cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ketahanan Nasional
ISSN : 08539340     EISSN : 25279688     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 527 Documents
Persepsi Dan Tindakan Politik Pemuda Terhadap Gerakan Jogja Independent (JOINT) Dalam Pelaksanaan Pilwalkot Kota Yogyakarta Tahun 2017 Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Politik Pemuda (Studi Pada Relawan Jogja Independent (JOINT) di Kota Yogyakarta) Desiana Rizka Fimmastuti; Agus Pramusinto; Djoko Soerjo
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 24, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1428.865 KB) | DOI: 10.22146/jkn.32373

Abstract

ABSTRACTThis article discussed political resilience from society perspective. Drawing on case studies of the youth’s perception of independent political movement in Yogyakarta in 2017, we argued that youth’s opinion and experience had  contibuted to strengthened youth political resilience. Political resilience can not only be seen from state centric aspect but also from the youth as part of local society. The research method used was qualitative descriptive using case studies. Data collections was done through in-depth interviews, observations, and document analysis.This research showed that the youths were optimistic with the existence of Jogja Independent Movement (JOINT). JOINT tried to offered an alternative way with publict involvement as candidate or volunteer. The ideology, vision and mission offered by JOINT were considered as one of the alternatives for young people to actively involved in political practices without taking a part in political parties. However, they argued  that the strategy and management of the movement were not well developed. Furthermore, the volunteers didn’t have wide space to articulated  their needs, because they involved in technical-administrative process only. Although the young people didn’t have the wider space in the substantial matter, they got experience and political practical lessons in JOINT. With their belief, youth were optimist that democratic process could be done with good and clean when we had a good strategy and well preparation. Although there was many volunteers who stopped after the collapse of the movement, the knowledge gained by the volunteers stimulates them to joined a movement, initiated movement and research, and also made a plan political education in the future. Their beliefs, thoughts, and  steps could be seen as a  form of checks and balances in order to responded  political dynamics for better development.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketahanan politik dari sisi masyarakat, dengan mengamati persepsi para pemuda (relawan) sekaligus political action mereka terhadap gerakan independen di Kota Yogyakarta tahun 2017. Ketahanan politik tidak hanya dapat dikaji dari hal yang sifatnya state centric, namun bisa dilihat pada elemen masyarakat. Pengalaman dan pandangan youth as active citizens terhadap proses di dalam gerakan telah berkontribusi pada ketahanan politik pemuda. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, serta pengumpulan berbagai dokumen yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada awalnya para pemuda cukup optimis dengan keberadaan gerakan Jogja Independent yang berusaha menawarkan alternatif cara baru dalam berpolitik. Ideologi, visi, dan misi yang ditawarkan oleh JOINT dianggap relevan sebagai sarana berpolitik tanpa melalui jalur partai politik. Namun mereka menilai bahwa strategi dan pengorganisasian gerakan masih kurang matang dan kurang menyasar masyarakat akar rumput. Di samping itu, para relawan juga belum memiliki ruang untuk mengakomodasi kepentingan pemuda, karena mereka hanya dilibatkan dalam teknis administratif semata. Meskipun secara substansi pemuda belum memiliki ruang sama seperti di dalam parpol, pemuda mendapatkan pengalaman dan pembelajaran berpolitik melalui gerakan. Dari sisi keyakinan, pemuda cukup optimis bahwa berpolitik dapat dilakukan dengan jalan yang bersih dan demokratis, namun hal ini tetap membutuhkan waktu dan strategi yang tepat. Meskipun tidak memungkiri bahwa banyak relawan yang justru berhenti pasca gagalnya gerakan, pengetahuan yang didapatkan dalam gerakan telah menstimulasi para relawan untuk membuat gerakan dan mengadakan edukasi politik di masa mendatang, bahkan bergabung pada gerakan politik dan mengadakan berbagai penelitian. Keyakinan, pemikiran, dan langkah konkret para pemuda merupakan bentuk dari checks and balances dalam merespon dinamika politik dan mengawal pembangunan yang lebih baik.
Penataan Kepartaian Dalam Sistem Politik Demokratis Prayudi Prayudi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 14, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2667.549 KB) | DOI: 10.22146/jkn.22185

