cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
PALASTREN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 466 Documents
Media Sosial dan Gaya Hidup Wanita Di Indonesia bambang setyo utomo; Pawito Pawito
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i2.2652

Abstract

The development of communications technology today is increasingly fast and gives a variety of effects and impact on human life. Since internet technology has been activated and the emergence of Web 2.0 innovations in the early 2000s has attracted social media has become a major concern in recent years. Indonesian women who are the most current users of social media in using social media are not just for reasons to make friends but on the other hand they use social media in financial terms. There is a trend that is currently using social media to open a business. In addition to these trends, women with their ability to build networks and communicate have presented some phenomena in their lifestyle
DISPARITAS GENDER DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA RAMAH LINGKUNGAN (Gender Disparities in Ecologically Friendly-Tourism Development) Ismi Dwi Astuti Nurhaeni; Rara Sugiarti; Sri Marwanti; Ryza D Pratiwi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2280

Abstract

This article explores gender disparities in ecologically friendly-tourism development, including the involvement, competence, internal and external barriers of women and men.  The data were collected using survey on 400 respondents, consisting of women and men and focus group discussion with 18 informants. The data analysis uses analysis of gender disparities on planning, implementing, monitoring and evaluating the stage of ecologically friendly- tourism development. The finding shows that gender disparities happen in ecologically friendly- tourism development, in which women are still marginalized in terms of their involvement, competency, internal and external barriers.   The highest gender disparities on the involvement of women and men in ecologically friendly-tourism development occurred in the implementation.  Women’s competence is lower than that of men, and women‘s barrier are higher than that of men.    Accordingly, gender mainstreaming in developing environmentally-friendly tourism should be empowered through gender based-financial allocation, especially for eliminating gender stereotip and improving human resources capacities in developing environmentally-friendly tourism.
POLITIK KEPEMIMPINAN PESANTREN : PERAN PUBLIK PEREMPUAN DI PESANTREN DAARUT TAUHIID BANDUNG Farida Ulyani
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1033

Abstract

Penelitian ini menjelaskan mengapa perempuan dalam komunitas MC bisa memberdayakan perempuan melalui kegiatan dakwah dan bagaimana pola pemberdayaan dilakukan. Penelitian ini jugamenguraikan gerakan feminis pesantren berbasis.Pendekatan fenomenologis interpretatif untuk penelitian dan menafsirkan fenomena budaya yang ditemukan dalam komunitas perempuan di MC.Temuan dari penelitian ini adalah: (1) Adanya MCdi asrama DT telah memberikan warna dan pola dalam sosiologi sekolah perkotaan, dimana telah disediakan ruang publik bagi perempuan Muslim untuk mengaktualisasikan diri melalui kegiatan dakwah dan pemberdayaan perempuan, (2)Munculnya gerakan perempuan yang dilembagakan dalam MC tidak bisa lepas dari tokoh kunci, AaGym yang awalnya memberi peran khusus untuk istrinya (3) Pola gerakan berbasis pada penguatan ekonomi keluarga.Kata kunci: Politik kepemimpinan, Pesantren, Dakwah, pemberdayaan Perempuan The research also elaborates the pesantren-based feministmovement. Interpretative pheno menological approach to research and interpret the cultural phenomenon that isfound in the female community in the MC. The  findingswere: (1) The presence of MC in boarding DT has givencolor and pattern in the sociology of urban schoolsthat have provided public space for Muslim women toactualize themselves through propaganda and women’sempowerment, (2) The rise of the women’s movementwhich was institutionalized in the MC could not beseparated from key figure of Aa Gym that originally gavea special role to his wife (3) the pattern of movementbased especially on strengthening the economic family.Keywords: The politics of leadership, Pesantren, Dakwah, Women empowerment
MANAJEMEN PENGASUHAN ANAK BERBASIS SOFT SKILL (Studi Kasus Di Panti Darul Hadlonah Demak) Sri Utaminingsih; Richma Hidayati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i2.1812

