cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Analisis keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti L. sebagai vektor demam berdarah dengue (DBD) pada daerah endemis dan non-endemis di Kabupaten Gowa Andi Ernawati; Syahribulan Syahribulan; Andi Ardianto
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15570

Abstract

Penelitian mengenai analisis keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti L. sebagai vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) pada daerah endemis dan nonendemis di Kabupaten Gowa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan larva Ae. aegypti L. yang meliputi kondisi suhu, kelembaban, ketinggian, habitat, iklim, vegetasi dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pada daerah endemis (Kecamatan Bajeng, Dusun Kalebajeng) dan nonendemis (Kecamatan Bontonompo Selatan, Dusun Bengo). Penelitian ini bersifat ekologi eksploratif dengan mengeksplorasi faktor biotik (nyamuk) dan faktor abiotik (faktor lingkungan dan habitat perindukan) yaitu melakukan survei pada tempat-tempat penampungan air (TPA) baik buatan maupun alami dan non TPA baik yang berada di dalam rumah maupun luar rumah penduduk. Jumlah rumah yang disurvei sebanyak 100 rumah (50 rumah setiap dusun) dengan metode kuadran geografik. Survei jentik pada setiap lokasi dilakukan dengan mengambil sebagian jentik dan nyamuk Ae. aegypti L. dewasa yang berada pada setiap TPA dan non TPA. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah, nilai CI pada Dusun Bengo terus-menerus meningkat (0,2-24%) dan HI yang relatif rata namun menunjukkan nilai yang tinggi (HI: 76%). Dusun Coring memiliki tipe rumah terinfeksi yaitu rumah permanen 5 (0,2%), rumah panggung 5 (0,2%) sedangkan Dusun Bengo dengan tipe rumah terinfeksi yaitu rumah permanen 3 (0,1%), rumah semipermanen 2 (0,07%), rumah panggung 14 (0,48). Berdasarkan waktu pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), Dusun Coring membersihkan TPA sebanyak 3 kali seminggu sedangkan Dusun Bengo hanya membersihkan TPA sebanyak 2 kali seminggu. Faktor-faktor yang memengaruhi keberadaan Ae.aegypti L. yaitu vegetasi dan PSN, elevasi, kondisi geografis dan iklim, hubungan suhu, pH dan kelembaban terhadap keberadaan Ae. aegypti serta habitat.
Pengaruh jenis susu terhadap spesies bakteri asam laktat pada dangke asal Kabupaten Enrekang Nurwilda Kaswi; Mochammad Hatta; Rizalinda Sjahril
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15884

Abstract

Dangke merupakan makanan khas masyarakat Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Indonesia yang terbuat dari susu berbahan dasar susu sapi atau susu kerbau. Susu merupakan salah satu produk makanan yang secara alami mengandung bakteri asam laktat (BAL). BAL yang berasal dari susu bermanfaat sebagai probiotik dan umumnya Genus Lactobacilli dan Bifidobacteria yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikroflora usus dan menstimulasi sistem kekebalan tubuh inangnya. Spesies BAL yang paling sering teridentifikasi pada dangke asal Kabupaten Enrekang adalah Lactobacillus acidophilus dan Lactobacillus plantarum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh jenis bahan dasar susu terhadap spesies BAL pada dangke asal Kabupaten Enrekang. Pada penelitian ini ditemukan sebanyak 9 isolat teridentifikasi bakteri Lactobacillus acidophilus dan 5 isolat teridentifikasi bakteri Lactobacillus plantarum yang terdapat pada sampel dangke susu sapi dan dangke susu kerbau, sehingga disimpulkan bahwa BAL spesies Lactobacillus acidophilus dan Lactobacillus plantarum tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis susu yang merupakan bahan dasar dangke asal Kabupaten Enrekang.
Pemanfaatan hewan laboratorium yang sesuai untuk pengujian obat dan vaksin Putri Reno Intan; Khariri Khariri
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15524

Abstract

Saat ini penelitian dan pengembangan kesehatan semakin berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian bidang kesehatan dapat mencakup penelitian biomedik, epidemiologi, sosial, serta perilaku. Metode penelitian tersebut dapat dilakukan secara in vitro, memakai model matematik, atau simulasi komputer. Untuk dapat mengamati, mempelajari, dan menyimpulkan semua yang terjadi pada makhluk hidup secara utuh diperlukan suatu hewan percobaan. Hewan laboratorium merupakan hewan yang sengaja dipelihara dengan khusus sebagai hewan percobaan, penelitian, pengujian, pengajaran, dan penghasil bahan biomedik ataupun dikembangkan menjadi hewan model untuk penyakit manusia. Hewan percobaan mempunyai nilai pada setiap bagian tubuh dan terdapat interaksi antara bagian tubuh tersebut. Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian disebut sebagai semifinal test tube. Pada banyak penelitian, terdapat beberapa hewan percobaan yang sering digunakan, seperti tikus, kelinci, dan primata. Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian harus mengikuti etika yang telah ditetapkan. Penanganan hewan percobaan hendaklah dilakukan dengan penuh rasa kasih sayang dan berperikemanusiaan. Semakin meningkat cara pemeliharaan hewan yang digunakan, maka semakin sempurna pula hasil percobaan yang dilakukan.
Pemantauan pohon beresiko patah/tumbang di sepanjang pagar utara Kebun Raya Purwodadi Linda Wige Ningrum
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15852

Abstract

Kebun Raya Purwodadi (KR Purwodadi) adalah lembaga konservasi di dataran rendah kering yang mempunyai empat fungsi yaitu sebagai konservasi ex situ, penelitian, pendidikan lingkungan, dan wisata. Dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut KR Purwodadi mempunyai tugas yang harus dilaksanakan. Salah satu tugasnya yaitu menjaga koleksi tumbuhannya baik dari faktor biotik maupun abiotik, dan menjaga keselamatan pengunjung maupun masyarakat yang hidup di sekitar kebun raya dari pohon yang beresiko patah/tumbang. Adanya salah satu tugas tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan pemantauan terhadap pohon beresiko di sepanjang pagar utara KR Purwodadi, agar nantinya dapat diketahui penanganan lanjutannya. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2020 dengan menggunakan metode deskriptif observasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat 62 pohon beresiko yang direkomendasikan untuk dilakukan penanganan berupa kegiatan pruning (pemangkasan ranting/cabang pohon), dan terdapat 38 pohon beresiko yang direkomendasikan untuk dilakukan pemotongan pohon. Dari total 100 pohon yang didapat hanya ada 2 koleksi pohon yang masuk rekomendasi penanganan untuk dilakukan pruning, sedangkan sisanya merupakan pohon bukan koleksi yang masuk rekomendasi penanganan untuk pruning maupun untuk dipotong. Dari hasil penelitian tersebut, diharapkan dapat menjadi salah satu data awal dalam melakukan penelitian lanjutan dan sebagai bahan pertimbangan dalam penanganan lanjutan terkait pohon yang beresiko di KR Purwodadi. Sehingga upaya KR Purwodadi dalam menjaga keselamatan baik untuk keselamatan koleksi tumbuhannya, pengunjung, maupun masyarakat yang hidup di sekitar kebun raya dapat terus terjaga dan fungsi dari KR Purwodadi dapat terus meningkat.
Pengelompokan isolat bakteri penghasil hormon IAA (indole acetic acid) dari tanah rhizosfer bawang merah (Allium cepa) di Nganjuk dengan variasi wilayah yang berbeda Wuri Handayani; Misbakhul Munir; Irul Hidayati
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15787

Abstract

Proses pertanian di Indonesia masih bergantung pada pemakaian pupuk anorganik atau pupuk kimia, khususnya di Nganjuk masih menggunakan pupuk kimia dalam proses budidaya tanaman bawang merah. Oleh karena itu, perlu diatasi dengan mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik (biofertilizer) yang sangat aman dan ramah terhadap lingkungan karena mampu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan biomassa mikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji kemampuan bakteri rizosfer dalam menghasilkan hormon IAA dengan jenis data kualitatif dan kuantitatif terhadap bakteri penghasil hormon IAA. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis untuk membandingkan variasi dari tiga wilayah yang berbeda. Sampel tanah diisolasi dan dimurnikan di media NA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 41 isolat bakteri rizosfer bawang merah yang mampu menghasilkan hormon IAA dengan kadar konsentrasi tertinggi 31,634 ppm yang terdapat di wilayah L (jauh dari permukiman warga) dan konsentrasi terendah 2,131 ppm terletak di wilayah A (dekat permukiman warga). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan konsentrasi hormon IAA yang dihasilkan isolat bakteri rizosfer bawang merah dari berbagai wilayah tersebut menandakan bahwa kondisi dan komposisi tanah di sekitar wilayah tersebut tidak berbeda karena berada dalam satu lokasi persawahan di Dusun Jetis, Desa Kendalrejo, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk.
Hidrolisis ampas tebu menggunakan enzim selulase dari bakteri Bacillus subtilis dalam upaya pemanfaatannya sebagai bahan pakan ikan Nunak Nafiqoh; Lusi H Suryaningrum
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.16022

Abstract

Ampas tebu merupakan hasil samping atau buangan yang dihasilkan dari proses pengolahan tebu di pabrik gula yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan setelah melalui proses pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan temperatur dan pH optimum hidrolisis ampas tebu menggunakan ekstrak kasar enzim selulase dari bakteri Bacillus subtilis, dalam upaya perbaikan kualitas ampas tebu untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan. Temperatur yang dicobakan adalah 40oC, 45oC, 50oC, 55oC dan 60oC, sedangkan pH yang dicobakan adalah 4,0; 4,5; 5,0; 5,5; 6,0. Parameter yang diukur adalah gula reduksi dan komposisi nutrien ampas tebu sebelum dan setelah hidrolisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrolisis ampas tebu menggunakan ekstrak kasar enzim selulase dari bakteri B. subtilis memiliki temperatur optimum 50oC dan pH optimum 5,0. Hasil uji proksimat menunjukkan bahwa kualitas tepung ampas tebu meningkat cukup signifikan. Komposisi nutrien tepung ampas tebu setelah hidrolisis adalah protein 20,23%, lemak 1,17%, abu 6,33%, serat kasar 11,25%, BETN 61,02%, dengan demikian ekstrak kasar enzim selulase dari B. subtilis terbukti mampu meningkatkan kualitas ampas tebu sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan.
Mekanisme toleransi tanaman pada lahan salin: akumulasi prolin Selis Meriem
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15647

Abstract

Salinitas menambah faktor penghambat pertumbuhan perkembangan tanaman serta meningkatkan penurunan produktivitas tanaman pada tanaman glikofit. Tingginya sodium dan klorin menstimulus produksi prolin (Pro) yang berperan sebagai osmoregulator dan buffer dalam mempertahankan turgor sel. Review ini membahas tentang mekanisme fisiologi adaptasi toleran terhadap salinitas melalui kajian biosintesis dan regulasi ekspresi gen, respon morfo-fisiologi dan peran fitohormon ABA terhadap akumulasi Pro. Prolin merupakan metabolit sekunder yang disintesis melalui metabolisme nitrogen dengan prekursor glutamat dan atau ornitin. Tanaman yang tercekam akan melakukan mekanisme pertahanan melalui (1) aktivasi gen P5CS, PDH, ProT, dan δ –OAT terkait metabolisme sintesis Pro yang tinggi pada akar, (2) peningkatan Pro pada akar di awal cekaman dan pada bunga di fase generatif, dan (3) penyerapan N tinggi pada akar. Peningkatan serapan N, NH4+, mendukung asimilasi N di akar sebagai respon tanaman dalam meningkatan pertumbuhan dan biomasa pada kondisi tercekam. Selain N, peningkatan ABA menstimulus gen-gen terkait stres salinitas. Dengan demikian, aplikasi NH4+ dan penambahan ABA memperbaiki produktivitas pertanian dengan meningkatkan resistensi tanaman terhadap salinitas.
Pengembangan media pembelajaran berbasis web pada mata kuliah sistematika tumbuhan untuk karakterisasi subfamili Bambusoideae di Kebun Raya Purwodadi Prayogo Wigunanto; Solikin Solikin; Nur Hayati; M. Chodzirin
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15861

Abstract

Bambu merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Graminea (Poaceae) dengan tingkat keanekaragaman di dunia terdiri dari 1.439 jenis, dan sekitar 11,5% bambu dunia berada di Indonesia. Keanekaragaman spesies bambu merupakan kekayaan biodiversitas yang perlu dilestarikan dan berpotensi digunakan sebagai bahan pembelajaran. Di Indonesia pelestarian bambu secara ex situ salah satunya berada di Kebun Raya Purwodadi. Beberapa sarana media pembelajaran yang digunakan pada mata kuliah sistematika tumbuhan masih terbatas, salah satunya dalam melakukan karakterisasi sehingga dibutuhkan media pembelajaran berbasis web. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui keanekaragaman jenis bambu, mengetahui pengembangan serta kelayakan media web sebagai media pembelajaran dalam mata kuliah sistematika tumbuhan. Jenis penelitian ini adalah penelitian Pengembangan (RnD) dengan menggunakan model pengembangan ADDIE. Pengembangan media pembelajaran ini menggunakan sofware Xampp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pembelajaran ini sangat layak digunakan dalam proses pembelajaran sistematika tumbuhan. Hal tersebut berdasarkan pada penilaian ahli materi sebesar 93%, ahli media sebesar 91%, dan tanggapan responden uji operasional sebesar 89%. Adapun hasil untuk persentase tanggapan responden pada uji lapangan terbatas adalah 92% dengan kriteria sangat layak.
Bakteri patogen penyebab foodborne disease Fauzul Muna; Khariri Khariri
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15374

Abstract

Kasus foodborne diseases di dunia mencapai sampai 250 kasus yang berbeda dan didominasi oleh penyakit infeksi. Foodborne diseases merupakan penyakit yang biasanya bersifat infeksi atau racun yang diakibatkan oleh sumber infeksi yang masuk ke dalam tubuh bersama makanan yang dicerna. Makanan menjadi media penularan penyakit yang baik dalam menghantarkan mikroorganisme patogen sampai ke tempat kolonisasi di dalam tubuh. Foodborne diseases menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting dan mendapat perhatian serius di negara berkembang maupun negara maju. Tulisan ini merupakan studi literatur dengan mengumpulkan data dari hasil penelusuran berbagai sumber seperti jurnal ilmiah, laporan penelitian maupun media online. Gejala foodborne diseases antara lain sakit pada saluran gastrointestinal, neurological, gynaecological, immunological dan gejala lain. Selain itu juga dapat mengakibatkan kegagalan berbagai organ, kanker sampai kematian. Foodborne diseases dibedakan menjadi yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi oleh bakteri, virus atau parasit dan penyakit karena intoksifikasi. Beberapa bakteri penyebab foodborne diseases antara lain Salmonella spp., Shigella spp., Shiga toxin-producing Eschericia coli (STEC), Listeria monocytogenes, Vibrio spp., Brucella spp., Clostridium spp., Campylobacter spp., Yersinia spp. dan lainnya. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah makanan yang dimasak, dipanaskan, dan disimpan dengan benar. Upaya pencegahan merupakan suatu langkah positif untuk menekan penularan penyakit yang diakibatkan oleh makanan.
Variabilitas genetik Coffea canephora Pierre ex A. Froehner berdasarkan sekuen internal transcribed spacer Mahat Magandhi; Muhammad Rifqi Hariri
Prosiding Seminar Biologi Vol 6 No 1 (2020): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOLOGI DI ERA PANDEMI COVID-19 (OKTOBER 2020)
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v6i1.15865

Abstract

Kopi sebagai salah satu komoditas penting dunia merupakan sumber devisa penting di beberapa negara. Coffea canephora merupakan jenis yang umum dibudidayakan di dunia, termasuk Indonesia. Hingga saat ini keragaman genetik pada C. canephora telah banyak digunakan menggunakan marka DNA tetapi belum banyak menggunakan analisis sekuen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keragaman genetik dan haplotipe C. canephora menggunakan sekuen ITS. Jarak genetik antar aksesi cukup rendah dan mengelompokkan keseluruhan aksesi menjadi lima klaster. Keragaman gen dan nukleotida C. canephora secara berurutan 0,9402 ± 0,0202 dan 0,0154 ± 0,0081. Tiga belas haplotipe berhasil dikonstruksi dengan H10 diduga sebagai haplotipe tetua dari seluruh aksesi C. canephora yang digunakan.