cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,223 Documents
The Effect of the Abbasids’ Political Disintegration on the Architectural Development of the Prophet’s Mosque Omer, Spahic
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 1 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.541.175-202

Abstract

This article discusses the contributions of the Abbasid caliphs to the architectural development of the Prophet’s Mosque in Madinah. Those contributions began almost as early as the Abbasid caliphal government had officially emerged as the successor to the Umayyads, and ended with a major rebuilding and renovation work in 887 AH/1482 CE, about 35 years before the ultimate dissolution of the Abbasid regime. The last work was executed by the Mamluk rulers as the Abbasid proxies. The paper focuses on discussing the consequences and implications of a political disintegration during the Abbasid era for the architectural development and serviceability of the mosque. The article concludes that the Abbasid contributions to the architectural development of the Mosque were rather inadequate. The blame is to be attributed partly to the Abbasids themselves and partly to the prevalent circumstances in the state that eventually incapacitated the Abbasid government from performing its entrusted duties and responsibilities. However, even for the creation and fostering of the latter, it was again the Abbasids who more than anybody else are to be held accountable.[Artikel ini membahas peran para khalifah Abbasiyah dalam pengembangan arsitektur Masjid Nabawi di Madinah. Kontribusi mereka dimulai sejak awal pemerintahan Abbasiyah muncul sebagai penerus Umayyah dan berakhir dengan renovasi besar pada 887 H/1482 M, sekitar tiga dasawarsa menjelang berakhirnya pemerintahan Abbasiyah di Mesir. Pekerjaan terakhir dilakukan oleh penguasa Mamluk sebagai wakil Dinasti Abbasiyah. Fokus makalah ini adalah konsekuensi dan implikasi dari disintegrasi politik selama era Abbasiyah terhadap pengembangan arsitektur dan fumgsi Masjid Nabawi. Artikel ini menyimpulkan bahwa kontribusi Dinasti Abbasiyah untuk pengembangan arsitektur Masjid Nabawi kurang memadai, sebagai cerminan ketidakmampuan para khalifah Abbasiyah menjalankan peran, fungsi, dan tanggung jawabnya. Bahkan sebenarnya dalam renovasi yang terakhir pun, orang lain yang bertanggung jawab.]
New Frontiers of The Islamic Studies in Indonesia Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies, Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.ix-x

Abstract

Reorientation of Islamic Studies In Indonesia Editorial, Editorial
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 2 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.422.vii-viii

Abstract

Islamologi Terapan dan Problema Aplikasinya: (Mengkaji Pemikiran Mohammed Arkoun) Baedhowi, Baedhowi
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 1 (2003)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.411.133-152

Abstract

This article is trying to elaborate Arkouns thought on the applied Islamology, which is an effort to evaluated, develop and activates some deficiencies of Western traditional islamology. In Arkouns point of view, the studies of classical islamology are so rigid and inflexible. They tend to restrict their studies on certain and selected works of Islam, so their works are not empirical, unfruitful, could not answer the Muslims need in the contemporary world. Therefore, the applied islamology should leave the shackle of classical episteme of medieval era that is colored by romanticism in the past and develop to toward the modern episteme with the religious anthropological tool. The problem is how to link the methodological and Epistemological gap between Islamic thought that has been cut from its old tradition and the progressive modern thought. To link this gap, according to Arkoun, the bath should be dealt with by applied islamology, i.e., al-turāth (tradition or cultural heritage) and modernity. 
Abuse of Islamic Law and Child Marriage in South-Sulawesi Indonesia Salenda, Kasjim
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 1 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.541.95-121

Abstract

This article examines the prevalence of child marriage in South-Sulawesi Indonesia including people’s perceptions and its factors contributing to child marriage and the use religion to justify their actions. They perceive child marriage as the marriage conducted prior to the age of 16 for woman and of 19 for man as stipulated in the Marriage Law No.1 of 1974, as well as the marriage before ‘akil balig’. Various determinants for child marriage are cultural norms or values of ‘siri’ (shame) for family honour; family prestige and kinship; uneducated parents; economic burden for family and inconsistency in legislation. No religious teachings or Islamic Law clearly support the prevalence of child marriage because the purpose of marriage in Islam is to perform a happy and harmonious relationship among the couple. The use of the Prophet Muhammad’s marriage to Aisha in the age of six as the fundamental basis for child marriage is unjustified.[Tulisan ini membahas kasus-kasus pernikahan anak di Sulawesi Selatan, termasuk persepsi masyarakat dan faktor-faktor pendukungnya diantaranya penggunaan dalil agama (Islam) untuk membenarkan tindakan tersebut. Masyarakat memahami pernikahan anak sebagaimana tercantum dalam UU Pernikahan No. 1 Tahun 1974 bahwa pernikahan anak terjadi pada usia dibawah 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan dan atau mereka yang belum akil balig’. Beberapa factor dominan dalam pernikahan anak antara lain; norma adat lokal (‘siri), kehormatan keluarga dan kerabat, orangtua yang kurang terpelajar, beban ekonomi keluarga dan ketidakkonsisten penegakan peraturan. Pada dasarnya tidak ada ajaran Islam atau fiqih yang secara tegas mendukung pernikahan anak karena tujuan dari pernikahan dalam Islam adalah kebahagiaan dan keharmonisan hubungan antar suami istri. Menggunakan rujukan pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah saat usia enam tahun merupakan perkara yang tidak bisa dibenarkan.]
Cultural and Intellectual Exchange Between the Ottoman Egypt and the Rest of the Arab Muslim World in the Eighteenth - Early Nineteenth Century Kirillina, Svetlana
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 42, No 1 (2004)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2004.421.35-39