Abstract

Di tengah meluasnya iklim kebebasan dan tuntutan partisipasi politik rakyat, sikap kritis terhadap keberadaan partai politik terlihat justru semakin menunjukkan gejala yang kurang menguntungkan. Dua kali penyelenggaraan Pemilu setelah memasuki era yang disebut sebagai reformasi, yaitu Pemilu 1999 dan Pemilu 20041, menunjukkan adanya sebuah fenomena tentang semakin meningkatnya suara protes dari rakyat atau seringkali disebut sebagai golput (golongan putih). Meski pun terda pat masalah administrasi pemilu dan kemungkinan sebab teknis lain berupa kendala di dalam din pemilih itu sendiri dalam men ggunakan halcnya, fenomena politik golput yang men guat jelas merupakan isyarat yang harus atau sangat penting diperhatikan perkembangannya. Perhatian tersebut adalah terkait dengan faktor-faktor ketidakpuasan yang berada di belakangnya, terutama dalam konteks opini menyangkut performance partai politik dalam men gemban nilai-nilai demokrasi atau kedaulatan rakyat.
Peran Angkatan Bersenjata Dalam Pembinaan Sistem Politik Yang Demokratik Dan Berkeadilan Sosial Menjelang Milenntum Ke-3 z A Maulani
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 2, No 1 (1997)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1806.055 KB) | DOI: 10.22146/jkn.19166

Abstract

Karl von Clausewitz pada 1832 mengumandangkan diktum­nya yang terkenal bahwa "perang ialah sisi dari politik". Sebagai akibat dari diktum tersebut, maka misi dari tiap angkatan bersen­jata, di mana pun, tidak pernah lepas dari politik, bersangkut­kait seperti benang dengan kelindan. Oleh karena itu rumusan tugas pokok bagi angkatan bersenjata mencerminkan kehendak. untuk menjamin pengamanan dan pemeliharaan tujuan politik nasional. Ada empat tugas pokok angkatan bersenjata pada umum­nya: pertama, mendukung dan mengamankan kepentingan-kepen­tingan nasional; kedua, melindungi dan mempertahankan inte­gritas wilayah nasional dari ancaman agresi pihak lawan; ketiga; mencegah atau mengurangi dampak kerusakan wilayah sebagai akibat dari tindakan musuh; dan yang keempat, memenuhi kewa­jiban-kewajiban internasionalnya.Dalam praktek ada berbagai variasi dalam pelaksanaan tugas pokok tersebut di berbagai negara. Variasi terjadi karena adanya perbedaan dalam cara pandang bangsa melihat dunianya, yang mencerminkan pengaruh perjalanan sejarah, watak dan budaya bangsa yang bersangkutan; juga karena adanya perbedaan pada interpretasi subyektif tentang realitas lingkungan strategis na­sional maupun internasional, termasuk di dalamnya penilaian bangsa bersangkutan tentang ancaman yang dipersepsikan, serta skala dari potensi dan kekuatan nasional yang mereka miliki.
Asimilasi Etnis Tionghoa Indonesia Dan Implikasinya Terhadap Integrasi Nasional (Studi Di Kota Tanjungbalai Provinsi Sumatera Utara) mustaqfirin Kodiran2
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 17, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.22672

Abstract

Keanekaragaman etnis dan budaya di Indonesia merupakan kebanggaan, namun tidak jarang juga menimbulkan permasalahan. Di antara permasalahan terkait suku-bangsa adalah apa yang disebut den gan "masalah Tionghoa". Timbulnya masalah Tionghoa (Suryadinata, 2010: 184-186) lebih disebabkan karena adanya persepsi negatzf terhadap orang Tionghoa. Sebagai solusi untuk men gatasi masalah Tionghoa dalam rangka mewujudkan integrasi nasional, pemerintah menerapkan kebijaksanaan asimilasi. Asimilasi bagi etnis Tionghoa berarti masuk dalam budaya masyarakat setempat, sehingga ciri semula yang khas sebagai orang Tionghoa tidak ada lagi. Dalam menyikapi kebijaksanaan asimilasi, kalangan etnis Tionghoa terbagi dalam dua kelompok (Leo Suryadinata, 2005: xii-xiii)yaitu; asimilasionis dan pluralis (integrasionis). Kelompok asimilasionis berupaya untuk menggabungkan anggota subordinat (minoritas) ke dalam masyarakat superordinat (mayoritas) dengan cara mengadopsi sistem nilai dan gaya hidup kelompok superordinat, sedangkan kelompok pluralis men ghendaki agar kelompok subordinat tetap diperkenankan mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Dalam konteks ini, kelompok subordinat memiliki kecenderungan bersifat sentripetal (asimilasionis), sedan gkan kelompok superordinat cenderung berszfat sentrifugal (pluralis).
Memahami Potensi Krisis Demokrasi Nanang Pamuji Mugasejati
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 8, No 3 (2003)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.391 KB) | DOI: 10.22146/jkn.22098

