cover
Contact Name
persona
Contact Email
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalpersona@untag-sby.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia
ISSN : 23015985     EISSN : 26155168     DOI : -
Persona: Jurnal Psikologi Indonesia is a peer-reviewed journal, published by Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Persona Journal was first published in 2012. At first this journal was published three times a year. Starting in 2017 this journal is only published twice a year, in June and December
Arjuna Subject : -
Articles 278 Documents
Kecerdasan emosi sebagai prediktor resiliensi psikologis pada remaja di panti asuhan Apriani, Fitri; Listiyandini, Ratih Arruum
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2248

Abstract

AbstractYoung people living in social institutions are more vulnerable to have mental health problems. Thus, they need to have psychological resilience, which is the ability to thrive in the face of adversity. The aim of the study is to investigate how much emotional intelligence can predict the psychological resilience of adolescents living at social institutions (orphanage).  Research used quantitative approach and correlational design. In this study, by using purposive sampling technique, 145 adolescents aged 11 - 18 years living at orphanage around Jakarta were participated. Adaptation of resilience scale from Connor & Davidson was used to measure the psychological resilience and the scale of emotional intelligence was an adapted scale from theory of Salovey and Mayer. Both adapted scale shown good reliability index indicated that they can use to measure the variables consistently. The statistical analysis using linear regression test indicate that emotional intelligence can predict psychological resilience significantly and positively. It is implied that emotional intelligence is being an important factor for resilience development among orphanage youth. Thus, it is imperative to cultivate emotional intelligence aspects in resilience building program for young people living in social shelters. Keywords : Adolescents; Emotional intelligence; Orphanage; Resilience AbstrakRemaja di panti asuhan rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, mereka membutuhkan resiliensi psikologis, yaitu kemampuan untuk bisa bangkit dari masalah yang dihadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis sejauh mana kecerdasan emosional dapat menjadi prediktor dari resiliensi psikologis pada remaja yang tinggal di panti asuhan. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Menggunakan teknik sampling purposive, sebanyak 145 orang remaja berusia 11 – 18 tahun yang tinggal di panti asuhan yang ada wilayah sekitar Jakarta dilibatkan dalam penelitian ini. Adaptasi skala resiliensi dari Connor dan Davidson dan skala kecerdasan emosional berdasarkan teori Salovey dan Mayer untuk mengukur kecerdasan emosional digunakan di dalam penelitian ini. Kedua skala yang diadaptasi menunjukkan reliabilitas yang baik sehingga layak digunakan. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji regresi sederhana menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan emosional menjadi prediktor yang signifikan terhadap resiliensi psikologis secara signifikan dan positif Hasil ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional menjadi faktor yang penting dalam peningkatan resiliensi psikologis remaja panti asuhan. Oleh karena itu, perlu untuk menumbuhkan aspek-aspek yang menyusun kecerdasan emosional di dalam program pengembangan resiliensi psikologis pada remaja yang tinggal di panti asuhan.Kata kunci : Kecerdasan emosi; Panti asuhan; Remaja; Resiliensi
Faktor yang menjadi hambatan untuk mencari bantuan psikologis formal di kalangan mahasiswa Rasyida, Afinnisa
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2586

