cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Perawatan periodontal pasca abses periodontal Ika Andriani; Hartanti Hartanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65727

Abstract

Abses periodontal merupakan abses pada jaringan periodontal yang menyebabkan rasa sakit, ketidaknyamanan, dan mengakibatkan gigi goyang dan terlepas ketika tidak dirawat. Abses periodontal merupakan kasus kedaruratan terbanyak ke 3 dalam kedokteran gigi. Kondisi ini dapat kambuh apabila tidak dilakukan perawatan pasca abses. Studi kasus ini bertujuan untuk memaparkan tindakan pasca perawatan abses periodontal dalam meminimalkan kekambuhan abses dan mempertahankan gigi selama mungkin dalam rongga mulut. Pasien 45 tahun mengeluhkan gusi belakang kiri atas sakit sekali sejak 3 hari yang lalu. Pemeriksaan intra oral menunjukkan pembengkakan gingiva sisi bukal dan palatal gigi 26, gingiva berwarna merah, mengkilat, dan terdapat pus di palatal. Oral Hygiene Index (OHI) sedang dengan kalkulus subgingiva. Pengukuran Probing Depth (PD) gigi 26 menunjukkan poket 6 mm di mesial, 3,5 mm di palatal, serta gigi mengalami kegoyangan derajat 3. Radiograf periapikal menunjukkan terdapat kerusakan tulang alveolar gigi 26. Kunjungan pertama dilakukan scaling, spooling dengan hidrogen peroksida (H2O2) diikuti dengan salin, dan medikasi dengan klindamisin, ibuprofen, dan vitamin B kompleks. Seminggu kemudian masih tampak abses yang berkurang di palatal, dan dilakukan splinting pada oklusal gigi 26. Setelah satu minggu dilakukan aplikasi bone graft. Kontrol pasca 1 minggu menunjukkan kondisi pasien tanpa keluhan dengan pemeriksaan intra oral gingiva mulai berwarna pink tanpa pembengkaan di palatal dan tanpa kegoyahan gigi. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah pemberian obat saja tidak cukup adekuat untuk perawatan abses periodontal, harus dilakukan perawatan selanjutnya untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Hidroksiapatit dari cangkang telur sebagai bone graft yang potensial dalam terapi periodontal Kosno Suprianto; Hidayati Hidayati; Cytha Nilam; Nurul Khairiyah; Ratu Amelia; Siti Rahmadita
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65729

Abstract

Kebutuhan bone graft semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan terapi periodontal. Berbagai macam bahan alami telah diteliti sebagai bahan yang dapat digunakan untuk bone graft. Limbah cangkang telur merupakan pilihan yang potensial dibandingkan dengan bahan alami lainnya karena hidkroksiapatit (HA) dari cangkang telur memiliki kemampuan mensinter yang unggul. Studi pustaka ini bertujuan untuk menilai hidroksiapatit dari cangkang telur sebagai bahan bone graft untuk terapi periodontal. HA merupakan komposisi mineral utama yang hampir menyerupai komposisi mineral pada tulang. HA memiliki sifat biokompatibel, osteoinduktif dan osteokonduktif yang merupakan syarat ideal bahan bone graft. Penelitian sebelumnya melaporkan bahwa cangkang telur memiliki kemampuan yang lebih tinggi dalam pembentukan tulang. HA dari cangkang telur dapat mencegah transmisi penyakit karena dapat disterilkan dalam temperatur yang tinggi tanpa mengubah sifat biologisnya. Sumber alami HA lainnya yang berasal dari tulang sapi, tulang ikan, cangkang sotong, cangkang tiram dan terumbu karang telah diteliti sebelumnya. Namun, penggunaan yang terus menerus dapat menyebabkan kepunahan. Untuk itu, cangkang telur merupakan peluang yang bagus untuk mengurangi biaya dalam perawatan perbaikan tulang dengan dampak yang sedikit terhadap lingkungan. Kesimpulan: Cangkang telur merupakan bahan bone graft alami yang potensial karena memiliki sifat yang ideal sebagai bahan bone graft, kurangnya resiko transfer penyakit dan biaya yang efektif dan ekonomis, sehingga HA dari cangkang telur dapat digunakan sebagai bahan bone graft yang potensial.
Manajemen resesi gingiva Miller kelas III dengan connective tissue graft dan teknik tunneling Ricky Anggara; Lies Zubardiah
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65730

