cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
Kritik Sanad Hadis QiyāmAl-Lail Nabi Pada Bulan Ramadān Maragustam Siregar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 56 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.056.59-72

Abstract

Suatu keharusan bahwa hadis Nabi bagi umat Islam merupakan pedoman pertama setelah al-Qur'an Sunnah haruslah dijadikan sebagai tuntunan hidup dalam bersikap dan berprilaku baik sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari kosmos, maupun sebagai abdi Allah secara terus menerus. Sunnah sebagai pedoman umat Islam dijelaskan oleh Allah:وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُواHubungannya dengan manusia sebagai abdi Allah, antara lain, diimplikasikan dalam mendirikan qiyām al-lail di bulan Ramadan, seperti halnya selalu dilakukan oleh Nabi. Maka sunnah Nabi merupakan pedoman dalam melakukan qiyām al-lail. Namun umat Islam dalam menafsirkan dan menangkap tentang bagaimana pelaksanaannya apakah sebelas rakaat, tiga belas, dua puluh tiga, ataukah tiga puluh enam rakaat; apakah empat rakaat sekali salam ataukah dua rakaat sekali salam sering menjadi persoalan yang tidak pernah selesai. Memang perbedaan pendapat akan mengalir terus sampai akhir zaman. Hal itu menunjukkan suatu dinamika dan perlu disadari eksistensinya selama suatu pendapat berdasar pada logika yang benar dan menjiwai ruh Islam. Agar lebih mendalam dan tidak terlalu luas dalam pembahasan, dalam tulisan ini dibatasi pada takhrij hadis dalam bidang kritik nilai kesahihan hadis (sanad hadis) tentang qiyām al-lail pada bulan Ramadan.  Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi nilai maqbūl atau tidaknya suatu hadis yang dijadikan materi penelitian dan pada tahap berikutnya dapat atau tidaknya dijadikan hujjah dalam penetapan hukum.
Orientalisme dan Oksidentalisme (Suatu Agenda Masalah) M Muzairi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 53 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.053.27-33

Abstract

Diskusi tentang Orientalisme dan Oksidentalisme dikalangan intelektual Islam bukan suatu yang asing akan tetapi segera akan terasakan, bahwa Orientalisme dan Oksidentalisme tidak selalu dihayati dalam citra yang sama, dipahami menurut pengertian yang sama, atau dibicarakan dengan memakai idiom-idiom yang sama. Perbedaan­perbedaan ini selain menyangkut variasi dalam aksentuasi juga melibatkan perbedaan logika, baik yang menyangkut kerangka konseptual, maupun berkenaan dengan lingkup minat dan kepentingan masing-masing. Persoalan akan timbul dan perbedaan akan terasa jika Orientalisme dan Oksidentalisme tidak sekedar dipandang sebagai suatu kajian ilmiah, tetapi dihadapkan sebagai "objektif'. Orientalisme dan Oksidentalisme sebagai kenyataan objektif, bagaimana keduanya didefinisikan? Adakah prasangka yang membayangi? Perlu dikemukakan terlebih dahulu, bahwa tulisan ini ingin mengambil posisi problematis, dan yang diusahakan disini adalah mencari agenda persoalan. Siapa tabu, posisi yang demikian itu akan lebih mengacu respons dan kritik yang akan berguna bagi kita. Pada jaman mutakhir ini Iiteratur keislaman dibanjiri oleh bahan-bahan dalam berbagai bahasa Barat yang kaya. Negeri-negeri Muslim bekas jajahan Inggris misalnya, kini sangat produktif dengan karya-karya penting. Ini merupakan keuntungan tersendiri bagi kaum Muslim yang tidak mengenal bahasa Inggris, dan bisa menjadi sebab semakin melebamya jurang intelektual antara yang tersebut terakhir ini dengan yang pertama. Jadi merupakan tantangan metodologis tersendiri bagi mereka dalam kajian keislaman.
Some Notes on European History Husain Haikal
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 40 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.040.15-19

Abstract

Ringkasan: sebagai kaji awal tulisan ini mencoba mengungkap pengaruh peradaban dan kebudayaan Eropa di dunia saat ini, sekalipun pengaruh tersebut demikian bervariasi. Pengaruh Eropa yang cenderung menegasikan agama, nampak berakar pada masa Abad Tengah. Masa tersebut dikenal pula sebagai Abad Iman, The Age of Relief yang berlaku hampir di seluruh Eropa, kecuali di Spanyol atau Andalusia yang berada dalam kekuasaan Islam. Saat tersebut justru Spanyol tampil sebagai siglo de oro atau abad emas. Keadaan ini menjadi salah satu sebab mengapa di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, agama Islam masih mempunyai peran yang penting.
Konsep Ummah dalam Piagam Madinah Abd. Salam Arief
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.85-98

Abstract

Pada dasarnya alur perjalanan sejarah Islam yang panjang itu bermula dari turunnya wahyu di Gua Hira', sejak itulah nilai-nilai kemanusiaan yang dibawah bimbingan wahyu Ilahi menerobos arogansi kultur jahiliyyah, merombak dan membenahi adat istiadat budaya jahiliyyah, yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Dengan seruan agama tauhid (monotheisme) yang gaungnya menggetarkan seluruh jazirah Arabia, maka fitrah dan nilai kemanusiaan didudukkan ke dalam hakekat yang sebenarnya. Seruan agama tauhid inilah yang merubah wajah masyarakat jahiliyyah menuju ketatanan masyarakat yang harmonis, dinamis dibawah bimbingan wahyu. Kemudian hijrah Rasulullah ke Madinah adalah merupakan suatu momentum bagi kecemerlangan Islam di saat-saat selanjutnya. Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah telah berhasil membina jalinan persaudaraan antara kaum Muhajirin sebagai imigran-imigran Makkah dengan kaum Ansar penduduk asli Madinah. Beliau mendirikan masjid, membuat perjanjian kerjasama dengan nonmuslim, serta meletakkan dasar-dasar politik, sosial dan ekonomi bagi masyarakat baru tersebut, suatu fenomena yang menakjubkan ahli-ahli sejarah dahulu dan masa kini. Suatu kenyataan yang menggoyahkan kedudukan Makkah dan menjadikan orang-orang Quraisy Makkah semakin bergetar manakala melihat misi kerasulan Nabi Muhammad semakin nampak nyata. Keberhasilan Rasulullah membentuk masyarakat Muslim di Madinah oleh sebagian intelektual Muslim masa kini disebut dengan negara kota (city state), dan dengan dukungan kabilah-kabilah dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk Islam, maka muncullah kemudian sosok negara bangsa (nation state): Walaupun sejak awalnya dalam kandungan sejarahnya, Islam, tidak memberikan ketentuan yang pasti tentang bagaimana bentuk dan konsep negara yang di kehendaki, namun suatu kenyataan bahwa Islam adalah Agama yang mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan termasuk politik dan negara.
Islam Rasional (Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution) Alef Theria Wasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.173-185

Abstract

Islam Rasional serves a dual function. It is intended in the first place as a textbook for students of Islamic studies, especially those who wish to examine in a more sustained way than is usually the case how theology and religious studies are related to each other. Islam Rasional playing out two roles. 1) as a thought rationally looking at Islam and 2) as a thought rationally looking at al-Qur’an as a religious source which does not consist of everything and this is only accepted rationally. It is playing out both that some scholars would obviously like to see as quite disjunct and which others would see as indistinguishable one. This seems to create criticism. Islamic and rational thought can be engaged in a dialectical interaction which enhances the validity and authenticity of each and Islam Rasional allows these disciplines to bed down together or to be integrated combined this does not mean that offspring which might result from such of union will necessarily be a new integral theological science of religion though this is perhaps what a growing number of scholars seem to envisage, and if such is a felt necessity there is no point in the champions of methodological rigout on either side of the marital bed saying this must not be. Its position is that while it has to move beyond either polarized antagonism or tolerant coexistence, the rigorously desired mutual dependence will in fact more fully authenticate the distinctiveness of the two approaches. But in view of the intrinsic independence, to delineate any precise methodological autonomy for each will for great subtlety, or the distinctiveness will be overstated and oversimplified. The understanding of either approach, and certainly of their interrelation, must hinge largely on our analysis and interpretation of the intrinsic character of religion. And here Islam Rasional has to affirm the incongruity of setting ‘faith’ against ‘religion’, even if in all religions there are core points of experience that seem to transcend the religion. In particular, it is in the dialectical interdependence, that relation between the theology, the diverse forms in religion, and the religious studies process in further interaction with contextual life that provides the key for understanding how to relate theology to religion and thus to religious studies (Islamic Studies). Islam Rasional consists of basic and primary grinding of Islamicisty, a specifically religious one, which means that it should welcome any potentially instructive insight into the richly varied dimensions of religious life. The inner structuring of Islam, which could relate the existence of for example sciences in Islam. In the history of Islam, Prof. Dr. Harun Nasution observes, the conflicts are not between science and religion, but among more or less, the schools (madhhab) of Islamic theology, and Islamic law. A science of religion, even if concerned primarily in such particularity. Inclusiveness possible to many theologies, the inclusiveness which is hopefully increasingly realized in further inter-religious exchange, it seems to be a rather different order. Theology and religion (Rationality and Islam or reason and revelation, or al-‘aql and al-waḥy) must be recognized as thoroughly independent, but their distinctive procedures cannot be over liked.
Undang-Undang Melaka Suatu Tinjauan Resepsi dan Interteks (Undang-Undang Melaka A Reception and Intertextual Approach) Taufiq Ahmad Dardiri
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 46 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.046.9-22

Abstract

This research takes object of the text of Undang-Undang Melaka, issued in critical edition by Liaw Yock Fang (1976). This text is wellknown as Undang-Undang Negeri Melaka, Risalah Hukum Kanun, Hukum Kanun, and Undang-Undang Melayu.  The text is known as one of the oldest and the most important Indonesian literature which contain laws. because of the wide application and the great amount of its manuscripts and also of the variant form. We analyze that text using a reception and intertextual approach. There receptive approach takes over the researcher role as the explicit reader and the role of the text as the real matter of the implicit reader role. The intertextual approach here means while takes over the role of other text as the understanding background of UUM. From the analytical receptivity we know that a receptive on structure language .and context has existed in the UUM text. The aspect receptivity signed by verse addition absorbed from Islamic laws, the pattern and the method of writing. The receptivity of the language as used in Islamic law as usual. The content receptivity signed by the influence and absorption from the Islamic law text existed in the syncretism laws. We know from the intertextual analysis, UUM text has intertext relation with Quran. 'Hadis/Prophet's tradition, and Ijmak/Consensus. In the other hand, from the two approaches We hope to know the Islamic law' contents which were absorbed into UUM, and the Islamic Laws' practiced by community of Malaka at that time. Finally, we shall know that the receptivity and the intertextual process in the UUM is the consequence and also the results of the diffusion. This diffusion took place the local culture was influenced by Hinduism-Buddhism and Islam. In this case involved some kinds of culture, one of them was language, system of religion and laws, etc.
Adham dan Adam (Suatu Tinjauaan terhadap Novel Najib Mahfud, Awlād Hāratinā) M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.85-95

Abstract

Mengambil inspirasi   dari  kitab  suci   untuk  menulis  karya  sastra merupakan hal  yang  banyak dilakukan orang.   Dalam pidato-pidato dan pembuatan puisi, misalnya, orang Arab banyak melakukan apa yang disebut iqtibas dari al-Qur'an,  yang tidak hanya mengambil ide tetapi juga ungkapan dari kitab suci ini. Tidak banyak timbul persoalan dengan iqtibs ini manakala pengambilan itu tidak merusak ajaran Islam, namun akan lain akibatnya kalau pengambilan itu dirasakan menghina atau menghujat agama.  Kasus "plesetan" terhadap istilah-istilah keagamaan (dalam hal ini Islam) yang pernah muncul dalam satu acara yang diselenggarakan mahasiswa dari perguruan tinggi tertentu di Yogyakarta dan pengajuan pelakunya ke pengadilan merupakan bukti bahwa pengambilan teks agama secara salah dapat menimbulkan masalah karena dianggap  menghina  agama,   walaupun mungkin  tanpa ada  niat penghinaan dari pelakunya. Novel Najib Mahfz (selanjutnya disingkat NM) yang berjudul Awlad Haratin  berceritera tentang "sejarah"  para penghuni kampung kita dengan segala intrik, kejahatan clan keculasan mereka disamping percikan-percikan usaha perbaikan di sana-sini. Ada lima tokoh utama yang diceriterakan dalam lima bagian buku ini dengan masing-masing  meoghabiskan  sekitar seratus halaman.  Mereka adalah Adham, Jabal, Rifa'ah,  Qasim clan Arafah yang diceriterakan secara berurutan dan masing-masing menjadi judul bab. Dalam kata pengantar buku ini NM dengan tegas mengatakan bahwa ceritera  tentang kampung kita itu tidak disaksikannya  sendiri selain  pada fasenya  yang  terakhir,  yakni fase Arafah.  Dikatakan oleh NM,  ia  hidup semasa dengan masa hidup Arafah clan menyaksikan kisah perjalanan hidup tokoh terakhir ini.
Islam dan Transformasi Budaya (Tinjauan Diskriptif Historis) M. Masyhur Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 42 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.042.41-52

Abstract

Ketika penulis menulis ‘’kata pengantar”untuk buku moralitas pembangunan, perspektif Agama-agama di Indonesia, penulis sadar bahwa posisi agama di tengah-tengah pergumulan ideologi-ideologi besar sangat tidak menguntungkan. Kapitalisme yang skularistik menempatkan agama hanya dalam lingkup sebatas tempat-tempat ibadah, seperti masjid, gereja, kuil dan urusan agama menjadi sangat privat. Agama tidak boleh mencampuri urusan politik kenegaraan. Sementara itu komunisme yang ateistik bersikap memusuhi agama. Agama dipandang sebagai candu masyarakat, oleh sebab itu harus dihapus dan dienyahkan. Walhasil, baik kapitalisme maupun komunisme memandang agama sebagai kendala bagi pembangunan, hal ini karena dua ideologi besar tersebut berakar pada falsafah Matrealisme.dibalik kemajuan materil dan ilmu pengetahuaan maka resiko yang harus dibayar oleh pembangunan yang bertumpuh pada paradigma kapitalisme dan komunisme itu adalah ‘’kegelisahan spiritual’’ yang memuncak menjadi pemberontakan terhadap komunisme seperti yang teraji di negara-negara Eropa Timur dewasa ini serta ‘’nistapa manusia modern’’ yang mencari kepuasan batini yang semu melalui obat bius, minuman keras, kebebasan seks, perjudian dan sebagainya. Ketika manusi dilanda nestapa dan keresahan itu, maka menarik untuk dikemukakan Kembali anekdot seseorang filusuf Yunani, Diogene le Cynique Ketika menyalahkan obor disiang hari, seraya berkeliling di tengah-tengah kerumunan orang-orang banyak. Ketika ditanyakan oleh orang, maka sang filusuf itu menjawab dengan tangkasnya: “Ufattisu an Insanin” (aku sedang mencarimanusia). Untuk menjawab pertanyaan sang filusuf itu, para memikir banyak yang menoleh pada agama sebagai alternatifnya. 
Islamic Law in Western Scholarship: A Bilbiographical Study with Emphasis on the Work of Joseph Schacht and Its Influence on His Successor Akh. Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 51 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.051.81-98

Abstract

It should be important first of all to throw some light upon western scholar’s understanding of the doctrine of Islamic law and its important position among Muslim societies, particularly as compared to that of natural law. Law in any society play a decisive role. The primary purpose of any law is to make social life possible. Law, according to some scholars, “is the legal norm approved by people, and derives its authority form the reason and will of man, and his moral nature. “Law reflects the values current in a society at any given time. The society has its starting point in the formulation of a legal code for its acts and activities. Opinions regarding legal or illegal acts and activities change, sometime diametrically, as values change. When this situation takes place, the law is altered accordingly. The Muslim conception about law is quite different. According to the classical theory, Allah is the only source of Islamic law is the will of Allah, revealed in the Qur’an to humankind through His Messenger, Muhammad, and it is regarded as “a divinely ordained system preceding and not preceded, controlling and not controlled by Muslim society. “Therefore, the doctrine that Allah possesses all legislative power and that His law to have supreme control over all aspects of human life is clearly established.
Abdurrahman III dan Sultan Akbar (Suatu Studi Perbandingan) Umar Asasuddin Sokah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 44 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.044.78-101

Abstract

Berbicara tentang Islam di Spanyol dan India, sebetulnya masuknya Islam di kedua tempat ini hampir sama waktunya dan di bawah khalifah yang sama pula yaitu al-Walid I bin Abdul Malik (705-715) dari dinasti Umayyah. Islam masuk ke Spanyol. tanggal 30 April 711 di bawah Tariq bin Ziyad, sedangkan Islam masuk ke India dia tahun 711/12 di bawah Muhammad b. al-Qasim. Hanya saja bedanya Spanyol ini pada mulanya merupakan bagian dari provinsi Afrika Utara dengan ibukotanya Qairawan. Akan tetapi, tak lama kemudian dinasti Umayyah yang digulingkan oleh dinasti Abbasiyah tahun 750, dapat meneruskan kekuasaannya di Spanyol dengan datangnya Abdurrahman I  tahun 755. Dia dinobatkan menjadi Amir ke-1 tahun 756. Sejak itu kekuasaan Islam di Spanyol berdiri sendiri, tidak dipengaruhi oleh dinasti Abbasiyah di Baghdad. Akan tetapi, sebutan amir ini sebagai kepala negara diubah menjadi khalifah oleh Abdurrahman III tahun 929. Dinasti Umayyah Spanyol ini berakhir tahun 1031. Sesudah itu Spanyol diperintah raja-raja Islam kecil yang saling bermusuhan. Pada akhirnya kekuasaan Islam hancur tahun 1492. dengan jatuhnya Granada, benteng Islam terakhir, ke tangan penguasa Spanyol. Antara 1492 sampai dengan permulaan abad ke-17 ada kira-kira tiga juta kaum Muslimin Spanyol yang diusir atau dibunuh, sebab mereka tidak mau dipaksa masuk agama Katolik.

Page 99 of 122 | Total Record : 1211


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue