cover
Contact Name
Nego Linuhung
Contact Email
aksioma.ummetro@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
aksioma.ummetro@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika
ISSN : 20898703     EISSN : 24425419     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSIOMA JOURNAL, e-ISSN: 2442-5419, p-ISSN: 2089-8703 is an information container has scientific articles in the form of research, the study of literature, ideas, application of the theory, the study of critical analysis, and Islāmic studies in the field of science Mathematics Education. AKSIOMA JOURNAL published two times a year, the period from January to June and July to December, published by the Scientific Publication Unit FKIP University of Muhammadiyah Metro.
Arjuna Subject : -
Articles 112 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 4 (2022)" : 112 Documents clear
MODUL AJAR MATEMATIKA SD BERDASARKAN PERSPEKTIF TPACK-21 Hamidah Suryani Lukman; Astri Sutisnawati; Elnawati Elnawati
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.366 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.6235

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesesuaian dan validitas konten dari lima buah modul ajar pembelajaran Matematika SD Fase C pada Kurikulum Merdeka yang dilengkapi dengan video pembelajaran animasi berdasarkan perspektif indikator TPACK-21. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development yang dibatasi sampai langkah ADD (Analysis, Design, and Development) dan validasi tim ahli. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi konten menggunakan indikator TPACK-21. Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa modul ajar matematika yang dilengkapi dengan video pembelajaran animasi memenuhi kriteria Pedagogical Knowledge 21 (PK-21) sebesar 91,6%, Technological Knowledge 21 (TK-21) sebesar 90%, Content Knowledge 21 (CK-21) sebesar 90%, kriteria Pedagogical Content Knowledge 21 (PCK-21) terpenuhi 91,6%, kriteria Technological and Pedagogical Knowledge 21 (TPK-21) memenuhi 91,6%, kriteria Technological and Content Knowledge 21 (TCK-21) terpenuhi 93,4%, dan kriteria Technological Pedagogical Content Knowledge 21 (TPACK-21) terpenuhi 90%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, kelima modul ajar matematika yang dilengkapi dengan video pembelajaran animasi sudah memenuhi kesesuaian kriteria pada seluruh aspek TPACK-21 sebesar 91,2%, tergolong sangat valid, dan layak digunakan dalam pembelajaran. This study aims to analyze the level of conformity and content validity of five teaching modules for Elementary School Mathematics Learning Phase C in the Merdeka Curriculum which is equipped with animated learning videos based on the perspective of the TPACK-21 indicator. The research uses Research and Development which is limited to the ADD (Analysis, Design, and Development) step and validation by a team of experts. The instrument used is a content validation sheet using the TPACK-21 indicator. The resulting data were then analyzed descriptively. The results showed that the teaching modules equipped with animated learning videos met the criteria for Pedagogical Knowledge 21 (PK-21) of 91.6%, criteria for Technological Knowledge 21 (TK-21) were met by 90%, criteria for Content Knowledge 21 (CK-21) ) met 90%, Pedagogical Content Knowledge 21 (PCK-21) criteria met 91.6%, Technological and Pedagogical Knowledge 21 (TPK-21) criteria met 91.6%, Technological and Content knowledge 21 (TCK-21) criteria met 93.4%, and the criteria for Technological Pedagogical Content Knowledge 21 (TPACK-21) were met 90%. Thus, it can be concluded that overall, the five mathematics teaching modules equipped with animated learning videos have met the suitability of criteria for all aspects of TPACK-21 of 91.2%, classified as very valid, and suitable for use in learning.
STRATEGI PEMBELAJARAN KOLABORASI ONLINE PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Heru Kurniawan; supriyono supriyono; Teguh Wibowo
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.56 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5753

Abstract

Pembelajaran online telah banyak diterapkan di kelas semenjak merebaknya pandemi COVID-19 dengan berbagai strateginya, salah satunya melalui pembelajaran kolaborasi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran online mampu digunakan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah, khususnya matematika. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk melakukan telaah kajian sistematik mengenai proses pembelajaran kolaborasi online pada pemecahan masalah matematika. Penelitian ini mengkaji 12 artikel hasil penyaringan dari data base Scopus, Google Scholar, dan PubMed dengan prosedur PRISMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan pemecahan masalah sangat memungkinkan untuk ditangani melalui pembelajaran kolaborasi online. Secara garis besar, efektifitas pembelajaran kolaborasi online untuk meningkatkan pemecahan masalah sangat ditentukan oleh strategi pembelajaran yang digunakan.Online learning has been widely implemented in the classroom since the outbreak of the COVID-19 pandemic with various strategies, one of which is through collaborative learning. Many studies show that online learning can be used to improve problem solving skills, especially mathematics. Thus, this study aims to conduct a systematic review of the process of online collaborative learning in solving mathematical problems. This study examines 12 articles that were screened from the Scopus, Google Scholar, and PubMed databases using the PRISMA procedure. The results of the study show that it is very possible to increase problem solving skills to be handled through online collaborative learning. In general, the effectiveness of online collaborative learning to improve problem solving is largely determined by the learning strategy used.
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS PESERTA DIDIK KELAS VIII PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL Purwati Purwati; Inayah Afifasani; Firmansyah Firmansyah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.968 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5906

Abstract

Kemampuan koneksi matematis menjadi salah satu kemampuan yang sangat penting dan merupakan salah satu standar proses pembelajaran matematika yang dirumuskan oleh NCTM . Apabila peserta didik dapat mengaitkan konsep-konsep yang ada dalam matematika maka pemahaman terhadap matematikanya akan bertahan lama dan semakin mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis peserta didik kelas VIII terhadap materi sistem persamaan linear dua variabel. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Prosedur penelitian dalam penelitian dimulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, analisis data dan penarikan kesimpulan. Analisis data terbagi menjadi tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian diambil dari hasil pekerjaan peserta didik yang dikelompokkan menjadi 3 kategori tingkat kemampuan yakni tinggi, sedang dan rendah. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa peserta didik berkemampuan tinggi dapat memenuhi semua indikator kemampuan koneksi matematis, peserta didik berkemampuan sedang kurang mampu pada indikator 1 dan 2 namun mampu pada indikator 3 kemampuan koneksi matematis, dan peserta didik berkemampuan rendah belum mampu memenuhi semua indikator kemampuan koneksi matematis. Mathematical connection ability is a very important ability and is one of the standard mathematics learning processes formulated by NCTMs. If students can link the concepts in mathematics, their understanding of mathematics will last longer and deepen. This study aims to describe the ability of mathematical connections class VIII students to the material system of linear equations of two variables. This study used a qualitative research method with a descriptive approach. The research procedure in the study starts from the preparation, implementation, data analysis and conclusion stages. Data analysis is divided into three stages, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. The research subjects were taken from the results of the students' work which were grouped into 3 categories of ability levels namely high, medium and low. The results of this study indicate that students with high abilities can fulfill all indicators of mathematical connection ability, students with moderate abilities are less able on indicators 1 and 2 but are able on indicator 3 of mathematical connection ability, and students with low ability have not been able to fulfill all indicators of mathematical connection ability .
BAGAIMANA KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH BARISAN DAN DERET DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA Samsul Maarif; Khoerul Umam; Febriantoni Febriantoni; Slamet Slamet
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.823 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.6063

Abstract

Perbedaan gaya kognitif siswa dalam belajar, memberikan persepsktif yang berbeda pada saat memahami tahapan pemecahan masalah barisan dan deret. Tujuan dari penelitian ini mengeksplorasi cara berpikir siswa dalam memecahkan masalah barisan dan deret dari perbedaan gaya kogntifi. Metode penelitian kualitatif dipilih karena sesuai untuk mendeskripsikan bagaimana siswa field dependent dan independent dalam memecahkan masalah matematika. Pemlihan subjek dilakukan pada kelas XI dengan mempertimbangkan perbedaan gaya kognitif siswa. Tes instrumen masalah barisan dan deret  yang sudah divalidasi diberikan pada siswa. Data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu transkripsi, hasil pekerjaan siswa dan catatan lapangan. Analisis data penelitin menggunakan kode-kode yang didasarkan atas tahapan pemecahan masalah. Kode-kode yang memiliki karakteristik yang sama dikumpulkan sebagai dasar untuk mendeskripsikan cara siswa memecahkan masalah barisan dan deret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara berpikir siswa dengan gaya Field Independent cendrung berpikir konseptual. Pemilihan informasi dan pengunaan rumus matematika yang dilakukan oleh field independent selalu berbasis pada data dan pengetahuan yang ia miliki. Hal berbeda dengan siswa dengan gaya Field Dependent cendrung berpikir menyelesaikan soal dengan menggunakan konsep tetapi cenderung selalu ingin cepat dalam setiap tahapan pemecahan masalah yang terkadang kesalahan dalam keputusan.Differences in students' cognitive styles in learning, provide different perspectives when understanding the stages of problem solving in sequences and series. The purpose of this study is to explore students' ways of thinking in solving problems of sequences and series of different cognitive styles. The qualitative research method was chosen because it is suitable for describing how field dependent and independent students solve mathematical problems. Subject selection was carried out in class XI taking into account the differences in students' cognitive styles. Instrument tests for sequences and series problems that have been validated are given to students. The data obtained from this study are transcriptions, student work results and field notes. Research data analysis uses codes based on the stages of problem solving. Codes that have the same characteristics are collected as a basis for describing how students solve sequence and series problems. The results showed that the way students think with the Field Independent style tends to think conceptually. The selection of information and the use of mathematical formulas carried out by independent fields is always based on the data and knowledge they have. This is different from students with the Field Dependent style who tend to think of solving problems using concepts but tend to always want to be fast in every stage of problem solving which sometimes makes mistakes in decisions.
PENGEMBANGAN LKPD BERORIENTASI HOTS UNTUK MEMFASILITASI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH NON-RUTIN SISWA Sudrajat Sudrajat; Ali Mahmudi; Arifah Indah Setyorini
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.672 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.6100

Abstract

AbstrakPembelajaran matematika di sekolah menuntut siswa untuk memiliki kemampuan pemecahan masalah non-rutin. Masalah-masalah non-rutin dapat menggalih dan mengembangkan aspek-aspek penting dalam HOTS, namun belum ada metode penyelesaiannya. Pemecahan masalah non-rutin penting diberikan kepada siswa agar siswa mampu berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk mengembangakan LKPD berorientasi HOTS untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah non-rutin siswa yang valid, praktis dan efektif. Model penelitian menggunakan tahapan pengembangan ADDIE (Analysis, design, development, implementation and evaluation). Subjek penelitian berjumlah 34 siswa SMP Negeri 7 Yogyakarta. Instrumen penelitian meliputi angket validasi ahli materi dan media, angket respon siswa dan tes kemampuan pemecahan masalah non-rutin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas LKPD dilihat dari aspek kevalidan masuk kriteria sangat baik dengan rata-rata skor 4,4 dari ahli materi dan rata-rata skor 4,79 dari ahli media. Hasil angket respon siswa terhadap LKPD dilihat dari aspek kepraktisan masuk kriteria sangat baik dengan rata-rata skor 4,46 pada ujicoba skala kecil dan rata-rata skor 4,5 pada ujicoba skala besar. Hasil analisis tes kemampuan pemecahan masalah non-rutin dilihat dari aspek keefektifan memperoleh rata-rata skor 87,75 dengan kriteria sangat baik. Sehingga disimpulkan LKPD berorientasi HOTS yang dikembangkan dapat memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah non-rutin siswa.AbstractLearning mathematics in schools requires students to have non-routine problem-solving abilities. Non-routine problems can overturn and develop important aspects of HOTS, but there is no method of solving them yet. Important non-routine problem solving is given to students so that students are able to think critically, logically, reflectively, metacognitively, and creatively. This research is a development research that aims to develop HOTS-oriented LKPD to facilitate students' valid, practical and effective non-routine problem solving skills. The research model uses the stages of ADDIE (Analysis, design, development, implementation and evaluation) development.  The subjects of the study were 34 students of SMP Negeri 7 Yogyakarta. Research instruments include material and media expert validation questionnaires, student response questionnaires and non-routine problem-solving ability tests. The results showed that the quality of LKPD was seen from the aspect of validity of entering the criteria very well with an average score of 4.4 from material experts and an average score of 4.79 from media experts. The results of the questionnaire of student responses to LKPD were seen from the aspect of practicality of entering the criteria very well with an average score of 4.46 in small-scale trials and an average score of 4.5 in large-scale trials. The results of the analysis of non-routine problem-solving ability tests seen from the aspect of effectiveness obtained an average score of 87.75 with excellent criteria. So it is concluded that the HOTS-oriented LKPD developed can facilitate students' non-routine problem-solving skills.
THE IMPACT OF HOTS-ORIENTED REALISTIC MATHEMATICS LEARNING ON LEARNING OUTCOMES IN TERMS OF STUDENT INTEREST Abidah Rohmatillah; Sri Sutarni
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.244 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5886

