cover
Contact Name
Saiful Anwar
Contact Email
saifulanwar@unida.gontor.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
attadib@unida.gontor.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
AT TA´DIB
ISSN : 02169142     EISSN : 25033514     DOI : -
At-Ta'dib adalah media ilmiah bidang kependidikan Islam, baik berupa studi kepustakaan, hasil penelitian maupun karya ilmiah terkait. Terbit dua kali dalam setahun, sebagai sarana pengembangan tradisi keilmuan insan tarbiyah dan pendidikan pada umumnya. Jurnal kependidikan Islam ini diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah Universitas Darussalam Gontor.
Arjuna Subject : -
Articles 344 Documents
PENDIDIKAN PENYADARAN PAULO FREIRE A.B. Susanto
At-Ta'dib Vol 4, No 1 (2009): Kurikulum Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v4i1.574

Abstract

Pendidikan pada hakikatnya tidak mengenal akhir karenakualitas kehidupan manusia terus meningkat. Persoalan pendidikanbukanlah terutama pada target pengetahuan yang ditetapkan,melainkan pada bagaimana orang dapat berinteraksi/berdialogdengan situasi dan kondisi jamannyaArtikel ini menguraikan tentang pendidikan kesadaranala Paulo Freire. Bagi Freire, suatu bentuk pendidikan selaludidasarkan pada kesadaran manusia, yang meliputi tiga aspekyaitu: kesadaran naif (naival consciousness) yang melihat bahwasannyaaspek manusia sebagai akar penyebab masalah, kesadaranmagic (magic consciousness) berupa kesadaran masyarakat yangtidak mampu melihat adanya kaitan satu faktor dengan faktoryang lain, kesadaran kritis (critical consciousness) yaitu kesadaranyang lebih melihat sistem sebagai sumber masalah. Untukmencapai semua kesadaran ini dibutuhkan pendidikan kritis yangberbasis pada realitas sosial dan bukan merupakan pendidikan‘gaya bank’ yang akan menjadikan murid sebagai robot-robotyang tidak mengerti akan realitas-realitas sosial yang dihadapinya.Pendidikan yang mampu melakukan refleksi kritis terhadap‘ideologi dominan’ yang berlaku di dalam masyarakat, menantangsistem yang tidak adil, dan memikirkan sistem alternatifke arah transformasi sosial yang menuju masyarakat yang adil.
ANALISIS KRITIS TERHADAP METODE KRITIK SEJARAH BERBASIS GENDER DALAM STUDI ISLAM DI UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA INDONESIA Henri Shalahuddin dan Mohd. Fauzi bin Hamat
At-Ta'dib Vol 10, No 2 (2015): Integrasi Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v10i2.463

Abstract

Perspektif gender sebagai pendekatan akademis dalam studi Islam seperti yang dipraktikkan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Indonesia, merupakan fenomena baru dan masih kontroversial di kalangan para akademisi hingga kini. Makalah ini bertujuan untuk meneliti metode kritik sejarah berbasis gender di UIN Sunan Kalijaga, dan disertai dengan analisis kritis terhadapnya. Dalam kajian yang bersifat kepustakaan ini, penulis menggunakan metode analisis kandungan (content analysis) tehadap buku-buku, jurnal, dan karya ilmiah mahasiswa akhir di UIN Sunan Kalijaga. Kajian menemukan bahwa metode kritik sejarah terhadap studi Islam yang dijalankan di UIN Sunan Kalijaga pada umum mempunyai banyak kesamaan dengan metode kritik sejarah yang dihasilkan oleh pemikir modernis Muslim seperti Nasr Hamid Abu Zayd. Selain itu, metode ini juga telah dipraktikkan oleh sarjana Kristen untuk meneliti kembali validitas teks-teks Bibel dan untuk mendapatkan pemahaman yang objektif. Dekonstruksi tafsir yang dihasilkan metode ini cenderung bertentangan dengan makna hakiki yang terkandung dalam teks yang jelas, dan metode seperti ini tidak dikenal dalam khazanah intelektual Islam.
Pembantu Rumah Wanita Indonesia di Malaysia: Masalah dan Cabaran Mohd Roslan Mohd Nor dkk
At-Ta'dib Vol 7, No 1 (2012): Teori Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v7i1.530

