cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Hubungan Risiko Tsunami terhadap Tingkat Ansietas pada Anak-anak di SDN 02 Ulak Karang Selatan (Zona Merah) dan SDN 33 Kalumbuk (Zona Hijau) Septia Endike; Yaslinda Yaunin; Rima Semiarty
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i2.511

Abstract

 AbstrakPadang adalah salah satu kota di Indonesia yang rawan terhadap kejadian gempa dan Tsunami.  Orang yang selamat dari peristiwa Tsunami bukan hanya menderita bencana yang sifatnya fisik dan harta benda saja, tetapi lebih pada trauma mental yang tidak mudah dilupakan. Trauma mental itu sendiri bila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh dan profesional dapat berlanjut pada gangguan jiwa salah satunya adalah ansietas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko tsunami terhadap tingkat ansietas pada anak sekolah dasar di zona merah dan hijau Kota Padang. Penelitian analitik observasional ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah subjek sebanyak 117 responden yang dipilih secara stratified random sampling di SDN 02 Ulak Karang Selatan (zona merah) dan SDN 33 Kalumbuk (zona hijau). Data dikumpulkan melalui wawancara responden menggunakan kuesioner HRS-A yang kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tingkat ansietas pada anak-anak yang bersekolah di zona merah yaitu 7 anak (14%) ringan, 8 anak (16%) sedang dan 1 anak (2%) berat, sedangkan di zona hijau didapatkan 16 anak (23,9%) ringan, 8 anak (11,9%) sedang dan tidak ada anak yang mengalami ansietas berat. Berbagai simulasi gempa dan Tsunami yang dilakukan terhadap anak sekolah di zona merah menurunkan angka ansietas pada anak tersebut. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa nilai p = 0,151 (p < 0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara risiko tsunami terhadap tingkat ansietas pada pada anak-anak di zona merah dan zona hijau.Kata kunci: ansietas, tsunami, anak AbstractPadang is one of the city in Indonesia that have a high risk to tsunami disaster. For those who survived at the tsunami attack, it is not only a physical and property damage, but rather on the mental trauma that is not easily forgotten and can lead to mental disorders such as anxiety. The objective of this study was to examined the correlation of the tsunami risk to the anxiety level on children in the red and green zone of Padang.This research was an observational analytic study using cross-sectional design with a total sample of 117 respondents were selected by stratified random sampling in SDN 02 Ulak Karang Selatan (red zone) and SDN 33 Kalumbuk (green zone). Data were collected through interviewing respondents using a HRS-A questionnaire, then analyzed with chi-square test. The results of this study indicate the level of anxiety in children who attend school in the red zone as many as 7 (14%) mild, 8 (16%) moderate and 1 (2%) severe, whereas the green zone obtained in 16 (23, 9%) mild, 8 (11.9%) moderate, and no child is experiencing severe anxiety. Additional findings indicate that a variety of simulated earthquake and tsunami were conducted on the red zoned school children decrease the anxiety in the child. The results of chi-square test showed that the p value = 0.151 (p <0.05), which means there is no significant association between the risk of a tsunami on the level of anxiety in children at red zone and green zone. Keywords:  anxiety, tsunami, children
Hubungan Beberapa Faktor Risiko dengan Malnutrisi pada Usia Lanjut di Nagari Sijunjung Kecamatan Sijunjung Munawirah Munawirah; Masrul Masrul; Rose Dinda Martini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i2.699