Abstract

AbstrakTujuan penelitian yaitu 1).  untuk  mendiskripsikan pengasuhan  anak pada Panti Asuhan Darul Hadlonah Demak; 2) mendiskripsikan soft skill yang dikembangkan  di Panti Asuhan  Darul Hadlonah Demak. Pendekatan Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara dengan peneliti sebagai instrumen utama. Keabsahan data melalui triangulasi  metode dan sumber. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman, mulai dari display, reduksi. dan pengambilan kesimpulan.  Sumber data sebagai informan dipilih terdiri dari: pengurus yayasana, pimpinan panti, pengasuh, serta anak-anak panti berjumlah 42  anak. Hasil penelitian  menunjukan bahwa  dalam pengelolaan panti mempunyai  struktur organisasi yang jelas,  visi, misi, program kerja dan  koordinasi dan evaluasi setip bulan dan akhir tahun. Pola  pengasuhan anak menggunakan sistim grup dan pola kakak adik, dalam kegiatan sehari –hari anak senoir diberi tanggungjawab pada anak yunior, sedangkan pola asuh pendidikan, anak diwajibkan menempuh pendidikan  formal berbasis  tanggungjawab  yaitu anak diberi kebebasan memilih pendidikan  SD sampai perguruan tinggi. Dalam pengasuhan dikembangkan  soft skill yaitu kemampuan bersikap amanah, tanggung jawab, kerjasama, komunikasi yang memperkokoh nilai jujur dan mandiri berdasarkan  nilai-nilai relegius.  Kata Kunci:  manajemen, pengasuhan, anak, soft skill
PENDIDIKAN KELUARGA BERWAWASAN GENDER PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI KUDUS Muzdalifah Muzdalifah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2016): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v9i1.1794

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang peran orang tua dalam pendidikan berwawasan gender keluarga pada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini mneggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dengan metode observasi dan wawancara mendalam yang diperoleh dari subyek penelitian sebanyak tiga orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subyek 1 menganggap bahwa memiliki anak laki-laki berumur 6 tahun berkebutuhan khusus dengan menderita cerebral palsy. Subyek 2 menyatakan memiliki anak perempuan yang berumur 23 tahun yang berkebutuhan khusus berupa cacat kaki. Subyek 3 memiliki anak perempuan berumur 30 tahun berkebutuhan khusus yaitu hidrosefalus. Subyek 1 dan 2 menganggap bahwa pendidikan tetap diberikan kepada anak berkebutuhan khusus dengan berkeadilan gender. Subyek 3 menganggap bahwa pendidikan tidak perlu diberikan kepada anak berkebutuhan khusus .Perbedaan mendidik dalam keluarga ini dipengaruhi oleh faktor tingkat pendidikan, kenyakinan, harapan masa depan, faktor ekonomi dalam keluarga.  This study aims described the role of parents in the education gender responsive family on children with  special needs. This study used qualitative research approach. The collection of data by the method of observation and in-depth interviews were obtained from three research subjects. The results showed that subjects one considers that having a boy was 6 years old with special needs suffering from cerebral palsy. Subjects 2 states had a daughter who was 23 years old with special needs in the form of deformed feet. 3 subjects had a 30 year-old daughter with special needs, namely hydrocephalus. Subjects 1 and 2 assumed that education still be given to children with special needs by gender. Subjects 3 considers that education should not be given to children with special needs in the family . The difference of education is influenced by the level of education, the assurance, the future expectations, economic factors in the family.
Pelecehan Seksual Pada Jurnalis Perempuan di Indonesia Suprihatin Suprihatin; Abdul Muhaiminul Azis
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.8709

Abstract

Penelitian ini hendak menggali informasi dari informan jurnalis perempuan yang pernah menjadi korban pelecehan seksual. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan data tentang jenis pelecehan seksual, pola pelaku, dampak, dan tindak lanjut dari pelecehan yang terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan focus group discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat korban mengalami pelecehan verbal yang mengarah pada pelecehan fisik. Dari aspek pelaku, ketiga korban mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual adalah narasumber yang hendak diwawancarai, sementara satu informan lain mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual adalah atasannya di kantor. Dari aspek dampak, keempat informan mengatakan bahwa mereka mengalami trauma meski tidak berkepanjangan. Keempat informan juga menyatakan bahwa mereka memilih tidak melanjutkan kasus yang dialaminya ke ranah hukum. 
PENGENDALIAN PERKAWINAN DINI (CHILD MARRIAGE) MELALUI PENGEMBANGAN MODUL PENDIDIKAN PENYADARAN HUKUM : STUDI KASUS PADA MASYARAKAT SUBKULTUR MADURA DI DAERAH TAPAL KUDA, JAWA TIMUR Yusuf Hanafi
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.972