Abstract

Hubungan diplomatik yang terjalin di antara Malaysia dan Indonesia seringmengalami pasang dan surutnya. Walaupun begitu, kesedaran pemimpin keduaduabuah negara khususnya bagi mengekalkan hubungan tersebut telahmenyebabkan pelbagai usaha dilakukan dalam menyelesaikan pelbagai isu yangmendatang. Hal ini termasuklah isu-isu yang berkaitan dengan hal-halkemasyarakatan dan ekonomi. Ini kerana kemakmuran sesebuah negara adalahbergantung kepada kesejahteraan rakyatnya di mana hak-hak mereka mestilahdipenuhi dan keadilan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Namun sehinggakini, isu atau masalah mengenai pembantu rumah wanita warganegara Indonesiakhususnya yang bekerja di Malaysia masih lagi hangat diperkatakan. Secarapuratanya, lebih daripada 90% pembantu rumah di Malaysia adalah merupakanwarganegara Indonesia. Sepertimana laporan yang dikeluarkan oleh HumanRights Watch (HRW) suatu ketika dahulu, beribu-ribu pembantu rumah Indonesiayang bekerja di Malaysia menghadapi penderaan dan dalam kesengsaraandisebabkan polisi-polisi kerajaan di kedua-dua negara yang gagal untuk memberiperlindungan kepada mereka. Begitu juga dengan laporan HRW yang telahmendokumentasikan bagaimana pada kebiasaannya mereka akan bekerja tanparehat selama 16 hingga 18 jam sehari, 7 kali seminggu dan meraih pendapatanyang kurang daripada AS $0.25 sejam. Namun tidak kurang juga bagi sesetengahkes yang melibatkan kecurian dan kezaliman yang dilakukan terhadap majikanmereka di atas kepercayaan yang diberikan. Oleh yang demikian, skop perbincangan yang akan dilaksanakan bagi kertas kerja ini adalah masalah dancabaran yang dihadapi sepertimana yang telah dibincangkan sebelum ini danhak-hak pekerja khususnya wanita. Begitu juga dengan usaha-usaha yang dilakukanoleh kedua-dua buah negara dalam mengatasi hal tersebut dan kepentinganmenjalinkan hubungan yang harmoni di antara kedua-dua buah negara.
Madrasah dan Diskursus Keilmuan Islam (Satu Sisi Pendidikan Islam di Abad Pertengahan) M. Muslih
At-Ta'dib Vol 3, No 2 (2008): Filsafat Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v3i2.565

Abstract

Artikel ini mengungkap seberapa jauh peran madrasahdalam diskurus keilmuan Islam. Islam memberikan posisi tinggibagi pengembangan ilmu. Namun secara historis, klasfikasibahkan herarki ilmu dalam Islam bukan tanpa proses sejarah.Berbagai institusi ikut ambil peran. Madrasah, sebagai institusibagi proses pengembangan dan proses transmisi keilmuan Islam,sejak kelahirannya sudah tentu turut ambil bagian dalammenentukan ‘wajah’ keilmuan dalam Islam. Sejarah menunjukkanbahwa madrasah kemudian menjadi lembaga pendidikan yangkhas bagi ilmu syari’ah. Artinya, para fuqaha menggunakanmadrasah sebagai sarana bagi proses pengembangan dan transmisikeilmuannya. Berbeda dengan para failasuf, mutashawwifin,syi’iyyin, dan mutakallimin, yang pusat studi mereka lebih bersifatinformal.
Buya Hamka dan Mohammad Natsir tentang Pendidikan Islam Abdul Nashir
At-Ta'dib Vol 3, No 1 (2008): Dikotomi ilmu pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v3i1.494

