cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Global Strategis
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19079729     EISSN : 24429600     DOI : -
Jurnal Global & Strategis is a scientific journal published twice a year, every June and December. JGS invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JGS published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 210 Documents
"Diversity in the Workplace": Indonesian Muslim Migrant Workers' Experiences in Japan Widarahesty, Yusy
Global Strategis Vol. 18 No. 2 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.2.2024.355-382

Abstract

A rapidly shrinking and aging population has pushed the Japanese government to relax certain border regulations to let in more foreign workers. JICA predicts that by 2040, Japan will need to double its foreign workforce to more than 6 million. This is also in line with the Japanese government’s policy plan which opens up opportunities for foreign workers to enter from various countries through technical intern trainee visas, specified skilled workers, professional workers, etc. As a result, under the Abe administration, the Japanese government launched the Diversity and Empowerment in the Workplace campaign to welcome international workers as one of the social integration policies to achieve harmony. Thus, this paper aims to analyze how the synergy of diversity in workplace policy toward Muslim migrant workers in Japan progresses by using ethnography and participant observation as a methodological approach. Qualitative data was collected between 2018 and 2023 through participant observations and semi structured interviews. By looking at the stories conveyed, it seems that the ‘diversity in workplace policies’ cannot yet be adequately implemented for Muslim workers, especially those with semi-skilled visa categories such as trainees and SSW. Furthermore, social integration efforts through workplace diversity policies are hampered because some Japanese companies continue to have a bad working culture that promotes productivity by imposing long working hours. This has become a problem for Japanese workers and has prompted criticism and efforts to change. Keywords: “Diversity in the workplace”, Indonesian Migrant Workers, Muslim, Japan Populasi yang menyusut dan menua dengan cepat telah mendorong pemerintah Jepang untuk melonggarkan peraturan perbatasannya agar dapat menerima lebih banyak pekerja asing. JICA memperkirakan Jepang perlu meningkatkan jumlah tenaga kerja asing sebanyak empat kali lipat menjadi lebih dari enam juta pada tahun 2040. Hal ini juga sejalan dengan rencana kebijakan pemerintah Jepang yang membuka peluang masuknya tenaga kerja asing dari berbagai negara melalui berbagai jenis visa seperti pemagang kerja, pekerja berketerampilan khusus, pekerja profesional, dll. Oleh karena itu, untuk menyambut masuknya pekerja asing, pemerintah Jepang pada masa pemerintahan Abe telah mencanangkan slogan keberagaman dan pemberdayaan di lingkungan kerja sebagai upaya strategi integrasi sosial. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana sinergitas kebijakan keberagaman di tempat kerja Jepang terhadap pekerja migran Muslim di Jepang dengan menggunakan etnografi dan observasi partisipan sebagai pendekatan metodologis. Data kualitatif dikumpulkan antara tahun 2018 sampai 2023 melalui observasi partisipan dan wawancara semi terstruktur. Dengan melihat kisah-kisah yang disampaikan, tampaknya ‘kebijakan keberagaman di tempat kerja’ belum dapat diterapkan secara memadai bagi pekerja Muslim, terutama mereka yang memiliki kategori visa semi-terampil seperti pekerja magang dan pekerja Spesial Skill Workers/SSW. Lebih jauh, upaya integrasi sosial melalui kebijakan keberagaman di tempat kerja terhambat karena buruknya budaya kerja di beberapa perusahaan Jepang yang mempromosikan produktivitas dengan memberlakukan jam kerja yang panjang. Hal tersebut menjadi masalah bagi pekerja Jepang dan telah memicu kritik serta upaya untuk berubah. Kata-kata Kunci: “Diversity in the workplace”, Pekerja Migran Indonesia, Muslim Indonesia, Jepang
“Made in China 2025 Initiative” and Dual Circulation Economy: Reducing Dependence on U.S. Technology Putra, Ferdian Ahya Al; Prakoso, Septyanto Galan; Devi, Rahma Sintya
Global Strategis Vol. 18 No. 2 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.2.2024.383-408

