cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Sosial Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Sosial Budaya (Online ISSN 2407-1684 | Print ISSN 1979-2603), merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 2007. Jurnal Sosial Budaya ini merupakan media yang memuat kajian-kajian ilmiah dalam bentuk hasil riset dalam bidang ilmu sosial/humaniora, seperti pernaskahan, pranata-sosial dan sejarah untuk membangun dan membangkitkan kembali kejayaan Tamaddun Melayu dalam kawasan regional Asia Tenggara. Jurnal Sosial Budaya diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juli dan Desember yang berusaha menempatkan hasil penelitian para peneliti, akademisi, pemerhati dalam keilmuan terkait. Jurnal Sosial Budaya juga memberi perhatian bagi publikasi hasil penelitian interdisipliner berbagai pihak yang memiliki perhatian serius untuk merancang, dan merajut tatanan dunia baru Tamadun Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 233 Documents
Tradisi “Mbeleh Wedhus Kendhit” Sebagai Sarana Tolak Balak di Masa Pandemi Covid-19 M. Yusuf; Abd. Basyid
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.11272

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi mbeleh wedhus kendhit sebagai sarana tolak bala di masa pandemi covid-19, juga untuk mengetahui bagaimana konstruksi pemahaman masyarakat mengenai tradisi mbeleh wedhus kendhit sebagai sarana tolak bala di masa pandemi covid-19, dan terakhir, untuk mengetahui nilai yang terkandung dalam tradisi mbeleh wedhus kendhit sebagai sarana tolak bala di masa pandemi covid-19. Untuk menjawab tujuan penelitian tersebut, penulis menggunakan pendekatan kualititatif  dengan jenis fenomenologis. Setelah data terkumpul, untuk mencari konstruksi pemahaman, dianalisis dengan menggunakan teori konstriuksi sosial Berger dan Luckman tentang subjective reality, symbolic reality, dan objective reality, juga tentang eksteralisasi, objektifikasi, dan iternalisasi. Sedangkan untuk mencari nilai yang terkandung dalam tradisi, menggunakan analisis descriptive-eksplorative. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa, tradisi ini merupakan rangkaian acara yang dimulai dari penyembelihan wedhus kendhit hingga doa bersama di lapangan dusun, dilaksanakan secara tentatif ketika terjadi pagebluk, seperti pagebluk covid-19. Masyarakat memahami bahwa tradisi mbeleh wedhus kendhit adalah sumber segala nilai, lanjut melaksanakan, kemudian mereka mendapatkan suatu kebenaran kolektif tentang adanya khasiat sebagai sarana tolak bala. Nilai yang terkandung dalam tradisi “mbeleh wedhus kendhit” ada dua, yakni nilai ilahiyah dan nilai insaniyah.
Kajian Historis dan Identifikasi Kepunahan Permainan Tradisional Heri Yusuf Muslihin; Resa Respati; Iqhli Shobihi; Siti Alifya Shafira
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.11787

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta-fakta di lapangan mengenai permainan tradisional banyak yang meneliti tetapi yang diteliti lebih pada permainan tradisional yang masih eksis. Sedangkan pada permainan tradisional yang jarang dimainkan atau bahkan sudah tidak dilakukan penelitian sangat jarang dilakukan. Sehingga penelitian ini ingin menggali atau menumbuhkan kembali permainan tradisional yang hampir punah/sudah punah untuk didokumentasikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptiftif dengan melibatkan partisipan dari semua kalangan usia. Partisipan berumur mulai dari <20 tahun sampai usia > 80 tahun, dan 2 orang partisipan dari unsur pemerintah yang menangani kebudayaan dan olahraga. Intrumen yang dipergunakan adalah peneliti dengan menggunakan pedoman wawancara, obeservasi dan studi dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah terpetakanya berapa lama suatu permainan tradisional yang hampir/sudah punah ini mengalami degradasi serta terdokumentasikannya permainan-permainan tradisional. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa terdapat 11 permainan tradisional yang paling sering dimainkan oleh masyarakat pada rentang tahun 1960-2020 dan mendapatkan data terkait kemunculan serta menghilangnya permainan tradisional pada setiap tahun.Kata Kunci: Permainan Tradisional, Punah, Pelestarian, Budaya Lokal.
Integrasi Antaretnis (Studi Kasus di Kampung Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta) Lani Kusuma Yuniati; Sigit Pranawa; Abdul Rahman
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10755

Abstract

Keberagaman latar belakang budaya dan etnis yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Kauman menarik karena keunikannya dalam mencapai kehidupan yang integratif. Ke-6 etnis menunjukkan bentuk kerukunan dalam bermasyarakat. Perbedaan budaya yang dimiliki tidak menimbulkan konflik antaranggota masyarakat. Berdasarkan kondisi tersebut maka penelitian ini berfokus untuk menemukan wujud dan faktor yang melatarbelakangi adanya integrasi antaretnis di Kampung Kauman. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui  observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber serta teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi antaretnis di Kampung Kauman terwujud melalui beberapa aspek yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya serta dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sebagai pendukung dari terwujudnya integrasi. Menjunjung tinggi nilai toleransi menjadi faktor utama dalam mewujudkan kehidupan yang integratif antaranggota masyarakat.  Kata Kunci: Integrasi Antaretnis, Masyarakat Heterogen, Kampung Kauman.
Dampak Larangan Adat Nyongkolan Bagi Masyarakat Sasak Montong Bongor Pada Masa Pandemi Covid-19 Hulaimi Azhari; Arif Sugitanata
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.12396

Abstract

Artikel ini membahas mengenai dampak larangan adat nyongkolan dalam perkawinan masyarakat sasak Montong Bongor pada masa pandemi covid-19. Larangan tersebut didasarkan dari surat edaran Bupati Lombok Tengah nomor: 338/ 18/ humas sebagai salah satu upaya mencegah dan meluasnya pandemi covid-19. Salah satu inti dari surat edaran tersebut adalah melarang pegelaran adat dan budaya termasuk adat nyongkolan. Fokus utama kajian artikel ini adalah bagaimana dampak dari larangan adat nyongkolan dalam perkawinan masyarakat sasak Montong Bongor pada masa pandemi covid-19 dengan menggenunakan penelitian lapangan (field research) dan pendekatan studi kasus (case study) melalui pola dalam pengumpulan data yang akan dilakukan melalui observasi, wawancara dan juga akan dilakukan analisis terhadap berbagai dokumentasi, kemudian di interpresetasikan secara kualitatif. Tulisan ini menemukan bahwa dampak dari larangan adat nyongkolan dalam perkawinan masyarakat sasak Montong Bongor pada masa pandemi covid-19 yakni, pertama, hilangnya momen menjadi raja dan ratu sehari. kedua, menurunnya pemasukan ekonomi mikro masyarakat sasak montong bongor dan ketiga hilangnya budaya nyongkolan sebagai ciri khas perkawinan masyarakat sasak.
Penguatan Dimensi Sosial Keluarga melalui Teknik Reframing untuk Meningkatkan Kemampuan Problem Solving Kelompok Ibu Rumah Tangga Perumahan Gemilang Sukma Erni; Hasgimianti Hasgimianti; Sofia Hardani
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.13032

Abstract

Data menunjukkan bahwa tingkat stress pada perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga semakin tinggi setiap tahunnya. Sementara masyarakat masih malu dan menganggap tabu bila mengkomunikasikan masalah keluarga yang dihadapi dengan orang lain. Dampaknya adalah keterpurukan sosio emosional yang dapat menimbulkan penyakit fisik dan psikis.  Penelitian tindakan ini dilaksanakan untuk menguatkan kemampuan penyelesaian masalah yang dihadapi oleh ibu rumah tangga melaaui metode refraaming. peneltian tindakan ini melibatkan 25 orang ibu rumah tangga.  Hasil yang diperoleh menunjukkan terjadi penguatan emosional yang mempunyai masalah, meningkatnya kemampuan dan keberanian berkomunikasi, merasa tenang dan lebih ceria. Simpulan kegiatan menjelaskan bahwa kegiatan penguatan dimensi sosial dapat membantu meringankan beban masalah yang dihadapi masyarakat.
Tradisi Mandi Sumur Penganten di Keraton Kanoman Cirebon Rahma Nur Atika; Salma Nur Karimah; Fadel M. Rizki; Bagja Waluya; Asep Dahliyana
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.8554

Abstract

Berdasarkan hasil observasi langsung yang kami lakukan, Pandangan Masyarakat Cirebon terhadap Tradisi Mandi Sumur penganten sangat menarik. Tradisi Mandi Sumur penganten ini merupakan Tradisi yang digunakan masyarakat untuk tetap mempertahankan peninggalan leluhur juga mempertahankan kearifan local dan cirri khas kota Cirebon. Keraton Kanoman ini merupakan tempat penyebaran islam pertama di Jawa Barat. Di keraton kanoman ada banyak karang-karang yang filosofinya “manusia harus punya mental seperti karang” bahwa manusia jangan mengandalkan sesuatu dari harta atau modal melainkan harus ada mental dari dirinya dari dalam hatinya, segala sesuatu harus bergerak dari hatinya. Pada hasil observasi kami juga menemukan bahwa ternyata sebelumnya Mandi Sumur pengantin ini hanya dilakukan oleh anak cucu keluarga di Keraton sebagai tanda Karomat. namun karena banyak yang tau akhirnya banyak warga yang ingin melakukan tradisi tersebut, namun dari pihak keraton tidak ada yang mengajarkan untuk melakukan tradisi ini yang bisa disebut animisme.Pandangan Masyarakat Cirebon mengenai Tradisi ini pun beragam. Ada yang menganggap tradisi ini ialah kearifan local dan sebuah Tradisi yang harus dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan. Sumur pengantin, sumur yang terletak di Kebon Jimat Keraton Kanoman ini merupakan peninggalan sejak jaman wali songo. Sumur ini dipercaya untuk mempermudah kaum perempuan supaya mendapatkan jodoh dengan mandi disini, namun ada yang berpendapat bahwa ini bersinggungan dengan agama islam. meminta tetap kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya kembali lagi kepadakepercayaan masing-masing orang. hal ini kembali lagi pada tiap individu bagaimana ia mempercayai Tradisi ini sendiri. 
Perilaku Budaya Konsumtif Petani Penggarap yang Memiliki Samben Pemelihara Sapi (Studi Masyarakat Desa Jati Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen) Vrisca Putri Sholekhah; Atiqa Sabardila; Rani Setiawaty
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.11660

Abstract

Jati Village community farmers are grouped into two, namely owner farmers and tenant farmers. The main problems that will be examined in this study are (1) the general description of the tenant farmers in Jati Village, and (2) the consumptive behavior of tenant farmers in the Jati Village Community who have samben as cow raisers. The approach used in this research is qualitative with field studies. Primary data collection techniques are carried out by observation, interviews, documentation, and questionnaires. The data analysis used was descriptive analysis. Based on the results of the research, it was found that First, First, Teak community farmers, Sragen Regency cultivated approximately 2 to 3 stakes (3000-9000 meters) with a yield of IDR 5,650,000 per 1 stake (3000 meters). In addition to working on the fields, the community farmers of Jati Village, Sragen Regency, also raise cows with an income of 1 cow of Rp. 300,000, the cows are sold every 6 months to meet their lifestyle needs. Second, the consumptive behavior of tenant farmers. The people of Jati Village who have samben raising cattle tend to spend their income to improve their lifestyle. The frequency of purchasing goods by Teak community farmers to improve their lifestyle is the basic necessity of clothing in the form of clothes, pants, sandals, jackets and shoes.
Cadar dan Jilbab menurut Dogma Agama dan Budaya Masyarakat (Studi Living Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59 pada Masyarakat Sumatera Barat) Nasrulloh Nasrulloh; Desriliwa Ade Mela
Sosial Budaya Vol 18, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i1.12884

Abstract

Penelitian ini didasari adanya tiga aliran besar mengenai cadar, yaitu aliran yang mengatakan wajib, sunnah dan mubah. Sebagian masyarakat ada yang menganggap sebagai teroris dan ada juga masyarakat lain yang menganggap cadar sebagai tren saja. Al-Qur’an memerintahkan para muslimah agar berhijab dengan mengenakan kerudung yang dapat menutupi kepala dan dada mereka, namun ada yang berbeda pendapat mengenai ayat tersebut. Lubuk Lintah adalah daerah yang berada di kecamatan Kuranji di Sumatera Barat, Padang. Tujuan penelitian ini   untuk menganalisis pendapat para ulama klasik-kontemporer mengenai surat al-ahzab ayat 59 dan menganalisis pandangan masyarakat mengenai cadar dan jilbab di Lubuk Lintah  Sumatera Barat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan tafsir-etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan penafsiran ulama klasik dan kontemporer mengenai makna surah al-ahzab ayat 59, ada yang berpendapat bahwa ayat tersebut mengenai perintah cadar, dan ada yang berpendapat bahwa ayat tersebut mengenai perintah menutup aurat yakni tentang hijab. Adapun pandangan masyarakat Sumatera Barat mengenai cadar dan jilbab, sebagian dari mereka bisa menerima eksistensi wanita bercadar, dan ada beberapa kelompok masyarakat yang belum bisa menerima perempuan yang memakai cadar, dikarenakan mereka yang bercadar menutup diri mereka dari masyarakat dan enggan bertegur sapa dengan lingkungan sosial.
Perubahan Sosial dalam Upacara Adat Perkawinan Pada Etnis Batak Toba di Tapanuli Bagian Utara (Analisis Sosiologis) Harisan Boni Firmando
Sosial Budaya Vol 18, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i2.12850

Abstract

The traditional wedding ceremony of the Toba Batak ethnicity is a sacred activity and is a hereditary heritage carried out to this day. Currently, there are several changes in the implementation of traditional wedding ceremonies after the Batak Toba people in their hometown have interacted with people from other areas. The existing customary rites have begun to change, this change has given birth to a new habit. The purpose of this study was to determine the social changes in the traditional wedding ceremony of the Toba Batak ethnic group in Tapanuli Bahagian Utara. This research uses qualitative methods with data collection techniques, observations, interviews, document studies and focus group discussions. The results of this study found that the implementation of a series of stages in the traditional wedding ceremony that is currently taking place has progressed where the existing customs have become more diverse. The occurrence of this new habit is caused by various things, namely the influence of the teachings which the majority of the Batak Toba people adhere to, the changing space and time, and the actualization of status and power to achieve life goals. Various strategies are carried out by agents to achieve life goals by changing existing structures. This change in structure can be seen in changes in the way the traditional rituals are carried out which are organized repeatedly, in which various practices of traditional wedding ceremony rites are produced and reproduced, so that they continue to exist. Along with various developments, the implementation of traditional wedding ceremonies will experience challenges, namely consumerism, materialism and declining solidarity. However, this challenge is not a barrier to maintaining the traditional wedding ceremony.
Moderasi Beragama Berbasis Sosio Kultural pada Generasi Milenial Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan Intan Musdalifah; Hamidah Tri Andriyani; Krisdiantoro Krisdiantoro; Afif Pradana Putra; Moh. Ali Aziz; Sokhi Huda
Sosial Budaya Vol 18, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v18i2.15437

Abstract

Masyarakat Indonesia yang majemuk menuntut untuk menerapkan sikap yang toleran. Akan tetapi, menjadi sebuah paradoks di tengah masyarakat Indonesia yang beragam, timbulnya sikap intoleran, radikalisme dan ektrimisme terutama yang menyasar kalangan generasi milenial begitu memprihatinkan, untuk itu perlu dibangun pemahaman yang moderat. Dari latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana moderasi beragama berbasis sosio kultural pada generasi milenial desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan. Peneliti menggunakan metode kualitatif lapangan dengan pendekatan fenomenologi., Moderasi beragama di desa Balun terjadi dalam aspek sosial kultural masyarakat, seperti mengikuti kegiatan sosial, keagamaan, kepemudaan, peringatan hari besar nasional, pernikahan, namum dengan tetap memperhatikan batasan dari toleransi. Organisasi karang taruna menjadi wadah interaksi pemuda lintas agama. Toleransi beragama generasi milenial desa Balun tidak lepas dari peran pendidikan dalam keluarga yang secara turun temurun ditanamkan oleh orang tua mereka.