Abstract

Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan modul pendidikan berorientasi pengakuan hukum untuk menghindari praktik pernikahan anak di bawah umur, terutama di Madura Sub-Budaya Masyarakat di daerah tapal kuda. Hasilnya adalah modul pendidikan yang terdiri atas tiga paket. Paket I berisi istilah perkawinan dan anak-anak di bawah usia sahnya dalam perspektif hukum Islam, hukum nasional dan hak asasi manusia internasional. Paket II resiko dan bahaya pernikahan anak di bawah umur, baik fisik, psikologis, medis dan seksual. Paket III berisi rencana kebijakan dan rencana aksi untuk pencegahan praktik pernikahan anak di bawah umur yang dirancang secara sinergis di segala bidang, baik hukum, politik, pendidikan, agama dan sosial-ekonomi. Bahan Modul dikembangkan berdasarkan pendekatan kompetensi. Seperti biasa bahan berbasis kompetensi, maka modul adalah hasil dari perkembangan ini akan terdiri dari: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tema, strategi, media, penilaian, dan alokasi waktuABSTRACT This research tried to develop educational module orientated in law recognition to avoid the practice of child marriage under age, especially in Madura Sub-Culture Community in Horseshoe Area. The result is an educational module which consist three packages. Package I contains the terms marriage and children under the age of legality in the perspective of Islamic jurisprudence, national laws and international human rights. Package II risks and dangers of the marriage of child marriage under age, whether physical, psychological, medical and sexual. Package III contains policy plan and action plan for the prevention of child marriage practices designed underage synergistically in all fields, whether legal, political, educational, religious and socio-economic. The materials module was developed based on the competency approach. As usual competency-based material, then the module is the result of this development will consist of: competency standards, competency base, indicators, themes, strategies, media, assessment, and time allocation
OTORITAS AGAMA ULAMA PEREMPUAN:Relevansi Pemikiran Nyai Masriyah Amva Terhadap Kesetaraan Gender Dan Pluralisme Yusron Razak; Ilham Mundzir
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2019): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i2.5981

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara kesalehan dengan inisiatif dan realisasi pemberdayaan diri seorang ulama perempuan dengan menggunakan teori kesalehan Saba Mahmood. Didasarkan secara empiris pada penelitian etnografis terhadap transformasi otoritas keagamaan Nyai Masriyah Amva di Kabupaten Cirebon, Propinsi Jawa Barat, Indonesia, artikel ini menyimpulkan dua hal. Pertama, menganalisa transformasi Nyai Masriyah, yang dengan kesalihan, keteguhan dan kreativitasnya mampu membangun otoritas agamanya dan mengembangan Pesantren Kebon Jambu al-Islami di Cirebon, Jawa Barat. Kedua, karya-karya Nyai Masriyah menunjuk kesadaran feminisme dengan merefleksikan pengalaman dan usaha pribadinya sebagai perempuan dan ulama dengan akar pada tradisi pesantren yang berdaya, mandiri, dan toleran dengan keragaman. Pemikiran Nyai Masriyah penting untuk memperkuat bangunan moderasi Islam di Indonesia yang saat ini dihadapkan pada narasi besar menguatnya konservatisme (conservative-turn).
HARMONI DALAM KELUARGA PEREMPUAN KARIR : UPAYA MEWUJUDKAN KESETARAAN DAN KEADILAN GENDER DALAM KELUARGA Anita Rahmawati
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.932

Abstract

Penelitian ini berusaha untuk menjelaskan hubungan gender dalam karir keluarga. Masalah yang sering timbu ldalam keluarga karir ganda adalah ideologi gender dalammasyarakat, khususnya yang terkait dengan stereotipgender dalam kerja dan distribusi jender tenaga kerja.Oleh karena itu, hubungan gender dalam karir keluarga yang dapat dibangun melalui kemitraan gender adalahpersamaan dan keadilan antara suami dan istri, dan anakanak,baik laki-laki dan perempuan dalam melakukansemua fungsi keluarga melalui pembagian peran dantenaga kerja, baik dalam masyarakat, wilayah domestikdan sosial. Melalui kemitraan dan hubungan gender yangharmonis dalam keluarga, mereka dapat merealisasikan kesejahteraan keluarga dan kesetaraan gender.Kata kunci:  Relasi Gender, Keluarga, Perempuan, Karir.
Gembyangan Waranggana: The Process of Abjection toward Warangganas and Langen Tayub Tradition. Affaf Mujahidah
PALASTREN Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : STAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.7349

Abstract

The concept of representation of Dewi Sri manifested in the Langen Tayub performance. However, as the massive development in Javanese society, the image of warangganas has gradually derogated. Even waranggana has been synonymous with prostitute, being a waranggana is not similar to be a sexual worker. There are many requirements of being a waranggana. Not only must able to sing obligatory gendhings, a waranggana is required to be a good dancer. Therefore, a waranggana training system was established in Ngrajek, Sambirejo, Tanjunganom, Nganjuk regency, East Java. The procession of graduation from this training has been an annual tourism agenda of Nganjuk regency, called gembyangan waranggana. The existence of training system for waranggana has been an antithesis of pejorative image of warangganas. Therefore, this paper aims to analyze on the existence of waranggana training system in Nganjuk. Refers to Kristeva idea of abjection of women role, this paper will focus on how the negative perception of warangganas has been formulated. Moreover, the discussion of government policies for managing this training system will be another highlight. The first chapter will be an introduction which represented by the history of gembyangan waranggana. The second chapter will explain the process being a good waranggana and skills have to be mastered. Then will continue by the social condition of waranggana and the society’s perception toward them. All chapters will be wrapped up by the last chapter, discussion.