cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
arabiyah@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
Jln. H. M. Yasin Limpo No. 36 Romangpolong, Samata, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Shaut Al-'Arabiyah
ISSN : 2354564X     EISSN : 25500317     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Shaut Al-'Arabiyah published twice a year since 2013 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Arabic Education, Hadits, and Other Arabic Studies. This journal is published by the Arabic Education Department, Faculty of Education and Teachers Training, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Arjuna Subject : -
Articles 283 Documents
القسم فى القرآن Syamsuri Syamsuri
Shaut al Arabiyyah Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v1i1.189

Abstract

ABSTRAK Aqsam al-Qur’anBerbicara mengenai bentuk-bentuk sumpah tidak terlepas dari pemahaman terhadap defenisinya. Dengan kata lain, defenisi atau pengertian di atas sudah menggambarkan apa dan bagaimana bentuk sumpah di dalam al-Quran.Ditinjau dari segi sifatnya atau cara penyampaiannya, maka sumpah terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu :Pertama, al-qasam al-zhahir (sumpah yang bersifat konkrit), yaitu sumpah yang jelas-jelas disebutkan fi’il al-qasam-nya dan atau al-muqsam bihi-nya. Perlu dipahami bahwa unsur-unsur sumpah di dalam al-Quran ada tiga:Fi’il yang di-muna’addi akan dengan huruf jar (bi). Sebab penggunaan kata sumpah atau قسم dalam bahasa Arab mesti diubah dalam bentuk fi’il muta’addi atau kata kerja yang membutuhkan obyek dengan perantaraan huruf ba (ب) yaitu أقسم بـــ.... . Hanya saja dalam pembicaraan khususnya bangsa Arab, sumpah sering sekali dilakukan sehingga terkadang bentuk kata kerja tersebut dihilangkan dan diringkas dengan hanya menyebutkan huruf bantunya (ب) dan kemudian huruf ba tersebut diganti dengan huruf wawu (و) khusus pada kata benda yang konkrit (isim zhahir), Al-Muqsam bihi yaitu lafal yang dipakai bersumpah.Penulis memahaminya sebagai obyek sumpah. Lafal-lafal atau obyek-obyek yang dipergunakan Allah dalam menyatakan sumpah di dalam al-Quran, ada dua macam: 1) bersumpah dengan atas nama diri-Nya sendiri, 2) dengan atas nama makhluk-Nya. Tentunya di balik penyebutan obyek sumpah tersebut memiliki hikmah dan tujuan tersendiri. Mengenai tujuan itu akan dijelaskan kemudian. Hanya saja di sini perlu ditambahkan bahwa Tuhan bebas bersumpah dengan menggunakan dengan apa saja yang dikehendakinya. Namun, bagi manusia tidak boleh bersumpah selain dari nama Allah, sebab hal tersebut termasuk perbuatan terlarang.Al-Muqsam ‘alaihi yaitu sesuatu yang ingin diperkuat melalui sumpah tersebut, dengan kata lain, ia merupakan sasaran sumpah. Karena al-muqsam ‘alaihi merupakan sesuatu yang ingin diperkuat atau dipertegas maka hendaknya ia termasuk sesuatu yang layak untuk tujuan tersebut. Misalnya, persoalan ghaib dan tersembunyi. Hanya saja perlu diketahui bahwa di dalam al-Quran, Allah swt. bersumpah dengan banyak sasaran dan tujuan namun secara garis besar al-muqsam ‘alaihi terdiri dari dua hal, yaitu pokok-pokok keimanan dan keadaan manusia. al-muqsam ‘alaihi juga sering disebut sebagai jawab al-qasam. Oleh karena itu, di dalam al-Quran jawab al-qasam terdiri dari dua jenis. Pertama, jawab al-qasamyang disebutkan dan inilah yang paling banyak
Harf Jar Min dalam Bahasa Arab: Ragam Mengartikannya ke dalam Bahasa Indonesia Hamzah S. Fathani
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2684

