cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 26 No. 2 (2024)" : 11 Documents clear
Pendekatan Syarah Ibn al-‘Attar dalam Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam: Analisis Sosio-Historis Chovifah, Anisatul; Muhid, Muhid; Nurita, Andris; Verawati, Sellyana; Hasbulloh, Moh
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.21224

Abstract

This study examines the sharh methodology employed by Ibn al-‘Attar in his work Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam. Using a qualitative method and a library research approach, this research focuses on the socio-historical analysis of Ibn al-‘Attar's intellectual background and the influence of the Shafi’i school on his works. The findings indicate that Ibn al-‘Attar applied the tahlili (analytical) method in his sharh, aimed at facilitating readers, particularly beginners, in understanding legal hadiths. Social factors, especially the Shafi’i culture in Damascus, along with the significant influence of his teacher, Imam Nawawi, greatly shaped Ibn al-‘Attar's approach. The book demonstrates a clear system, providing detailed explanations based on the companions' narrations and their associated rulings. This study contributes significantly to understanding the role of sharh in the development of hadith studies and the influence of the Shafi’i school on hadith interpretation within Islamic scholarly traditions.Abstrak: Kajian ini membahas metodologi syarah yang digunakan oleh Ibn al-‘Attar dalam karyanya Al-Uddah fi Sharh Umdah fi al-Ahadith al-Ahkam. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan kepustakaan, penelitian ini berfokus pada analisis sosio-historis yang melatarbelakangi pemikiran Ibn al-‘Attar serta pengaruh mazhab Syafi’i terhadap karya-karyanya. Temuan menunjukkan bahwa Ibn al-‘Attar menerapkan metode tahlili (analisis) dalam syarahnya, yang ditujukan untuk memudahkan pembaca, terutama pelajar pemula, dalam memahami hadis-hadis hukum. Faktor sosial, terutama budaya Syafi’i di Damaskus, serta pengaruh besar dari gurunya, Imam Nawawi, sangat memengaruhi pendekatan Ibn al-‘Attar. Kitab ini juga menunjukkan sistematika yang jelas, dengan penjelasan yang rinci dan berbasis pada riwayat sahabat serta hukum-hukumnya. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami peran syarah dalam perkembangan ilmu hadis dan pengaruh mazhab Syafi’i terhadap interpretasi hadis dalam tradisi keilmuan Islam.
Moderasi Beragama dalam Pembangunan Tempat Ibadah Non-Muslim di Indonesia: Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Juz 'Amma Pratama, Rangga Adi; Ghianovan, Jaka; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23394

Abstract

Indonesia, as the country with the largest Muslim population globally, faces challenges in implementing religious moderation to maintain harmony and peace amidst diversity. One such challenge is the rejection of constructing non-Muslim places of worship in several regions, indicating ongoing resistance to religious pluralism. This study aims to analyze Quranic verses related to religious moderation and the construction of non-Muslim places of worship through a comparative study between Tafsir Al-Azhar by Buya Hamka and Tafsir Juz 'Amma by Firanda Andirja, focusing on Surah Al-Hajj verse 40, Al-Baqarah verse 256, Al-An'am verse 108, and Al-Kafirun verses 1–6. The research employs a qualitative method with a literature study approach, analyzing the interpretations of both scholars on these verses. The findings indicate that Buya Hamka in Tafsir Al-Azhar*emphasizes the importance of tolerance and respecting the rights of non-Muslims to worship and build places of worship, while affirming that there is no compromise in matters of faith and monotheism. In contrast, Firanda Andirja in Tafsir Juz 'Amma emphasizes a stance of disengagement regarding the welfare of non-Muslims and tends not to support the construction of non-Muslim places of worship, although still advocating for tolerance.Abstrak: Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, menghadapi tantangan dalam menerapkan moderasi beragama untuk menjaga kerukunan dan perdamaian di tengah keberagaman. Salah satu tantangan tersebut adalah penolakan terhadap pembangunan tempat ibadah non-Muslim di beberapa wilayah, yang menunjukkan masih adanya resistensi terhadap pluralitas agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an terkait moderasi beragama dan pembangunan tempat ibadah non-Muslim melalui studi komparatif antara Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir Juz 'Amma karya Firanda Andirja, dengan fokus pada Surah Al-Hajj ayat 40, Al-Baqarah ayat 256, Al-An'am ayat 108, dan Al-Kafirun ayat 1–6. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, menganalisis penafsiran kedua mufasir terhadap ayat-ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menekankan pentingnya toleransi dan menghargai hak non-Muslim untuk beribadah dan mendirikan tempat ibadah, sambil tetap menegaskan bahwa dalam akidah dan tauhid tidak ada kompromi. Sementara itu, Firanda Andirja dalam Tafsir Juz 'Amma lebih menekankan sikap berlepas diri dalam hal kemaslahatan non-Muslim dan cenderung tidak mendukung pembangunan tempat ibadah non-Muslim, meskipun tetap menganjurkan sikap toleransi.
Dating Apps dalam Perspektif Hadis: Kajian Tematik Zina di Era Digital Rozaq, Muhammad Abdur; Muzakki, Muhammad Asgar; ‘Ash, Abil
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23455

