cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Restorasi fiber-reinforced composite bridge pada gigi posterior rahang atas pasca perawatan saluran akar satu kali kunjungan Beactris Lamria Simanjuntak; Dudi Aripin
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.72004

Abstract

Kesehatan rongga mulut dapat mempengaruhi kualitas hidup individu, seperti karies dan kehilangan gigi. Hal tersebut dapat mempengaruhi fungsi mengunyah dan berbicara, penampilan, hubungan interpersonal, bahkan peluang karierseseorang. Oleh sebab itu, penting untuk dilakukan perawatan pada gigi karies dan penggantian gigi yang hilang. Ada beberapa pilihan perawatan yang dapat dilakukan untuk mengganti gigi yang hilang, salah satu teknik terbaru yaitu fiber reinforced composite bridge. Fiber reinforced composite bridge memungkinkan untuk dibuat sendiri oleh operator, memiliki estetik yang baik, dan dapat mengganti gigi posterior tanpa penggunaan bahan metal. Pasien laki-laki berusia 38 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGMP Unpad dengan keluhan sering terjadinya sangkutan makanan pada gigi kanan atas. Gigi tersebut terasa sakit berdenyut satu tahun yang lalu, namun saat ini sudah tidak pernah terasa sakit. Gigi tersebut bersebelahan dengan gigi yang hilang sehingga pasien sulit mengunyah pada sisi kanan dan sering mengunyah satu sisi. Gambaran radiografis mahkota terlihat adanya gambaran radiolusen mendekati pulpa. Saluran akar dua dan lurus lurus, laminadura utuh, tidak terdapat pelebaran membran periodontal,dan tidak terdapat kelainan di periapikal. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melakukan perawatan saluran akar satu kali kunjungan pada gigi 14, melakukan follow up dengan pasak fiber dan fiber reinforced composite bridge sebagai restorasi akhir gigi 14, penggantian gigi 15 yang hilang dan restorasi gigi 16 dengan karies. Simpulan dari laporan kasus, Fiber reinforced composite bridge dapat menjadi alternatif perawatan bagi gigi pasca perawatan endodontik dengan daerah edentulous di sebelahnya.
Tatalaksana lesi oral untuk mendukung asupan nutrisi pasien toxic epidermal necrolysis Helen Christine; Tenny Setiani Dewi; Dewi Kania Intan Permatasari
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.72005

Abstract

Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) merupakan reaksi kulit yang berat akibat hipersensitifitas berupa gangguan mukokutaneus akut ditandai epidermolisis lebih dari 30% luas permukaan tubuh disertai gangguan sistemik dan dapat mengancam jiwa. Asupan nutrisi yang adekuat sangat penting untuk pemulihan dari kerusakan jaringan, terutama asupan protein. Keterlibatan mukosa rongga mulut pada TEN berupa lesi erosi pada membran mukosa yang menimbulkan kesulitan makan. Seorang wanita berusia 31 tahun dirujuk dari bagian Ilmu Kesehatan Kulitdan Kelamin dengan keluhan lecet dan gelembung berisi cairan jernih pada hampir seluruh tubuh disertai nyeri menelan sehingga pasien sulit makan sejak 2 hari yang lalu. Pasien didiagnosis TEN ec suspect fenitoin, diazepam dan asam mefenamat. Anemia defisiensi Fe, infeksi saluran kencing, drug induced liver injury, hipoalbuminemia dan hiponatremia. ditemukan dari hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ekstra oral menunjukan seluruh wajah, leher dan dada terdapat makula kecoklatan disertai daerah erosi pada bagian leher, mata anemis, sklera non ikterik, bibir atas dan bawah bengkak disertai krusta sanguinolenta. Pemeriksaan intra oral ditemukan lesi erosif eritema multipel pada hampir seluruh mukosa rongga mulut. Diagnosis kerja yaitu lesi oral terkait Toksik EpidermalNekrolisis. Terapi yang diberikan berupa kompres bibir larutan dexametason bergantian dengan NaCl 0,9% serta pemberian chlorhexidine gluconate 0,2% mouthwash. Seminggu kemudian pasien mengalami perbaikan dan dapatmakan makanan biasa. Kesimpulan dari penanganan dini yang adekuat terhadap manifestasi oral pasien TEN akan mendukung kondisi sistemik dengan meningkatnya asupan nutrisi sebagai bagian dari perawatan komprehensif.
Penatalaksanaan instrumen jarum patah di gigi molar kedua kanan bawah Marietta Susilo; Irmaleny Irmaleny
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.72026

Abstract

Jarum patah di dalam saluran akar dapat disebabkan oleh penggunakan instrumen jarum endodontik yang tidak tepat saat melakulan preparasi biomekanis. Beberapa hal yang dapat menyebabkan patahnya jarum adalah teknik preparasi yang tidak tepat, kekuatan fisik jarum yang sudah melebihi limit batas waktu pemakaian, akses yang tidak adekuat, anatomi saluran akar yang rumit, dan cacat pabrik. Terdapat tiga pendekatan dalam penanggulangan instrumen patah yaitu, membiarkannya di tempat (leave in situ), mengupayakan untuk melampaui fragmen (bypass), dan mengeluarkan fragmen. Seorang pasien perempuan berusia 22 tahun mengeluhkan sakit pada gigi belakang kanan bawah saat digunakan untuk mengunyah. Gigi tersebut pernah dilakukan perawatan saluran akar tetapi belum selesai. Pada pemeriksaan klinis terlihat adanya sisa tambalan sementara pada gigi 47 dengan karies mencapai pulpa di bagian distooklusal dan pada pemeriksaan radiologis terlihat gambaran radioopak pada saluran mesiobukal berupa jarum patah sepanjang 2 mm. Jarum endodontik pada gigi 47 patah diduga karena penggunaan file protaper handuse F2 yang dipaksakan pada saluran yang sempit, sehingga ujung file terjepit di dinding saluran akar danmenyebabkan jarum endodotik patah. Teknik bypass berhasil digunakan dengan cara menyusuri celah antara dentin saluran akar dengan jarum yang patah menggunakan Kfile #8-#15 dan dilanjutkan sampai file protaper Handuse F1,disertai irigasi NaOCl dan EDTA gel. Pengisian saluran akar dilakukan menggunakan guttapercha dan sealer Ahplus. Restorasi akhir berupa pasak dengan mahkota Porcelain Fuse to Metal. Teknik bypass dapat menjadi pilihan pada kasus jarum patah dan memberikan hasil perawatan yang baik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan perawat dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pasien rawat khusus di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Noranita Evi Setiya Werdani; Lisdrianto Hanindriyo; Niken Widyanti Sriyono
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.34609

Abstract

Tindakan keperawatan pada perawatan gigi dan mulut adalah tindakan yang dilakukan oleh perawat pada pasien yang tidak mampu untuk mempertahankan kebersihan gigi dan mulut secara mandiri. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan perawat dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pasien rawat khusus. Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian diambil secara totalsampling berjumlah 62 perawat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas, yaitu pengetahuan tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut di isi dengan pilihan benar atau salah; variabel persepsi dan sikap tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut diukur dengan kuesioner skala Likert. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini, telah memenuhi uji validitas (nilai korelasi ≥ 0,30) dan reliabilitas (nilai alpha cronbach ≥ 0,70). Variabel terikat yaitu tindakan perawat diukur dengan daftar tilik. Hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan variabel sikap tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut (p = 0,156) tidak berhubungan signifikan terhadap tindakan perawat. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan variabel pengetahuan (p = 0,020), dan persepsi tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut (p = 0,008) berpengaruh signifikan terhadap tindakan perawat. Variabel pengetahuan dan persepsi memberikan konstribusi sebesar 24,3% (R2 = 0,243) terhadap tindakan perawat. Semakin baik pengetahuan dan persepsi tentang pemeliharan kebersihan gigi dan mulut, maka semakin baik tindakan perawat; Sikap tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut tidak berpengaruh signifikan terhadap tindakan perawat; Persepsi tentang pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut mempunyai pengaruh paling besar terhadaptindakan perawat dalam pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut pasien rawat khusus.
Immediate single complete denture Suzy Ratna Dinarti; Endang Wahyuningtyas; Titik Ismiyati; Maria Theresia Esti Tjahjanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.37252

Abstract

Immediate single complete denture adalah gigi tiruan lengkap rahang atas atau bawah yang diinsersikan segera setelah pencabutan gigi. Immediate single complete denture dipilih agar pasien tidak kehilangan fungsi estetik, mastikasi dan fonetik setelah pencabutan serta dapat mempercepat proses penyembuhan karena berfungsi sebagai penahan bekuan darah. Pasien wanita umur 53 tahun, aktif pada kegiatan sosial, dengan riwayat sebelumnya pasien telah memakai gigi tiruan sebagian pada rahang atas dan bawah, gigi tiruan yang lama tidak stabil dengan sisa gigi pada rahang atas gigi kaninus kanan dan non vital. Pasien menginginkan gigi tersebut dilakukan pencabutan kemudian segera dipasang dengan gigi tiruan yang baru. Tujuan perawatan agar pasien tidak kehilangan fungsi estetik, pengunyahan dan bicara. Hasil dari metode perawatan immediate single complete denture resin akrilik pada rahang atas dan perawatan dengan removable partial denture resin akrilik pada rahang bawah adalah adanya gigi tiruan yang stabil, retentif, oklusi dan estetik baik. Kesimpulan perawatan immediate single complete denture resinakrilik pada pasien dapat mengembalikan fungsi pengunyahan, bicara dan estetik, serta gigi tiruan yang stabil dan retentif.
Definitive mandibular guide flange prosthesis pada pasien pasca hemimandibulektomi dekstra Sigit Ariawan; Endang Wahyuningtyas; Suparyono Saleh; Murti Indrastuti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.37280

Abstract

Tindakan operasi pada daerah maksilofasial dapat mengakibatkan cacat wajah, gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta gangguan kejiwaan. Hilangnya kontinuitas mandibula dapat mengganggu keseimbangan fungsi mandibula, menyebabkan gerakan mandibula yang berubah-ubah, sehingga terjadi kecacatan, sulit menelan, gangguan bicara dan artikulasi, serta deviasi dari sisa fragmen menuju sisi yang dioperasi. Saat membuka mulut, deviasi ini meningkat dan mengarah ke pembukaan dan penutupan secara angular. Perangkat korektif bernama guide flange prosthesis ditunjukkan untuk mengatasi manifestasi klinis tersebut. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengkaji penggunaan mandibular guide flange prosthesis pada pasien pasca hemimandibulektomi dekstra, sebagai rehabilitasi fungsi pengunyahan, penelanan, fonetik dan estetika. Kesimpulan dari laporan kasus ini adalah protesa mandibula dengan guide flange dari bahan resin akrilik dapat merehabilitasi defek pada mandibula pasca hemimandibulektomi sehingga mengembalikan fungsi pengunyahan, fonetik, proses penelanan dan estetika.
Pengaruh aplikasi wound dressing kepompong ulat sutera (Bombyx mori) terhadap kepadatan kolagen dan kekuatan tarik luka insisi kulit Adyaputra Indrapradana; Cahya Yustisia Hasan; Bambang Dwirahardjo
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.67837

Abstract

Kepompong ulat sutera (Bombyx mori) merupakan material yang sangat biokompatibel dan memiliki kemampuan regenerasi yang baik terhadap jaringan tubuh manusia dan studi terkini juga menunjukkan bahwa material ini digunakan sebagai wound dressing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan wound dressing dari kepompong ulat sutera terhadap kepadatan kolagen dan kekuatan tarik luka pada penyembuhan luka insisi kulit. Tikus Wistar jantan sesuai kriteria inklusi sebanyak 28 ekor dibagi secara acak ke dalam 4 kelompok,masing-masing kelompok 7 ekor, berdasarkan waktu dekapitasi dan berdasarkan bahan dressing (dressing kasa sebagai kelompok kontrol dan kepompong ulat sutera sebagai perlakuan). Masing-masing tikus mendapatkan insisi sepanjang 3 cm di kulit punggung tikus dan dijahit 3 simpul simple interrupted dengan benang nylon 4.0. Luka insisi pada punggung tikus ditutup dengan bahan dressing sesuai dengan kelompoknya. Pengamatan kepadatan kolagen dan kekuatan tarik luka dilakukan pada hari pengamatan ke-7 dan ke-14. Uji statistik independent t-test menunjukkan kepadatan kolagen kelompok wound dressing kepompong ulat sutera (bombyx mori) lebih padat dari kelompok kontrol, baik pada pengamatan hari ke-7 (p = 0,000) dan ke-14 (p = 0,000). Kekuatan tarik kelompok wound dressing kepompong ulat sutera (bombyx mori) lebih tinggi dari kelompok kontrol, baik pada pengamatan hari ke-7 (p = 0,000) dan ke-14 (p = 0,000). Penggunaan wound dressing kepompong ulat sutra meningkatkankepadatan kolagen dan kekuatan tarik penyembuhan luka insisi kulit tikus Wistar secara signifikan. Semakin padat kolagen akan meningkatkan kekuatan tarik.
Perawatan depigmentasi gingiva dengan laser Er, Cr: YSGG dan crown lengthening untuk gigi anterior maksila Christianie Christianie
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.73361

Abstract

Sering ditemukan keluhan pada beberapa pasien mengenai gusi yang berwarna kehitaman, walaupun tidak merokok, dan ini sangat menganggu penampilan. Hiperpigmentasi pada gingiva dapat menjadi masalah pada beberapa individu, seperti pada bagian gingiva labial yang nampak saat tertawa atau berbicara, terutama pada pasien dengan gummy smile. Depigmentasi pada gingiva dapat dihilangkan dengan tindakan electrosurgery, bedah periodontal, dan ablasi dengan laser. Studi kasus ini bertujuan untuk menjelaskan kelebihan dari penggunaan laser Er, Cr: YSGG sebagai salah satu pilihan metode perawatan depigmentasi gingiva. Seorang pasien wanita usia 22 tahun datang untuk mengeluhkan gusinya yang nampak kehitaman. Depigmentasi pada kasus ini dilakukan dengan menggunakan laser Er, Cr: YSGG dengan pengaturan 1,5 watt, 20% air, dan 12% water. Pasien juga mendapatkan perawatan pembentukan gingiva oleh karena gingiva terlalu berlebih pada daerah servikal giginya. Tindakan menggunakan topikal anestesi pada daerah yang akan dilakukan depigmentasi dan crown lengthening. Prosedur dengan laser erbium tidak menimbulkan rasa sakit dan perdarahan bisa dikontrol sehingga hasil depigmentasi dapat langsung terlihat dengan warna gingiva merah muda yang sehat. Dengan menggunakan laser Er, Cy: YSGG pada prosedur depigmentasi gingiva meminimalkan kerusakan jaringan lunak dan dapat mengontrol perdarahan dengan baik serta tidak ada rasa sakit setelah prosedur depigmentasi.
Teknik mencetak neutral zone pada pembuatan overdenture dengan kombinasi tiga jenis penyangga Kevin Christopher Kawilarang; Titik Ismiyati; Murti Indrastuti; Herijanti Amalia Kusuma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.44384

Abstract

Resorpsi residual ridge yang parah sering kali menyebabkan kegagalan perawatan gigi tiruan lengkap akibat rendahnya stabilitas dan retensi. Terdapat beberapa cara untuk dapat meningkatkan residual ridge, antara lain dengan modifikasi teknik mencetak dan menggunakan sisa gigi asli sebagai penyangga untuk perawatan overdenture. Teknik mencetak neutral zone dapat meningkatkan stabilitas gigi tiruan. Teknik ini memungkinkan penyusunan anasir gigipada daerah keseimbangan otot. Penggunaan sisa gigi asli sebagai penyangga untuk perawatan overdenture terbukti efektif dalam menambah stabilitas, retensi, mencegah resorpsi residual ridge, dan memberikan proprioseptif yang lebih baik. Pemilihan jenis penyangga disesuaikan dengan keadaan sisa gigi dan pada beberapa kasus dilakukan kombinasi beberapa jenis penyangga. Tujuan penulisan ini untuk melaporkan teknik mencetak neutral zone padapembuatan tooth supported overdenture dengan kombinasi tiga jenis penyangga. Kasus pasien wanita 50 tahun, tersisa gigi 13, 14, 33, 34, 35, 47, serta sisa akar gigi 32 dan 38. Perawatan yang dipilih adalah tooth supported overdenture menggunakan kombinasi penyangga koping pendek pada gigi 13 dan 14, magnet pada gigi 33, dan bare root pada gigi 34 dan 35. Pencabutan dilakukan pada gigi 47 serta sisa akar gigi 32 dan 38. Pada rahang bawahdilakukan pencetakan dengan teknik neutral zone menggunakan bahan polyether medium body yang diletakkan di atas base plate rahang bawah dengan bantuan retensi kawat, kemudian pasien diinstruksikan untuk menggerakkan bibir, menelan, dan mengucapkan huruf vokal. Pencetakan neutral zone dalam pembuatan tooth supported overdenture pada residual ridge yang resorpsi dapat memudahkan operator dalam menentukan posisi penyusunananasir gigi pada harmonisasi otot, sehingga tekanan otot di sekitar gigi tiruan dapat membantu meningkatkan retensi, stabilitas, dan kenyamanan gigi tiruan pada saat berfungsi.
Hubungan indeks massa tubuh dengan kesehatan gigi dan mulut: studi pada usia lanjut di Daerah Istimewa Yogyakarta Fitrina Rachmadanty Siregar; Lisdrianto Hanindriyo; Elastria Widita; Rini Widyaningrum; Bambang Priyono; Dewi Agustina
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77112

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk usia lanjut dan semakin bervariasinya jenis makanan menjadi tantangan bagi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Aspek gizi seperti frekuensi dan jumlah asupan makanan yang memengaruhi berat badan dapat pula memengaruhi kesehatan gigi dan mulut terutama pada usia lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh (IMT) dengan kesehatan gigi dan mulut. Studi ini merupakan studi potong lintang dengan partisipan sebanyak 186 orang berusia 60-84 tahun yang terdiri dari 87 laki-laki dan 99 perempuan dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut yaitu jumlah gigi dalam mulut, indeks kebersihan mulut (OHI), indeks karies (DMFT), perdarahan saat probing (BOP), kedalaman poket (PPD), dan kehilangan perlekatan (CAL). Uji korelasi Pearson dilakukan pada IMT dan enam variabel pemeriksaan gigi dan mulut. Hasil uji menunjukkan terdapat hubungan antara IMT dengan jumlah gigi (r = 0,233, p < 0,05), kebersihan mulut (r = -0,384, p < 0,05), perdarahan saat probing (r = -0,249, p < 0,05), kedalaman poket ≥ 4 mm (r = 0,177, p < 0,05), dan kehilanganperlekatan (r = -0,167, p < 0,05). Tidak terdapat hubungan antara IMT dengan status karies gigi (r = -0,137, p > 0,05).