Abstract

Abstrak Rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi atau HOTS siswa perlu ditingkatkan. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas model pembelajaran dan minat belajar siswa. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Apakah Pembelajaran Matematika Realistik berorientasi HOTS mempengaruhi hasil belajar siswa? 2) Apakah minat belajar berdampak pada hasil belajar matematika siswa? dan 3) Apakah minat siswa dalam pembelajaran dan Pembelajaran Matematika Realistik yang berorientasi HOTS berdampak pada pembelajaran matematika? Penelitian ini menggunakan Desain non- Equivalent Posttest-Only Control Group dan merupakan penelitian quasi eksperimen. Metode pengambilan random sampling digunakan untuk mendapatkan sampel. Kelas XI IPA 1 merupakan kelas eksperimen dalam penelitian ini dengan terapi model PMR dan kelas XI IPA 2 merupakan kelas kontrol dengan model konvensional. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan ANOVA dua jalur. Temuan penelitian yang didasarkan pada analisis pengujian hipotesis, adalah sebagai berikut: 1) Model PMR berorientasi HOTS berdampak pada hasil belajar siswa, dengan sig. 0.000<0.05, 2) Minat belajar berdampak pada hasil belajar matematika siswa, dengan sig. 0.000<05 dan 3) Terdapat dampak antara model PMR berorientasi HOTS terhadap hasil belajar jika dilihat dari minat belajar siswa dengan sig. 0,008<0,05.AbstractThe low level of thinking ability or HOTS of students needs to be improved. One of them is by improving the quality of learning models and students' interest in learning. Therefore this research aimed to determine: 1) Does HOTS-oriented realistic mathematics learning affect student outcomes in mathematics learning? 2) Does learning interest have an impact on how well pupils learn mathematics? and 3) Does student interest in learning and HOTS-oriented realistic mathematics learning have any impact on mathematics learning? This study used a non- Equivalent Posttest-Only Control Group Design and was therefore a quasi exsperimental study. A straightforward ramdom sampling method was used to obtain the sample. Class XI IPA 1 is the  experimental class in this study with PMR model therapy and class XI IPA 2 is the control class with Contventional model. The collected data was then analyzed using Two-Ways ANOVA. The study’s finding, which are based on an analysis of hypothesis testing, are as follows: 1) The HOTS-oriented PMR model has an impact on student learning outcomes, with a sig. 0.000<0.05, 2) Learning interests have an impact on students' mathematics learning outcomes, with a sig. 0.000<0.05 and 3) There is an impact between the HOTS-oriented PMR model on learning outcomes when viewed from students' interest in learning with sig. 0.008<0.05.
DEVELOPMENT OF AL-QUR'AN CONTEXT MATH E-MODULE ON INVERS FUNCTION MATERIALS USING BOOK CREATOR APPLICATION Niswatun Hasanah; Akhsanul In&#039;am; Rani Darmayanti; Choirudin Choirudin; Dewi Nurmalitasari; Usmiyatun Usmiyatun
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.354 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5647

Abstract

Teknologi digital dapat membantu proses pembelajaran dalam mencapai proses pembelajaran yang baik dan maksimal. Salah teknologi yang dapat dimanfaatkan pada pembelajaran matematika satunya adalah e-book creator yang digunakan dengan desain pembelajaran dengan mengaitkan materi matematika pada konsteks yang ada di Al-Qur’an. Hal ini dilakukan agar siswa mampu memamami materi dengan baik serta memiliki nilai-nilai religious dari nonteks Al-Qur’an yang disajkan. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan module sebagai sumber belajar matematika dalam konteks Al-Qur'an. Model pengembangan 4D digunakan dalam pengembangan e-module. Definisi, desain, pengembangan, dan diseminasi adalah semua tahapan pengembangan model 4D. Instrumen pengumpulan data menggunakan instrumen validasi, sebagai alat pengumpulan data yang valid atau tidaknya e-book creator yang dikembangkan. Dan instrumen praktikalitas yakni berbentuk uji aspek kepraktisan yang diberikan kepada siswa setelah mengikuti proses pembelajaran menggunakan produk yang dikembangkan. Namun dengan skor 3,61 untuk ahli materi dan skor 3,74 untuk ahli media dengan kriteria layak untuk diujicobakan, pengembangan e-module ini masih sebatas tahap develop. Hasil tanggapan siswa terhadap e-module  berbasis Islam adalah 84 persen, dengan kriteria “Sangat Layak” terpenuhi.Teknologi digital dapat membantu proses pembelajaran dalam mencapai proses pembelajaran yang baik dan maksimal. Salah teknologi yang dapat dimanfaatkan pada pembelajaran matematika satunya adalah e-book creator yang digunakan dengan desain pembelajaran dengan mengaitkan materi matematika pada konsteks yang ada di Al-Qur’an. Hal ini dilakukan agar siswa mampu memamami materi dengan baik serta memiliki nilai-nilai religious dari nonteks Al-Qur’an yang disajkan. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan module sebagai sumber belajar matematika dalam konteks Al-Qur'an. Model pengembangan 4D digunakan dalam pengembangan e-module. Definisi, desain, pengembangan, dan diseminasi adalah semua tahapan pengembangan model 4D. Instrumen pengumpulan data menggunakan instrumen validasi, sebagai alat pengumpulan data yang valid atau tidaknya e-book creator yang dikembangkan. Dan instrumen praktikalitas yakni berbentuk uji aspek kepraktisan yang diberikan kepada siswa setelah mengikuti proses pembelajaran menggunakan produk yang dikembangkan. Namun dengan skor 3,61 untuk ahli materi dan skor 3,74 untuk ahli media dengan kriteria layak untuk diujicobakan, pengembangan e-module ini masih sebatas tahap develop. Hasil tanggapan siswa terhadap e-module  berbasis Islam adalah 84 persen, dengan kriteria “Sangat Layak” terpenuhi.
THE NUMERICAL-LITERACY SKILL REVIEWED FROM ADVERSITY QUOTIENT ON VIDEO-ASSISTED BASED LEARNING ON WESTERN SUMATERA CULTURE Ari Limay Trisno Putra; Dertha Mukhtar
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.062 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.6131

Abstract

Abstrak Kemampuan literasi numerasi merupakan kemampuan dasar dalam memecahkan  masalah  matematika dan  menjadi  indikator  minimum  dalam  penilaian. Kemampuan literasi numerasi siswa yang rendah menjadi permasalahan saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keefektifan pembelajaran matematika berbantuan Video berbasis Budaya Sumatera Barat, mendeskripsikan dan menganalisa kemampuan literasi numerasi siswa ditinjau dari Adversity Quotient. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan model sequential. Subyek Penelitian adalah Siswa Kelas VIII SMPN 12 Padang. Instrumen digunakan yaitu tes kemampuan literasi numerasi dan lembar observasi. Hasil Penelitian (1) Pembelajaran matematika berbantuan video pembelajaran berbasis budaya Sumatera Barat efektif terlihat dari jumlah siswa memperoleh nilai berkategori sedang sampai sangat baik, (2) Kemampuan literasi numerasi: siswa kategori Quitters mampu menggunakan berbagai macam angka dan simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan masalah dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari – hari. Siswa kategori Campers mampu menggunakan berbagai macam angka dan simbol dan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagian, diagram, dan sebagainya) dan siswa kategori Climbers mampu menggunakan berbagai macam angka dan simbol, menganalisis informasi, menafsirkan hasil analisis tersebut untuk memprediksi dan mengambil keputusan. Dengan demikian disimpulkan bahwa Pembelajaran matematika berbantuan video pembelajaran berbasis budaya sumatera barat efektif dan mampu mengembangkan kemampuan literasi numerasi siswa.Numerical literacy skills refer to basic skills to solve mathematics problems. The skills also become the minimum indicator of assessments. The researchers promoted this research because the researchers found low numerical literacy skills. This research examined the effectiveness of video-assisted based on Western Sumatra culture and described and analyzed the learners' numerical literacy skills reviewed from the adversity quotient.  This mixed-method research used sequential design.  The subject consisted of eighth graders of Public Junior High School 12 Padang. The applied instruments were numerical literacy skill tests and an observation sheet. The results showed that (1) video-assisted based on Western Sumatra culture for mathematics learning was effective. The learners could reach the score categories of moderate to excellent. (2) the numerical literacy skills of the learners were at quitters. This category could use various numbers and symbols of basic mathematics to solve problems in various life contexts. The campers-type learners could use various numbers and symbols. They could also analyze various information in the forms of graphics, tables, charts, diagrams, and many more. The climber-type learners could use various numbers and symbols. They could also analyze information and interpret the information analysis to predict and make decisions. From the results, the video-assisted based Western Sumatra culture for mathematics learning was effective and could improve the learners’ numerical literacy skills.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DALAM MENYELESAIKAN OPEN-ENDEED PROBLEM BERBASIS ETNOMATEMATIKA DITINJAU DARI TINGKAT KEMAMPUAN MATEMATIKA Hilda Nurdiati Akma; Nuqthy Faiziyah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1444.53 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5919

Abstract

AbstrakKemampuan berpikir kreatif siswa merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran matematika. Permasalahan open-ended berbasis etnomatematika salah satu cara untuk mendorong siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan open-ended problem berbasis etnomatematika yang memiliki tingkat kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Subjek yang dipilih adalah kelas VIII SMP Negeri 1 Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan berpikir kreatif siswa berupa soal open-ended problem berbasis etnomatematika, dan lembar pedoman wawancara. Teknik analisis data dilakukan dengan 3 tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kemampuan matematika tinggi memenuhi ketiga indikator berpikir kreatif yaitu fluency, flexibility, dan originality. Siswa dengan tingkat kemampuan matematika sedang memenuhi dua indikator berpikir kreatif yaitu fluency, dan flexibility. Siswa dengan tingkat kemampuan matematika rendah tidak mampu memenuhi ketiga indikator berpikir kreatif, dikarenakan siswa masih kesulitan dalam menjelaskan penyelesaian yang mereka tulis, serta buruk dalam memahami permasalahan.Kata kunci: Berpikir kreatif, etnomatematika, kemampuan matematika, open-endedAbstractStudents creative thinking ability is one of the important aspects of learning mathematics. Open-ended problem based on ethnomathematics are one way to encourage students to improve their creative thinking skills. This study aims to describe students creative thinking ability in solving open-ended problem based on ethnomathematics that have high, medium, and low levels of mathematics. The type of research used is qualitative research. The study subjects were selected using purposive sampling technique. The selected subjects were grade VIII of SMP Negeri 1 Kalitidu, Bojonegoro, East Java. The instrument used in this study was a student’s creative thinking ability test in the form of open-ended problem based on ethnomathematics, and interview guide sheet. The data analysis technique was carried out in 3 stages, namely: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The result of the study, it shows that students with high level of mathematical ability meet the three indicators of creative thinking, namely fluency, flexibility, and originality. Students with medium level of mathematical ability meet two indicators of creative thinking, namely fluency, and flexibility. Students with low level of mathematical ability are not able to meet the three indicators of creative thinking, because students still have difficulty in explaining the solutions they write, and are bad at understanding problems.Keywords: Creative thinking, ethnomathematics, mathematics ability, open-ended
KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS VIII DALAM MENYELESAIKAN SOAL SPLDV DITINJAU DARI GAYA BELAJAR Rina Zidna Budiningtyas; Sri Rejeki
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.353 KB) | DOI: 10.24127/ajpm.v11i4.5896

Abstract

Abstrak Keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam matematika, merupakan faktor penting yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian terdahulu menyatakan bahwa penguasaan keterampilan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya gaya belajar siswa. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dalam menyelesaikan soal SPLDV berdasarkan gaya belajar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang melibatkan 28 siswa. Sementara itu, analisis secara mendalam dilakukan pada masing-masing satu siswa di tiap tipe gaya belajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket gaya belajar, soal tes berorientasi HOTS, dan pedoman wawancara. Tahapan analisis data yang diterapkan yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa ketercapaian indikator HOTS siswa dengan gaya belajar visual pada level analisis dan evaluasi tergolong tinggi yaitu sebesar 100%, sedangkan pada level kreasi tergolong sangat rendah yaitu sebesar 0%. Ketercapaian indikator keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dengan gaya belajar auditorial pada level analisis dan evaluasi tergolong tinggi yaitu sebesar 100%, sedangkan pada level kreasi tergolong rendah yaitu sebesar 33%. Ketercapaian  indikator keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dengan gaya belajar kinestetik pada level analisis dan evaluasi tergolong tinggi yaitu sebesar 100%, sedangkan pada level kreasi tergolong sedang yaitu sebesar 67%. Hal ini menunjukkan perlunya upaya peningkatan HOTS level kreasi pada siswa di semua tipe gaya belajar. AbstractHigher Order Thinking Skills in mathematics is the essential factors influencing student learning achievement. Previous research stated that several factors influence the mastery of this skill. One of the factors is the student's learning style. Therefore, this study aims to describe students' higher-level thinking skills in SPLDV problems based on learning styles. This qualitative research uses a descriptive approach involving 28. Meanwhile, an in-depth analysis was carried out on one student each in each type of learning style. The instruments used in this study were learning style questionnaires, HOTS-oriented test questions, and interview guidelines. The stages of data analysis applied are data reduction, data presentation, and concluding. Based on the analysis, it concluded that the achievement of the HOTS indicators of students with visual learning styles at the level of analysis and evaluation is relatively high, namely 100%, while at the creation level, it is classified as very low, which is 0%. The achievement of indicators of high-level thinking skills of students with auditorial learning styles at the level of analysis and evaluation is relatively high, namely 100%, while at the level of creation is relatively low, which is 33%. The disparity of indicators of high-level thinking skills of students with kinesthetic learning styles at the level of analysis and evaluation is relatively high, namely 100%. In contrast, the level of creation is classified as medium, which is 67%. These findings demonstrate the need for efforts to improve HOTS creation levels in students across all types of learning styles.

Page 7 of 12 | Total Record : 112