Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles
1,211 Documents
Sufi dan Penguasa Perilaku politik kaum tarekat di Priangan abad XIX-XX
Dudung Abdurrahman
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1994.550.35-52
Para ahli memberikao indikasi bahwa Islam yang tersebar untuk pertama kalinya di Indonesia adalah bercorak sufistik. Di antara mereka misalnya A.H. Johns, seorang ahli filologi Australia menyatakan bahwa agama ini menyebar berkat usaha para penyiar ajaran tasawuf yang telah menjadi anggota sesuatu ordo tarekat; mereka adaJah musafir-musafir dari Bagdad setelah kota itu diserbu tentara Mongol pada tahun 1258 (Koentjaraningrat, 1984:53). Hal ini dapatlah dipahami karena tasawuf ketika itu merupakan corak keagamaan yang dominan di dunia Islam. Di samping itujuga perkembangan tasawuf tidak lagi merupakan gerakan individual dari elit-elit kerohanian, melainkao ia telah berkembang dalam bermacam-macam aliran tarekat yang ratusan jumlahnya. Melalui gerakan inilah tasawuf bisa bersifat kolektif dan dapat dijalankan oleh segala lapisan termasuk orang-orang awam, karena tarekat tampak lebih mengutamakan aspek praktis dari ajaran-ajaran tarekat itu. Seiring dengan islamisasi itu, sejarah Indonesia pun telah mencatat begitu banyak sumbangan yang telah diberikan oleh kaum tarekat terutama berupa saham budaya dalam proses panjang difusi Islam di tanah air. Bila pada abad-abad pertama dalam proses tersebut terpusat di kota-kota pesisir, maka pada akhir abad XVIII para guru tarekat mulai memasuki daerah pedesaan. Mereka membangun pesantren dan mengajarkao ajaran agama yang pragmatikal kepada para petani. Melalui cara seperti ini Islam dapat berkembang daJam suasana dialog dan integrasi, sehingga ia tampil sebagai pengisi kevacuman budaya akibat jatuhnya kerajaan-kerajaan lokal Hindu dan penetrasi Belanda yang sangat kuat. Demikian pesatnya pengaruh tarekat, bahkan pada akhir abad XIX para penganutnya telah mengambil peran politik yang sangat pentiog dalam gerakan-gerakan rakyat, khususnya di pulau Jawa.
Peran Cendikiawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina Pendekatan Sejarah
Umar Asasuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 51 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1993.051.1-20
Sebetulnya Palestina pada mulanya memang merupakan tanah air bagi bangsa Israel yaitu dari 1000 SM - 135 M. ada tahun 1000 SM Nabi Daud a.s. bersama dengan raja Thalut (lihat Al-Qur'an 2:246-251) dapat mengalahkan bangsa Ammonit (Amaliqah) dan Philistine (rakyat yang suka berperang di Palestina) dari negeri Palestina. Setelah kemenangan itu maka Daud a.s. bersama dengan keturunannya menjadi raja di sana. Dalam rentang waktu yang lama itu (1000 SM - 135 M) negeri Palestina pernah berada di bawah kerajaan Achaemanid Persia (539 SM - 330 SM. Kira-kira dua abad sebelumnya negeri itu berada di bawah kerajaan Assyria dan Babilonia. Nebuchadrezzar dari Babilonia menguasai Suriah dan Palestina tahun 598 SM. Setelah itu selama ±300 tahun Palestina berada di bawah dinasti Ptolemy dari Mesir dan dinasti Seleucid dari Asia Kecil bagian barat. Kira-kira tahun 100 SM Roma muncul dalam arena percaturan politik. Pompey yang Agung yang baru saja menaklukkan kerajaan Seleucid, juga mengatur situasi di Palestina (63 SM). Tahun 66 M timbul huruhara oleh orang-orang Yahudi, namun tahun 67 M Vespasian, raja yang akan datang, dengan anaknya Titus, datang dengan kekuatan kira-kira 60.000 orang dan peperangan bertambah menjadi. Menjelang akhir tahun 67 Galillee direbut, dan Judea diambil dalam tiga kali pertempuran yang berakhir dengan kejatuhan Jerusalem tahun 70 M. Palestina sekarang menjadi provinsi Judea (nama bagian yang dipakai untuk keseluruhan).
