cover
Contact Name
Arif Wijayanto
Contact Email
jpsl-ipb@apps.ipb.ac.id
Phone
+622518621262
Journal Mail Official
jpsl-ipb@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Gedung PPLH Lantai 4 Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680 Jawa Barat, Indonesia Tel. +62-251-8621262, 8621085 Fax. +62-251-8622134
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management)
ISSN : 20864639     EISSN : 24605824     DOI : https://doi.org/10.29244/jpsl
JPSL publishes articles in fields: Environmental Policy and Management, Disaster Mitigation, Regional Planning, Land Resources Evaluation, Hidrology, Systems Modelling and Sciences, Water Pollution, Air Pollution, Environmental Technology, Ecotourism, Biodiversity, Environmental Economics, Public Communications, Social Sciences, Anthropology, Environmental Health
Articles 712 Documents
COASTLINE CHANGES IN INDRAMAYU REGENCY BETWEEN 1989-2019 Kusnanto; Setiawan, Yudi; Nurjaya, I Wayan
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.543-554

Abstract

Basically, coastline changes include accretion (raised soil) and abrasion. This study aims to analyze coastline changes in the Indramayu Regency between 1989 and 2019, as well as the causing factors. The secondary data were obtained from Landsat 5 Satellite Imagery in 1989, 1999, 2009, and Landsat 8 in 2019. This analysis used BILKO method, which is a Landsat image analysis to separate land and sea areas. Then overlay method, which was used to delineate boundary. Spatial analysis showed coastline changes in the Indramayu regency of both accretion and abrasion. In the 1989-1999 period, there was an accretion of 319 ha, while there was an abrasion 1291 ha. Furthermore, in the 1999-2009 period, there was an accretion of 349 ha, and abrasion of 1125 ha. Also, in the 2009-2019 period, there was an accretion of 698 ha, and abrasion of 358 ha. Meanwhile, the factors that cause coastline changes are natural such as wind, waves, currents, as well as human factors such as the conversion of mangrove land to ponds and also planting activities. Therefore, efforts made by the government are making waves containment tool and planting mangrove vegetation.
Peningkatan Kabut Asap dan Dampaknya terhadap Evapotranspirasi dan Produksi Primer Kelapa Sawit selama Kebakaran tahun 2015 : Diskusi Khusus tentang Radiasi Hambur Aulia, Felia Rizky; June, Tania; Koesmaryono, Yonny
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.511-521

Abstract

Tahun 2015, beberapa wilayah di Indonesia mengalami kekeringan yang bertepatan dengan munculnya fenomena El Nino. Kekeringan di Indonesia diikuti oleh kebakaran hutan mengakibatkan perkebunan kelapa sawit di Jambi tertutup oleh kabut asap. Fenomena kebakaran hutan berdampak besar pada pelemahan radiasi matahari yang masuk ke permukaan bumi akibat tertutupnya atmosfer oleh kabut asap yang cukup tebal sehingga berpengaruh terhadap produksi primer dan evapotranspirasi kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan menganalisis intensitas kabut asap berdasarkan radiasi hambur dan menganalisis hubungan serta pola GPP dan evapotranspirasi terhadap radiasi hambur pada saat terjadi kabut asap di tahun 2015. Konsentrasi PM10 sebagai representase aerosol di atmosfer terhadap transmisivitas atmosfer berkorelasi negatif dengan r = -0,8 dan p-value = 0,0016. Tingginya radiasi hambur berbanding lurus dengan kondisi atmosfer yang tertutup oleh kabut asap. Saat tutupan kabut asap di atmosfer sedang mencapai puncaknya di bulan Oktober 2015, sebagian besar radiasi matahari yang masuk adalah radiasi hambur. Fraksi difus dengan GPP dan evapotranspirasi juga berkorelasi negatif atau berbanding terbalik. Keduanya memiliki hubungan yang signifikan dengan p-value < 0,05 dan r = -0,93 untuk GPP dan r = -0,88 untuk evapotranspirasi. Berdasarkan besarnya koefisien korelasi, radiasi difus dengan GPP memiliki hubungan yang lebih erat dibandingkan dengan evapotranspirasi.
Kebakaran Lahan Basah dalam Perspekif Masyarakat Mona Lestari; Fenny Etrawati; Yustini Ardillah; Adisyah Fitria Rahmadini; Titi Nurhaliza
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.466-471

Abstract

Perception in the community greatly affects the occurrence of fire because if the community has the intention to burn land it will produce behavior to burn land. The intention in carrying out an action including burning land does not appear suddenly but must go through stages. Behavior Planned Theory states that behavior can be predicted by attitudes toward behavior, subjective norms, and perceptions of behavior control will change the intentions and behavior of individuals. Methods: The study design used in the study is qualitative with a descriptive approach, which is to review and analyze people's perception of fire events in the Ogan Ilir wetlands of South Sumatra. Study informants consist of expert informants and key informants. The expert informants in this study are the Regional Disaster Management Agency, the Subdistrict Head, and the Village Head. Expert informants are the community in the subdistrict at the study site. Results: The results showed that attitudes towards behavior, subjective norms, and perceptions of control had a positive influence on the intention of the people in Ogan Ilir not to burn land. Conclusion: Planned Behavior Theory explains that intention is a function of three determinants. The three determinant components affect the intentions in individuals in the community, namely the community prefers to open land by poisoning grass and using tractors. The intention resulted in the behavior of people who do not burn land to open land.
GEOGRAPHICAL CONTEXT AND NATURAL ENVIRONMENT PRESERVATION IN LOCAL CULTURE (A study on the Ritual of Penti in Manggarai, Flores NTT) Erna Mena Niman
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.456-465

Abstract

Indonesia has a great number of local cultures. Such local cultures exist along with the values, norms, and thought of the society. One of the local culture in question is Penti ceremony that is conducted anually by Manggaraian people in the west of Flores. This study was an attempt to reveal the the geographical context found in the ritual of penti ceremony. To gather the data, interview and observation were carried out and were analyzed in some stages namely data reduction, data display and verfication. The results have shown that the geographical context in the penti covers both natural spatial and social aspects. The natural spatial aspect is concerned with the selection of the locations where the the ritual of penti is carried out. The selected locations were regarded as media for communication and.were as reflections of interpersonal relations and the cosmological view of the Manggarain community towards nature. Meanwhile, the social aspect regulates the social relations of the community which is manifested in the form of norms, ethics, and prohibitions. As a conclusion, the geographical context in the ritual of penti is closely related to natural environment preservation and social life sustainbility. Keywords: penti; spatial and social geography
Estimation of phytoplankton carbon content in Jatigede Reservoir, Sumedang, West Java Panggabean, Grin Tommy; Pratiwi, Niken Tunjung Murti; Hariyadi, Sigid; Ayu, Inna Puspa; Iswantari, Aliati; Wulandari, Dwi Yuni; Zulmi, Reza
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.414-422

Abstract

Waduk Jatigede merupakan perairan daratan tergenang yang terbentuk dari pembendungan sungai Cimanuk. Waduk Jatigede, sebagaimana waduk umunnya, secara horizontal terbagi atas tiga wilayah, yaitu riverin, transisi, dan lakustrin. Perbedaan karakteristik setiap zona juga berdampak pada komposisi dan komunitas fitoplankton, status trofik, dan kandungan karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengalkulasi seberapa besar kandungan karbon pada fitoplankton di perairan Waduk Jatigede pada setiap zona dengan komposisi dan komunitas fitoplankton pada status trofik tertentu. Stasiun penelitian dipilih menggunakan purposive sampling dengan pemilihan stasiun berdasarkan zona dalam waduk, yaitu riverin, transisi, dan lakustrin. Analisis status trofik dan kandungan karbon digunakan untuk mengetahui kondisi dan keberadaan karbon di Waduk Jatiged. Status trofik Waduk Jatigede berdasarkan Indeks Nygaard dan TSI (Tropic State Index) dikategorikan ke dalam tingkat kesuburan eutrofik. Jenis-jenis dari Kelas Cyanophyceae memiliki kelimpahan tertinggi, tetapi kandungan karbon tertinggi berada di kelas Dinophyceae. Zonasi riverin, transisi, dan lakustrin memiliki status kesuburan yang sama, tetapi memiliki komposisi dan komunitas fitoplankton yang berbeda. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kandungan karbon fitoplankton relatif tinggi di zona riverin dan lakustrin, dan rendah di zona transisi.
Keberadaan bakteri multiresisten Escherichia coli penghasil ESBL/AmpC, Klebsiella oxytoca dan Kluyvera spp. diisolasi dari lingkungan ayam rumah potong hewan di Pondok Rumput, Bogor, Indonesia: Keberadaan bakteri multiresisten Escherichia coli penghasil ESBL/AmpC, Klebsiella oxytoca dan Kluyvera spp. diisolasi dari lingkungan ayam rumah potong hewan di Pondok Rumput, Bogor, Indonesia Kalanjati, Woro Wulandari; Sudarwanto, Mirnawati; Lukman, Denny Widaya
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.472-477

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir, bakteri resisten multidrug meningkat secara signifikan dan mencemari karkas ayam melalui rantai produksi. Penelitian ini mengidentifikasi keberadaan Enterobactericeae penghasil ESBL/AmpC yang dikumpulkan dari lingkungan pemotongan ayam. Sampel diambil sebelum proses penyembelihan dari beberapa titik lokasi yang telah ditentukan. Dari total 84 sampel yang diuji, 30 isolat positif Enterobactericeae terdiri dari 22 isolat E. coli, 6 isolat Klebsiella oxytoca, dan 1 isolat Kluyvera spp. Uji konfirmasi fenotipik ESBL/AmpC dan uji resisten antibiotik terhadap 18 jenis antibiotik dilakukan dengan menggunakan kit komersial MASTDISCS D68C dan uji kepekaan difusi cakram Kirby-Bauer dengan interpretasi CLSI (2014). Semua isolat menunjukkan resistensi terhadap penisilin, ampisilin, amoksisilin, sefotaksim, sefpodoksim, seftazidim dan beberapa isolat menunjukkan resistensi terhadap streptomisin, gentamisin, trimetoprim-sulfametoksasol, tetrasiklin, kanamisin, doksisiklin, colistin sulfat, sefalotin dan polimiksin, neomisin. keberadaan Enterobactericeae penghasil ESBL/AmpC yang ditemukan pada wadah karkas, wadah jeroan, lantai karkas, area penanganan jeroan, pisau dan mesin penarik bulu. Adanya bakteri resisten di lingkungan pemotongan ayam dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik dan transmisi gen resistensi terhadap bakteri lain yang dapat menyebar ke karkas yang berpotensi merugikan manusia.
Perubahan beberapa sifat kimia tanah pada lahan gambut setelah dua tahun Kebakaran di Kubu Raya Kalimantan Barat Arief Hartono; Omo Rusdiana; Heru Bagus Pulunggono; Denis Muba Pandapotan Simanihuruk; Ilham Saputra
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 4 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.4.644-650

Abstract

Peatland fire that occurred in 2018 are located in Kubu Raya Regency, West Kalimantan. The fire was claimed to cause the changes leading to peatland damage. The initial study based on samples collected in fire period reported that there were some changes of chemical properties leading to peatland damage. The study aimed to evaluate the effect of land fires on changes in some soil chemical properties after two years of fires. Soil samples of fired and unfired peatland were subjected to soil analyses. Soil analyses covered soil pH, organic carbon (C), phosphorus (P), calcium (Ca), magnesium (Mg), potassium (K), iron (Fe), manganese (Mn), copper (Cu), zinc (Zn), and bulk density (BD). The results showed that after two years of peatland fires did not affect the changes of peat soil pH, organic C, P, Ca, Mg, K, Cu, Zn, Mn and BD. One plot of fired peatland showed that the weight of frond and leaf area of oil palm grown on it was not statistically different from those of unfired peatland. The results suggested some chemical properties return to previous equilibrium due to high buffering capacity of peat soil.
Attributes of the Water Supply Program in Soppeng regency, South Sulawesi Azmanajaya, Emil; Paulus, Chaterina; Hermansyah, Hadi; Pongtuluran, Ezra H; Jumarang, Ishak; Mahmud, Tuatul
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.555-569

