Articles
278 Documents
Resiliensi akademik dan kepuasan belajar daring di masa pandemi COVID-19: Peran mediasi kesiapan belajar daring
Kumalasari, Dewi;
Akmal, Sari Zakiah
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/persona.v9i2.4139
Abstract The COVID-19 pandemic accelerates the disruption in the education world to shift from face-to-face learning to online learning. Several challenges in implementing online learning potentially make online learning not run well, and later it will be affected by student’s satisfaction. This study aims to examine the effect of academic resilience on student satisfaction in online learning with the mediating role of online learning readiness. About 379 university students (aged 18-32 years (M = 20.55, SD = 1.87) whose hired by using the incidental sampling technique, participated in this study. The data were collected with three instruments: the academic resilience scale (ARS-30), Learner Readiness for Online Learning, and Student Satisfaction with Online Learning. The result showed that online learning readiness fully mediates the relationships between academic resilience and online learning satisfaction. Higher academic resilience increasing online learning readiness, then enhancing student’s online learning satisfaction. This study provides a valuable result for further research and intervention design related to academic resilience, learning readiness, and online learning satisfaction. Keywords: Academic resilience; College students; Online learning readiness; Online learning satisfaction AbstrakPandemi COVID-19 mengakselerasi distrupsi pada dunia pendidikan untuk beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring. Sejumlah tantangan dalam mengimplementasikan pembelajaran daring berpotensi membuat pembelajaran daring tidak berjalan ideal dan nantinya berdampak pada kepuasan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh resiliensi akademik terhadap kepuasan mahasiswa dalam pembelajaran daring dengan peran mediasi kesiapan belajar daring. Penelitian ini melibatkan 379 mahasiswa berusia 18-32 tahun (M=20.55, SD=1.87) yang diperoleh melalui Teknik sampling incidental. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala the academic resilience scale (ARS-30), Learner Readiness for Online Learning dan Student Satisfaction with Online Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan belajar daring menjadi mediator dalam hubungan antara resiliensi akademik dan kepuasan belajar daring pada mahasiswa. Resiliensi akademik yang baik membuat individu memiliki kesiapan belajar daring yang lebih baik yang kemudian akan meningkatkan kepuasan dalam belajar daring. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan penelitian dan intervensi terkait resiliensi akademik, kesiapan belajar dan kepuasan belajar daring. Kata kunci: Kesiapan belajar daring; Kepuasan belajar daring; Resiliensi akademik; Mahasiswa
Inferiority feeling pada remaja panti asuhan: Bagaimana peranan konsep diri dan dukungan sosial?
Noviekayati, IGAA;
Farid, Muhammad;
Amana, Lidya Nur
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 10 No 1 (2021): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (631.401 KB)
|
DOI: 10.30996/persona.v10i1.4826
AbstractInferiority feeling in adolescents who live in orphanages needs attention because if left unchecked it can cause adolescents to lose their potential. This study intends to examine the role of self-concept and social support on inferiority feelings. Participants in this study were 71 teenagers who were taken purposively from seven orphanages in Surabaya. The research data were taken using the inferiority feeling scale (?=0.874), the self-concept scale (?=0.935), and the social support scale (?=0.938) which were compiled by the researcher himself. The results of data analysis using multiple regression analysis show that self-concept and social support simultaneously have a negative effect on inferiority feeling. Partially both variables also have a significant negative effect on inferiority feeling. The implication of this research is as a basis of reference for caregivers, counsellors or the community in paying attention to the psychological needs of orphaned youth.Keywords: Inferiority Feeling; Self-concept; Social support AbstrakInferiority feeling pada remaja yang tinggal di panti asuhan perlu mendapatkan perhatian sebab jika dibiarkan dapat menyebabkan remaja kehilangan potensi dirinya. Penelitian ini bermaksud untuk menguji peranan konsep diri dan dukungan sosial terhadap inferiority feeling. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 71 remaja diambil dengan teknik purposive sampling dari tujuh panti asuhan di Surabaya. Data penelitian diambil menggunakan skala inferiority feeling (?=0,874), skala konsep diri (?=0,935), dan skala dukungan sosial (?=0,938) yang disusun sendiri oleh peneliti. Hasil analisis data menggunakan regresi ganda menunjukkan secara simultan konsep diri dan dukungan sosial memiliki pengaruh negatif terhadap inferiority feeling. Secara parsial kedua variabel juga memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap inferiority feeling. Implikasi penelitian ini adalah sebagai dasar acuan kepada pengasuh, konselor ataupun masyarakat dalam memperhatikan kebutuhan psikologis remaja panti asuhan.Kata kunci: Dukungan sosial; Inferiority feeling; Konsep diri