Hakekat Inti Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Qashash: 88 Surat Al-Nisā’: 122
Mohammad Mastury
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 43 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1990.043.52-63
Penelitian ini adalah penelitian dari aspek filsafat, bukan penelitian untuk mengembangkan ilmu Tafsir al-Qur'an, jadi bukan penelitian tafsir al-Qur'an. Sekalipun demikian data dari berbagai Tafsir al-Qur'an amat diperlukan sebagai bahan pertimbangan guna bahan interpretasi kefilsafatan. Penelitian ini adalah penelitian agama yang obyeknya adalah teks agama. Teks agama yang diteliti adalah al-Qur'an, oleh karena itu kritik intern dan kritik extern tidak diperlukan lagi, karena tidak menghasilkan harapan peneliti. Peneliti mengajukan gagasan model lain yaitu krtik posilif. Kritik positif adalah suatu usaha untuk memahami apa yang tersurat dan apa yang tersirat di dalam teks itu; ini berarti berusaha untuk memahami apa yang tersirat itu dengan mereflelsi inti dari berbagai tafsir yang memiliki nilai-nilai kefilsafatan dan karya filsafat kontempoer yang bermunculan membahas tentang Tuhan. Dengan demikian melibatkan suatu usaha untuk melakukan reduksi kefilsafatan yaitu berusaha menyaring dan memahami serta menempatkan pada suatu prinsip yang proporsional, pada posisi Necessity Being (Wājib al-Wujūd) dan contingency being (mumkin al-wujūd). Tujuan reduksi kefilsafatan itu untuk berusaha menemukan prinsip-prinsip yang esensial, dan pola pemikiran filsafatnya atas dasar kefilsafatan yang teistik.
Sarekat Islam: Its Rise, Peak and Fall
Latiful Khuluq
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.246-272
Artikel ini menelusuri perkembangan Sarekat Islam, gerakan nasionalisme awal terbgsar di lndonesia, dari Sejak kelahiran, perkembangan, kejayaan sampai kemundurannya. Kelahiran organisasi ini disebabkan oleh Berbagai fakror. Persaingan ekonomi antara pribumi dengan pengusaha Tionghoa dengan kekalahan di pihak pertama merupakan penyebab utama kelahiran organisasi ini. Hal ini nampak dari nama awal Sarekat Islam (SI) yaitu Sarekat Dagang Islam yang mencerminkan bahwa kepedulian utama organisasi ini adalah perdagangan terbukti dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan pada masa pembentukan ini. Samanhudi (1868-1956) yang mengalami langsung dominasi pedagangTionghoa yang memdnopoli bahan-bahan mentah pembuatan batik tampil sebagai orang pertama Yang menghimpun kekuatan pedagang pribumi ibantu oleh Raden Mas Tirtoadisuryo, yang selain berpengalaman sebagai manajer perdagangan juga sebagai wartawan, organisasi ini berkembang dengan pesat. ketika organisasi ini melebar ke Surabaya, Oemar Said Tjokroaminoto, yang juga pegawai sebuah firma dan lulusan sekolah Belanda untuk mempersipkan para pegawai pemerintah tingkat rendah (OSVIA), menjadi salah seorang yang menonjol di organisasi ini dan popularitasnya tenrs meroket ke tingkat nasional sehingga menjadi pemimpin puncak organisasi ini. Dibawah kepemimpinan Tjokroaminoto, SI berkembang dengan pesat sampai ke tingkat kejayaannya. Hal ini antara lain disebabkan oleh kemampuan dan kharisma Tjokroaminoto sendiri dalam memobilisir massa dan merekrut orang-orang terdidik dan berpengalaman untuk berkiprah dalam Sarekat Islam. Kondisi masyarakat yang memerlukan sebuah organisasi yang bisa mewakili kepentingan mereka berhadapan dengan peme-rintah Belanda maupun persaingan pedagang Tionghoa juga mempunyai andil dalam kebesaran SI. Keanggotaan organisasi ini juga sangat terbuka dan longgar: para Muslim santri, abangan dan priyayi tidak canggung untuk bekeriasama dalam organisasi ini; para petani. kyai, pedagang, wartawan sampai birokrat pribumi bahu membahu membesar-kan organisasi ini. Para pemimpin Sarekat pada masa puncak ini iuga masih lunak dalam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda. Karakteristik-karakteristik tersebut berangsurangsur hilang dari Sarekat Islam seiring dengan melemahnyakeuatan dan kebesaran organisasi ini. Kemundiran Sarekat Islam disebabkan berbagai faktor. Para pemimpin maupun pengikut Sarekat lslam semakin berani dan radikal mernprotes kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial. Tjokroaminoto dan Agus Salim sendiri sebagai pemimpin puncak SI berani keluar dari dewan perwakilan rakyat (volkstraad) karena dianggap sebagai tak lebih dari "lelucon" belaka. Para pengikut SI di tingkat lokal (grassroor) juga semakin berani berkonfrontasi terbuka dan bersen-jata menghadapi kebijakan-kebi-iakan yang timpangpemerintah colonial maupun kondisi ekonomi yang dianggap menguntungkan pedagang Tionghoa Tak ayal lagi, sikap pemerintah colonial Belanda terhadap sI berubah menjadi garang dan berusaha sekuat tenaga melemhkan kekuatan SI.Perpecahan ditingkat elir kepemimpinan SI yang Pada gilirannya Juga memecah Belah kakuatan Umat mempunyai Andil yang cukup besar dalam meredupkan cahaya kebesaran sI. Pukulan terberat adalah keluarnya faksi Islam abangan dari tubuh SI yang tergabung dalam SI Merah dan kemudian bergabung dalam Gerakan komunis Indonesia. Para anggota Muhammadiyah dan persatuan Islam pun dikeluarkan dari organisasi ini; sementara para Muslim tradisionalis sejak 1926 memiliki wadah organisasi sendiri. Belum lagi persaingan dari gerakan nasionalis sekuler seperti Partai Nasional Indonesia yang mulai muncul dan merebut pengaruh massa. Tiokroaminoto. yang semula diagung-agungkan sampain dianggap sebagai ratu asil, redup kharismanya dan malah dicaci maki dengan berbagai tuduhan. Akhirnya. orang meninggalkan Sarekat Islam Bagaikan "selesai Menonton pertunjukan wayang".
Sufisme dan Jihad Suatu Dikotomi Palsu
Umar Asasuddin Sakah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.77-86
Kebanyakan manusia beranggapan bahwa sufisme atau tasawuf itu merupakan ajaran Islam yang pasif, dan secara total bertentangan dengan politik dan jihad. Akan tetapi, kalau kita lihat sejarah Islam di Afrika Barat dan Sudan pada abad ke-18 dan 19, akan terungkaplah bahwa gerakan politik di sana berasal dari sufisme, yang memainkan kepahlawanan yang tidak ada tandingannya dalam perlawanan mereka menentang penjajah atau rejim nasional yang suka korupsi. Sebelum diterangkan tentang hubungan antara sufisme dan jihad, apakah keduanya memang terpisah atau ada hubungan yang erat, maka akan diterangkan terlebih dahulu dua kata kunci yaitu sufisme dan jihad.
Beberapa Sumber Kesalahan Pengukuran Dalam Ujian Bentuk Objektif dan Ujian Bentuk Subjektif
Anas Sudijono
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1994.540.67-81
Masalah pengukuran dan penilaian dalam pendidikan adalah masalah yang selalu terkandung dalam pekerjaan dan Pendidikan keguruan, sehingga karenanya sudah seharusnya menjadi salah satu bagian yang penting dalam kelengkapan keahlian seorang guru. Bahkan tidak hanya sekedar menjadi salah satu bagian saja, akan tetapi sebaliknya ia merupakan bagian integral, yang tak terpisahkan dari proses mengajar dan belajar. Tanpa titik tolak dasar pikiran yang serupa ini maka pengukuran dan penilaian pendidikan tidak akan dapat menunaikan fungsinya sebagaimana mestinya. Berbicara tentang pengukuran dan penilaian dalam dunia pendidikan, maka istilah "pengukuran" (measurement) sering kali diberi arti yang sama dengan "penilaian" (evaluation). Dalam hal ini acapkali orang beranggapan bahwa apabila ia mengukur sesuatu hal–misalnya "mengukur" kecerdasan seseorang atau sekelompok orang dengan menggunakan alat, misalnya menggunakan tes intelligensi --, maka ia merasa telah melakukan "penilaian" Memang, sekalipun dua pengertian itu mempunyai pertalian yang sangat erat, namun sebenarnya kedua istilah tersebut mempunyai arti yang berbeda.
Jihad Dalam Perspektif Al-Qur’an
Muhammad Husni
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1993.052.9-22
Al-Qur'an sebagai sumber hidayah dan petunjuk hidup dan kehidupan umat Islam berisi berbagai macam prinsip tentang usaha-usaha dan upaya-upaya yang perlu serta harus dilakukan untuk menegakkan nilainilai kebenaran yang dibawanya (Al-Qur'an). Persoalan-persoalan yang bertalian dengan ide-ide yang berisi gagasan-gagasan revolusioner tentang penumbuhan dan pengembangan kebenaran ajaran-ajarannya dipaparkan di dalam berbagai ayat yang dikandungnya. Jihad yang menjadi tema pembahasan tulisan ini, merupakan salah satu prinsip dasar sekaligus metode yang digariskan oleh Al-Qur'an, untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran yang diajarkannya. Sebagai suatu label spesiftk yang menjadi identitas perjuangan hidup seorang muslim, jihad mendapat perhatian yang cukup besar dari Al-Qur'an. Hingga hampir pada setiap surah-surah Madaniyyah terdapat ayat-ayat yang berisi perintah atau dorongan-dorongan untuk melakukan jihad. Mengingat luasnya ruang Iingkup kajian, penulis hanya akan membatasi pembahasan tema jihad ini pada masalah-masalah: pengertian jihad, macam-macam jihad dan tujuan- tujuan jihad.
Epistemologi ‘Abd Al-Jabbār Bin Ahmad al-Hamadzānī
M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 45 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1991.045.39-53
Epistemologi (dari bahasa Yunani Kuna, episteme = pengetahuan dan logos = teori) didifinisikan, antara lain, sebagai cabang filsafat yang menyelidiki asal, struktur, metode-melode dan keabsahan pengetahuan. Dengan demikian judul di atas mengandung pengertian konsep 'Abd al-Jabbār mengenai hal-hal yang berkenaan dengan teori pengetahuan itu. Akan tetapi tulisan ini tidak membicarakan semua masalah itu. Ini dilakukan selain karena keterbatasan ruang dan waktu, juga karena kenyataan bahwa 'Abd al-Jabbār tidak menulis teorinya tentang pengetahuan secara lengkap dengan maksud khusus untuk menjelaskan konsepnya tentang pengetahuan. Memang ia menulis satu buku penuh dengan masalah pokok penalaran dan pengetahuan, yakni juz XII dari al-Mughnī fī Abwāb al-Tawhīd wa al-‘ad-l yang diberi anak judul al-Nadhar wa al-Ma'ārif, namun buku itu ditulis sebagai satu bahagian dari pembicaraannya tentang masalah teologi. Buku itu dimaksudkan sebagai landasan bagi konsepnya tentang kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia. (taklīf). Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini hanyalah konsep 'Abd al-Jabbār tentang pengetahuan, kriteria-kriteria pengetahuan yang benar macam-macam pengetahuan dan penalaran sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yangbenar. Bagaimana pengetahuan diungkapkan dalam bentuk yang bisa ditangkap orang lain dan sumber-sumber pengetahuan, tidak akan dibahas dalam tulisan ini.
Al-Majāz fī al-Qur’ān al-Karīm (Dirāsah al-Muṣṭalahīyya wa al-Lughawīyya)
Sukamto Said
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.65-81
A debate on majāz (metaphor) in the Quran has begun a long time ago. The different opinions are actually caused by the different view point, e.q. the difference on majāz (metaphor), and the functions of language. In fact, each group tries to purify the Quran as the word of Allah from any lackness. Since they are different in this issue, they disagree on whether or not majāz exists in the Quran. majāz is sometime seen equal to a lie. This is because majāz does not hold literary meaning, or it is employed when the real expression (tarkib haqiqi) is impossible to be found. Impossibility is not for Allah, therefore those who see majāz equal to a lie reject the notion of majāz in the Quran. For those who consider majāz to be in the Quran do not see majāz as a lie due to its unreal meaning. The use of majāz does not necessarily indicate the lackness of Allah, but it shows rather the shortage of human language, that is the shortage of its descriptive function. Majāz style is used to express abstract meanings, such as beauty, dignity, mighty and so on. Using words for metaphorical meanings allows people to express their imagination in broad range by using the language symbols- This is one of language functions. Another aspect function of language is transformative function. This allows people to transform anything they read or hear concerning any aspects outside themselves into their mind in a form of symbols acquainted to them. The transformation is done by comparing the new knowledge with the old one already existed in their mind. Here, the metaphorical process occurs. Finally, it can be said that the use of majāz in the Quran is not merely language flower, or even a lie, but it is a need; a need of expression and understanding. The discussion around this problem is more complex because of the different views on the meaning of majāz and the functions of language. If this issue can be solved. the debate on majāz in the Quran can be reduced.
Studi Islam Ditinjau dari Sudut Pandang Filsafat (Pendekatan Filsafat Keilmuan)
M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 58 (1995)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.1995.3358.83-105
Dalam kegiatan keilmuan, seorang ilmuan dituntut untuk mempunyai "asumsi dasar" atau "postulasi" yang jelas, yang dibangun di atas dasar pemikiran yang sistimatis-metodologis. Tanpa asumsi dasar atau postulasi yang kokoh, jelas dan sistimatis, maka analisa pemecahan persoalan yang hendak ditawarkan tidaklah akan tajam dan sulit mengarah kepada titik focus tujuan tertentu yang hendak dicapai. lbarat sebuah "kacamata baca" yang dirancang sesuai dengan ilmu-ilmu dasar optic, begitu pula "asumsi dasar" atau postulasi yang hendak dipertahankan haruslah dihimpun disusun dan dirumuskan secara matang dan sistimatis sesuai bidang keilmuan tertentu, sehingga dengan demikian dapat diharapkan mempermudah mengantarkan pada sebuah analisa yang mapan dan dapat pula dipertanggungjawabkan secara akademik. Bangunan pemikiran filsafat --lebih-lebih filsafat keilmuan- sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah tatanan asumsi dasar atau postulasi yang disusun sccara sistimatis-argumentatif-demonstratif sehingga mempunyai daya kekuatan analisis yang tajam terhadap berbagai persoalan yang hendak dipecahkan, rancang bangun keilmuan Islamic Studies tidak bisa tidak juga perlu dipertimbangkan. Sehubungan dengan judul tersebut di atas, penulis mempunyai asurnsi bahwa "Islamic Studies" atau juga disebut "Dirasat lslamiyah" tidak lain dan tidak bukan adalah kegiatan keilmuan, untuk tidak mengatakan hanya sebagai kegiatan keagamaan. Dilema antara keduanya diuraikan lebih lanjut beberapa saat lagi. Jika Islamic Studies/Dirasat Islamiyah memang masuk dalam wilayah "Keilmuan", maka telaah filsafat ilmu terhadap bangunan atau rancang bangun keilmuan Islamic Studies tidak bisa tidak juga perlu dipertimbangkan.