Abstract

Technological advancements have influenced human interactions, including partner searches through dating apps. Although dating apps offer certain benefits, they also raise concerns regarding behaviors that verge on zina (adultery), especially within Muslim societies. This study aims to examine the Islamic perspective, particularly through thematic hadith, on the use of dating apps in relation to zina behavior prohibited by the Qur'an and As-Sunnah. The research employs a library research method, gathering data from books, journals, and other relevant literature sources. A thematic-conceptual approach in hadith studies is utilized to analyze various forms of zina and how the use of dating apps can potentially lead to such behaviors. The findings of this study indicate that using dating apps, whether for finding a life partner or for entertainment, can create opportunities for various forms of zina, including zina of the eyes, zina of the tongue, and zina of the heart. However, the use of dating apps can be acceptable in Islam if conducted with good intentions, in accordance with sharia, maintaining ethics, and avoiding actions that approach zina. Therefore, the importance of education and self-awareness in using technology is emphasized, along with the role of the community and scholars in providing guidance aligned with Islamic teachings.Abstrak: Kemajuan teknologi telah mempengaruhi cara manusia berinteraksi, termasuk dalam konteks pencarian pasangan melalui dating apps. Meskipun memiliki manfaat, dating apps juga menimbulkan kekhawatiran terkait risiko perilaku yang mendekati zina, terutama dalam masyarakat Muslim. Studi ini bertujuan untuk mengkaji perspektif Islam, khususnya melalui hadis tematik, terhadap penggunaan dating apps dalam kaitannya dengan perilaku zina yang dilarang oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Penelitian ini menggunakan kajian pustaka (library research) dengan mengumpulkan data dari buku, jurnal, dan sumber literatur lainnya yang relevan. Pendekatan yang digunakan adalah tematik-konseptual dalam kajian hadis, untuk menganalisis berbagai bentuk zina dan bagaimana penggunaan dating apps dapat berpotensi menimbulkan perilaku tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penggunaan dating apps untuk mencari pasangan hidup maupun sekadar hiburan dapat membuka peluang terjadinya berbagai bentuk zina, termasuk zina mata, zina lisan, dan zina hati. Namun, penggunaan dating apps dapat diterima dalam Islam jika dilakukan dengan niat yang baik, sesuai dengan syariat, menjaga etika, dan menghindari hal-hal yang mendekati zina. Oleh karena itu, pentingnya edukasi dan kesadaran diri dalam penggunaan teknologi juga ditekankan, serta peran komunitas dan ulama dalam memberikan panduan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Konsep Muraqabah dan Pencapaian Personalitas Kolektif dalam Pemikiran Tasawuf Muhammad Fethullah Gulen Hakim, Lukman; Saleh, Fauzi; Zaini, Muhammad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23688

