cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,223 Documents
Pandangan Agama Islam Tentang Anak (Suatu Studi Kepustakaan) Sukamta, S
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 21 (1979)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1979.021.61-79

Abstract

Masalah demografi biasanya adalah jenis-jenis masalah penduduk insani yang berkaitan dengan proses fertilitas, mortalitas dan migrasi. Karena factor-faktor inilah yang secara langsung mempengaruhi jumlah, struktur dan jumlah penduduk. Demikian pulah size (jumlah penduduk), Komposisi dan distribusi penduduk dipengaruhi pula oleh keiga factor tersebut. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk  tahun 1930, 1961 dan 1971, dapat diketahui bahwa besarannya jumlah penduduk di Indonesia telah berubah dari sekitar 60,7 juta, 97,0 juta dan 119,2 juta. Dengan demikian tingkat pertumbuhan pendiduk rata-rata ® pertahun dalam periode antara sensus pertama (1930-1961) adalah 1,5%, sebagai selisih antara tingkat kelahiran (CBR) pada kira-kira 45 per seribu dengan tingkat kematian (CDR) disekitar 30 per seribu (N. Iskandar No.9; 1978;3).
Ajaran-Ajaran Pokok Filsafat Existensialisme Ganie, Fathuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 20 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1978.020.1-12

Abstract

Filsafat Existensialisme merupakan aliran filsafat modern yang bukan saja tokoh-tokohnya terdapat beberapa dari beberapa negara, tetapi ada diantaranya yang tidak mengakui dirinya sebagai existensialist. 1) oleh karena itu maka perytentangan atau ketidak-samaan ajaran-ajaran exixtensialisme bukan suatu hal yang tidak mungkin. 2) itu, sudah merupakan suatu mas’alah tersendiri dalam membahas filsafat existensialisme, sehingga dari kesemuanya itu merupakan ketekunan dalam mempelajarinya. Apabila filfat pada umumnya mempersoalkan tentang tuhan, macrocosmos, microcosmos, maka filsafat Existensialisme dalam kenyataannya memusatkan pikirannya pada microcosmos. Manusia memikirkan dirinya siapa dia dihadapan macrocosmos dan Tuhan. 3) dalam hal itu, agama mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, dengan ditunjang oleh kenyataan bahwa manusia kurang mampu dalam berhadapan dengan lingkungannya, dalam pengertian inklusif dengan sesamanya sendiri. Lebih jauh dari itu, manusia menghadapi kenyataan bahwa seseorang akan berakhir hidupnya pada saat yang tidak dapat diketahui kapan, namun pasti.
Tulisan Tentang Sejarah Arab Oleh Prideaux, Ockley dan Sale Holt, Peter; Dahlan, Abdul
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 18 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sampai tahun-tahun terakhir abad ke 17, tulisan-tulisan tentang sejarah Arab di Inggris-seperti halnya di Eropa umumnya masih bersifat akademis. Baik yujuan maupun karakternya. Sebagaimana telah kami tunjukkan dalam sebuah paper terdahulu, studi tentang sejarah Arab – pada periode itu – bukanlah cabang ilmu yang khusus : studi tentang ketimuran berkembang sebagai alat pembantu untuk studi Perjanjian Lama, Sejarah Gereja dan polemic-polemiknya. Sedikit sarjana tertarik secara khusus pada Bahasa Arab ; bahkan lebih sedikit pula yang mengadakan penyelidikan yang berguna tentang Sejarah Arab. Dibandingkan dengan angkatan sezamannya -Pococke telah memberikan satu sumbangan yang penting  bagi pengetahuaan sejarah, dan dalam tulisan-tulisannya ia memperlihatkan watak seorang ahli sejarah – satu prestasi yang patut dicatat sebagaimana akan tampak nanti jika dibandingkan dengan beberapa pengikutnya. Meskipun demikiaan, karya Pococke masih terbatas, baik pengaruh maupun ruang lingkupnya. Ia tidak menghasilkan satu struktur sejarah  yang terorganisir ; publikasi-publikasinya terdiri dari: text dan terjemahan dua kronikel  Arab Kristen yang baru, dan catatan-catatan studi, yang tidak terbatas  pada sejarah, tapi mencakup semua bidang dari masa-masa silam Arab dan Agama Islam, catatan mana ia lampirkan pada bukunya Specimen Historiae Arabum. Terjemahan dan catatan keduanya dalam Bahasa latin, lebih ditunjukan pada kelompok  akademis, bukan kepada public terpelajar yang banyak. Selama 28 tahun terakhir dari masa hidupnya (1604-1691), Pococke tenggelam mempelajari Bahasa Ibrani dan tulisan-tulisan berupa komentar terhadap kitab-kitab para Nabi kecil. Ia tidak memberi sumbangan yang lebih jauh untuk studi Sejarah Islam.
Filsafat Emanasi Dalam Islam Zaini, Hisyam
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 20 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1978.020.13-26

Abstract

Dari keterangan sebagiaan besar ahli sejarah dapat diketahui bahwa filosof-filosof muslim tidak lahir sejak awal kedatangan Islam. Pada zaman nabi, sahabat dan tabii’n boleh dikatakan belum lahir seseorang filosof dikalangan kaum muslimin. Hal ini tidak berarti bahwa umat Islam dan agamanya tidak mementingkan filsafat, atau tidak mementingkan perbuatan berfikir, menggunakan akal. Pada waktu itu umat Islam juga sudah menggunakan akalnya didalam berbagai aspek kehidupan didalam hubungannya dengan agamanya. Hanya saja penggunaan akal mereka itu belum begitu teratur, belum begitu bebas, belum begitu mendalam. Barangkali hal itu disebabkan masih adanya Nabi sebagai tempat bertanya, atau masih adanya para sahabat. Cara berfikir mereka dapat dikatakan masih belum logis dan belum filosofis. Akan tetapi didalam al-Qur’an maupun hadist cukup banyak bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat mementingkan berfikir, sangat menghargai akal-fikiran. Diantara bukti-bukti itu ialah: ”Sesungguhnya ditentang kejadian langit dan bumi dan perselisihan malam dan siang itu, ada beberaoa tanda bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.”  ,,Barang yang pertama dijadikan Allah ialah akal; tidak terdapat sesuatu yang utama dijadikan Allah selain dari padanya”. ,,Merenungkan  ciptaan dan bikinan Allah satu Ketika lebih utama dari pada sembahyang tujuh puluh jam”. Pemikiran filosofis pada umat islam tidaklah muncul serentak sekali jadi, sekali waktu, tetapi melalui proses pertumbuhan berangsur-angsur, setapak demi setapak. Pada permulaannya, lahirlah pemikiran-pemikiran didalam bidang ilmu kalam disamping permasalahan fiqih. Maka lahirlah para ahli kalam (mutakallimin) disamping para ahli fiqih (fuqoha).
Apakah Benar ‘ Utsman Ibn ‘Affan Seorang Nepotist? Shiddiqi, Nourouzzaman
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 20 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1978.020.27-47

Abstract

Utsman ibn ‘Affan ibn “Abdi Syams ibn “Abdi Manaf Ibn Qushai al-Quraisyi, lahir dimekah pada tahun kelima setelah kelahiran Rasulullah saw, berasal dari lingkungan bangsawan Quraisy. Beliau adalah Khalifah ketiga dalam deretan Khulafah al-Rasyidin. Memerintah selama dua belas tahun antara tahun 644-56. Sejak kecilnya termasyhur dengan budi pekerti yang utama dan perbuatan yang terpuji 1), yang oleh Francesco Gabrieli dilukiskan dengan “ a Gentle and a Piousman” 2). Beliau termasuk salah seoarang diantara assabiqun al-awwalun. 3) ikut berhijrah pertama  Abessinia (Habasyah) 4). Ikut dalam setiap peperangan Bersama Rasul, Kecuali Perang Badr. 5) Mewakafkan sumur Raumah yang dibelinya dari seorang Yahudi dengan harga dua puluh ribu dirham untuk keperluan persedian air untuk kaum muslimin 6). Menyumbangkan harata sebanyak  beban seribu ekor unta persiapan perang Tabug 7) pernah menjalankan tugas diplomatik  dalam masa yang sulit dan penuh ancaman bahaya, yakni Ketika bertindak sebagai utusan Rasulullah untuk melakukan perundingan dengan pemimpin  Quraisy di Makkah yang kemudian menelorkan perjanjian  damai hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Ketika menjalankan tugas ini beliau pernah diduga telah dibunuh atau setidaknya ditahan oleh orang-orang Quraisy yang karenanya kaum muslimin melakukan sumpah setia yang terkenal dengan nama Bai’at al-Ridwan. 8) Beliau adalah salah seorang penulis wahyu dan termasuk diantara sepuluh orang yang dijamin masuk Syurga.
Pengaruh Tasauf dalam Kesusastraan Jawa Simuh, Simuh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 20 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1978.020.48-64

