cover
Contact Name
Imam Syafa'at
Contact Email
-
Phone
+6224-8505680
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Menoreh Tengah X/22 Sampangan Semarang » Tel / fax : 0248505680 / 0248505680
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Majalah Ilmiah MOMENTUM
ISSN : 24069329     EISSN : 24069329     DOI : -
Core Subject : Education,
"MOMENTUM" adalah sebuah Jurnal Ilmiah yang dikelola oleh Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim dengan ISSN cetak 0216-7395. Terbit setahun dua kali yaitu tiap bulan April dan Oktober. Lingkup bidang yang dapat dipublikasikan di jurnal ini adalah teknik mesin, teknik kimia dan teknik informatika
Arjuna Subject : -
Articles 477 Documents
PEMBUATAN POLIHIDROKSIALKANOAT DARI LIMBAH CAIR INDUSTRI TERIGU DALAM SEQUENCING BATCH REACTOR I. Hartati; I. Riwayati; L. Kurniasari
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v5i1.145

Abstract

Plastik merupakan salah satu polutan yang sulit dihancurkan oleh alam. Peningkatan volume sampah plastik mendorong pencarian dan pengembangan material plastik yang mudah diuraikan oleh alam (plastik biodegradabel). Polihidroksialkanoat (PHA) adalah salah satu jenis plastik biodegradabel yang termasuk dalam kelompok poliester. Bahan baku PHA antara lain glukosa dan asam lemak volatil. PHA dapat dihasilkan dari bermacam-macam bakteri. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan PHA berasal dari biaya pemenuhan kebutuhan substrat dan biaya pengambilan dan pemurnian PHA dari biomassa. Upaya yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan limbah industri pangan menggunakan sistem lumpur aktif dalam Sequencing batch reactor (SBR) untuk memproduksi PHA. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbandingan antara siklus pendek dan siklus panjang dalam sistem SBR terhadap akumulasi PHA serta pengaruh periode aerob dan anaerob. Penelitian dilakukan dalam SBR dengan volume total sebesar 6 L. Lumpur aktif yang digunakan diperoleh dari PT Apac Inti Corpora Ungaran, sedangkan limbah cair terigu yang digunakan adalah limbah sintesis. Variasi dilakukan terhadap tahapan pengisian dan rasio aerob-anaerob. Satu siklus SBR membutuhkan waktu 12 jam. Kondisi-kondisi yang diusahakan tetap adalah temperatur kamar, pH netral (pada awal operasi), dan SRT selama 10 hari. Variabel tetap lainnya adalah waktu pengendapan 2 jam dan waktu dekantasi 1 jam. Analisa kandungan MLSS dan PHA dilakukan diakhir silkus dan tiap hari selama masa STR. Hasil penelitian menujukkan bahwa konsentrasi PHA yang lebih besar mencapai 1,7 g/L diperoleh pada tahapan pengisian panjang. Rasio aerob dan anaerob dengan periode aerob yang lebih besar menghasilkan konsentrasi PHA yang lebih besar dan konsentrasi PHA terbesar diperoleh pada rasio aerob-anaerob 2:1. Kata Kunci: limbah cair, polihidroksialkanoat,SBR, terigu
BAHAYA BAHAN TAMBAHAN MAKANAN BAGI KESEHATAN R.D Ratnani
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v5i1.146

Abstract

Industri makanan saat ini telah berkembang pesat. Seiring dengan berkembangnya industri makanan telah bainyak pula efek negatif yang timbul. Makanan yang kita konsumsi sebaiknya adalah makanan yang sehat. Definisi makanan yang sehat adalah makanan yang tidak mengandung bahan yang dapat merugikan mahluk hidup yang mengkonsumsinya. Tujuan diketahuinya bahaya bahan tambahan makanan adalah agar kita waspada pada makanan yang akan dikonsumsi. Bahan tambahan makanan yang dipelajari adalah antara lain, pewarna, penyedap rasa dan aroma,, pemantap, anti oksidan, pengawet, pengemulsi , anti gumpal, pemucat, dan pengental. Tujuan pemberian bahan tambahan makanan adalah untuk mempengaruhi dan menambah cita rasa, warna, tekstur, dan penampilan dari bahan makanan. Setelah diketahui batasan- batasan bahan tambahan makanan yang diperbolehkan untuk dikonsumsi, diharapkan kita akan lebih cermat dalam memilih makanan yang tepat.Selain cermat dalam memilih kita juga akan dapat mengukur dosis yang tepat untuk ditambahkan.Kata kunci : makanan, pengawet, pengemulsi, anti oksidan, dan waspada.
ANALISIS PENGARUH KOEFISIEN REDAMAN TERHADAP RESPON SISTEM DINAMIK KENDARAAN TERHADAP GANGGUAN PADA RODA DENGAN MENGGUNAKAN SIMULINK T. Priangkoso
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v5i1.147

Abstract

Respon sistem dinamik kendaraan sangat sulit dianalisis dan memerlukanperhitungan numerik yang lama dan membosankan. Simulink memberikanalternatif yang menyederhanakan perhitungan dengan langsung menyajikanrespon sistem dinamik langsung dalam bentuk grafis. Simulasi inimenganalisis pengaruh harga-harga koefisien redaman terhadap responsistem dinamik mobil dengan mengasumsikan mobil sebagai siste, massapegas-redaman dengan input roda yang menaiki tonjolan jalan yangdilewati. Hasilnya, harga koefisien redaman sebesar 1000 Ns/m memberikanrespon terbaik dibanding koefisien redaman 100 dan 500 Ns/m.Kata kunci: sistem massa-pegas-peredam, persamaan dinamik, simulasi.
METODE SINTESA TITANIUM OKSIDA DENGAN MENGGUNAKAN TITANIUM KOMPLEK YANG LARUT DALAM AIR I. Mujiarto
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v5i1.148

Abstract

Zat pelarut organik dan alkoxides adalah mudah terbakar dan berbahaya sehingga perlu mempertimbangkan biaya dan dampak lingkungan dari alkoxides dan zat pelarut organic. Bahan dasar keramik dapat diperoleh melalui metode sintese solusi larutan (aqueous solution). Asam Hydroxycarboxylic, yang meliputi asam sitrik, asam malic, asam susu adalah ramah lingkungan dan sangat tepat untuk solusi proses. Beberapa asam hydroxycarboxylic kompleks titanium menghasilkan kristal tunggal dari garam amoniak dengan mengonsentrasi solusi. Sintese TiO2 adalah dasar sintese keramik menggunakan kompleks titanium larut air. Pada metode “sol-gel” ini kristalisasi TiO2 tidak terjadi pada suhu 300°C tetapi pada suhu 500°C. Tipe single phase TiO2 diperoleh pada suhu di atas 700°C. Keramik dengan mempergunakan zat pelarut kompleks dan pelarut air mudah disintesa, murah, tak berbahaya dan aman, dan merupakan material yang bagus bagi sudut pandang industri dan lingkungan Kata kunci : metode sintesa, Larut dalam air, Titanium Oksida, Titanium KomplekPendahuluan Titanium yang secara luas terpakai di bentuk dari logam titanium, sebagai suatu oksida sederhana, nitride, karbit, atau sebagai suatu komponen penting oksida multi komponen. Pada kasus klorid titanium, sulfate atau alkoxides sering dipakai dengan titanium. Sebagai contoh, tetraisopropoxide titanium (Ti(C3H7O)4) adalah cairan yang dapat larut di zat pelarut organik, itu biasanya dimanfaatkan dengan titanium untuk sintese dari film oksida dan serbuk dari oxides multi komponen. Bagaimanapun, karena akibat kepekaan kelembaban yang tinggi, hidrolisis dari alkoxide terjadi dengan cepat dari uap air di udara, menghasilkan endapan dari titanium hidroksida (atau titanium oksida hidrat; TiO2.nH2O). Lebih dari itu, zat pelarut organik dan alkoxides adalah mudah terbakar dan berbahaya, dengan demikian mereka harus ditangani. Dalam proses industri, perlu mempertimbangkan biaya dan dampak lingkungan dari alkoxides dan zat pelarut organik. Walau titanium klorid (TiCl4) dan titanium sulfate (Ti(SO4)2) adalah bukan mudah terbakar, solusinya harus betul-betul asam ( Acid ) untuk mencegah hidrolisis, sementara sisa klorid atau sulfate mungkin mempunyai sifat yang buruk. Seyogyanya dari sudut pandang penanganan, proses, biaya dan pertimbangan lingkungan, yang diinginkan stabil, noncorrosive, bukan solusi beracun dari senyawa titanium di air, terutama dekat dengan pH netral. Bagaimanapun, ini adalah tantangan yang harus dihadapi untuk kasus ion Ti(IV). Sangat sedikit solusi senyawa seperti K2[TiO(C2O4)2] dan "Ti-Asam asetat" (kompleks alkoxyacetate), membentuk satu titanium kompleks yang stabil di air.Dapat dengan mudah kebutuhan itu terpenuhi sebelum titanium sebagai bahan dasar keramik dapat diperoleh melalui
KAJI EKSPERIMEN PENGARUH PENAMBAHAN ELEKTROLISER PADA SISTEM BAHAN BAKAR SEPEDA MOTOR SATU SILINDER C100 B. Waluyo
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v5i1.149

Abstract

Krisis energi yang berakibat pada melonjaknya harga minyak dunia mendorong orang untuk berinovasi dan merekayasa komponen-komponen penghemat bahan bakar pada mobil maupun sepeda motor. Salah satu produk penghemat bahan bahan bakar adalah elektroliser, yaitu dengan cara membuat gas dari proses elektrolisa air murni (Aquadestilata) dengan menambah zat kimia tertentu sebagai katalis seperti soda kue (Kalium Hidroksida) pada tabung elektroliser. Pengujian dilakukan pada dua posisi pemasangan, sebelum trotle valve (BTV) dan sesudah trotle valve (ATV) untuk mengetahui konsumsi ahan bakar sepesifik dan perubahan kondisi emisi gas buang terhadap kondisi standard. Daya mesin diukur dengan dynotester untuk mengetahui nilai konsumsi bahan bakar spesifik (SFC), sedang uji emisi dilakukan dengan mengunakan engine gas analiser. Dari hasil pengujian didapat hasil, bahwa ternyata elektroliser tidak mampu meningkatkan konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) secara signifikan. Elektroliser pada pemasangan ATV justru menunjukan kenaikan SFC rata-rata sebesar 0,42%. Pada pemasangan elektroliser ATV menunjukan penurunan SCF rata-rata sebesar 0,22%. Elektroliser juga tidak mampu menurunkan kadar emisi gas buang secara signifikan. Hasil uji emisi gas buang menunjukan meningkatnya kadar hidrokarbon gas buang, meskipun kadar monoksidanya menurun. Pada pemasangan elektroliser ATV peningkatan rata-rata hidrokarbon sebesar 83,24 % dan penurunan carbon monoksida 97,88 %. Pada pemasangan elektroliser BTV peningkatan rata-rata hidrokarbon sebesar 1,67 % dan peningkatan carbon monoksida 2,49 %.Kata Kunci: Elektrolisa, Kalium Hidroksida, gas buang
PEKTIN SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU BIOSORBEN LOGAM BERAT L Kurniasari; I Riwayati; . Suwardiyono
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v8i1.278

Abstract

Berbagai kegiatan manusia sangat berpotensi menghasilkan limbahlogam berat. Limbah ini bila tidak diolah dengan baik akan menimbulkanpencemaran lingkungan serta meracuni makhluk hidup termasuk manusia.Diantara berbagai alternatif pengolahan limbah yang mengandung logamberat, penggunaan biosorben memiliki beberapa keunggulan, diantaranyabiaya yang relatif murah, efisiensi yang tinggi pada larutan encer sertakemudahan proses regenerasinya. Diantara berbagai bahan baku biosorben,pektin merupakan salah satu komponen tumbuhan yang banyak mengandunggugus aktif, yaitu komponen yang berperan penting dalam proses biosorpsi.Pektin banyak terdapat pada daun, kulit dan buah pada berbagai tanaman.Pektin yang dapat diaplikasikan sebagai biosorben logam berat adalah pektinjenis LMP (Low Methoxyl Pectin) yang dapat langsung diambil dari tanamanyang mengandung LMP atau dari HMP (High Methoxyl Pectin) yangmengalami proses demetilasi atau modifikasi. Kinetika proses biosorpsi logamberat dengan biosorben pektin dapat mengikuti model kinetika tingkat duasemu, sedangkan kesetimbangan isothermnya dapat mengikuti model Langmuiratau Freunlich. Beberapa penelitian penggunaan pektin sebagai biosorbenlogam berat diantaranya adalah penggunaan pektin dari pulpa gula beet danpektin dari kulit buah durian.Kata kunci : biosorben, logam berat, pektin
POTENSI PRODUKSI ANDROGRAPHOLIDE DARI SAMBILOTO (Andrographis paniculata Nees) MELALUI PROSES EKSTRAKSI HIDROTROPI R.D Ratnani; I Hartati; L. Kurniasari
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v8i1.279

Abstract

Andrographolide merupakan senyawa fitokimia yang memiliki berbagaifungsi kesehatan. Salah satunya, andrographolide memiliki sifat sebagai antimalaria. Andrographolide dapat dengan mudah larut dalam methanol, ethanol,pyridine, asam asetat, dan aceton, tetapi sedikit larut dalam ether dan air.Ekstraksi andrographolide yang telah banyak diterapkan adalah ekstraksimenggunakan alkohol. Proses tersebut menyebabkan terjadinya degradasiandrographolide. Larutan hidrotrop dapat meningkatkan kelarutan senyawayang tidak larut dalam air. Ekstraksi andrographolide menggunakan larutanhidrotrop dapat diterapkan karena andrographolide merupakan senyawa yangtidak larut dalam air. Ekstraksi andrographolide menggunakan larutanhidrotrop berupa larutan sodium salisilat dan sodium asetat mampumenghasilkan ekstrak dengan berat masing-masing 0,57 g dan 0,18 g.Kata Kunci: andrographolide, hidrotop, ekstraksi, sambilotio
PREDIKSI KELARUTAN THEOBROMINE PADA BERBAGAI PELARUT MENGGUNAKAN PARAMETER KELARUTAN HILDEBRAND I. Hartati
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v8i1.280

Abstract

Indonesia sebagai penghasil kakao ketiga terbesar ketiga diduniaberpotensi menghasilkan limbah berupa kulit biji buah kakao. Kulit biji buahkakao mengandung protein yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sertatheobromine yang dapat digunakan sebagai produk farmasi. Theobromine darikulit biji buah kakao dapat dipisahkan melalui proses ekstraksi. Salah satufaktor yang mempengaruhi proses ekstraksi adalah jenis pelarut. Pemilihanpelarut pada proses ekstraksi dapat dilakukan berdasarkan prediksi kelarutansolut menggunakan parameter kelarutan Hildebrand. Nilai parameter kelarutanHildebrand theobromine adalah 20,977 MPa1/2. Pelarut yang memiliki deviasinilai parameter kelarutan Hildebrand yang kecil adalah metilen klorida danaceton sehingga dapat diartikan bahwa theobromine mudah larut dalam metilenklorida dan aceton.Kata Kunci: theobromine, parameter kelarutan Hildebrand
ANALISA TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN BESI BETON BERTULANG PASCA KEBAKARAN B. Pratowo
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v8i1.281

Abstract

Kebakaran yang terjadi pada bangunan gedung mengakibatkan bahanbahanyang ada akan mengalami kerusakan, begitu pula dengan besi betonbertulang, bahkan akibat suhu yang tinggi perubahan tersebut akan mengalamibentuk besi beton bertulang baik ditinjau dari bentuk fisik maupun yang lainnya.Pengujian besi beton bertulang di lakukan sebelum kebakaran dan sesudahkebakaran dan mesin yang digunakan untuk Uji tarik adalah Mesin uji tarikComputer Servo Control Material Testing Machines dan untuk mesin Ujikekerasan adalah Metode Rockwell-B. Dimana besi beton bertulang itu telahamengalami kenaikan suhu ± 200 dan kebakaran selama 3 sampai dengan 4 jam.Pengujian terhadap besi beton bertulang ini sejauh mana pengaruh terhadappasca kebakaran dan sebelumnya dan perbandingannya antara pengujian tarikdan pengujian kekerasan.Kata kunci : Besi Beton Bertulang, Uji Tarik, Uji Kekerasan,Kebakaran
PENGARUH PREKLORINASI TERHADAP PROSES START UP PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAPIOKA SISTEM ANAEROBIC BAFFLED REACTOR H Mulyani; S B Sasongko; D Soetrisnanto
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v8i1.283

Abstract

Tingginya kandungan sianida dalam limbah cair tapioka ditengarai dapatmenjadi inhibitor bagi proses pengolahan biologi. Keberadaan sianida dapatmengakibatkan lebih lamanya waktu start up diperlukan untuk memperolehkultur bakteri dalam reaktor anaerob yang dapat bekerja stabil menurunkankadar polutan dan memperlambat proses dekomposisi senyawa organik. Kajianmengenai pengaruh preklorinasi fresh feed terhadap proses start up operasiAnaerobic Baffled Reactor 2 baffle perlu dilakukan. Penelitian ini terbagimenjadi 3 tahapan utama yaitu inokulasi benih lumpur, preklorinasi fresh feeddan operasi start up secara batch sampai tercapai kadar COD efluen yangstabil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair tapioka dengan CODinfluen 8000 mg/L dan pH 4,84 memerlukan 9 hari start up dengan COD efluen954 mg/L. Peningkatan pH influen menjadi 8 mampu menghasilkan kadar CODefluen 347 mg/L dalam 6 hari start up. Preklorinasi terhadap fresh feed denganpenambahan kalsium hipoklorit berdasar perbandingan rasio mol klor dansianida sebesar 1:1 dapat mengurangi waktu start up hingga hanya menjadi 5hari dan menurunnya COD efluen hingga mencapai kadar 230 mg/L.Kata kunci: Tapioca wastewater; Anaerobic Baffled Reactor; startup; prechlorination

Page 6 of 48 | Total Record : 477