Abstract

Abstract In spite of the fact that mental health problems are increasingly prevalent among college students, they are often disinclination to seek help from formal psychological services. There is a lack of empirical studies focusing specifically on college students’ barriers to seeking psychological help in Indonesia. This study aims to identify the factors that prevent college students from seeking psychological help at formal psychology service providers. Participants in this study were 205 college students who were obtained using purposive sampling techniques. College students are given a Willingness to Seek Professional Counseling scale at Outside the University (WSPCO) to identify factors that prevent them from seeking psychological help. Data were analyzed using descriptive statistics. The results of this study showed that there were three main factors that make students reluctant to seek psychological help from providers such as the students who do not know which counseling services are good, students have family or friends who can help, and students feel that the problem is still not serious. By knowing these barriers, formal psychological services need to add information about the services, especially the place, forms of services, and professional that capable of mental health problems to meet the public’s understanding of formal psychological services. Keywords: Barriers to seek psychological help; College student; Indonesia; Mental health; Psychological help-seeking. AbstrakTerlepas dari kenyataan bahwa masalah kesehatan mental semakin banyak terjadi di kalangan mahasiswa, mahasiswa sering enggan mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologi formal. Studi empiris yang berfokus pada hambatan mahasiswa untuk mencari bantuan psikologis di Indonesia masih jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat mahasiswa untuk mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologi formal. Partisipan pada penelitian ini adalah 205 mahasiswa yang didapatkan melalui teknik purposive sampling. Mahasiswa diberikan skala Willingness to Seek Professional Counseling Outside the University (WSPCO) untuk mengidentifikasi faktor yang menghambat mahasiswa mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologi formal. Data yang telah didapat lalu dianalisis menggunakan statistika deskriptif. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa tiga faktor utama yang membuat mahasiswa enggan untuk mencari bantuan psikologis pada penyedia layanan psikologis formal adalah mahasiswa tidak tahu mana layanan konseling yang baik, mahasiswa memiliki keluarga atau teman yang dapat menolong, dan mahasiswa merasa selama ini masalah masih kurang serius. Dengan mengetahui faktor penghambat ini maka layanan psikologis formal perlu menambah informasi mengenai layanan khususnya tempat layanan, bentuk layanan, dan tenaga ahli yang dapat menangani masalah kesehatan mental untuk memenuhi pemahaman masyarakat atas bantuan layanan psikologis formal. Kata kunci: Bantuan psikologis; Hambatan dalam mencari bantuan psikologis; Indonesia; Kesehatan mental; Mahasiswa.
Kemandirian belajar ditinjau dari kepercayaan diri Simatupang, Juni Erlina
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2275

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between self-confidence and learning independence. This research was conducted on 233 students of Cahaya Medan High School who were selected using the disproportionate stratified random sampling method and the scale used was a scale to measure self-confidence and learning independence. The calculation is done through an analysis prerequisite test (assumption test) which consists of a normality test and a linearity test. The data analysis used is Product Moment correlation through SPSS 17 for Windows. Besides self-confidence, learning independence is influenced by other factors such as learning motivation, self-concept and democratic parenting of parents. So it can be concluded that the hypothesis is accepted, namely, there is a positive relationship between self-confidence and learning independence.Keywords: Self-confidence; Learning independence Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepercayaan diri dengan kemandirian belajar. Penelitian ini dilakukan terhadap 233 orang siswa-siswi SMA Cahaya Medan yang dipilih dengan menggunakan metode disproportionate stratified random sampling dan skala yang digunakan yaitu skala untuk mengukur kepercayaan diri dan kemandirian belajar. Perhitungan dilakukan dengan melalui uji prasyarat analisis (uji asumsi) yang terdiri dari uji normalitas dan uji linieritas. Adapun analisis data yang dipakai yakni dengan korelasi Product Moment melalui bantuan SPSS 17 for Windows. Selain kepercayaan diri, variabel kemandirian belajar dipengaruhi oleh faktor lain seperti motivasi belajar, konsep diri dan pola asuh demokratis orang tua. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis dapat diterima yakni ada hubungan positif antara kepercayaan diri dengan kemandirian belajar.Kata Kunci: Kepercayaan diri; Kemandirian belajar
Perilaku eksplorasi karier, dukungan sosial, dan keyakinan dalam pengambilan keputusan karier SMP Rossallina, Lia; Salim, Romini Agoes
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2627

