cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 194 Documents
Pengaruh penyikatan menggunakan pasta gigi yang mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS) terhadap kekasaran dan kekerasan permukaan resin komposit mikrohibrida Lias, Steffy; Tjandrawinata, Rosalina; Kurniawan, Florencia Livia
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.104635

Abstract

Resin komposit merupakan material yang digunakan untuk restorasi estetik pada praktik kedokteran gigi. Produk pasta gigi yang beredar di pasaran umumnya mengandung detergen berupa Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang bersifat abrasif serta dapat berpenetrasi ke dalam ruang antar gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penyikatan menggunakan pasta gigi dengan dan tanpa SLS terhadap kekasaran dan kekerasan permukaan resin komposit mikrohibrida. Sampel resin komposit mikrohibrida berdiameter 10,00 ± 0,10 mm dan tinggi 2,00 ± 0,02 mm sebanyak 30 buah, terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok A dilakukan penyikatan dengan menggunakan pasta gigi tanpa SLS, kelompok B menggunakan pasta gigi dengan SLS dan kelompok C menggunakan akuades. Penyikatan dilakukan selama 10 menit pada setiap sampel dengan pengulangan sebanyak 6 kali dalam 6 hari. Uji t berpasangan menunjukkan hasil perbedaan yang bermakna (p ≤ 0,05) pada nilai kekasaran dan kekerasan permukaan resin komposit mikrohibrida sebelum dan sesudah penyikatan pada ketiga kelompok. Uji ANOVA satu jalan dengan post hoc Tukey menunjukkan hasil berbeda bermakna (p ≤ 0,05) pada nilai kekasaran permukaan kelompok A (1,25 ± 0,38 μm), kelompok B (2,14 ± 0,24 μm) dan kelompok C (1,23 ± 0,33 μm), namun penyikatan menggunakan kedua pasta gigi tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p ≥ 0,05) terhadap nilai kekerasan permukaan. Penggunaan pasta gigi dengan kandungan SLS menyebabkan peningkatan kekasaran yang lebih tinggi terhadap permukaan resin komposit mikrohibrida dibandingkan pasta gigi tanpa kandungan SLS, namun demikian penurunan kekerasan resin komposit mikrohibrida akibat penyikatan menggunakan pasta gigi dengan kandungan SLS tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan pasta gigi tanpa kandungan SLS.
Manifestasi oral pada pasien gagal ginjal kronis di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo, Banyumas Djati, Fanni Kusuma; Naim, Cantika Nadrotan; Ramadhanti, Dian Praba; Kinasih, Amelia Sekar; Berlianza, Activira; Nugroho, Yunanto Dwi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.106128

Abstract

Gagal ginjal kronis (GGK) adalah suatu kondisi penurunan fungsi ginjal secara bertahap yang disebabkan karena terjadinya kerusakan pada ginjal. Gagal ginjal kronis biasanya terjadi dalam waktu lama (tahunan) yang ditandai dengan penurunan nilai glomerular filtration rate (GFR) <60 mL/menit per 1,73 m2. Prevalensi GGK di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2013 yaitu 0,2% menjadi 0,38% pada tahun 2018. Etiologi GGK tergolong sangat bervariasi seperti diabetes, glomerulonefritis, hipertensi, dan penyakit ginjal kistik. Laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai manifestasi oral pada pasien GGK dengan mempertimbangkan keterkaitan klinisnya sebagai bahan refleksi diagnostik pada praktik kedokteran gigi. Laporan ini menunjukkan variasi manifestasi oral pada pasien GGK mencakup periodontitis uremik, hiperpigmentasi, oral hairy leukoplakia, cheilitis, stomatitis nekrotikan, coated tongue, dan kandidiasis kronis. Beberapa manifestasi oral pada kasus GGK kemungkinan berkaitan langsung dengan kondisi uremik, sementara manifestasi oral lainnya dipengaruhi oleh faktor xerostomia, gangguan imun, nutrisi, dan penggunaan obat-obatan. Kompleksitas sistemik pada GGK dapat memperburuk kesehatan rongga mulutsecara umum. Temuan pada laporan kasus ini menegaskan pentingnya peran dokter gigi untuk mengenali tanda sistemik yang tampak di rongga mulut serta perlunya pendekatan multidisipliner pada manajemen pasien GGK.
Penggunaan EDTA 17% sebagai irigan perawatan saluran akar Alifia Nurul Assyurah; Denny Nurdin
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.104077

Abstract

Keberhasilan perawatan saluran akar ditentukan oleh pembersihan debris, desinfeksi, dan obturasi. Irigasi merupakan bagian penting pada perawatan saluran akar. Tindakan irigasi bertujuan untuk menghilangkan debris dan bakteri pada saluran akar. Salah satu bahan irigasi yang sering digunakan adalah asam etilendiamintetraasetat (EDTA) 17%. Bahan ini berfungsi untuk agen pengkelat dan menghilangkan bagian smear layer yang termineralisasi. Laporan kasus ini membahas perawatan kasus pulpitis irreversible simptomatik yang disertai periodontitis apikalis simptomatik gigi 21 pada perempuan berusia 21 tahun yang mengeluhkan sakit pada gigi kiri rahang atas. Gigi tersebut telah direstorasi sebelumnya. Hasil pemeriksaan subyektif dan obyektif diketahui gigi 21 mengalami pulpitis irreversible simptomatik disertai periodontitis apikalis simptomatik. Perawatan saluran akar yang dilakukan pada kasus ini dengan menggunakan bahan irigan EDTA 17% memperlihatkan hasil yang baik. EDTA 17% berfungsi sebagai agen pengkelat yang efektifuntuk melunakkan dentin, sehingga penggunaan EDTA 17% pada saluran akar yang sempit dan terkalsifikasi dapat memudahkan pelebaran dan pembersihan saluran yang selanjutnya meningkatkan keberhasilan perawatan saluran akar.
Pengaruh gel chamomile (Matricaria Chamomila L.) terhadap fibroblas, pembuluh darah, dan kolagen pasca pencabutan gigi Nina Runting; Dwita Rihhadatul Aisy; Nabilah Arifatuzzahro; Aulia Tri Rahmawati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.108177

Abstract

Pencabutan gigi merupakan tindakan terbanyak kedua untuk mengatasi permasalahan gigi dan mulut. Terdapat empat tahap dalam proses penyembuhan luka yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Studi menunjukkan bahwa bahan alam memiliki kandungan yang membantu mempercepat penyembuhan luka. Salah satu bahan alam yang potensial untuk mempercepat penyembuhan luka yaitu tanaman Chamomile (Matricaria Chamomila L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi gel Chamomile (Matricaria Chamomila L.) terhadap fibroblas, pembuluh darah, dan kolagen pasca eksodonsi gigi tikus Wistar jantan. Jenis penelitian ini adalah true eksperimental laboratories dengan rancangan post test only control group design menggunakan 36 ekor tikus Wistar jantan yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif tanpa diberi perlakuan, kelompok kontrol positif yang diberi aloclair gel, dan kelompok perlakuan yang diberi gel chamomile 3%. Hasil penelitian pada semua kelompok menunjukkan terbentuknya fibroblast, pembuluh darah, dan kepadatan kolagen pada hari ke-3, kemudian mengalami peningkatan pada hari ke-5 dan mencapai puncaknya pada hari ke-7. Hasil uji one way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna rerata jumlah fibroblas, pembuluh darah, kepadatan kolagen pada seluruh kelompok sampel (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian gel chamomile 3% (Matricaria Chamomila L.) dapat meningkatkan fibroblast, pembuluh darah, dan kolagen pasca eksodonsi pada gigi tikus Wistar jantan.
Penggunaan gutta-percha measurement cutter untuk mencegah overfilling material obturasi pada perawatan saluran akar gigi insisif sentral rahang atas Anisah Rifda Salsabila; Denny Nurdin
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.110346

Abstract

Obturasi saluran akar bertujuan menciptakan seal yang rapat secara koronal, lateral, dan apikal yang adekuat untuk mencegah infeksi pasca perawatan. Sensasi tug back pada saat trial obturasi sering digunakan sebagai indikator adaptasi apikal gutta-percha, namun prosedur tersebut tidak selalu mencerminkan posisi ideal secara radiografis. Ketidaksesuaian ukuran master cone dapat menyebabkan adaptasi apikal yang tidak optimal dan berujung pada overfilling, yang berpotensi menimbulkan reaksi inflamasi jaringan periapikal. Gutta-percha measurement cutter merupakan alat bantu yang memungkinkan pengendalian panjang dan diameter ujung gutta-percha secara lebih presisi. Laporan kasus ini membahas seorang pria berusia 36 tahun dengan keluhan gigi insisif sentral rahang atas kanan berlubang besar dan riwayat perawatan saluran akar yang tidak tuntas. Pada tahap trial obturasi ditemukan sensasi tug back, namun evaluasi radiografis menunjukkan overextension gutta-percha sebesar 0,5 mm. Penatalaksanaan dilakukan dengan pemotongan ujung gutta-percha sepanjang 0,5 mm menggunakan gutta-percha measurement cutter, berdasarkan nilai taper file F3 sebesar 0,09 mm/mm sehingga diameter ujung gutta-percha berubah dari 0,30 mm menjadi 0,345 mm. Setelah penyesuaian dan obturasi, evaluasi radiografis menunjukkan posisi gutta-percha tepat di ujung apikal tanpa overfilling. Penggunaan gutta-percha measurement cutter berbasis kalibrasi taper terbukti membantu mencegah overfilling dan berpotensi diintegrasikan sebagai langkah preventif dalam prosedur endodontik rutin.
Manajemen perawatan gigi non-vital pada insisivus sentral maksila dengan apeks terbuka Joseph Joseph; Ade Prijanti Dwisaptarini; Melaniwati Melaniwati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.110827

Abstract

Perawatan endodontik pada gigi anterior permanen non-vital dengan apeks terbuka merupakan tantangan bagi klinisi terkait dengan tidak adanya konstriksi apikal. Metode apeksifikasi dengan kalsium hidroksida membutuhkan waktu yang lama dan dapat melemahkan struktur dentin, sedangkan teknik apical plug dengan bahan biokeramik menawarkan hasil yang lebih prediktif dan efisien. Pasien perempuan berusia 20 tahun datang dengan keluhan perubahan warna pada gigi insisivus sentral kanan atas setelah mengalami trauma delapan tahun sebelumnya dan telah melakukan restorasi mandiri dengan bahan non-dental. Pemeriksaan klinis dan radiografis menunjukkan nekrosis pulpa dengan apeks yang terbuka disertai lesi periapikal. Perawatan dilakukan dengan pembentukan apical barrier menggunakan bioceramic putty, dilanjutkan obturasi saluran akar, preparasi pasak, insersi fiber post dengan semen resin adhesif, serta pembuatan inti komposit. Restorasi akhir berupa crown lithium disilikat dipasang dengan teknik sementasi adhesif. Evaluasi lima bulan menunjukkan tidak ada keluhan, pasien melaporkan kepuasan secara estetik, dan radiograf memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan pada periapikal. Kombinasi apical plug dengan biokeramik, adhesi fiber post, dan crown lithium disilikat merupakan pendekatan konservatif sekaligus estetik yang dapat menjadi solusi pada manajemen gigi anterior non-vital dengan apeks terbuka.
Pengaruh perendaman resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum Linn) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans Elin Hertiana; Femia Ayu Ardiani; Fransiska Nuning; Susi R. Puspita Dewi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 11, No 3 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.111222

Abstract

Resin akrilik polimerisasi panas merupakan material yang paling umum digunakan untuk basis gigi tiruan. Kebersihan gigi tiruan yang tidak dijaga dengan baik dapat menimbulkan penumpukan plak serta interaksi mikroorganisme yang menyebabkan peradangan yang disebut denture stomatitis. Salah satu mikroorganisme yang berperan menjadi penyebab denture stomatitis adalah bakteri Streptococcus mutans. Bahan desinfeksi alami yang berasal dari tanaman herbal dapat digunakan sebagai alternatif bahan kimia. Daun kemangi memiliki kandungan senyawa aktif minyak atsiri, tanin, flavonoid, alkaloid, dan saponin yang berfungsi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh perendaman resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Penelitian eksperimental laboratoris ini menerapkan post-test only group design. Jumlah sampel sebanyak 24 plat resin akrilik polimerisasi panas berukuran 10 x 10 x 2 mm. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok yaitu perendaman dalam ekstrak daun kemangi 10% selama 15 menit dan 30 menit serta perendaman dalam akuades sebagai kontrol negatif selama 15 menit dan 30 menit. Jumlah rata-rata Streptococcus mutans setelah perendaman selama 15 menit dalam ekstrak daun kemangi 10% adalah 17.333,33 CFU/ml dan dalam akuades adalah 108.333,33 CFU/ml. Jumlah rata-rata Streptococcus mutans setelah perendaman selama 30 menit dalam ekstrak daun kemangi 10% adalah 27.333,33 CFU/ml dan dalam akuades adalah 135.000 CFU/ml. Jumlah Streptococcus mutans setelah perendaman dalam ekstrak daun kemangi lebih sedikit dibandingkan dengan hasil perendaman dalam akuades, dengan hasil independent sample T-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perendaman resin akrilik dalam ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum Linn) 10% selama 15 menit potensial menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.
Efektivitas terapi tambahan berbasis bahan herbal alam untuk regenerasi tulang pada periodontitis Ayu Melisa; Martina Amalia
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.109353

Abstract

Periodontitis merupakan peradangan jaringan pendukung gigi yang ditandai dengan hilangnya perlekatan klinis dan resorpsi tulang alveolar. Bakteri anaerob gram negatif memicu inflamasi, melepaskan receptor activator of nuclear factor kappa-B ligand (RANKL) dan osteoprotegerin (OPG) yang meningkatkan aktivitas osteoklas dan resorpsi tulang. Beberapa perawatan tambahan dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas klinis pada perawatan periodontal. Sumber daya alam berupa ekstrak tanaman dengan senyawa fitokimianya memiliki efek yang bermanfaat terhadap regenerasi tulang. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk meninjau efikasi ekstrak tanaman pada regenerasi tulang pada kasus periodontitis. Pencarian literatur yang komprehensif menggunakan PubMed, Google Cendekia, dan Ebscohost. Seluruh artikel yang ditinjau merupakan studi eksperimental in vivo pada tikus yang diterbitkan antara tahun 2014 hingga 2024. Tinjauan literatur ini mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews (PRISMA). Sejumlah 2.029 artikel yang teridentifikasi dari penelusuran awal diseleksi berdasarkan kriteria inklusi hingga diperoleh hasil akhir 5 artikel yang berfokus pada efikasi regenerasi tulang dari lima ekstrak tanaman, yaitu Sumac (Rhus coriaria L.), Marigold (Calendula officinalis), Kunyit Jawa (Curcuma xanthorrhiza), Uncaria tomentosa, dan Gambir. Seluruh penelitian tersebut menggunakan model in vivo yang melibatkan tikus Wistar atau Sprague-Dawley dengan pemodelan periodontitis yang diinduksi. Analisis sistemastis mengungkapkan beragam metode pemberian, dosis, dan teknik penilaian. Hasil penelitian terutama diukur dengan tingkat RANKL dan OPG. Semua ekstrak secara positif mempengaruhi regenerasi tulang melalui variasi durasi dan dosis perawatan, dengan sebagian besar perawatan berlangsung selama 11 hari dengan pemberian ekstrak tanaman secara oral. Bahan herbal alam memiliki khasiat untuk regenerasi tulang dengan hasil penurunan RANKL dan peningkatan kadar OPG yang potensial untuk pengobatan periodontitis.
Pendekatan konservatif pulpotomi gigi desidui dengan mineral trioxide aggregate pada karies dengan keterlibatan pulpa Tamara Al Kautsar Sugiharto; Septriyani Kaswindiarti; Candra Khasanah Sekar Hartami
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.110400

Abstract

Karies yang melibatkan pulpa pada gigi desidui memerlukan perawatan konservatif untuk mempertahankan gigi hingga terjadinya eksfoliasi fisiologis. Pulpotomi merupakan prosedur yang umum digunakan pada kasus pulpitis reversibel dengan tujuan mempertahankan vitalitas pulpa radikular. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) dikenal memiliki biokompatibilitas tinggi serta kemampuan merangsang pembentukan jaringan keras, sehingga menjadi pilihan alternatif dalam prosedur pulpotomi. Artikel ini melaporkan kasus pasien perempuan berusia 9 tahun dengan keluhan gigi berlubang dan rasa ngilu pada gigi 85 saat mengonsumsi makanan atau minuman dingin. Meskipun lesi karies oklusal tampak kecil, pembersihan karies menunjukkan keterlibatan pulpa secara ekstensif, sehingga ditegakkan diagnosis pulpitis reversibel pada gigi 85. Pulpotomi dilakukan melalui amputasi pulpa koronal, aplikasi formokresol, penempatan MTA, pemasangan cotton pellet lembap, dan penutupan kavitas dengan tumpatan sementara. Evaluasi tiga minggu pasca perawatan menunjukkan perbaikan klinis tanpa keluhan subjektif disertai gambaran radiografis yang mendukung. Pada evaluasi lima minggu, ditemukan mobilitas derajat 1 sebagai tanda resorpsi fisiologis. Mekanisme kerja MTA meliputi pembentukan kalsium karbonat, peningkatan sekresi fibronektin, dan diferensiasi odontoblast-like cells yang berperan dalam pembentukan barier jaringan keras. MTA memiliki tingkat keberhasilan dan keamanan yang tinggi, meskipun beberapa keterbatasan seperti potensi perubahan warna dan waktu setting yang lama. Secara keseluruhan, MTA efektif sebagai medikamen pulpotomi dengan hasil klinis jangka pendek yang baik, namun evaluasi jangka panjang tetap diperlukan untuk menilai keberhasilan secara menyeluruh.
Manajemen Periodontitis Stage III Grade A dengan Splinting dan Kuretase Daniel Adhie Saputra; Mentari Andira Putri; Ajeng Martsania Salsabila; Desi Sandra Sari
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 12, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.114047

Abstract

Periodontitis merupakan penyakit inflamasi kronis yang menyebabkan destruksi progresif ligamen periodontal dan tulang alveolar, sehingga berpotensi menimbulkan mobilitas gigi dan gangguan fungsi pengunyahan. Laporan kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan tatalaksana non-bedah pada pasien dengan periodontitis generalisata stage III grade A yang disertai inflamasi gingiva, resesi, mobilitas gigi anterior, dan kehilangan tulang horizontal. Perawatan dilakukan dengan edukasi kesehatan gigi dan mulut, full-mouth scaling and root planing, stabilisasi gigi anterior mandibula menggunakan fiber-reinforced composite splinting, serta kuretase gingiva pada poket residual di gigi 26. Tindak lanjut paska perawatan selama 7 minggu menunjukkan penurunan inflamasi gingiva, penyembuhan jaringan yang baik, peningkatan kondisi periodontal, serta stabilitas gigi yang lebih baik pada segmen yang di-splinting. Kombinasi stabilisasi biomekanis, debridemen jaringan lunak terarah, dan terapi periodontal non-bedah yang disertai penguatan kontrol kebersihan mulut dapat memberikan hasil yang baik pada kasus periodontitis kronis.