Self-esteem dan resiliensi sebagai prediktor penyesuaian diri mahasiswa baru di Indonesia
Faizah, Faizah;
Marmer, Farica Veronica;
Aulia, Nadhirah Nurul;
Rahma, Ulifa;
Dara, Yuliezar Perwira
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/persona.v9i2.3448
AbstractStudents who continue their education to higher education will find a variety of changes, new challenges, demands, and greater responsibilities. This transition can put pressure on new students and negative results if they cannot pass it. The purpose of this study was to determine the role of self-esteem and resilience towards the adjustment of new students. Determination of the sample using accidental sampling technique with a sample of new students in the first semester who are actively enrolled in state or private universities (N = 673). Measuring instruments used are the Rosenberg Self-esteem Scale-Revised with reliability 0,836, Brief Resilience Scale with reliability 0,747, and Inventory of New College Student Adjustments with reliability 0,701 that have been through the process of trans adaptation. Based on the results of multiple regression tests, self-esteem and resilience are significant predictors of the adjustment of new students in a positive direction. Self-esteem is an evaluation of core self and resilience in difficult times can be a factor that increases the adjustment of new college students.Keywords: Adjustment; New College Student; Resilience; Self-esteem AbstrakSiswa yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi akan menemukan berbagai perubahan, tantangan baru, tuntutan, dan tanggung jawab yang lebih besar. Transisi ini dapat memberikan tekanan bagi mahasiswa baru dan hasil yang negatif apabila tidak dapat melewatinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran self-esteem dan resiliensi terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru. Penentuan sampel menggunakan teknik accidental sampling dengan sampel mahasiswa baru di semester pertama yang terdaftar aktif di perguruan tinggi negeri ataupun swasta (N = 673). Alat ukur yang digunakan adalah skala Rosenberg Self-esteem Scale-Revised dengan reliabilitas 0,836, Brief Resilience Scale dengan reliabilitas 0,747, dan Inventory of New College Student Adjustment dengan reliabilitas 0,701 yang telah melalui proses transadaptasi. Berdasarkan hasil uji regresi berganda, self-esteem dan resiliensi merupakan prediktor yang signifikan terhadap penyesuaian diri mahasiswa baru dengan arah yang positif. Self-esteem sebagai evaluasi inti diri dan resiliensi sebagai ketahanan dalam masa sulit dapat menjadi faktor yang meningkatkan penyesuaian diri mahasiswa baru.Kata kunci: Mahasiswa baru; Penyesuaian diri; Resiliensi; Self-esteem
Peran kesepian dan fear of missing out terhadap kecanduan media sosial: Analisis regresi pada mahasiswa
Zanah, Firda Nur;
Rahardjo, Wahyu
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/persona.v9i2.3386
AbstractAddiction to social media is an issue that many people, especially college students, experienced today and it is facilitated by technological advancements. There are several things that can predict social media addiction, which is loneliness and fear of missing out. The purpose of this study was to determine the effect of loneliness and fear of missing out simultaneously on social media addiction among college students. This research was a quantitative study using the loneliness scale by Gierveld and Tilburg with a reliability score of 0,83, fear of missing out scale by Przybylski et al., with a reliability score of 0,79 and social media addiction scale by Al-Menayes with a reliability score of 0,77. The subject in this study was selected using purposive sampling with a total of 166 college students who were actively using social media. The hypothesis was analyzed using multiple regression analysis. The result of this study showed that social media addiction among college students was significantly affected by loneliness and fear of missing out. Negative antecedents such as loneliness and fear of missing out can influence students to get involved in something that is also negative, which is social media addiction.Keywords: Fear of missing out (fomo); College students; Loneliness; Social media addiction. AbstrakKecanduan media sosial merupakan masalah yang saat ini dialami oleh banyak orang, khususnya mahasiswa, dan difasilitasi oleh kemajuan teknologi. Terdapat beberapa hal yang dapat mendorong terjadinya kecanduan media sosial, salah satunya adalah kesepian dan fear of missing out. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh kesepian dan fear of missing out secara simultan terhadap kecanduan media sosial di kalangan mahasiswa. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan skala kesepian dari Gierveld dan Tilburg dengan reliabilitas sebesar 0,83, skala fear of missing out dari Przybylski dkk., dengan reliabilitas sebesar 0,79 dan skala kecanduan media sosial dari Al-Menayes dengan reliabilitas sebesar 0,77. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sebanyak 166 orang mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial. Hipotesis dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecanduan media sosial di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh kesepian dan fear of missing out. Anteseden yang bersifat negatif seperti kesepian dan fear of missing out dapat mempengaruhi individu untuk terlibat dalam hal yang juga bersifat negatif yaitu kecanduan media sosial.Kata kunci: Fear of missing out (FoMO); Kecanduan media sosial; Kesepian; Mahasiswa.
Aplikasi model Rasch pada adaptasi skala personal fable remaja di Jawa Barat
Zahirah, Afina;
Susanto, Hery
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 10 No 1 (2021): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1168.684 KB)
|
DOI: 10.30996/persona.v10i1.5097
Abstract The research aims to examine the reliability and validity of a new personal fable scale in West Java adapted from Lapsley dkk. (1989). New Personal Fable Scale consists of 46 items with 3 dimensions: invulnerability, omnipotence, and personal uniqueness. The subjects of this study were 489 adolescents in West Java. The Rasch Model analysis from summary statistics, scalograms, item measure, person measure, and dimensionality map shows that this scale’s model is a good fit. The convergent validity test shows that the new personal fable scale which is adapted to Bahasa is valid. Reliability with a Cronbach Alpha method is 0,8 which means this scale is reliable. The results indicate that there are several items that need to be improved. This research provides information about the psychometric properties of egocentrism in adolescent especially personal fable in West Java.Keywords: Adolescents; Egocentrism; Personal Fable; Reliability; Validity Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat reliabilitas dan validitas alat ukur personal fable adaptasi secara bahasa yang disesuaikan dengan faktor kultur budaya di Jawa Barat yang berasal dari Lapsley dkk. (1989). Alat ukur personal fable terdiri dari 46 aitem dengan 3 dimensi yaitu invulnerability, omnipotence, dan personal uniqueness. Subjek dari penelitian ini adalah 489 remaja di Jawa Barat. Hasil uji model Rasch dilihat dari analisis summary statistic, scalogram, item measure, person measure, dan dimensionality map menyatakan bahwa alat ukur fit dengan model. Alat ukur adaptasi ini dikatakan valid dilihat dari hasil uji validitas konvergen. Reliabilitas yang dianalisis dengan koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,8 menunjukkan bahwa alat ukur adaptasi ini reliabel. Hasil analisis data menunjukkan adanya beberapa aitem yang perlu diperbaiki dalam rangka penyempurnaan alat ukur adaptasi. Penelitian ini dapat memberikan informasi dan memperkaya referensi keilmuan psikologi dan psikometri pada konstruk egosentrisme remaja khususnya personal fable di Jawa Barat.Kata kunci: Egosentrisme; Personal Fable; Remaja; Reliabilitas; Validitas
Masih ada harapan: Eksplorasi pengalaman pemuda yang menangguhkan bunuh diri
Nurdiyanto, F A
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/persona.v9i2.3995