Abstract

The “Made in China” 2025 Initiative and Dual Circular Economy emerged as strategies to propel China towards becoming a global leader in advanced technologies. It also aims to reduce dependence on foreign technology products, particularly from the United States, since the increased geopolitical tensions and trade disputes arose between the two countries. Meanwhile, the Dual Circulation Economy can be perceived as an economic strategy emphasizing domestic and international circulation of goods, services, and technologies. This strategy prioritizes bolstering domestic innovation, production, and consumption while maintaining selective engagement with the global market. Previous research discussed the topic of Made in China 2025 and Dual Circulation separately. Meanwhile, the study shows close synergy between those strategies in achieving the same goal. This research used a qualitative descriptive method with data collection technique through library research on various sources such as books, journal articles, news, etc. The research used the hegemonic stability theory for analysis. The result reveals that the Dual Circulation Economy provides a framework for nurturing domestic innovation and production capabilities. At the same time, the Made in China 2025 initiative offers a roadmap for advancing industries critical to China's technological independence. This article examines the synergies between these policies and assesses their effectiveness in reducing China's dependence on US technology. It also discusses the implications and the shift in economic strategy to global trade dynamics and geopolitical relations. Keywords: Made in China 2025, Dual Circulation Economy, Technology, China, United States Inisiatif “Made in China” 2025 dan Dual Circular Economy muncul sebagai strategi yang diambil untuk mendorong Tiongkok menjadi pemimpin global dalam teknologi canggih. Inisiatif ini juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada produk teknologi asing, khususnya dari Amerika Serikat, mengingat peningkatan ketegangan geopolitik dan sengketa perdagangan antara keduanya. Sementara itu, strategi Dual Circular Economy dapat dianggap sebagai strategi ekonomi yang menekankan sirkulasi barang, jasa, dan teknologi domestik dan internasional, yang memprioritaskan peningkatan inovasi, produksi, dan konsumsi domestik sambil mempertahankan keterlibatan selektif dengan pasar global. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan pada berbagai sumber, menggunakan teori stabilitas hegemonik untuk analisis. Hasil menunjukkan bahwa Dual Circular Economy menyediakan kerangka kerja untuk memelihara inovasi dan kemampuan produksi dalam negeri, sementara inisiatif Made in China 2025 menawarkan peta jalan untuk memajukan industri yang penting bagi kemandirian teknologi China. Artikel ini mengkaji sinergi antara kebijakan-kebijakan ini dan menilai efektivitasnya dalam mengurangi ketergantungan China pada teknologi AS. Artikel ini juga membahas implikasi dan pergeseran strategi ekonomi terhadap dinamika perdagangan global dan hubungan geopolitik. Kata-kata Kunci: Made in China 2025, Dual Circulation Economy, Teknologi, China, Amerika Serikat
The Military and ASEAN's Principle of Non-Interference Sulaiman, Yohanes; Dr. Brad Nelson
Global Strategis Vol. 18 No. 2 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.2.2024.475-498

Abstract

ASEAN’s principle of non-interference is perhaps one of its most controversial aspects. While it is seen as essential for ASEAN, especially by constructivists, to allow the creation of a shared norm and a common regional identity, detractors note its detrimental effects that hamper further regional integration and prevent ASEAN from effectively dealing with human rights abuses in its member states. This article argues that ASEAN’s principle of non-interference is essentially a byproduct of the military's influence in the politics of some of the members of ASEAN, shaping ASEAN’s identity – and, in turn, its fixation on the principle of non-interference. Essentially, it could be argued that for members of ASEAN, despite its flaws, the principle of self-interference is working as intended. Keywords: ASEAN, Military, Non-interference, Regional Integration, History of ASEAN   Prinsip non-interferensi ASEAN mungkin adalah salah satu aspek yang paling kontroversial. Meskipun prinsip ini dianggap penting untuk ASEAN, terutama oleh kaum konstruktivis, untuk memungkinkan terciptanya norma kebersamaan dan terbentuknya identitas Asia Tenggara, para pengkritik menyorot dampak negatifnya yang menghambat integrasi regional lebih lanjut dan mencegah ASEAN dalam menghadapi pelanggaran hak asasi manusia secara efektif di negara-negara anggotanya. Artikel memiliki argumen bahwa prinsip non-interferensi ASEAN pada dasarnya adalah hasil dari pengaruh militer dalam politik beberapa anggota ASEAN, yang membentuk identitas ASEAN – dan pada gilirannya, fokusnya pada prinsip non-interferensi. Pada dasarnya, dapat dikatakan bahwa bagi anggota ASEAN, meskipun memiliki kelemahan, prinsip non-interferensi bekerja sesuai dengan tujuannya. Kata-kata Kunci: ASEAN, Militer, Non-intervensi, Integrasi Regional, Sejarah ASEAN
Assessing the Impact of Decentralization on the Quality of Indonesian Democracy Chandra, Yenny
Global Strategis Vol. 18 No. 2 (2024): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.18.2.2024.409-430

