cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
JITRO (Jurnal Ilmiah dan Teknologi Peternakan Tropis)
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 24067489     EISSN : 24069337     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis (JITRO) adalah jurnal ilmiah mempublikasikan hasil penelitian dan review bidang peternakan.
Arjuna Subject : -
Articles 19 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September" : 19 Documents clear
Alternatif Kebijakan Pengendalian Pemotongan Sapi Bali Betina Produktif di Timor Barat Maria Krova; J. G. Sogen; Maria Y. Luruk
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.004 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4816

Abstract

Salah satu persoalan yang terjadi di daerah sentra  produksi  adalah pemotongan betina produktif. Fenomena tersebut diduga terjadi pula di Timor Barat sebagai salah satu daerah kantong produksi sapi bali. Sapi bali adalah salah satu plasma nuftah yang memiliki persoalan sistemik karena melibatkan banyak pelaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya pengendalian pemotongan betina produktif dalam manajemen dan kelembagaan aktual. Pendekatan pemahaman sistem  agribisnis sapi bali di Timor Barat dilakukan dengan prespektif dinamika sistem. Informan kunci ditentukan melalui pemetaan pelaku dalam rantai pasok sapi bali. Penentuan informan kunci menggunakan metode snow ball sampling. Banyaknya informan kunci tergantung pada kejenuhan informasi yang diperoleh. Data, informasi, dan pengetahuan primer dikumpulkan berdasarkan observasi, focuss group diskusi (FGD), dan wawancara mendalam (indepth study)  dengan informan kunci. Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas: data numerik, data tertulis, dan model mental. Pemodelan dengan dinamika sistem akan menggunakan perangkat lunak Ventana Simulation (Vensim). Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan manajemen dan kelembagaan aktual yang melibatkan berbagai pelaku dalam sistem ketersediaan daging sapi untuk pasar lokal belum memiliki peran untuk pengendalian pemotongan betina produktif. Kebijakan yang diperlukan untuk mengendalikan pemotongan sapi bali betina produktif, adalah meningkatkan calf crop dan menekan mortalitas.Kata kunci: betina produktif, pemotongan, sapi bali, sistem, Timor Barat. ABSTRACTOne of the problems that occur in the center of production is slaughtering productive cows. This phenomenon is thought to occur in West Timor as one of the production center of bali cattle production. Bali cattle are one of the plasma nuftah which has systemic problems due to involve many actors. This study aims to determine the efforts to control the slaughtering of productive cows in actual management and institutions. An understanding approach to the bali cattle agribusiness system is carried out with a perspective dynamics system. Key informants were determined through mapping of actors in the supply chain of bali cattle. Determination of key informants is applying the snow ball sampling methods. Data are collected based on observation, FGD, and in-depth interviews. Data collected consists of: numeric and written data, and also mental models. Modeling with dynamics system will use Vensim software. The results show that actual management and institutions do not yet have a role to control the slaughtering of productive cows. The policy needed to control the slaughter of productive bali cows is to increase calf crop and  reduce mortality.Keywords: productive, slaughtering, bali cows, system, West Timor
Kandungan Antioksidan Teh Hijau Daun Mangrove dan Uji Efektifitasnya Sebagai Antikolesterol Pada Mencit Analuddin Analuddin; Andi Septiana; Wa Ode Harlis
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.378 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4873

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan senyawa antioksidan teh hijau dan menjelaskan efektifitas teh hijau daun mangrove sebagai anticholesterol pada mencit. Senyawa kimia bahan antioksidaan teh hijau pada daun mangrove Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, Rhizophora stylosa, R. mucronata, Lumnitzera racemosa, Ceriops tagal dan C. decandra dianalisis dengan GCMS, sedangkan khasiat teh hijau daun mangroves sebagai antikolesterol di ujikan pada mencit. Hasil penelitian menunjukan bahwa senyawa bahan teh hijau bervariasi diantara daun mangrove yaitu polifenol sederhana ditemukan pada daun semua jenis mangrove yang menjadi sampel penelitian dengan konsentrasi yang bervariasi. Senyawa katekin hanya ditemukan pada daun mangrove Ceriops decandra, L. racemosa, R. mucronata dan R. apiculata. Di sisi lain, flavonoid terdeteksi hanya pada daun C. tagal, B. gymnorrhiza dan R. stylosa, sedangkan senyawa T-flavin hanya ditemukan pada daun B. parviflora. Teh hijau daun mangrove mampu menurunkan kadar kolesterol mencit dengan kisaran 33,33 sampai 53,67% mengindikasikan besarnya potensi daun mangrove sebagai bahan  teh hijau antikolesterol.Kata kunci: bahan teh hijau, polifenol sederhana, katekin, flavonoid, antikolesterol, daun mangroveABSTRACTThis study aimed to determine the antioxidant properties of green tea material in mangrove leaves and elucidate their capacity on reducing the cholesterol of mice. The chemical properties in  leaves of Bruguiera gymnorrhiza, B. parviflora, Rhizophora stylosa, R. mucronata, Lumnitzera racemosa, Ceriops tagal and C. decandra were analyzed by GCMS, while their capability as anticholesterol of mice were examined. The results showed that simple polyphenols were found in all sampled mangrove leaves with different concentration, while the chatechine was found only in leaves of four mangroves including Ceriops decandra, L. racemosa, R. mucronata and R. apiculata. On the other hand, flavonoids was detected only in leaves of C. tagal,  B. gymnorrhiza and R. stylosa. Meanwhile, T-flavine was detected only in leaves of B. parviflora. However, green tea material for all of sampled mangroves showed high capacity to reduce cholesterol of mice that ranging from 33.33% to 53.67%, which indicated high potentitiality of mangroves leaves as green tea material of anticholesterol.Keywords: Green tea material, simple polyphenol, cathechin, flavonoid, anticholesterol, Mangroves leaves
Penampilan Produksi Sapi Aceh Umur Satu Hari, Umur Sapih, dan Umur Satu Tahun Ikhsanuddin Ikhsanuddin; V.M. Ani Nurgiartiningsih; Kuswati Kuswati; Mukhtar Mukhtar
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.785 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4885

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan produksi sapi aceh di BPTU-HPT Indrapuri Aceh. Materi penelitian yaitu sapi aceh umur satu hari, umur sapih, dan umur satu tahun sebanyak 159 ekor. Metode penelitian adalah studi kasus berdasarkan data bobot lahir, bobot sapih, bobot satu tahun beserta ukuran tubuhnya. Data dianalisis menunjukkan bahwa sapi jantan memiliki bobot lahir 13,66±1,08 kg, bobot umur 205 hari 71,60±7,92 kg dan bobot  umur 365 hari 104,66±11,72 kg.  Sapi betina memiliki bobot lahir 13,88±1,32 kg, bobot umur 205 hari 64,38 ± 10,36 kg dan bobot umur 365 hari 90,29±11,95 kg. Sapi Aceh umur satu hari memiliki lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak berturut-turut  55,41 cm, 46,16 cm  dan 55,22 cm pada sapi jantan serta 55,87 cm, 46,83 cm, dan 55,74 cm pada sapi betina. Sapi aceh umur 365 hari memiliki ukuran lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak berturut-turut 114,32 cm, 94,31 cm dan 92,93 cm pada sapi jantan serta 104,25 cm, 85,06 dan 87,71 cm pada sapi betina. Rata-rata penampilan produksi sapi aceh di BPTU Indrapuri  berpotensi menjadi ternak unggul berdasarkan kriteria SNI.Kata Kunci: sapi aceh, penampilan produksi, bobot badan, ukuran tubuhABSTRACTThis study aimed to evaluate the productive performance of aceh cattle at Indrapuri Breeding Center for Superior Livestock and Forage. A total of 159 heads of aceh cattle were used in this study. The method used was a case study based on the data of birth weight, weaning weight, yearling weight, and body size. The results showed that the birth weight, weaning weight at 205 days of age, and yearling weight at 365 days of age of male aceh cattle were 13.66±1.08 kg, 71.60±7.92 kg, and 104.66±11.72 kg, respectively. Whereas, female aceh cattle had the birth weight, weaning weight at 205 days of age, and yearling weight at 365 days of age of 13.88±1.32 kg, 64.38±10.36 kg, and 90.29±11.95 kg, respectively. At birth, male Aceh cattle had the chest circumference, body length, and shoulder height of 55.41 cm, 46.16 cm, and 55.22 cm, respectively, while female aceh cattle were 55.87 cm, 46.83 cm, and 55.74 cm, respectively. At 365 days of age, male aceh cattle had the chest circumference, body length, and shoulder height of 114.32 cm, 94.31 cm, and 92.93 cm, respectively, while female aceh cattle were 104.25 cm, 85.06 cm, and 87.71 cm, respectively. The average productive performance of aceh cattle at Indrapuri Breeding Center for Superior Livestock and Forage has the potential to become superior cattle based on the criteria of Indonesian National Standard.Keywords: aceh cattle, performance, body weight, body size
Sifat Kimia Abon Daging Kambing Peranakan Ettawa (PE) dengan Lama Penggorengan yang Berbeda Hastuti Hastuti; Suparman Suparman
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.825 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4887