Abstract

AbstractMany SMP students choose mayor because of their good marks. They are not interested in that field, they just follow what their friend chooses, follow their teacher recommendation, or follow their parent’s advice, but not doing career exploration in the first. This research intended to examine the role of career exploration behavior in mediating social support and career decision making self-efficacy. Data collected from a student in grades 8 and 9 (n= 142), with convenient sampling techniques. The measuring used in this study were Carrier Decision Making Self Efficacy-SF, Adolescent Social Support Scale, and Career Exploration Survey, that have been adapted to Bahasa. Regression analysis and Sobel test showed that career exploration behavior significantly mediating the relationship between social support and career decision making self-efficacy. Social support from a parent, teacher, and friend is a trigger to emerge the career exploration behavior, which finally forms the career decision making self-efficacy. Implications, limitations, and suggestions are discussed.Keywords: Career decision making self-efficacy; Career exploration behavior; Junior high school student; Social support AbstrakBanyak siswa SMP memilih jurusan karena nilainya memadai di bidang tersebut. Padahal belum tentu sebetulnya ia berminat, mereka hanya mengikuti pilihan teman, menuruti rekomendasi gurunya, ataupun mengikuti saran orang tua, tanpa melakukan eksplorasi karier terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh perilaku eksplorasi karier dalam memediasi hubungan dukungan sosial dan keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier. Pengambilan data siswa kelas 8 dan 9 (n= 142), dengan teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan adalah Carrer Decision Making Self Efficacy-SF, Adolescent Social Support Scale, dan Career Exploration Survey, yang sudah diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia. Hasil uji regresi dan uji Sobel menunjukkan perilaku eksplorasi karier signifikan memediasi hubungan dukungan sosial dan keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier. Dukungan sosial yang diterima dari orang tua guru, dan teman adalah pemicu munculnya perilaku eksplorasi karier, yang akhirnya membentuk keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier. Implikasi, keterbatasan penelitian, dan saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan.Kata kunci: Dukungan sosial; Keyakinan diri dalam pengambilan keputusan karier; Perilaku eksplorasi karier; Siswa Sekolah Menengah Pertama
Kecemasan dan motivasi belajar Vivin, Vivin
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2276

Abstract

AbstractThis study aims to determine the relationship between anxiety with learning motivation and the hypothesis of this study stated that there is a negative correlation between anxiety with learning motivation, assuming the higher anxiety, the lower the learning motivation will be and conversely the lower anxiety, the higher learning motivation will be. The subject population of this study was 1.241 students, and the number of samples used was 275 students of 13th State Senior High School Medan selected by disproportionate stratified random sampling. Data were obtained from the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) to measure anxiety and learning motivation scale. The analysis of the data was performed by Pearson Product Moment Correlation with SPSS 17 for Windows. The results of this research showed that there is a negative relationship between anxiety with learning motivation. Students who have no acute anxiety feelings would be able to cope with difficult learning situations with prepare through learning activities. Conversely, the students who have excessive anxiety would tend to have a negative perception that there is no motivation and passion for learning. Keywords: Anxiety; Learning motivation AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan motivasi belajar dan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan negatif antara kecemasan dengan motivasi belajar, asumsinya bahwa semakin tinggi kecemasan, maka semakin rendah motivasi belajar dan sebaliknya semakin rendah kecemasan maka semakin tinggi motivasi belajar. Populasi subjek penelitian ini sebanyak 1.241 orang, dan jumlah sampel yang digunakan adalah 275 orang siswa-siswi SMA Negeri 13 Medan yang dipilih dengan metode disproportionate stratified random sampling. Data diperoleh dari Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) untuk mengukur kecemasan dan skala motivasi belajar. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan korelasi Pearson Product Moment melalui bantuan SPSS 17 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kecemasan dengan motivasi belajar. Siswa-siswi yang tidak memiliki perasaan cemas berlebihan, akan mampu mengatasi situasi pembelajaran yang sulit dengan mempersiapkan diri melalui kegiatan belajar. Sebaliknya siswa-siswi yang mengalami perasaan cemas berlebihan akan cenderung memiliki persepsi negatif sehingga tidak memiliki motivasi dan gairah untuk belajar. Kata kunci: Kecemasan; Motivasi belajar
Efektifitas individual work system untuk meningkatkan kemandirian penyelesaian tugas anak dengan autisme Istiqomah, Adinda
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 8 No 2 (2019): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v8i2.2727

Abstract

Abstract Individual work systems develop independence by organizing tasks and activities that can be carried out by individuals with ASD (Autism Spectrum Disorder). This research develops a work system that can help organize the task  using the visual-spatial strengths of children with ASD.The aim of this study is to investigate  the effectiveness of Individual Work System for students with ASD making  easier to understand the given instructions and respond appropriately. The research is being conducted by applying individual work system for students with ASD to improve completing the task. This research uses quasi experimental using reversal design A-B design in five subjects diagnosed with mild autism, aged elementary school, had problems in completing the tasks and have ability to simple instruction. The data collection tool uses observations that assess off-task/on-task behavior, teacher prompting, task completion. Data obtained were analyzed using the non-parametric Wilcoxon statistical test. The result showed that the intervention using that idividual work system was effective increase independence of task completion for student with autism. Keywords: Autism spectrum disorder (ASD); Independence of task completion; Individual work system AbstrakIndividual work systems atau sistem kerja individu mengembangkan kemandirian dengan cara mengorganisasikan tugas dan aktivitas yang dapat dipahami oleh individu dengan ASD (Autism Spectrum Disorder). Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas Individual Work System siswa dengan (ASD). Penelitian ini menciptakan struktur kerja yang dapat membantu mengorganisir penugasan yang dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan visual-spasial anak ASD. Kurangnya kemandirian pada anak ASD terlihat pada seringkali guru membantu atau mengarahkan anak ASD dalam menyelesaikan tugas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas Individual Work System  anak dengan ASD sehingga lebih mudah memahami intruksi yang diberikan dan berespon dengan tepat. Penelitian ini menggunakan desain reversal dengan jenis A-B design pada lima orang subjek yang telah didiagnosis autisme sedang, berusia sekolah dasar, mempunyai permasalahan dalam penyelesaian tugas dan telah mampu mengikuti perintah sederhana. Alat pengumpulan data menggunakan observasi yang disusun oleh peneliti yang terdiri dari respon off-task/on-task, teacher prompting, dan task completion. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan uji statistik non-parametric Wilcoxon. Hasil analisis data statistik menunjukkan bahwa individual work system efektif meningkatkan kemandirian penyelesaian tugas anak ASD. Kata kunci: Autism spectrum disorder (ASD); Individual work system; Kemandirian penyelesaian tugas.
Peran efikasi diri dalam memediasi interaksi mindfulness dan burnout pada guru sekolah dasar inklusif G.D., Putu Winda Yuliantari; Widyasari, Pratiwi
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 1 (2020): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i1.3373

Abstract

AbstractThe role of teachers, especially in primary school education, is something that needs to be considered as a form of anticipation of emotional fatigue that results in burnout. This study aimed to examine the effect of teacher self-efficacy in mediating the relationship of mindfulness to the domain of burnout conditions. Data collected from participants in inclusive primary school (n = 174) using convenience sampling techniques. This study used Mindfulness in Teaching Scale, Teacher Efficacy in Inclusive Practice, and Maslach Burnout Inventory-Educator Survey as measuring tools, which has been adapted to the context of inclusive education in Indonesia. The results of the regression test and the Sobel test showed that self-efficacy significantly mediates the relationship between mindfulness conditions and the domain of personal achievement in burnout conditions. The teacher's self-efficacy becomes an important thing to consider when wanting to handle mindfulness in helping to improve the domain of personal accomplishment in burnout conditions. Implications, limitations of the study, and suggestions for further research are discussed.Keywords: Burnout; Inclusive education; Mindfulness; Primary school teacher; Self-efficacy  AbstrakPeran guru terutama di pendidikan sekolah dasar menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan sebagai bentuk antisipasi terhadap kondisi kelelahan emosional yang berujung pada burnout. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh efikasi diri guru dalam memediasi hubungan kondisi kesadaran (mindfulness) terhadap domain kondisi burnout. Pengambilan data partisipan penelitian di sekolah dasar inklusif (n=174) dilakukan dengan teknik convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Mindfulness in Teaching Scale, Teacher Efficacy in Inclusive Practice, dan Maslach Burnout Inventory-Educator Survey, yang telah diadaptasi ke dalam konteks pendidikan inklusif di Indonesia. Hasil uji regresi dan uji Sobel menunjukkan efikasi diri secara signifikan memediasi hubungan antara kondisi mindfulness dengan domain pencapaian personal pada kondisi burnout. Efikasi diri guru menjadi hal yang penting untuk diperhatikan ketika ingin melakukan penanganan terhadap kondisi kesadaran (mindfulness) dalam membantu meningkatkan domain pencapaian personal pada kondisi burnout. Implikasi, keterbatasan penelitian, dan saran untuk penelitian selanjutnya didiskusikan.Kata kunci: Burnout; Efikasi diri; Guru sekolah dasar; Mindfulness; Pendidikan inklusif
Bagaimana self-efficacy calon guru siswa dengan disabilitas di sekolah inklusi?: Studi di berbagai Perguruan Tinggi Novembli, Meta Silfia; Azizah, Nur
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 1 (2020): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i1.2804