Abstract

The basic of Islamic Sufism thought is how to develop human spiritual awareness. In Muhammad Fethullah Gulen's view, Sufism's thought has the urgency of increasing individual spirituality until the collective spiritual personality of Muslims is realized. This collective personality will emerge from the muqarabatullah person, who believes that his life is always under the supervision of Allah. This article discusses the concept of Muraqabah and the formation of a perfect human in the perspective of Muhammad Fethullah Gulen. This study focuses on a literature review that try to describe and analyze the realm of Sufism studies on Muhammad Fethullah Gulen through his works and other writings relevant. Conceptually, Gulen said that Muraqabah is an important element in the study of Sufism which is built on total awareness that humans are always under the supervision of Allah. The predicate of muqarabatullah will be possible to achieve through belief that Allah is always present, looking and seeing in detail our lives, both physically and spiritually. Then put your trust in Allah and open your heart to receive the abundance of divine grace with patience and steadfastness. Gulen stated that achieving this level of faith would make the collective spiritual problems of the Muslim community complete.Abstrak: Dasar utama dari pemikiran tasawuf Islam adalah bagaimana membangkitkan kesadaran spiritual manusia. Dalam pandangan Muhammad Fethullah Gulen, pemikiran tasawuf memiliki urgensitas dalam peningkatan spiritualitas individual hingga terwujud personalitas spiritual kolektif muslim. Personalitas kolektif atau collective personality ini akan muncul dari insan muqarabatullah, yang meyakini bahwa hidupnya selalu dalam pengawasan Allah. Artikel ini membahas tentang konsep muraqabah dan pembentukan manusia paripurna dalam perspektif Muhammad Fethullah Gulen. Kajian ini difokuskan pada kajian kepustakaan yang mencoba mendeskripsikan dan menganalisis ranah kajian tasawuf Muhammad Fethullah Gulen melalui karya dan tulisannya yang relevan. Secara konseptual Gulen menyampaikan bahwa Muraqabah adalah salah satu elemen penting dalam kajian tasawuf yang dibangun atas kesadaran total bahwa manusia selalu dalam pengawasan Allah. Predikat muqarabatullah akan mungkin digapai melalui keyakinan bahwa Allah selalu hadir, memandang dan melihat secara detail kehidupan kita lahir dan batin. Kemudian bertawajuh kepada Allah dan membuka hati menerima limpahan anugerah ilahi dengan penuh kesabaran dan keteguhan. Gulen mengemukakan bahwa pencapaian level keimanan ini akan mewujudkan persoalitas spiritual kolektif komunitas muslim menjadi paripurna.
Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam Perspektif Tafsir Al-Azhar Karya Hamka Ubaidillah, Ahmad; Ghianovan, Jaka; Muzakki, Asgar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.23844

Abstract

Islamic education is unique as it is based on the guidance of the Quran, requiring educators to continuously enhance their morals and apply teaching methods that are easily accepted by students. Ki Hajar Dewantara proposed the educational trilogy, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, and Tut Wuri Handayani, which resonates with Islamic values. This study aims to analyze this educational trilogy from the perspective of Buya Hamka's Tafsir Al-Azhar, specifically Surah Al-Ahzab verse 21, Al-Isra verse 36, and An-Nahl verse 43. Using a qualitative approach and library research method, this study links Ki Hajar Dewantara's educational concepts with Islamic educational principles. The findings reveal that the educational trilogy aligns with Islamic teachings, emphasizing the importance of exemplarity, motivation, morality, and independence in the educational process. Teachers play a crucial role as role models and facilitators, aiding students in developing their potential according to Islamic values. This study underscores the necessity of professionalism and morality in teachers to cultivate students who are not only intellectually capable but also possess noble character. Integrating the educational trilogy with Islamic values is hoped to be a solution to current educational challenges and moral crises. Abstrak: Pendidikan Islam memiliki keunikan karena berlandaskan pada tuntunan Al-Quran, yang menuntut pendidik untuk terus meningkatkan adab dan menerapkan metode pembelajaran yang dapat diterima oleh peserta didik. Ki Hajar Dewantara mencetuskan trilogi pendidikan, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, yang memiliki relevansi dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis trilogi pendidikan tersebut dalam perspektif Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka terhadap Surah Al-Ahzab ayat 21, Al-Isra ayat 36, dan An-Nahl ayat 43. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi pustaka, penelitian ini mengaitkan konsep trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara selaras dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya keteladanan, semangat, moralitas, dan kemandirian dalam proses pendidikan. Guru berperan penting dalam menjadi teladan dan fasilitator, membantu siswa mengembangkan potensi mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam. Penelitian ini menekankan pentingnya profesionalisme dan moralitas guru untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga memiliki akhlak mulia. Integrasi konsep trilogi pendidikan dengan nilai-nilai Islam diharapkan menjadi solusi bagi tantangan pendidikan dan krisis moral saat ini.
Memahami Hadis dalam Perspektif Sains Modern: Kajian Teori dan Metode Rahmanini, Aulia; Matondang, Syaza El-Millah; Zein, Achyar
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.24039

