cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Re-inventarisasi dan pemutakhiran data suku myrtaceae yang berpotensi buah koleksi kebun raya bogor Irfan Martiansyah
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.14551

Abstract

Myrtaceae merupakan salah satu suku terbesar di dunia. Lebih dari 5000 jenis dan 140 marga telah ditemukan. Tiga marga terbesar, yaitu Syzygium, Eugenia dan Psidium, diketahui memiliki lebih dari 100 jenis dan berpotensi menghasilkan buah yang dapat dimakan manusia (edible). Ketiga marga tersebut terkoleksi dengan baik di Kebun Raya Bogor sebagai spesimen hidup. Koleksi hidup Myrtaceae tersebar pada 54 vak di area seluas lebih dari 80 hektar, sehingga diperlukan pemeliharaan dan perawatan yang efisien. Akan tetapi, dengan area yang luas tersebut disinyalir terdapat beberapa kekurangan dalam pendataan koleksi dan pelabelan di kebun. Oleh karena itu, diperlukan re-inventarisasi dan pemutakhiran data terupdate yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Hasil re-inventarisasi menunjukkan bahwa terdapat penambahan jenis koleksi hidup Myrtaceae sebanyak 17 jenis antara tahun 2016 hingga 2019. Selain itu, sebanyak 13 jenis koleksi yang mati di kebun dan ketidaksesuaian pelabelan masih belum terupdate dengan kondisi terkini. Lebih jauh diketahui terdapat revisi 5 jenis Myrtaceae berdasarkan accepted species secara taksonomi. Dari studi literatur diketahui lebih dari setengah jumlah jenis koleksi Myrtaceae di Kebun Raya Bogor berpotensi buah dan dapat dimakan manusia. Re-inventarisasi dan pemutakhiran data koleksi di Kebun Raya Bogor harus dilakukan secara berkelanjutan karena pendataan koleksi dan pemeliharaannya di kebun terus menerus dilakukan agar koleksi hidup Myrtaceae dapat terjaga dengan baik.
Keragaman jenis-jenis Garcinia asal Sulawesi koleksi Kebun Raya Purwodadi Melisnawati H Angio
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15827

Abstract

Sulawesi memiliki kekayaan, keragaman, dan endemisitas jenis buah-buahan tropis yang cukup tinggi, termasuk manggis dan kerabatnya (Garcinia spp.). Saat ini hutan di Sulawesi masih terus menghadapi perubahan tata guna lahan dan potensi kebakaran hutan yang mengancam kelestarian ekosistem maupun keanekaragaman hayati, sehingga perlu dilakukan upaya konservasi secara ex situ. Kebun Raya Purwodadi (KRP) merupakan lembaga yang telah melakukan konservasi ex situ jenis-jenis Garcinia sejak tahun 1987. Penelitian ini bertujuan untuk mendata jenis-jenis Garcinia asal Sulawesi yang dikoleksi oleh KRP. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi terhadap koleksi tanaman hidup dan dilanjutkan dengan tabulasi data dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil observasi menunjukkan bahwa KRP memiliki 22 nomor koleksi hidup Garcinia asal Sulawesi dengan 13 nomor koleksi di antaranya telah diidentifikasi hingga tingkat jenis, yaitu Garcinia celebica L. (satu nomor koleksi), G. daedalanthera Pierre (satu nomor koleksi), G. dulcis (Roxb.) Kurz (satu nomor koleksi), G. lateriflora Blume (satu nomor koleksi), G. rubra Merr. (satu nomor koleksi), G. tetrandra Pierre (tujuh nomor koleksi), dan G. xanthochymus Hook.f. ex T.Anderson (satu nomor koleksi).
Evolusi virus anggrek di Indonesia Mahfut Mahfut; Mailinda Angraeni
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.16826

Abstract

Odontoglossum ringspot virus (ORSV) merupakan virus anggrek yang penting di dunia.Virus ini telah masuk dan menginfeksi di Indonesia, baik anggrek alam maupun anggrek hibrida. Deteksi mengindikasikan virus ini ditemukan pada lokasi hutan alam, kebun raya, dan nurseri di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua. Hasil-hasil penelitian berikut menunjukkan bahwa anggrek hibrida pada nurseri lebih rentan terinfeksi ORSV dibandingkan anggrek alam pada hutan alam dan kebun raya. ORSV ditemukan lebih banyak menginfeksi anggrek hibrida yaitu 8 lokasi nurseri, dibandingkan anggrek alam pada hutan alam dan kebun raya yaitu masing-masing hanya 3 lokasi. Uji serologi DAS-ELISA menunjukkan rerata nilai absorbansi ORSV yang menginfeksi anggrek hibrida pada nurseri lebih tinggi (1,125-1,152), daripada anggrek alam pada kebun raya dan hutan alam yaitu masing-masing 0,520-0,918 dan 0,520. Anggrek Phalaenopsis merupakan inang yang cocok dan paling rentan terinfeksi ORSV dengan kejadian 57%, diikuti Calanthe (14%), Dendrobium (9%), serta Bulbophylum, Calanthe, Cattleya, Oncidium, dan Liparis masing-masing 5%. Analisis sekuen gen coat protein menunjukkan isolat ORSV Indonesia asal hutan alam dan kebun raya menunjukkan nilai indeks similaritas yang lebih tinggi dengan isolat asal negara lain (100%), dibandingkan dengan isolat ORSV Indonesia asal nurseri (99,3%). Isolat ORSV asal hutan alam dan kebun raya mengalami kejadian mutasi yang lebih sedikit yaitu masing-masing sebesar 18% dan 36%, dibandingkan isolat ORSV asal nurseri (45%). Hasil analisis sekuen juga mengindikasikan bahwa virus telah berevolusi, bahkan mengarah terjadinya spesiasi. Rekonstruksi pohon filogenetik menunjukkan ORSV Indonesia diduga berasal dari negara Jerman.
Kasus keracunan Inocybe sp. di Indonesia Ivan Permana Putra
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15727

Abstract

Jamur telah digunakan sejak lama sebagai bahan pangan karena berbagai kandungan nutrisi dan manfaat yang baik untuk kesehatan. Di Indonesia, sebagian besar masyarakat lokal telah terbiasa merambah jamur liar edible untuk dikonsumsi. Salah satu jamur liar konsumsi yang sering dicari oleh masyarakat adalah Termitomyces. Namun jamur ini seringkali sulit dibedakan dengan Inocybe karena sruktur morfologinya yang sama terutama untuk masyarakat awam. Inocybe diketahui memiliki spesies yang sebagian besar seringkali menyebabkan keracunan. Namun juga terdapat sedikit dari jenis dari jamur ini yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan obat. Tulisan ini merupakan penelitian kuantitatif berbasis literatur. Selama 10 tahun terakhir, telah terjadi sebanyak 7 kasus keracunan Inocybe di Indonesia dengan total 31 orang korban dan 1 di antaranya meninggal dunia. Inocybe diketahui mengandung senyawa toksik yakni muscarine dan psilocybin. Kendala utama terkait identifikasi jamur penyebab keracunan salah satunya adalah minimnya informasi, preservasi, ataupun dokumentasi yang baik mengenai sampel jamur yang menyebabkan keracunan di Indonesia. Pengetahuan dasar mengenai aspek mikologi Inocybe dan potensi toksisitasnya merupakah salah satu hal penting untuk mencegah terjadinya keracunan jamur liar di Indonesia di masa mendatang.
Keanekaragaman makroinvertebrata pada ekosistem mangrove di Dusun Lempong Pucung, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap Kevin Zakharia Riry; Guruh Prihatmo; Kisworo Kisworo
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15845

Abstract

Cilacap merupakan daerah dengan kawasan mangrove terluas di Jawa Tengah. Kawasan mangrove memiliki banyak manfaat, salah satunya tempat hidup bagi makroinvertebrata. Makroinvertebrata memiliki peran penting dalam menjaga sistem dalam ekosistem mangrove. Penelitian tentang keanekaragaman makroinvertebrata di daerah Cilacap belum dilakukan secara luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman makroinvertebrata dan mengetahui hubungan antara parameter fisik-kimia dengan parameter biologi. Didapatkan total 22 spesies makroinvertebrata yang berasal dari 3 kelas dan 14 famili makroinvertebrata dengan total individu 1.886. Stasiun 1 memiliki nilai indeks diversitas yang masuk dalam kategori keanekaragaman jenis sedang sedangkan stasiun 2 masuk dalam kategori keanekaragaman jenis rendah, baik dalam keadaan air pasang dan surut. Secara kuantitatif, tidak terdapat hubungan antara parameter fisik-kimia terhadap parameter biologi.
Inventarisasi koleksi tumbuhan kebun raya Purwodadi yang berpotensi sebagai anti-HIV alami Elga Renjana
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15614

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan suatu virus yang menyebabkan penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Virus tersebut mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh penderitanya. Saat ini penelitian tentang potensi tumbuhan sebagai sumber obat sedang populer dilakukan oleh para ahli. Tumbuhan obat diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas anti-HIV dengan tingkat toksisitas yang rendah. Penulisan ini disusun untuk menginventarisasi koleksi tumbuhan Kebun Raya Purwodadi (KRP) yang berpotensi sebagai obat anti-HIV alami. Tulisan ini mengkaji berbagai literatur tentang senyawa anti-HIV yang terkandung dalam tumbuhan, khususnya koleksi KRP. Senyawa anti-HIV seperti 12-O-(2-Methylbutyroyl)phorbol-13-dodecanoate, kaempferol, laurolitsine (norboldine), dan macrocalpal A diketahui terkandung dalam tumbuhan. Keempat senyawa tersebut diketahui juga terkandung dalam 9 jenis koleksi tumbuhan KRP, yaitu Cascabela thevetia, Croton tiglium, Elateriospermum tapos, Eucalyptus globulus, Eugenia myrcianthes, Morinda citrifolia, Nerium oleander, Polyalthia longifolia var. pendula, dan Punica granatum. Hal tersebut menunjukkan bahwa KRP memiliki koleksi tumbuhan yang berpotensi sebagai sumber anti-HIV alami. Selain itu, adanya potensi tumbuhan sebagai sumber obat sepatutnya menjadi perhatian bagi masyarakat untuk terus melestarikan tumbuhan dan menjaganya dari ancaman kepunahan.
Pengaruh pemberian ampas teh dan MSG terhadap pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum sp.) Rahma Ziyan Firdausia; Baiq Farhatul Wahidah
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15880

Abstract

Tanaman cabai (Capsicum sp.) merupakan salah satu tanaman komoditas hortikultura yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia. Faktor keberhasilan budidaya tanaman cabai yaitu perawatan dengan cara pemberian pupuk. Ampas teh mengandung banyak senyawa organik seperti mineral Zn, Se, Mo, Ge, Mg, dan N yang berupa unsur-unsur esensial bagi tanaman. MSG banyak mengandung senyawa penting seperti N, fosfat, dan K. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh air dan ampas teh serta MSG terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain RAL yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan, yaitu kontrol (air biasa), perlakuan teh (air teh dan ampas teh), dan perlakuan kombinasi (air teh, ampas teh, dan air MSG). Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, banyak daun dan panjang daun. Data pengamatan diuji dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan teh (pemberian air teh dan ampas teh) adalah perlakuan terbaik, dengan panjang tanaman, banyak daun, dan panjang daun dengan hasil rata-rata tertinggi.
Optimalisasi alih fungsi gulma sebagai antiviral tobacco mosaic virus (TMV) sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas usaha tani cabai merah besar (Capsicum annum L.) Ajeng Mudaningrat; Shofwatun Nada
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15277

Abstract

Komoditi yang cukup berpengaruh dalam inflamasi perekonomian nasional adalah cabai merah besar (Capsicum annum L.) karena memiliki rasa yang pedas sebagai pelengkap cita rasa masakan, selain itu memiliki banyak manfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Namun, produksi cabai merah besar setiap tahunnya kurang stabil. Hal ini dipengaruhi oleh penyakit pada tanaman cabai merah besar yang disebabkan oleh serangan organisme yang mengganggu salah satunya adalah Tobacco Mosaic Virus (TMV). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peran ekstrak gulma dalam penghambatan infeksi TMV dan mengkaji keefektifan konsenterasi ekstrak gulma pada tanaman cabai merah besar dalam upaya meningkatkan produktivitas usaha tani cabai merah besar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi literatur dengan cara membaca dan mempelajari literatur-literatur atau sumber-sumber bacaan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Hasilnya ekstrak gulma memiliki konsentrasi yang aman untuk diaplikasikan pada tanaman cabai merah besar, namun ekstrak gulma yang diaplikasikan belum maksimal menghambat persebaran penyakit melainkan masih berperan sebagai pengimbas ketahanan sistemik. Hal ini terlihat dengan adanya intensitas penyakit sekitar 40-45%. Maka dari itu diperlukan adanya pengujian lebih lanjut terkait bahan kimia pada ekstrak gulma yang diaplikasikan dengan ekstrak daun bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) dan daun bunga pagoda (Clerodendrum paniculatum) untuk selanjutnya dilakukan pengujian penghambatan TMV.
Kelas ukuran dan pola pertumbuhan Helostoma temminckii (Cuvier, 1829) di kawasan rawa Sungai Barumun, Kabupaten Labuhan Batu Selatan Khairul Khairul
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15856