Abstract

Sesudah wafatnya sultan Agung Anyokrokusumo, kerajaan Mataram kemudian diperintah oleh putranya yang bergelar amanbkurat (1645-1677). Dalam masa pemerintahannya timbul pemberontakan yang dipimpin oleh trunojoyo dari Madura yang dibantu oleh Karaeng Galesong dari Makasar, Amangkurat dengan bantuan tantara kompeni (Belanda) tidak sanggup mengatasi pemberontakan ini, bahkan Trunojoyo mendapat bantuan pangeran Kajoran dari Mataram yang tidak puas terhadap pemerintahan Amangkurat. Dalam tatun 1677 Amangkurat wafat dan diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat II yang memerintah sampai tahun 1703. Pemberontakan Trunojoyo yang selain mendapat bantuan pangeran Kajoran juga dibantu oleh Pangeran Puger dan Pangeran Giri akhirnya bisa dihancurkan oleh Amangkurat II dengan bantuan Belanda 1670. Sebagai upahnya seluruh daerah pesisir utara terpaksa digadaikan kepada Belanda (kompeni), dan kemudian ibu kota kerjaan dipindah keKartosuro oleh Amangkurat II
Thariqat Di Indonesia Soekarno, Soekarno
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 20 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1978.020.65-75

Abstract

Kofrat alam manusia memiliki kecenderungan mencari dan mengenal, mendekatkan dan melindungi dirinya kepada Tuhan yang maha Kuasa, dengan berbagai cara dan bentuknya. Kecenderungan-kecenderungan tersebut tidak tumbuh dengan serempak, tetapi melalui proses yang cukup lama. Kemudian menumbuhkan dan membangkitkan persaan cinta dan rindu yang mempunyai makna lain dengan cinta dan rindunya kepada sesame manusia. Dalam pada itu Tuhanpun mengutus Nabi dan Rsul-nya untuk memperkenalkan DIRINYA kepada hamba-hamba-Nya, dengan disertai pernyataan Firman: “ Allah akan mendatangkan suatu bangsa yang dicintai-Nya dan yang mencintai-Nya”. 5:54. “ jika kalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku dan Allah akan mencintai kalian”, 3: 31. “ Hamba-ku senantiasa mendekatkan  diri pada-Ku dengan perbutan-perbuatan hingga aku cinta padanya. Orang yang Ku-cintai menjadi telinga, mata dan tangan-Ku. (Hadits).  Akan tetapi rupanya manusia, suka berlebih-lebihan dan serba tidak puas denga napa yang telah ada. Sehingga dalam usahanya melampiaskan cinta dan rindunya kepada Tuhanpun, kadang-kadang mencari jalan lain yang menurut anggapan dan perasaannya akan membawa kepada kesempurnaan jiwanya, mereka sering menempuh jalan yang berbahaya yang membawa kepada kesesatan menyimpang dari petunjuk yang dikehendaki Tuhan sendiri.
Negotiating Salafi Islam of Hang Radio: Responses of Active Muslim Audiences to Hang Radio in Batam, Indonesia Rosidi, Imron
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.387-408

