cover
Contact Name
Imam Syafa'at
Contact Email
-
Phone
+6224-8505680
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan Semarang » Tel / fax : 0248505680 / 0248505680
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Majalah Ilmiah MOMENTUM
ISSN : 24069329     EISSN : 24069329     DOI : -
Core Subject : Education,
"MOMENTUM" adalah sebuah Jurnal Ilmiah yang dikelola oleh Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim dengan ISSN cetak 0216-7395. Terbit setahun dua kali yaitu tiap bulan April dan Oktober. Lingkup bidang yang dapat dipublikasikan di jurnal ini adalah teknik mesin, teknik kimia dan teknik informatika
Arjuna Subject : -
Articles 477 Documents
KEKAKUAN BENDING EKSPERIMEN KOMPOSIT SANDWICH SERAT SABUT KELAPA- MATRIK POLYESTER DENGAN CORE KERTAS KARDUS Achmad Zainuri; Nasmi H.S. Nasmi H.S.; M. Zaidan J.
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v7i1.294

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tebal inti (core) terhadap kekakuan bending secara eksperimen pada komposit sandwich berpenguat serat sabut kelapa ( coco fiber) dan matrik polyester dengan fraksi volume 10%. Variasi tebal core adalah 20 mm, 30 mm,dan 40 mm, sedangkan tebal skin adalah konstan sebesar 5 mm. Metode pengujian yang dipakai untuk mengetahui kekakuan bending secara eksperimen adalah Three Point Bending (TPB) dan Four Point Bending (FPB). Standar pengujian yang digunakan adalah ASTM C393-00. Pada penelitian ini komposit dibentuk seperti sandwich, dua buah skin yang mengapit core, skin dibuat dengan teknik hand lay up berbahan dasar polyester diperkuat serat tumbuhan dari limbah industri berupa serat sabut kelapa. Core yang terbuat dari kertas kardus dimaksudkan untuk menurunkan berat jenis komposit dan menambah kekakuannya sehingga layak diaplikasikan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kekakuan bending rata-rata untuk tebal sandwich 30 mm, 40 mm, dan 50 mm berturut-turut adalah 131.9 MN.mm², 134.4 MN.mm², 136.2 MN.mm². Kata kunci : Kekakuan bending, komposit sandwich, tebal core, serat sabut kelapa
ANALISA QUENCHING PADA BAJA KARBON RENDAH DENGAN MEDIA SOLAR H. Purwanto
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v7i1.295

Abstract

Quenching merupakan salah satu proses Heat treatment dimana baja di panaskan pada suhu di atas daerah kritis dan dicelupkan pada media pendingin untuk meningkatkan kekeraskan dan ketahanan terhadap aus. Penelitian ini menggunakan low carbon steel baja ST 37 dengan kandungan kadar karbon 0,20 % C. dibuat spesimen impact sesuai standart ASTM E23 dan spesimen kekerasan, spesimen dipanaskan pada temperatur 700°C, 800°C, 900°C dan ditahan selama 1 jam, setelah mencapai temperatur yang penelitian kemudian spesimen di celupkan pada media solar dengan harapan mampu membentk selaput karbon terhadap baja karbon rendah yang kurang atau tidak terpengaruh terhadap perlakuan panas, hasil perlakuan dilakukan pengujian impact dan kekerasan. Hasil uji ketangguhan didapat harga impact rata-rata raw material adalah 3.146861 J/mm² dan pada spesimen yang di quenching adalah 0.386832 J/mm² (turun 83 %)dari raw material, 0.404233 J/mm² (turun 84 %) dari raw material, 0.331952 J/mm² (turun 83 %) dari raw material. Untuk pengujian kekerasan baja ST 37 raw material adalah 63, 60,6 HRC dan dan pada spesimen yang di quenching adalah 64, 61.5 HRC, 64.6, 62.7 HRC, 68.5, 63.6 HRC. Rata-rata harga HRC mengalami peningkatan pada tiap- tiap suhu pemanasan, dari nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai kekerasan mengalami peningkatan yang kurang signifikan seiring dengan peningkatan suhu pemanasan benda kerja, dan kandungan karbon yang terdapat pada solar tidak mempengaruhi hasil peningkatan kekerasan pada proses quenching. Kata kunci : Heat treatment, Holding time, Quenching dengan solar
PEMANFAATAN ECENG GONDOK (EICHORNIA CRASSIPES) UNTUK MENURUNKAN KANDUNGAN COD(CHEMICAL OXYGEN DEMOND), pH, BAU, DAN WARNA PADA LIMBAH CAIR TAHU R. D. Ratnani; I. Hartati; L. Kurniasari
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v7i1.296

Abstract

Di Indonesia banyak terdapat industri tahu mulai dari industri kecil sampai ke industri besar. Dari kegiatan industri tersebut, timbul limbah yang mengandung zat organik sangat tinggi. Kandungan zat organik dalam limbah cair tahu berpotensi mencemari lingkungan, sehingga perlu adanya pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk melakukan penanganan terhadap limbah yang timbul tersebut. Salah satu upaya awal untuk menangani hal tersebut adalah melakukan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan eceng gondok untuk menurunkan kandungan COD, meningkatkan/ menormalkan pH, menjernihkan limbah, dan mengurangi bau yang timbul. Penelitian ini dilakukan di pabrik pengolahan tahu Desa Cangkiran Kota Semarang. Penelitian ini memanfaatkan eceng gondok untuk menyerap limbah organik yang menyebabkan limbah cair menjadi COD tinggi, pH rendah, warna keruh dan berbau sangat menyengat. Proses penanaman dilakukan dalam bak beton dengan ukuran panjang 150 cm, lebar 145 cm, dan tinggi 120 cm. Dalam penelitian ini diamati penurunan kandungan COD, peningkatan pH, perubahan warna, dan perubahan bau yang timbul setiap hari selama 8 hari dengan menggunakan media eceng gondok. Hasil percobaan Terjadi penurunan COD sampai ambang batas yang diperbolehkan yaitu terjadi penurunan dari 768 ppm menjadi 208 ppm dan pada ulangan yang dilakukan dari 672 ppm menjadi 160 ppm dimana sudah di bawah baku mutu bedasakan Perda Jateng No. 10 tahu 2004. Terjadi peningkatan nilai pH. Diawal proses, pH dari limbah cair tahu adalah 4.2 dan naik sampai 7.4 demikian juga setelah diulang mulai 4.6 naik menjadi 7.3. Perubahan warna pada penelitian ini kurang memuaskan karena tidak terjadi perubahan warna tetapi hanya berubah tingkat kejernihan di awal, warna limbah cair tahu adalah kuning keruh bahkan ada busanya dan setelah diolah berwarna kuning jenih. Dalam pengamatan perubahan bau, pada hari ke 4 bau sudah berkurang. Akan beda kalau tidak diolah semakin lama maka akan semakin bau Kata kunci : penyerapan, limbah cair tahu, eceng gondok .
STUDI KINETIKA PERTUMBUHAN ASPERGILLUS NIGER PADA FERMENTASI ASAM SITRAT DARI KULIT NANAS DALAM REAKTOR AIR-LIFT EXTERNAL LOOP Kristinah Haryani
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v7i1.297

Abstract

Nanas banyak dimanfaatkan dalam industri makanan untuk dijadikan buah dalam kaleng. Dari industri pengalengan nanas banyak dihasilkan limbah padat berupa kulit dan bonggol. Limbah kulit dan bonggol nanas masih mengandung glukosa dan sukrosa cukup tinggi yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan asam sitrat. Asam sitrat dibuat dengan fermentasi dalam reaktor air-lift external loop dengan bantuan jamur Aspergillus niger. Agar pertumbuhan jamur optimum maka diperlukan nutrien tambahan yaitu NH4H2PO4 , KH2PO4, MgSO4.7H2O. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kinetika pertumbuhan Aspergillus niger pada fermentasi dalam reactor air lift external loop. Variabel – variabel yang berpengaruh pada fermentasi asam sitrat adalah bahan-bahan pengubah, bahan penetral, nutrisi mikrobial, antiseptik, aerasi, pH dan sumber karbon. Pada penelitian ini digunakan variabel tetap : tekanan, laju aerasi, suhu,pH, konsentrasi mikroba dan nutrisi. Sedangkan untuk variabel berubah ada 2 macam yaitu : konsentrasi gula (10%,15%,20%) dan waktu fermentasi dilakukan selama 7 hari dengan pengambilan sampel setiap 8 jam untuk dianalisa konsentrasi mikroba dan konsentrasi asam total. Reaktor yang digunakan adalah reaktor air-lift external loop dan bahan bakunya berupa limbah bonggol dan kulit nanas. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa pada konsentrasi 10% mempunyai laju tumbuh spesifik yang lebih besar jika dibandingkan dengan konsentrasi 15% dan 20%. Laju tumbuh spesifik pada konsentrasi 10% sebesar 0,0429 jam-1 , sedangkan pada konsentrasi 15% dan 20% masing-masing sebesar 0,0396 jam- 1 dan 0,0385 jam-1 . Pada konsentrasi 10% juga diperoleh asam total yang lebih besar jika dibandingkan dengan konsentrasi 15% dan 20%. Kata kunci: Limbah kulit nanas, Reaktor air-lift external loop, Fermentasi asam sitrat,Kinetika pertumbuhan Aspergillus niger
TINJAUAN/REVIEW MODEL EMPIRIK KONSUMSI BAHAN BAKAR KENDARAAN N. Sinaga; T. Priangkoso
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v7i1.298

Abstract

Model empirik merupakan pendekatan praktis dalam pembuatan model konsumsi bahan bakar. Model-model empirik konsumsi bahan bakar kendaraan dibagi menjadi dua, yaitu model untuk daerah perkotaan dan jalan bebas hambatan. Model-model awal hanya menghubungkan konsumsi bahan bakar dengan kecepatan rata-rata. Model kemudian berkembang dengan menambahkan parameter-parameter lain yang mempengaruhi konsumsi bahan bakar. Asesmen yang dilakukan menunjukkan bahwa model empirik konsumsi bahan bakar kendaraan penumpang tidak memasukkan parameter kendaraan dan parameter perilaku berkendaraan secara lengkap, sehingga memiliki keterbatasan keberlakuannya. Model empirik konsumsi bahan bakar kendaraan penumpang juga memiliki ketidaktepatan yang tinggi. Kata Kunci: Bahan Bakar, Model Empirik
PEKTIN SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU BIOSORBEN LOGAM BERAT Kurniasari, L.; Riwayati, I.; Suwardiyono, .
MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : MOMENTUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai kegiatan manusia sangat berpotensi menghasilkan limbah logam berat. Limbah ini bila tidak diolah dengan baik akan menimbulkan pencemaran lingkungan serta meracuni makhluk hidup termasuk manusia. Diantara berbagai alternatif pengolahan limbah yang mengandung logam berat, penggunaan biosorben memiliki beberapa keunggulan, diantaranya biaya yang relatif murah, efisiensi yang tinggi pada larutan encer serta kemudahan proses regenerasinya. Diantara berbagai bahan baku biosorben, pektin merupakan salah satu komponen tumbuhan yang banyak mengandung gugus aktif, yaitu komponen yang berperan penting dalam proses biosorpsi. Pektin banyak terdapat pada daun, kulit dan buah pada berbagai tanaman. Pektin yang dapat diaplikasikan sebagai biosorben logam berat adalah pektin jenis LMP (Low Methoxyl Pectin) yang dapat langsung diambil dari tanaman yang mengandung LMP atau dari HMP (High Methoxyl Pectin) yang mengalami proses demetilasi atau modifikasi. Kinetika proses biosorpsi logam berat dengan biosorben pektin dapat mengikuti model kinetika tingkat dua semu, sedangkan kesetimbangan isothermnya dapat mengikuti model Langmuir atau Freunlich. Beberapa penelitian penggunaan pektin sebagai biosorben logam berat diantaranya adalah penggunaan pektin dari pulpa gula beet dan pektin dari kulit buah durian. Kata kunci : biosorben, logam berat, pektin
POTENSI PRODUKSI ANDROGRAPHOLIDE DARI SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) MELALUI PROSES EKSTRAKSI HIDROTROPI Ratnani, R. D.; Hartati, I.; Kurniasari, L.
MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : MOMENTUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Andrographolide merupakan senyawa fitokimia yang memiliki berbagai fungsi kesehatan. Salah satunya, andrographolide memiliki sifat sebagai anti malaria. Andrographolide dapat dengan mudah larut dalam methanol, ethanol, pyridine, asam asetat, dan aceton, tetapi sedikit larut dalam ether dan air. Ekstraksi andrographolide yang telah banyak diterapkan adalah ekstraksi menggunakan alkohol. Proses tersebut menyebabkan terjadinya degradasi andrographolide. Larutan hidrotrop dapat meningkatkan kelarutan senyawa yang tidak larut dalam air. Ekstraksi andrographolide menggunakan larutan hidrotrop dapat diterapkan karena andrographolide merupakan senyawa yang tidak larut dalam air. Ekstraksi andrographolide menggunakan larutan hidrotrop berupa larutan sodium salisilat dan sodium asetat mampu menghasilkan ekstrak dengan berat masing-masing 0,57 g dan 0,18 g. Kata Kunci: andrographolide, hidrotop, ekstraksi, sambilotio
PREDIKSI KELARUTAN THEOBROMINE PADA BERBAGAI PELARUT MENGGUNAKAN PARAMETER KELARUTAN HILDEBRAND Hartati, I.
MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : MOMENTUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai penghasil kakao ketiga terbesar ketiga didunia berpotensi menghasilkan limbah berupa kulit biji buah kakao. Kulit biji buah kakao mengandung protein yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak serta theobromine yang dapat digunakan sebagai produk farmasi. Theobromine dari kulit biji buah kakao dapat dipisahkan melalui proses ekstraksi. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi adalah jenis pelarut. Pemilihan pelarut pada proses ekstraksi dapat dilakukan berdasarkan prediksi kelarutan solut menggunakan parameter kelarutan Hildebrand. Nilai parameter kelarutan Hildebrand theobromine adalah 20,977 MPa1/2 . Pelarut yang memiliki deviasi nilai parameter kelarutan Hildebrand yang kecil adalah metilen klorida dan aceton sehingga dapat diartikan bahwa theobromine mudah larut dalam metilen klorida dan aceton. Kata Kunci: theobromine, parameter kelarutan Hildebrand
ANALISA TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN BESI BETON BERTULANG PASCA KEBAKARAN Pratowo, B.
MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : MOMENTUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebakaran yang terjadi pada bangunan gedung mengakibatkan bahan- bahan yang ada akan mengalami kerusakan, begitu pula dengan besi beton bertulang, bahkan akibat suhu yang tinggi perubahan tersebut akan mengalami bentuk besi beton bertulang baik ditinjau dari bentuk fisik maupun yang lainnya. Pengujian besi beton bertulang di lakukan sebelum kebakaran dan sesudah kebakaran dan mesin yang digunakan untuk Uji tarik adalah Mesin uji tarik Computer Servo Control Material Testing Machines dan untuk mesin Uji kekerasan adalah Metode Rockwell-B. Dimana besi beton bertulang itu telaha mengalami kenaikan suhu ± 200 dan kebakaran selama 3 sampai dengan 4 jam. Pengujian terhadap besi beton bertulang ini sejauh mana pengaruh terhadap pasca kebakaran dan sebelumnya dan perbandingannya antara pengujian tarik dan pengujian kekerasan. Kata kunci : Besi Beton Bertulang, Uji Tarik, Uji Kekerasan, Kebakaran
PENGARUH PREKLORINASI TERHADAP PROSES START UP PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAPIOKA SISTEM ANAEROBIC BAFFLED REACTOR Mulyani, H.; Sasongko, S. B.; Soetrisnanto, D.
MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : MOMENTUM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya kandungan sianida dalam limbah cair tapioka ditengarai dapat menjadi inhibitor bagi proses pengolahan biologi. Keberadaan sianida dapat mengakibatkan lebih lamanya waktu start up diperlukan untuk memperoleh kultur bakteri dalam reaktor anaerob yang dapat bekerja stabil menurunkan kadar polutan dan memperlambat proses dekomposisi senyawa organik. Kajian mengenai pengaruh preklorinasi fresh feed terhadap proses start up operasi Anaerobic Baffled Reactor 2 baffle perlu dilakukan. Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahapan utama yaitu inokulasi benih lumpur, preklorinasi fresh feed dan operasi start up secara batch sampai tercapai kadar COD efluen yang stabil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair tapioka dengan COD influen 8000 mg/L dan pH 4,84 memerlukan 9 hari start up dengan COD efluen 954 mg/L. Peningkatan pH influen menjadi 8 mampu menghasilkan kadar COD efluen 347 mg/L dalam 6 hari start up. Preklorinasi terhadap fresh feed dengan penambahan kalsium hipoklorit berdasar perbandingan rasio mol klor dan sianida sebesar 1:1 dapat mengurangi waktu start up hingga hanya menjadi 5 hari dan menurunnya COD efluen hingga mencapai kadar 230 mg/L. Kata kunci: Tapioca wastewater; Anaerobic Baffled Reactor; start up; prechlorination

Page 8 of 48 | Total Record : 477