Abstract

Jumlah usia lanjut dan angka usia harapan hidup dari tahun ke tahun meningkat, maka akan meningkatkan kebutuhan perawatan sosial dan kesehatan yang salah satunya nutrisi. Faktor risiko terjadinya malnutrisi pada usia lanjut adalah selera makan yang rendah, faktor psikologis seperti depresi, kecemasan, gangguan fungsi  kognitif, status fungsional serta penyakit komorbid yang akan mempengaruhi status nutrisi pada usia lanjut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan beberapa faktor risiko dan malnutrisi pada usia lanjut di Nagari Sijunjung Kecamatan Sijunjung. Penelitian ini dilakukan dari Maret sampai April 2014. Variabel yang diteliti adalah depresi, status fungsional, gangguan fungsi kognitif, dan penyakit komorbid. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan studi cross sectional. Sampel terdiri dari 145 orang. Analisis univariat dan dan analisis bivariat  dilakukan menggunakan chi-square. Hasil uji statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara depresi (p=0,006) dan gangguan fungsi kognitif (p=0,018) dengan malnutrisi pada usia lanjut di Nagari Sijunjung. Sebaliknya tidak ditemukan hubungan yang bermakna status fungsional (p=0,045) dan penyakit komorbid (p=0,862) dengan malnutrisi pada usia lanjut di Nagari Sijunjung. Faktor risiko malnutrisi pada usia lanjut yang berhubungan adalah depresi dan gangguan fungsi kognitif.
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Sputum Basil Tahan Asam Antara PasienTuberkulosis Yang Perokok Dan Bukan Perokok Di Balai Pengobatan Penyakit Paru Lubuk Alung Nurul Ziqra; Elizabeth Bahar; Edison Edison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.568

Abstract

 AbstrakMerokok dan Tuberkulosis (TB) merupakan dua masalah kesehatan di dunia walaupun TB lebih banyak ditemukan di negara berkembang. Kebiasaan merokok dan tuberkulosis memiliki hubungan yang erat. Tujuan penelitian ini adalah mmenentukan perbedaan hasil pemeriksaan sputum basil tahan asam antara pasien yang perokok dan bukan perokok di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4)  Lubuk Alung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional komparatif terhadap 44 penderita TB perokok dan 44 penderita TB non perokok yang dipilih secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dari hasil pemeriksaan di Laboratorium dan wawancara. Hasilnya dianalisis dengan uji chi-square. Berdasarkan uji statistik didapatkan perbedaan yang bermakna antara penderita TB paru perokok dan non perokok berdasarkan hasil pemeriksaan BTA (p = 0,023). Kesimpulan studu ini ialah  pasien TB banyak ditemukan pada usia produktif dan pada jenis kelamin laki-laki. Pada perokok lebih banyak ditemukan BTA positif daripada bukan perokok.Kata kunci: tuberkulosis paru, BTA, perokok AbstractSmoking and Tuberculosis (TB) are two major health problems in the world even though TB is more common in developing countries. Smoking habit and tuberculosis have a close relationship.The objective of this study was to determine the differences in the results of Sputum Basil Tahan Asam examination between smokers and nonsmokers tuberculosis patients in the Lubuk Alung Pulmonary Disease Treatment Center. The desain of this study was a comparative cross-sectional on 44 TB smoker patients and 44 TB non-smoker patients by consecutive sampling. Data were collected through checkup in the laboratory and the interviews with new patients. The results were analyzed with the chi-square test.The statistic result showed significant differences between patients with pulmonary tuberculosis smokers and non-smokers based on the results of BTA checks (p value: 0.023). The conclusions was TB patients are found in the productive age and the male gender. Acid fast bacilli positive in smoker is higher than non-smokers.Keywords: pulmonary tuberculosis, acid fast bacilli, smoker
Pengaruh Tempe Terhadap Gambaran Histopatologi Mencit Jantan Putih yang di Induksi Timbal Asetat Nadia Oktarina; Aswiyanti Asri; Endrinaldi Endrinaldi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i3.731

Abstract

Paparan timbal asetat dapat menyebabkan kerusakan sel hati dan menurunkan aktivitas enzim. Tempe merupakan senyawa alami yang bersifat antioksidan kuat dan pengikat radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh pemberian tempe terhadap gambaran histopatologi hati mencit jantan putih yang terpapar plumbum asetat.. Penelitian telah dilakukan di laboratorium Fakultas Farmasi dan laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari bulan Februari-April 2015 terhadap 25 ekor mencit jantan putih, berumur 3 bulan, berat badan ± 20 g yang diberi perlakuan selama 28 hari, mencit dibagi kedalam 5 kelompok. Kelompok 1 (K-) hewan kontrol. Kelompok 2 (K+) diberikan timbal asetat 40 mg/kgBB/hari. Kelompok 3 (P1) diberikan timbal asetat 40 mg/kgBB/hari dan tempe 5 g/kgBB/hari. Kelompok 4 (P2) diberikan timbal asetat 40 mg/kgBB/hari dan tempe 10 g/kgBB/hari. Kelompok 5 (P3) diberikan timbal asetat 40 mg/kgBB/hari dan tempe 20 g/kgBB/hari. Pada pemaparan timbal 40 mg/kgBB/hari selama 4 minggu meningkatkan skor Manja Roenigk hati mencit jantan putih. Penambahan tempe pada mencit yang terpapar timbal asetat menunjukkan penurunan skor Manja Roenigk. Berdasarkan uji t berpasangan didapat perbedaan yang signifikan antara skor Manja Roenigk yang tidak terpapar dan terpapar timbal asetat (p = 0,000). Berdasarkan uji one way Anova terdapat pengaruh yang signifikan tempe terhadap gambaran histopatologi hati mencit jantan putih (p = 0,000). Secara statistik pemberian tempe dengan dosis 5 g/kgBB/hari tidak memberikan perbedaan bermakna (p = 0,209), tetapi dosis 10 g/kgBB/hari dan 20 g/kgBB/hari menunjukkan perbedaan bermakna (p = 0,000). Simpulan studi ini ialah terdapat pengaruh tempe terhadap mikroskopis hati mencit jantan putih yang telah terpapar timbal asetat.
Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 – Desember 2012 Vivit Erdina Yunita; Afdal Afdal; Iskandar Syarif
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i3.605

Abstract

 AbstrakKejang demam merupakan kejang paling sering pada anak yang kemungkinan berulang. Pengetahuan tentang faktor yang berhubungan dengan kejang demam berulang perlu diketahui demi ketepatan tatalaksana. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran faktor yang berhubungan dengan kejang demam berulang. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel ditentukan dengan total sampling yaitu 40 pasien. Penelitian dilakukan dari Desember 2013 hingga Mei 2014. Data diambil dari berkas rekam medis pasien kejang demam berulang dari Januari 2010 sampai Desember 2012 di Poliklinik Anak RS. Dr. M. Djamil Padang. Variabel dependen adalah kejang demam berulang sedangkan variabel independen terdiri dari usia kejang demam pertama, jenis kelamin, riwayat kejang demam keluarga, riwayat epilepsi keluarga, dan tipe kejang demam pertama. Data yang diperoleh diolah dengan program komputer. Kejang demam berulang lebih banyak terjadi pada pasien yang kejang demam pertama pada usia 11 – 20 bulan (47,5%), pasien perempuan (62,5%), pasien dengan riwayat kejang demam keluarga (72,5%), pasien tanpa riwayat epilepsi keluarga (97,5%), dan kejang demam sederhana pada bangkitan kejang demam pertama (60%). Sebagian besar kejang demam berulang terjadi pada pasien yang berusia 11 – 20 bulan ketika kejang demam pertama, berjenis kelamin perempuan, memiliki riwayat kejang demam keluarga, tidak memiliki riwayat epilepsi keluarga, atau kejang demam sederhana pada bangkitan kejang demam pertama.Kata kunci: faktor yang berhubungan, kejang demam berulang AbstractRecurrent  febrile seizure is the most common seizure in young children.  Although having good prognosis, it is very frightening for parents. Knowledge about recurrent febrile seizure is important to determine accuracy of treatment. The objective of this study was to describe knowledge about recurrent febrile seizures related to descriptive features. This descriptive cross sectional study was done in M. Djamil General Hospital by using medical record of recurrent febrile seizure from January 2010 to December 2012. Sample was  40 patients. Data was taken from 2013 December to 2014 May. Recurrent febrile seizures are dependent variable meanwhile age of initial seizure, sex, family febrile seizure history, family epilepsy history, and type of initial febrile seizure are independent variables. Collected data was proceed by using computer program.  It was found that most patients who develop recurrent febrile seizures had their first attack in age of 11 – 20 months old (47.5%), female sex (62.5%), had febrile seizure family history (72.5%), had no epilepsy family history (97.5%), and had simple febrile seizure on their first attack (60%). Most recurrent febrile seizure occur in 11 – 20 months old in age, female in gender, having family febrile seizure history, having no family epilepsy history, or had simple febrile seizure as the first attack.              Keywords: descriptive features, recurrent febrile seizure
Metastasis Tumor ke Orbita Ardizal Rahman; Rozy Oneta
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.763

Abstract

AbstrakMetastasis ke orbita adalah entitas klinis yang langka, terjadi 2%-3% pasien dengan keganasan. Pada orang dewasa, tumor payudara dan paru-paru menyebabkan sebagian besar metastasis orbita, sedangkan pada anak-anak disebabkan oleh neuroblastoma dan leukemia. Tujuan: Untuk menggambarkan profil kasus karsinoma metastatise ke orbita di Sub Bagian Onkologi, Bagian Ophthalmologi, Rumah Sakit Dr. M. Djamil di Padang. Metode: Tinjauan retrospektif rekam medis pasien dengan karsinoma metastatise ke orbita mulai Januari 2003 - Desember 2015. Meliputi data umum, data tumor, temuan klinis, metode diagnostik dan perawatan dianalisis. Hasil: Dari 16 pasien, 10 orang dewasa dan 6 anak. Tumor primer pada anak-anak adalah leukemia 4 (66,7%), dan limfoma ganas 2 (33,3%) pasien, sedangkan pada dewasa adalah payudara 4 (40%), tiroid 4 (40%), dan leukemia 2 (20%) pasien. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 6,8 tahun (4 bulan sampai 10 tahun) untuk anak-anak, dan 42,7 tahun (34 sampai 56 tahun) untuk orang dewasa. Orbita kiri 6 (37,5%), orbit kanan 6 (37,5%), dan kedua orbita 4 (25%) kasus. Temuan klinis yang paling sering adalah proptosis 13 (81,25%) kasus. Pengobatan diberikan kepada 14 pasien, karena 2 pasien menolak pengobatan, meliputi kemoterapi 8 (50%), radiasi 2 (12,5%), kombinasi kemoterapi + bedah 2 (12,5%), dan simtomatik 2 (12,5%) pasien. Kesimpulan: Kanker primer yang paling umum bermetastasis ke orbita adalah kanker payudara dan kanker tiroid pada orang dewasa, dan leukemia pada anak-anak.
Hubungan Lama Terapi Antipsikotik dengan Kadar SGOT dan SGPT pada Pasien Skizofrenia di RSJ Prof. H.B Sa’anin, Padang Tahun 2013 Cahyaningtyas Cahyaningtyas; Rahmatini Rahmatini; Kurniawan Sedjahtera
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i1.658

Abstract

Beberapa antipsikotik, diantaranya klorpromazin, haloperidol, dan risperidon, telah diselidiki dapat menyebabkan drugs-induced liver injury, berupa kolestasis dan kerusakan hepatoselular. Pemeriksaan SGOT/AST dan SGPT/ALT digunakan untuk skrining kerusakan hati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama terapi antipsikotik dengan kadar SGOT dan SGPT. Telah dilakukan penelitian secara potong-lintang terhadap pasien skizofrenia rawat inap dengan terapi kombinasi klorpromazin, haloperidol, dan risperidon di RSJ Prof. H.B Sa’anin Padang periode 18-24 Desember 2013. Subyek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu pasien skizofrenia yang menerima terapi antipsikotik jangka pendek (≤ 6 bulan) dan jangka panjang (> 6 bulan). Hasil pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT antara dua kelompok dianalisis dengan menggunakan uji-t tidak berpasangan. Hasil penelitian pada 40 subyek penelitian dari total 143 pasien skizofrenia rawat inap menunjukkan rerata kadar SGOT dan SGPT pada kelompok terapi jangka pendek 22,6±6,51 U/l dan 23,2±12,16 U/l, sedangkan kelompok terapi jangka panjang 20,5±6,19 U/l dan 28,1±14,02 U/l. Pada uji signifikansi didapatkan kesimpulan tidak ada hubungan bermakna antara kadar SGOT dan SGPT dengan lama terapi antipsikotik jangka pendek dan panjang (p > 0,05).
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN KONSUMSI OBAT ANTI RETRO VIRAL (ARV) PADA PASIEN HIV DENGAN KEJADIAN INFEKSI PROTOZOA USUS DI RSUP DR M DJAMIL PADANG Nisrina Harmi Sari; Selfi Renita Rusjdi; Eliza Anas
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i2.690

Abstract

HumanImunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS) belum dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan dengan pengobatan Anti Retro Viral (ARV). Ketidak patuhan konsumsi ARV meningkatkan resiko infeksi protozoa usus pada pasien HIV/AIDS dengan CD 4 + T cell<200 sel/μl. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara tingkat kepatuhan konsumsi ARV dengan kejadian infeksi protozoa usus di RSUP Dr.M.Djamil Padang. Rancangan penelitian berupa studi potong lintang dengan metode consecutive-sampling. Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik VCT (Volunteer, Conseling and Theraphy) dan bangsal penyakit dalam RSUP Dr.M.Djamil Padang dari bulan Januari hingga April 2017. Sampel penelitian berjumlah 33 pasien HIV/AIDS yang didiagnosis oleh dokter. Hasil penelitian didapatkan umur rerata pasien HIV/AIDS adalah 34.87 tahun. Pasien laki-laki 66.67%, dan perempuan 33.33%. Tingkat kepatuhan konsumsi ARV rendah 48.48%, sedang 9.09%, dan tinggi 42.42%. Tingkat kepatuhan rendah 13 (39.4%) pasien yang positif terinfeksi protozoa usus dan 3 (9.1%) pasien tidak terinfeksi. Tingkat kepatuhan sedang 2 (6.1%) pasien yang positif terinfeksi dan 1 (3%) pasien tidak terinfeksi. Tingkat kepatuhan tinggi 2 (6.1%) pasien yang positif terinfeksi dan 12 (36.4%) pasien tidak terinfeksi. Berdasarkan uji statistik chi-square menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara tingkat kepatuhan konsumsi ARV dan kejadian infeksi protozoa usus di RSUP Dr M Djamil Padang (p=0.001). Simpulan penelitian adalah terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan konsumsi ARV dengan kejadian infeksi protozoa usus pada pasien HIV.
Pengaruh Perbedaan Dosis Ekstrak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas) terhadap Jumlah Spermatozoa, Spermatozoa Motil, Berat Testis, dan Diameter Testis pada Mencit Jantan (Mus Musculus) Haifa Wahyu; Rahmatina B. Herman; Arni Amir
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v5i2.550

Abstract

AbstrakIndonesia menghadapi persoalan kependudukan dan keluarga berencana yang cukup berat, salah satu penyebabnya dikarenakan rendahnya partisipasi pria dalam penggunaan kontrasepsi. Salah satu tanaman yang bersifat antifertilitas adalah jarak pagar (Jatropha curcas). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan dosis ekstrak biji jarak pagar terhadap jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis dan diameter testis pada mencit jantan (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan metode post test only control group design terhadap mencit jantan dengan berat 20–30 gram. Sampel terdiri dari 24 ekor mencit dibagi dalam 3 kelompok P1, P2, dan P3 dengan memberikan ekstrak biji jarak pagar dengan 3 tingkatan dosis selama 36 hari. Hasil penelitian semakin tinggi dosis yang diberikan semakin rendah jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis dan diameter testis namun secara statistik tidak terdapat pengaruh yang bermakna pada jumlah spermatozoa p=0,06 dan spermatozoa motil p=0,15 (p > 0,05) dan terdapat pengaruh bermakna pada berat testis p=0,00 dan diameter testis p= 0,00 (p< 0,05).Kesimpulannya pemberian ekstrak biji jarak pagar menurunkan jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis dan diameter testis namun secara statistik ekstrak biji jarak pagar tidak terdapat pengaruh yang bermakna terhadap jumlah spermatozoa dan spermatozoa motil dan terdapat pengaruh bermakna terhadap berat testis dan diameter testis.Kata kunci: ekstrak biji jarak pagar, jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis, diameter testis.AbstractIndonesia faces the quite severe problem of population and family planning, one reason is because the low participation of men in the use of contraception. One antifertility plants and are found in Indonesia is jatropha (Jatropha curcas). This study aims to determine the effect of different doses of extract of Jatropha seeds on sperm count, motile of sperm, testis weight and diameter of the testis in male mice (Mus musculus). This study uses the approach post test only control group design to male mice weighing 20-30 grams. The sample consisted of 24 mice were divided into 3 groups of P1, P2, and P3 to provide jatropha seed extract with 3 levels of doses for 36 days. The results showed the effect of Jatropha curcas seed extracts against sperm count, motile of sperm, testicular weight and testicular diameter between groups P1, P2 and P3. The higher the dose given, the lower the sperm count, motile of sperm, testis weight and diameter of the testis, but no statistically significant effect on the number of spermatozoa p = 0.06 and p = 0.15 motile of sperm (p> 0.05 ), and there is a significant effect on testis weight p = 0.00 and p = 0.00 testis diameter (p <0.05). From the results of this study concluded that administration of Jatropha seed extract can reduce sperm count, motile of sperm, testis weight and diameter of the testis but statistically jatropha seed extract contained no significant effect on sperm count and motile of sperm and significant effect on testis weight and the diameter of the testes.Keywords: Jatropha seed extract, sperm numbers, motile of sperm, testis weight, testis diameter.
Perbedaan Rerata Kadar Progesterone-Induced Blocking Factor (PIBF) Serum Penderita Abortus Iminens dengan Kehamilan Normal Defrin Defrin; Andri Ardinal; Erkadius Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i2.722

Abstract

Progesterone-Induced Blocking Factor (PIBF) merupakan suatu mediator yang diproduksi oleh limfosit wanita hamil yang telah mengalami sensitisasi oleh progesterone, yang menyebabkan terjadinya toleransi terhadap antigen paternal sehingga dapat menekan produksi sitokin-sitokin Th-1 yang bersifat sitotoksis terhadap kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan antara rerata kadar PIBF serum penderita abortus iminens dan kehamilan normal usia kehamilan 12-20 minggu. Studi ini dilakukan dengan metode analitik observasional dengan desain cross- sectional comparative. Subjek penelitian adalah wanita hamil yang datang ke poliklinik dan IGD kebidanan rumah sakit Dr.M.Djamil Padang, RSUD Bukittinggi, RSUD Painan, RSUD Batusangkar, RSUD Pariaman dan RSUD Solok pada periode Mei 2016 sampai September 2016. Pemeriksaan kadar PIBF dilakukan di Laboratorium biomedik FK UNAND. Total sampel adalah 30 orang, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 15 orang pada kelompok abortus iminens dan 15 orang pada kelompok kehamilan normal. Analisis statistik untuk menilai kemaknaan menggunakan unpaired t-test. Didapatkan rerata kadar PIBF serum penderita abortus iminens (623.3±80.6 ng/ml) lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kehamilan normal (993.1±68.5 ng/ml) (p=0.000). Simpulan penelitian ini adalah kadar PIBF serum penderita abortus iminens lebih rendah dibandingkan kehamilan normal.

Page 52 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue