cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Menggunakan Fragmen Epidermis di Feses untuk Identifikasi Tumbuhan Pakan Herbivor: Studi Seleksi Tumbuhan Pakan oleh Rusa Timor (Cervus timorensis) di Pulau Menjangan Bali I KETUT GINANTRA; I KETUT MUKSIN; IDA BAGUS MADE SUASKARA
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3338

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis tumbuhan yang dimakan oleh herbivor (rusa timor) dari fragmen epidermis yang ada di feses. Studi dilakukan di Pulau Menjangan Bali pada bulan Juni-Juli 2016. Feses rusa timor dikoleksi dari 4 unit grazing rusa timor (savana dan hutan musim). Preparat acuan (fragmen epidermis acuan/reference slides) dibuat dari bagian daun tiap jenis tumbuhan yang tersedia di unit habitat. Sampel feses yang dikoleksi digiling halus dan direndam dengan NaClO untuk pembuatan preparat mikrohistologi sampel feses. Identifikasi spesies tumbuhan yang dimakan dari praparat feses dilakukan dengan membandingkan bentuk dan struktur sel-sel fragmen epidermis  dengan praparat acuan. Hasil penelitian menunjukkan gambaran sel sel epidermis, sel tetangga, dan sel penutup stomata yang khas pada tiap spesies. Sehingga gambaran fragmen epidermis di feses bisa untuk identifikasi jenis tumbuhan yang dimakan oleh herbivor. Fragmen epidermis kelompok tumbuhan rerumputan (graminoids) menunjukkan sel panjang dan sel pendek dan stomata berada diantara sel-sel panjang, stomata berbentuk halter. Fragmen epidermis kelompok tumbuhan daun lebar (forbs, woodys) menunjukkan variasi bentuk dan susunan sel epidermisnya, ada sel tetangga yang tidak berbeda dengan sel epidermis lainnya dan ada pula yang sel tetangganya berbeda dengan sel epidermis lainnya, bentuk stomata seperti ginjal. Derivat epidermis lainnya yang juga teramati di feses adalah trikomata. Kata kunci: Herbivor, feses, fragmen epidermis, identifikasi tumbuhan pakan
Perspektif Nano Science Dalam Ilmu Hayati (The whole is greater and smarter than the sum of the parts) Sutiman B Sumitro
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.2618

Abstract

Dalam dekade belakangan mulai terasa bahwa dunia tempat hidup kita semakin tidak dapat diramalkan, pendekatan pemikiran linier yang selama ini diandalkan terasa tidak lagi efektif. Berbagai kejadian seperti munculnya penyakit baru, cara penyebaran penyakit, resistensi mikroba dan hama terhadap antibiotik dan pestisida, gempa bumi, pemanasan global, fenomena-fenomena semacam lumpur Lapindo maupun efek samping dari setiap penerapan teknologi yang bersifat antroposentrik telah menunjukkan bahwa alam sesungguhnya tidak sesederhana yang dipikirkan. Pemahaman yang lebih baik terhadap fenomena alam, ternyata justru semakin menyadarkan bahwa alam adalah misterius dan bersifat non linear, yang tidak dapat dipahami hanya dengan pendekatan disiplin ilmu seperti yang selama ini dilakukan oleh banyak pemikir di Universitas maupun lembaga penelitian ilmiah. Alam menunjukkan adanya fenomena (emergent) berbeda di setiap jenjangnya ketika diamati oleh manusia. Setiap jenjang ukuran memiliki pola dan partisipan interkoneksinya masing-masing. Hukum dan penampakannya pun tidak sam, mulai dari jenjang subatomic sampai dengan kejadian-kejadian dengan partisipan berupa benda dan gaya di luar angkasa. Hal ini membuat pihak merasakan perlunya memiliki pemikiran baru agar tidak salah dan tersesat ketika memahami dan dan berimajinasi tentang fenomena alam. 
Analisis Terhadap Densitas Larva Nyamuk Aedes aegypti (Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue/DBD) MAKKATENNI MAKKATENNI; NURLIANI ATJO; JUHARDI JUHARDI; JALIL JALIL
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3328

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan yang serius masyarakat di Indonesia. Hal ini sering menimbulkan kekhawatiran karena perjalanan penyakit DBD tergolong cepat dan dapat menimbulkan wabah serta kematian dalam waktu yang singkat. Monitoring kepadatan populasi Aedes aegypti sangat penting untuk membantu evaluasi dan peningkatan pemberantasan nyamuk penyebab DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui densitas larva nyamuk Aedes aegypti berdasarkan angka House Index (HI), Container Index (CI) dan Breateu Index (BI). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan survei. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Samalewa, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, pada bulan Juli hingga Oktober 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah di Kelurahan Samalewa (2.246 rumah) dan sampel berjumlah 50 rumah yang diambil melalui metode proportional random sampling. Pengamatan jentik dilakukan dengan mengamati kehadiran jentik pada setiap kontainer yang terletak di dalam dan di luar rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan persentase House Index bernilai sebesar 54%, Container Index sebesar 23.9% dan Breateu Index sebesar 110%. Berdasarkan nilai indeks tersebut, dapat disimpulkan bahwa Kelurahan Samalewa  beresiko terhadap transmisi penyakit Demam Berdarah Dengue. Kata kunci: Breteau Index, Container Index, DBD, House Index 
Sumber Daya Alternatif Antimikroba Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Sebagai Dental Caries (Sebuah Review) Nurul Afriani Arif; Eka Sukmawaty; Mashuri Masri
Prosiding Seminar Biologi Vol 3 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Biology for Life
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v3i1.4803

Abstract

Sumber daya alam membuktikan bahwa banyaknya yang dapat menjadi sumber daya alternatif yang dapat dijadikan anti mikroba terlebih terhadap Streptococcus mutans yang dapat menyebabkan dental caries. Jatropa curcas memiliki zona daya hambat jika dibandingkan dengan erytromysine. Achatinal fulica memiliki glycoprotein yang dapat menjadi penghambat pertumbuhan pada bakteri S.mutans. Morinda citrifolia dengan zona daya hambat 13,71. Apium graveolens dan Hippobroma langifora memiliki zona daya hambat terhadap bakteri S. mutans
Analisis Pertumbuhan Mencit (Mus musculus L.) ICR Dari Hasil Perkawinan Inbreeding Dengan Pemberian Pakan AD1 dan AD2 Uswatul Hasanah; Mashuri Masri
Prosiding Seminar Biologi Vol 1 No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v1i1.2130

Abstract

Penelitian  ini  dilakukan  untuk  mengukur  pertumbuhan  berat  badan  mencit (Mus  musculus L.)dari perkawinan Inbreeding dengan pemberian pakan AD1 dan AD2. Jenis penelitian tersebut yaitu penelitian  eksperimental  yang  menguji  pertumbuhan Litter  size, bobot  prasapih,  bobot  sapih, pertambahan bobot badan, dan konsumsi pakan sebagai variabel terikat dan perkawinan inbreeding sebagai variabel bebas. Tahap penelitian yaitu penggunaan mencit (Mus musculus L.) 6 ekor jantan dan 6 ekor betina dewasa. Mencit betina berumur 56 hari dengan rataan bobot 24,00 g/ekor dan mencit jantan berumur 56 hari yang digunakan untuk mengawini betina dengan rataan bobot 26,00 g/ekor. Masing-masing  3  pasang  untuk  perlakuan  AD1  dan  3  pasang  untuk  perlakuan  AD2.    Pakan  yang digunakan  pada  penelitian  ini  yaitu  pakan  AD1  yang  mengandung  air  13,5%,  protein  kasar  min 20,5%, lemak kasar min 7%, serat kasar max 5%, abu max 7%, calcium 0,9 dan 1,2%, phosphor 0,7 dan  0,9%,  mengandung  antibiotika  dan  Coccidiostat.  Sedangkan  AD2  mengandung  air  13,5%, protein kasar min 17%, lemak kasar min 7%, serat kasar max 6%, abu max 7%, kalsium 0,9 dan 1,2%, fosfor 0,7 0,9% dan mengandung antibiotika. Hasil  yang  diperoleh  menunjukkan  bahwa Liter  size, bobot  sapih,  bobot  badan  dan  konversi pakan tidak ada kecenderungan terhadap pertumbuhan bobot badan mencit (Mus musculus L.) dengan pemberian  pakan  AD1  dan  AD2.  Sedangkan  bobot  prasapih  memberikan  adanya  kecenderungan terhadap pertumbuhan bobot badan mencit dengan pemberian pakan AD1 dan AD2.
Pemanfaatan Limbah Jagung Sebagai Substrat Dalam Menghasilkan Poli-Β-Hidroksi Butirat (Phb) Oleh Isolat Bakteri Asal Pabrik Gula Arasoe Bone NUR HAEDAR; SRI NUR RAHMI; ASADI ABDULLAH
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3319

Abstract

The research about Waste of Corn as Substrate In Produce Poly-β-Hydroxy Butyrate (PHB) by Bacterial Isolates Origin Sugar Factory Arasoe Bone. The research purpose to determine the ability of bacterial isolates from sugar mills Arasoe Bone is BA9 and MA4 and nitrogen concentration optimal for producing the PHB. With usewaste of corn as a source of carbon with a concentration 1%, 2%, 3% and as control positive glucose 1%, as well as use of ammonium sulfate as nitrogen source at a concentration of 0.05%, 0.1% and 0.15%. Total Analysis of PHB done with use UV-VIS spectrophotometer and a wavelength of 235 nm and using analysis a regression equation. The result of this study that use of corn as a source of carbon waste can produce PHB either by BA9 and MA4 isolates though still lower than glucose as the carbon source. The concentration of nitrogen source (ammonium sulfate), which accumulate PHB optimal concentration of ammonium sulfate that is at 0.1%. Keywords: Poly-β-hydroxy butyrate (PHB), Bacterial Isolates, Waste Corn, incubation time, the waste sugar factory
Keanekaragaman Burung Ordo Ciconiiformes di Kawasan Konservasi Mangrove Tambaksari Desa Bedono Kecamatan Sayung Demak Ummi Nur Azizah; Dian Triastari Armanda; Kusrinah Kusrinah
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.4178

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan ragam spesies burung keempat terbesar di dunia setelah Colombia, Peru, dan Brazil. Kawasan hutan mangrove Indonesia yang mewakili 20% luasan mangrove dunia merupakan habitat bagi beraneka ragam Aves. Wilayah Tambaksari, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai daerah konservasi mangrove. Tambaksari merupakan salah satu dusun di Desa Bedono yang mengalami abrasi. Daerah konservasi mangrove Tambaksari sebenarnya bukan merupakan habitat asli burung Ordo Ciconiiformes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keanekaragaman burung Ordo Ciconiiformes di kawasan konservasi mangrove Tambaksari dan mengetahui jenis tumbuhan yang menjadi habitat burung Ordo Ciconiiformes.Penelitian kualitatif lapangan ini dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2015. Teknik pengambilan sampel yang dipilih adalah kombinasi metode titik hitung IPA (Indices Ponctuele d’Abundance) dan transek titik (point transect). Sampling dilakukan pada 3 stasiun yang telah ditentukan (selatan, tengah, dan utara). Lima anggota Ordo Ciconiiformes yang berhasil ditemukan yaitu Ardeola speciosa, Bubulcus ibis, Egretta alba, Egetta garzetta, dan Nycticorax nycticorax. Tingkat keanekaragaman Ordo Ciconiiformes di kawasan konservasi mangrove Tambaksari tergolong kategori sedang (H' sebesar 0,71 – 1,12). Nilai indeks kemerataan tergolong kategori rendah (E sebesar 0,13-0,21). Spesies yang dominan adalah Bubulcus ibis dengan dominansi relatif sebesar 72%. Meskipun jenis ini bukan tergolong invasif di Indonesia, jenis ini tetap perlu diwaspadai invasifitasnya karena tergolong dalam daftar Global Invasive Species. Jenis tumbuhan yang menjadi habitat dominan Ciconiiformes adalah Avicennia marina. 
Isolasi Cendawan Rhisozfer Penghasil Hormone Indol Acetic Acid (IAA) Pada Padi Aromatik Tanatoraja Abri Abri
Prosiding Seminar Biologi Vol 1 No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v1i1.2112

Abstract

Kualitas  jenis  padi  akan  berpengaruh  pada  selera  makan.    Jenis  padi  yang  menghasilkan  nasi pulen dan aromanya wangi merupakan keunggulan jenis padi aromatik. Namun sulit dijumpai dan harganya  mahal.  Sulawesi  Selatan,  khususnya  daerah  Tanah  Toraja  merupakan  daerah pengembangan padi aromatik yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Budidaya yang diterapkan masih bersifat tradisional dan berbasis kearifan lokal yaitu tanpa penggunaan pupuk, pestisida dan obat  kimia  lainnya,  sehingga  diharapkan  terdapat  keragaman  biodiversitas  mikroorganisme  yang tinggi  di  dalam  tanah  terutama  cendawan  rhizosfer  yang  menghasilkan  hormon Indol  Acetic  Acid (IAA). Rhizosfer  tanaman  padi  aromatik  diambil  sebanyak  10  gram  disuspensikan  dalam  100  ml aquades  steril.  Pemurnian  dilakukan  dengan  memindahkan  satu  koloni  jamur  pada  medium  PDA steril  yang  baru. Pengukuran  produksi  IAA  dilakukan  dengan  mengkulturkan  1  lup  penuh  isolat cendawan rhizosfer pada media  Potato Dextrose Agar (PDA) dengan penambahan L-Triptofan  dan selama 48 jam pada ruang gelap dengan suhu ruang. IAA dengan kertas saring kemudian disentrifius 3000 rpm selama 30 menit, tambahkan 2 tetes  asam orthofosfat, lalu tambahkan lagi dengan 4 ml reagen Salkowski (50 ml, 35% asam sulfat, 1 ml 0,5 mol larutan FeCl3), simpan ruang gelap selama 24  jam,  perubahan  warna  larutan  menjadi  pink  berarti  isolat  cendawan  telah  memproduksi  IAA. Pengukuran  absorbansi serapan IAA  nya  dengan  menggunakan  spektrometer  (spectronic 20)  pada panjang  gelombang  530  nm. Hasil  isolasi  cendawan  rhizosfer  padi  aromatik  jenis  Pare  kaloko menghasilkan 19 isolat dan Pare Bau 15 isolat. Rata-rata produksi Indole Acetic Acid (IAA) sebesar 0,556-2.190  mg/L  dihasilkan  oleh  isolat  pare  Kaloko,  sedangkan  rata  rata  produksi  IAA  yang dihasilkan oleh isolat pare Bau sebesar 0,048 – 1,8101,435 mg/L
Isolasi, Enumerasi dan Karakterisasi Bakteri Fiksatif Nitrogen Simbiotik dari Hutan Lindung di Kawasan Pertambangan Nikel RAMDANA SARI; RETNO PRAYUDYANINGSIH
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.2630

Abstract

Hutan Lalindu merupakan hutan lindung yang berada di kawasan pertambangan nikel, berfungsi untuk mengatur tata air dan menjaga kesuburan tanah. Terjadinya kebakaran pada wilayah hutan lindung ini menyebabkan terjadinya degradasi lahan. Bakteri Rhizobia merupakan salah satu mikroba tanah potensial untuk restorasi lahan marginal. Bakteri ini mampu menyediakan nutrisi bagi tanaman, khususnya Nitrogen, dengan melakukan fiksasi N2 dari udara. Isolasi, enumerasi, dan karakterisasi bakteri Rhizobia dilakukan untuk mengetahui status bakteri Rhizobia pada wilayah ini. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan menentukan 5 titik sampling pada tiap plot di areal hutan lindung yang tidak terganggu (HL) dan hutan lindung yang terbakar (HT). Sebanyak 1 kg tanah diambil pada kedalaman 0 – 20 cm lalu dimasukkan ke dalam plastik sampel dan selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk proses selanjutnya. Kepadatan bakteri Rhizobia pada areal Hutan Lindung Alami (HL) adalah 4,6 x 105 cfu/gr lebih tinggi dibandingkan Hutan Lindung Terbakar (HT), yaitu 4,4 x 105 cfu/gr. Dari 14 isolat yang berhasil diisolasi,  12 isolat termasuk kelompok Rhizobium dan 2 lainnya termasuk Bradyrhizobium. Semua isolat bersifat aerob, motil, serta tidak mampu tumbuh pada pH 4 secara in vitro, tetapi tumbuh pada pH 5 – 8 dimana pH optimum pertumbuhan bervariasi untuk semua isolat. Kata Kunci: Enumerasi, Hutan Lindung, Isolasi, Karakterisasi, Rhizobia 
Ragam Peta Konsep Penunjang Model Pembelajaran Biologi Berbasis Remap Coople SITI ZUBAIDAH; SUSRIYATI MAHANAL; ARDIAN ANJAR PANGESTUTI; MISTIANAH MISTIANAH
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3373

Abstract

Salah satu fakta yang dirisaukan dalam dunia pendidikan adalah rendahnya kemampuan literasi membaca siswa Indonesia. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan terjadi berlarut, karena dapat berdampak pada keterampilan berpikir siswa. Salah satu cara untuk memberdayakan keterampilan membaca siswa adalah dengan menerapkan suatu model pembelajaran yang di dalamnya terdapat kegiatan yang mengharuskan siswa untuk membaca.Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah remap coople, yaitu model pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk membaca dan menyusun peta konsep sebelum pembelajaran dimulai, dan pada saat pembelajaran digunakan model pembelajaran kooperatif.Salah satu penunjang model pembelajaran biologi tersebut adalah peta konsep. Model peta konsep ada yang berpola spoke, chain, dan net, yang kemudian dikembangkan menjadi tree, linear, circular, hub spokes, dan network/net. Pada pelaksanaannya, siswa dapat memilih salah satu model peta konsep yang diinginkan atau mengembangkan modelnya sendiri dengan memodifikasi dari model peta konsep yang telah ada. Berdasarkan pengamatan sejak tahun 2014 – 2016 dari berbagai sekolah di Malang, Jawa Timur, pada umumnya model peta konsep yang dibuat oleh siswa adalah model tree. Kata kunci: remap coople, peta konsep, ragam model peta konsep

Page 8 of 28 | Total Record : 279