Abstract

Setelah transisi demokrasi berjalan selama beberapa tahun di negara kita, saat ini muncul suara-suara ketidakpuasan terhadapnya: demokrasi ternyata tidak mampu menekan praktek korupsi,pemerintah menjadi kurang efektif, politik dagang sapi semakin meluas baik dari tingkat pusat sampai daerah, proses pengambilan kebijakan ekonomi menjadi kompleks dan rawan terhadap kepentingan partai,dan lain sebagainya. Tulisan ini mencoba memberikan eksplanasi teoretis:bagaimana sistem politik yang demokratis juga berpeluang menciptakan krisis multidemensional?Prasyarat apa yang diperlukan agar demokrasi tidak menghasilkan krisis?Terdapat asumsi umum bahwa demokrasi merupakan bentuk tatanan politik yang terbaik yang pernah ditemukan oleh umat manusia. Dibanding dengan tatanan politik lain-nya, demokrasi dianggap memiliki keunggulan, misalnya karena bisa menghindarkan masyarakat dari bahaya dan ancaman tirani,melindungi hak esensial warga negara, menjamin kebebasan, menjamin self-determination,mengembangkan otonomi moral, memberikan kesetaraan politik, perdamaian serta kemakmuran ekonomi. (Dahl, 1998: 45)
Lingkungan Hidup Dan Keamanan Nasional Redefinisi Konsep Keamanan Dan Kedaulatan Nasional Dafri Agussalim dan Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 2, No 3 (1997)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2154.208 KB) | DOI: 10.22146/jkn.11660

Abstract

Menjelang akhir abad ke tiga sebelum masehi Kaisar Qin Shi Huang membangun tembok yang kemudian dikenal dengan nama The  Great Wall itu dimasudkan untuk melindungi keamanan dan kedaulatan territorial kekaisaran China dari serangan bangsa barbar dari utara negeri itu. Setelah Perang Dunia II (PD II) berdiri tembok lain yang dikenal dengan nama Tembok Berlin yang memisahkannya  Jerman Barat dan Jerman Timur waktu itu. Tujuan didirikanya tembok kedua ini pada dasarnya sama, yaitu untuk melindungi keamanan dan kedaulatan Jerman Timur yang sosialis dari ancaman invasi atau infiltrasi dari Jerman Barat yang kapasitalis.Kini kedua tembok tersebut memang sudah kehilangan fungsi aslinya. Bahkan Tembok tersebut memang sudah kehilangan fungsi aslinya. Bahkan Tembok Berlin sudah hancur berantakan dan tinggal sebagai hiasan museum aaatau tempat wisata semata. Akan ttapi, tembok sebagai metapora bagi keamanan dan kedaulatan suatu negara terus berlangsung dan berkembang dalam imajinasi manusia.Walaupun manifestasinya berbeda, dalam benak kebanyakan pemimpin dunia terus berkembang pemikiranya bagaimana cranya agar dapat membangun "tembok" yang lebih besar, lebih kokoh dan lebih superior secara teknologi sehingga lebih tangguh dalam menangkal serangan lawan.   
Kebijakan Pertahanan Cina Dan Keamanan Regional Di Asia Nanang Pamuji Mugasejati dan Armaidy Armawi
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 7, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.23254

Abstract

Dalam masalah militer dan kearnanan, Cina seringkali tampil sebagai negara yang "kontroversial", karena kemandiriannya yang relatif tinggi menghadapi kekuatan­kekuatan regional lainnya, seperti Amerika Serikat, Rusia atau Iepang. Beberapa ilustrasi peristiwa berikut ini bisa membantu melukiskan tingkahlaku politik luar negeri Cina tersebut. Awal bulan Agustus 1999, Beijing mengejutkan dunia dengan meluncurkan rudal jarak jauh dari darat ke darat yang kabarnya mampu mencapai daratan Amerika. Menurut sumber-sumber intelejen AS, rudal yang diberi nama si "Angin Timur" Dong Feng 31 (DF-31) tersebut mampu menempuh jarak hampir 7000 km dan memiliki kapabilitas untuk membawa hulu ledak nuklir. Dengan begitu kekuatan rudal Cina di kawasan ini hampir tidak bisa ditandingi oleh negara-negara tetangganya.
Genesis Ide Ketahanan Nasional (TANNAS) Indonesia Dani Purwanegara
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 9, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4800.098 KB) | DOI: 10.22146/jkn.22148

Abstract

Para "founding fathers" Republik Indonesia pada waktu hendak membawa bangsa Indonesia hidup menegara,mereka dihadapkan pada masalah mendasar yaitu menentukan sikap dan pilihan tentang dasar negara dan cita-cita hidup berma-syarakat, berbangsa dan bernegara. Pada perenungan dan pergulatan untuk mendapatkan keyakinan yang kuat, disu-sunlah sebuah paradigma pemikiran agar supaya paradigma tersebut mampu menuntun pengembangan gagasan logik para founding fathers tersebut.
KEMUNGKINAN INDONESIA MENJADI NEGARA FEDERAL H. Budisantoso - Suryosumarto
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 4, No 3 (1999)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.208 KB) | DOI: 10.22146/jkn.11963

Abstract

Para pendiri Negara Indonesia menetapkan bahwa Negara Indonesia aalah Negara Kesatuan berbentuk Republik yang tercantum dalam Bab I Pasal 1 ayat 1  UUD 1945, Mengapa para "founding fathers" tersebut menentukan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan tentu ada alasan yang sangat kuat , yang melandasnya. Bahkan bentuk Negara Republik Indonesia Serikat sebagai salah satu hasil KMB, hanya berlaku sangat singkat , sebagian besar pemimpian baik di pusat maupun di daerah yang dikenal dengan golongan  unitaris(lawan dari golongan fedralis) bersepakat untuk mengembalikan Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Alasan utamanya adalah kesadaran dan kepedulian (concern) mereka terhadap terciptanya Persatuan Indonesia. Mereka sangat menyadari bahwa kondisi obyektif bangsa dan wilayah Indonesia sangat berpotensi untuk terjadinya disentegrasi. Negara Indonesia adaah suatu eenheidsstaat, maka Indonesia tak akan mempunyai daerah di dalam lingkungannya yang bersifat staat.
Hubungan Ketahanan Pangan Keluarga Dengan Status Gizi Balita (Studi Di Desa Palasari Dan Puskesmas Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang) Afrizal Arlius; Toto Sudargo; Subejo Subejo
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 23, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1290.884 KB) | DOI: 10.22146/jkn.25500

Abstract

ABSTRACTThis study aims to (1) to examine the relationship of food security with the nutritional status of children under  five in the working area of Puskesmas Legok, Legok Subdistrict, Tangerang District. (2) to study the variety of efforts to improve food security in malnutrition prevention of children under five in the working area of Legok Puskesmas, Legok Subdistrict, Tangerang District. The population in this study were parents / mothers / fathers and children aged 0-59 months who suffered malnutrition and malnutrition (under normal conditions). The results of the study showed that: (1) Some respondents were in food insecurity category, about 36 %, In food sensitive category about 39% and foodstuff category only about 15% and less food category about 10%. (2) Community nutrition improvement program or toddlers Legok Puskesmas conducted daily, monthly and yearly, daily program are: Increasing exclusive breastfeeding without additional food and drinks for babies up to 6 months old. The monthly program is monitoring the development of underweight body weight (weighing the balita) which is weighing weight measurement of toddler to know growth pattern and growth of toddler body and its development. The annual program is monitoring the nutritional status of children under five and monitoring nutrition nutrient intake.Food security and nutritional status of toddlers are closely related, if the family of food security enough to affect the nutritional status so good, otherwise if the food is less then the nutritional status is likely to experience malnutrition and lack of nutritionABSTRAKPenelitian bertujuan ini adalah (1) untuk mengkaji hubungan ketahanan pangan dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Legok, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. (2) untuk mengkaji ragam upaya meningkatkan ketahanan pangan dalam penanggulangan gizi buruk balita di wilayah kerja Puskesmas Legok, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua/ ibu/ bapak dan balita umur 0-59 bulan yang menderita gizi buruk dan kurang gizi (di bawah kondisi normal).Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Sebagian responden berada dalam kategori rawan pangan, sekitar 36%, pada kategori rentan pangan sekitar 39% dan kategori tahan pangan hanya sekitar 15% serta kategori kurang pangan sekitar 10%. (2) Program peningkatan gizi masyarakat atau balita Puskesmas Legok dilaksanakan secara harian, bulanan dan tahunan, program harian adalah : Peningkatan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif tanpa makanan dan minuman tambahan  untuk   bayi  berumur sampai umur 6 bulan. Program bulanan adalah pemantauan Perkembangan berat badan balita (Penimbangan  badan balita) yaitu penimbangan  pengukuran berat badan balita untuk mengetahui pola pertumbuhan dan perkembangan badan balita dan perkembangannya. Program tahunan adalah Pemantauan status gizi balita dan pemantauan asupan gizi gizi.Ketahanan pangan dan status gizi balita terdapat hubungan yang erat, jika keluarga ketahanan pangannya cukup akan mempengaruhi status gizinya jadi baik, sebaliknya jika pangannya kurang  maka status gizinya kemungkinan akan mengalami gizi buruk dan kurang