Abstract

Resesi gingiva didefinisikan sebagai pergerakan margin gingiva ke arah apikal yang mengakibatkan hilangnya perlekatan dan tampaknya permukaan akar gigi. Indikasi prosedur penutupan akar adalah tuntutan estetik, hipersensitivitas akar dan abrasi servikal sehingga penting untuk melakukan penutupan akar. Studi kasus ini bertujuan untuk melihat keberhasilan tindakan connective tissue graft (CTG) dengan teknik tunneling dalam menutup resesi miller kelas III. Pasien wanita berusia 48 tahun dengan gigi 31 mengalami resesi miller kelas III dilakukan CTG untuk menutup permukaan akar tersebut dengan mengambil donor dari area palatal regio kiri atas dan dimasukkan ke daerah resesi dengan menggunakan teknik tunneling dari gigi 41 ke 32 dimana interdental nya tetap utuh. Graft dari palatal tersebut kemudian dijahit dengan teknik double anchorage di insisal dengan diberikan resin komposit di insisal interdental. Hasil yang didapat yakni resesi pada gigi 31 sudah tertutup sampai 2/3 bagian dan tercipta jaringan keratin baru. Hasil prosedur tunneling menunjukkan penutupan akar yang baik, mempertahankan tinggi papila interdental, dan meningkatkan ketebalan keratin gingiva sehingga memberikan hasil estetik yang baik. Laporan kasus ini menyimpulkan bahwa connective tissue graft dengan teknik tunneling pada resesi miller kelas 3 memberikan hasil yang baik dalam menutup permukaan akar yang terbuka.
Manajemen kasus impaksi kaninus maksila disertai odontoma dan transposisi gigi insisivus lateral Luh Ena Ariasmi; Rendita D Yulfrian; Cendrawasih A Farmasyanti; Kuswahyuning Kuswahyuning
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65731

Abstract

Perawatan ortodonti pada pasien dengan kasus gigi impaksi sering ditemui. Namun kasus gigi impaksi disertai gigi yang transposisi memerlukan ketepatan rencana perawatan,karena mempengaruhi keberhasilan dalam memperbaiki malposisi yang terjadi. Pasien wanita berusia 29 tahun datang ke RSGM UGM Prof. Soedomo mengeluhkan adanya gigi yang terpendam dan gigi yang belum tumbuh sempurna, disertai rasa sakit. Pemeriksaan pasien menunjukan maloklusi Angle kelas I dengan hubungan skeletal kelas 1, terdapat gigi 13 yang impaksi disertai odontoma di antara gigi 11 dan 12 disertai dengan gigi 12 yang transposisi. Berdasarkan hasil radiografi didapatkan gambaran akar 12 dan 13 yang sejajar (tidak berhimpit), sehingga memungkinkan untuk mesialisasi gigi 12. Perawatan dimulai dengan melakukan pengambilan odontoma sekaligus eksposur gigi 13. Perawatan ortodontik dilakukan dengan teknik straight wire metode Roth slot 0.022”. Button dipasang pada gigi 12 dan 13 kemudian diligasi ke wire menggunakan ligature wire. Hasil perawatan saat ini menunjukan erupsi gigi 12 yang hampir sempurna. Perawatan dilanjutkan dengan mesialisasi gigi 12 dengan menggunakan close coil, setelah itu dilakukan penarikan pada gigi 13 agar menempati lengkung gigi. Kesimpulan studi kasus ini adalah manajemen yang tepat dapat memberikan hasil perawatan yang memuaskan.
Gigi tiruan sebagian lepasan immediate sebagai solusi estetik pencabutan gigi anterior Hardi Prabowo; Endang Wahyuningtyas; Erwan Sugiatno; Heriyanti Amalia Kusuma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65732

Abstract

Kehilangan gigi anterior dapat menimbulkan berbagai masalah terutama estetik dan psikologis pasien. Gigi tiruan sebagian lepasan immediate adalah gigi tiruan yang proses pemasangannya dalam mulut pasien, dilakukan langsung setelah pencabutan gigi. Studi kasus ini bertujuan untuk mengkaji penatalaksanaan perawatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate pasca pencabutan gigi anterior untuk mengembalikan dan menjaga fungsi estetik, fonetik dan mastikasi. Pasien perempuan usia 51 tahun datang ke RSGM UGM Prof. Soedomo ingin mencabutkan gigi depan yang goyang dan ingin langsung memakai gigi tiruan karena pasien tidak mau terlihat ompong. Pada pemeriksaan intraoral gigi 23, 27, 31, 41 dan 46 sudah hilang, gigi 32 dan 42 goyang derajat 3. Kebersihan mulut sedang dan tidak memiliki riwayat penyakit sistemik. Anamnesa, pemeriksaan klinis intra oral dan ekstra oral, pencetakan model kerja, peradiran gigi 32 dan 42 di model kerja, pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan immediate, perendaman gigi tiruan lepasan dengan rivanol, pencabutan gigi 32 dan 42, serta pemberian spongostan pada soket gigi 32 dan 42. Pemasangan gigi tiruan sebagian lepasan immediate dilakukan setelah pencabutan gigi dan pengecekan estetik, fonetik dan oklusi. Pada saat kontrol terlihat estetik pasien menjadi lebih baik, pengucapan menjadi lebih jelas serta proses mastikasi menjadi lebih baik. Gigi tiruan sebagian lepasan immediate dapat memperbaiki estetik, fonetik dan mastikasi pasca dilakukan pencabutan gigi anterior dan pemasangan secara langsung pada pasien.
Herpes associated erythema multiforme, drug-induced erythema multiforme atau oral erythema multiforme? Agam Ferry; Tenny Setiani Dewi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65734

Abstract

Diagnosis erythema multiforme (EM) diklasifikasikan menjadi tipe mayor dan minor. Erythema multiforme dapat dipicu oleh obat (drug-induced erythema multiforme/DIEM) atau infeksi virus herpes simplex (herpes associated erythema multiforme/HAEM), dengan dua gambaran utama: lesi target tipikal atau atipikal pada kulit dan nekrosis sel satelit atau epitelium yang luas. Oral erythema multiforme (OEM) dimasukkan dalam klasifikasi diagnosis EM kategori ketiga selain tipe mayor dan minor dengan gambaran klinis berupa ulserasi pada bibir dan mukosa intraoral khas EM, tanpa disertai lesi target di kulit. Studi kasus ini bertujuan membahas kemungkinan HAEM, DIEM dan OEM sebagai diagnosa terhadap lesi bibir khas EM. Seorang wanita, 14 tahun, datang ke Poli Ilmu Penyakit Mulut Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Hasan Sadikin Bandung setelah sebelumnya dirujuk dari bagian Bedah Mulut dengan diagnosa suspek EM. Pada pemeriksaan ekstraoral terlihat lesi krusta berwarna coklat kehitaman pada bibir atas dan bawah, yang diakui pasien muncul setelah mengkonsumsi obat untuk penyakit kulit yang dideritanya dan mengganggu aktivitas bicara serta makan. Pasien diterapi menggunakan salep steroid racikan selama 1 minggu disertai instruksi untuk menghentikan pemakaian obat untuk penyakit kulitnya. Pasien memperlihatkan perbaikan yang signifikan pada kunjungan kontrol 1 minggu. Diagnosis suspek DIEM dan suspek lesi oral terkait hipersensitivitas ditegakkan pada pasien ini berdasarkan pertimbangan adanya pengaruh medikasi untuk pengobatan kelainan kulit yang dideritanya. Hasil pemeriksaan IgE negatif dan IgG anti HSV-1 yang reaktif serta hasil observasi pada kunjungan kontrol lebih lanjut, juga mengarahkan penegakkan diagnosis HAEM dan OEM. Penting mendiagnosa EM dengan baik, agar mampu melakukan tatalaksana dini yang tepat, untuk mendapatkan prognosis yang baik.
Perawatan gigi tiruan lengkap menggunakan overdenture magnet, coping dan bare root sebagai retensi Gene Rizky Natalia Gunawan; Titik Ismiyati; Haryo Mustiko Dipoyono; Herijanti Amalia Kusuma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65735

Abstract

Overdenture adalah jenis gigi tiruan sebagian lepasan atau gigi tiruan lengkap yang didukung oleh akar gigi atau implan. Overdenture merupakan salah satu pilihan perawatan untuk meningkatkan retensi pada gigi tiruan. Di samping untuk membantu meningkatkan retensi, overdenture dapat meningkatkan stabilisasi gigi tiruan, dan mengurangi resorpsi tulang secara signifikan yang terjadi karena pencabutan gigi. Jenis-jenis overdenture antara lain overdenture bare root, overdenture magnet, telescopic overdenture, overdenture bar dan overdenture coping. Overdenture magnet berupa magnet yang dilekatkan pada basis gigi tiruan dan keeper yang disementasi pada gigi penyangga. Magnet memiliki kekuatan retentif untuk menahan keeper di tempatnya. Coping sebagai pegangan overdenture dapat meningkatkan retensi melalui gaya gesek yang ditimbulkan antara coping dan gigi tiruan. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengkaji peningkatan retensi gigi tiruan overdenture dengan pegangan coping, magnet dan bare root pada gigi tiruan lengkap rahang bawah. Pada pemeriksaan klinis terdapat kehilangan gigi 16, 15, 14, 13, 12, 11, 21, 22, 23, 24, 25, 26 pada rahang atas dan 37, 36, 35, 34, 32, 42, 43, 44, 45, 46, 47 pada rahang bawah. Gigi anterior rahang bawah yang tersisa yaitu gigi 31, 41,dan 43 telah ekstrusi. Tatalaksana kasus: gigi 31 sebagai penyangga coping, gigi 41 sebagai penyangga bare root, dan gigi 43 sebagai penyangga overdenture magnet. Penggunaan overdenture dengan kaitan coping, magnet dan bare root dapat meningkatkan retensi pada gigi tiruan lengkap rahang bawah.
Replantasi sebagai alternatif perawatan gigi prognosis buruk akibat penyakit periodontal Yulia Santi; Mohamad Yoga W; Ira Komara
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.65736

Abstract

Replantasi merupakan perawatan pada gigi avulsi dan gigi yang mengalami kerusakan jaringan periodontal dengan penanaman kembali gigi yang telah dicabut sebelumnya. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk menunjukkan proses replantasi yang disengaja pada gigi insisivus kedua yang mempunyai kerusakan jaringan periodontal, abses periodontal disertai kegoyangan gigi derajat 2 yang didahului dengan perawatan endodontik didalam mulut. Gigi yang akan direplantasi sebelumnya dilakukan perawatan endodontik. Gigi dilepas dari soket selanjutnya dilakukan kuretase pada soket dan pengeboran di soket gigi sesuai dengan panjang akar gigi dengan menggunakan bor implant lalu aplikasi bone graft pada soket serta aplikasi tetrasiklin HCl conditioner pada akar gigi selama 2 menit Setelah selesai prosedur persiapan soket gigi dimasukan kembali dan di splinting. Observasi dilakukan selama 3 bulan, hasilnya kegoyangan gigi hilang, jaringan periodontal sehat, tidak terbentuk poket, tidak ada rasa sakit serta terdapat gambaran aposisi tulang yang cukup padat hingga 1/3 akar serta tidak tampak gambaran radiolusen sepanjang permukaan akar. Kesimpulan yang diambil pada studi kasus ini adalah bahwa replantasi gigi yang disengaja dapat menjadi alternatif perawatan pada gigi dengan prognosis buruk akibat kerusakan periodontal.
Eagle syndrome: gambaran pemanjangan prosesus styloideus yang terlihat pada pemeriksaan radiografis panoramik rutin Mutiara Sukma Suntana; Ratna Trisusanti; Iwan Sopandi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.48572

Abstract

Eagle syndrome merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh pemanjangan prosesus styloideus akibat dari mineralisasi dari sebagian atau seluruh ligamen stylohyoid. Merupakan kasus yang jarang terjadi dengan hanya 4% dari kejadian yang menunjukkan gejala. Etiologi pasti sindrom ini masih belum diketahui, diduga berhubungan dengan osifikasi prosesus styloideus yang abnormal. Sindrom ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria dan biasanya terjadi pada sisi bilateral. Gejala klinis yang mungkin dirasakan pada kasus ini adalah rasa sakit pada daerah tenggorokan dan telinga, vertigo, batuk, pusing, sinusitis, infeksi konjungtiva, sakit kepala, nyeri ketika memutarkan kepala dan sakit menelan. Pemeriksaan dengan radiograf panoramik sebagai penunjang dapat memperlihatkan sindrom ini dengan cukup baik karena memperlihatkan prosesus styloideus pada sisi bilateral. Studi kasus ini membahas tentang dua kasus Eagle syndrome yang terlihat pada pemeriksaan radiograf rutin panoramik tanpa disertai gejala klinis pada pasien. Gambaran pemanjangan prosesus styloideus yang terlihat pada radiograf panoramik dapat diinterpretasi sebagai Eagle syndrome. Kemampuan dokter gigi dalam melakukan interpretasi radiograf dapat membantu dalam menegakkan suspek diagnosis Eagle syndrome.
Diagnosis pneumatisasi sinus maksilaris menggunakan cone-beam computed tomography (CBCT) Shinta Amini Prativi
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.49157

Abstract

Variasi anatomi sinus maksilaris berhubungan erat dengan bagaimana letaknya dengan akar gigi posterior maksila, salah satunya adalah pneumatisasi sinus maksilaris yang dapat mempengaruhi rencana perawatan dalam ortodonti dan dental implant. Studi kasus ini bertujuan untuk menganalisa gambaran pneumatisasi sinus maksilaris dalam penilaian radiografi. Pasien laki-laki berusia 30 tahun dengan gigi yang berjejal direncanakan untuk dilakukan perawatan ortodonti. Pasien dirujuk ke bagian radiologi untuk dilakukan pemeriksaan radiografis panoramik. Radiograf panoramik menunjukan kedua area sinus maksilaris yang meluas ke inferior area tulang alveolar hingga area posterior border maksila. Untuk memastikan keadaan tulang alveolar pada gigi posterior maksila, pasien dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan Cone Beam computed Tomography (CBCT). Pada pencitraan CBCT, potongan sagital menunjukan perluasan sinus maksilaris kanan dari apikal 12 hingga ke posterior border maksila, sedangkan sisi kiri dari apikal 23 hingga posterior maksila disertai resorpsi tulang alveolar pada kedua sisi maksila. Pneumatisasi sinus maksilaris dipengaruhi banyak faktor salah satunya pencabutan gigi molar posterior maksila. CBCT dapat membantu mengkonfirmasi ukuran dan gambaran sinus maksilaris lebih baik dibandingkan radiograf panoramik.

Page 10 of 19 | Total Record : 182