Abstract

AbstractThe prospective teacher must have both academic and competency readiness. Besides, they must have self-efficacy on their own ability to later teach in schools, especially inclusive schools. However, until now research that discusses how Prospective teachers’ self-efficacy in teaching students with disabilities is still very limited and unclear. The purpose of this study is to reveal the self-efficacy profile of prospective teachers in teaching students with disabilities in inclusive schools as seen in three sub-constructs namely using inclusive instruction, collaboration, and managing behavior. The type of research is a survey. The population is the students of the Elementary School Teacher Education Study Program with a sample of 234 people. The data were collected using a scale of self-efficacy for prospective teachers with alpha coefficient 0,983. The data analyzed using descriptive statistics. In general, the self-efficacy of prospective teachers is in the moderate category. Based on the three sub-constructs of self-efficacy, prospective teachers in using inclusive instructional, collaboration, and managing behavior also are in a medium category. Implications may be reviewed further by the Ministry of Higher Education and University.Key Words: Prospective Teachers; Collaboration; Managing Behavior; Self-Efficacy; Using Inclusive InstructionAbstrakCalon guru harus mempunyai kesiapan baik akademik maupun kompetensi sebelum mengajar di sekolah. Selain itu, calon guru harus mempunyai self-efficacy atas kemampuannya sendiri untuk nantinya mengajar di sekolah terutama sekolah inklusi. Namun, hingga kini penelitian mengenai bagaimana self-efficacy calon guru untuk mengajar siswa dengan disabilitas masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan gambaran self-efficacy calon guru untuk mengajar siswa dengan disabilitas di sekolah inklusi yang dilihat pada tiga sub konstruk yaitu using inclusive instructional, collaboration, dan managing behavior. Metode penelitian adalah survei dengan pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan partisipan sebanyak 234 orang. Pengumpulan data menggunakan skala self-efficacy calon guru dengan koefisien alpha 0,983. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Secara umum self-efficacy calon guru berada pada kategori sedang. Berdasarkan ketiga sub-konstruk self-efficacy calon guru yaitu dalam using inclusive instructional, collaboration, dan managing behavior juga memiliki kategori sedang. Implikasi dapat dikaji lebih lanjut oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Universitas.Kata Kunci: Calon Guru; Kerja Sama; Manajemen Perilaku; Self-Efficacy; Pembelajaran Inklusif 
Stres akademik pada siswa: Menguji peranan iklim kelas dan school well-being Muhid, Abdul; Ferdiyanto, Fahmy
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 1 (2020): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i1.3523

Abstract

AbstractAcademic stress is a crucial problem experienced by students. Educators and researchers pay high attention to the phenomenon of academic stress among students. This study presents the results of an empirical study of the effects of classroom climate and school well-being on academic stress. This research uses a quantitative approach and is carried out by survey methods that used 3 psychological scales as a measurement tools, namely Academic Stress Scale (? = 0.831); Classroom Climate Scale (? = 0.736); and School Well-being Scale (? = 0.868). The subjects of this study were 105 students taken by the purposive sampling technique at 2 schools. The results showed that simultaneously there was a significant negative effect between classroom climate and school well-being on academic stress. Partially the results of this study indicate that there is a significant influence between classroom climate on academic stress. While the school well-being variable has a significant negative effect on academic stress. Classroom climate and school well-being variables can be used as strong predictors of academic stress.Keywords: Academic stress; Classroom Climate; Cchool Well-Being AbstrakStres akademik menjadi permasalahan yang krusial dialami oleh siswa. Para pendidik dan peneliti menaruh perhatian yang tinggi terhadap fenomena stres akademik di kalangan siswa. Penelitian ini memaparkan hasil studi empiris tentang pengaruh iklim kelas dan school well-being terhadap stres akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan dilakukan dengan metode survei yang menggunakan 3 skala psikologi sebagai alat ukur, yaitu Skala Stres Akademik (? = 0.831); Skala Iklim Kelas (? = 0.736); dan Skala School Well-being (? = 0.868). Subyek penelitian ini berjumlah 105 siswa yang diambil dengan teknik purposive sampling pada 2 sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan ada pengaruh negatif yang signifikan antara iklim kelas dan school well-being terhadap stres akademik. Secara parsial hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara iklim kelas terhadap stres akademik. Sedangkan variabel school well-being memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap stres akademik.  Variabel iklim kelas dan school well-being dapat dijadikan prediktor yang kuat terhadap stres akademik.Kata kunci: Iklim Kelas; School Well-Being; Stres Akademik
Alat ukur pemeliharaan hubungan perkawinan untuk orang Indonesia: Pengujian properti psikometri Santosa, Rizky Putra; Kusumawardhani, Dity Ayu
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 1 (2020): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/persona.v9i1.2928

Abstract

AbstractRelationship maintenance is intended to maintain the desired relationship characteristics. It is necessary to have specificity in measuring the maintenance of the marital relationship that can be used in Indonesian culture and language because there are no studies focusing on this theme. This study aims to develop a measure of behavior to maintain marital relations based on seven dimensions of positivity, assurances, self-disclosure, relationship talks, understanding, tasks, and network. This research is a quantitative descriptive study because it aims to determine the psychometric characteristics of measuring instruments. A total of 199 subjects are heterosexual couples who are married. The preparation of this scale is carried out through the steps of concept construction, item preparation, item review as well as validity and reliability testing. Validity tests include Aiken's content validity, construct validity with confirmatory factor analysis, and criterion validity that is correlated with marital satisfaction. This research produced 34 items of marital maintenance relationship behavior scale with adequate psychometric properties in each dimension. This scale can be used to answer questions related to relationship maintenance. Future scale development is discussed in this paper.Keywords: Marriage Couples; Measurement; Relationship Maintenance AbstrakPemeliharaan hubungan ditujukan untuk mempertahankan karakteristik hubungan yang diinginkan. Penting untuk adanya kekhususan dalam mengukur pemeliharaan hubungan perkawinan yang dapat digunakan dalam budaya dan bahasa Indonesia karena penggunaan skala pemeliharaan hubungan tidak banyak dilakukan dan bahkan belum ada penelitian yang berfokus pada perilaku memelihara hubungan perkawinan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun alat ukur perilaku memelihara hubungan pernikahan berdasarkan tujuh dimensi yaitu kepositifan, jaminan, pengungkapan diri, pembicaraan hubungan, pemahaman, pembagian tugas dan berbagi jaringan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif, karena bertujuan untuk mengetahui karakteristik psikometrik alat ukur. Sebanyak 199 partisipan merupakan pasangan heteroseksual yang telah menikah. Penyusunan skala ini dilakukan melalui tahap konstruksi konsep, penulisan butir, pengkajian butir serta uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas diantaranya validitas isi aiken, validitas berdasarkan konstruk menggunakan analisis faktor konfirmatori dan validitas berdasarkan kriteria yang dikorelasikan dengan kepuasan perkawinan. Penelitian ini menghasilkan 34 butir skala perilaku memelihara hubungan perkawinan dengan properti psikometris yang memadai disetiap dimensi keperilakuan. Skala ini dapat digunakan guna menjawab pertanyaan terkait pemeliharaan hubungan. Pengembangan skala lebih lanjut dibahas dalam tulisan ini.Kata kunci: Pengukuran; Pemeliharaan Hubungan; Pasangan Perkawinan