cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
India Abad 16 dan 17 (Tinjauan Tentang Ke-beragam-an dalam Beragama) Alef Theria Wasim Theria Wasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.27-35

Abstract

Sebagaimana diketahui bahwa di India pada abad 16 dan 17 terdapat budaya dan agama yang sangat beragam. Walaupun terdapat penganut agama Yahudi di selatan, Zoroaster dari Persia di barat Laut, sekte Jain di Gujarat, Sikh di Amritsar, keberadaan dua agama yaitu Hindu dan Islam hamper meliputi seluruh Kawasan india. Khusus agama hindu sangat banyak ragam dan varian-nya dan hampir setiap kasta terdapat bentuk peribadatan dengan dewa-dewanya masing-masing. Begitu pula dikalangan Islam  di India terdapat penganut agama Islam yang bervarian dan beragam corak dan penghayatan agama mereka.Keadaan sangat beragam ini mendapat perhatian pengasa pada waktu itu yang berusaha untuk mempersatukan budaya dan agama di India. Salah seorang tokoh yang sangatterkenal adalah akbar (1556-1605) yang berusaha mengampuh dan  mengembangkan pemaduan budaya dan agama di India terutama Hindu dan Islam. Langkah dan usaha akbar ini kemudian dilanjutkan oleh para penggantinya yaitu Jahangir (Salim, 1605-1627), shah Jahān (1628-1658) saatmana policy Akbar mencapai puncaknya. Sudah wajar kalua gaya dan cara masing-masing penerus ini juga mempunyai persamaan dan perbedaan. Langkah dan usaha Akbar dan para penerusnya tersebut ada yang dapat terbaca dalam beberapa karya Dārā Shikōh yang akan dikemukakan dalam bagian tulisan ini. Tentang India dapatlah dikatakan bahwa di India abad 16 dan 17 telah berakar kuat ke-beragam-an agama yang dari sisi budaya-agama barangkali dapat diungkapkan dengan “sinkretisme” dan “sintetisme”. Dalam kesempatan ini akan dicoba untuk mengemukakan apa yang terjadi secara budaya-agama di Inia abad dimaksud dengan berangkat sambil memperhatikan karya Dārā Shikōh.
Dimansi Kebermaknaan dan Kearifan dalam Proses Receptionlearning dan Learning by Discovery Sugeng Sugiono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 40 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.040.60-68

