dan mediator yang membuat mereka mengadopsi teologi monotheisme.kata kunci: Semiotika, Al-Qur’an, Ratu Balqis, Gender. This study tried to dismantle the discourse and genderrelations perspective of the Qur’an, especially in thepublic-political region by using formal object tale, of Queen Balqis in the Kingdom of Saba’ on Qs. al-Naml(27):29 - 44. Applying semiotics that signed meaning andsignificance was able to reconstruct the understanding which has been impressed rigid, exclusive and misogynicon the story of Queen Balqis. Through a semiotic understanding, relationships between men and women refer to the gender equality symbols between them. Inthe context of these verses, Queen Balqis turned outto be a true feminist symbol through clarifying herobedience and submission only to Allah swt, not toProphet Solomon. Because both are the servants of Allahswt that should not be claiming to be the superior, whileothers are suppressed as the inferior. The involvement of Prophet Solomon in Balqis’ confession was merely as theactor and mediator that made them adopting a theology of monotheism.Keywords: Semiotics, Al-Qu’an, Queen Balqis, Gender
Perempuan dalam Proses Pekerjaan Tambang Kapur (Studi Kasus di Desa Mangkung Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah) Rohimi Rohimi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 1 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i1.5804

Abstract

Keterlibatan pekerja perempuan di  tambang kapur mengandung dua sisi. Selain mengukuhkan kehadiran perempuan di ruang publik, di sisi lain juga memberikan potret kerentanan perempuan dalam pekerjaan berat yang beresiko bersama dengan pekerja laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk memotret kegiatan kaum perempuan dalam pekerjaan tambang kapur di Desa Mangkung Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis gender. Temuan yang diperoleh, perempuan pekerja tambang kapur melakukan empat jenis pekerjaan yakni mengeluarkan batu kapur setelah pembakaran, penyiraman dan pengguguran kapur, pengemasan kapur, dan pemasaran kapur ke tempat tujuan. Dalam empat proses ini, resiko keselamatan dan kesehatan perempuan tinggi. Untuk itu, pekerja perempuan harus menggunakan alat keselamatan kerja dan  memiliki jam istirahat yang cukup.  Kata Kunci: pekerja perempuan, tambang kapur, keselamatan kerjaABSTRACT The involvement of female in limestone mines has two sides. It is an affirmation of women in public sphere, but on the other hand women are vulnerable to the risk of such back-breaking work along with male miners. This article portrays female miners in the limestone mines in Mangkung Village, West Praya District of Central Lombok from the perspective of gender studies. Result shows women miners are responsible for four kinds of jobs, namely: taking the limestone out of the stove, limestone watering and dropping, packaging, and distributing the lime to the marketplace. During those processes, female workers are open to injury and harm. Therefore a proper health and safety policy, risk assessments and safety precautions should be taken into consideration in order to eliminate the risk.     Keywords: female workers, limestone mines, work health and safety 
MANAJEMEN PESANTREN RESPONSIF GENDER : STUDI ANALISIS DI KEPEMIMPINAN NYAI PESANTREN DI KABUPATEN PATI Ambawati Ambarwati; Aida Husna
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1032

Abstract

Ketidaksetaraan gender dalam sebuah organisasi masih dapat ditemukan termasuk di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren. Penyebab perbedaan ini berasal dari pengaruh bias gender yang masih banyak ditemukan dalam buku-buku rujukan (kitab kuning) dimana perempuan diposisikan sebagai masyarakat “kelasdua”, asumsi bahwa kemampuan perempuan hanyadalam urusan domestik serta pandangan perempuandi pesantren bahwa mereka wajib untuk menghormati,mengikuti dan mematuhi pria. Berdasarkan penelaahan atas kontribusi dan posisi “bu Nyai” di pesantren, makadapat disimpulkan bahwa banyak perempuan atau“nyai” yang telah memiliki peran kepemimpinan dipesantren. Tuntutan kepemimpinan perempuan munculdari karakteristik pesantren yang memisahkan pria dan wanita yang secara otomatis memerlukan kontribusi dari kepemimpinan perempuan sebagai wakil pimpinantertinggi “kyai”.Kata kunci: Manajemen Pesantren, Partisipasi, Nyai, Gender. Inequality gender roles in organizations still foundincluding in Islamic educational institutions such asboarding school. The cause of this discrepancy comesfrom the influence of gender bias of most of the materials(kitab kuning) i.e. the view of the position of women asbeing “second class”, the assumption that the abilityof women only in domestic affairs just as well as theview of women in boarding schools of the obligation torespect, to follow and to obey men. Whereas, it is alsofound the involvement of women in management ofboarding schools. The demands of women’s leadershipemerged from boarding relationships characteristic thatseparates men and women as well as the acceptance ofthe girls’ boarding schools also requires the contributionof women’s leadership as a representative of the highestleadership of “kyai”.Keywords: Participatoty, Women leader, boarding school