Filter by Year

1996 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 31, No 3 (2025) Vol 31, No 2 (2025) Vol 31, No 1 (2025) Vol 30, No 3 (2024) Vol 30, No 2 (2024) Vol 30, No 1 (2024) Vol 29, No 3 (2023) Vol 29, No 2 (2023) Vol 29, No 1 (2023) Vol 28, No 3 (2022) Vol 28, No 2 (2022) Vol 28, No 1 (2022) Vol 27, No 3 (2021) Vol 27, No 2 (2021) Vol 27, No 1 (2021) Vol 26, No 3 (2020) Vol 26, No 2 (2020) Vol 26, No 1 (2020) Vol 25, No 3 (2019) Vol 25, No 2 (2019) Vol 25, No 1 (2019) Vol 24, No 3 (2018) Vol 24, No 2 (2018) Vol 24, No 1 (2018) Vol 23, No 3 (2017) Vol 23, No 2 (2017) Vol 23, No 1 (2017) Vol 22, No 3 (2016) Vol 22, No 2 (2016) Vol 22, No 1 (2016) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 3 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 2 (2015) Vol 21, No 1 (2015) Vol 21, No 1 (2015) VOL. XXI, NO. 1 APRIL 2015 Vol 20, No 3 (2014) Vol 20, No 2 (2014) Vol 20, No 1 (2014) Vol. XX, No. 3, Desember 2014 VOL. XX, NO. 2, AGUSTUS 2014 VOL. XX, NO. 1, APRIL 2014 Vol 19, No 3 (2013) Vol 19, No 2 (2013) Vol 19, No 1 (2013) VOL. XIX, NO. 3, DESEMBER 2013 VOL. XIX, NO. 2, AGUSTUS 2013 VOL. XIX, NO. 1, APRIL 2013 Vol 17, No 3 (2012) Vol 17, No 2 (2012) Vol 17, No 1 (2012) Vol 16, No 3 (2011) Vol 16, No 2 (2011) Vol 16, No 1 (2011) Vol 15, No 3 (2010) Vol 15, No 2 (2010) Vol 15, No 1 (2010) Vol 14, No 3 (2009) Vol 14, No 2 (2009) Vol 14, No 1 (2009) Vol 13, No 3 (2008) Vol 13, No 2 (2008) Vol 13, No 1 (2008) Vol 12, No 3 (2007) Vol 12, No 2 (2007) Vol 12, No 1 (2007) Vol 11, No 3 (2006) Vol 11, No 2 (2006) Vol 11, No 1 (2006) Vol 10, No 3 (2005) Vol 10, No 2 (2005) Vol 10, No 1 (2005) Vol 9, No 3 (2004) Vol 9, No 2 (2004) Vol 9, No 1 (2004) Vol 8, No 3 (2003) Vol 8, No 2 (2003) Vol 8, No 1 (2003) Vol 7, No 3 (2002) Vol 7, No 2 (2002) Vol 7, No 1 (2002) Vol 6, No 3 (2001) Vol 6, No 2 (2001) Vol 6, No 1 (2001) Vol 5, No 3 (2000) Vol 5, No 2 (2000) Vol 5, No 1 (2000) Vol 4, No 3 (1999) Vol 4, No 2 (1999) Vol 4, No 1 (1999) Vol 3, No 3 (1998) Vol 3, No 2 (1998) Vol 3, No 1 (1998) Vol 2, No 3 (1997) Vol 2, No 2 (1997) Vol 2, No 1 (1997) Vol 1, No 1 (1996) More Issue