cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,211 Documents
Ad-Qādi Ábd al-Jabbār dan Ayat-ayat Mutasyābihāt dalamal-Qur’ān (Pembahasan tentang kitab Mutasyābih al-Qur’ān) M Machasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.124-137

Abstract

Al-Qur' an, sebagaimana dinyatakannya sendiri dalam surat 3/ aI-lmron:7, terdiri dari dua macam ayat: ayat-ayat yang jelas dan tegas  (muḥkamat) yang merupakan bahagian terbesar darinya, dan ayat-ayat yang mengandung ambiguitas (mutasyābihāt). Timbul banyak persoalan sekitar ayat-ayat yang mengandung ambiguitas. Misalnya, berapa jumlah ayat-ayat yang mengandung ambiguitas. Misalnya, berapa jumlah ayat-ayat yang mengandung ambiguitas itu, ayat-ayat apa saja yang termasuk di dalamnya, dapatkah kita memahaminya dan bagaimana -kalau dapat- kita memahaminya. Banyak aliran dalam Islam mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk mendukung pendapat mereka. Ayat-ayat yang secara lahiriah memberikan pengertian yang mendukung pendapat mereka, mereka anggap sebagai  mutasyābihhāt dan  karenanya mereka pakai ayat-ayat itu sesuai dengan pengertian lahiriahnya, sementara ayat-ayat yang secara lahiriah bertentangan dengan pendapat mereka, mereka anggap sebagai mutasyābihāt dan mereka menakwilkannya sehinggga memberi pengertian yang sesuai dengan pendapat mereka. Jadilah, karena itu, ayat-ayat tertentu mutasyābihāt bagi suatu aliran namun mutasyābihāt bagi aliran lain dan sebaliknya, ayat-ayat tertentu mutasyābihāt bagi aliran itu, namun mutasyābihāt bagi aliran lain. AI-Qādī 'Abd al-Jabbar, seorang tokoh penting dalam sejarah aliran Mu'tazilah, telah mendiktekan sebuah buku yang diberi judul Mutasyābih al-Qur’ān atau Bayān al-mutasyābih fi al-Qur 'ān, yang berusaha untuk memberikan penjelasan tentang ayat-ayat yang dianggap mengandung ambiguitas oleh kaum Mu'tazilah dan dipakai sacara salah oleh lawan-lawan mereka.
Memahami Masa lampau Dengan Pendekatan Multidimensional (Suatu Alternatif Metodologis) Maman Abdul Malik Sy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 55 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.550.1-7

Abstract

Minat manusia untuk mengungkap kembali peristiwa yang sudah terjadi dalam upaya memahami masa lampau, bukan merupakan hal yang baru. Menurut catatan Historiografi Barat, hal itu sudah tampak, paling tidak, sejak kira-kira pertengahan abad V dengan munculnya Herodotus (490-430 SM) yang dianggap oleh Barat sebagai Bapak Sejarah kelahiran jaman kasik. Perlu diingat, bahwa peristiwa yang terjadi pada masa lampau itu tidak terhingga banyaknya.  Pengungkapan   kembali peristiwa-peristiwa itu selalu didasarkan atas jejak atau rekaman yang bisa diperoleh, yang tentu saja hanya merupakan bagian terkecil dari peristiwa yang sesungguhnya pernah terjadi. Melalui proses atau teknik tertentu, jejak-jejak masa lampau itu direkonstruksikan menjadi sebuah bangunan ceritera sejarah yang kira-kira mampu memberi gambaran tentang kejadian yang sebenarnya dari peristiwa masa lampau itu. Lengkap atau tidaknya bangunan itu akan sangat tergantung pada   lengkap   atau   tidaknya jejak yang   ditinggalkan   atau   puing   yang ditemukan. Sehubungan dengan hal itu, Gilbert J. Garraghan mengemukakan, bahwa sejarah mengandung   tiga konsep yang berlainan, namun ketiganya saling berkaitan.  Ketiga konsep itu adalah: (1) peristiwa masa lampau umat manusia yang benar-benar   pernah terjadi; (2) rekaman mengenai peristiwa masa lampau; dan (3) proses atau teknik untuk membuat rekaman peristiwa masa lampau. Dengan kata lain, yang pertama sejarah sebagai peristiwa, yang kedua sejarah sebagai ceritera, sedangkan yang ketiga sejarah sebagai ilmu. Untuk apa jejak masa lampu itu direkonstruksi?  Terhadap pertanyaan ini banyak jawaban yang bisa diberikan.  Satu dari sekian banyak kemungkinan jawaban itu dapat dirujuk kepada pemyataan Sir John Seeley, sebagaimana dikucipoleh Roeslan Abdulgani, yang berbunyi, "History ought surely in some degree to anticipate the lessons of time.  We shall all no doubt be wise after the event; we study history that we may be wise before the event".    Sejalan dengan itu, Ibrahim Alfian dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Sejarah pada   Fakultas   Sastra Universitas Gadjah Mada, dengan   mengutip Cicero, mengatakan, "Tidak belajar sejarah herarti kita akan tetap menjadi kanak-kanak untuk selamanya". Jadi, dengan bercermin kepada pengalaman masa lampau diharapkan seseorang   akan mampu   melihat jauh ke depan, sehingga menjadi bijaksana dalam melangkah ke masa yang akan datang. Di sinilah rekonstruksi jejak masa lampau akan berfungsi sebagai pengajaran bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik dari masa lalunya. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, sekalipun seringkali amat pahit. Dalam menyingkap tabir masa lampau, seorang sejarawan biasanya akan bertolak   dari pengalaman masa kini. Hal itu disebabkan masa lcini bukan hanya merupakan kelanjutan masa lampau, melainkan juga sebagai produk dari rnasa   silam   itu.   Dernikian    pula   halnya   masa   yang   akan   datang, akan merupakan kelanjutan dan produk dari masa kini. Apabila mempelajari sejarah bertujuan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, maka tidaklah berlebihan apabila   dikatakan   bahwa   sejarah berwatak   tiga dimensi dalarn waktu; masa   lampau, masa   kini   dan   masa   depan.   Dengan    kata   lain, mempelajari masa lampau harus berpijak dari kenyataan dan permasalahan masa kini, serta berorientasi ke masa depan. Tanpa   berorientasi   ke masa depan, sejarah seakan beku dan terpencil dari masa kini dan masa yang akan datang."  Oleh karena itu, timbul usaha manusia untuk merekonstruksi jejak-jejak masa lampau menjadi suatu bentuk yang bulat dan utuh, agar mampu memberi arti bagi  kehidupan  masa kini dan masa yang akan datang.
Sepuluh Wasiat (Wahyu Allah dalam Perjanjian Lama dan Al-Qur’an) Burhanuddin Daya
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.052.92-117

Abstract

Yahudi, Nasrani dan Islam adalah tiga agama bersaudara kandung, berasal dari satu sulbi, sulbi Ibrahim. Tetapi kondisi hubungan sejarah ketiganya selalu dalam keadaan konfliks. Konfliks mereka bukan Cuma kontliks teologis, tapi juga ideologis, sosiologis dan kultural. Kondisi eksklusifisme dan intolerance, rasa curiga dan permusuhan, telah berpuluh abad mewarnai hubungan mereka, dan merupakan warisan sejarah yang masih tersisa sampai sekarang. Banyak faktor penyebab semuanya itu, salah satunya adalah klem yang sangat dominan dari masing-masing tentang otentisitas atau orisinalitas wahyu yang dimiliki sebagai dasar yang memiliki otoritas tertinggi, dan keabsolutan kebenaran masing-masing. Terjadi perebutan mati-matian dan tidak henti-hentinya untuk menempati posisi paling puncak oleh masing-masing sepanjang sejarah, semenjak ketiganya saling bersentuhan. Wahyu adalah isyarat atau petunjuk yang diturunkan Allah secara langsung kepada nabi-nabi-Nya, atau dengan perantaraan malaikat untuk kepentingan rnanusia mengenal Tuhan, Alam, Diri Sendiri, dan Niiai dalam hidup dan kehidupannya. Oleh sebab itu gagasan wahyu ini adalah menembus, mencerahkan dan memberi makna bagi seluruh realitas kongkrit, menjadi representasi peraturan sentral kaum yahudi, masehi dan Islam, serta mendominasi seluruh sejarah masyarakat yang tersentuh olehnya.
Ẓāhira Ḥaraka al-Ṣhibān al-Nahḍīyya al-Fikrīyya Dirāsah an Majmu’I al-Dirāsāt al-‘Islāmīyya al-‘Itimā’īyya (LKiS) bi Yogyakarta M Mahasin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.166-181

Abstract

In 1989 a group of students in Yogyakarta, who were brought up in the traditional Islam, managed to arrange several meetings to discuss some issues of Islam and especially Nahdlatul UIama. The success of the meetings pushed them to establish an institute wherein they could realize their dreams of the amelioration of the condition in which they and the other children of Nahdlatul Ulama live. Thus they stablish LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial or Institute for Islamic and Social Studies). Their activities fall into three categories: (l) research, (2) publication and (3) study, education and training. It is interesting to note that they have published books contain of ideas far from being traditional, but some of them offer radical transformation of Islamic understanding and praxis. In this article the writer tries to answer questions on the underlying reasons for their somewhat controversial al activities, their endurance and their traditionality. [Beberapa anak muda di Yogyakarta yang dibesarkan di kalangan Islam "tradisional" keti ka berhadapan dengan persoalan-persoalan zaman yang berubah dengan cepat dan menyadari kekurangan perlengkapan keahlian dan pengetahuan untuk dapat terlibat secara aktif dalam percaturan dunia modern, melakukan berbagai kegiatan yang semula tidak jelas bentuknya, namun kemudian ada di antaranya yang menjadi lembaga atau organisasi yang dapat melakukan kegiatan yang berarti. Di antaranya, yang dikaji dalam tulisan ini adalah kelompok diskusi yang lahir pada tahun 1989Yang terdiri Dari beberapa mahasiswa PMII dari IAIN Sunan Kalijaga, UGM dan UII. Setelah melewati penyaringan alamiah sejalan dengan waktu mereka yang bertahan berhasil membentuk suatu Lembaga yang diberi nama LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial). Ada tiga bidang kegiatan yang mereka geluti, yakni (l) penelitian, (2) penerbitan dan (3) pengkajian, pendidikan dan pelatihan. Yang sangat menarik untuk dilihat adalah bahwa mereka menerbitkan buku-buku (terjemahan, kumpulan artikeVmakalah atau Buku yang memang Diitulis dalam bahasa Indonesia) yang di antaranya mengritik praktek-praktek ajaran Islam. Ini menarik karena mereka dibesarkan di kalangan "tradisional" (atau kolot?) yang selama ini dianggap anti pembaharuan. Pikiran-pikiran yang dituangkan dalam buku-buku yang mereka terbitkan justru memberikan nuansa pembaharuan. Mengapa mereka melakukan Tindakan seperti itu,bagaimana dengan ke-NU-an mereka? Apakah mereka dapat bertahan dalam kegiatan itu? Itulah antara lain yang dibahas dalam tulisan ini.]
Ad-Dawwani dan Pemikiran Teologinya (Sebuah Kajian Terhadap Karyanya “ Syarh ‘Ala al-‘Aqa’id al-‘Adudiyah” K Kamsi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 48 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.048.61-70

Abstract

Barangkali suatu hal yang dapat dibenarkan pernyataan Dr. Amin Abdullah, bahwa nama-nama filsuf seperti Nasir ad-Dīn Tusi, Jalāl ad-Dīn ad-Dawwani, As-Suhrawardi Dan Mulla Sadra nyaris belum terdengar buah karya dan pemikirannya di kalangan kita. Berangkat dari pernyataan tersebut di atas, terasa terpanggil untuk mencoba menampilkan salah satu tokoh atau nama-nama filsuf yang nyaris belum terdengar buah karya dan pemikirannya di kalangan kita sungguhpun masih jauh dari sempurna atau sebagaimana yang diharapkan para pembaca. Oleh karena Itu sangat diharapkan berbagai Bentuk kritik dari para pembaca demi kesempurnaannya. Salah seorang tokoh filsuf yang penyaji maksudkan sebagaimana dalam judul, menampilkan tokoh Ad-Dawwani dan pemikirannya dalam bidang teologi yang terpusatkan pada sebuah karya ad-Dawwani yang berjudul Syarh  ‘Ala al –‘Aqa'id al-‘Adudiyah. Karya ad-Dawwani yang satu ini penyaji dapatkan dalam sebuah kitab Sulaiman Dunya (ed.), As-Syaikh Muhammad ‘Abduh baina al-Falasifah wa al-Kalamiyin. Untuk  memudahkan dalam penyajian ini, penyaji sajikan dengan mengikuti kerangka pembahasan Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya, Teologi IsIam : Aliran-AIiran, Sejarah, Analisa Perbandingan.
Pengaruh Filsafat Hellenistik Terhadap Konsep Akal Dalam Filsafat Islam Mohamad Iskak Wijaya
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 57 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.3257.31-38