Abstract

Pendidikan Islam dewasa ini ditengarai banyak pihakmasih bersifat parsial, karena belum diarahkan kepadapembentukan insan kamil. Perhatian yang kurang terhadapkeseimbangan antara aspek spiritual dan intelektual menyebabkanproduk pendidikan saat ini belum bisa dianggap sebagaimanusia yang seutuhnya melainkan manusia yang individualis,materialis, dan pragmatis. Di samping itu sistem PendidikanIslam sering kali berjalan apa adanya, alami, dan tradisional,karena dilakukan tanpa perencanaan konsep yang matang.Akibatnya, mutu Pendidikan Islam kurang menggembirakan.Artikel ini mencoba untuk memaparkan konsep PendidikanIslam menurut dua orang pemikir Pendidikan Islam yaitu BuyaHamka dan Moh. Natsir. Mereka mempunyai latar belakang yangberbeda meskipun hidup di zaman yang sama. Persamaan danperbedaan konsep pendidikan menurut Buya Hamka dan Moh.Natsir, serta kontribusi pemikirannya bagi dunia Pendidikan Islamdi Indonesia saat ini sangat menarik untuk dicermati
ﻹﻣﺎﻡ ﳏﻤﺪ ﺃﺑﻮ ﺯﻫﺓﺮ ﻭﻣﻌﺎﱂ ﻓﻜﺮﻩ ﺍﻟﺘﺮﺑﻮﻯ Muhammad Badrun Syahir
At-Ta'dib Vol 8, No 1 (2013): Tantangan Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v8i1.520

Abstract

Imam Muhammad Abu Zahrah (1898 – 1974) adalah salah seorangtokoh yang cukup fenomenal di Mesir pada awal abad ke 20. Keberanian danketegasannya dalam bersikap pada saat berhadapan dengan lawan bicara danlawan politiknya menjadikannya seorang tokoh sangat disegani baik olehkawan maupun lawan. Pada awalnya (tampak) ia tertarik untuk menjadi qadhi(lawyer). Hal itu terbukti dari kelanjutan studinya setelah menyelesaikantingkat menengah, dimana dia kemudian melanjutkan ke Sekolah KehakimanSyariah (Madrasatu al Qadha al Syar’i). Namun karena kecenderungan danketertarikannya kepada dunia pendidikan dan pengajaran akhirnya (setamatdari sekolah tersebut) ia justru lebih memilih profesi guru dari pada pengacara(lawyer). Dari pengalamannya menjadi tenaga pengajar (guru dan dosen)selama kurang lebih 37 tahun (1927-1964) dan dari sejumlah buku yang telahditulisnya (tidak kurang dari 56 judul buku) dapat ditemukan betapa bahwaImam Abu Zahrah ternyata memiliki teori-teori dan konsep-konseppendidikan yang sangat menarik.Dengan menganalisa data yang terkumpul dari sejumlah karya ImamAbu Zahrah secara induktif dan komparatif penulis berupaya menemukangagasan, konsep dan pemikiran-pemikiran edukatifnya.Dari upaya tersebut penulis mendapati bahwa Imam Abu Zahrahbenar-benar memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap dunia pendidikan.Hal itu terbukti dari sejumlah pemikiran dan pandangan edukatifnya. MenurutAbu Zahrah pendidikan adalah proses pembelajaran berkelanjutan danberkesinambungan dalam mengeksploarasi seluruh aspek kemanusiaanmanusia. Ada tiga unsur penting dalam proses tersebut, yaitu mu’allim (guru,pendidik), muta’allim (murid, anak didik) dan silabi (materi) pendidikan danpembelajaran serta metode yang tepat. Terkait unsur silabi, Abu Zahrahmenekankan pentingnya pengetahuan tentang sejarah, pengetahuan bahasaArab, dan penguasaan terhadap al Qur’an; bacaan, pemahaman danpenafsirannya. Adapun dalam hal metode pembelajaran Abu Zahrah secarategas menekankan pentingnya konsistensi dalam implementasi metode Targhibwa Tarhib; Reward and Punishment.Sebagai sosok pribadi yang unik dan menarik Imam Muhammad AbuZahrah memang layak untuk dikenali secara lebih serius dan mendalam.Semoga penelitian ini dapat menjadi awal yang baik, sekalipun bukan yangpertama, untuk penelitian lebih lanjut tentang tokoh-tokoh dalam dunia Islam.
Philosophy of Character Education: A Study on the Conception of A.M. Iqbal Imam Bahroni
At-Ta'dib Vol 6, No 2 (2011): Pendidikan Karakter
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v6i2.555

Abstract

No one can develop any intelligent theory of education withoutconsciously postulating some conception of the nature of the individual to beeducated, his relationship to the community and, what may be called, his ultimatedestiny. For, the essence of the educative process, reduced to its most elementaryterms, lies in the fact of a living human organism being in constant interactionand contact with a vast and complex environment, which keeps on changingand growing as a result of this continuous, mutual intercourse. Like thephilosopher, the educator must necessarily inquire into the nature of these twoterms of his activity, the individual and environment which ultimately determinethe solution of all his problems.According to Allama Muhammad Iqbal, there is no universal life.Everything and every being possesses an individuality which its place in theuniverse depends upon the degree of development of this individuality. Evenmatter itself, or not-Self, consists of a colony of Egos of a low order: life andconscience emerge when their association and interaction reach a certain degreeof coordination. Individuality is an ascending movement which takes in itstrain all living beings. This movement goes up the ladder of existence to thepoint of man’s highest development when he becomes a Personality.In educational terms, the character of the good man, the true believer,the Momin, as visualized by A.M. Iqbal is a man who develops all his powersand strengthens his individuality through active contact with his material andcultural environment.
PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT IMAM AL-GHAZALI Yoke Suryadarma dan Ahmad Hifdzil Haq
At-Ta'dib Vol 10, No 2 (2015): Integrasi Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v10i2.460

Abstract

Akhlak merupakan ukuran kepribadian seorang muslim. Ketika akhlak seseorang tercermar dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan syariat Islam maka ia berkepribadian yang tercela. Sebaliknya, orang yang bersikap sesuai ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah maka akhlaknya mulia. Ukuran baik dan buruk akhlak seseorang dapat ditinjau dari sudut pandang syariat Islam. Sebab syarit adalah undang-undang yang mengatur kehidupan umat manusia. Menurut Imam Al-Ghazali akhlak bukan sekedar perbuatan, bukan pula sekedar kemampuan berbuat, juga bukan pengetahuan. Akan tetapi, akhlak adalah upaya menggabungkan dirinya dengan situasi jiwa yang siap memunculkan perbuatan-perbuatan, dan situasi itu harus melekat sedemikian rupa sehingga perbuatan yang muncul darinya tidak bersifat sesaat melainkan menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja dewasa ini banyak sekali tantangan yang dapat mengakibatkan kerusakan akhlak umat Islam. Untuk itu umat Islam seharusnya memahami secara benar dan menerapkan hakekat dari pendidikan akhlak sesuai dengan ajaran Islam.
Membangun Karakter Bangsa Heru Saiful Anwar
At-Ta'dib Vol 8, No 1 (2013): Tantangan Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v8i1.511

Abstract

Cara pandang kita kepada pendidikan dan peserta didik sangatmenentukan sikap dan perilaku kita pada mereka, oleh karena itu dalam jangkapendek kedua hal tersebut harus diperbaruhi sebagai dasar dalammemperbaharui tugas-tugasnya sebagai pelaku tenaga kependidikan. Pendidikanharus dikembalikan pada watak aslinya, yaitu mengantarkan peserta didik menjadianak bangsa meraih derajad unggul baik dari aspek intelektual, sepiritual, jiwadan raga serta akhlaqnya.Pendidikan karakter bukan hanya terletak pada tanggung jawab guruagama atau guru budi pekerti, melainkah merupakan tanggung jawab semuapihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Selain itu, dalam pendidikankarakter, semua mata pelajaran seperti biologi, kimia, fisika, matematika,sosiologi, psikologi, sejarah dan lain-lain, muaranya adalah untuk meningkatkankesadaran akan eksistensi akan dirinya, Tuhannya dan makna atau arti hidupsecara keseluruhan. Dengan begitu diharapkan akan tumbuh keimanan yangselanjutnya membuahkan amal saleh dan akhlaqul karimah atau karakter yangunggul.
Individuality In the Educational Philosophy of Allama Muhammad Iqbal Imam Bahroni
At-Ta'dib Vol 6, No 1 (2011): Teknologi Pendidikan
Publisher : Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/at-tadib.v6i1.545

Abstract

Nowadays, Muslim Ummah all over the world likely at the cross road,at the position where they watch clearly a phenomenon of life that directsthem into surprising modern civilization with full creativities and innovations,but far away from the true values of Islamic education. On the other hand,they observe vividly numerous dimensions of life that direct every individualinto strong morality, norms and right way of life to discover the Ultimate Reality.This social fact at the end compelled every one of modern people to selectwhich one among these two is the correct ideal for the truth of life.This article tries to elaborate the concept of individuality in the educationalphilosophy of Allama Muhammad Iqbal 2 . In his Lectures, Iqbal elaborated thatindividuality is not a datum but an achievement. It is the fruit of a constant,strenuous effort in and against the forces of the external environment as well asthe disruptive tendencies within man himself. The life of individuality (the Ego),he further explained is a kind of tension caused by the Ego invading theenvironment and the environment invading the Ego.An individual is the basis of all aspects of educations, which then mustbe educated and concerned together with the development of its relationshipto the community. Like the philosopher, the educator must necessarily inquireinto the nature of these two terms of his active individual and the environment,which ultimately determine the solution of all his problems.

Page 7 of 35 | Total Record : 344


Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 1 (2025): At-Ta'dib Journal of Pesantren Education Vol. 19 No. 2 (2024): The Transformation of Pesantren Education in the Disruption Era Vol. 19 No. 1 (2024): Islamic Educational Institutions and Their Dynamics in Facing the Times. Vol. 18 No. 2 (2023): At-Ta'dib Journal of Pesantren Education Vol. 18 No. 1 (2023): At-Ta'dib Journal of Pesantren Education Vol 17, No 2 (2022): Islamic Education and Its Methods Vol. 17 No. 2 (2022): Islamic Education and Its Methods Vol 17, No 1 (2022): Approaches, Strategies, Methods and Islamic Education Vol 16, No 2 (2021): Learning Strategies During The Pandemic Vol 16, No 1 (2021): Mental, Character and Moral education Vol 15, No 2 (2020): Pembelajaran Model Islami dan Efektifitasnya Vol 15, No 1 (2020): Pembelajaran Islam dalam Konteks Pesantren Masa Kini Vol 14, No 2 (2019): Pendidikan Islam Perkembangan dan Tantangannya Vol 14, No 1 (2019): Mental Education in Pesantren Vol 13, No 2 (2018): Pesantren as a Center for Developing Arabic & English Teaching Vol 13, No 1 (2018): Education System and Education Method in Pesantren Vol 12, No 2 (2017): the values of education in pesantren Vol 12, No 1 (2017): Islamic Character Education Vol 11, No 2 (2016): Standarisasi Pendidikan Islam Vol 11, No 1 (2016): Manajemen Penddiikan Islam Vol 10, No 2 (2015): Integrasi Pendidikan Vol 10, No 1 (2015): Pendidikan Akhlak Vol 9, No 2 (2014): Islamisasi Ilmu Pendidikan Vol 9, No 1 (2014): Ilmu Pendidikan Vol 8, No 2 (2013): Urgensi Pendidikan Pesantren Vol 8, No 1 (2013): Tantangan Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2012): Ilmu Pendidikan Vol 7, No 2 (2012): Ilmu Pendidikan Vol 7, No 1 (2012): Teori Pendidikan Vol 6, No 2 (2011): Pendidikan Karakter Vol 6, No 1 (2011): Teknologi Pendidikan Vol 5, No 1 (2010): Prinsip Pendidikan Islam Vol 4, No 2 (2009): Pendidikan Anak Vol 4, No 1 (2009): Kurikulum Pendidikan Islam Vol 3, No 2 (2008): Filsafat Pendidikan Vol 3, No 1 (2008): Dikotomi ilmu pendidikan More Issue