cover
Contact Name
Fadhila Inas Pratiwi
Contact Email
fadhila.inas@fisip.unair.ac.id
Phone
+6285333282505
Journal Mail Official
jhi@journal.unair.ac.id
Editorial Address
Jurnal Hubungan Internasional, Cakra Studi Global Strategis, Ruang A203 Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kampus B Universitas Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya 60286.
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Hubungan Internasional
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 14119382     EISSN : 27151565     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Hubungan Internasional is a scientific journal published twice a year, every June and December. JHI invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JHI published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 187 Documents
Chinese Loan to Africa in the lens of Pragmatism Economics Widjanarko, Yeremia Nicolaus
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 2 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i2.50644

Abstract

This paper examined the reasons behind China's decision to provide loans to African states, a group that had been traditionally been considered not creditworthy by MDBs. Utilizing a descriptive-explorative research method, primary to secondary data ranged from 1999 to 2022, and the framework of economic pragmatism, this paper analyzed and found some pragmatic implications. The findings concluded that China's lending strategy was mostly motivated by a pragmatic approach aimed at gaining early access to African markets, securing vital natural resources, assisting Chinese corporations, and creating economic dependence. China's loans were used to fund infrastructure projects, reducing logistics costs for Chinese businesses and diversifying foreign exchange reserves. This paper posited that China's policy was driven by empirical facts, adaptiveness to global economic conditions, and a focus on concrete economic benefits, such as increasing imports from China and gaining access to natural resources. Therefore, this paper describes China's efforts to strengthen its influence and obtain tangible economic advantages through its lending practices in Africa   Keywords: Africa, China, Development Loan, Economic Gains, Political-Economy
ASEAN Non-Interference Under Heavy Pressure: Is It Change or Crises for ASEAN Peace? Spastyono, Jeko; Malik, Ichsan; Wahyudi, Bambang
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v17i1.50764

Abstract

This paper intends to join the discussion over the heavily pressured ASEAN's non- interference. With a qualitative approach, this paper investigate where the pressure comes from and whether non-interference actually harms ASEAN. Utilizing the medical analogy, "the dose makes the poison,” and Acton's wisdom on power, the paper argue that the non-interference harm and critics inducing to ASEAN is a result of its excessive uses rather than the principle itself harmful. Avoiding, delaying, and brushing issues aside behind non-interference becomes a comfortable refuge for ASEAN when faced with difficult challenges. ASEAN indeed needs to change. However, given ASEAN's diverse political, cultural, and language differences, eliminating non-interference influence in ASEAN is an outrageous deliberation. The principle is not poisonous with the right prescription. Therefore, as conclusion the paper advocate the creation of a formal forum that can serve as a formal means to brainstorm solutions for members' taboo predicament that could preserve member states freedom to decide, rather than dictating one, to control the dosage of non-interference needed in the ASEAN system. Like a family, ASEAN member states can use the forum to convince each other's that there are better solutions for their predicament and advance the region together.
Strategi Buck-Passing Amerika Serikat Terhadap Konflik Rusia-Ukraina Tahun 2021-2023 Ramadhan, Muhammad Rizki; Elistania, Elistania; Permadi, Agung
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 2 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i2.50961

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai strategi Buck-passing Amerika Serikat kepada Ukraina terhadap konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Pada tahun 2021 Amerika Serikat dan Ukraina menjalin kerjasama untuk menjadikan Ukraina sebagai "Mitra Strategis” Amerika Serikat. Hal tersebut memicu amarah Presiden Rusia Vladimir Putin, melihat kemesraan antara Ukraina dengan Amerika Serikat membuat Rusia mengirim pasukan militer ke daerah perbatasan Ukraina dengan dalih untuk melakukan pelatihan militer. Untuk menganalisis masalah tersebut, penelitian ini menggunakan paradigma realisme yang diusung oleh Kenneth Waltz, dimana negara berusaha untuk mempertahankan keamanan dan kepentingan nasional mereka melalui strategi kekuasaan seperti diplomasi, penggunaan kekuatan militer dan aliansi. Periodesasi penelitian ini bermula dari tahun 2021 sampai tahun 2023 saat pertama kali Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menerima undangan Gedung Putih pada tanggal 1 September 2021. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan konsep buck-passing dimana Amerika Serikat (Great Power) tidak terlibat secara langsung dalam perang, melainkan hanya memberikan dukungan finansial dan persenjataan kepada negara yang menjadi buck-catchernya (Ukraina). Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi buck-passing Amerika Serikat bisa dikatakan efektif pada periode 2021-2023, karena strategi tersebut dapat menahan serangan Rusia terhadap Ukraina.
Implikasi Kerjasama Sub Regional ASEAN IMT-GT dalam Pengembangan Pariwisata di Sumatera Selatan Effendi, Sofyan; Aisyah, Sari Mutiara; Supli, Nur Aslamiah; Soraida, Safira
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v17i1.50962

Abstract

Penelitian ini mencoba untuk merumuskan strategi dalam pengembangan Kawasan Pariwisata pada objek penelitian, di daerah sub-regional Sumatera Selatan, guna membantu percepatan pengembangan Kawasan tersebut dalam lingkup MT-GT. Penelitian ini menjadikan IMT-GT Vision 2036 sebagai landasan dasar yang kemudian diturunkan pada tiga pendekatan IMT-GT Tourism Sector Goals, yang menjadi acuan strategi dan program untuk diteliti yang berkaitan dengan pelaksanaan dan kemungkinan dalam pengembangannya di Kawasan Sumatera Selatan. Penelitian Ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang berbasis pada data primer yang didapat melalui wawancara pada pihak-pihak yang terlibat dalam IMT-GT, beserta data sekunder yang didapat melalui telaah laporan, jurnal dan berita terkait objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implikasi Kerjasama sub regional IMT-GT bagi Sumatera Selatan adalah menjadi media promosi pariwisata sub Kawasan, namun belum optimal dalam merumuskan pariwisata tematik dalam upaya peningkatan konektivitas dan berkelanjutan.
Civil Society, Global Environmental Governance, dan Indigenous People: Kiprah Masyarakat Dayak Iban Manua Sungai Utik dalam Menghambat Laju Deforestasi Setiawan, Arief; Najwa, Lia Nihlah; Fahadayna, Adhi Cahya
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 2 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i2.51126

Abstract

Artikel ini berasal dari penelitian dengan pertanyaan bagaimana peran Masyarakat Adat Iban Menua Sungai Utik sebagai Civil society dalam Tata Kelola Lingkungan? Tujuan artikel ini untuk mendeskripsikan peran Masyarakat Adat Iban Menua Sungai Utik sebagai Civil society dalam Tata Kelola Lingkungan. Pertanyaan dan tujuan di atas muncul karena adanya asumsi tentang relasi erat masyarakat Dayak Iban dengan alam, khususnya hutan. Hubungan tersebut menciptakan relasi khusus antara masyarakat dan lingkunganya dalam format tata kelola sendiri yang befungsi untuk mapping dan regulasi etika pengelolaan wilayah. Sebagai bagian dari civil society dalam global environmental governance, masyarakat Dayak Iban Sungai Utik tidak hanya mampu melakukan internalisasi nilai nilai tradisi mereka. Selain itu, juga memiliki bargain position yang cukup kuat sehingga memiliki kekuatan politik untuk advokasi atas hak mereka sebagai masyarakat adat serta terhadap lingkungan. Mereka meraih penghargaan sebagai Kabupaten Konservasi pada 2003. Selain itu, juga mendapatkan pengakuan dan perlindungan hak adat pada 2018, serta Equator Prize Award.
Mengurai Proses Sekuritisasi Krisis Iklim di Sudan Selatan Tahun 2016-2021 Lutvihana, Yulis; Kusuma, Ayusia
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 2 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i2.51292

Abstract

Sudan Selatan ialah negara dengan berbagai masalah politik, sosial, ekonomi, dan juga menghadapi dampak buruk dari krisis iklim. Negara ini berada pada peringkat ke-8 dalam hal kerentanan dalam skala global dan peringkat ke-175 dalam kesiapan menghadapi perubahan iklim. Oleh karenanya, penting untuk membingkai krisis iklim sebagai masalah keamanan sehingga menciptakan urgensi dalam menanganinya. Penelitian ini menyelidiki bagaimana pemerintah Sudan Selatan (aktor sekuritisasi), dengan dukungan aktor fungsional (Oxfam dan media), telah secara efektif menggambarkan krisis iklim sebagai masalah keamanan untuk melindungi rakyatnya (objek rujukan) dari ancaman eksistensial berupa krisis iklim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dan mengacu pada Teori Sekuritisasi Barry Buzan dan Ole Wí¦ver, untuk menunjukkan bukti keberhasilan proses sekuritisasi pemerintah Sudan Selatan melalui speech act. Sudan Selatan telah mengadopsi tindakan luar biasa berupa adaptasi dan mitigasi iklim yang diuraikan dalam National Adaptation Plan (NAP), yang direspons positif oleh komunitas global dalam upaya kolaboratif mereka untuk memerangi krisis iklim.
Eskalasi Konflik Palestine-Israel di Tahun 2023: Perspektif Kebijakan Luar Negeri Indonesia Setiawan, Irfan; Nainggolan, Ragil Rencoko Mahesa Putra
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v17i1.52392