Abstract

This research focuses on the impact of decentralization on Indonesian democracy, particularly post-Suharto, where decades of centralized governance shifted to a decentralized one. Drawing on Hofman & Kaiser (2006), the theoretical framework links decentralization to democracy by emphasizing political participation, regional governance empowerment, and accountability. Decentralization is not only viewed as a mechanism that provides grassroots populations with political and administrative decision-making capacities but also ensures local governments are no longer directly accountable to the central government in Jakarta and are instead responsible to their local constituents. Nevertheless, decentralization also presents challenges, and notably, in a heterogeneous society like Indonesia, the management of ethnic and religious diversity is one. While decentralization is considered the embodiment of Indonesian democracy, numerous issues have hampered efforts to improve the quality of local governance and democracy. Ultimately, decentralization and democracy are deeply interdependent, as the quality of one shall reflect on the other. Keywords: Indonesian democracy, Decentralization, Regional autonomy, Local governance, Identity politics Penelitian ini berpusat pada dampak desentralisasi terhadap demokrasi di Indonesia, terutama pada era pasca-Suharto, ketika penerapan pemerintahan terpusat selama puluhan tahun beralih ke desentralisasi. Mengacu pada Hofman & Kaiser (2006), kerangka teoretis menghubungkan antara desentralisasi dan demokrasi dengan menekankan pada partisipasi politik, pemberdayaan tata kelola regional, dan akuntabilitas. Desentralisasi tidak hanya dipandang sebagai sebuah mekanisme yang memberi masyarakat di tingkat akar rumput kapasitas pengambilan keputusan politik dan administrasi, tetapi juga memastikan bahwa pemerintah daerah tidak lagi bertanggung jawab langsung kepada pemerintah pusat di Jakarta – melainkan bertanggung jawab kepada konstituen lokal mereka. Namun, desentralisasi juga menghadirkan tantangan, terutama dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, dengan pengelolaan keragaman etnis dan agama menjadi isu yang signifikan. Meskipun desentralisasi dianggap sebagai wujud dari demokrasi Indonesia, berbagai masalah telah menghambat upaya untuk meningkatkan kualitas pemerintahan dan demokrasi lokal. Pada akhirnya, desentralisasi dan demokrasi saling bergantung erat, dengan kualitas salah satunya akan mencerminkan kualitas yang lain. Kata-kata Kunci: Demokrasi Indonesia, Desentralisasi, Otonomi daerah, Pemerintahan daerah, Politik identitas
Analyzing The Easing of Japan’s Arms Disarmament Policy Between 2010-2020 Iswari, Rani Dian; Musyaffa, Nadhif Fadhlan
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.45-66

Abstract

Arms disarmament policy is widely implemented among countries in the world, especially after the Cold War era. On the other hand, the Japanese Government's policy in easing disarmament arms policy has become a new 'way' in Japan's military ideology since its loss in World War II and was forced to implement pacifism. This study uses the defensive realism theory to explain why Japan eased its arms disarmament policy from 2010 to 2020 under three prime ministers. This research was conducted using qualitative methods using primary data from ministries and departments of Japan and secondary data from scientific journals, books, theses, newspaper articles, and websites. The study results show that easing Japan's disarmament policy is a form of action to maintain the balance of power, especially to balance the aggressiveness of the People's Republic of China (China) and the Democratic People's Republic of Korea (North Korea) in terms of military. Keywords: balance of power, Japan's arms disarmament policy, Japan’ military, policy loosening/easing Kebijakan perlucutan senjata banyak diterapkan oleh negara-negara di dunia, terutama setelah era Perang Dingin. Di sisi lain, kebijakan Pemerintah Jepang dalam melonggarkan kebijakan perlucutan senjata menjadi 'cara' baru dalam ideologi militer Jepang sejak kekalahannya dalam Perang Dunia II dan terpaksa menerapkan pasifisme. Penelitian ini menggunakan teori realisme defensif untuk menjelaskan mengapa Jepang melonggarkan kebijakan perlucutan senjatanya pada tahun 2010 hingga 2020 di bawah tiga perdana menteri. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan menggunakan data primer dari kementerian dan departemen di Jepang dan data sekunder dari jurnal ilmiah, buku, tesis, artikel surat kabar, dan website. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan perlucutan senjata Jepang merupakan salah satu bentuk tindakan untuk menjaga keseimbangan kekuatan, terutama untuk menyeimbangkan agresivitas negara Republik Rakyat Tiongkok (Tiongkok) dan Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) dalam hal militer. Kata-kata Kunci: keseimbangan kekuatan, kebijakan perlucutan senjata Jepang, militer Jepang, pelonggaran kebijakan
The Failure of Syria Government Responsibilities toward Internally Displaced People (IDPs) during 2017-2019 Khofifah, Winda; Rohma, Masitoh Nur
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.163-184

Abstract

This article explores the issues of civil war and the forced relocation of individuals that have led to human rights abuses against Internally Displaced People (IDPs) in Syria. These occurrences began when the Syrian government initiated an offensive against the anti-government protest movement led by Bashar al-Assad. Under the guise of suppressing the uprising, the Syrian government has targeted civilians and committed various human rights violations. This article seeks to provide an in-depth analysis of the Syrian government’s responsibilities in safeguarding the status and rights of IDPs and in preventing internal displacement within Syria. Utilizing Jamie Draper’s concept of “justice and internal displacement,” this article employs a qualitative research methodology with a case study framework. The results of this article indicate the government’s inability to avert the influx of displaced individuals and its failure to meet its obligations regarding the rights of IDPs in Syria, along with the lack of sufficient protection following their displacement. Keywords: IDPs, Syria Government, Human Rights, Internal Displacement Artikel ini mengkaji isu perang saudara dan pengungsian paksa yang telah mengakibatkan pelanggaran hak asasi manusia terhadap para pengungsi internal (Internally Displaced People/IDPs) di Suriah. Peristiwa tersebut dipicu pasca-Pemerintah Suriah melancarkan serangan terhadap gerakan protes anti-pemerintahan Bashar al-Assad. Pemerintah Suriah telah menargetkan warga sipil dan berujung pada pelanggaran hak asasi manusia dengan dalih membatasi gerakan pemberontakan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan analisis komprehensif mengenai peran Pemerintah Suriah dalam melindungi status dan hak IDPs; serta pencegahan pemindahan internal di Suriah. Dengan menggunakan konsep “justice and internal displacement” yang dikemukakan oleh Jamie Draper, artikel ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Temuan artikel ini mengungkap adanya kegagalan pemerintah dalam mencegah kedatangan dan pemenuhan tanggung jawab atas hak-hak IDPs di Suriah, serta ketiadaan perlindungan yang memadai setelah terjadinya pemindahan. Kata-kata Kunci: IDPs, Pemerintah Suriah, Hak Asasi Manusia, Pemindahan Internal
Navigating Digital Frontiers: Estonia’s e-Residency through the Lens of the Eclectic Paradigm Luhur, Ken Budi; Trihartono, Agus; Hara, Abubakar Eby
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.121-142

Abstract

The Estonian e-Residency program, launched in 2014, allows non-residents to access Estonia’s advanced digital infrastructure and services. It provides a secure digital identity to individuals worldwide, enabling them to start and manage a location-independent business online within the European Union without needing to physically reside in Estonia. This study explores the opportunities and challenges of e-Residency through qualitative methods and the Eclectic Paradigm model by John Dunning. While e-Residency does not grant physical residency, citizenship, or tax residency, is especially attractive to individuals seeking to leverage Estonia’s advanced digital infrastructure and favorable business environment. Key opportunities include leveraging Estonia’s advanced digital infrastructure and accessing the European Union market, significantly enhancing business efficiency and economic participation. However, the novelty of the e-Residency concept still faces challenges from the challenge of low global adoption, which requires optimization for broader relevance and impact. Lastly, this research underscores the need for strategic improvements to maximize the program’s potential and suggests further development to achieve its global aspirations. Keywords: e-Residency, Digital Identity, Estonia, Eclectic Paradigm Program e-Residency Estonia, yang diluncurkan pada tahun 2014, memungkinkan non-residen untuk mengakses infrastruktur dan layanan digital canggih Estonia. Program ini menyediakan identitas digital yang aman bagi individu di seluruh dunia, yang memungkinkan mereka untuk memulai dan mengelola bisnis daring yang tidak bergantung pada lokasi di Uni Eropa tanpa perlu bertempat tinggal secara fisik di Estonia. Studi ini mengeksplorasi peluang dan tantangan e-Residency melalui metode kualitatif dan model Paradigma Eklektik oleh John Dunning. Penelitian ini menemukan bahwa meskipun e-Residency tidak memberikan tempat tinggal fisik, kewarganegaraan, atau pajak tempat tinggal, tetapi sangat menarik bagi individu yang ingin memanfaatkan infrastruktur digital canggih Estonia dan lingkungan bisnis yang menguntungkan. Peluang utama termasuk memanfaatkan infrastruktur digital canggih Estonia dan mengakses pasar Uni Eropa, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi bisnis dan partisipasi ekonomi. Namun, di sisi lain, kebaruan konsep e-Residency masih mengalami tantangan berupa adopsi global yang masih rendah sehingga memerlukan pengoptimalan untuk relevansi dan dampak yang lebih luas. Terakhir, penelitian ini menggarisbawahi perlunya peningkatan strategis untuk memaksimalkan potensi program dan menyarankan pengembangan lebih lanjut untuk mencapai aspirasi globalnya. Kata-kata Kunci: e-Residency, Identitas Digital, Estonia, Paradigma Eklektik
The Clash of Liberties: Religious Freedom, Human Rights, and the Ascendance of Christian Nationalism in the United States Kusumawikan, James William
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.21-44

Abstract

The guarantee of religious freedom enshrined in the United States Constitution, intended to protect the diverse religious beliefs of its citizens, has inadvertently spawned unforeseen consequences. This article examines how the noble principle of religious freedom has intersected with the rise of Christian nationalism, posing a significant threat to democracy and human rights within the nation. Despite the Constitution's emphasis on individual liberties, the emergence of Christian nationalism has fueled a divisive narrative that privileges certain religious identities over others, thereby undermining the foundational principles of equality and pluralism. Through an analysis of historical contexts, legal frameworks, and contemporary socio-political dynamics, this article explores the complex interplay between religious freedom, human rights, and the encroachment of Christian nationalism on democratic norms. It sheds light on the challenges posed by this paradoxical situation and underscores the urgent need for safeguarding both religious freedom and human rights within the United States' democratic framework. Keywords: Religious freedom, US Constitution, Christian nationalism, Democracy, Human rights, Pluralism, Socio-political dynamics. Jaminan kebebasan beragama yang diabadikan dalam Konstitusi Amerika Serikat, yang dimaksudkan untuk melindungi beragam keyakinan agama warga negaranya, telah secara tidak sengaja menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga. Artikel ini mengkaji bagaimana prinsip mulia kebebasan beragama telah bersinggungan dengan kebangkitan nasionalisme Kristen, yang menimbulkan ancaman signifikan terhadap demokrasi dan hak asasi manusia di dalam negara tersebut. Meskipun Konstitusi menekankan kebebasan individu, kemunculan nasionalisme Kristen telah memicu narasi yang memprivilesekan identitas agama tertentu di atas yang lain, sehingga merongrong prinsip-prinsip dasar kesetaraan dan pluralisme. Melalui analisis konteks historis, kerangka hukum, dan dinamika sosial-politik kontemporer, artikel ini mengeksplorasi interaksi kompleks antara kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan merambahnya nasionalisme Kristen pada norma-norma demokrasi. Artikel ini mengeksplorasi tantangan yang ditimbulkan oleh situasi paradoksal yang ditimbulkan dan menekankan perlunya upaya yang mendesak untuk melindungi baik kebebasan beragama maupun hak asasi manusia dalam kerangka demokrasi Amerika Serikat. Kata-kata Kunci: Kebebasan beragama, Konstitusi AS, Nasionalisme Kristen, Demokrasi, Hak asasi manusia, Pluralisme, Dinamika sosial-politik.
China’s Dedollarization Policy Through BRICS Cooperation in 2022-2023 Hananto, Diva Calista; Astuti, Wiwiek Rukmi Dwi
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.91-120