Abstract

Sebagaimana diketahui, sebelum filsafat Islam Iahir, telah terdapat berbagai alam pikiran di Timur dan di Barat. Diantaranya adalah pikiran Mesir Kuno, Babylonia, Persia, India, Cina, dan Yahudi. Namun dari pikiran­pikiran tersebut, yang paling dominan berhubungan dengan dunia muslim adalah alam pikiran Yunani, walaupun pemikiran Persia dan India juga banyak memberikan sumbangan. Kontak dengan pemikiran baru itu menyebabkan umat Islam menyerap berbagai ilmu pengetahuan.  Adalah patut untuk dicatat bahwa filsafat Yunani yang sampai kepada dunia Islam tidaklah murni dari tradisi pemikiran Yunani sendiri (Hellenisme), melainkan sudah melewati pemikiran Romawi yang sudah barang tentu mempengaruhi filsafat itu (Hellenisme Romawi).
Anak Dalam Persepektif Al-Qur’an (Kajian Dari Segi Pendidikan) M. Anies
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.1-24

Abstract

Di mata iman umat lslam, al-Qur'an adalah sebagai hudan (Q.2:2, Q.l6:89, Q.27:2,77, Q.3l:3) dan menempati posisi sentral dalam Pendidikan Islam. Ia sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk berfikir kreatif dan bertindak arif. Selama umat Islam belum mampu menempatkan al-Qur'an sebagai hudan (petunjuk) dalam mengembangkan intelektual, hati dan ketrampilan, berarti mereka belum mampu memahami elan dasar al-Qur'an. AI-Qur'an sebagai hudan memberi acuan konseptual yang sangat komperehensip kepada umat manusia guna menyikapi kehidupannya. AI-Qur'an memberi perhatian yang serius terhadap masalah pendidikan. AI-Qur'an sangat banyak menggelar informasi tentang manusia. Mereka yang akan menggumuli Pendidikan Islam harus memahami konsep tentang manusia menurut al-Qur'an, sebab manusialah yang mempunyai dominasi dalam proses pendidikan. Sifat yang sesungguhnya dari system Pendidikan Islam dan perbedaannya dengan sistem Pendidikan yang lain hanya dapat difatrami dengan semestinya jika konsep tentang manusia difahami dengan inrik. Al-Qur'an telah memberi sinyal yang jelas kepada umat bahwa manusia itu ciptaan Allah (Q.96:2, Q.86:5,6,7, Q.2Z:5, Q.55:14, Q.25:5, Q.32;7,8,9, Q.l5:26, Q.l5:28, Q.4O:67, Q.3O:54,Q.53:45, Q.23: 12, 13, 14).
Dialog Peradaban menghadapi Era Postmodernisme Sebuah Tinjauan Filosofis-Religius M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 53 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.053.108-126

Abstract

Ketika wilayah perenungan dan pemikiran filosof tentang alam semesta telah diambil alih para ilmuan dalam cabang ilmu-ilmu kealaman 'empiris', juga ketika renungan para tilosof dalam bidang kemanusiaan telah diambil oper oleh para ilmuan sosial, maka orang bertanya-tanya apa manfaat dan jasa yang dapat diberikan oleh "filsafat". Orang meragukan apakah filsafat masih dapat menyumbangkan jasanya dalam era "dominasi" ilmu pengetahuan empiris baik dalam wilayah ilmu-ilmu kealaman maupun dalam ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Bahkan dikalangan pemikiran keagamaan yang tipikal "konservatif', sudah lama filsafat dianggap sebagai suatu hal yang kurang berharga, sehingga tidak lagi patut untuk dipertimbangkan dalam proses pematangan dalam wilayah diskursus keagamaan. Menurut doktrin agama-agama besar di dunia, khususnya yang bersifat monoteistik, "kebenaran" hanya dapat diperoleh lewat "wahyu". Sejauh mana peran akal dalam memahami wahyu, apakah pemahaman dan campuran tangan historisitas kemanusiaan dalam memahami wahyu masuk dalam katagori wahyu itu sendiri ataukah masuk dalam wilayah historisitas pemahaman manusia, kadang diketepikan begitu saja. Ketika peran filsafat --baik dalam hal yang menyangkut Epestimologi, Etika maupun Metafisika-- ditepikan sebegitu rupa, tiba-tiba dalam dasa warsa ke 90-an masyarakat indonesia khususnya dikejutkan dengan istilah "baru" yang disebut-sebut dengan postmodernisme. Ditilik dari segi peristilahan yang muncul kepermukaan, jelas tampak bahwa istilah tersebut erat terkait dengan khazanah filsafat, tidak beda dari istilah-istilah seperti naturalisme, supernaturalisme, determinisme, modernisme, historisisme dan lain sebagainya. Jika peristilahan filsafat pada umumnya, hanya terbatas pada dataran kognitif, yang sering kali terlampau abstrak, sehingga sulit untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas, maka lain halnya dengan istilah postmodernisme. Istilah postmodernisme, yang sebenarnya juga ada pada dataran kognitif-abstrak, namun kemunculannya pada masa sekarang ini disertai dengan bukti sejarah yang kongkrit, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Maslahah Mursalah Sebagai Landasan Penetapan Hukum Tjut Intan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 40 (1990)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1990.040.69-81