Abstract

Salafi groups have garnered a significant urban following in Indonesia. However, in religiously diverse contexts --particularly urban centers-- the extent to which Salafi teachings are fully embraced remains uncertain and often prompts critical engagement. This article investigates how active Muslim listeners respond to daʻwah programs aired by Hang Radio, a Salafi-affiliated radio station based in Batam. It argues that these audiences are not passive recipients but rather active and discerning participants who negotiate the religious messages they encounter. The study identifies a spectrum of responses: while some listeners resonate with and adopt Salafi practices, others reject specific elements of the messaging. Such responses reflect a pattern of critical engagement, wherein audiences selectively accept or dismiss particular aspects of the content. The findings indicate that, although Salafi messaging aligns with urban preferences for clarity, simplicity, and immediacy, listeners nevertheless engage in interpretive negotiation. This critical stance reflects a broader communal disposition to maintain continuity with long-established religious understandings and practices in Batam, which constitute a core dimension of their religious habitus.[Kelompok Salafi telah membangun basis pengikut yang signifikan di kawasan perkotaan. Namun, dalam konteks yang ditandai oleh keberagaman keagamaan seperti di wilayah urban, sejauh mana ajaran Salafi dapat diterima sepenuhnya tetap menjadi pertanyaan dan dapat memicu sikap kritis dari masyarakat. Artikel ini mengkaji respons pendengar terhadap program dakwah yang disiarkan oleh Hang Radio, sebuah stasiun radio yang berafiliasi dengan gerakan Salafi di Batam. Artikel ini berargumen bahwa para pendengar Muslim Hang Radio bukanlah penerima pasif, melainkan aktor yang aktif dan kritis dalam menegosiasikan pesan-pesan keagamaan yang disampaikan. Studi ini menemukan adanya spektrum respons: sebagian pendengar menunjukkan keterpautan dengan praktik keislaman Salafi dan menerimanya, sementara yang lain menolak sebagian isi pesan tersebut. Respons ini mencerminkan keterlibatan kritis, di mana pendengar secara selektif menerima atau menolak elemen-elemen tertentu dari siaran yang disuguhkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun pesan-pesan Salafi sesuai dengan preferensi masyarakat perkotaan yang mengutamakan kejelasan, kesederhanaan, dan kepraktisan, para pendengar tetap melakukan negosiasi interpretatif. Sikap kritis ini mencerminkan suatu kecenderungan komunitas yang berakar pada keinginan untuk tetap konsisten dengan pemahaman dan praktik keagamaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun di Batam, yang menjadi bagian integral dari habitus mereka.]
The Epistemological Reading of Religious Knowledge in the Thought of ʻAbd Al-Karīm Soroush Mokhtari, Omar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 62, No 2 (2024)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2024.622.409-437

Abstract

This study explores the epistemological dimensions of religious reform advanced by ʻAbd al-Karīm Soroush within the framework of ʻilm al-kalām al-jadīd (modern Islamic theology). It examines how Soroush conceptualizes the relationship between religion (al-dīn) and religious knowledge (al-maʻrifah al-dīniyyah), positing that the latter is inherently dynamic, historically situated, and epistemologically contingent. At the heart of his framework lies the assertion that religious knowledge is not fixed but evolves in tandem with developments in human understanding, cultural contexts, and scientific progress. Employing both epistemological and hermeneutical methodologies, this study analyzes Soroush’s engagement with contemporary philosophy, science, the human sciences, and Islamic mysticism (ṣūfism). It argues that Soroush advocates a clear distinction between the divine essence of religion and the human endeavor to understand it—an approach that challenges absolutist readings of scripture and affirms the relative, interpretive nature of religious knowledge. Furthermore, the study highlights Soroush’s acknowledgment of the interdependence between religious and non-religious forms of knowledge, emphasizing their mutual borrowing and discursive entanglement. His intellectual orientation reveals a deliberate engagement with the foundational critiques of Western modernity, particularly those articulated by reformist Christian theologians and philosophers. This is most evident in his seminal works al-Qabd wa al-Basṭ fī al-Syarīʻah (The Expansion and Contraction of Religious Knowledge) and al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm (The Straight Paths), which articulate a sophisticated vision of reform grounded in both tradition and critical modern thought.[Tulisan ini mengkaji hakikat pembaharuan dalam warisan keagamaan yang diserukan oleh ʻAbd al-Karīm Soroush dalam lingkup ilmu kalam kontemporer. Fokus utamanya adalah menyingkap berbagai bentuk pendekatan terhadap agama dan pengetahuannya, serta bagaimana pemikir ini mengkaji pengetahuan keagamaan dengan perangkat epistemologis dan hermeneutik untuk membaca, membedah, dan menganalisis pengetahuan manusia, dalam rangka menangkap dimensi yang tetap dan yang berubah dalam agama. Penelitian ini juga menekankan prinsip dasar bahwa pengetahuan keagamaan bersifat dinamis dan senantiasa mengalami transformasi. Dengan pembacaan kritis terhadap konsep dīn (agama) dan al- maʻrifah al-dīniyyah (pengetahuan keagamaan), penelitian ini memanfaatkan pendekatan epistemologis dan hermeneutik, serta temuan ilmu pengetahuan dan filsafat kontemporer, ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, serta tasawuf Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ʻAbd al-Karīm Soroush menekankan pentingnya pemisahan antara agama dan pengetahuan yang lahir darinya. Pengetahuan keagamaan hanyalah salah satu bentuk dari pengetahuan manusia yang bersifat relatif dan --oleh karena itu-- senantiasa dapat berubah dan berkembang, karena merupakan hasil pemahaman manusia terhadap agama yang bersifat historis. Soroush juga menegaskan adanya keterkaitan erat antara pengetahuan keagamaan dan pengetahuan non-keagamaan, yang saling memberi dan menerima. Dengan demikian, proses memahami agama dan membaca teks-teks sucinya merupakan proyek yang bersifat relatif dan tidak mungkin mencapai kesempurnaan atau kebenaran absolut. Soroush berupaya mendekati agama dan pengetahuan keagamaan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dari modernitas Barat, sebagaimana yang telah diterapkan dalam teologi Kristen oleh para filsuf dan reformis sebelumnya, sebagaimana dijelaskan dalam karyanya al-Qabḍ wa al-Basṭ fī al-Syarīʻah dan al-Ṣirāṭ al-Mustaqīm.
Sumbangan Islam Kepada Kebudayaan Dunia Di Masa yang Lampau Dan Di Masa yang Akan Datang Alisyahbana, Takdir
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 19 (1978)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1978.019.1-25

Abstract

Sejak zaman Rasul Allah Muhammad s.a.w. kebudayaan Islam berkembang terus-menerus sejalan dengan perkembangan pikiran dan meluasnya kekusaan politik dan daerah penganut Islam. Terbentuk bermacam-macam struktur, ide, dan Lembaga-lembaga dalam lapangan ekonomi, lapangan social dan bermacam-macam lapangan kebudayaan yang lain. Kebudayaan yang baru berkembang dengan kebudayaan lain. Kebudayaan yang baru berkembang dengan berpokok kepada Qur’an dan contoh-contoh perbuatan dan pikiran Nabi Muhammad s.a.w dilanjutkan oleh Khalifah Rasidun dan Khalifah Raja-raja. Agama dan kebudayaan Islam yang berbahasa Arab itu meluas dari pantai Atlantik sampai ke atas kerajaan Cina. Dan dalam perkembangan agama dan kebudayaan Islam itu, dengan berani ahli-ahli pikir dan pemimpin Islam mengambil kekayaan dan unsur-unsur dari berbagai-bagai kebudayaan tua yang telah beribu-ribu tahun usianya seperti kebudayaan Parsi, kebudayaan Yunani dan Roma, kebudayaan India, malahan sampai-sampai kebudayaan Cina. Demikian pertama kali dapat kita katakana terjadilah penyatuaan unsur-unsur segala kebudayaan besar yang terkenal dewasa itu dalam suatu wadah yang dinamakan Islam, dijiwai oleh pikiran dan etik Qur’an dan memakai Bahasa Arab.

Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue