cover
Contact Name
Dr. Saiful, M.Ag
Contact Email
saiful.saiful@ar-raniry.ac.id
Phone
085361728880
Journal Mail Official
jurnal.mudarrisuna@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam
ISSN : 20895127     EISSN : 24600733     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal MUDARRISUNA (JM) publishes scholarly articles on education science and Islamic education in particular, based on researches and project reports, book reviews. Jurnal MUDARRISUNA (JM) accepts submission in the field of education science and Islamic education science in scope Aqeedah, Morals, Jurisprudence, Islamic Law, Qoran, Hadith, History and Islamic Civilization to help spread new insights and concept, as well as highlights best-practices by and for many Islamic educational practitioners, teachers, lectures, and various education policy makers in the field. Published by Center for Research and Publication Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh in cooperation with Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. This journal is published biannually in January-Juny and July-December. Registered with Print ISSN 2089-5127 and Online ISSN 2460-0733.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2023)" : 10 Documents clear
Peran Pola Asuh Orangtua Yang Transformatif Dalam Pemberdayaan Pembinaan Pendidikan Akhlak Karimah Berbasis Aqidah Islam Bagi Anak bin yahya lizam, miskahuddin
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.19619

Abstract

Transformasi Pemberdayaan pembinaan dan pendidikan Akhlak Karimah berdasarkan konsep Aqidah Islam kepada anak yang mengacu kepada jalan tauhid merupakan salah satu kekuatan untuk menggerakkan prilaku dan kepribadian anak menjadi baik dan bermutu tinggi. Anak akan mengalami kemajuan dalam bersikap maupun berprilaku baik sesuai keinginan dan kehendak agamanya yang dibimbing oleh ajaran aqidah tauhid berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan al-Hadits. Peran aktif pola asuh orangtua yang transformatif membina dan memberikan pendidikan akhlak yang baik lagi benar menurut aqidah Islam tentu salah satu jalan menuju keharmonisan agar dapat mempersiapkan dan membahagiakan masa depan anaknya dalam menghadapi berbagai tantangan global dan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Semua orangtua akan senang dan bahagia ketika mendapati anak-anaknya sebagai generasi yang tangguh sehat lahir dan bathin, shalih dan taat menjalankan semua ajaran agamanya dengan baik dan benar sesuai cita-cita dan kehendak agama itu sendiri supaya menjadi insan pengabdi yang mampu memperhambakan dirinya dengan penuh ketaatan dan ketaqwaan kepada Tuhannya. Jika anak-anaknya tumbuh dan berkembang sebagai generasi sehat lahir bathinnya daripada hasil pembinaan dan pendidikan akhlak karimah oleh orangtuanya, tentu hidup dalam berbagai lingkungan akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang jauh daripada kemerosotan akhlak. Oleh karena itu peran positif dari kemampuan pola asuh orangtua yang transformatif dengan memberikan bimbingan dan pendidikan yang sehat, stabil dan bermutu kepada anaknya guna membangun akhlak karimah bermuatan aqidah Islam dianggap lebih utama dan berhasil meraih kebaikan anak sebagai generasi yang berakhlak karimah.
Implikasi Metode Wahdah terhadap Kekuatan Hafalan Al-Qur’an Santri Dayah Modern Darul Ulum Rosmiarni, Rosmiarni; Ariani, Safrina; Mawaddah, Sri Mawaddah; Nurdin, Realita
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.17432

Abstract

Penerapan metode wahdah pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan hafalan Al-Qur’an yang baik dan kuat, metode wahdah sendiri merupakan metode menghafal cepat dan praktis. Metode wahdah ini diterapkan sejak lama di Dayah Modern Darul Ulum, seiring dengan dibuatnya program ekstrakurikuler tahfidz Al-Qur’an di dayah tersebut. Peneliti melakukan penelitian di Dayah Modern Darul Ulum dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan metode wahdah ini di Dayah Modern Darul Ulum, apakah penerapan metode wahdah efektif terhadap kekuatan hafalan santri tahfidz Dayah Modern Darul Ulum, dan faktor apa yang menjadi hambatan dalam penerapan metode wahdah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penelitian lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan tes hafalan, kemudian data tersebut dianalisis melalui analisis deskptif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa: langkah-langkah penerapan metode wahdah di Dayah Darul Ulum Banda Aceh sebagai berikut: (a) santri membaca ayat yang akan dihafal 5 sampai 10 kali atau lebih, untuk membentuk pola bayangan; (b) setelah benar-benarhafal, barulah dilanjutkan pada ayat berikutnya; (c) setelah sampai pada ayat yang ditargetkan, maka hafalan diulang dari ayat pertama sampai pada ayatterakhir, dilakukan 10 kali atau sampai benar-benar hafal; (d) langkah selanjutnya, menyetorkan hafalan kepada ustaz atau ustazah. Penerapan metode wahdah sangat bergantung dengan waktu. Maka dari itu semakinbanyak waktu yang disediakan maka semakin efektif penerapan metode wahdah dan semakin kuat pula hafalan santri. Adapun hambatan-hambatan dalam menghafal Al-Qur’an yaitu: 1) kurangnya waktu untuk menghafal; 2) motivasi yang didapatkan sangat minim; 3) konsentrasi; 4)serta lemahnya ingatan saat menghafal.
Azas Psikologis Pengembangan Kurikulum: Suatu Analisis Komparatif suraiya, suraiya; Zubaidah, Zubaidah
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.18376

Abstract

Abstract   : Since curriculum is crucial, its development must be based on certain principles. Psychology is one of the important principles in curriculum development because students have unique characteristics that are different from one another. These differences include interests, talents and developmental periods as well as ways of learning. The curriculum must pay attention to the condition of students including how they develop and how they learn. The psychological aspects that underlie curriculum development are developmental psychology and learning psychology. Developmental psychology examines the nature of development, stages of development, aspects of development, tasks of individual development and other matters relating to individual development, all of which must be taken into consideration in curriculum development. Meanwhile, by understanding the psychology of learning, curriculum developers will understand which learning models or approaches are appropriate and can provide optimal results, and how the process is implemented to provide optimal results. Learning theories such as cognitive, behavioristic, constructivist and humanistic theories are also important points to consider. Each learning theory has its own strengths and weaknesses. This is understandable because the originators of the theory focus on aspects that they consider important, in addition to the research they have conducted regarding how humans learn. One thing to note that each theory will be meaningful if it is applied to certain aspects that are appropriate to the fields and stages of student development.
LEARNING THEORIES DAN INDIVIUAL DIFFERENCES DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Juliana, Juliana; Zulfikar, T Zulfikar; Silahuddin, Silahuddin; Muhammad, Muhammad
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.18216

Abstract

Mendidik merupakan rangkaian proses yang memerlukan kemampuan tidak hanya apa yang diajarkan melainkan bagaimana melarangnya. Seorang pendidik perlu membekali diri dengan berbegai teori belajar dan memahami objek yang akan diajarkannya. Dewasa ini banyak pendidik yang kurang memperhatikan konsep ini, jika ada guru yang cerdas dalam memainkan peran dalam kelas hanya sebagai objek tunggal pemberi informasi. Sementara cara mengolah dan menyampaikan informasi sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik masih sangat minim. Penelitian ini merupakan kajian library research dengan menganalisis buku, jurnal dan kajian terkait lainnya. Kajian ini fokus pada teori belajar dan perbedaan individudalam pembelajaran PAI yang merupakan dua unsur penting dalam pelaksanaan pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa saya mendapatkan teori dan perbedaan individutidak dapat berdiri secara terpisah namun memiliki sisi yang saling melengkapi satu sama lain. Guru wajib memahami konteks pembelajaran yang akan diajarkan baik pendekatan maupun penguasaan berbagai konteks dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Di sisi lain, seorang pendidik juga wajib memahami perbedaan peserta didik satu sama lainnya, masing-masing anak memiliki kecendrungan dan perbedaan individu yang berbeda ini menjadi tugas seorang pendidik untuk memahaminya. Perbedaan-perbedaan tersebut harus diselesaikan dengan pendekatan individualnya juga, tetapi tetap disadari bahwa pendidikan tidak semata mata bertujuan untuk mengembangkan individu sebagai individu, tetapi juga dalam kaitan dengan pola kehidupan masyarakat yang bervariasi.
METODE MENUMBUHKEMBANGKAN KECERDASAN EMOSIONAL DAN SPIRITUAL TERHADAP ANAK Razali, Muslim
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.18427

Abstract

Emotional and spiritual intelligence helps a person to find meaning in life and happiness. Successful people are not only sufficient with intellectual intelligence but need emotional intelligence to feel happy about their success. In addition, spiritual intelligence is also needed to feel pious and serve sincerely. Intellectual intelligence is apparently not enough to guarantee decision making, so today people are starting to talk about other intelligences, namely emotional intelligence and spiritual intelligence
KONSEP DAN IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PROSES PEMBELAJARAN ida mutiawati, ida mutiawati
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.18099

Abstract

 ABSTRAK Pembelajaran kontekstual adalah suatu konsep tentang pembelajaran yang membantu guru-guru untuk menghubungkan isi bahan ajar dengan situasi-situasi dunia nyata serta penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara, dan pekerja serta terlibat aktif dalam kegiatan belajar yang dituntut dalam pelajaran. Pendekatan kontekstual perlu diterapkan mengingat sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Dalam hal ini fungsi dan peranan guru masih dominan sehingga siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Melalui pendekatan kontekstual ini siswa diharapkan belajar dengan cara mengalami sendiri bukan menghafal. Pendekatan kontekstual menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi artinya proses pengalaman secara langsung, dan tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Pendekatan kontekstual juga dapat mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya Pendekatan kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Penanaman Nilai Akhlak Pada Anak Didik Dalam Pendidikan Islam darmiah, darmiah
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.18098

Abstract

AbstractA perfect human being according to Islam is formed through consistent fostering of moral values. Moral values are taught and habituated to students by fostering, exploring, and shaping and directing students to form commendable moral actions, so that Islamic education can function as character education. The moral values instilled will become provisions for students in childhood and adulthood, so that the moral teachings instilled in students should be based on the Qur'an and as-Sunnah. This paper is a theoretical qualitative normative discourse, the primary sources in this article are normative texts such as Al-Quran, alhadith, and other juridical policies. The results of the discussion in this article conclude that Islam has methodological principles in instilling moral values in students, namely a) The principle of habituation. With habituation, a person can be istiqomah with what he does so that it can become a character for him which will provide great benefits in one day, later. b) The principle of exemplary. This principle will emerge a positive environment for students, because all the senses of students only see something positive since the nature of students in general is a good imitator. Therefore, families, educational institutions and social systems plays an important role in the exemplary system.Keywords: Morals, Students, Islamic Education  Manusia yang paripurna menurut Islam dibentuk melalui pembinaan nilai akhlak secara konsisten. Nilai-nilai akhlaq di ajarkan dan di biasakan kepada peserta didik dengan cara membina, menggali, dan membentuk serta mengarahkan kepada peserta didik agar terbentuk perbuatan akhlak terpuji, sehingga pendidikan Islam dapat berfungsi sebagai pendidikan karakter. Nilai akhlak yang ditanamkan akan menjadi bekal bagi anak didik di masa kanak-kanak maupun dewasa, sehingga ajaran akhlak yang ditanamkan kepada anak didik hendaknya berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Tulisan ini merupakan diskurs normatif kualitatif teoritis, sumber primer dalam artikel ini adalah naskah normatif seperti al-qur’an, alhadits, dan kebijakan yuridis lainnya. Hasil pembahasan dalam artikel ini menyimpulkan bahwa Islam memiliki prinsip metodologi dalam menanamkan nilai akhlaq kepada peserta didik yaitu a) Prinsip pembiasaan, dengan pembiasaan, seseorang bisa istiqomah dengan apa yang ia lakukan sehingga bisa menjadi tabi’at bagi dirinya yang akan memberikan manfaat yang besar di suatu hari nanti. b) Prinsip keteladanan, dengan keteladanan akan muncul suatu lingkungan yang postif bagi peserta didik, karena seluruh inderawi peserta didik hanya melihat sesuatu yang positif, karena hakikat peserta didik pada umumnya adalah peniru yang baik, oleh sebab itu, keluarga, lembaga pendidikan dan sistem sosial sangat memaikan peran penting dalam sistem keteladanan.Kata Kunci : Akhlak, Anak Didik, Pendidikan Islam
Etika Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah hazrullah, hazrullah
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.17968

Abstract

Guru pendidikan agama Islam mempunyai peran penting dalam membangun Pendidikan dan karakter anak bangsa, oleh karenanya guru Pendidikan agama Islam harus melakukan upaya-upaya untuk mendorong dan mengembangkan diri dalam rangka membangun pendidikan. Selanjutnya masyarakat juga ikut mendorong dan berpartisipasi dalam rangka membangun Pendidikan secara bersama-sama. Sebagai guru pendidikan agama Islam, ia harus memiliki etika dan akhlak yang melekat pada dirinya, sifat yang berhubungan dengan kepribadiannya yang menjadi contoh teladan bagi peserta didik,dan memiliki keahlian dalam bidang yang ditekuninya, yang akhirnya akan membentuk karakter guru yang memiliki kematangan dalam kepribadian dan akhlak mulia sekaligus profesional dalam bidang ilmu yang ditekuninya. Oleh karenanya guru yang mengajar dan masuk ke dalam kelas benar-benar guru yang profesional. Kesalahan yang dilakukan oleh orang yang bukan ahli dalam bidang Pendidikan dapat merusak generasi kedepan dan ini akan terus terjadi secara berkesinambungan.
KOMPETENSI SOSIAL GURU AGAMA ISLAM DI ERA SOCIETY 5.0 DAN IMPLEMENTASINYA Nita, Yunita Asman; Muhammad, Muhammad; Anida, Anida; Alkhalidi, Ahmed
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.19667

Abstract

Era society 5.0 saat ini menitikberatkan segala lini kehidupan masyarakat tidak terlepas dari teknologi. Kondisi ini mempersempit ruang terciptanya nilai positif dari interaksi sosial. Akibatnya, terjadi berbagai macam perilaku buruk secara virtual dan menjadi tontonan meskipun bertentangan dengan norma kehidupan sosial. Kajian ini merupakan library risearch (kajian kepustakaan), penulis mengkaji buku, artikel ilmiah, dan penelitian terkait lainnya untuk menemukan pendekatan, peran dan impelementasi terkait kompetensi sosial guru agama Islam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kompetensi sosial guru agama menciptakan hubungan baik antara guru dengan guru, peserta didik, wali murid dan masyarakat pada umumnya. Kompetensi sosial sangat menekankan pada kemampuan komunikasi seorang guru agama dengan koleganya. Guru memiliki peran strategis dalam memainkan perannya di sekolah maupun luar sekolah bidang sosial, karena guru adalah tauladan bagi peserta didik maupun masyarakat. Untuk itu, sikap inklusif, objektif, komunikasi yang efektif, rasa empatik, santun dan aktif dalam berbagai kesempatan yang diselenggarakan sekolah maupun masyarakat merupakan suatu keharuan dan menjadi bagian dari kompetensi sosial yang perlu dipahami dan direalisasikan oleh seorang guru. Realisasi sikap tersebut menghasilkan nilai sosial positif pada anak di era society 5.0 seperti; rasa empati, partisipasi, dermawan, komunikatif, negeosiasi dan terampil dalam penyelesaian masalah. Nilai ini sangat berguna mengingat kehidupan peserta didik era ini berada dalam lingkaran teknologi dan hampir tidak beriteraksi sosial antar sesama secara langsung sehingga kepekaan terhadap nilai interaksi sosial menjadi hilang dan memperngaruhi perlikau sosial peserta didik di masa mendatang.
PEMBENTUKAN AKHLAK SISWA MELALUI SANKSI EDUKATIF DI MTsS MADRASAH ISLAM NURUL AZIZI KABUPATEN ASAHAN, SUMATERA UTARA Pangaribuan, M. Yusuf; Marzuki, Marzuki; Mawaddah, Sri; Sofia, Ana
Jurnal Mudarrisuna: Media Kajian Pendidikan Agama Islam Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jm.v13i1.20123

Abstract

ABSTRAKAkhlak merupakan hal yang sangat penting dalam agama Islam. Sama halnya ketika siswa berada di madrasah, akhlak menjadi perhatian serius dari keberhasilan orang tua dan guru dalam mendidik anak/siswanya. Berbagai upaya sudah dilakukan guna membentuk akhlak siswa, akan tetapi masih ada sebagian siswa di MTsS MINA Asahan yang memiliki akhlak kurang baik atau melanggar peraturan sekolah. Pertanyaan penelitian dalam skripsi ini, Apa saja bentuk sanksi edukatif yang mempengaruhi pembentukan akhlak siswa di MTsS MINA Kabupaten Asahan? Bagaimana hasil dari penerapan sanksi edukatif terhadap pembentukan akhlak siswa yang melanggar aturan di MTsS MINA Kabupaten Asahan?. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif. Data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data tersebut dianalisis dengan tiga tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ditemukan bahwa ada 4 bentuk sanksi edukatif di MTsS MINA Asahan, yaitu 1). Membuat surat perjanjian, 2). Menghafal surah yang ada di juz ‘Amma, 3). Membaca istighfar 100 X, 4). Guru memberikan nasihat. Hasil dari penerapan sanksi edukatif terhadap pembentukan akhlak sangat berdampak positif, bahkan dampaknya mencakup tiga hal, yaitu perubahan afektif, perubahan kognitif, perubahan psikomotorik. Sanksi edukatif ini dinilai sangat membantu dalam pembentukan akhlak dan memiliki dampak lebih luas. Walaupun setiap sanksi yang di implementasikan itu ada kelebihan dan kekurangannya.Kata Kunci: Pembentukan Akhlak, Sanksi Edukatif.

Page 1 of 1 | Total Record : 10