Abstract

Pembaharuan dalam dunia pendidikan pada dewasa ini mencakup berbagai bidang aktivitas, rencana, metode serta merintis cara-cara baru sebagai langkah optimalisasi sistem non-verbal dan cara memanipulasi pengalaman belajar-mengajar di dalam maupun di luar kelas. Penekanan bidang pendidikan selanjutnya diletakkan pada metode belajar self discovery (menemukan secara mandiri) maupun belajar untuk problem solving (memecahkan masalah) di samping itu berkembang pula ketidakpuasan terhadap tehnik-tehnik belajar-mengajar yang hanya mengandalkan instruksi verbal saja. Teori dalam bidang pendidikan dewasa ini semakin cenderung untuk menerima asumsi-asumsi sebagai berikut: (a) Berbagai generalisasi yang disajikan kepada para siswa/mahasiswa tidak lain merupakan suatu bentuk produk dari suatu aktivitas problem-solving, dan  (b) Semua usaha untuk menguasai konsep-konsep dan proposisi-proposisi verbal tidak lain hanyalah merupakan belajar yang tak bermakna, kecuali bila siswa/mahasiswa telah memiliki pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh konstruksi verbal tersebut. Satu alasan yang dirasa cukup logis bagi sebab kegagalan dalam sistem  expository-teaching (pengajaran terbuka) dalam bentuk verbal adalah kenyataan masih banyaknya materi pokok bermakna yang disampaikan dengan menggunakan bentuk rote-learning (hafalan). Adapun alasan bahwa generalisasi konsep verbal diamati sebagai produk problem-solving maupun tehnik belajar menemukan sebelumnya adalah timbul dari teori belajar modern sebagai berikut: (a) Adanya kecenderungan para ahli psikologi pendidikan untuk menyamaratakan berbagai jenis dan kualitas proses belajar dalam satu model pengajaran sehingga semakin mengkaburkan perbedaan yang mendasar antara reception-learning (belajar secara reseptif) dengan learning by discovery (belajar menemukan) maupun antara belajar hapalan dengan belajar bermakna.  (b) Belum terdapatnya teori yang mapan tentang belajar verbal yang bermakna dan kecenderungan para ahli psikologi untuk menginterpretasikan belajar terhadap suatu materi, memerlukan waktu yang lama dan berdasar pada konsep yang sama. Oleh karena itu perlu digaris bawahi perbedaan antara belajar reseptif dengan  belajar menemukan dan antara belajar dengan hapalan dan belajar bermakna. Membedakan antara "reception" dan "discovery" dalam belajar itu penting, oleh karena pada umumnya pemahaman yang diperoleh siswa/mahasiswa di dalam maupun di luar kelas adalah dari "penyampaian" dan bukan dari yang "ditemukan". Karena materi/bahan pelajaran itu kebanyakan disampaikan secara verbal, maka semakin penting artinya untuk menilai peran belajar reseptif sebagai yang kita sebut dengan istilah "reception-learning" yang pada dasarnya tidaklah mesti dengan ciri hapalan, namun dapat juga dalam bentuk belajar bermakna (meaningful) tanpa harus didahului oleh pengalaman non-verbal dan problem solving. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi serta input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam meluruskan persepsi kita terhadap peran dan fungsi belajar reseptif melalui sistem pengajaran verbal dan langsung (directl).
Dalam Mengoperasionalkan Pendekatan ini, Metode Tafsir yang Tibyān fi Ma’rifat al-Adyān (Suntingan Teks, Karya Intelektual Muslim, dan Karya Sejarah Agama-agama Abad ke-17) Alef Theriab Wasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.215-221

Abstract

Disertasi ini mengambil objek salah satu karya sastra kitab abad ke-l7 yang berjudul Tibyān fi Ma’rifat al-Adyān.Karya ini ditulis oleh Nūru ‘I-Dīn selaku penasihat dan atas perintah sulṭanah Ṣafiatu ‘l-Dīn syah. Nūru 'l-Dīn adalah ulama besar pada masanya dengan latar belakang lingkungan yang sangat luas : India tempat ia dilahirkan, Mekah tempat ia tumbuh, dewasa, memperoleh pendidikan, dan memperdalam ilmu pengetahuan, dan, Melayu serta Aceh tempat ia menjadi matang, melakukan darma bakti, dan mengajarkan ilmunya. sebagai akibat berkembangnya dan tersebarnya agama Islam, dunia Islam dari segi geopolities dan pemahaman serta penghayatan keagamaan dapat dikatakan terpilah-pilah. Nūru 'l-Dīn  hidup dalam suatu masyarakat yang pluralis, baik dalam agama, etnis, budaya, pemikiran, maupun dalam pengalaman serta penghayatan keagamaan. Beberapa karya pemikiran dan penghayatan keagamaan dari intelektual muslim telah muncul di India sebelum abad ke-17. pemikiran, pengalaman, dan penghayatan keagamaan dimaksud diduga ada kaitannya dengan pandangan dan pemikiran keagamaan dalam Tibyān fi Ma’rifat al-Adyān. Nūru 'l-Dīn belajar dari berbagai ulama Mekah. Dengan sendirinya ia hidup dalam jaringan ulama-ulama besar yang berasal dari berbagai negara, termasuk India, Melayu, dan Indonesia (Jawi). Sebelum datang di Aceh ia telah mengenal masyarakat Melayu atau Jawi di koloni-koloni yang ada di Mekah. Di India, ia hidup dalam lingkungan masyarakat yang pluralis. India merupakan wilayah tumbuh dan semaraknya sekte-sekte keagamaan yang bervarian; di antaranya agama yang tergolong primitif (animisme, dinamisme, magis), agama dualis (Majusi, Zoroaster), agama-agama etnis, dan agama yang dianut pada masanya (Buddha, Hindu, Yahudi, Kristen, dan Islam).
Tafsir Al-Manar (Antara al-Syaikh Muhammad ‘Abduh dan al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla) A. Malik Madany
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.63-81