Abstract

Sebagaimana kita ketahui bahwa Islam adalah agama samawi yang syari'at-syari'atnya mempunyai nilai universil, berlaku abadi sepanjang masa, merupakan ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain manapun juga yang dimaksud dengan universil ialah bahwa syari'at tersebut bersifat abadi dan ditujukan untuk seluruh umat manusia seperti firman Allah swt:وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (سباء:٢٨)Dan Kami tidak mengutus kamu wahai Muhammad melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Q.S. As- Saba' : 28). Sehubungan dengan keuniversilan dan keabadiannya, sebenarnya ada suatu nilai yang menjadikan syari'at Islam itu bersifat kekal, yaitu keelastisannya dalam  menghadapi berbagai macam problema. Jumhur ulama telah sepakat bahwa sumber-sumber hukum Islam ialah: Al Qur'an, As-Sunnah, Al Ijma' dan Al-Qiyas. Di samping itu ada pula sumber-sumber hukum yang diperseIisihkan eksistensitasnya oleh para ulAma seperti: istihsan, maslahah mursalah, istishhab, 'urf, sadduzzari'ah, mazhab sahabat dan syari'at orang-orang sebelum kita. Selanjutnya ada sementara pendapat ulama yang tampaknya kontroversial terhadap sumber-sumber hukum yang diperselisihkan itu, yang mengatakan bahwa maslahah mursalah sama dengan istihsan dari segi bahwa kedua-duanya sama-sama mengikuti Hawa nafsu, sehingga dikatakan barang siapa mempergunakan maslahah mursalah/istihsan berarti membuat syari'at sendiri. Sebaliknya sebahagian ulama lain mengatakan bahwa maslahah mursalah bukan hanya merupakan dalil syara' dalam hal-hal yang tidak ada nashnya, bahkan dalam hal-hal yang sudah ada nashnya. Kenyataan-kenyataan tersebut mendorong 
Pasang Surut Peradaban Islam Masykur Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.36-44

Abstract

Percakapan tentang pasang surut peradaban Islam telah banyak diperbincangkan oleh para ilmuan maupun negarawan yang mempunyai komitmen yang tinggi dan tangungjawab moral yang dalam terhadap pasang surutnya peradaban Islam dan maju mundurnya umat Islam. Percakapan itu dapat dilihat dalam beberapa pertemuan ilmiah yang diadakan oleh mereka dan dapat dibaca dalam beberapa buku yang ditulisnya. Diantarabuku yang membicarakan soal ini adalah; pertama, karya tulis Amir Syakib Arsalan yang berjudul “Li maadzaa ta-akhkha ral Muslimun wa li maadzaa taqaddama gayruhum” kedua, “maadzaa khasiral alam binkhithathil Muslimin. Buku pertama, sesuai dengan bunyi judulnya membicarakan tentang faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam ditengah-tengah kemajuan yang diperoleh oleh dunia Barat, sementara buku kedua menjelaskan kerugian  yang menimpa duania atas kemunduran dunia Islam. Mengikuti khiththah yang ditulis oleh penulis pendahulu terbaik itu, maka makalah ini tidak membicarakan secara negarif perjalanan peradaban Islam. Penulis dalam kesempatan ini akan membicarakan tentangtiga hal. Pertama, factor-faktor yang menyebabkan kemajuan peradaban Islam. Kedua, Faktor-faktor yang mengantarkan umat Islam mundur dan surut dalam peradabannya. Ketiga, terapi yang harus dijalani, bilamana umat Islam ingin memperoleh momentum untuk bangit Kembali.

Page 100 of 122 | Total Record : 1211


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) More Issue