cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Sosial Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Sosial Budaya (Online ISSN 2407-1684 | Print ISSN 1979-2603), merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 2007. Jurnal Sosial Budaya ini merupakan media yang memuat kajian-kajian ilmiah dalam bentuk hasil riset dalam bidang ilmu sosial/humaniora, seperti pernaskahan, pranata-sosial dan sejarah untuk membangun dan membangkitkan kembali kejayaan Tamaddun Melayu dalam kawasan regional Asia Tenggara. Jurnal Sosial Budaya diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juli dan Desember yang berusaha menempatkan hasil penelitian para peneliti, akademisi, pemerhati dalam keilmuan terkait. Jurnal Sosial Budaya juga memberi perhatian bagi publikasi hasil penelitian interdisipliner berbagai pihak yang memiliki perhatian serius untuk merancang, dan merajut tatanan dunia baru Tamadun Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
Culture Shock: A New Life of An Indonesian Student Adapting to The U.S. Life Teddy Fiktorius
Sosial Budaya Vol 16, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v16i2.6854

Abstract

In recent years, the growing trend of globalisation has significantly made culture shock start to be experienced by more people around the world. This paper takes the theoretical base of culture shock into account and pays close attention to how an Indonesian student adapted to some new cultural patterns of the U.S. college life. First of all, the four stages of culture shock are elaborated. Next, it describes a sequence of experiences and feelings of the informant when dealing with some adaptation to the U.S. college life and culture. Finally, this paper emphasises some noticeable points of the culture shock intensity.
PERGESERAN NILAI UNGGAH-UNGGUH OLEH GENERASI MUDA DALAM MASYARAKAT JAWA (Studi Kasus Masyarakat Desa Getassrabi Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus) Khoirin Nida
Sosial Budaya Vol 17, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i1.9694

Abstract

Desa Getassrabi merupakan salah satu desa di Kabupaten Kudus yang mayoritas penduduknya merupakan suku Jawa. Adanya kemajuan zaman telah membuat masyarakat desa mengalami perubahan dari kehidupan zaman dahulu menuju kehidupan zaman sekarang, dan dari tradisional menjadi modern. Nilai dan norma yang selalu dijunjung pada masyarakat desa dahulu kini telah mengalami pergeseran. Seperti Unggah-ungguh yang dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai nilai sakral yang mencerminkan kebiasaan dan adat istiadat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pergeseran nilai Unggah-ungguh yang banyak dialami oleh generasi muda dalam masyarakat Jawa di Desa Getassrabi. Adanya kemajuan teknologi saat ini telah membuat generasi muda pada masyarakat Jawa lebih tertarik dengan sesuatu yang bersifat modern dan melupakan nilai-nilai luhur yang telah dijunjung sejak dahulu. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan kajian terhadap penelitian sebelumnya sebagai acuan dan sumber terhadap data yang dipaparkan. Melalui penelitian ini akan dijelaskan bagaimana nilai Unggah-ungguh oleh generasi muda yang telah mengalami pergeseran akibat kemajuan dan perubahan pada zaman sekarang, serta solusi yang dapat ditempuh untuk melestarikan nilai unggah-ungguh tersebut.Kata kunci: Nilai Unggah-ungguh, Generasi Muda, Masyarakat Jawa.
Analisis Ungkapan Tradisional Melayu Jambi: Kajian Hermeneutik Warni Warni; Rengki Afria
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10585

Abstract

AbstrakSebagai bagian dari kebudayaan, ungkapan tradisional menarik untuk dikaji. Ungkapan tradisional sebagai khazanah tak benda mengandung nilai, makna, dan seni berbahasa masyarakat melayu Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, mendokumentasi, mendeskripsi, dan menganalisis bentuk, jenis-jenis, fungsi, dan makna Ungkapan Tradisional Melayu Jambi: Kajian Hermeneutik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data berupa ungkapan tradisional melayu Jambi . Data penelitian ini adalah pepatah, petitih, kias, peribahasa dalam bahasa Melayu Jambi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa beberapa data ungkapan tradisional melayu Jambi, baik berupa peribahasa, pepatah, maupun perumpamaan. Masyarakat Melayu Jambi pada umumnya dalam bertutur bersifat tidak terbuka, sehingga mereka menggunakan kiasan-kiasan untuk menyampaikan pesan dalam tuturan tersebut. Ungkapan tradisional Melayu Jambi mempunyai fungsi dalam kehidupan bersosial dimasyarakat. Fungsi tersebut adalah: Sebagai sarana edukasi masyarakat, Sebagai nasehat, dan Sebagai khazanah budaya tradisi lisan. Implikasi teoritis dalam penggunaan metode yang tepat dapat menghasilkan analisis data yang akurat. Secara praktis hasil kajian ini  dapat diimplikasikan sebagai  rujukan, dan pembanding dari penelitian-penelitian selanjutnya yang mendalami kajian hermeneutik.Kata Kunci: ungkapan, tradisional, melayu jambi, hermeneuticAbstractAs part of culture, traditional expressions are interesting to study. Traditional expression as a treasure not object contains the value, meaning, and language arts Jambi Malay community. This research aims to inventory, document, describe, and analyze the shape, type, function and meaning of expressions Traditional Malay Jambi: Study hermeneutic. The method used is a qualitative descriptive method. Data source Jambi Malay traditional form of expression. This research data is the maxim, proverb, analogy, saying in Malay Jambi. The results conclude that the number of traditional Malay Jambi expression data, in the form of proverbs, sayings, or parables. Jambi Malay community in general in the converse is not open, so they use metaphors to convey the message in speeches. Jambi Malay traditional expression has a function in the life of the community socialization. These functions are: As a means of public education, As advice, and As a cultural treasure of oral tradition. Theoretical implications in the use of appropriate methods can result in accurate data analysis. In practice, the results of this study can be implied as a reference, and a comparison of further studies that delve into hermeneutic studies.Keywords: expressions, traditional, Jambi Malay, hermeneutic
Memperkenalkan Pariwisata Budaya dan Heritage Kepada Generasi Muda Melalui Virtual Tour ke Pulau Penyengat Irwan Irwan; Ute Lies Khadijah; Rusdin Tahir
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.11010

Abstract

Kondisi pandemic yang melanda Indonesia yang memaksa masyarakat untuk tetap berada dirumah demi mencegah penyebaran virus corona dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat untuk berkegiatan untuk mengatasi rasa bosan. Wisata virtual ke Pulau Penyengat yang merupakan destinasi pariwisata budaya dan heritage yang diadakan oleh Outing.id diikuti oleh 32 orang wisatawan virtual yang 22 orangnya merupakan peserta yang berusia 21 – 40 tahun yang lazim dikenal dengan generasi millennial. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pengambilan data menggunakan metode survei dengan pedekatan purposive sampling, peneliti bertujuan ingin mengetahui karakteristik dan motivasi para millennial dalam mengikuti virtual tour wisata budaya dan heritage ke Pulau Penyengat di Provinsi Kepulauan Riau. Hasilnya para peserta millennial yang mengikuti kegiatan ini didorong karena rasa ingin tahu terhadap destinasi pariwisata yang disajikan secara daring dalam bentuk virtual tour melalui aplikasi video conference.
Analisis Kearifan Lokal Manongkah Kerang di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau sebagai Sumber Belajar IPA Berbasis Etnosains Aldeva Ilhami; Diniya Diniya; Susilawati Susilawati; Rian Sugianto; Cahaya Fitri Ramadhan
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.12723

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk rekonstruksi pengetahuan masyarakat suku duanu secara ilmiah dalam tradisi manongkah kerang. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam kepada tokoh masyarakat suku duanu dan studi literatur. Data dianalisis menggunakan metode analisi kualitatif miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat suku duanu memiliki tradisi manongkah kerang berupa kegiatan pengambilan kerang di pesisir pantai Indragiri hilir riau. Proses pengambilan kerang dan alat yang digunakan memiliki pengetahuan masyarakat lokal (indigeneous science) yang memuat konsep-konsep sains dan adanya terkansung nilai konservasi lingkungan. Kearifan lokal manongkah kerang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA dengan  adanya konsep sains dan nilai-nilai konservasi terutama pada materi tentang ekosistem.
Tinjauan Antropologi Hukum dan Budaya terhadap Mudik Lebaran Masyarakat Yogyakarta Suud Sarim Karimullah
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.12725

Abstract

The focus of this study lies on how the Islamic concept sees the phenomenon of the Eid homecoming?, and how is the legal and cultural anthropological review of the Yogyakarta society Eid homecoming?. Seeing and understanding in depth about the concept of Islam and a review of legal and cultural anthropology used as an analysis knife of the Eid homecoming phenomenon is the purpose of writing this article. While this research is a qualitative research by looking at the cultural value orientation in the Yogyakarta society. Then, the methods used to collect data are observation, interviews, and data collection through analysis of studies of various literature that have relevance to the study to be carried out with analytical descriptive properties through analysis of the Huberman and Miles model. Therefore, the results of the study show that the Eid homecoming carried out by the Yogyakarta society is one of the social actions or activities in culture that fall into the general category, namely "al Bārā'āh al-Ashlāyyāh" and contains the value of worship in Islam. Meanwhile, the review of legal and cultural anthropology serves to explain the legal and culture that develops in the life of the Yogyakarta society.
Perubahan Sosial Dalam Upacara Adat Kematian Pada Etnis Batak Toba di Tapanuli Utara Harisan Boni Firmando
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10300

Abstract

The traditional ceremony for the death of the ethnic Toba Batak is a sacred activity and is a hereditary heritage carried out to date. Death ceremonies vary according to the situation and place of the deceased. At present there are some changes in the implementation of the ceremonies of death after the Batak people in their hometown interact with people from other regions. The informants in this study are traditional leaders, religious leaders, people who have performed traditional death ceremonies in their hometown, namely North Tapanuli. This study found that the implementation of the stages of the event at the traditional ceremonies of death that occurred at this time experienced a development where the existing customs became more diverse. Existing traditional rites have begun to change, this change gave birth to a new habit. The occurrence of these new habits is caused by a variety of things, namely the influence of the majority of teachings adopted by the Toba Batak community, space and time that has changed, and the actualization of status and power to achieve life goals. Various strategies carried out by agents to achieve life goals by changing existing structures. Changes in the structure can be seen in changes in the implementation of ritual ceremonies which are organized repeatedly, where various practices of traditional ceremonies of death are always produced and reproduced, so they will still exist. Along with various developments, in the future the implementation of the traditional ceremony of death will experience challenges, namely consumerism, materialism and decreased solidarity. However, the challenge is not a barrier to continue carrying out traditional ceremonies.
Kampung, Tato, dan Identitas: Studi Dekonstruksi Makna Simbolik Kampung Tato Dini Anisa Sasqia; Luhung Achmad Perguna; Abd Latif Bustami
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.9914

Abstract

Identitas kampung tato diambil dari sebuah kebiasaan yang dilakukan masyarakat setempat sejak ±40 tahun yang lalu. Kebiasaan yang dilakukan dari waktu ke waktu ternyata menghasilkan konstruksi yang dapat memberikan label maupun cap kepada pelaku pencipta realitas. Artikel ini fokus kepada dekonstruksi makna kampung tato. Dengan menggunakan metode kualitatif yang didukung teknik pengumpulan data purposive sampling. Hasil dari data yang telah didapat dengan observasi, wawancara, dan dokumen maka akan dipaparkan sebuah tulisan dan gambar. Didukung pula dengan sebuah teori dari Jacques Derrida yaitu Dekonstruksi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini yaitu terdapat dua aspek yang mempengaruhi adanya dekonstruksi. Pertama dari setting sosial masyarakat kampung tato. Dimana penamaan istilah kampung tato lahir dari masyarakat luar yang memandang kampung tato sebagai basis tato. Alih-alih menghindari stigma tato, masyarakat setempat justru terang-terangan menyatakan bahwa desanya merupakan basis tato. Kedua dari oposisi biner, ditunjukkan dengan pelaku tato membongkar penafsiran makna tato atas dasar ketidaksadaran, bukan pertimbangan dan bukan karena organisasi. Dari realitas yang terus diciptakan menjadikan kampung tato kelas dua, kelas yang dikesampingkan. Meskipun pelaku tato telah berusaha untuk keluar jurang masa lalu tetapi mereka tetap dicap kurang baik. Disinilah oposisi biner menjadi keniscayaan.
Tabut: Ekspresi Kebudayaan Imigran Muslim India (Benggala) di Bengkulu Yulia Rimapradesi; Sidik Jatmika
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.12124

Abstract

Kebudayaan mengambarkan ciri khas suatu wilayah dan juga merupakan aspek untuk mengetahui kemungkinan adanya peristiwa-peristiwa sejarah didalamnya. Migrasi pekerja India bagian selatan yaitu Suku Benggali ke daerah Bengkulu menghadirkan budaya dan tradisi baru di Wilayah Bengkulu dan Sekitarnya. Bagaimana para imigran Bengala ini membawa kebiasaan-kebiasaan hidup dan tradisinya yang disebut “Tabot/Tabut” kemudian menetap di Bengkulu yang akan mencoba dijabarkan pada tulisan ini. Dengan menngunakan metode penelitian Kualitatif penulis menelaah sumber-seumber berdasarkan buku, dan catatan sejarah yang ada. Hasil dari tulisan ini berkesimpulan bahwa, ekpresi dari imigran muslim India masih dapat terlihat, meski telah mengalami intergrasi budaya dengan masyarakat lokal. Dibuktikan dengan ritual sakral dari upacara Tabut yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan asli dari Imam Senggolo atau yang disebut keluarga Tabut..
Nujuh bulanan Tradition Value For Societies Resilience in Costumary Community Urug Bogor West Java Fachruddin Majeri Mangunjaya; Bahagia Bahagia; Rimun Wibowo; Yono Yono
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10960

Abstract

The objective of this research is to investigate Nujuh Bulalanan tradition for resilience societies in customary societies. The method used is ethnography because of research related to societies, cultural, tradition and ritual of the community. Data are collected through in-depth interview with the leader of Urug societies, documentation and observation. The sample is selected using a purposive sampling technique. The result is analysed through triangulation which is mixing some gathering data method. The result is societies of Urug still pursue nujuh bulanan tradition. It can support cultural resilience because tradition from their forefather has not vanished amid globalisation of culture. Another finding is nujuh bulanan support societies resilience through mutual cooperation or mutual assisting. Activity is not the private activity but it is a common activity which is conducted by collective action and individual awareness which impact the collective consciousness. The impact is the societies who they live in the group are more resilience rather than life in an individual trait. The other finding is to create food resilience because local food which has been created by a group of societies can save a person from hunger when they receive local food in temporary periods. Besides, It can protect local traditional of food from extinction because in this tradition, societies typically women must invent local traditional food rather than another sort of food.