Abstract

The momentum challenging the dominance of the US dollar in the international financial system resurfaced in 2022 when Russia faced sanctions from the West. China, responding to the instability caused by the dollar's dominance, has pursued strategic dedollarization through BRICS cooperation. This research analyzes China's dedollarization efforts using a qualitative approach rooted in monetary policy and dedollarization theory. Key initiatives include the development of the New Development Bank (NDB), Bilateral Swap Agreements (BSA), and the Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), all aimed at reducing dependence on the Western-controlled financial system. These efforts have garnered attention from the United States due to their potential long-term impact on dollar hegemony. China’s indirect leadership within BRICS highlights its role in shaping dedollarization policies, particularly in the aftermath of the 2022 sanctions against Russia. While these measures are still far from rivaling the US dollar's dominance, they signal a shift towards a multipolar global monetary system with the potential for significant changes in global financial dynamics in the future. Keywords: Dedollarization, China, BRICS Momentum tantangan terhadap dominasi dolar Amerika Serikat dalam sistem keuangan internasional kembali muncul pada tahun 2022 ketika Rusia menerima sanksi dari Barat. Sebagai respons terhadap ketidaksetaraan dan ketidakstabilan akibat dominasi dolar, Tiongkok melalui kerja sama dengan BRICS mengambil berbagai langkah strategis dedolarisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya Tiongkok dalam kebijakan dedolarisasi melalui aliansi BRICS, menggunakan metode kualitatif berdasarkan data sekunder, dengan pendekatan teori kebijakan moneter dan dedolarisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi penggerak utama dalam beberapa kebijakan dedolarisasinya melalui kerja sama BRICS, seperti pengembangan New Development Bank (NDB), pembentukan Bilateral Swap Agreement (BSA), dan pengembangan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), yang semuanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang dikendalikan Barat. Dalam konteks geopolitik global, upaya dedolarisasi Tiongkok menjadi perhatian khusus bagi Amerika Serikat, terutama karena potensi pengaruhnya terhadap dominasi dolar dalam jangka panjang. Kepemimpinan tidak langsung Tiongkok dalam BRICS menunjukkan bagaimana negara ini mengembangkan kebijakan dedolarisasinya, terutama setelah sanksi terhadap Rusia pada awal 2022. Meskipun masih jauh dari menyaingi dominasi dolar AS, langkah-langkah ini menunjukkan pergeseran menuju multipolaritas dalam sistem moneter global, dengan potensi dampak besar pada dinamika keuangan global di masa depan. Kata-kata Kunci: Dedolarisasi, Tiongkok, BRICS
Australia's Strategic Hedging in the Indo-Pacific: A Neoclassical Realist Analysis of RCEP and AUKUS Rezza, Syah
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.1-20

Abstract

Hedging will continue to remain as the linchpin between Australia and China amidst this complex geopolitical environment of the Indo-Pacific. This paper delves into the details of this approach, namely Australia’s participation in the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) and the AUKUS pact, through neoclassical realism. The researcher reflects on how leadership styles and domestic political pressures influence the Australian approach towards China. Second, it explains the factors related to the increasing geopolitical role in the Indo-Pacific and how they affect Australian foreign policy. The study foregrounds the strategic rationale for Australia’s economic and security maneuvers, underlining leadership and internal dynamics in steering foreign policy. Examining the policy documents, speeches, and academic discourses of these policymakers uncovers the intricate calculations by Australia to attempt to reconcile its economic interests with security needs in a dynamic regional order. The study provides an in-depth view of leadership’s role in facing the trials and opportunities that arise due to China’s rise and furthering the deepening of the discourse on state behavior in international relations. Keywords: Australia, China, RCEP, AUKUS, Neoclassical Realism   Hedging akan terus menjadi kunci utama antara Australia dan Tiongkok di tengah lingkungan geopolitik yang rumit di Indo-Pasifik. Tulisan ini membahas pendekatan tersebut secara rinci, yakni partisipasi Australia dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dan pakta AUKUS, dengan menggunakan sudut pandang realisme neoklasik. Penulis merefleksikan bagaimana gaya kepemimpinan dan tekanan politik dalam negeri berinteraksi untuk membentuk pendekatan Australia terhadap Tiongkok. Kedua, tulisan ini menjelaskan faktor-faktor yang berkaitan dengan peningkatan peran geopolitik di Indo-Pasifik dan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap kebijakan luar negeri Australia. Studi ini mengedepankan alasan strategis untuk manuver ekonomi dan keamanan Australia, menggarisbawahi kepemimpinan dan dinamika internal dalam mengarahkan kebijakan luar negeri. Kajian terhadap dokumen kebijakan, pidato, dan wacana akademis para pembuat kebijakan dapat digunakan untuk menelusuri perhitungan Australia yang rumit dalam penyesuaian kepentingan ekonominya dengan kebutuhan keamanan dalam dinamika tatanan regional. Penelitian ini memberikan pandangan mendalam tentang peran kepemimpinan dalam ketahanan dan menanggapi peluang yang muncul akibat kebangkitan Tiongkok sekaligus memajukan pendalaman diskursus tentang perilaku negara dalam hubungan internasional. Kata-kata Kunci: Australia, Tiongkok, RCEP, AUKUS, Realisme Neoklasik