cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Periodontitis kronis pada pasien dengan penyakit diabetes melitus Bondan Purbowati; Aris Aji Kurniawan
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.37775

Abstract

Peridontitis kronis merupakan penyakit peradangan pada jaringan periodontal yang disebabkan oleh bakteri pada subgingiva. Periodontitis diawali dengan adanya inflamasi pada gingiva, berlajut ke struktur jaringan penyangga gigi seperti sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar. Selain peranan bakteri dalam menyebabkan periodontitis, terdapat pula peranan penyakit sistemik pada periodontitis seperti diabetes melitus (DM). Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan kondisi periodontitis kronis pada pasien dengan diabetes melitus. Pasien wanita berusia 64 tahun mengeluhkan gigi geliginya goyang sejak beberapa tahun terakhir. Pasien diketahui memiliki riwayat penyakit diabetes melitus dan sedang menjalani pengobatan rutin. Pemeriksaan klinis pada rongga mulut menunjukkan adanya resesi pada gigi anterior baik maksila maupun mandibula, disertai kegoyahan gigi geligi, dan xerostomia. Komplikasi DM adalah perubahan integritas mikrovaskular, yang sering menyebabkan kerusakan organ. Kondisi hiperglikemia mengakibatkan protein serta molekul matriks mengalami non-enzymatic glycosylation yang menghasilkan advanced glycation end products (AGE) pada jaringan termasuk periodonsium. AGE turut berinteraksi dengan kolagen dan membuat kolagen lebih sulit diperbaiki bila mengalami kerusakan. Diabetes melitus dapat menimbulkan berbagai manifestasi di rongga mulut, salah satunya adalah terjadinya periodontitis.
Tindakan odontektomi multipel pasien HIV/AIDS Intan Maharani; Maria Goreti Widiastuti; Rahardjo Rahardjo
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.43820

Abstract

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, dengan target utama limfosit T CD4. Jumlah limfosit T CD4 dapat digunakan untuk mengambil keputusan tentang inisiasi Antiretroviral (ARV) dan pemantau perkembangan penyakit. Pertimbangan tindakan operasi bedah mulut harus memperhatikan kondisi imunosupresi penderita HIV. Pengobatan HIV menggunakan ARV dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping gangguan fungsi hati, anemia, dan alergi, sehingga penggunaannya perlu diperhatikan untuk mencegah infeksi oportunistik. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pertimbangan tindakan bedah mulut pada pasien HIV/AIDS. Pasien laki-laki berusia 22 tahun, penderita HIV/AIDS dengan hitungCD4 >500 sel/μL. Pasien mengkonsumsi ARV dalam bentuk FDC (Fixed Dosed Combination) yang mengandung Tenofovir 300 mg, Hiviral 300 mg, dan Efavirenz 600 mg. Bius umum dilakukan pada tindakan odontektomi multipel dengan pemilihan obat injeksi Ceftriaxon, Ketorolac, Ranitidin, Asam Tranexamat, dan obat peroral Cefixime, Kalium Diklofenak, Paracetamol. Pemilihan obat-obatan tersebut berdasarkan interaksi dengan ARV yang digunakan pasien. Alat Proteksi Diri (APD) selama tindakan bedah perlu digunakan untuk mencegah penularan ke operator. Tindakan odontektomi multipel pada pasien ini menunjukkan hasil yang baik dengan tidak adanya keluhan, pembengkakan pada pipi, dan parestesi 7 hari setelah tindakan. Pasien juga menunjukkan pembukaan mulut normal dan penyembuhan luka yang baik. Kesimpulan: tindakan odontektomi multipel dapat dilakukan pada penderita HIV/AIDS dengan mempertimbangkan status CD 4 dan pemilihan obat.
Perawatan relasi skeletal kelas II menggunakan alat ortodonti lepasan tiga tahap Lydia Astari; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.44018

Abstract

Relasi skeletal Kelas II terjadi terutama karena faktor keturunan serta kombinasi faktor lingkungan seperti kebiasaan buruk atau karies rampan pada periode gigi desidui. Relasi skeletal Kelas II sering menghasilkan penampilan bibir inkompeten, profil cembung, dan protrusif gigi anterior. Salah satu rencana perawatan untuk mengoreksi kondisi tersebut adalah perawatan dengan ekstraksi 4 gigi premolar yang diikuti pemakaian alat ortodonti lepasan beberapa tahap. Artikel ini bertujuan untuk mempresentasikan perawatan pada seorang pasien wanita berusia 12 tahun yang didiagnosis maloklusi Angle Kelas I, dengan overjet berlebih, gigitan dalam anterior, gigitan silang unilateral pada molar kiri, dan profil wajah cembung. Hasil pengukuran sefalometri mengindikasikan relasi skeletal Kelas II. Alat ortodonti lepasan tiga tahap dipilih untuk merawat kasus ini. Plat aktif tahap pertama diinsersikan untuk meretraksi gigi premolar, kaninus, dan gigi-gigi insisivus setelah dilakukan pencabutan gigi 14, 24, 35, dan 45. Perawatan tahap dua menggunakan plat ekspansi unilateral rahang atas untuk mengoreksi gigitan silang molar kiri. Perawatan tahap tiga menggunakan plat peninggi gigitan miring rahang atas untuk mereduksi overjet dan overbite serta memajukan rahang bawah. Kesimpulan hasil perawatan selama 24 bulan menunjukkan bahwa perawatan ortodonti menggunakan alat lepasan tiga tahap efektif mengoreksi overjet dan overbite, menghasilkan relasi dental dan skeletal Kelas I, memperbaiki profil wajah menjadi lebih estetis, dan memberikan kepuasan kepada pasien.
Penggunaan gigi tiruan untuk rehabilitasi perubahan otot wajah akibat kehilangan gigi Intan Ruspita; Esti Tjahjanti; Erwan Sugiatno; Haryo Mustiko Dipoyono
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.46389

Abstract

Perubahan dimensi jaringan lunak dan tulang paska pencabutan gigi dapat menyebabkan perubahan estetika wajah. Hal ini disebabkan karena gigi berfungsi untuk mendukung otot wajah, tanpa dukungan gigi wajah terlihat berkerutdan lebih tua. Perubahan yang terlihat pada wajah meliputi lipatan nasolabial menjadi lebih dalam, sudut mulut turun, bibir menipis, bibir atas terlihat panjang dan hidung terlihat lebih besar akibat hilangnya dukungan bibir atas. Usaha yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan tersebut adalah pembuatan gigi tiruan yang dapat mendukung kembali otot wajah. Tujuan artikel ini yaitu untuk menginformasikan akibat kehilangan gigi pada perubahan otot wajah dan usaha memperbaikinya menggunakan gigi tiruan. Seorang wanita usia 67 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo dengan keluhan merasa rendah diri karena wajah terlihat lebih tua akibat hilangnya seluruh gigi pada rahang atas dan bawah. Tatalaksana kasus 1). Anamnesa, 2). Pemeriksaan klinis dan radiografis, 3). Pencetakan rahang, 4). Pembuatan gigi tiruan lengkap (GTL) kerangka logam untuk rahang atas dan rahang bawah, 5). Insersi GTL. Pembuatan GTL pada rahang atas dan rahang bawah yang sesuai dengan kaidah pembuatan gigi tiruandapat memperbaiki estetika akibat hilangnya dukungan otot wajah. Kesimpulan dari penggunaan GTL konvensional yang dibuat sesuai dengan prinsip prostodontik yang ditetapkan dapat mengembalikan estetika otot wajah akibat kehilangan gigi.
Overdenture sebagai preservasi tulang alveolar dan retensi gigi tiruan rahang bawah Haris Okta Akbar Sy; Heriyanti Amalia Kusuma; Murti Indrastuti; Endang Wahyuningtyas
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.55768

Abstract

Overdenture merupakan gigi tiruan lepasan sebagian atau lengkap yang didukung oleh satu atau lebih gigi, akar gigi asli, atau implan gigi. Keuntungan penggunaan overdenture adalah menghambat resorpsi tulang alveolar serta memperoleh retensi dan stabilitas yang maksimal. Terhambatnya resorpsi tulang alveolar terjadi karena adanya akar gigi yang dipertahankan. Beberapa jenis penyangga overdenture yang dapat digunakan untuk menambah retensi dan stabilitas adalah bare root, magnet, dan coping. Tujuan dari studi kasus adalah untuk mengkaji penggunaan overdenture sebagai preservasi tulang alveolar dan retensi gigi tiruan rahang bawah. Pasien wanita berusia 52 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo ingin dibuatkan gigi tiruan dengan keluhan estetik, kesulitan mengunyah dan tidak jelas waktu berbicara. Gigi yang tersisa pada rahang atas hanya gigi 25 dengan kondisi nekrosis, sedangkan pada rahang bawah gigi yang tersisa adalah gigi 31 pulpitis ireversible, gigi 32 karies profunda, gigi 35 nekrosis, gigi 41 dan 42 karies dentin, gigi 43 nekrosis. Tatalaksana kasus adalah kaping pulpa gigi 32, penumpatan gigi 32, 41, dan 42, perawatan saluran akar gigi 25, 31, 35, dan 43, pembentukan bare root pada gigi 25, pegangan magnet pada gigi 35 dan 43, pemasangan short coping pada gigi 31. Insersi menunjukan retensi dan stabilitas gigi tiruan baik. Pada saat kontrol, pasien merasa puas karena gigi tiruan tersebut dapat memperbaiki estetis, fungsi pengunyahan dan bicara. Kesimpulan dari penggunaan overdenture magnet dan coping dapat mencegah terjadinya resopsi tulang alveolar serta meningkatkan retensi gigi tiruan rahang bawah.
Potensi kombinasi ekstrak buah bit dan virgin coconut oil dalam disclosing toothpaste Rifki Kurniasari; Sevina Dwi Oktaviani; Eka Anis Rahayuningsih; Archadian Nuryanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.60758

Abstract

Akumulasi plak gigi dapat menyebabkan karies dan penyakit periodontal. Disclosing agent, sediaan yang dapat memvisualisasikan plak gigi, dapat dikombinasikan dengan pasta gigi menjadi disclosing toothpaste. Buah bit (Beta vulgaris) sering digunakan sebagai pewarna alami sedangkan Virgin Coconut Oil (VCO) memiliki efek antimikroba. Keduanya berpotensi digunakan sebagai bahan disclosing toothpaste. Penulisan studi literatur bertujuan untuk memberikan kajian mengenai potensi kombinasi ekstrak buah bit dan Virgin Coconut Oil dalam disclosing toothpaste. Literatur yang digunakan sebagai sumber referensi berupa jurnal dan artikel ilmiah yang tersedia di PubMed, Science Direct, dan Google Scholar berdasarkan kata kunci yang telah ditentukan. Berdasarkan studi literatur, ditemukan bahwa buah bit mengandung pigmen betalain yang berfungsi sebagai indikator perubahan pH melalui warna yang ditimbulkannya. Di sisi lain, asam laurat dalam VCO memiliki aksi antibakteri dengan merusak integritas membran sel serta menghambat enzim yang berperan dalam proses metabolisme dan transfer nutrisi sel. Selain itu, VCO mengandung asam kaprat sebagai antifungi yang dapat menghambat adhesi fungi serta menyebabkan kerusakan seluler. Oleh karena itu, kombinasi ekstrak buah bit dan Virgin Coconut Oil sebagai agen antimikroba berpotensi untuk digunakan menjadi bahan disclosing toothpaste.
Perawatan anopthalmic soket dengan protesa mata custom pada pengguna protesa mata ready made yang tidak sesuai Antoni Halim; Haryo Mustiko Dipoyono; Murti Indrastuti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.64654

Abstract

Laporan kasus ini menjelaskan metode sederhana pembuatan protesa mata custom made dengan bahan akrilik pada pasien wanita berumur 19 tahun yang memiliki keluhan kesulitan untuk melepaskan protesa matanya, ukuran protesa mata yang terlalu besar sehingga merasakan ketegangan otot mata, dan estetik kurang baik. Pemeriksaan objektif pada soket mata pasien tidak ditemukan adanya gambaran peradangan, otot kelopak mata yang sehatdan kedalaman sulkus yang cukup untuk menahan protesa mata. Tujuan Studi kasus ini menunjukkan perbedaan penggunaan protesa mata custom made dibandingkan protesa mata ready made dalam hal kepercayaan diri dan penerimaan sosial pasien. Rencana perawatan adalah pembuatan protesa mata custom made berbahan akrilik. Bahan dasar akrilik adalah salah satu bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan protesa mata. Prosedur perawatan dilakukan dengan tahap-tahap yaitu pencetakan daerah sekitar mata dengan sendok cetakperorangan, pencetakan soket mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan dilakukan dengan 2 tahap. Pembuatan pola malam sklera, mencoba pola malam sklera, pewarnaan sklera, membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik, dan penentuan lokasi pupil dan diameter iris, pewarnaan iris, pupil dan pembuluh darah pada sklera, penyempurnaan protesa mata, serta insersi protesa mata custom made. Hasil kontrol setelah satu minggu tidak didapati keluhan rasa sakit dan peradangan. Hal ini menunjukkan rehabilitasi defek mata berhasildilakukan, ukuran protesa mata yang sesuai dengan mata pasien dan dapat diterima dalam estetika, retensi, dan stabilisasi. Kesimpulan, pasien merasa lebih nyaman menggunakan protesa mata custom made daripada protesa mata ready made. Penggunaan protesa mata dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien dan penerimaan sosial terhadap pasien.
Infeksi virus herpes simplex tipe 1 yang tereaktivasi oleh paparan sinar matahari Nuri Fitriasari; Riani Setiadhi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65358

Abstract

Virus herpes simplex tipe 1 termasuk ke dalam famili Herpesviridae dan subfamili Alphaherpesvirus dengan manusia sebagai reservoir alami virus herpes. Virus herpes simplex tipe 1 bermanifestasi pada oral dan perioral. Setelah terjadi infeksi primer, subkeluarga alphaherpesvirinae akan laten pada saraf ganglia dan dapat reaktivasi. Terjadinya reaktivasi alpha herpesvirinae salah satunya dikarenakan paparan sinar matahari. Laporan kasus ini memaparkan tentang infeksi virus herpes simplex tipe 1 yang tereaktivasi oleh paparan sinar matahari. Pasien laki-laki berusia 37 tahun berobat ke Poliklinik Ilmu Penyakit Mulut RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung didiagnosa intraoral herpes rekuren dan kandidiasis pseudomembran akut. Pasien mengeluhkan sudah 1 bulan ini terdapat banyak sariawan pada lidah, gusi dan tenggorokan terasa nyeri sehingga sulit untuk makan dan minum dan lama kelamaan timbul warna putih pada lidah. Ada riwayat demam pada awal terjadi sariawan, riwayat alergi disangkal, pernah sariawan sebelumnya tetapi tidak separah seperti saat ini serta bekerja di kebun dalam satu bulan terakhir. Sudah berobat ke beberapa dokter gigi tetapi tidak ada perbaikan. Penanganan yang dilakukan meliputi, anamnesis, pemeriksaan ekstra oral danintral oral, pemeriksaan laboratorium imunoserologi dan mikrobiologi, tatalaksana farmakologi dan non farmakologi. Pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam pengobatan 3 minggu. Artikel ini memaparkan paparan sinarmatahari dapat menyebabkan reaktivasi infeksi virus herpes simplex tipe 1.
Model 3D mandibula dan plates positioning guide untuk rekonstruksi fraktur neglected pada anak Yahul Mazfar; Maria Goreti Widiastuti; Pingky Krisna Arindra
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65380

Abstract

Neglected fracture adalah fraktur yang tidak mendapatkan perawatan adekuat sehingga terjadi displacement tulang dan perubahan tarikan otot yang menyulitkan tindakan reposisi. Penggunaan model mandibula 3D dapat membantu menentukan alignment mandibula normal, dan pembuatan plat akrilik untuk memfiksasi posisi mandibula. Laporan kasus ini menampilkan pemanfaatan model mandibula 3D dan plat akrilik pada proses reposisi neglected fracture mandibula. Seorang anak laki-laki usia 3 tahun dirujuk ke RSUP Dr Sardjito karena bentuk rahang bawah miring ke sebelah kiri. Menurut orangtuanya pada saat dilahirkan pasien terjatuh dengan posisi wajah terbentur dilantai. Pemeriksaan objektif ekstra oral terdapat deviasi mandibula ke kiri, palpasi anterior tragus condyle sinistra tidak terdapat pergerakan saat membuka dan menutup mulut. Pemeriksaan intraoral palpasi regio angulus mandibula sinistra teraba tidak rata. Gambaran CT Scan terdapat fraktur angulus mandibula dengan gap sebesar 1 cm. Hasil pemeriksaan terdapat neglected fracture mandibula sehingga dilakukan tindakan operasi rekonstruksi. Tindakan reposisi dan reduksi area fraktur durante operasi dilakukan dengan pemanfaatan plat akrilik yang dibuat dengan model mandibula 3D sebelum operasi. Hasil operasi setelah 1 tahun menunjukkan gambaran wajah simetris dan hasil pemeriksaan ronsen panoramik dan CBCT posisi plate pada angulus mandibula baik serta tampak penyembuhan tulang. Reposisi dengan memanfaatkan model mandibula 3D dan plat akrilik dapat membantu tindakan reposisi, meningkatkan akurasi penempatan plate, dan mempercepat waktu operasi.
Manajemen infeksi submandibula disertai virus herpes zoster pada maksilofasial Fadly Rasyid; Asri Arumsari; Agus Nurwiadh
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.72000

Abstract

Abses di spasia submandibula paling sering ditemukan. Infeksi ini dapat menyebar secara unilateral atau bilateral ke ruang di sekitar leher bagian dalam dan dapat berakibat fatal atau mengancam jiwa, biasanya ditandai dengan pembengkakan. Kasus ini jarang terjadi dengan gambaran klinis yang disertai infeksi sekunder. Pada kasus ini, laki-laki usia 62 tahun datang dengan keluhan pembengkakan pada rahang bawah kiri, demam, nyeri di sekitar wajah, disertai mata kiri, hidung, dan bibir atas melepuh. Pada hasil pemeriksaan darah lengkap tidak ditemukan ada kelainan kecuali nilai SGOT sedikit rendah. Pada kasus ini dilakukan tindakan pencabutan gigi sebagai fokus infeksi, pemberian antibiotik dan antivirus baik secara oral maupun topical. Penyakit virus pada rongga mulut adalah jenis patologi menular yang mempengaruhi jaringan mulut. Pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang padakasus ini penting untuk menentukan perawatan yang tepat. Prognosis kasus ini sangat baik. Terlihat berkurangnya pembengkakan disertai lesi vesikel yang minimal. Penanganan yang tepat mengurangi resiko penyebaran infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan kegagalan organ.