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai ragam mengartikan min (مِنْ) ke dalam bahasa Indonesia. Ide penulisan masalah ini bermula dari pengalaman membaca beberapa buku yang membahas mengenai min (مِنْ), yang diantaranya dalam memberikan contoh kalimat terbatas pada aspek yang menuntut untuk diartikan dengan kata “dari” semata. Kurangnya literatur yang memaparkan tentang ragam cara mengartikan kata min (مِنْ) ke dalam bahasa Indonesia mendorong untuk dilakukan upaya dengan harapan dapat memberikan informasi sekaligus sumbangsi kepada pelajar pemula bahasa Arab tentang keragaman arti min (مِنْ) tersebut. Menurut tata bahasa Arab, kata min (مِنْ) berfungsi sebagai perubah bunyi akhir pada setiap kata benda atau Ism yang terletak setelahnya, baik kata benda itu berbentuk mufrad (tunggal) dan mutsanna (dual) maupun  jam’ (jamak atau banyak). Kata ini dikenal sebagai harf jar, sedangkan kata benda yang terletak setelahnya disebut dengan ism majrur. Harf jar min (مِنْ) pada umumnya diartikan dengan kata “dari atau daripada”, namun pada sisi yang lain untuk menyesuaikan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang benar, kata min (مِنْ) ada kalanya diartikan selain dari kata “dari atau daripada” tersebut bahkan dalam konteks tertentu diartikan dengan kata “kepada” yang merupakan antonim dari kata “dari”. Disamping itu, dengan dasar menyesuaikan konteks dan rasa bahasa Indonesia maka min (مِنْ) tidak diartikan samasekali. Paling tidak terdapat 19 kata yang ditemukan dalam berbagai sumber yang memungkinkan menjadi arti dari kata min (مِنْ), baik sumber itu dari ayat-ayat Al-Qur’an, hadis-hadis nabi maupun naskah Arabiyah lainnya. Teridentifikasi pula bahwa kata min (مِنْ) tersebut ada yang berhubungan dengan ism dzahir, ism dhamir, harf, dan dzaraf. Konteks kalimat dan kata-kata yang menyertai min (مِنْ) itulah yang menyebabkan terjadinya keragaman arti min (مِنْ).
Kajian Teoritik Pengembangan Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Humanistik Di Madrasah Ibtida’iyah Muhammad Yusuf
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 2 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH (IN PRESS)
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i2.10752

Abstract

Kajian ini didasari oleh fenomena yang terjadi dalam proses pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtida’iyah yang hanya mementingkan aspek kognitif dan terkesan tidak memperhatikan aspek potensi siswa lainya, seperti potensi sosial dan spiritual. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan humanistik yang disinyalir dapat mengakomodir segala potensi yang melingkupi siswa. Tulisan ini mengandalkan sumber bibliografis berupa buku dan artikel yang berkaitan dengan pokok permasalahan. Pembacaan data menggunakan pendekatan kritis dan pemaknaan substansinya dengan menggunakan content analysis. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtida’iyah dengan pendekatan humanis bertujuan agar siswa menguasai bahasa Arab yang pada gilirannya bisa dijadikan sebagai alat kaji di lapangan keilmuan dan praktis pergaulan hidup. Materi pembelajaran hendaknya juga mengandung unsur problematis yang bersifat insaniyah dan ilahiyah. Metode pembelajaran bisa menggunaakan metode amtsal, ibroh, mau’idoh hasanah, uswatun hasanah, dan berfikir reflektif. Adapun evaluasi yang sesuai dengan pendekatan humanis yaitu pilihan ganda, tes uraian, dan penilaian teman sejawat. Selain itu, dalam pembelajaran humanis, guru juga di tuntut mempunyai kompetensi pribadi, sosial, dan profesional. Dengan optimalisasi pendekatan humanistik dalam pembelajaran bahasa Arab di Madrasah Ibtida’iyah, siswa berpotensi besar dapat eksis dalam dunia akademik maupun sosial. Sehingga peran bahasa Arab sebagai salah satu alat membangun peradaban dapat terealisasikan.
Konsep Keterampilan Bercakap Bahasa Arab Rappe Rappe
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1255

Abstract

Tulisan ini mengungkapkan konsep keterampilan bercakap bahasa Arab dengan pokok pembahasanya adalah kriteria-kriteria yang dituntut untuk dipenuhi oleh seseorang mempelajari bahasa Arab sehingga ia dinyatakan bahwa ia telah terampil bercakap bahasa Arab. Adapun kriteria-kriteria yang dimaksud adalah kemampuan mengungkapkan ide atau pikiran, kemampuan mengucapkan setiap huruf dengan baik,kemampuan menggunakan harakat bahasa Arab dengan baik, kemampuan mengungkapkan kata-kata yang berhubungan dengan topik pembicaraan, dan kemampuan menyusun uslub-uslub kalimat yang baik.
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hadis Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1222