Abstract

Konflik di Timur Tengah antara Palestina dan Israel merupakan salah satu isu yang paling sensitif dan berkepanjangan di PBB. Konflik ini ditandai dengan adanya ketegangan politik antara kedua belah pihak yang saling mengklaim hak kontrol wilayah. Konflik ini sendiri telah memaksa negara-negara besar di dunia termasuk Indonesia mengeluarkan kebijakan luar negerinya. Tulisan ini mengkaji tentang dua kebijakan luar negeri Indonesia terhadap konflik Palestina-Israel di Tahun 2023. Dari dua kebijakan pemerintah Indonesia dalam menyikapi peristiwa tersebut, terlihat adanya kecondongan untuk mendukung Palestina dan mempercepat perdamaian untuk kedua negara yang terlibat konflik tersebut. Penelitian ini akan menganalisa politik luar negeri Indonesia dengan menggunakan Konsep "Kekuatan Menengah” oleh administrasi Presiden Jokowi pada tahun 2023. Penelitian ini bertujuan menganalisa serta mengelaborasi rasionalitas dibalik pengambilan keputusan Indonesia terhadap konflik Palestina-Israel dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam temuannya, penulis berargumen bahwa beberapa faktor yang mendasari pengambilan kebijakan-kebijakan tersebut adalah adanya solidaritas agama antara Palestina dan Indonesia, adanya sentiment anti kolonialisme yang kuat dari Indonesia, dan program 4+1 oleh Jokowi yang berfokus pada pembenahan HAM masyarakat internasional.
Strategi Gerakan #NiUnaMenos sebagai Jaringan Advokasi Transnasional dalam Menangani Isu Femicide di Kawasan Amerika Latin Mokhamad Saiful Farisin
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v17i1.52417

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai bagaimana strategi yang dilakukan oleh gerakan sosial #NiUnaMenos sebagai upaya advokasinya dalam isu femicide, isu ini merupakan masalah yang cukup serius karena selain memperparah ketidaksetaraan gender tetapi juga mencabut hak asasi manusia dari seorang individu. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dirasa tidak cukup sehingga kehadiran gerakan sosial ini nantinya berusaha untuk menekan pemerintah yang ada dalam pembuatan kebijakan atas isu ini. Setelah berjalan sejak tahun 2015 gerakan ini masih terus eksis hingga pada masa ini dan semakin besar pengaruhnya dalam lingkup regional. Analisis yang disajikan oleh penulis disini akan berfokus pada strategi yang digunakan oleh gerakan ini, untuk menjawab analisis tersebut dalam kerangka konseptual penulis menggunakan konsep jaringan advokasi transnasional (TAN) sebagai upaya untuk mengetahui strategi yang dilakukan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder, dengan analisis secara kualitatif. Temuan yang didapatkan adalah gerakan ini telah melakukan keempat taktik TAN dalam upaya untuk mencapai agendanya, diantara keempat taktik penulis menyimpulkan bahwa taktik politik informasi dan politik simbolik menjadi taktik yang paling berpengaruh pada strategi gerakan dalam melakukan advokasi isu femicide.
Sharing Water Across Borders: Assessing the Hydro-Diplomacy Process in the Resolution of Indus River Disputes Sarah Abigail
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v17i1.53167

Abstract

Hydro-diplomacy addresses the political aspects of transnational water systems that aims to prevent, lessen, and settle disputes over shared water systems through water governance frameworks. The Indo-Pakistan dispute over the Indus River proves the importance of diplomacy in addressing water related issues. Using a qualitative and descriptive-explorative method, this research aims to explore mechanisms of the Indus River dispute resolutions within the framework of the hydro-diplomacy concept. The paper uses secondary data consisting of journal articles, books, and official documents . This research finds that the Indus River dispute resolution mechanism encompasses the key aspects of hydro-diplomacy, which are: 1) the political means through bilateral meetings and the Indus Water Treaty formulation; 2) preventive means through dispute resolution mechanism in the treaty; 3) integrative means towards the involvement of numerous stakeholders; 4) cooperative aspect through IWT agreements; and 5)technical means through data-sharing practices.
Indonesia Interest toward G20 Pandemic Fund: Global Health Diplomacy Perspective Ahmada, Saqib Fardan
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 17 No. 1 (2024): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v17i1.53539

Abstract

In the last three years, during the COVID-19 pandemic shocks, the discussion for economic recovery and global health development agenda prevailed. To date, the discussion has shifted from recovery to more extensive moves such as strengthen the current global health architecture. Specifically, prepare for the next pandemic and reduce potential risks. Countries around the world are interested in this topic and the Group of Twenty (G20), the premier economic forum summit, also focuses on this issue. This kind of "global crisis responder” experience drives the interesting discussion, how did the COVID-19 crisis respond by the G20? Answering this question, during Indonesia's G20 Presidency, the Pandemic Fund was formally introduced in collaboration with the Pandemic Fund secretariat, marked by a significant event during the G20 Joint Finance and Health Ministers' Meeting. The rationale behind establishing this fund arose from the challenges faced by low and middle-income nations in securing adequate funding for their healthcare systems amidst the COVID-19 pandemic. Depart from that, this significant achievement of the pandemic fund launching raises questions, why Indonesia has an agenda for Pandemic Fund during its presidency? This paper aims to answer this question with the framework of global health diplomacy.