AbstractSuicide is a global crisis that cannot be resolved. Trends show that suicide began mostly by adolescents and more than 51% were committed by age <45 years. Previous research found that individuals who have experienced suicide attempts have a negative and pessimistic view of life. The purpose of this study is to illustrate the meaning of individual experiences in deferring suicide. Five survivors (3 women) participated through snowball sampling. Data collection was done by phenomenological interviews and observations of participants. Data were analyzed using the descriptive phenomenological analysis to bring out the essence of suicidal experiences. This study derives 4 themes that can facilitate reducing suicidal ideation: connectedness, spirituality, hope, and shame. This study implies that suicide prevention can consider this finding as a protective factor for individuals at risk of suicide and build a support network for suicide survivors.Keywords: Suicide attempt; protective factors; phenomenology. AbstrakBunuh diri merupakan krisis global yang belum dapat diselesaikan. Tren menunjukkan bahwa bunuh diri mulai banyak dilakukan oleh remaja dan lebih dari 51% dilakukan oleh kelompok usia kurang dari 45 tahun. Penelitian terdahulu mencatat individu yang memiliki pengalaman percobaan bunuh diri memiliki pandangan yang negatif sekaligus pesimis terhadap kehidupan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan makna pengalaman individu dalam menangguhkan bunuh diri. Lima penyintas bunuh diri (3 wanita) berpartisipasi melalui snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara fenomenologi dan observasi terhadap partisipan. Analisis data yang digunakan berupa analisis fenomenologis deskriptif untuk memunculkan esensi pengalaman bunuh diri ke dalam bentuk tema-tema fenomenologis. Studi ini memperoleh 4 tema yang dapat memfasilitasi dalam mengurungkan keinginan bunuh diri: keterhubungan, spiritualitas, harapan, dan malu. Implikasi penelitian ini adalah upaya pencegahan bunuh diri dapat mempertimbangkan temuan ini sebagai faktor protektif bagi individu yang memiliki risiko bunuh diri dan membangun jaringan pendukung bagi penyintas bunuh diri.Kata kunci: bunuh diri; faktor protektif; fenomenologi.
Stres akademik sebagai mediator kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan daring
Qonita, Iffah;
Dahlan, Tina Hayati;
Damaianti, Lira Fessia
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 10 No 1 (2021): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (177.616 KB)
|
DOI: 10.30996/persona.v10i1.4531
Abstract Academic stress is something that is often experienced by students, especially with the change in the online learning system which is felt to put more academic pressure on students. This study aims to examine the contribution of academic self-concept to student engagement in online learning mediated by academic stress. Respondents (N = 356) students in Indonesia University of Education batch 2016 to 2019 completed questionnaire of The Academic Self-concept Scale (? = 0,74), The Online Student Engagement Scale (? = 0,90), and The Perception of Academic Stress Scale (? = 0,80). The sampling technique used is incidental sampling. The analyses technique using linear regression and multiple regression then continued with causal steps to find out whether academic stress can be a mediator in the contribution of academic self-concept to student engagement in online learning. The results of this study indicate that academic stress is not function as a mediator in contribution of academic self-concept to student engagement, because one of the requirements is not fulfilled. However, academic stress can be a predictor of academic self-concept and student engagement variables.Keywords: Online learning; Academic Self-concept; Student Engagement; Academic Stress. AbstrakStres akademik merupakan suatu hal yang sering dialami oleh mahasiswa, terlebih dengan adanya perubahan sistem perkuliahan menjadi daring yang dirasa lebih memberikan tekanan akademik kepada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan daring yang dimediasi oleh stres akademik. Responden (N = 356) mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia dari angkatan 2016-2019 mengisi kuesioner Konsep Diri Akademik (? = 0,74), Keterlibatan Mahasiswa dalam Perkuliahan Daring (? = 0,90), dan Stres Akademik (? = 0,80). Teknik sampling yang digunakan adalah teknik incidental sampling. Teknik analisis data yang digunakan yaitu regresi sederhana dan regresi berganda kemudian dilanjut dengan analisis jalur atau causal steps untuk mengetahui apakah stres akademik dapat menjadi mediator pada kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan daring. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa stres akademik tidak berperan sebagai mediator pada kontribusi konsep diri akademik terhadap keterlibatan mahasiswa, karena salah satu syarat uji mediasi tidak terpenuhi. Namun, stres akademik dapat menjadi prediktor pada masing-masing variabel yaitu variabel konsep diri akademik dan variabel keterlibatan mahasiswa. Kata kunci: Perkuliahan Daring; Konsep Diri Akademik; Keterlibatan Mahasiswa; Stres Akademik.