Abstract

Helostoma temminckii merupakan salah satu spesies ikan endemik Pulau Sumatera. Habitat aslinya adalah perairan tawar, baik sungai maupun rawa-rawa. Kawasan rawa Sungai Barumun merupakan salah satu habitat alaminya. Mengingat keberadaan ikan ini yang semakin sulit ditemukan di alam, maka perlu dilakukan kajian aspek biologi tentang kelas ukuran dan pola pertumbuhannya. Penelitian ini bersifat eksploratif, di mana stasiun penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling. Sampel ikan ditangkap menggunakan alat tangkap jaring insang (gill net). Pengambilan sampel ikan dilakukan sebanyak 3 kali yakni pada bulan Maret, April, dan Mei 2020. Hasil pengamatan kelas ukuran ikan tambakan pada lokasi penelitian didominasi ukuran sedang. Pola pertumbuhan ikan tambakan bersifat alometrik negatif. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kondisi aspek biologi ikan tambakan masih cukup baik, namun sebagian habitatnya telah mengalami konversi menjadi areal perkebunan kelapa sawit.
Survei dan inventarisasi keanekaragaman jenis Nepenthes spp. di Kalimantan Tengah Fitri Damayanti; Muhammad Mansur; Ika Roostika
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15800

Abstract

Kegiatan eksplorasi keanekaragaman tanaman Nepenthes dilakukan di Kalimantan Tengah dengan lokasi Hampangen, Pendahara, Hampalit, dan Honggang. Kegiatan ini meliputi: pemeriksaan spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, kunjungan ke pembibitan Nepenthes di Palangkaraya, komunikasi pribadi dengan para penghobi Nepenthes di Palangkaraya, dan studi literatur yang digunakan untuk mengetahui keragaman Nepenthes di lokasi penelitian. Hasil kegiatan eksplorasi dan koleksi di empat lokasi penelitian yang berada di Kabupaten Katingan maka dapat dilaporkan bahwa terdapat 12 jenis Nepenthes yang terbagi dalam lima jenis murni dan tujuh jenis hibrid alami, antara lain adalah: N. gracilis, N. mirabilis, N. rafflesiana, N. ampullaria, N. reinwardtiana, N. rafflesiana x N. ampullaria (N. xhookeriana), N. gracilis x N. mirabilis (N. xneglecta), N. ampullaria x N. gracilis (N. xtrichocarpa), N. reinwardtiana x N. mirabilis, N. reinwardtiana x N. gracilis, N. reinwardtiana x N. rafflesiana, dan N. rafflesiana x N. mirabilis. Akan tetapi tiga jenis Nepenthes yang menjadi koleksi utama, yaitu: N. hirsuta, N. hispida, dan N. stenophylla tidak terdapat pada keempat lokasi tersebut. Hal ini diduga karena telah terjadi kerusakan pada habitat aslinya yang berubah menjadi daerah pertambangan serta tanaman Nepenthes yang diperdagangkan langsung diambil dari alam tanpa adanya upaya peremajaan atau budidaya. Apabila ditambahkan dengan data survei sebelumnya yakni dari daerah Barito Ulu, Sebangau, Kalampangan, dan data informasi lainnya, maka Kalimantan Tengah memiliki 18 jenis Nepenthes yang terbagi ke dalam 10 jenis murni dan delapan hibrid alami. Hutan gambut dan hutan kerangas merupakan habitat Nepenthes di Kalimantan Tengah. Kondisi kedua habitat tersebut kini sudah sangat memprihatinkan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan, perambahan, penambangan emas, dan perubahan fungsi kawasan menjadi perkebunan kelapa sawit.