Abstract

 Tulisan ini membabas tentang pertukaran kultur dan intelektual yang terjadi di Mesir Usmani dan beberaba bagian dunia Muslim Arab pada abad ke-l8 M -awal abad ke-19 M, yang digambarkan oleh sebagian peneliti sebagai Abad Kegelapan" di mana terjadi "stagnasi", "degradasi"dan "anabiosis" dalam kehidupan sosial di Timur Tengah dan Mesir khususnya. Menarut penulisnya, penggambaran yang menyedihkan dan tanpa harapan tentang masyarakat Mesir itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan atau suatu pendekatan yang terlalu menyederhanakan  persoalan tentang sejarah bangsa Mesir. Padahal selama periode tersebut, telab terjadi hubangan yang intensif di antara Mesir Usmani dan dunia Muslim lainnya. Berlandaskan pada sumber data historis yang berupa kronik-kronik bangsa Mesir Usmani, didukung oleh ringkasan-ringkasan hagiografis dan bibliografs, dapat dibuktikan bahwa telah terjadi pertukaran kultural dan intelektual yang intensif di pusat-pusat pendidikan terkenal di Istanbul, Damaskus, Jerusalem, Tunisia, Algeria, Maroko, Mekkah, Madinah dan Mesir.
Al-Zawāj bayna’l-Adyān wa-Ahammiyat Taqnīnih fī Indonesia Siraj, Ahmad Malthuf
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 50, No 1 (2012)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2012.501.219-238

Abstract

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak mengatur kasus perkawinan antar agama secara jelas dan pasti. Ketiadaan pasal yang mengatur masalah tersebut memaksa pasangan berbeda agama yang akan menikah untuk berpindah ke agama salah satu calon, apakah itu agama yang dipeluk oleh suami atau istri. Ini cukup aneh jika kita melihat prinsip kebebasan beragama yang dipandang sebagai hak asasi dan dijamin melalui UUD. Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan ini menegaskan bahwa perkawinan dipandang sah bila dilaksanakan berdasarkan agama dam keyakinan calon mempelai. Oleh karena itu, semestinya juga ada undang-undang yang mengatur model perkawinan beda agama demi kepastian hukum dalam konteks masyarakat Indonesia yang secara agama sangat majemuk. Tinjauan hukum tentang problematika dan solusi terkait dengan masalah perkawinan beda agama dibahas dalam artikel ini dengan pendekatan multi aspek.
New Horizons of Islamic Studies Through Socio-Cultural Hermeneutics Abdullah, Amin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 1 (2003)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.411.1-24

Abstract

Pemikiran dan sejarah Islam adalah dua dimensi pokok Islam teologis yang telah mendorong munculnya berbagai kekuatan, sikap keagamaan dan ideologis. Akhirnya, Islam mengandung beberapa makna: Islam sebagai teks (naskah) dan teologi/kalam; Islam sebagai pemikiran kemanusiaan, Islam sebagai sejarah, dan Islam sebagai suatu "lembaga". Dengan berbagai pengertian Islam di dalam benak para pengamat sosial keagamaan tersebut, lalu orang sah menyebut atau mengangkat isu bahwa Islam memang "problematik". Dari sinilah bermula muncul pentingnya metode dan pendekatan dalam studi atau kajian keislaman. Metode ini berbeda dengan yang sudah dikembangkan tahun 70-an, karena metode ini lebih menekankan corak pendekatan (approach) berikut kerangka teori yang digunakan. UIN/IAIN/STAIN (Universitas Islam Negeri/Institut Agama Islam Negeri/Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) adalah lembaga akademik yang paling bertanggungjawab di tanah air untuk menjelaskan kepada masyarakat luas dengan menggunakan metode dan pendekatan rnutakhir yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat perkembangan Islam di tanah air dalam hubungannya dengan dunia internasional serta pertemuan dan pertautan keilmuan Islamic Studies dengan ilmu-ilmu lain yang tergambar dalam peta horizon keilmuan Islamic Studies kontemporer, maka fungsi pendidikan pada level Strata satu dan lebih-lebih Pascasarjana Studi Keislaman adalah sangat penting dan strategis.
Lazismu and Remaking the Muhammadiyah’s New Way of Philanthropy Baidhawy, Zakiyuddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.387-412