Psikodinamika moral disengagement remaja pelaku pencabulan: Sebuah studi kasus instrumental
Christanti, Dessi;
-, Suryanto;
Putra, Muhammad Ghazali Bagus Ani
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/persona.v9i2.3333
AbstractThere are many juvenile sex offender cases in Indonesia. This study aimed to reveal how the psychodynamics of moral disengagement on juvenile sex offenders. Through moral disengagement, juvenile sex offenders commit various rationalizations to negate the feelings of guilt. This research used the qualitative method of an instrumental case study. The participants were seven juvenile sex offenders. The collecting data through semi-structured interviews and analyzed through the stages of categorization and direct interpretation, correspondence and patterns, and naturalistic generalization. The credibility used data triangulation and asked the participants to read the interview transcript. The results showed the psychodynamic of juvenile sex offenders began by forming moral disengagement before the occurrence of sexual abuse or initiation phase. After committing fornication, adolescents could feel guilty or not feel guilty due to moral disengagement. This study showed that participants frequently used the attribution of blame, dehumanization, distortion of consequences. The theoretical implications were that moral disengagement also functions to overcome fear after moral violation and different forms of moral disengagement from theory, namely active avoidance.Keywords: Instrumental case study; Juvenile sex perpetrators; Moral disengagement AbstrakPencabulan oleh remaja masih banyak terjadi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana psikodinamika moral disengagement remaja pelaku pencabulan. Melalui moral disengagement, remaja pelaku pencabulan melakukan berbagai bentuk rasionalisasi untuk meniadakan perasaan bersalah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi kasus instrumental. Partisipan penelitian adalah tujuh remaja pelaku pencabulan. Pengambilan data menggunakan wawancara semi terstruktur. Analisa data melalui tahapan kategorisasi dan interpretasi langsung, korespondensi dan pola, serta generalisasi naturalistik. Kredibilitas penelitian menggunakan triangulasi data dan meminta informan membaca transkrip wawancara. Hasil penelitian menunjukkan psikodinamika remaja pelaku pencabulan diawali dengan membentuk moral disengagement sebelum terjadinya pencabulan, yaitu pada fase inisiasi. Setelah pencabulan atau fase pasca pencabulan, remaja dapat merasa bersalah namun dapat pula tetap tidak merasa bersalah karena moral disengagement. Bentuk moral disengagement yang banyak digunakan partisipan adalah atribusi menyalahkan, dehumanisasi, distorsi konsekuensi. Implikasi teoritis adalah moral disengagement juga berfungsi mengatasi perasaan takut setelah pelanggaran moral dan bentuk moral disengagement yang berbeda dengan teori yaitu penghindaran aktif.Keywords: Moral disengagement; Remaja pelaku pencabulan; Studi kasus Instrumental
Harga diri dan citra tubuh sebagai prediktor kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja perempuan
Prastuti, Endang;
Mulyani, Hanifah Tri
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9 No 2 (2020): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30996/persona.v9i2.3472
