cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Faktor Risiko Terjadinya Epilepsi pada Anak Palsi Serebral Suhaimi, M Luthfi; Syarif, Iskandar; Chundrayetti, Eva; Lestari, Rahmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1282

Abstract

Pada anak yang menderita palsi serebral kemungkinan akan mengalami peningkatan risiko terjadinya epilepsy. Setiap perubahan pada otak dapat menjadi faktor risiko terjadinya epilepsi dengan berbagai manifestasi klinis. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan terjadinya epilepsi pada anak palsi serebral di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Desain peneltian ini adalah cross-sectional study yang dilaksanakan pada Agustus 2018 sampai Desember 2019. Subjek palsi serebral diperoleh secara consecutive sampling, dengan jumlah minimal 60 subjek. Faktor risiko yang diteliti meliputi asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal. Uji statistik menggunakan Chi-square test dan Fisher’s exact test, dengan batas kemaknaan p<0,05. Hasil: Pada 60 pasien palsi serebral, ditemukan 39 pasien (65%) menderita epilepsi dan 21 pasien (35%) tidak menderita epilepsi. Perbandingan jenis kelamin perempuan dan laki-laki 1,2:1. Epilepsi umum merupakan tipe epilepsi yang paling banyak ditemukan (76,9%), pengobatan secara politerapi hampir sama banyak dengan monoterapi. Asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal tidak bermakna sebagai faktor risiko epilepsi pada anak palsi serebral. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara asfiksia, persalinan vakum ekstraksi, berat badan lahir rendah, prematuritas dan kejang neonatal dengan terjadinya epilepsi pada anak palsi serebral.Kata kunci: cerebral palsy, epilepsy, risk factors
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Complementary And Alternative Medicine (CAM) pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Poasia Kota Kendari Susanti, Risqi Wahyu; Indriastuti, Diah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1287

Abstract

Pengetahuan masyarakat mengenai pengobatan penderita DM tak lepas dari saran penggunaan terapi komplemeter obat herbal, yang tidak jarang menjadi alternatif pemecahan masalah ketika ilmu kedokteran tak mampu memberikan solusi serta keinginan penderita maupun keluarga untuk dilibatkan secara langsung dalam proses pemilihan penyembuhan.  Tujuan: Menentukan hubungan antara penggunaan Complementary and Alternative Medicine (CAM) dengan suku, pendidikan, agama, status ekonomi, status kesehatan dan usia. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional study dengan populasi seluruh pasien pasien diabetes melitus yang berada di wilayah kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria sebesar 40 responden. Hasil: Penelitian ini menggambarkan bahwa tidak terdapat hubungan antara penggunaan CAM dan suku, pendidikan, agama, status ekonomi, status kesehatan, sedangkan terdapat adanya hubungan antara usia dengan penggunaan CAM. Simpulan: Masyarakat untuk dapat lebih aktif menemukan informasi mengenai perawatan kesehatan berdasarkan penggunaan CAM, serta peneliti dan institusi pendidikan untuk menggunakan terapi CAM sebagai bahan pembelajaran pada konsep terapi komplementer keperawatan.Kata kunci: CAM, diabetes mellitus, komplementer, tradisional
Efek Intervensi Perilaku Terhadap Manajemen Diri Penderita Diabetes Melitus Tipe 2: Sistematik Review Haskas, Yusran; Suarnianti, Suarnianti; Restika, Indah
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1289

Abstract

Behavioral intervention sangat penting dilakukan dalam manajemen diri penderita Diabetes Melitus tipe 2 sebagai intervensi dalam upaya meningkatkan status kesehatan. Manajemen diri merupakan hal penting untuk mempertahankan kontrol gula darah sehingga komplikasi pada penderita DM tipe 2 dapat dicegah. Tujuan: Mengetahui bentuk intervensi perilaku untuk mengukur outcome dari manejemen diri penderita DM tipe 2. Metode:  Electronic database dari jurnal yang telah dipublikasi melalui Google Schoolar, ProQuest, PubMed., dan ScienceDirect. Hasil review dari 8 jurnal yang telah dipilih menyatakan bahwa behavioral intervention memberi pengaruh terhadap manajemen diri penderita DM tipe 2 dalam kontrol glikemik. Instrumen penelitian yang  digunakan untuk mengukur behavioral intervention pada penelitian kuantitaif yakni kuesioner, melakukan observasi perubahan perilaku, sedangkan pada penelitian kualitatif menggali informasi dengan indepth interview. Hasil: Efek behavioral intervention yang meliputi pemberian edukasi dan self efficacy dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan, pencegahan komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Simpulan: efek behavioral intervention sangat efektif dalam meningkatkan manajemen diri penderita DM tipe 2, namun pelaksanaan intervensi perlu dimodifikasi agar didapatkan hasil yang lebih maksimal, salah satunya dengan pemanfaatan terknologi berbasis komunitas.Kata kunci: behavioural intervention, diabetes melitus tipe 2, manajemen diri
Penatalaksanaan Kista Teratoid Leher Karsa, Nadya Dwi; Rahman, Sukri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1297

Abstract

Kista dermoid merupakan massa kistik subkutan yang terdiri dari epitel dan struktur adneksa. Secara histopatologi terdiri dari tiga jenis yaitu kista epidermoid, dermoid sejati dan teratoid. Kista teratoid merupakan variasi jarang dari kista dermoid. Kista teratoid timbul dari diferensiasi ektodermal sel multipotensial sepanjang proses fusi embrionik. Kista ini lebih sering terjadi pada laki-laki pada usia dekade kedua dan ketiga. Kista dapat terjadi di seluruh tubuh. Dilaporkan kasus seorang laki-laki usia 49 tahun dengan benjolan di leher yang membesar secara perlahan sejak 1 bulan dan hasil Computed Tomography (CT) Scan tiroid dan leher dicurigai sebagai kista tiroglosus dan didiagnosis banding dengan kista dermoid. Dilakukan penatalaksanaan dengan eksisi kista dalam anestesi umum dan dilakukan pemeriksaan patologi anatomi dengan hasil kista teratoid. Kista teratoid dapat berkembang di bagian tubuh manapun, namun sangat jarang pada kepala dan leher. Jika kista teratoid dapat terdiagnosis lebih awal dan ditatalaksana dengan eksisi kista secara komplit, maka prognosisnya lebih baik. Dari ketiga variasi kista dermoid, hanya kista teratoid yang dapat mengalami perubahan kearah keganasan.Kata kunci: eksisi kista, histopatologi, kista teratoid
Diagnosis dan Penatalaksanaan Low Risk Papillary Thyroid Carcinoma Fitra Dwita, Lorensia; Rahman, Sukri; Novianti, Hera
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1298

Abstract

Papillary Thyroid Carcinoma (PTC) adalah jenis tumor ganas kelenjar tiroid yang sering terjadi dengan pola pertumbuhan yang papiler. Standar baku penegakkan diagnosis PTC adalah dengan gambaran histopatologi dan Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB). Penatalaksanaan sesuai dengan indikasinya dapat berupa ismolobektomi ataupun total tiroidektomi. Dilaporkan kasus perempuan berusia 29 tahun dengan diagnosis low risk papillary thyroid carcinoma stadium II (T2N0M0) dan dilakukan ismolobektomi sinistra. Diagnosis low risk papillary thyroid carcinoma ditegakkan dengan pemeriksaan FNAB dan histopatologis. PTC unilateral ditatalaksana dengan ismolobektomi. Sebagian besar PTC memiliki prognosis yang baik,namun tetap dibutuhkan kontrol secara periodik pasca tindakan operatif.Kata kunci: FNAB, ismolobektomi, PTC, resiko rendah
Karakteristik Kasus Kekerasan Seksual di Rumah Sakit Tipe A di Jawa Barat dan Sumatera Barat Windasari, Noverika
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1308

Abstract

Introduction: Sexual assault in women and children are very prominent among other abuse. Knowledge related to the characteristics of sexual assault is vital for optimal handling of sexual assault cases. Aims: This research aimed to evaluate the characteristics of sexual assault cases in referral hospital (type A hospital) in West Java and West Sumatera provinces. Method: This research is a retrospective descriptive research. The samples were patients suspected of being victims of sexual assault, examined from 1 January 2014 to 31 December 2018. Results: The alleged sexual assault victims are dominated by women, unmarried, with the most age groups of 10-19 years. Most victims come to the hospital within a week after the case. The primary type of sexual assault experienced by the victims is vaginal penetration. Most perpetrators were someone who was well known by the victims. The perpetrators prefer to act at noon in a private place. Medical records revealed that in most cases only signs of violence on the anogenital region, and no trace on other body parts. Conclusion: The characteristic of sexual assault from both provinces are almost similar. The difference that stands out lies in the level of education of victims. Knowledge about the aspects of sexual assault cases is essential for health service to provide optimal health service to sexual violence victims as well as the prevention efforts.
Kolesteatom Kongenital dengan Komplikasi Abses Retroaurikula indriani, indriani; Edward, Yan; Rosalinda, Rossy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1311

Abstract

Kolesteatom kongenital dapat tumbuh di telinga tengah, apeks petrosus dari tulang temporal dan mastoid. Penyakit in biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat melakukan tomografi komputer atau setelah ada komplikasi. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah mastoiditis yang menyebabkan abses retroaurikula. Diagnosis kolesteatom kongenital ditegakkan apabila ditemukan kolesteatom tanpa perforasi membran timpani, riwayat otore maupun riwayat operasi telinga sebelumnya. Operasi adalah terapi mutlak pada kasus ini. Dilaporkan satu kasus kolesteatom kongenital dengan komplikasi abses retroaurikula pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Pada pasien ini dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding utuh, yang di follow up selama 3 bulan dengan hasil yang memuaskan. Abses retroaurikula merupakan salah satu komplikasi kolesteatom kongenital yang sering menjadi awal gejala adanya kolesteatom kongenital. Deteksi dini dan tatalaksana yang tepat akan memberikan hasil yang maksimal.Kata kunci: abses retroaurikula, kolesteatom kongenital, membran timpani utuh
Perbandingan Peningkatan Kadar Malondialdehid (MDA) Serum setelah Olahraga Pagi dan Malam Hari pada Orang Tidak Terlatih Mushab, Mushab; Hairrudin, Hairrudin; Abrori, Cholis
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1312

Abstract

Olahraga mampu meningkatkan kadar radikal bebas dalam tubuh melalui beberapa mekanisme yaitu peningkatan aktivitas mitokondria, NADPH, dan XO serta inflamasi pada sel otot rangka yang mengakibatkan stimulasi aktivitas fagosit. Olahraga yang dilakukan pada malam hari memiliki beberapa mekanisme tambahan sehingga berpotensi menyebabkan peningkatan kadar radikal bebas lebih tinggi, yaitu faktor pencetus radikal bebas yang meningkat pada malam hari. Salah satu indikator untuk mengetahui kadar radikal bebas dalam tubuh yaitu malondialdehid (MDA). Tujuan: Menentukan perbandingan antara peningkatan kadar MDA serum setelah olahraga pada dan malam hari pada orang tidak terlatih. Penelitian ini merupakan uji klinis dengan pre dan post-test group design. Metode: Sampel berjumlah  20 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember yang tidak terlatih, masing-masing berperan ganda sebagai kelompok pagi (Kp) dan kelompok malam (Km) sehingga jumlah total sampel sebesar 40. Olahraga yang dilakukan berupa sepeda statis dengan intensitas 70-80% dari heart rate maksimal. Setelah satu minggu dilakukan croosing-over, yaitu sampel Kp dijadikan Km begitu pula sebaliknya. Pengukuran kadar MDA dilakukan sebelum dan setelah olahraga menggunakan metode TBARS. Peningkatan kadar MDA merupakan selisih dari kadar MDA setelah dan sebelum olahraga. Hasil: Peningkatan kadar MDA setelah olahraga pada pagi dan malam hari adalah 0,29±0,87 nmol/mL dan 1,13±1,2 nmol/mL. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan yang signifikan p=0,021 (p<0,05). Simpulan: Peningkatan kadar MDA setelah olahraga pada malam hari lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan kadar MDA setelah olahraga pada pagi hari pada orang yang tidak terlatih.Kata kunci: malondialdehid, olahraga, radikal bebas, TBARS
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan ODHA dalam Mengkonsumsi Antiretroviral di Poliklinik VCT RSUP Dr M Djamil Padang Tahun 2017 Yuni, Hamidatul; Rasyid, Rosfita; Nursal, Dien Gusta Anggraini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i3.1313

Abstract

Pasien diindikasikan tidak patuh menggunakan antiretroviral sebanyak 38,5% di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Tujuan: Menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi antiretroviral di Poliklinik Voluntary counselling and test  RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain mix-method dengan pendekatan kuantitatif cross-sectional, sedangkan pendekatan kualitatif dengan Focus Group Discussion (FGD) dan indepth interview. Hasil: Ada lebih dari separoh Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) patuh dalam mengkonsumsi antiretroviral. Ada hubungan yang bermakna antara psikologis pasien dengan kepatuhan ODHA. Dukungan sosial dan efek samping obat ARV tidak berhubungan dengan kepatuhan ODHA. Kejenuhan, hubungan pasien dengan dokter, stigma, layanan konseling pra penggunaan ARV, belum semua ODHA mengenal fasilitas fast track, serta faktor ekonomi menjadi faktor lain yang mempengaruhi kepatuhan ODHA mengkonsumsi ARV. Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara psikologis pasien dengan kepatuhan ODHA.Kata kunci: antiretroviral, dukungan sosial, efek samping obat, kepatuhan, psikologis pasien
Anatomical Measurement of Normal Eustachian Tube on the Temporal Bone Computed Tomography Imaging Ratag, Yanti Anita; Asriyani, Sri; Murtala, Bachtiar; Gaffar, Masyita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i3.1323

Abstract

Tujuan: Menggambarkan pengukuran anatomis tuba Eustachius normal pada pencitraan Computed Tomography (CT) tulang temporal. Metode: Ini adalah penelitian deskriptif tuba Eustachius normal dengan mengukur diameter pretimpani, sudut tubotimpani dan panjang pars kartilago tuba Eustachius normal menggunakan teknik rekonstruksi multiplanar pada pencitraan CT tulang temporal dari 58 sampel di beberapa rumah sakit di Makassar. Semua sampel dibagi lagi menjadi kelompok laki-laki dan perempuan, serta kelompok sisi  kanan dan kiri. Kami juga membagi sampel menjadi 6 kelompok usia. Hasil: Rerata diameter pretimpani pada kelompok pria adalah 4,62 mm dan pada kelompok wanita adalah 4,36 mm. Rerata diameter pretimpani adalah 4,59 mm pada kelompok sisi kanan dan 4,36 mm pada kelompok sisi kiri. Rerata sudut tubotimpani adalah 143,5o pada kelompok pria dan 143,3o pada kelompok wanita. Nilai rerata sudut tubotimpani tidak memiliki perbedaan di kedua sisi telinga. Rerata panjang  pars kartilago tidak memiliki perbedaan antara kelompok pria dan wanita dan juga antara sisi kanan dan kiri. Simpulan: Diameter pretimpani lebih besar pada kelompok pria dan kelompok sisi kanan. Sudut tubotimpani dan panjang kartilago tuba Eustachius tidak memiliki perbedaan yang signifikan pada semua kelompok.Kata kunci: tuba eustachius, diameter pretimpani, sudut tubotimpani, panjang kartilago, CT tulang tempor

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue