cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Pembuatan ulang protesa mata non-fabricated untuk rehabilitasi estetik I Gede Putu Sukrasena Sugiantara; Haryo Mustiko Dipoyono; Titik Ismiyati; Endang Wahyuningtyas
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.49471

Abstract

Kehilangan salah satu atau kedua dari bola mata merupakan keadaan yang dapat mempengaruhi keadaan psikologis, fungsi organ sekitar, dan gangguan estetis wajah. Pembuatan protesa mata merupakan salah satu solusi terbaik untuk mengembalikan kepercayaan diri pasien, mencegah kolaps kelopak mata dan menahan bentuk rongga mata, sehingga rehabilitasi estetis pasien dapat terwujud. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memberikan informasi tentang proses pembuatan protesa mata menggunakan bahan resin akrilik dalam upaya memperbaiki penampilan. Seorang pria berusia 70 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada untuk membuat pengganti protesa mata non-fabricated sebelumnya yang telah digunakan selama 40 tahun dan sudah tidak bagus lagi dari segi warna, mudah terlepas dan mengiritasi jaringan yang tersisa. Pasien kehilangan matanya pada operasi enukleasi okular karena trauma benda tajam 45 tahun yang lalu. Prosedur perawatan pasien dimulai dari anamnesis pasien, pemeriksaan klinis, pencetakan protesa mata yang lama atau sebelumnya menggunakan putty, pembuatan model malam sklera dan mencobakan sklera model malam, pembuatan sklera akrilik, mencobakan sklera akrilik dan menentukan lokasi dan diameter iris, melukis pupil dan iris, prosesing akhir, kemudian insersi protesa mata. Pada kontrol pasca 1 minggu insersi, pasien tidak memiliki keluhan dan puas dengan protesa mata yang baru. Pembuatan ulang protesa mata dengan menggunakan teknik mencetak kembali protesa yang lama menggunakan putty sebagai bahan cetak sangat membantu mempersingkat proses pembuatan sklera menjadi lebih cepat serta penggunaan bahan resin akrilik secara psikologis dapat meningkatkan rasa percaya diri pasien, secara estetik dapat pasien merasa nyaman dan puas dengan protesa baru.
Stomatitis aftosa yang diperparah oleh iritasi kimiawi obat tradisional Ayu Fresno Argadianti; Yuliana Yuliana; Hening Tuti Hendarti; Desiana Radithia
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.53046

Abstract

Stomatitis aftosa adalah suatu kondisi inflamasi dengan etiologi yang belum diketahui, ditandai dengan ulserasi sangat nyeri di mukosa rongga mulut selama 7 hingga 14 hari. Berbagai faktor berpengaruh dalam pembentukannya, salah satunya adalah trauma lokal. Perawatan diberikan untuk meredakan nyeri, mengeliminasi sumber trauma, dan penyembuhan ulserasi. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan stomatitis aftosa yang diperparah oleh iritasi kimiawi obat tradisional. Seorang laki-laki berusia 64 tahun mengeluh sariawan pada gusi kiri bawah terasa nyeri sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu. Pasien mengoleskan suatu obat cair tradisional untuk meredakan rasa nyeri tapi kemudian rasa nyeri timbul kembali dan belum mereda. Tanda vital normal kecuali skor VAS (visual analog scale) nyeri mulut 6/10. Pemeriksaan ekstra oral normal, pemeriksaan intra oral didapatkan ulkus soliter berukuran 1x1,5 cm pada lipatan bukal regio 34, 35 dengan peninggian tanpa indurasi dan nyeri. Tata laksana meliputi anamnesis untuk mengetahui faktor yang memperparah, pemeriksaan klinis, debridement lesi untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan aplikasi obat topikal gel mengandung klorin dioksida. Pasien diinstruksikan untuk berhenti mengoleskan obat tradisionalnya dan menggunakan obat yang diresepkan. Lesi sembuh dalam waktu 13 hari. Stomatitis aftosa dapat diperparah oleh iritasi kimiawi. Anamnesis, pemeriksaan klinis, debridement lesi dan pemberian obat yang tepat dapat membantu tata laksana dan penyembuhan yang efektif.
Penatalaksanaan Cancrum Oris (Noma) Akibat Super Infeksi Jamur pada Anak dengan Myelodysplastic Syndrome Adyaputra Indrapradana; Cahya Yustisia Hasan; Bakhrul Lutfianto
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.54306

Abstract

Cancrum oris (noma) adalah penyakit gangren orofasial berupa destruksi pada jaringan yang terinfeksi dengan proses yang sangat cepat sehingga dapat menimbulkan mutilasi jaringan dan deformitas fasial. Noma timbul pada anak dengan malnutrisi, kebersihan mulut yang buruk, serta kondisi immunocompromised seperti AIDS, terapi imunosupresif, dan myelodysplastic syndrome sehingga memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Melaporkan tatalaksana bedah maupun non-bedah pada kasus noma akibat super infeksi jamur pada anak dengan myelodysplastic syndrome. Pasien anak laki-laki usia 9 tahun yang terdiagnosis myelodysplastic syndrome menderita noma dengan gambaran klinis destruksi nekrotik dan ulseratif pada sudut bibir kanan dan kiri yang meluas hingga hampir menutupi seluruh mulut. Pasien dirawat di rumah sakit di bawah perawatan tim multidisiplin yang terdiri dari ahli bedah mulut, dokter anak, dan ahli gizi untuk meningkatkan kondisi kesehatan umumnya. Biopsi eksisi dan debridemen agresif dilakukan. Pemeriksaan mikrobiologi menunjukkan adanya superinfeksi jamur dan diikuti pemberian terapi antibiotik dan antijamur untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Pasien dinyatakan sembuh dengan ditandai penyembuhan luka yang baik dan tidak terjadi rekurensi setelah evaluasi 3 bulan pasca perawatan. Penanganan noma pada anak dengan myelodysplastic syndrome memerlukan tatalaksana bedah maupun non-bedah dengan disiplin dan tanggung jawab yang tinggi agar kerusakan jaringan tidak semakin berlanjut.
HAEM, DIEM atau OEM? Agam Ferry; Tenny Setiani Dewi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.55770

Abstract

Diagnosis erythema multiforme (EM) diklasifikasikan menjadi tipe mayor dan minor. EM dapat dipicu oleh obat (drug-induced erythema multiforme/ DIEM) atau infeksi virus herpes simplex (herpes associated erythema multiforme/ HAEM), dengan dua gambaran utama: lesi target tipikal atau atipikal pada kulit dan nekrosis sel satelit atau epitelium yang luas. Oral erythema multiforme (OEM) dimasukkan dalam klasifikasi diagnosis EM kategori ketiga selain tipe mayor dan minor dengan gambaran klinis berupa ulserasi pada bibir dan mukosa intra oral khas EM, tanpa disertai lesi target di kulit. Seorang wanita, 14 tahun, datang ke Poli Ilmu Penyakit Mulut SMF Gimul RSHS setelah sebelumnya dirujuk dari bagian Bedah Mulut RSHS dengan diagnosa suspek EM. Pada pemeriksaan ekstra oral terlihat lesi krusta berwarna coklat kehitaman pada bibir atas dan bawah, yang diakui pasien muncul setelah mengkonsumsi obat untuk penyakit kulit yang dideritanya dan mengganggu aktivitas bicara serta makan. Pasien diterapi menggunakan salep steroid racikan selama 1 minggu disertai instruksi untuk menghentikan pemakaian obat untuk penyakit kulitnya. Pasien meperlihatkan perbaikan yang signifikan pada kunjungan kontrol 1 minggu. Diagnosis suspek DIEM dan suspek Lesi oral terkait hipersensitivitas ditegakkan pada pasien ini. berdasarkan pertimbangan adanya pengaruh medikasi untuk pengobatan kelainan kulit yang dideritanya. Hasil pemeriksaan IgE negatif dan IgG anti HSV-1 yang reaktif serta hasil observasi pada kunjungan kontrol lebih lanjut, juga mengarahkan penegakkan diagnosis HAEM dan OEM. Penting mendiagnosa EM dengan baik, agar mampu melakukan tatalaksana dini yang tepat, untuk mendapatkan prognosis yang baik.
Pengaruh pajanan radiasi sinar x dari radiografi periapikal terhadap penurunan jumlah fibroblas pada soket pencabutan gigi tikus wistar Ghina Lady Salsabila; Swasthi Prasetyarini; Budi Yuwono
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.58241

Abstract

Radiografi periapikal adalah radiografi intraoral yang mencakup gigi geligi dan jaringan sekitarnya. Penggunaannya menimbulkan efek negatif bagi tubuh yaitu adanya kerusakan seluler. Salah satu sel yang memiliki radiosensitif tinggi adalah fibroblas. Fibroblas merupakan agen utama dalam proses penyembuhan luka pasca pencabutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pajanan radiasi sinar x dari radiografi periapikal terhadap penurunan jumlah fibroblas pada soket pencabutan gigi tikus wistar. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan posttest only control group design. Sampel 12 tikus wistar jantan yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Dibagi menjadi 3 kelompok: kelompok kontrol (Kk), kelompok perlakuan 1 (Kp1), dan kelompok perlakuan 2 (Kp2). Pajanan radiasi menggunakan unit radiografi periapikal dengan dosis 1,54 mGy. Pencabutan dilakukan pada gigi molar satu kiri rahang bawah. Pemeriksaan jumlah fibroblas dilakukan pada hari ke-3 menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 400x. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata rata tertinggi adalah Kk (351) dan terendah Kp2 (197). Analisis statistik dengan uji One-Way Annova dan LSD terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan (α <0,05). Kesimpulan: Terdapat pengaruh pajanan radiasi sinar x dari radiografi periapikal terhadap penurunan jumlah fibroblas.
Penatalaksanaan Aesthetic Crown Lengthening untuk Perawatan Gummy Smile Berhubungan dengan Altered Passive Eruption Erdi Effendi Nasution; Rini Octavia Nasution
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65311

Abstract

Senyum yang sehat dan indah dapat menunjang penampilan dan menambah kepercayaan diri seseorang. Senyuman terbentuk dari harmonisasi yang baik antara gigi dalam relasi dengan tulang alveolar dan gingiva sebagai bagian dari rongga mulut. Excessive ginigival display atau gummy smile, mahkota klinis yang pendek sering menjadi keluhan pasien. Salah satu penyebab gummy smile dan mahkota klinis pendek adalah altered passive eruption (APE). Crown lengthening dapat dilakukan dengan pengurangan tulang (gingivektomi dengan pengurangan tulang) atau tanpa pengurangan tulang (gingivektomi). Laporan kasus ini bertujuan untuk memaparkan koreksi APE dengan bedah crown lengthening dengan pengurangan tulang untuk mengembalikan fungsi dan estetika. Seorang wanita berusia 24 tahun datang ke Departemen Periodonsia Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Sumatera Utara, mengeluhkan tinggi gusi pada gigi depan tidak sama tinggi dan dianggap kurang estetis saat tersenyum. Pasien juga mengeluhkan gigi depan rahang atas yang pendek. Setelah melakukan analisa klinis dan radiografi yang berkaitan dengan estetika dan jaringan periodontal, crown lengthening dengan pengurangan tulang dipilih menjadi perawatan pasien ini. Hasil perawatan yang diperoleh cukup baik, margin gingiva terlihat sesuai dengan gingival zenith dan meningkatkan profil senyum pasien. APE sebagai etiologi gummy smile pada pasien ini dapat diperbaiki. Tidak ada komplikasi pasca bedah seperti rasa sakit yang berlebihan, infeksi dan sensitivitas. Diagnosis yang tepat, rencana perawatan dan teknik bedah yang baik dapat memberikan kepuasan dan senyum pasien yang harmonis.
Efek merokok konvensional dan elektrik terhadap kadar hormon kortisol saliva Virta Devi Kartika Putri; Heni Susilowati; Juni Handajani
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.76282

Abstract

Rokok konvensional menghasilkan asap atau aerosol padat dan rokok elektrik menghasilkan aerosol cair. Nikotin dari kedua jenis rokok tersebut diduga dapat mempengaruhi kadar hormon kortisol dalam saliva melalui respon autonomic nervous system (ANS) yang disertai aktivasi hypothalamic-pituitary-adrenal axis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara merokok konvensional dibandingkan dengan elektrik terhadap kadar hormon kortisol dalam saliva. Subjek sebanyak 18 laki-laki perokok terdiri dari 9 perokok konvensional dan 9 perokok elektrik, usia 2030 tahun. Pengambilan sampel saliva pada pukul 12.00 WIB. Uji kadar kortisol dalam saliva menggunakan ELISA kit (RnD Systems) dengan Panjang gelombang 450 nm. Perbandingan rerata kadar kortisol saliva perokok konvensional dan perokok elektrik dianalisis dengan menggunakan uji t tidak berpasangan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa kadar hormon kortisol dalam saliva perokok konvensional lebih tinggi daripada perokok elektrik, meskipun perbedaan tersebut tidak bermakna (p>0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara kadar kortisol saliva perokok konvensional dengan perokok elektrik.
Keberhasilan perawatan ortodonti lepasan dengan ekspansi dan pencabutan gigi incisisivus Paramita Noviasari; Dyah Karunia; Soehardono Dirdjowihardjo
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.76284

Abstract

Ekspansi lengkung gigi dan pencabutan gigi dalam perawatan ortodonti merupakan prosedur untuk mendapatkan ruang. Ruang yang tersedia akan digunakan untuk koreksi crowding, mengurangi overjet dan overbite. Plat ekspansi merupakan salah satu alat ortodonti lepasan yang sering digunakan sedangkan pencabutan gigi insisivus merupakan pencabutan yang jarang dilakukan. Kombinasi ekspansi dan pencabutan gigi insisivus bawah dapat dilakukan pada beberapa kasus agar oklusi dan interdigitasi yang baik dapat tercapai. Pencabutan gigi insisivus yang malposisi parah pada perawatan ortodonti lepasan merupakan salah satu cara untuk mencegah relaps post perawatan ortodonti, hal ini juga dapat membatasi pergerakan gigi yang tidak diperlukan. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengevaluasi pemilihan pemecahan masalah kebutuhan ruang dengan ekspansi dan pencabutan gigi insisivus bawah. Artikel ini menyoroti pentingnya mengetahui indikasi, keuntungan dan kerugian perawatan dengan pencabutan gigi insisivus. Seorang pasien perempuan berusia 17 tahun mengeluhkan gigi depan atas bawah tidak rapi sehingga sisa makanan sulit dibersihkan. Pasien memiliki maloklusi Angle Klas I dengan hubungan skeletal klas I, bidental protrusif, linguoversi gigi 42, disertai beberapa malposisi gigi individual. Berdasarkan pertimbangan perhitungan Pont, Howe’s, profil wajah yang baik, dan hasil analisis Bolton maka dipilih perawatan ekspansi rahang atas dan rahang bawah kombinasi pencabutan gigi insisivus lateral kanan bawah untuk memenuhi kebutuhan ruang. Pasien dirawat dengan alat ortodonti lepasan, dan kontrol dilakukan setiap 1 minggu sekali. Setelah perawatan 24 bulan didapatkan overjet normal, overbite normal, interdigitasi baik, dan profil muka cembung normal. Kesimpulan studi kasus ini adalah kombinasi ekspansi dan pencabutan gigi insisivus bawah pada perawatan ortodonti memberikan hasil yang memuaskan.
Skleroterapi injeksi boiling water pada hemangioma tipe kavernosa mukosa bukal dekstra Bulfendri Doni; Maria Goreti Widiastuti; Elizabeth Riyati Titi Astuti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.36534

Abstract

Hemangioma merupakan tumor jinak pada sistem pembuluh darah. Lokasi pada rongga mulut sering ditemukan pada daerah bibir, lidah dan mukosa bukal. Terdapat tiga tipe hemangioma berdasarkan gambaran histologinya yaitu kapiler, kavernosa dan telangiektasia. Pilihan pengobatannya adalah dengan pembedahan, skleroterapi, pemberian kortikosteroid dan obat anti kanker. Salah satu bahan yang dapat digunakan untuk skleroterapi adalah boiling water. Panas dari injeksi boiling water akan merusak endotel sehingga menimbulkan inflamasi, terjadi fibrosis dan kemudian menimbulkan obliterasi. Tulisan ini bertujuan untuk melaporkan tindakan pengobatan hemangioma tipe kavernosa pada mukosa bukal dekstra dengan injeksi boiling water secara intralesi tanpa pembedahan. Pasien perempuan berusia 49 tahun didiagnosis mengalami hemangioma tipe kavernosa pada mukosa bukal dekstra. Riwayat ekstirpasi hemangioma 2 bulan yang lalu, namun masih tampak benjolan ukuran 2x1x0,5 cm, batas jelas, warna biru keunguan, permukaan licin, palpasi kenyal, dan nyeri tekan. Penanganan dilakukan dengan injeksi boiling water secara intralesi sebanyak 2,5 ml pada sisi anterior dan 2,5 ml pada sisi posterior. Diberikan dua tahap dengan jarak satu bulan, menggunakan prosedur yang sama. Hasil kontrol satu bulan setelah tindakan kedua didapatkan keluhan rasa tebal pada mukosa bukal dekstra saat diraba, nyeri tidak ada. Pemeriksaan klinis menunjukkan tidak ada benjolan, permukaan mukosa licin, warna sama dengan jaringan sekitar. Pemeriksaan palpasi teraba jaringan kenyal ukuran diameter 0,5 cm, nyeri tekan tidak ada. Tindakan injeksi boiling water pada hemangioma tipe kavernosa dapat memberikan hasil yang baik dengan tidak ada keluhan lagi dan tidak terlihat adanya lesi. Tindakan ini dapat dijadikan pilihan penanganan hemangioma tanpa pembedahan.
Obturator definitif dengan two-piece hollow bulb pada defek pasca hemimaksilektomi Rudy S; Endang Wahyuningtyas; Titik Ismiyati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.37279

Abstract

Keganasan sering kali terjadi di daerah rongga mulut dan biasanya dirawat melalui tindakan hemimaksilektomi. Tindakan hemimaksilektomi menimbulkan adanya defek yang membuat adanya celah antara rongga mulut dan rongga nasal, sehingga menyebabkan penderita kesulitan saat melakukan fungsi normal seperti menelan dan berbicara. Peran prostodontis dalam menangani adanya defek pada maksila adalah merehabilitasi struktur intra dan ekstra oral untuk memulihkan fungsi normal pengunyahan, fonetik, proses penelanan, dan estetika. Masalah utama rehabilitasi defek yang besar pada maksila adalah berat protesa, sehingga protesa tidak retentif. Tujuan dari laporan kasus ini adalah pembuatan obturator definitif dengan hollow bulb untuk merehabilitasi fungsi pengunyahan, fonetik, proses penelanan, dan estetika. Kasus pasien wanita 24 tahun, tersisa gigi 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, dan 18 disertai dengan defek pada maksila sebelah kiri pasca hemimaksilektomi dengan klasifikasi Aramany klass I. Perawatan yang dipilih adalah pembuatan obturator definitif dengan two-piece hollow bulb dari bahan resin akrilik. Kesimpulan dari laporan kasus iniadalah obturator definitif dengan two-piece hollow bulb dari bahan resin akrilik dapat merehabilitasi defek pada maksila pasca hemimaksilektomi sehingga mengembalikan fungsi pengunyahan, fonetik, proses penelanan, dan estetika.

Page 11 of 19 | Total Record : 182