Abstract

In the era of modern scientific advancements, there is an increasing need to reassess the methods of hadith interpretation to ensure its relevance to contemporary scientific developments. Many hadiths explicitly address scientific phenomena, but their proper interpretation requires careful and methodological approaches. This study aims to analyze the theories and methods used in interpreting hadiths, particularly in the context of modern science, and to explore how the values embedded in hadiths can contribute to the advancement of science and technology. The study employs a qualitative approach using library research methods. Primary data consists of hadiths sourced from authentic hadith collections, while secondary data is derived from relevant scientific literature. The analysis is conducted through content analysis and comparative methods, comparing hadiths with contemporary scientific findings. The results showed that many hadiths align with scientific phenomena, such as those concerning embryonic development, food consumption, and the benefits of Zamzam water, which correspond to modern scientific discoveries. Understanding hadiths within the framework of science requires the application of appropriate theories and methods, such as thematic and linguistic analysis. This study reaffirms that integrating hadith and modern science is crucial to ensuring the relevance of Islamic teachings in contemporary contexts. The use of proper interpretative methods can lead to accurate and meaningful interpretations, enriching the dialogue between religion and science.Abstrak: Dalam era kemajuan sains modern, muncul kebutuhan untuk mengkaji kembali metode pemahaman hadis agar relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak hadis yang secara eksplisit berkaitan dengan fenomena ilmiah, namun pemahaman yang tepat membutuhkan pendekatan yang cermat dan metodologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teori dan metode dalam memahami hadis, khususnya dalam konteks sains modern, serta mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam hadis dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Data primer berupa hadis yang diambil dari kitab-kitab hadis sahih, sementara data sekunder diperoleh dari literatur terkait sains modern. Analisis dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis) dan komparasi, membandingkan hadis dengan temuan ilmiah terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak hadis yang relevan dengan fenomena ilmiah, seperti hadis mengenai perkembangan embrio, konsumsi makanan, dan manfaat air Zamzam, yang sejalan dengan temuan ilmiah modern. Pemahaman hadis dalam konteks sains membutuhkan penerapan teori dan metode yang tepat, seperti analisis tematik dan kebahasaan. Penelitian ini menegaskan kembali bahwa integrasi antara hadis dan sains modern sangat penting untuk memastikan relevansi ajaran Islam dalam konteks kontemporer. Penggunaan metode yang tepat dalam memahami hadis dapat menghasilkan pemahaman yang akurat dan relevan, memperkaya dialog antara agama dan sains.
Pergeseran Peran dan Eksistensi Al-Quran: Studi Living Quran pada Masyarakat Waido, Pidie, Aceh Bahri, Samsul; Abraar, Muhammad Nuzul
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.24947