Abstract

ABSTRAKKambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan salah satu ternak penghasil daging yang pemanfaatannya masih sangat terbatas karena sifatnya yang kurang disukai, yaitu bau khas yang tajam disebabkan komponen protein larut air dan konsentrasi asam lemak yang tinggi.  Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah degan melakukan pengolahan daging kambing berupa produk Abon dengan menggunakan metode pemasakan dan lama penggorengan diharapkan mampu mengurangi bau prengus daging kambing.   Tujuan  penelitian  ini adalah mengetahui  sifat  kimia  (protein,  lemak,  abu, kadar  air  dan karbohidrat) abon daging PE dengan lama penggorengan yang berbeda, mengetahui lama penggorengan yang baik terhadap sifat kimia abon daging kambing PE.  Metode penelitian dengan melakukan analisis kimia dan analisis data dilakukan  secara  deskriptif  kuantitatif dengan parameter analisa yang dilakukan meliputi analisa Protein, Lemak, Karbohidrat, Kadar Air, Kadar Abu dengan lama penggorengan (A1=40 menit, A2=60 menit dan A3=75 menit.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gizi abon daging kambing dari ketiga perlakuan (A1, A2, A3) memiliki kandungan yang sebagian besar sudah memenuhi standard mutu SNI.  Kandungan gizi terbaik pada perlakuan A3 yakni Protein sebesar 45,63%, lemak terendah pada A3 sebesar 17,70%, karbohidrat terbaik pada A2 sebesar 10.13%, kandungan kadar air terendah pada A3 sebesar 1.43%, dan kadar abu terendah pada perlakuan A2 sebesar 6.78%.Kata kunci: Abon daging kambing, kimia abon, kambing PE, olahan dagingABSTRACTPeranakan Ettawa (PE) Goat is one of the meat-producing livestock whose utilization is still minimal due to its less preferred nature, namely sharp smell due to the water-soluble protein component and high fatty acid concentration. One way that can be taken is by processing goat meat in the form of Abon products using cooking methods, and deep frying is expected to reduce the smell of goat meat. The purpose of this study was to determine the chemical properties (protein, fat, ash, water content and carbohydrate) shredded PE meat with different frying lengths, to find out the excellent frying length of the chemical properties of shredded PE. The research method by carrying out chemical analysis and data analysis was carried out in a clear quantitative manner with the parameters of the study performed including analysis of Protein, Fat, Carbohydrate, Moisture, Ash Content with frying length (A1 = 40 minutes, A2 = 60 minutes and A3 = 75 minutes. The results showed that the nutrient content of shredded goat meat from the three treatments (A1, A2, A3) had content that most of them had met the SNI quality standards. The best nutritional content in treatment A3 was Protein at 45.63%, the lowest fat on A3 at 17, 70%, the best carbohydrate in A2 is 10.13%, the lowest water content in A3 is 1.43%, and the lowest ash content in A2 treatment is 6.78%.Keywords: shredded of goat meat, about chemical, PE goat, processed meat
Evaluasi Aspek Teknis Pemeliharaan Sapi Perah Berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) di Peternakan Rakyat Cibungbulang Asminaya Santy Nur; B. P. Purwanto; A. Atabany; Nurlaha Nurlaha
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.345 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4977

Abstract

ABSTRAKPeningkatan produktivitas ternak dapat dicapai melalui perbaikan aspek teknis pemeliharaan yang meliputi perbaikan genetik, pakan, pengelolaan, perkandangan dan kesehatan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan aspek teknis pemeliharaan sapi perah berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) pada peternakan sapi perah rakyat di Cibungbulang. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dan pembagian kuisioner, observasi serta pengukuran langsung. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk frekuensi tabulasi untuk menggambarkan karakteristik penerapan setiap aspek pemeliharaan sapi perah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan aspek teknis pemeliharaan sapi perah berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) di peternakan rakyat Cibungbulang sebesar 69,75% pada musim hujan dan 67,25% pada musim kemarau. Aspek kesehatan ternak memperlihatkan nilai yang sangat rendah baik pada musim hujan maupun musim kemarau sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus agar produktivitas ternak dapat ditingkatkan secara optimal.Kata kunci: biji kecipir, Trichoderma viride, pH, suhu, protein, serat kasarABSTRACTIncreased dairy cow productivity can be achieved through improving the technical aspects of maintenance which include genetic improvement, feed, management, housing and dairy cow health. This study was done to evaluate the application of the technical aspects of dairy cow maintenance based on the Good Dairy Farming Practices (GDFP) on smallholder dairy farm in Cibungbulang. The research method used was a survey and distribution of questionnaires, observations and direct measurements. Data were analyzed descriptively and presented in frequency tabulations to describe the characteristics and application each aspect of dairy cow maintenance. The results showed that the implementation of technical aspects of dairy cow maintenance was based on the Good Dairy Farming Practices (GDFP) at smallholder dairy farm in Cibungbulang i.e 69.75% in rainy season and 67.25% in dry season. The health aspect of dairy cow shows a very low value both in rainy and dry season so need special attention to increased productivity optimally.Keywords: dairy cow, technical aspects of maintenance, GDFP 
Karakterisasi Gen KIF12 (Kinesin Familly 12) serta Hubungannya dengan Komposisi Asam Lemak pada Domba Asep Gunawan; Sarah Tazkya; Kasita Listyarini; Mohamad Yamin; Ismeth Inounu; Cece Sumantri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (471.389 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.4978

Abstract

ABSTRAKKinesin Family 12 (KIF12) merupakan gen yang terlibat dalam mediasi kaskade antioksidan dalam sel beta sebagai sebuah target intraselular dari kelebihan asupan lemak atau lipotoksit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakterisasai gen KIF12 melalui identifikasi keragaman dan asosiasi gen KIF12 terhadap komposisi asam lemak pada domba. Sampel domba yang digunakan sebanyak 35 ekor yang terdiri dari Domba ekor Gemuk (DEG) dan Domba Ekor Tipis (DET) masing-masing 20 dan 15 ekor. Titik mutasi gen KIF12 berada pada posisi g.9617965 C>T.  Identifikasi keragaman gen KIF12 dianalisis menggunakan Polymerase Chain Reaction - Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) dengan menggunakan enzim BfaI. Hasil keragaman gen KIF12 bersifat polimorfik dengan ditemukan tiga genotipe yaitu CC, CT, dan TT. Hasil Uji chi square menunjukkan bahwa lokus KIF12 berada pada keseimbangan Hardy-Weinberg (HWE) pada pada DET, hal berbeda ditunjukakan pada DEG. Titik mutasi gen KIF12 berasosiasi secara signifikan  (P <0.05) terhadap asam lemak jenuh (SFA)  asam laurik (C12:0), asam miristik (C14: 0) and asam heptadenoik (C17: 0) juga asam lemak jenuh tunggal (MUFA), asam miristoleinik (C14: 1) and asam oleik (C18: 1n9c). Gen KIF12 memiliki potensi untuk digunakan sebagai penanda seleksi terhadap komposisi asam lemak.Kata kunci:  domba, asam lemak, KIF12, PCR RFLPABSTRACTKinesin Family 12 (KIF12) is one of gene which involved in mediates an antioxidant cascade in beta cells as an intracellular target of excess fat intake or lipotoxicitys. This study was aimed to identify the polymorphism and association of KIF12 gene as candidate gene for fatty acid composition in Indonesian sheep including fat-tailed sheep and thin-tailed sheep. The sample of sheeps used 35 heads consist fat-tailed sheep and thin-tailed sheep as many as each 20 and 15 samples. Identification of polymorphism of KIF12|BfaI gene were analyzed using Polymerase Chain Reaction - Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP). The results of polymorphism of KIF12 gene were polymorphic for three kind of genotypes of CC, CT, and TT. The chi square revealed that the locus of KIF12 was deviated in Hardy-Weinberg equilibrium (HWE) in fat-tailed sheep, but was in HWE in thin-tailed sheep. A SNP of KIF12 was associated (P <0.05) with saturated fatty acids (SFA) including lauric acid (C12:0), myristic acid (C14: 0) and heptadecanoic acid (C17: 0) as well as monounsaturated fatty acids (MUFA), namely miristoleinic acid (C14: 1) and oleic acid (C18: 1n9c).The KIF12 gene was the potential to be used as a marker of selection for fatty acid compositions.   Keywords : sheep, fatty acids, KIF12, PCR-RFLP
Pengaruh Penambahan Buah Nangka Muda terhadap Sifat Fisik dan Organoleptik Abon Daging Itik Afkir Rasman, Rasman; Hafid, Harapin; Nuraini, Nuraini
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted to determine the physical characteristics and organoleptic qualities of spent duck abon with the addition of unripe jackfruit. The materials used were spent duck meat, unripe jackfruit, garlic, shallot, candlenut, coriander, coconut, brown sugar, salt, water, and cooking oil. The design used in this study is completely randomized design consisted of 4 treatment (A0: 100% duck meat, A1: 85% duck meat and 15% unripe jackfruit, A2: 70% duck meat and 30% unripe jackfruit, A3: 55% duck meat and 45% unripe jackfruit) with 3 repetition for physical variables, and 15 panelists for organoleptic test. The results of this study suggested that addition of unripe jackfruit in spent duck abon showed no significant difference for pH and rendemen. Organoleptic qualities (aroma, color, flavor and texture) of spent duck abon showed no significant difference with unripe jackfruit aditition.Keywords: abon, spent duck meat, unripe jackfruit, physical characteristic, organoleptic qualities
Pengaruh Penambahan Buah Nangka Muda terhadap Sifat Fisik dan Organoleptik Abon Daging Itik Afkir Rasman Rasman; Harapin Hafid; Nuraini Nuraini
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.643 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.5726

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan organoleptik abon daging itik afkirdengan penambahan buah nangka muda. Bahan yang digunakan adalah daging itik afkir, buah nangka muda, bawang putih, bawang merah, kemiri, ketumbar, kelapa, gula merah, garam, air, dan minyak goreng. Rancanganpenelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rancangan acak lengkap terdiri dari 4 perlakuan (A0: 100% daging itik, A1: 85% daging itik dan 15% nangka muda, A2:70% daging itik dan 30% nangka muda,A3:55% daging itik dan 45% nangka muda) dengan3 ulangan untuk peubah fisik, dan 15 panelis untuk pengujian organoleptik.Hasil penelitian menunjukan bahwa  penambahan buah nagka muda padaabon itik afkir tidak berpengaruh nyata terhadap pH dan rendemen abon. Sifat organoleptik (aroma, warna, rasa, dan tekstur)abon daging itik afkir tidak berbeda nyata dengan penambahan buah nangka muda.Katakunci: Abon, daging itik afkir, buah nangka muda, sifat fisik, sifat organoleptik.ABSTRACT               This study was conducted to determine the physical characteristics and organoleptic qualities of spent duck abon with the addition of unripe jackfruit. The materials used were spent duck meat, unripe jackfruit, garlic, shallot, candlenut, coriander, coconut, brown sugar, salt, water, and cooking oil. The design used in this study is completely randomized design consisted of 4 treatment (A0: 100% duck meat, A1: 85% duck meat and 15% unripe jackfruit, A2: 70% duck meat and 30% unripe jackfruit, A3: 55% duck meat and 45% unripe jackfruit) with 3 repetition for physical variables, and 15 panelists for organoleptic test. The results of this study suggested that addition of unripe jackfruit in spent duck abon showed no significant difference for pH and rendemen. Organoleptic qualities (aroma, color, flavor and texture) of spent duck abon showed no significant difference with unripe jackfruit aditition.Keywords: abon, spent duck meat, unripe jackfruit, physical characteristic, organoleptic qualities
Motilitas dan Vabilitas Spermatozoa Ayam Kampung pada Suhu 5°C Menggunakan Pengencer dan Lama Simpan yang Berbeda Enike Dwi Kusumawati; Selvinus Lawu Woli; Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih; Waluyo Edi Susanto; Syam Rahadi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 5, No 3 (2018): JITRO, September
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.209 KB) | DOI: 10.33772/jitro.v5i3.7242

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui motilitas dan viabilitas spermatozoa ayam kampung pada suhu 5oC menggunakan pengencer dan lama simpan yang berbeda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan pengencer ringer lactat solution, air kelapa dan tanpa pengencer serta lama simpan 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30, masing-masing diulang 10 kali. Variabel yang diamati yaitu motilitas dan viabilitas spermatozoa. Analisa data yang digunakan adalah analisis varian. Hasil analisis data menunjukkan bahwa motilitas dan viabilitas spermatozoa menggunakan pengencer ringer lactat solution lebih tinggi (P<0,01) serta dapat bertahan sampai lama simpan 24 jam dibandingkan air kelapa dan tanpa pengencer. Adapun nilai motilitas ringer lactat solution, air kelapa dan tanpa pengencer pada lama simpan 24 jam masing-masing sebesar 43,5±17,17%; 8±4,83%; 6,5±2,4%, sedangkan nilai viabilitasnya sebesar 83,2±7,25%; 64,6±3,20%; dan 63,1±2,33%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah ringer lactat solution lebih baik dibandingkan air kelapa dan tanpa pengencer dalam mempertahankan kualitas semen ayam kampung pada suhu simpan 5oC sampai lama simpan 24 jam.Kata Kunci : air kelapa, ayam kampung, motilitas, spermatozoa, viabilitas  ABSTRACTThis study was conducted to determine the motility and viability of spermatozoa of Native chickens at 5oC using different diluents and time storage. The method used in this study was laboratory research using Factorial Completely Randomized Design with ringer lactate solution, coconut water and without diluent at 0, 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 30 hours of time storage each repeated 10 times. The variables observed were motility and viability of sperm. Data analysis used is variance analysis. The results of data analysis showed that the motility and viability of spermatozoa using ringer lactate solution diluents was higher (P <0.05) than coconut water and without diluents. The motility values of ringer lactat solution, coconut water and without diluents were 43,5±17,17%; 8±4,83%; 6,5±2,4% respectively, while the viability values were 83,2±7,25%; 64,6±3,20% and 63,1±2,33%. The conclusion of this study is that ringer lactat solution is better than coconut water an without diluents in maintaining the quality of Native chicken semen at a storage temperature of 5oC until 24 hours.Keywords: coconut water, motility, native chicken, sperm, viability

Page 2 of 2 | Total Record : 19