Abstract

This study is aimed to analyze the new way of philanthropy by special reference to Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah Muhammadiyah (Muhammadiyah Philanthropic Board: hereafter Lazismu); explore the measures taken by Lazismu to promote empowerment and social justice movements by combining charity and entrepreneurship; and understand the motive of the new philanthropy movement initiated by Lazismu. Through the ‘third way’ approach and analysis, this study found that: first, Muhammadiyah, as a non-profit social-religious organization, admits its role as an agent of transformation vis-à-vis the State. Lazismu is able to show its flexibility to adapt to new trends in philanthropy. Lazismu is also able to initiate breakthrough in management of Zakat, Infaq, and Sadaqah and move them beyond charity activities to productive and redistributive activities to promote social justice and equity. Second, Lazismu shows creativity and sophisticated programs exceeding the expectations of muzakki (alms payer), benefactor, and donors. Realization of philanthropy programs developed by Lazismu extends from education development, agriculture development, youth entrepreneurship, and women empowerment, to Masjid based community empowerment. Third, Lazismu combines theology of love, generosity, and voluntarism to produce transformative philanthropy that is successful to alter charity oriented generosity to creative and innovative good deeds.[Kajian ini dimaksudkan untuk melihat model filantropi baru pada Lazismu (Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah Muhammadiyah); mengungkapkan langkah-langkah yang diambil oleh Lazismu untuk melakukan pemberdayaan dan keadilan sosial; dan untuk memahami tujuan filantropi baru yang digagas oleh Lazismu. Menggunakan pendekatan dan analisis “Jalan Ketiga”, makalah ini menemukan bahwa Muhammadiyah,  sebagai organisasi non-profit, mengakui perannya sebagai agen perubahan vis-a-vis Negara. Lazismu mampu menujukkan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan mode-mode filantropi baru. Lazismu juga mampu menemukan terobosan-terobosan dalam manajemen zakat, infak, dan sedekah. Lazismu mengelolanya dari sekedar kegiatan kedermawanan menjadi kegiatan-kegiatan produktif dan redistributif untuk mewujdukan kesetaraan dan keadilan sosial. Kedua, Lazismu menunjukkan kreatifitas dan program-program canggih melampaui harapan muzakki, donor, dan penerima. Wujud program filantropi yang dikembangkan oleh Lazismu meliputi pengembangan pendidikan, pembangunan pertanian, kewirausahaan pemuda, dan pemberdayaan perempuan, sampai dengan pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Ketiga, Lazismu mengkombinasikan teologi kasih, kebajikan, dan kerelawanan, untuk mewujudkan filantropi transformatif yang berhasil mengubah kebajikan berorientasi amal menjadi program-program kreatif dan inovatif.]
The Historiography of Islamic Law: The Case of Tārīkh al-Tashrī‘ Literature Maftuhin, Arif
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 54, No 2 (2016)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2016.542.369-391

Abstract

Tārīkh al-Tashrī‘ (the history of sharia affairs) is a relatively new genre of Islamic historiography and very popular among students of Islamic Law. Despite its popularity, academics of Islamic historiography seem not interested in studying it. There is hardly any academic paper seriously studied the literature. This paper is a first effort to explore the Tārīkhu’t-tashrī‘ literature through a historiographical analysis. As an initial exploration, it argues that Tārīkh al-Tashrī‘ is the latest development of Islamic historiography, developed in the 19th century, but it is a genre of the old Islamic historiography with some new elements. The new elements are influenced by both modern Western historiography and the need to re-open the supposedly closed gate of ijtihād. The paper studied books of Tārīkh al-Tashrī‘ available during the research between 2013-2015. [Tārīkh al-Tashrī‘ adalah genre yang relatif ‘baru’ dalam matarantai perkembangan historiografi Islam­. Literatur ini sangat popular dan menjadi mata kuliah wajib di fakultas-fakultas Syariah di Indonesia maupun Timur Tengah. Hanya saja, meskipun ia sangat populer sebagai mata pelajaran, Tārīkh al-Tashrī‘ belum banyak menarik minat para peneliti historiografi. Makalah in berusaha mengeksplorasi literatur Tārīkh al-Tashrī‘ dengan pendekatan historiografi. Makalah ini berpendapat bahwa Tārīkh al-Tashrī‘, meski terlihat ‘modern’ dari segi kelahirannya, tidak banyak berbeda dengan literatur historiografi klasik. Perbedaan terjadi karena adanya pengaruh historiografi Barat dalam model penulisannya dan karena kebutuhan untuk membuka kembali pintu ijtihad yang tertutup. Kajian dilakukan terhadap kitab-kitab Tārīkh al-Tashrī‘ yang dapat ditemukan selama riset antara 2013-2015 ]

Page 34 of 123 | Total Record : 1223


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue