cover
Contact Name
Nego Linuhung
Contact Email
aksioma.ummetro@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
aksioma.ummetro@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota metro,
Lampung
INDONESIA
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika
ISSN : 20898703     EISSN : 24425419     DOI : -
Core Subject : Education,
AKSIOMA JOURNAL, e-ISSN: 2442-5419, p-ISSN: 2089-8703 is an information container has scientific articles in the form of research, the study of literature, ideas, application of the theory, the study of critical analysis, and Islāmic studies in the field of science Mathematics Education. AKSIOMA JOURNAL published two times a year, the period from January to June and July to December, published by the Scientific Publication Unit FKIP University of Muhammadiyah Metro.
Arjuna Subject : -
Articles 1,528 Documents
DISSECTING STUDENT MISCONSTRUCTION IN TRANSFORMATIONAL ACTIVITIES SOLVES PROBLEMS THAT ALLOW COGNITIVE CONFLICT TO OCCUR Rosimanidar Rosimanidar; Purwanto Purwanto; Erry Hidayanto; I Made Sulandra
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i3.9457

Abstract

The transformative activity was crucial for problem-solving. In resolving problems, cognitive conflicts could arise, characterized by construction errors marked by deviations or differences from scientific concepts. Eight of the 106 students who experienced cognitive conflicts made construction errors in transformative activities. These errors were categorized into four groups. This research aimed to describe students' construction errors in transformative activities when solving problems that might lead to cognitive conflicts. The research design was phenomenological, with four subjects selected and one student from each group. Student responses and interview results served as research data, analyzed through narrative text analysis. The research findings revealed four forms of construction errors in students during transformative activities in problem-solving that might lead to cognitive conflicts: (1) pseudo construction "correct," occurring when students provide a correct answer to a problem, but upon closer examination, it was found that the clarification of the answer was incorrect; (2) pseudo construction "incorrect," happening when students gave an incorrect answer to a problem, but upon closer examination, the students had a correct thought process and could provide the right answer; (3) hole construction errors, occurring when there were inconsistencies in the construction process of concepts in students' minds; and (4) mis-analogical construction errors, occurring when students made errors in analogizing a problem with representations of other concepts. These four construction errors occurred in transformative activities based on incomplete rule-based systems. Examining these construction errors allowed instructors to improve students' transformative thinking activities according to linear equations with one variable.Aktivitas transformasional sangat penting dalam menyelesaikan masalah. Dalam penyelesaian masalah kemungkinan terjadi konflik kognitif, yaitu kesalahan konstruksi yang ditandai ada penyimpangan atau perbedaan dengan konsep ilmiah. Mahasiswa mengalami konflik kognitif sebanyak 106 orang dan 8 mahasiswanya telah melakukan kesalahan konstruksi dalam aktivitas transformasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan konstruksi mahasiswa dalam aktivitas transformasional menyelesaikan masalah yang memungkinkan terjadi  konflik kognitif. Jenis penelitian ini adalah fenomenologi dengan dipilih 4 subjek penelitian yang masing-masing 1 mahasiswa dari setiap kelompok tersebut. Jawaban mahasiswa dan hasil wawancara digunakan sebagai data penelitian. Data penelitian dianalisis melalui analisis teks naratif. Temuan penelitian diperoleh bahwa ada empat bentuk kesalahan konstruksi mahasiswa yang dibedah dalam aktivitas transformasional menyelesaikan masalah yang memungkinkan terjadi konflik kognitif, yaitu (1) pseudo construction “benar” yang terjadi saat mahasiswa memberikan jawaban benar terhadap suatu permasalahan, namun ketika ditelusuri, ternyata mahasiswa salah dalam memberikan klarifikasi jawaban; (2) Kesalahan pseudo construction “salah” yang terjadi saat mahasiswa memberikan jawaban salah terhadap suatu permasalahan, namun ketika ditelusuri mahasiswa mempunyai cara berpikir yang benar dan dapat memberikan jawaban yang benar; (3)Kesalahan lubang konstruksi (hole construction) yang terjadi saat proses konstruksi konsep dalam pikiran mahasiswa ada yang tidak sesuai;  dan (4) kesalahan mis-analogical construction yang terjadi saat mahasiswa membuat kesalahan dalam menganalogikan masalah dengan representasi konsep lain. Keempat kesalahan konstruksi tersebut terjadi pada aktivitas transformasional berbasis aturan tidak lengkap (incomplete rule-based). Penelaahan kesalahan konstruksi ini dijadikan dasar bagi dosen untuk memperbaiki aktivitas berpikir transformasional mahasiswa sesuai konsep persamaan linier satu variabel
CRITICAL THINKING ABILITY OF JUNIOR HIGH SCHOOL STUDENTS IN GAME-BASED LEARNING USING GEMAS GAME Nur Agustiani; Hamidah Suryani Lukman; Ana Setiani
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8623

Abstract

Games-based learning is a learning model that integrates material into games so that it can motivate students to think critically when solving problems. This study aims to review the critical thinking skills of junior high school students in learning mathematics that applies a game-based learning model using GEMAS game. This research uses the descriptive analysis method. The research was conducted at Tahfidz Quran Al-Fath Islamic Middle School with 29 students in class IX as research subjects; 2 subjects were taken to be interviewed about the results of their answers to the critical thinking ability test. Subjects were selected based on specific considerations, namely, students with high mathematical abilities and those with low mathematical abilities. Data collection was carried out using test and interview methods. Based on the analysis results, it was found that the percentage of students who could meet critical thinking according to FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situasion, Clarity, dan Overview) criteria increased after game-based learning. There is an increase in critical thinking skills, both students with high mathematical abilities and those with low mathematical abilities. Students with high mathematical abilities have achieved better critical thinking criteria than students who have low mathematical abilities. Pembelajaran berbasis games merupakan model pembelajaran yang mengintegrasikan materi ke dalam permainan (games) sehingga mampu memotivasi siswa untuk berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kemampuan berpikir kritis siswa SMP pada pembelajaran matematika yang menerapkan model pembelajaran berbasis game menggunakan game GEMAS.  Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Penelitian dilakasanakan di SMP Islam Tahfidz Quran Al-Fath dengan subjek penelitian 29 siswa kelas IX, yang diambil 2 subjek untuk diwawancara mengenai hasil jawabannya terhadap tes kemampuan berpikir kritis. Subjek dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu, yakni siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi dan siswa yang memiliki kemmapuan matematika kurang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan wawancara. Berdasarkan pada hasil analisis, diperoleh persentase siswa yang mampu memenuhi kriteria berpikir kritis FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situasion, Clarity, dan Overview) meningkat setelah pembelajaran berbasis game. Terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis, baik siswa dengan kemampuan matematika tinggi maupun siswa yang memiliki kemampuan matematika rendah. Siswa dengan kemampuan matematika tinggi memiliki ketercapaian kriteria berpikir kritis yang lebih baik dari siswa yang memiliki kemampuan matematika rendah.
COMMOGNITIVE SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI GENDER Eko Yandi Raharjo; Subanji Subanji; Sisworo Sisworo
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8791

Abstract

Penelitian telah menunjukkan bahwa siswa laki-laki memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menerapkan rumus matematika secara tepat dan benar, namun mereka kurang dalam menjelaskan secara rinci langkah-langkah yang diambil dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan, siswa perempuan mampu menyelesaikan masalah secara sistematis, namun mereka lupa untuk menuliskan secara jelas penggunaan rumus matematika yang diterapkan, Penting untuk memahami bagaimana perbedaan ini mempengaruhi pencapaian siswa dalam matematika, dengan memahami pendekatan yang berbeda ini, pendidik dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan commognitive siswa SMP dalam menyelesaikan masalah ditinjau dari gender. Jenis penelitian ini adalaah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMPN 2 Sampit, Kalimantan Tengah. Subjek penelitian sebanyak 4 siswa dengan masing-masing dua siswa laki-laki dan dua siswa perempuan. Data penelitian diambil dari tes tulis siswa dan wawancara. Teknik analisis data pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tes tulis digunakan untuk mengetahui commognitive siswa. Hasil penelitian menunjukkan commognitive siswa dalam menyelesaikan masalah berdasarkan gender memiliki perbedaan. Siswa laki-laki menyelesaikan masalah dengan menggunakan keempat komponen commognitive yaitu word use, visual mediator, routine, narrative. Sedangkan siswa perempuan menyelesaikan masalah dengan tiga komponen commognitive yaitu word use, visual mediator, dan routine. Research has shown that male students have a better ability to apply mathematical formulas precisely and corectly, but they lack in explaning in detail the steps taken in solving problems. Whereas, female students are able to solve problems systematically, but they forget to write down clearly the use of mathematical formulas applied, it is important to understand how these difference affect students achievement in mathematics, by understanding these different approaches, educators can develop more inclusive learning strategies. Thus, This study aims to describe junior high school students commognitive in solving problems in terms of gender. This type of research is descriptive qualitative. The research subjects were VIII grade students of SMPN 2 Sampit, Central Kalimantan. The research subjects were 4 students with two male student and two female student each. The research data were taken from students written tests and inverviews. Data analysis techniques in this study are data reduction, data presentation, and drawing conclusion. Written tests used to determine students commognitive. The results showed that students commongitive in solving gendered problems had differences. Male studens solve problems using all four commognitive components, namely word use, visual mediator, routine, narrative. While female students solve problems with three commognitive components namely word use, visual mediator, and routine. 
E-COMIC MATHEMATICS OF LAMPUNG FOLKLORE “BUAYA PEROMPAK” FOR CHILDREN WITH DYSCALCULIA Binti Anisaul Khasanah; Susilo Hartono; Siti Khoiriyah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i3.9809

Abstract

Media pembelajaran sudah menjadi suatu kebutuhan utama untuk mendukung tercapainya suatu tujuan pembelajaran. Perkembangan teknologi juga mempengaruhi keberagaman media pembelajaran, begitu juga media pembelajaran yang dibutuhkan oleh siswa diskalkulia. Karakteristik siswa diskalkulia membutuhkan media yang bersifat kontekstual dan mudah dipahami melalui pengemasan yang menarik dan imajinatif. Oleh sebab itu, e-comic cerita rakyat buaya perompak menjadi sangat tepat untuk dikembangkan sehingga dapat digunakan untuk mendukung proses belajar siswa diskalkulia. Pengembangan e-comic dilakukan menggunakan tahapan ADDIE yaitu Analyze, Design, Develop, Implementation, and Evaluation. Metode. Melalui tahapan tersebut diperoleh hasil bahwa rata-rata penilaian oleh validator ahli materi, desain, dan komunikasi sebesar 4,12 dengan kriteria layak. Penilaian oleh pengguna sebesar 3,8 dengan kriteria layak. Perolehan rata-rata skor N-Gain score yaitu 4,4 dengan kriteria sedang atau efektif. Perolehan respon positif guru sebesar 98% dan respon positif siswa sebesar 69,33%  dengan kriteria efektif. Dengan demikian dapat dismpulkan bahwa media e-comic cerita rakyat “Buaya Perompak” layak dan efektif untuk digunakan bagi siswa diskalkulia di SD N 2 Sukoharjo III.Learning media has become a primary need to support the achievement of learning goals. Technological developments also influence the diversity of learning media, as well as the learning media needed by students with dyscalculia. The characteristics of dyscalculic students require media that is contextual and easy to understand through attractive and imaginative packaging. Therefore, the e-comic folklore of the pirate crocodile is very appropriate to develop so that it can be used to support the learning process of students with dyscalculia. E-comic development is carried out using the ADDIE stages, namelyAnalyze, Design, Develop, Implementation, and Evaluation. Metode. Through these stages, the results obtained are:The average assessment by material, design and communication expert validators was 4.12 with appropriate criteria. Rating by users is 3.8 with appropriate criteria. The average N-Gain score was 4.4 with moderate or effective criteria. The teacher's positive response was 98% and the student's positive response was 69.33% with effective criteria. Thus it can be concluded thatThe e-comic media of the “Buaya Perompak” folklore is suitable and effective for use for dyscalculic students at SD N 2 Sukoharjo III.
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS ETNOMATEMATIKA KERATON YOGYAKARTA BERORIENTASI PADA PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA Sundap Priyatna; Marsigit Marsigit
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8825

Abstract

Pemahaman konsep matematis siswa khususnya pada materi geometri belum optimal sehingga perlu sebuah inovasi pengembangan perangkat pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis etnomatematika Keraton Yogyakarta berorientasi kemampuan pemahaman konsep matematis. Penelitian ini menggunakan model pengembangan milik Plomp meliputi pleminary research, prototype phase, dan assessment phase. Uji coba produk dilakukan di SMP kelas VII menggunakan instrumen yang terdiri dari lembar validasi, lembar penilaian kepraktisan, lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, dan tes kemampuan pemahaman konsep matematis. Berdasarkan hasil disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria kevalidan dengan tingkat ketercapaian nilai modul ajar 71, dan LKS 69. Berdasarkan hasil uji coba lapangan disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria kepraktisan berdasarkan penilaian guru dengan skor kepraktisan masing-masing 55 dan 56 untuk modul ajar dan LKS, serta LKS yang dikembangkan memenuhi kriteria kepraktisan dengan skor 44,78 berdasarkan penilaian siswa. Berdasarkan hasil observasi disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan memenuhi kriteria minimum persentase keterlaksanaan lebih dari 80% pada setiap pertemuan. Berdasarkan hasil tes pemahaman konsep matematika persentase siswa yang mencapai kriteria minimum dengan nilai rata-rata masing-masing lebih dari KKM 75 dengan persentase sebesar 91,30 % sehingga perangkat pembelajaran yang dikembangkan efektif memfasilitasi pemahaman konsep matematis. The understanding of students' mathematical concepts, especially on geometry material, is not optimal, so it needs an innovation in developing learning tools. This research aims to develop ethnomathematics-based learning tools of the Yogyakarta Palace oriented towards the ability to understand mathematical concepts. This research using Plomp's development model includes pleminary research, prototype phase, and assessment phase. Product trials were carried out in junior high school grade VII using instruments consisting of validation sheets, practicality assessment sheets, learning implementation observation sheets, and tests of the ability to understand mathematical concepts. Based on the results, it was concluded that the learning tools developed met the validity criteria with the level of achievement of teaching module scores 71, and LKS 69. Based on the results of field trials, it was concluded that the learning tools developed met the practicality criteria based on teacher assessment with practicality scores of 55 and 56 respectively for teaching modules and LKS, and the developed LKS met the practicality criteria with a score of 44.78 based on student assessments. Based on the observations, it was concluded that the learning tools developed met the minimum criteria for a percentage of implementation of more than 80% at each meeting. Based on the results of the test of understanding mathematical concepts, the percentage of students who reached the minimum criteria with an average score of more than KKM 75 each with a percentage of 91.30% so that the learning tools developed effectively facilitate the understanding of mathematical concepts.
IMPLEMENTATION OF PROBLEM-BASED LEARNING (PBL) MODELS TO IMPROVE STUDENTS' MATHEMATICAL COMMUNICATION ABILITY Yus Mochamad Cholily; Muhammad Nabil Hibatullah; Minatun Nadlifah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8217

Abstract

Math problem-solving skills among students are still lacking. This is demonstrated by kids' inability to comprehend inquiries, offer proper responses, or convey ideas. Low communication ability can also result from instruction that downplays the importance of students' ability to solve problems. This study aimed to determine whether the increase in the mathematical communication skills of students who received problem-based learning models was better than that of conventional learning. Moreover, to find out how students' attitudes toward problem-based learning models. This research method is quasi-experimental, and the research design is a Nonequivalent control group design. The experimental class gets learning with the problem-based learning model, and the control class with conventional learning. The population of this study was all students of class VII SMPN 2 Kota Mojokerto. The samples used were two classes of five selected by purposive sampling technique. To obtain research data, pretest, posttest, and mathematical communication skills were used using the independent sample t-test. Based on the results of data analysis, 1) improving students' mathematical communication ability using problem-based learning models is better than students using conventional learning; 2) students' attitude towards learning mathematics using the problem-based learning model is positive. Kemampuan siswa untuk memecahkan masalah matematika masih rendah. Hal ini ditandai dengan kurangnya siswa dalam memahami pertanyaan dan memberikan jawaban serta mengutarakan pikiran atau ide secara tepat. Rendahnya kemampuan komunikasi juga disebabkan oleh model pembelajaran yang belum menekankan siswa pada aspek pemecahan masalah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh model pembelajaran problem based learning lebih baik dari pada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional, dan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap model pembelajaran problem based learning. Metode penelitian ini adalah quasi eksperimen dan desain penelitian adalah Nonequivalent control group design. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran dengan model problem based learning dan kelas kontrol dengan pembelajaran konvesional. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 2 Kota Mojokerto, Adapun sampel yang digunakan sebanyak dua kelas dari lima kelas dipilih dengan Teknik purposive sampling. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan pretest, posttest, kemampuan komunikasi matematis menggunakan independent Sample t-Test. Berdasarkan hasil analisis data, 1) peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran problem based learning lebih baik dari pada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional; 2) sikap siswa terhadap pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran problem based learning adalah positif
LITERASI MATEMATIKA DAN NUMERASI DALAM TREN PENELITIAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DI INDONESIA Janrino Junus Rivaldi Fanggidae; Sugiman Sugiman; Faisa Nirbita Mahmudah
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8625

Abstract

 Pentingnya kemampuan literasi matematika atau numerasi menyebabkan banyak penelitian dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi matematika atau numerasi. Untuk memberikan hasil pemetaan tren penelitian agar menumbuhkan ide penelitian baru dalam topik literasi matematika atau numerasi, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji tren penelitian tentang literasi matematika atau numerasi di Indonesia dengan menggunakan Systematic Literature Review (SLR). Artikel ilmiah yang dikaji merupakan artikel yang terbit pada Jurnal pendidikan matematika terakreditasi SINTA 1 dan SINTA 2 mulai Januari 2013 sampai Juni 2023. Hasil penelitian menunjukan bahwa publikasi artikel terkait literasi matematika atau numerasi mulai Januari 2013 mengalami kenaikan mulai tahun 2018 dan tertinggi pada tahun 2022. Jenis penelitian yang paling banyak digunakan adalah kualitatif. RME adalah pendekatan pembelajaran yang sering digunakan dalam penelitian literasi matematika atau numerasi. Variabel lain yang sering dikaitkan adalah variabel budaya. Metode analisis data yang sering digunakan adalah statistika deskriptif dan instrumen penelitian yang sering digunakan adalah tes. Subjek penelitian yang paling sering diteliti adalah siswa kelas VIII. Rekomendasi penelitian yang dapat dilakukan kedepannya antara lain menggunakan penelitian tindakan kelas (CAR) atau mixed method, memperluas subjek penelitian pada tingkat SD, kelas IX, SMA, S2, S3 dan guru untuk memberikan wawasan terkait kemampuan literasi matematika atau numerasi di jenjang tersebut The importance of mathematical literacy or numeracy skills has led to a lot of research being conducted to improve mathematical literacy or numeracy skills. To provide research trend mapping results to foster new research ideas on the topic of mathematical literacy or numeracy, research was conducted to examine research trends on mathematical literacy or numeracy in Indonesia using a Systematic Literature Review (SLR). The scientific articles studied were articles published in the accredited mathematics education journals SINTA 1 and SINTA 2 from January 2013 to June 2023. The research results show that the publication of articles related to mathematical literacy or numeracy from January 2013 experienced an increase starting in 2018 and was highest in 2022. The most widely used type of research is qualitative. RME is a learning approach that is often used in research on mathematical literacy or numeracy. Another variable that is often linked is cultural variables. The data analysis method that is often used is descriptive statistics and the research instrument that is often used is tests. The research subjects most often studied are class VIII students. Recommendations for research that can be carried out in the future include using classroom action research (CAR) or mixed methods, expanding research subjects at the elementary, class IX, high school, master's, and doctoral levels, and teachers to provide insight into mathematical literacy or numeracy skills at these levels.  
LEARNING OBSTACLE PADA PEMBELAJARAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR TIGA VARIABEL BERDASARKAN PRAXEOLOGY Lia Halimatus Sadiah; Suhendra Suhendra; Tatang Herman
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8352

Abstract

Learning Obstacle  atau hambatan belajar pada pembelajaran matematika harus diminimalisir agar pembelajaran yang optimal dapat terwujud. Salah satunya yaitu pembelajaran pada materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengkaji dan mendeskripsikan hambatan belajar siswa pada pembelajaran materi SPLTV berdasarkan teori praxeology. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Dengan menggunakan teknik triangulasi, penelitian ini menggunakan instrumen tes dan wawancara dalam mengidentifikasi hambatan belajar tersebut. Hasil analisis jawaban siswa dan wawancara mendalam berdasarkan teori praxeology menunjukkan bahwa siswa memiliki hambatan belajar, baik hambatan ontogenik, didaktik, maupun epistemologi. Hal tersebut digambarkan dengan ketidakmampuan siswa menggunakan teori dalam mendasari teknik penyelesaian, ketidaktepatan teori dan teknologi dalam mendasari teknik yang digunakan oleh siswa, dan ketidakmampuan siswa dalam memahami jenis tugas yang diberikan. Ketiga hambatan yang teridentifikasi berdasarkan praxeologydiharapkan dapat menjadi acuan bagi guru untuk dapat menyusun bahan ajar yang dapat meminimalisir hambatan belajar pada siswa.Learning Obstacles or learning barriers in learning mathematics must be minimized so that optimal learning can be realized. One of them is learning on the Three Variable Linear Equation System (SPLTV) material. This study aims to examine and describe student learning obstacles in learning SPLTV material based on praxeology theory. This research uses a qualitative approach with phenomenological method. By using triangulation techniques, researchers used test instruments and interviews to identify these learning barriers. The results of the analysis of student answers and in-depth interviews based on praxeology theory show that students have learning barriers, both ontogenic, didactic, and epistemological barriers. This is illustrated by the inability of students to use theory to underlie the completion technique, the inaccuracy of theory and technology in underlying the techniques used by students, and the inability of students to understand the type of assignments given. The three obstacles identified based on praxeology are expected to be a reference for teachers to be able to develop teaching materials that can minimize learning barriers to students.
DEVELOPMENT OF E-LEARNING OF MATHEMATICS NUMERACY TO IMPROVE STUDENTS' NUMERACY ABILITY Reza Muhamad Zaenal; Sofhian Fazrin Nasrullah; Evan Farhan Wahyu Puadi
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 3 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i3.8832

Abstract

When compared to reading and science skills, Indonesian students' numeracy skills always receive the lowest average scores. On the PISA test, 71% of students do not meet the minimum numeracy competency level. Because education and technological advancement are inseparable, a technology-based initiative that can improve students' numeracy skills is required. The creation of an e-learning numeracy application known as "E-learningNumeration," which is anticipated to offer a substitute for enhancing students' numeracy abilities. The purpose of this study is to ascertain whether the developed E-learningNumeration application is reliable, efficient, and applicable for assisting students in developing their mathematical numeracy skills. The students in class VIII at SMP IT Najib Rasyid served as the study's subjects. In this study, one type of R&D research method is the Software Development Life Cycle with a prototyping approach model. The Independent Samples Test analysis reveals that the E-learningNumeration application is effective in improving students' mathematical numeracy, as evidenced by the sig. value (2-tailed) Equal variances assumed to be 0.016  0.05. The developed application is deemed valid and usable. With an average score of 77.50 on the student questionnaire, the E-learning Numeracy application is also said to be useful. This study suggests that the E-learning Numeracy application should assist students in improving their numeracy skills.Kemampuan berhitung siswa Indonesia secara konsisten memperoleh hasil rata-rata terendah jika dibandingkan dengan kemampuan membaca dan sains mereka. Sekitar 71% siswa gagal memenuhi tingkat kemahiran minimal dalam berhitung sebagaimana dinilai oleh ujian PISA. Korelasi antara pendidikan dan kemajuan teknologi tidak dapat disangkal. Oleh karena itu, sangat penting untuk menggunakan pendekatan berbasis teknologi untuk meningkatkan kemahiran berhitung siswa. Tujuannya adalah untuk membuat aplikasi e-learning berhitung yang disebut "E-learningNumeration" yang akan berfungsi sebagai metode alternatif untuk meningkatkan kemampuan berhitung siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai validitas, efikasi, dan kepraktisan aplikasi E-learningNumeration dalam meningkatkan kemampuan berhitung matematika siswa. Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari siswa kelas delapan di SMP IT Najib Rasyid. Penelitian ini memanfaatkan Software Development Life Cycle dengan model pendekatan prototyping, yang merupakan teknik penelitian di bidang R&D. Program E-learningNumeration yang dirancang dinilai valid dan praktis untuk digunakan. Lebih jauh lagi, terbukti berhasil meningkatkan kemampuan berhitung matematika siswa, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil analisis Independent Samples Test, di mana nilai signifikansi terlihat. (Bilateral) Asumsi varians yang sama terpenuhi pada tingkat signifikansi 0,016, yang lebih rendah dari ambang batas 0,05. Aplikasi E-learning Numeracy dinilai praktis, sebagaimana ditunjukkan oleh skor rata-rata 77,50 yang diperoleh dari evaluasi kuesioner siswa. Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi E-learning Numeracy kemungkinan dapat meningkatkan kemampuan berhitung siswa.
EFEKTIFITAS PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN STUDENT ENGAGEMENT DAN PEMECAHAN MASALAH MATERI BILANGAN PECAHAN Purwanti Purwanti; Yoppy Wahyu Purnomo
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol 13, No 2 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v13i2.8659

Abstract

Rendahnya kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas V di SDN 1 Wiro salah satunya terjadi karena tingkat keterlibatan peserta didik (student engegement) dalam pembelajaran matematika materi operasi bilangan pecahan. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Berdasarkan masalah yang ada, diperlukan suatu penelitian yang bertujuan untuk menerapkan model PBL untuk meningkatkan student engagement dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang melibatkan 8 peserta didik kelas V SDN 1 Wiro Bayat untuk tahun pelajaran 2022/2003. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi, observasi, angket, dan tes. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulakn bahwa baik dari hasil observasi maupun angket, penggunaan PBL dapat meningkatkan student engagement selama pembelajaran materi pecahan bahkan dengan kategori baik. Selain itu, berdasarkan hasil tes di siklus I maupun siklus II terlihat bahwa seluruh peserta didik telah mencapai nilai minimal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan PBL dalam pembelajaran materi operasi bilangan pecahan dapat meningkatkan student engagement dan kemampuan pemecahan masalah peserta didik kelas V di SDN 1 Wiro.One of the reason for the low problem solving ability of fifth grade in SDN 1 Wiro was the level of student engagement in learning mathematics especiallya operations on fractions. Therefore, one of the best solution for this problem is implement the problem based learning or PBL model to increase the students’ engagement and  students’ problem solving abilities. This research is classroom action research or PTK. This research involved 8 fifth grade students of SDN 1 Wiro for the 2022/2023 academic year. The data collection techniques used are decumentation, observation, quessionnaires, and test. Based on tehe result of the research, it can be concluded that both from the result of observation and questonnaires, using PBL in learning proccess can increase students’ engagement during learning about operations on fraction. the last result can be included in good category for all aspects. And then, for the result of the test in cycle I and cycle II, it can be seen that students have achieved the minimum score or 65 points. Therefore, it can be concluded that using PBL in learning about operations of fraction can increase student’s engagement and also problem solving ability of fifth grade in SDN 1 Wiro.