Abstract

Hadis atau Sunnah sebagai sumber ajaran Islam kedua seteleh al-Qur’an jika dilihat dari segi periwayatan berbeda dengan al-Qu’an, dimana yang kedua setiap kali ayat ayatnya turun, Rasulullah saw. langsung memerintahkan penulis wahyu untuk menulisnya, sementara untuk hadis Nabi saw., tidak demikian halnya. Periwayatan hadis Nabi saw., dengan demikian lebih banyak berlangsung secara lisan dibandingkan  dengan  tulisan,  akibat  dari  ada  larangan  Rasulullah  saw.  secara umum kepada para sahabat untuk menulis hadis  hingga Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz (salah seorang Khalifah Bani Umayyah) memandang perlunya penulisan dan pembukuan hadis-hadis Nabi saw., dengan mempertimbangkan berbagai faktor, berupa: adanya kekhawatiran akan lenyapnya hadis; munculnya hadis palsu akibat pertentangan politik dan mazhab; berpencarnya para sahabat di beberapa kota, serta banyaknya dianta sahabat  yang meniggal dunia dalam peperangan.   Hasil dari upaya pembukuan hadis  itu  telah  melahirkan kitab-kitab hadis standar  sebagai rujukan  dalam  hal  pengamalan  Sunnah  Nabi  saw.,  dalam  kehidupan  kaum muslimin, serta untuk kepentingan penelitian dan pengkajian.
من أسرار التشبيه القرآني Amrah Kasim
Shaut al Arabiyyah Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v1i1.185

Abstract

ABSTRAK Al Qur’an adalah nutrisi bagi kebutuhan spiritual dan gizi untuk fisik berbagai ragam variasi yang semuanya dihidangkan dengan kualitas rasa yang istimewasalah satu ragam sajian Al Qur’an adalah gaya (uslub Al Tasybih metafora). Dalam berbagai style dalam lingkup studi ilmu bayan ( Stylistika) Al Qur’an menawarkan, mengungkap ma’na lahir dapat diindra, dirasakan, namun ia mengandung ma’na yang sangat dalam dan halus menembus alam supranatural namun bisa dirasakan, didengar, & dilihat karena ia tampil dengan style tasybih dan itulah rahasia tasybih dalam Al Qur’an yang pembaca bisa jejaki dalam tulisan ini.Unsur tasybih dalam Al Qur’an terambil dari fenomena-fenomena alam yang sangat dekat dengan siapa saja karena alam adalah habitatnya, disinilah keagungan Al Qur’an mengajak berdialog dengan Alam dan menjelaskan kepada manusia siapa sesungguhnya sang pencipta. 
Persepsi Mahasiswa Semester VII dan IX Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Tentang Penulisan Skripsi Berbahasa Arab pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar Syahruddin Usman
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2706

Abstract

Karya tulis ilmiah dan perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan karena perguruan tinggi membina mahasiswa. Mahasiswa dalam kegiatan kesehariannya selalu bersentuhan karaya ilmiah yang berkaitan dengan bidang ilmu yang ditekuninya di perguruan tinggi yang bersangutan.Karya ilmiah ini bagi mahasiswa sangat penting baik mahasiswa program diploma, program sarjana, program magister, maupun program doktor. Oleh karena itu, perlu diadakan pembiasaan mahasiswa tersebut menyusun atau membuat laporan, makalah atau tugas yang berkaitan dengan mata kuliah. Apalagi setiap akhir program studi mahasiswa dalam suatu perguruan tinggi menjadi syarat utama penyelsaian studi membuat karya ilmiah sesuai tingkat program pendidikannya. Wahyu (2001: 61) mengatakan bahwa “suatu karangan dapat dikatakan ilmiah jika ia mengungkapkan suatu permasalahan dengan metode ilmiah”. Maryadi dalam Harun, dkk (2001: 14) mendefinisikan karya ilmiah yaitu “suatu karya yang memuat dan mengkaji suatu permasalahan tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah keilmuan” Dwiloka dan Riana, (2005:1-2) Karya ilmiahh atau tulisan ilmiah adalah karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang diperolehnya melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian, dan pengetahuan orang lain sebelumnya.Memperhatikan pandangan pakar tentang pengertian karya ilmiah di atas maka dapat dipahami bahwa karya ilmiah adalah karya mengungkapkan permasalahan  untuk dipecahkan dengan menulusri berbagai literatur yang ditulis oleh para pakar dengan mengikuti kaidah-kaidah keilmuan.Pembiasaan mahasiswa menulis dengan mengikuti kaidah-kaidah karya tulis ilmiah sejak dini suatu hal yang sangat penting. Karena kegiatan menulis membutuhkan tenaga ekstra dalam menelusuri berbagai literatur yang terkait dengan tema yang akan ditulis. Penelusuran literatur tidaklah mudah karena membutuhkan tenaga, waktu, dan perhatian yang serius terutama mahasiswa yang memiliki kemampuan membaca dan menelaah terbatas.Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar salah satu program studi di dalamnya adalah Program studi Pendidikan Bahasa Arab, mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya  pada program studi tersebut diwajibkan menulis skripsi atau karya ilmiah dalam bahasa Arab. Mahasiswa kelihatan mengalami kesulitan menulis karya tulis ilmiah/skripsi berbahasa Arab, karena pada saat menyusun drap atau proposal belum mampu menyusun kalimat dalam bahasa Arab dengan baik dan benar. Padahal mereka memilih  program studi Pendidikan Bahasa Arab.Berdasar hal tersebut peneliti tertarik meneliti lebih jauh untuk memperoleh informasi yang akurat tentang tanggapan atau persepsi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Arab tersebut tentang keharusan menulis skripsi atau karya ilmiah dengan bahasa Arab.
Upaya Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab ( Wajah Kurikulum Bahasa Arab) sitti sitti chalik
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1260

Abstract

Bahasa Arab adalah bagian dari agama. Ibnu Taimiyah berkata,” sudah maklum bahwa belajar bahasa Arab adalah fardhu kifayah”. Sebagaimana dikatakan oleh Umar bin Khattab,” Sesungguhnya bahasa Arab itu bagian dari agama,” dan mengetahuinya adalah sebuah kewajiban. Sebab memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits hukumnya wajib, dan hal itu tidak dapat dipahami kecuali dengan bahasa Arab. Bahasa Arab adalah syiar Islam dan umat Islam. Bahasa Arab adalah ikatan di kalangan kaum muslimin. Mengajarkan bahasa Arab adalah sarana untuk menyebarkan kebudayaan Islam. Kuatnya bahasa Arab adalah salah satu sebab kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Oleh karena itu kurikulum perlu penguatan dan pengembangannya. 
تطور المعاني في مختلف العصور Ahmad Munawwir
Shaut al Arabiyyah Vol 7 No 1 (2019): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v7i1.10045

Abstract

Tulisan ini membahas tentang perkembangan dan perubahan makna kata dalam bahasa Arab seiring perkembangan waktu. Perkembangan makna kata tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1) faktor linguistik, 2) faktor historis, 3) faktor sosial/budaya, 4) faktor psikologis, 5) faktor penyerapan bahasa asing, dan 6) faktor kebutuhan kepada makna baru, serta beberapa contoh kata-kata dalam bahasa Arab yang mengalami perubahan/pengembangan makna. Kata-kata yang mengalami pengembangan makna terbagi dua: 1) kata-kata yang berkaitan dengan istilah dalam syariat Islam, 2) kata-kata di luar istilah syariat.
Al-Huruf Al-Nasikhah: Inna Wa Akhawatuha Sitti Aisyah Chalik
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1227

Abstract

inna dan huruf-huruf yang berfungsi serupa dengannnya adalah huruf-huruf yang memasuki fungsi jumlah ismiyah yang terdiri dari mubtada’ dan khabar dan mengubah fungsi keduanya dengan menasab mubtada’ (dalam kondisi ini, mubtada’ dinamakan dengan ism) dan merafa’khabar, Syarat Inna dan yang lainnya berfungsi: 1. tidak terangkai dengan (ما الكافة), 2. Ismnya bukan yang memiliki satu fungsi saja, seperti kata (طوبَى) yang hanya berfungsi sebagai mubtada, 3.Khabarnya tidak boleh insya>i>, maka kalimat di bawah ini Inna tidak berfungsi, 4.Jika khabarnya mufrad atau jumlah (yakni bukan syibh al-jumlah) maka harus diakhirkan setelah ismnya.

Page 4 of 29 | Total Record : 283