Abstract

Penurunan ketersediaan air dan peningkatan kebutuhan air telah terjadi di Kabupaten Soppeng, hal ini disebabkan potensi air permukaan sebagai sumber air bersih yang semakin terbatas. Untuk menjamin keberlanjutan program penyediaan air bersih di Kabupaten Soppeng, perlu dilakukan kajian penyediaan air dengan pendekatan sistem, agar penyediaan air di Kabupaten Soppeng dapat berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis kendala yang dihadapi, kebutuhan program, dan kelembagaan yang berperan dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Soppeng dengan metode Interpretative Structural Modeling (ISM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk pelaksanaan program penyediaan air bersih, terdapat empat elemen kunci yang perlu diperhatikan yaitu kurangnya kapasitas kelembagaan, lemahnya tata kelola kelembagaan, ketersediaan air baku, dan peran Pemerintah Pusat (kementerian terkait).
Sandalwood (Santalum album Linn) development strategy to improve the economics society in Timor-Leste: community views Adelino Rojario; Omo Rusdiana; Iin Ichwandi
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.485-500

Abstract

Sandalwood (Santalum album Linn) is an endemic plant of TimorLeste that has high economic value and needs to be developed to achieve prosper society and the country. This research aims to discover people'sperceptions of sandalwood development in Timor-Leste. Data is obtained using questionnaires, surveys, observations, and documentation. The population from this study is 84 respondents consisting of 15% of the family head in both villages Maudemo and Aidabaleten based on the agricultural census 2019. Data was collected using a 15% sample. Data are analyzed descriptively with statistical percentage techniques with every possibility of the answers obtained from sharing the frequency received by the number ofsamples multiplied by 100%. The results showed that 100% of the community knew sandalwood well and its economic value. Many people have not planted and adopted government programs to grow sandalwood, community 8% have land above 1 hectare. The community 100% and 98% in both villages knowthat the government has conducted a planting program. The public has not adopted government programs, with respondents 88% in the village of Maudemo and 36% in the village of Aidabaleten. The community does not have business capital, so it needs seedling subsidies with respondents 100% and 69%, incentives 100% and 95%, and bank credit 100% and 88% in both villages. Massive sandalwood development requires government policies to socialize programs, laws, and regulations on sandalwood development. Therefore, a policy from the government is required to provide seedlings, incentives, and bank credit to the community.
Consumer surplus analysis using the Travel Cost Method (TCM) at the Petrus Kafiar Beach tourist attraction, Manokwari Regency, West Papua Yuyun Rahayu; Ismi Haryati
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.3.534-542

Abstract

This study aims to determine the economic value of tourism objects and whether there is a consumer surplus at the Petrus Kafiar beach based on the Travel Cost Method (TCM). The consumer surplus value is obtained by using the Individual Travel Cost Method (ITCM) approach and willingness to pay to calculate the willingness to pay of tourists visiting Petrus Kafiar Beach. The value of WTP obtained is Rp. 23,358.21 per person per visit. Meanwhile, the average WTP (willingness to pay) per year for one visit is only Rp. 5,491.23. The results of the integral calculation to find the consumer surplus of visitors to the Petrus beach tourism object, the consumer surplus is ranged from Rp. 5,201.5 to Rp. 10,403.91 per individual/visit.

Filter by Year

2011 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 16 No 2 (2026): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 16 No 1 (2026): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 15 No 6 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 15 No 5 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 15 No 4 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 15 No 3 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 15 No 2 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 15 No 1 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 14 No 4 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 14 No 3 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 14 No 2 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 14 No 1 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 13 No 4 (2023): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 13 No 3 (2023): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 13 No 2 (2023): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 13 No 1 (2023): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 12 No 4 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 12 No 3 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 12 No 1 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 11 No 4 (2021): Journal of Natural Resources and Environmental Management Vol. 11 No. 4 (2021): Journal of Natural Resources and Environmental Management Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 11 No. 2 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 10 No. 4 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 10 No 4 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 10 No. 3 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 10 No 3 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 10 No 1 (2020): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 9 No 4 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 3 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 9 No 3 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 9 No 2 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 9 No. 1 (2019): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 8 No. 3 (2018): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol 8 No 3 (2018): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 8 No. 2 (2018): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 8 No. 1 (2018): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 7 No. 3 (2017): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 7 No. 2 (2017): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 7 No. 1 (2017): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 6 No. 2 (2016): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 6 No. 1 (2016): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 5 No. 2 (2015): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 5 No. 1 (2015): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 4 No. 2 (2014): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 4 No. 1 (2014): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 3 No. 1 (2013): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 2 No. 2 (2012): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 2 No. 1 (2012): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 1 No. 2 (2011): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) Vol. 1 No. 1 (2011): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL) More Issue