Abstract Adolescent girls in their development period are more vulnerable to have mental health problems, one of which is Body Dysmorphic Disorder. This is related to the condition of physical change experienced by adolescent girls. This study aims to determine how much self-esteem and body image can predict the tendency of Body Dysmorphic Disorder in adolescent girls, both partially and simultaneously. This study uses a quantitative approach to the type of correlational research. The sampling techniques used in this study were proportional stratified random sampling with the research subjects were 152 adolescent girls at SMAN 1 Purwosari. This study uses research instruments in the form of self-esteem scales, body image scales, and body dysmorphic disorder tendency scales, compiled by researchers. The results of statistical analysis conducted using multiple regression test showed that self-esteem and body image can predict the tendency of body dysmorphic disorder significantly and negatively. These results indicated that self-esteem and body image are important factors against the tendency of body dysmorphic disorder. Therefore, it is necessary for adolescent girls to understand the importance of self-esteem and the development of positive body image at the age of adolescence.Keywords: adolescent girls; body image; self esteem; tendencies to body dysmorphic disorder AbstrakRemaja perempuan dalam masa perkembangannya rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, salah satunya Body Dysmorphic Disorder. Hal ini berkaitan dengan perubahan kondisi fisik yang dialami oleh remaja perempuan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh mana harga diri dan body image dapat menjadi prediktor dari kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja perempuan baik secara parsial maupun stimultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proportional stratified random sampling dengan subjek penelitian berjumlah 152 remaja perempuan di SMAN 1 Purwosari. Instrumen penelitian ini menggunakan skala harga diri, skala citra tubuh dan skala kecenderungan body dysmorphic disorder yang disusun oleh peneliti. Hasil analisis statistik menggunakan uji regresi ganda menunjukkan bahwa harga diri dan citra tubuh menjadi prediktor yang signifikan terhadap kecenderungan body dysmorphic disorder dengan arah pengaruh yang negatif. Hasil ini mengindikasikan bahwa harga diri dan citra tubuh menjadi faktor penting yang berperan sebagai prediktor kecenderungan body dysmorphic disorder. Implikasi temuan: perlu bagi remaja perempuan dalam memahami pentingnya penghargaan diri dan pengembangan citra tubuh yang positif pada usia remaja.Kata Kunci: citra tubuh; harga diri; kecenderungan body dysmorphic disorder; remaja perempuan
Pengembangan Tes Minat Berbasis Holland Untuk Pemetaan Jurusan Pada Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) & Sekolah Menengah Atas (SMA)
Roebianto, Adiyo;
Guntur, Irene;
Lie, Diana
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia Vol 10 No 1 (2021): Juni
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (78.022 KB)
|
DOI: 10.30996/persona.v10i1.4622
Alat tes psikologi seperti tes minat umumnya dibuat berdasarkan teori-teori psikologi kontemporer. Hasil dari tes tersebut tentu perlu dilihat atau diuji secara empiris kesesuaiannya dengan kriteria yang diinginkan. Sejauh ini pengukuran tes minat di tingkatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) masih terbatas menggunakan tes minat penjurusan yang berbasis tes vokasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan tes minat berbasis HOLLAND yang dapat digunakan untuk pemetaan jurusan untuk siswa SMP maupun SMA. Studi ini memiliki 248 siswa SMP dan 270 siswa SMA yang mengerjakan tiga instrumen tes yaitu tes minat HOLLAND, tes penjurusan siswa SMP dan tes penjurusan siswa SMA. Uji validitas analisa faktor konfirmatorik digunakan untuk menguji validitas konstruk alat ukur dan analisa regresi model persamaan struktural digunakan untuk mengetahui prediktor yang dominan dalam menentukan pilihan jurusan seorang siswa baik di SMP maupun SMA. Beberapa trait HOLLAND ditemukan berperan secara signifikan dan konsisten dalam menentukan jurusan bidang studi yang dipilih oleh siswa SMP dan SMA. Setiap bidang studi penjurusan memiliki trait HOLLAND yang berbeda-beda sebagai prediktornya.