Abstract

This study examines the evolving ways in which the community of Waido, Peukan Baro, Pidie, perceives and engages with the Quran. Initially regarded as a sacred text and a source of religious norms, the Quran has undergone a shift in function and role, becoming a practical instrument used in various social and cultural activities. The research adopts the Living Quran model, employing a qualitative approach that incorporates ethnomethodology, anthropology, and phenomenological analysis. The findings reveal a significant transformation in the status and function of the Quran, which now extends beyond serving as a source of religious guidance to being utilized in everyday practices, such as agricultural rituals and conflict resolution through oath-taking. In Waido, the Quran has become an integral part of social and cultural life, transcending its status as a sacred text to function as a symbolic entity with broader social and spiritual significance. These findings provide insights into how local traditions, such as the Keunduri Blang ritual, shape and are shaped by the community's reception and interpretation of the Quran. Abstrak: Penelitian ini mengkaji perubahan cara masyarakat Waido, Peukan Baro, Pidie, dalam mempersepsikan dan memperlakukan Al-Quran. Al-Quran, yang awalnya dipandang sebagai teks suci dan sumber norma keagamaan, telah mengalami perluasan fungsi dan peran, menjadi instrumen praktis yang digunakan dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya. Penelitian ini menggunakan model Living Quran, dengan pendekatan kualitatif yang menggabungkan etnometodologi, antropologi, dan analisis fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam kedudukan dan fungsi Al-Quran, yang tidak hanya berperan sebagai sumber petunjuk keagamaan, tetapi juga digunakan dalam praktik sehari-hari, seperti ritual pertanian dan penyelesaian konflik melalui sumpah. Di masyarakat Waido, Al-Quran telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya, melampaui statusnya sebagai teks suci dengan berfungsi sebagai simbol sakral yang memiliki makna sosial dan spiritual yang lebih luas. Temuan ini menggambarkan bagaimana tradisi lokal, seperti Keunduri Blang, membentuk dan dipengaruhi oleh resepsi serta interpretasi terhadap Al-Quran.
Pemahaman Al-Jibt (Sihir) dalam Perspektif Hadis Fatrisia, Anggi; Halim, Abdul
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26073

Abstract

In the current digital era, the Muslim community faces increasing challenges related to the resurgence of practices reminiscent of the pre-Islamic era, such as witchcraft and paranormal activities, often publicized through social media and television. This phenomenon raises concerns about its impact on the faith of the community. This research aims to delve into and actualize the understanding of jibt and thagut from a hadith perspective, focusing on the application of relevant hadiths in the context of modern life. A qualitative methodology with a thematic analysis approach was employed, utilizing techniques of takhrij al-hadith and syarah al-hadith to evaluate and interpret the hadith texts. The findings indicate that the majority of hadiths discussing al-jibt possess weak chains of narration (sanad), however, the diversity of the narration chains mitigates the severity of these weaknesses. Al-jibt is identified as an illicit and misleading practice, often associated with demonic assistance. These findings are crucial for strengthening the Muslim community’s understanding to avoid being influenced by such misguided practices. This study fills a gap in the literature by providing a detailed analysis of the relevance of hadiths in addressing contemporary issues related to the revival of pre-Islamic practices. Abstrak: Di era digital saat ini, umat Islam menghadapi tantangan yang meningkat terkait kemunculan kembali praktik-praktik yang menyerupai adat jahiliyah, seperti perdukunan dan paranormalisme, yang sering dipublikasikan melalui media sosial dan televisi. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran mengenai pengaruhnya terhadap aqidah umat. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami dan mengaktualisasikan pemahaman tentang jibt dan thagut dalam perspektif hadis, dengan fokus pada aplikasi hadis-hadis terkait dalam konteks kehidupan modern. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis tematik, menggunakan teknik takhrij al-hadith dan syarah al-hadith untuk mengevaluasi dan memahami teks-teks hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas hadis yang mendiskusikan al-jibt memiliki sanad yang dhaif, namun variabilitas jalur sanad mengurangi keparahan kelemahan ini. Al-jibt ditemukan sebagai praktik yang haram dan menyesatkan, seringkali dilibatkan dengan bantuan setan. Temuan ini penting untuk memperkuat pemahaman umat Islam agar tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sesat. Penelitian ini mengisi celah dalam literatur dengan menyediakan analisis mendalam tentang relevansi hadis dalam menanggapi isu-isu kontemporer yang berkaitan dengan praktik jahiliyah yang dihidupkan kembali.
Pandangan Teologis Jamaah Tabligh tentang Kerja, Usaha, dan Takdir di Kota Medan Surya, Maulana Andi
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26313

Abstract

The Jamaah Tabligh is a religious movement that emphasizes missionary work (dakwah) as a form of devotion, but this emphasis often raises concerns regarding the balance with economic responsibilities and family welfare. This study aims to explore the theological views of the Jamaah Tabligh in Medan regarding work, effort, and fate, and how these three concepts are interrelated in their daily lives. A qualitative approach was employed, using in-depth interviews, observation, and and relevant literature review. The findings reveal that Jamaah Tabligh perceive work as a religious obligation, where individuals must exert maximum effort, but the outcomes are ultimately left to God’s will. They also distinguish between immutable fate (takdir mubram) and changeable fate (takdir muallaq), which can be altered through effort and prayer. In conclusion, the theological views of Jamaah Tabligh integrate the doctrine of human effort with submission to divine fate. The implications of this study highlight the importance of balancing missionary activities with economic responsibilities in religious practice.Abstrak: Jamaah Tabligh merupakan gerakan keagamaan yang menekankan dakwah sebagai bentuk pengabdian, namun hal ini sering dipertentangkan dengan tanggung jawab terhadap kerja dan kesejahteraan ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pandangan teologis Jamaah Tabligh di Kota Medan terkait kerja, usaha, dan takdir, serta bagaimana ketiga konsep ini saling berhubungan dalam kehidupan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam, observasi dan kajian litratur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jamaah Tabligh memandang kerja sebagai kewajiban yang memiliki nilai ibadah, di mana manusia diwajibkan berusaha semaksimal mungkin, tetapi hasilnya tetap dikembalikan kepada kehendak Tuhan. Mereka juga membedakan antara takdir yang tidak dapat diubah (takdir mubram) dan takdir yang bisa diubah melalui usaha dan doa (takdir muallaq). Kesimpulannya, pandangan teologis Jamaah Tabligh menggabungkan antara doktrin usaha manusia dengan kepasrahan terhadap takdir Tuhan. Implikasi dari penelitian ini memperlihatkan pentingnya keseimbangan antara aktivitas dakwah dan tanggung jawab ekonomi dalam praktik beragama Jamaah Tabligh.
Analisis Hadis tentang Praktik Menggantungkan Doa pada Balita: Studi Kasus di Desa Janji, Labuhanbatu Harahap, Ikhall Ahmad Fauzan; Rambe, Uqbatul Khoir
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v26i2.26348

Abstract

The practice of hanging prayers on infants is a tradition observed in Desa Janji, believed to offer spiritual protection. However, with the evolution of Islamic scholarship and modern thought, questions have arisen regarding the legitimacy of this practice based on hadith. This study aims to investigate whether the practice is grounded in authentic hadith. A descriptive qualitative method was used, with data collected through observations and interviews with five respondents. Takhrij al-Hadith was applied to assess the validity of the related hadith. The findings indicate that the hadith holds the status of Hasan-Shahih Lighairih, despite one narrator, Muhammad bin Ishaq, receiving criticism as a Mudallis and Mu’an’an. Nevertheless, supporting narrations strengthen the hadith, elevating its reliability as evidence (hujjah). In conclusion, the practice of hanging prayers on infants is permissible as long as the prayers are not considered talismans. This study contributes to addressing public concerns about the legal basis of this practice based on hadith analysis.Abstrak: Praktik menggantungkan doa pada tubuh balita merupakan tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Desa Janji untuk perlindungan spiritual. Seiring berkembangnya kajian Islam dan modernitas, muncul pertanyaan terkait legitimasi praktik ini berdasarkan hadis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dasar hadis yang mendasari praktik tersebut. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan lima responden. Takhrij al-hadith digunakan untuk menganalisis validitas hadis. Hasil menunjukkan bahwa hadis terkait berstatus Hasan-Shahih Lighairih, meskipun perawi Muhammad bin Ishaq mendapat kritik sebagai Mudallis dan Mu’an’an. Namun, hadis ini diperkuat oleh riwayat lain, sehingga dapat dijadikan hujjah. Kesimpulannya, praktik menggantungkan doa pada tubuh balita diperbolehkan selama tidak diyakini sebagai jimat. Penelitian ini membantu menjawab keraguan masyarakat mengenai legalitas praktik tersebut berdasarkan analisis hadis.

Page 1 of 2 | Total Record : 11