Abstract

Di antara nama-nama kitab tafsir al-Quran yang muncul di abad keduapuluh ini, nama al-Manar berada pada deretan pertama, baik dalam hal popularitas tokoh penulisnya, maupun dalam hal kualitas isi yang dikandungnya. Dalam kaitannya dengan nama-nama tokoh yang berperan dalam kemunculan kitab Tafsir al-Manar ini, al-Syaikh Muhammad al-Fadlil ibn 'Asyur menyebut 3 (tiga) buah nama. Pertama: al-Sayyid Jamal al-Din al-Afghaniy (1839-1897) yang merupakan tokoh pencetus ide keharusan adanya perbaikan masyarakat Islam, dengan jalan membawa umat Islam untuk kembali kepada sumber ajaran agama yang murni. Kedua: al-Syaikh Muhammad 'Abduh (1849-1905) sebagai tokoh yang secara langsung melakukan penafsiran al-Quran al-Karim sebagai sumber pertama dan utama ajaran Islam, dalam rangka merealisir ide yang telah dicanangkan oleh tokoh pertama. Ketiga: al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla (1865-1935) sebagai tokoh pendamping dan penerus tokoh kedua dalam melestarikan dan mengembangkan usaha penafsiran al-Quran dimaksud. Mengingat kenyataan bahwa ketiga nama tokoh di atas merupakan nama-nama yang sudah sangat dikenal, dan jarak waktu antara kita dengan mereka relatif tidak begitu jauh, maka makalah ini sengaja tidak mengupas seluk-beluk riwayat hidup mereka. Yang penting untuk dibahas dalam makalah ini ialah kepastian tentang siapakah sebenarnya penyusun kitab Tafsir al-Manar ini. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan masih seringnya terjadi kekaburan di sekitar masalah dimaksud. Ungkapan yang berbunyi: Ta'lif al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridla Munsyi' Majallah al-Manar, yang menghiasi setiap halaman judul dari masing-masing juz al-Manar, sepintas lalu dapat menimbulkan kesan bagi sementara orang bahwa Rasyid Ridlalah penyusun dan pemilik ide penafsiran al-Manar; padahal --seperti telah disinggung sebelumnya-- Rasyid Ridla merupakan pendamping dan penerus ide penafsiran Muhammad 'Abduh. Demikian pula sebaliknya --seperti ditulis oleh A. Mahmud Syihatah-­ tidak sedikit ilmuwan yang menisbatkan al-Manar seluruhnya kepada Muhammad 'Abduh. Kekeliruan terakhir ini di samping dilakukan oleh beberapa ilmuwan Arab sendiri, juga dilakukan oleh orientalis terkemuka, Ignaz Goldziher dalam karya monumentalnya, Richtungen der Islamischen Koranauslegung, yang telah dua kali diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Mengingat adanya kesimpangsiuran diantara nama Muhammad 'Abduh dan Rasyid Ridla dalam kaitannya dengan penyusunan kitab Tafsir al-Manar ini, maka pembahasan makalah ini juga diarahkan pada beberapa masalah yang berkaitan dengan penafsiran kedua tokoh tersebut, baik dalam hal saham masing-masing, maupun dalam hal ciri-ciri khas yang menonjol dari penafsirannya.
The Multifaced Politics: A Study on Polarization of Political Behavior of Tarekat Community in West Sumatera, Indonesia Welhendri Azwar; Muliono Muliono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 2 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.602.315-346

Abstract

Tuanku as a leader of Tarekat community is a charismatic figure who plays significant socio-political roles. He is still placed as source of "fatwa" to political choice of the community. This study is used descriptive-phenomenological methods. To understand the meaning of Tarekat community towards to various socio-political activities and patterns of social relations between Tarekat community with society, researchers conducted a focus group discussions and in-depth interviews with the Tarekat community. Observations were carried out to pay attention both political behavior of Tarekat community and socio-political dynamic of the society related to the religious teachings and understandings where Tarekat activities are practiced. This study elucidates facts; first, the political behavior of Tarekat community in West Sumatra revealed a strong influence the relations between teacher and student on political choices of Tarekat community and showed the diversity typologies of Tarekat political behavior. Second, in the context of understanding religious struggle of Tarekat in the midst of socio-political dynamics in West Sumatra, Tarekat community consistently develop lithe and flexible behaviors and activities in socio-politic. This study is important to understand the political behavior of Tarekat community in the vortex of political identity in the political dynamics that occur, and always change.[Tuanku sebagai pimpinan kaum Tarekat merupakan sosok karismatik yang memainkan peran-peran sosial-politiknya secara signifikan. Ia masih ditempatkan sebagai sumber “fatwa” untuk pilihan politik masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-fenomenologi. Untuk memahami makna (meaning) kaum Tarekat terhadap berbagai aktivitas sosial-politik dan corak hubungan sosial kaum Tarekat dengan masyarakat, peneliti melakukan focus group discussion dan wawancara mendalam (indepth interview) kepada kaum Tarekat. Observasi dilakukan untuk memperhatikan perilaku politik kaum Tarekat dan keadaan sosial politik masyarakat yang berkaitan dengan ajaran dan paham keagamaan Tarekat dimana aktivitas Tarekat dipraktekkan. Kajian ini menguraikan fakta bahwa;  pertama, perilaku politik kaum Tarekat di Sumatera Barat menampakkan wujud pengaruh kuat hubungan guru-murid terhadap pilihan politik kaum Tarekat dan memperlihatkan keragaman dinamis tipologi perilaku politik kaum Tarekat. Kedua, dalam konteks pergumulan paham keagamaan kaum Tarekat di tengah dinamika sosial politik di Sumatera Barat, kaum Tarekat konsisten mengembangkan perilaku dan aktivitas sosial-politik yang lentur dan fleksibel. Kajian ini menarik dan berguna memahami perilaku politik kauam Tarekat ditengah pusaran politik identitas dalam dinamika politik yang terjadi, dan senantiasa berubah.]
“Aku” dalam Budaya Jawa Mohammad Damami
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.121-133

Abstract

Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki nivo tertinggi: ia disebut human. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah  karena hanya manusia saja yang benar-benar menyadari terhadap “aku”-nya dan yang benar-benar ingin mengetahui secara total “aku”-nya sendiri itu. Mengapa manusia senantiasa “menyadari” dan “ingin mengetahui” secara itu? Karena hanya manusia saja yang merasa senantiasa berharap dengan diri sendiri dalam dunianya, demikian menurut N. Driijakara, S.J. Penyadaran dan pengetahuan terhadap diri sendiri, bagi manusia, sangat bermakna bagi kehidupan mereka. Kata Soedjatmoko, “ada atau tidaknya keberanian hidup, ketabahan dalam menghadapi rintangan, inisiatif dan kreativitas seseorang, dan ada atau tidaknya tekad pada suatu bangsa untuk maju dan sekaligus menangani masalah kemiskinan masal, serta ketidakadilan masyarakatnya, sangat ditentukan oleh konsepsi tentang aku ini. 
Aspek Epistemologis Filsafat Islam M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.9-22

Abstract

Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya? (2) Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apakah ada dunia yang benar­benar di luar pikiran kita, dan kalau ada, apakah kita dapat mengetahuinya? Ini adalah persoalan tentang apa yang kelihatan (phenomena/ appearance) versus hakekat (noumena/essence). (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah soal tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi. Secara garis besar, ada dua aliran pokok dalam epistemologi. Pertama, adalah idealism atau lebih populer dengan sebutan rasionalism, yaitu suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran 'akal', 'idea', 'category', 'form' sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran panca indera dinomor duakan. Sedang aliran yang kedua adalah realism atau empiricism yang lebih menekankan peran 'indera' (sentuhan, penglihatan, penciuman, pencicipan, pendengaran) sebagai sumber sekaligus sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomor duakan. Kedua (atau ketiga) ini saling bersiteguh mempertahankan keyakinan masing-masing, yang kadang-kadang sangat eksklusif, sehingga para pengamat yang datang belakangan dapat melihat secara jelas di mana letak kelemahan dan kekuatan argumen masing-masing.
Penafsiran Sejarah Secara Psikoanalisa Tinjauan Terhadap Karya Benjamin B. Wolman (Ed). The Psychoanalitic Intepretation of History (London: Harper Torchbooks, 1971) Munir Umar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 41 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.041.1-30

Abstract

Dalam hubungan psikologi modem dengan sejarah secara sepihak arus pengaruhnya lebih kuat dari pada arus-arus lainnya. Demikianlah, seorang yang melakukan analisa terhadap karyanya dapat memanfaatkan pengetahuan sejarah, hanya dengan suatu pengertian budaya yang luas, sebagaimana biasa dengan memanfaatkan kesusasteraan, agama dan seni. Dari segi lain, ahli sejarah akan mengingkari atau gagal untuk mendapatkan dukungan dari psikologi, hanya karena resikonya sendiri. Secara mendasar missinya tidak hanya menampilkan fakta-fakta mengenai manusia pada masa silam, tetapi juga untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam mengenai tujuan-tujuan. dan reaksi-reaksi manusia di dalam situasi yang beraneka ragam. Demikian kata pengantar William L. Langei yang pernah menjadi guru besar sejarah di universitas Harvard terhadap buku The Psychoanalytic Interpretation of History yang dikumpulkan dan disunting oleh Benjamin B. Wolman, guru besar psikologi universitas Long Island. Selanjutnya guru besar yang juga seorang penulis sejumlah buku dan artikel mengenai sejarah diplomasi dan hubungan internasionai itu menyatakan bahwa nilat pengajaran psikoanalisa di dalam penulisan biografi sudah lama dikenal dan diakui, khususnya biografi yang berhubungan dengan bidang kesusasteraan dan seni, yang sekarang mendapat sambutan baik dari para ahli sejarah. Perjuangan panjang untuk mengembangkan bidang penelitian sejarah melampaui batas-batas bidang militer dan politik untuk memasukkan faktor­faktor sosial, ekonomi dan intelektual telah mencapai hasil yang baik. Banyak ahli sejarah terutama sarjana-sarjana yang masih muda, dewasa ini melihat perlunya untuk memperdalam pengertian mereka terhadap masa silam dengan melakukan analisa yang lebih teliti mengenai tindakan seseorang atau masyarakat. Pada suatu waktu sudah menjadi kebiasaan untuk mengecilkan arti biografi sejanih, dengan alasan bahwa tokoh-tokoh terkemuka pun telah melakukan kekerasan-kekerasan di luar batas kemanusiaan dan menyimpang dari pengertian manusia. Keadaan seperti ini sudah ditinggalkan, karena pernah terjadi pada suatu masa yang nampak pada diri Lenin, Stalin dan Hitler. Apabila para ahli sejarah ingin memahami peristiwa-peristiwa di dunia dengan segala corak dan gejolaknya apakah pada masa silam atau pada masa sekarang, maka ahli-ahli sejarah sangat membutuhkan bantuan disiplin ilmu-ilmu penunjang tidak saja ilmu-ilmu ekonomi, geografi, demografi dan sebagainya tetapi juga ilmu-ilmu lain, khususnya psikoanalisa.
The Concept of Madhab and the Question of Its Boundary Qodari A. Azizy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.77-92

Abstract

Apakah suatu madhhab itu bagaikan sebuah kumpulan hukum Islam seperti Kitab Undang-undang Hukum Pidana (Perdata). Sehingga pengikut madhhab tersebut tinggal mengambil hukum tertentu dari Kumpulan hukum Islam tersebut sesuai dengan yang diperlukanva? Tentu jawabannya, pada mulanya atau pada dasanya tidak demikian. Sejak awal - katakanlah .sejak masa ṣahāba - ulama berijtihād (berpikir bebas). Hasil iithad itulah yang kemudian kita kenal dengan nama hukum Islam. Sudah barang tentu di.sana ada (dalam jumlah yang tidak begitu banyak) ketentuan-ketentuan yang rinci tentang hukum lslant yang sudah disebutkan di dalam al-Qur’an maupun Ḥadīth.. Pada masa ṣaḥāba dan tābi'īn simbul kedaerahan untuk menyebutkan suatu madbhab belumlah muncul. Pemikiran hukum Islam selalu dinisbatkan kepada nama pribadi dari para tokoh itu. Umpamanya, pendapat 'Umar b. al-Khaṭṭab, 'Ā'ishā, Zavd b.Thābit, Ibn 'Umar Sa'īd b. al-Musayyab, dll. Baru pada zaman tābi'ūn kecil, terutama sekali generasi Abu Hanifa, Ibn Abī Laylā, Mālik dan al-Awzāī, nama madhhab yang dinisbatkan pada daerah itu terwujud; vakni madhhab yang disebut oleh Joseph Schacht dengan nama ancient school of law, dan oleh Aḥmad Ḥasan dengan sebutan early schools of law. Maka muncullah nama abl al-'lrāq, ahl al-Madīna, dan ahl-Shām. Pada masa ini juga terbiasa mengunggulkan sebagai ulama melebihi yang lainnya. Sebutan madbhab kedaerahan ini dipakai oleh al-Shaybānī di dalam beberapa tulisannya, antara lain al-Siyar al-Kabīr dan Kitab al-Ḥujja 'alā Ahl al-Madīna, dan oleh al-Shāfi'i di dalam al-Ummnya, disamping yang lainnya. Sejak gerakan yang dilancarkan oleh al-Syāfi'i, nama kedaerahan mulai memudar dan berganti dengan nama perorangan. Maka pada waktu madbhab muncul dalam bentuknya yang baru, kini nama perorangan menjadi sebutan madbhab tersebut, seperti madbhab Ḥanafi yang dinisbatkan kepada Abū Ḥanifa, madhhab Māliki yang dinisbatkan kepada Malik b. Anas, madbhab Shāfi'i yang dinisbatkan kepada Muḥammad b. Idrīs al- Shāfi'i, dan madbhab Ḥanbalī yang dinisbatkan kepada Ahmad b. Ḥanbal. Baik di dalam madhhab atas dasar nama kedaerahan atau nama perorangan. pendapat pribadi tetap muncul dan berkembang. Akibatnya, perbedaan pendapat di kalangan ahli fiqh (ikhtiāf al-fuqahā'), baik intern madbhab maupun antar satu madhhab dengan madbhab yang lain sangat subur. Bahkan perbedaan dengan Imam “pendiri” madhhabnya pun bisa diterima. Murid-murid besar dari Imam madhhab tersebut banyak yang mempunyai perbedaan pendapat dengan imam mereka. Contohnya, Abū Yūsuf dan Muḥammad b. al-Ḥasan al-Shaybānī banyak mempunyai perbedaan pendapat dengan Abū Ḥanīfa. Beberapa murid al-Shāfi’ī, seperti al-Muzanī dan al-Buwayṭī mempunyai perbedaan pendapat dengan imam al-Shāfi’ī dan begitu pula yang lain. Bahkan ulama generasi berikutnyapun mempunyai hak untuk berbeda pendapat dengan gurunya dan dengan imam pendiri madhhab mereka. Abu Ja’far al-Taḥāwīmempunyai perbedaan pendapat dengan Abū Ḥanīfa, al-Juwaynī dan juga al-Ghazālī bukan saja berbeda satu sama lain untuk beberapa kasus namun mereka juga mempunyai perbedaan pendapat dengan imam al-Shāfi’ī. Perbedaan pendapat tersebut tidak hanya didalam wilayah fiqh, namun juga didalam wilayah uṣūl al-fiqh. Dalam waktu bersamaan konsep electicism (mengambil pendapat dari pengikut madhhab lain. Bisa disebut sebagai talfīq dengan cara landasan pemikiran yang mendalam berjalan dihampir semua pengikut madhhab. Lebih dari itu, istilah mujtahid muṭlaq juga terkadang diklaim oleh ulama yang jauh masanya dengan pendiri madhhab, seperti al-suyuṭi yang wafat tahun 911-1505 juga mengeklaim dirinya sebagai mujtahid muṭlaq sementara itu, al-Shāfi’ī dikenal melarang murid-muridnya untuk menisbatkan ilmu yang diberikan kepada mereka sebagai ilmu milik al- Shāfi’ī. Dan al-Shāfi’ī juga melarang murid-muridnya untuk bertaqlīd kepadanya atau kepada orang lain, sebagaimana ditegaskan jelas sekali oleh al-Muzanī di dalam pendahuluan kitab Mukhtasarnya. Oleh karena itu wajar kalua masih saja dimunculkan pertanyaan tentang konsep madhhab dan batas-batasnya, yang pada hakikatnya tidak seperti yang digambarkan kebanyakan orang sebagai hal kaku dan tanpa kompromi. Namun dalam kenyataannya selalu berkembang dan electicism. Atau bisa dikatakan bahwa konsep madbhab seperti yang selama ini dipahami oleh umum perlu diredifinisi.
Colonial Educational Policy & Muhammadiyah’s Education (Analitical History Muhammadiyah in Yogyakarta 1912-1942) Yahdan Ibnu Human Saleh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 47 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.047.66-89

Abstract

This research takes object of Muhammadiyah Educational Development on the Islamic Village in Yogyakarta 1912-1942. Muhammadiyah was an Islamic Missionary Organization and movement founded on November 18, 1912 by kyai Haji Ahmad Dahlan at Yogyakarta. It had aim to spread of the true and genuine teaching of Islam among the population and especially among its members. If the various kinds of an economic, Social, Political, as well as cultural aspects were the whole process of growth of Indonesian Nationalism, Muhammadiyah, for the reason, could be said had the goal or value orientation. Because it could be considered as the Muslim, Social, educational and religious movement possessed the goal to attain away of life free from colonialism. In a colonialism situation nationalism might be seen as a social and moral force which had and orientation to wards the future. In the main while, Muhammadiyah might be understood as a group action or collective activity to face a condition of backwardness by responding according to its position. This organization fashioned nationalism by constituting and influential moral force, that tried to moralize all developments in the society, without any political ambition whatever, as a response to political, cultural and social conditions. Some social changes introduced in 1912-1942 with a formal and non-formal education system were adopted of the methods of the west, which were practiced in other activities. For these purpose, under the first four period charismatic had been set up and dedicated for the people’s welfare and progress. The social contribution given by Muhammadiyah in the field of social welfare from (1912-1942) were: bureaucratization as the process of rationalizing organization, the establishment of the new system of educational institution (1912, 1920, 1921, 1926, 1934, 1937), form of scout movement hizb al-wathan (1918), to educate young generation, the founding of hospital and clinic (1923) and orphanage (1925) among the Indonesian in general, and Muslim in particular, which were not only in backwardness, but also in weakest condition socially, economically and politically, suppressed by Duch colonialism. Muhammadiyah emphasized the importance of schools as means of education in both general and religious subjects. The combination of the two kinds of education so that became typical in all Muhammadiyah schools, from kindergartens to senior high schools. The school established by Muhammadiyah had been most beneficial to the Indonesian people, particularly in the Dutch Colonial rule when schools were rare. Colonial educational policy was only to supply skilled and semi-skilled laborers for industries and plantation owned by the Dutch and to fill jobs and lower government officials. It was not possible the Dutch policy to emancipate the Indonesian people from the backwardness and therefor the number of public school was kept as low as possible.

Page 97 of 122 | Total Record : 1211


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue