cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 1 (2022)" : 14 Documents clear
Seleksi jagung hibrida UNPAD berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari pada sistem tanam tumpang sari jagung-ubi jalar Supriatna, Jajang; Syihab, Fakhri Nasharul; Sativa, Novriza; Yuwariah, Yuyun; Ruswandi, Dedi
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14955

Abstract

Tumpangsari merupakan pemanfaatan lahan dengan cara menanam dua jenis tanaman atau lebih. Hal yang perlu diperhatikan dalam sistem tanaman tumpangsari adalah penentuan jenis serta kultivar tanaman yang digunakan. Sebagian besar kultivar jagung yang beredar di masyarakat dikembangkan untuk pertanaman tunggal sehingga diperlukan kegiatan seleksi untuk mendapatkan kultivar jagung yang sesuai untuk sistem tanam tumpangsari. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi 22 jagung hibrida berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari. Penelitian dilaksanakan di Desa Margamulya, Kecamatan Cikajang, Garut, Jawa Barat dengan.ketinggian 1346 meter diatas permukaan laut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktor Tunggal dengan dua metode yaitu metode eksperimental dan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 20 hibrida terseleksi berdasarkan karakter diameter tongkol, 18 hibrida berdasarkan karakter panjang tongkol, 19 hibrida berdasarkan karakter jumlah baris biji per tongkol, dan 13 hibrida berdasarkan karakter jumlah biji per tongkol. Berdasarkan parameter tumpangsari terseleksi 3 hibrida dengan kritera menguntungkan dalam kondisi sistem tanam tumpangsari dengan ubi jalar berdasarkan Land Equivalent Ratio (LER), 13 hibrida menunjukkan lebih kompetitif dibandingkan dengan ubi jalar berdasarkan Competitive Ratio (CR), dan semua hibrida mengalami kehilangan hasil berdasarkan Actual Yield Loss (AYL). Hibrida DR7 x DR8, DR 14 X DR 18 dan MDR 3.1.4 X MDR 18.5.1 merupakan hibrida terseleksi berdasarkan komponen hasil dan parameter tumpangsari.ABSTRACTIntercropping is cultivating two or more types of plants at the same field. Selecting type and cultivar of the plants need to be considered in the intercropping system. Commonly, the available corn cultivars in the market are developed for single cropping. Therefore plant selection is necessary to obtain corn cultivars suitable for intercropping systems. The research was conducted in Desa Margamulya, Cikajang District, Garut, West Java at 1346 meters above sea level. This study used a randomized block design (RBD) design with two methods; the experimental method and the quantitative descriptive method. The results showed 20 hybrids were selected on the character of cob diameter, 18 combinations surface of the cob length, 19 hybrids on the number of cob seed rows, 13 hybrids on the number of cob kernels. According to the parameters of intercropping combinations, 3 hybrids were selected with superior characters in intercropping condition with sweet potatoes based on Land Equivalent Ratio (LER), 13 hybrids showed the more competitive characters compared to sweet potatoes based on Competitive Ratio (CR) and all hybrids showed yield loss based on Actual Yield Loss (AYL). Hybrids DR7 x DR8, DR 14 X DR 18 and MDR 3.1.4 X MDR 18.5.1 are selected hybrids based on yield components and intercropping parameters.
Uji keberhasilan persilangan, heterosis dan penampilan F1 padi lokal Pare Bau x Impari 4 Parari, Trisday; Riadi, Muh; Sjahril, Rinaldi; Limbongan, Limbongan; Putra, Yosua
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14987

Abstract

Padi lokal memiliki keunggulan pada rasa dan aroma, namun memiliki produksi yang rendah dan umur panen yang lama sehingga kurang unggul. Upaya untuk memperbaiki genetik padi lokal adalah melalui persilangan buatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tingkat keberhasilan persilangan, heterosis, karakter kualitatif dan kuantitatif F1, dan kekerabatan F1 dengan tetuanya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Toraja Utara dari Januari 2019 hingga Juli 2020. Metode persilangan yang digunakan yaitu single cross dan resiprocal cross menggunakan padi lokal aromatik Pare Bau dengan Inpari 4 sehingga diperoleh dua kombinasi persilangan. Hasil penelitian menunjukkan persentase keberhasilan persilangan single cross sebesar 14,4% dan persilangan resiprok sebesar 25,5%. Karakter hasil F1 persilangan resiprok, jumlah gabah bernas per malai (164,2 gabah) dan bobot gabah bernas per rumpun (96,4 g), lebih tinggi dibandingkan F1 single cross. Karakter keharuman pada waktu berbunga terbaik dihasilkan oleh tanaman F1 single cross B1 senilai 92,2% dan B2 senilai 95%. Nilai heterosis dan heterobeltiosis tertinggi adalah F1 resiprok pada semua karakter yang diamati. Generasi F1 hasil single cross (B1 dan B2) memiliki kekerabatan dekat dengan Pare Bau, sedangkan generasi F1 hasil persilangan resiprok (RB1, RB2, RB3, RB4, dan RB5) membentuk kelompok genetik tersendiri tetapi memiliki kekerabatan dekat dengan Inpari 4. ABSTRACTThe rice landrace has a great taste and aroma, but has low yield and late maturity. The artificial crossing is one of ways to improve the genetics performance of the rice landrace. This study purposed to observe the success rate of crosses, heterosis, heterobeltiosis, qualitative and quantitative characters of F1, and genetic relationship of the F1with its parents. This research was conducted in Tallunglipu District, North Toraja Regency from January 2019 to July 2020. The crosses method used were single cross and reciprocal cross using local aromatic Pare Bau and Inpari 4 varieties in order to obtain two cross combinations. The results showed the success rate of the single cross was 14,4% and the reciprocal cross was 25,5%. The characteristics of the F1 reciprocal crosses, the number of fully developed grain per panicle (164,2 grain) and the weight of pithy grain per clump (96,4 g), was higher than the F1 single cross. The best level of aroma character at the time flowering was produced by F1 single cross i.e B1 92,2% and B2 95%. Resiprocal F1 had the highest value of heterosis and heterobeltiosis in all observed characters. Single cross lines (B1 and B2) were closely related to Pare Bau, while reciprocal cross lines (RB1, RB2, RB3, RB4, and RB5) formed separate genetic groups. However, reciprocal cross lines were closely related to Inpari 4.
Eksplorasi dan karakterisasi keragaman plasma nutfah tanaman padi (Oryza sativa L.) di pulau Belitung Kencana, Yuditia Arta; Mustikarini, Eries Dyah; Lestari, Tri
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/15085

Abstract

Banyak sumber daya genetik penting yang masih belum teridentifikasi di Pulau Belitung salah satunya adalah tanaman padi. Kegiatan eksplorasi dan identifikasi menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan jenis tanaman padi baru pada kegiatan pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah melakukan eksplorasi, karakterisasi, dan menentukan hubungan kekerabatan dan variabilitas padi di Pulau Belitung. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2020 hingga Mei 2021. Penelitian menggunakan metode eksplorasi dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Karakter yang diidentifikasi terdiri dari karakter kualitatif dan karakter kuantitatif. Analisis kekerabatan menggunakan program  NTSYS. Hasil penelitian didapatkan lima aksesi yaitu Rembiak, Siam, Cerai Merah, Ketan dan Merawang. Hasil uji beda nyata terkecil (BNT) menunjukkan aksesi padi lokal Belitung memiliki perbedaan yang nyata pada karakter umur panen (α 5%). Hasil analisis hubungan kekerabatan pada karakter kualitatif terdapat 2 grup dengan koefisien 0,64 atau 64%, kuantitatif terdapat 4 grup dengan koefisien 0,28 atau 28% dan gabungan dari karakter kualitatif dan kuantitatif terdapat 4 grup dengan koefisien 0,33 atau 33%. Aksesi padi yang diperoleh terdapat variabilitas genetik luas yaitu pada karakter jumlah biji total serta variabilitas fenotip yang luas yaitu pada tinggi tanaman, umur panen dan berat 1000 benih.ABSTRACTMany important genetic resources have not identified yet on the Belitung Island, one of which is rice plant. Exploration and identification activities are the right steps to get a new type of rice plant in plant breeding activities. The objectives of research were to explore, characterize, and determine the relationship and variability of rice on Belitung Island. The experiment was conducted from December 2020 to May 2021. Research used exploratory  methods with purposive sampling technique.The identified character consisted of qualitative and quantitative characters. Kinship analysis using the NTSYS program. The results of the study obtained five accessions namely Rembiak, Siam, Cerai Merah, Ketan and Merawang. Least Significance Different (LSD) results showed that local rice accession had a noticeable difference in the character of the harvest age (α 5%)." The results of the analysis of relationships in qualitative character there were 2 groups with coefficients of 0.64 or 64%, quantitative there were 4 grup with coefficients of 0.28 or 28% and a combination of qualitative and quantitative characters there were 4 groups with coefficients of 0.33 or 33%. Rice accession obtained contained extensive genetic variability in the character of the total number of seeds as well as wide phenotype variability on the plant height, harvest age and weight of 1000 seeds.
Penampilan agronomi dan seleksi jagung hibrida pada lahan sawah tadah hujan dengan sistem tanam tanpa olah tanah Syahruddin, Karlina; Abid, Muhammad; Fatmawati, Fatmawati
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/15713

Abstract

Jagung merupakan komoditas prioritas nasional strategis dengan kebutuhan yang sangat tinggi untuk industri pangan, pakan dan benih. Produksi jagung dapat ditingkatkan dengan penggunaan jagung jenis hibrida dan perluasan areal tanam dengan memanfaatkan lahan sawah tadah hujan. Penerapan sistem tanpa olah tanah (TOT) pada jagung di lahan tadah hujan sangat efektif diterapkan untuk mempercepat waktu tanam, meminimalkan biaya produksi dan meningkatkan indeks pertanaman jagung, dan untuk meningkatkan produksi jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pertumbuhan agronomi dan menyeleksi jagung hibrida potensial untuk dikembangkan di lahan sawah tadah hujan dengan sistem tanam TOT. Penelitian dilaksanakan pada lahan sawah tadah hujan tanpa olah tanah menggunakan 5 hibrida jagung dan 3 varietas pembanding dengan Rancangan Acak Kelompok, 4 ulangan. Secara umum penampilan agronomi jagung hibrida uji lebih baik dari varietas pembanding. Terdapat dua hibrida yang memperlihatkan hasil pipilan kering lebih tinggi dari varietas pembanding yaitu HIB1 (11,77 t ha-1) dan HIB3 (11.61 t ha-1). Kedua hibrida ini juga memiliki karakter agronomi yang lebih tinggi dari varietas pembanding pada karakter diameter tongkol, jumlah baris biji per tongkol dan jumlah biji per baris. Jagung hibrida HIB1 dan HIB3 dapat menjadi pilihan dalam pengembangan jagung di lahan sawah tadah hujan dengan sistem TOT. ABSTRACTCorn is a strategic national priority commodity with a very high demand for the food, feed, and seed industry. Corn production can be increased by using hybrid maize and expanding the planted area by utilizing rainfed rice fields. The application of  zero tillage system (TOT) on maize in rainfed land is very effective to be applied to speed up planting time, minimize production costs and increase maize cropping index to increase maize production. The purpose of this study was to observe the agronomic growth and to select potential hybrid maize to be developed in rainfed fields with zero tillage cropping system. The research was carried out on uncultivated rainfed fields using 5 maize hybrids and 3 comparison varieties with a randomized block design and, 4 replications. In general, the agronomic performance of the test hybrid corn was better than the comparison variety. There were two hybrids that showed higher dry seed yields than the comparison varieties, namely HIB1 (11.77 t ha-1) and HIB3 (11.61 t ha-1). These two hybrids also had higher agronomic characteristics than the comparison varieties on the characteristics of ear diameter, the number of rows seed per ear, and number of seeds per row. Hybrid corn HIB1 and HIB3 can be an option in the development of maize in rainfed rice fields with the TOT system.
Pengaruh tumpangsari cabai dan tomat terhadap perkembangan hama utama dan hasil cabai (Capsicum annuum L.) Gunaeni, Neni; Wulandari, Astri W; Gaswanto, Redy
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/16028

Abstract

Tumpangsari cabai dan tomat merupakan salah satu sistem kultur teknis dalam pengendalian hama terpadu. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sistem penanaman cabai yang paling tepat dalam menekan perkembangan hama utama dan meningkatkan hasil cabai. Penelitian dilakukan di Balitsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2018, metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang empat kali dengan perlakuan: (A). Cabai dan tomat ditanam bersamaan (B). Tomat ditanam satu minggu setelah cabai (C). Tomat ditanam dua minggu setelah cabai (D). Tomat ditanam tiga minggu setelah cabai (E). Cabai ditanam monokroping tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak (F). Cabai monokroping dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian: Tumpangsari cabai dan tomat berpengaruh baik dalam menekan populasi kutu daun 14,65%-48,91%, kutu kebul 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, dan dapat meningkatkan hasil cabai 90%-127% dibandingkan cabai monokroping dan 10%-31% cabai monokroping dengan mulsa plastik hitam perak. Implikasi dari hasil penelitian sistem tanam tumpangsari cabai dan tomat dapat menghambat perkembangan populasi hama utama cabai karena dapat bersifat sebagai barrier dan repellen. Perlakuan terbaik adalah tomat ditanam 1 dan 2 minggu setelah cabai.ABSTRACTChilli and tomatoes intercropping is a technical culture system in integrated pest control. The study aimed to find the most appropriate chilli planting system to suppress the development of major pests and increase chilli yields. The research was conducted at the IVEGRI. The study was conducted from April to December 2018, and the experimental method using an RBD was repeated four times. Treatments: (A). Chilli and tomato planted together (B). Tomatoes were planted one week after chilli (C). Tomatoes are planted two weeks after chilli (D). Tomatoes are planted three weeks after chilli. (E). The chilli was grown monocrop without silver black mulch (F). Chilli was grown monocrop with silver black mulch. The results: Chilli and tomato intercropping had a good effect on suppressing aphids population 14,65%-48,91%, white flying 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, and could increase chilli yields 90%-127% compared to monocropped chilli and 10%-31% monocropped chilli with silver black mulch. The implications of the research results on chilli and tomato intercropping systems can inhibit the development of the main pest population of chilli because they act as a barrier and repellant. The best treatment is tomato planted 1 and 2 weeks after chilli. Tumpangsari cabai dan tomat merupakan salah satu sistem kultur teknis dalam pengendalian hama terpadu. Tujuan penelitian untuk mendapatkan sistem penanaman cabai yang paling tepat dalam menekan perkembangan hama utama dan meningkatkan hasil cabai. Penelitian dilakukan di Balitsa. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2018, metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang empat kali dengan perlakuan: (A). Cabai dan tomat ditanam bersamaan (B). Tomat ditanam satu minggu setelah cabai (C). Tomat ditanam dua minggu setelah cabai (D). Tomat ditanam tiga minggu setelah cabai (E). Cabai ditanam monokroping tanpa menggunakan mulsa plastik hitam perak (F). Cabai monokroping dengan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian: Tumpangsari cabai dan tomat berpengaruh baik dalam menekan populasi kutu daun 14,65%-48,91%, kutu kebul 18,30%-27,16%, trips 11%-41,44%, dan dapat meningkatkan hasil cabai 90%-127% dibandingkan cabai monokroping dan 10%-31% cabai monokroping dengan mulsa plastik hitam perak. Implikasi dari hasil penelitian sistem tanam tumpangsari cabai dan tomat dapat menghambat perkembangan populasi hama utama cabai karena dapat bersifat sebagai barrier dan repellen. Perlakuan terbaik adalah tomat ditanam 1 dan 2 minggu setelah cabai.
Estimasi nilai ragam genetik dan heritabilitas tomat tipe determinate pada dua lingkungan tanam di dataran rendah Farhah, Najmi; Daryanto, Ady; Istiqlal, Muhammad Ridha Alfarabi; Pribadi, Edi Minaji; Widiyanto, Sigit
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/16276

Abstract

Pertumbuhan tomat pada lingkungan berbeda memberikan perbedaan hasil karena adanya interaksi genetik x lingkungan yang mempengaruhi ekspresi suatu gen pada kondisi lingkungan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai ragam genetik serta nilai heritabilitas arti luas pada genotip tomat tipe determinate di dua lingkungan tanam. Penelitian dilakukan dari Maret hingga Juli 2021 dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) di dua lingkungan tanam (Depok dan Jakarta). Perlakuan terdiri dari 3 genotip tomat generasi F6 dan 2 varietas komersil diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan tanam memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan genotip tomat yang digunakan. Nilai ragam genetik pada setiap karakter tergolong dalam kriteria sempit, kecuali pada karakter tebal daging buah dan luas daun. Nilai heritabilitas arti luas terhadap karakter yang diamati menunjukkan kriteria tinggi, kecuali pada karakter diameter buah (kriteria sedang) dan karakter tinggi tanaman (kriteria rendah). Genotip RwTa-4-10U-6U-4U-2U memberikan penampilan terbaik pada kedua lokasi tanam, dengan tinggi tanaman lebih rendah (91,09 cm), diameter batang lebih kekar (9,69 mm), buah lebih panjang (5,64 cm), diameter buah lebih besar (4,25 cm), total padatan terlarut lebih tinggi (5,22ºBrix), bobot per buah lebih besar (48,43 g), serta umur berbunga lebih genjah (25 HST) dibandingkan varietas Tantyna dan varietas Tora.ABSTRACTTomatoes growth in different environments give different results due to genetic x environment interaction that affect the expression of genes in a certain environmental condition. This study aimed to estimate the genetic variance and the broad sense heritability of determinate tomato genotypes in two growing environments. The study was conducted from March to July 2021, using a Randomized Complete Block Design (RCBD) in two planting environments (Depok and Jakarta). The treatments consisted of 3 genotypes of tomato generation F6 and 2 commercial varieties with 3 replications. The results showed that the environment affected the growth and development of the tomato genotypes used. The genetic variance was classified into narrow criteria except for flesh thickness and leaves area. The heritability value showed high value except for fruit diameter (medium) and plant height (low). The genotype RwTa-4-10U-6U-4U-2U gave the best performance at both planting locations, with lower plant height (91.09 cm), more harder stem diameter (9.69 mm), longer fruit (5.64 cm), larger fruit diameter (4.25 cm), higher total dissolved solids (5.22ºBrix), greater weight per fruit (48.43 g), and early flowering (25 DAP) compared to the Tantyna and Tora varieties.
Bioassay of phosphorus solubilizing isolates for enhance P solubility and growth of rice (Oryza sativa L.) Fitriatin, Betty Natalie; Manurung, Dahlia Florencia; Setiawati, Mieke Rochimi
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/17754

Abstract

Fosfat merupakan salah satu unsur yang berperan penting bagi pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. Namun, ketersediaan unsur P terlarut yang dapat diserap oleh tanaman sangat kecil karena berikatan dengan kation yang berada di dalam tanah. Salah satu upaya dalam meningkatkan P tersedia dalam tanah adalah dengan pemanfaatan agen hayati Bakteri Pelarut Fosfat (BPF). Penelitian ini bertujuan untuk menguji isolat BPF yang dapat meningkatkan kelarutan P dan pertumbuhan padi pada uji hayati. Percobaan ini dilaksanakan di Rumah Kaca Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 5 ulangan. Masing-masing perlakuan jenis bakteri adalah kontrol, Bacillus substilis, B. megatherium, Pseudomonas mallei, Burkholderia sp., dan isolat campuran. Hasil percobaan menunjukkan isolat BPF yang diuji memiliki kemampuan yang bervariasi dalam meningkatkan enzim fosfatase, kelarutan P, dan pertumbuhan padi pada uji hayati. Lebih lanjut, perlakuan BPF campuran memberikan pengaruh lebih baik terhadap aktivitas fosfatase, P terlarut dan pertumbuhan padi dibandingkan isolat tunggal.ABSTRACTPhosphorus is an element that important for soil fertility and plant growth. However, the phosphate nutrient can be uptaken by plants only in a small amount because it binds to cations in the soil. The effort for enhancing the soil P availabilty is by the phosphorus solubilizing bacteria (PSB). This study aimed to test PSB  isolates  for increasing P solubility and rice growth using bioassay. The experiment conducted at the greenhouse in Jatinangor District, Sumedang Regency, West Java with  Randomized Block Design (RBD) for PSB isolates with five replications. Each type of bacteria treatment was control, Bacillus substilis, B. megatherium, Pseudomonas mallei, Burkholderia sp., and mixed isolates. The results showed that the P solubilizing  isolates had various abilities to enhance phosphatase, P solubility, and rice growth using bioassay. Furthermore, the mixed PSB isolates had a better effect on phosphatase activity, dissolved P and rice growth than single isolates.
Antagonisme jamur rizosfer tanaman karet terhadap Rigidoporus microporus secara in vitro dan in planta Yulia, Endah; Rahayu, Aldi; Suganda, Tarkus
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/17824

Abstract

Penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus merupakan penyakit penting pada tanaman karet. Pengendalian penyakit JAP umumnya menggunakan fungisida sintetik yang berdampak buruk terhadap lingkungan dan berbiaya mahal. Salah satu cara pengendalian penyakit tular tanah yang lebih murah dan efisien adalah pemanfaatan mikroorganisme antagonis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji antagonisme jamur rizosfer tanaman karet (JRK) terhadap R. microporus. Penelitian dilaksanakan dari November 2021 hingga Februari 2022 menggunakan metode survei di Perkebunan Karet Rakyat (PKR) Sakambangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat serta metode eksperimental di Laboratorium Fitopatologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Rancangan Acak Lengkap digunakan untuk dua uji antagonisme yaitu dual culture (in vitro) berupa perlakuan 17 isolat JRK dan kontrol R. microporus serta uji potongan akar (in planta) berupa perlakuan 8 isolat JRK dan dua kontrol dengan tiga kali ulangan. Dari hasil penelitian diperoleh 17 isolat jamur termasuk genus Trichoderma, Aspergillus, Penicillium, Gliocladium, Paecilomyces, Acremonium dan Cladosporium, serta empat isolat tidak teridentifikasi. Semua isolat menghambat pertumbuhan R. microporus pada uji in vitro dan kolonisasi pada uji in planta dengan penghambatan tertinggi masing-masing 86,07% dan 85,33%. Trichoderma sp., Aspergillus sp. dan Penicillium sp. merupakan jamur antagonis potensial untuk mengendalikan R. microporus asal PKR Sakambangan.ABSTRACTWhite root rot disease (WRRD) incited by Rigidoporus microporus is an important disease in rubber plants. WRRD is commonly controlled using synthetic fungicide, nevertheless it is expensive and harmful to environment. One way to control soil-borne diseases that is considered cheaper, efficient and safer is by using antagonistic microorganisms. This study aimed to examine the antagonism of rubber plant rhizosphere fungi (RRF) against R. microporus. The research was carried out from November 2021 to February 2022. Research used survey method at a rubber plantation in Sakambangan, Garut Regency, West Java, and experimental method at the Phytopathology Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. A Completely Randomized Design was used for the two antagonism tests, namely dual culture (in vitro) of 17 RRF isolates and R. microporus as control treatment while a rubber root piece test (in planta) was used for testing 8 RRF isolates and two control treatments with three replications. The results derived 17 fungal isolates in the genera of Trichoderma, Aspergillus, Penicillium, Gliocladium, Paecilomyces, Acremonium, Cladosporium, and four unidentified. All isolates inhibited the growth (86.07%) and colonization (85.33%) of R. microporus. Trichoderma sp., Aspergillus sp. and Penicillium sp. are potential antagonists against R. microporus of Sakambangan rubber plantation origin.
Perbaikan fisik tanah pasca galian batuan dan pertumbuhan cabai rawit dengan pemberian bahan organik dan mikroorganisme tanah Pangaribuan, Nurmala; Hidayat, Cecep; Rachmawati, Yati Setiati
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/17966

Abstract

Bahan organik dan mikroorganisme diperlukan untuk memperbaiki sifat fisik tanah pasca galian batuan agar dapat digunakan untuk budidaya tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi bahan organik dan mikroorganisme tanah terhadap perbaikan fisik tanah pasca galian batuan dan pertumbuhan cabai rawit. Penelitian dilaksanakan di Cibiru Bandung, Jawa Barat dengan titik ordinat  -6.92049471880716, 107.716127309820, dari bulan Juni sampai Oktober 2020, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial  dua faktor dan diulang tiga kali. Faktor pertama yaitu bahan organik: b0 : kontrol (tanpa pemberian bahan organik), b1: kompos Paitan 15 t ha-1, b2: kompos eceng gondok 15 t ha-1, b3: abu cangkang sawit 15 t ha-1. Faktor kedua : mikroba: mo: kontrol (tanpa pemberian mikroba), m1 : Inokulum campuran Fungi Mikoriza Asburkular (FMA) 10 g polibag-1, m2 :Inokulum campuran  BPF (Bakteri Pelarut Fosfat) 10 ml polibag-1, m3 : campuran FMA dan BPF. Hasil penelitian menunjukkan eceng gondok 15 t ha-1 yang diberikan bersamaan dengan FMA atau BPF menaikan kelembaban tanah. Aplikasi bahan organik dan mikroba menurunkan agregat stabil tahan air. Eceng gondok dan BPF masing-masing menurunkan suhu tanah. Aplikasi bahan organik dan mikroorganisme belum berpengaruh dalam peningkatan pertumbuhan tanaman cabai rawit, namun berpengaruh terhadap fisik tanah  tanah pasca galian batuan.ABSTRACTOrganic matters and microorganisms are needed to improve the physical properties of the post-mine sand pits soil so that it can be used for plant cultivation. The purpose of this study was to know the influence of organic matters and soil microorganism application on post-mine sand pits soil improvement and chili pepper growth. This study was conducted in Cibiru Bandung (-6.92049471880716, 107.716127309820), from June to October 2020, using Block Randomized Factorial Design two factors and repeated three times. The first factor was organic matters: b0 : control, b1: compost Titonia 15 t ha-1, b2: compost Hyacinth 15 t ha-1, b3: palm shell ash 15 tha-1. The second factor: microbes: m0: control, m1: mix inoculum AMF  10 g polybag-1, m2 : mix inoculum PSB 10 ml polybag-1 , m3 : mixture of AMF and PSB. The results showed that hyacinth 15 t ha-1 given with FMA or PSB increased soil moisture. The application of organic matters and microbes decreased water stable aggregates. Hyacinth and PSB lower the temperature of the soil. The application of organic matters and microorganisms has not had an effect in increasing the growth of chili pepper plants but influences the physical properties of the post-mine sand pit  soil.
Pengaruh peningkatan suhu pada fase pembentukan umbi tanaman kentang (Solanum tuberosum) cv. Granola Pantouw, Carla Frieda; Hapsari, Betalini Widhi; Hastilestari, Bernadetta Rina
Jurnal AGRO Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/18117

Abstract

Kentang (Solanum tuberosum) merupakan salah satu bahan makanan yang penting di dunia. Budidaya komoditas ini umumnya berada di dataran tinggi dengan suhu yang rendah. Jumlah lahan pertanian di dataran tinggi semakin kecil disebabkan antara lain karena alih fungsi lahan. Penanaman kentang di dataran yang lebih rendah menjadi kendala karena adanya peningkatan suhu. Penelitian ini dirancang untuk mengetahui pengaruh ketinggian tempat dan perubahan suhu terhadap tanaman kentang pada fase pembentukan umbi. Tanaman kontrol ditanam pada ketinggian 2921 meter diatas permukaan laut (m dpl) dengan suhu siang/malam (190C/120C). Setelah fase pembentukan umbi, sebagian tanaman dipindah ke daerah dengan ketinggian 115 m dpl dengan suhu siang/malam (300C/240C). Perubahan ketinggian tempat dengan suhu yang berbeda mengakibatkan shade avoidance, perubahan akumulasi biomasa pada batang tanaman dan penurunan hasil panen. Hal ini disebabkan karena penurunan hasil fotosintesa, sukrosa, serta kadar klorofil yang disebabkan oleh faktor genetik dan metabolisme enzim. Oleh karena untuk mendukung permintaan komoditas kentang yang semakin meningkat, pemuliaan tanaman kentang tahan terhadap cekaman suhu diperlukan untuk memperluas area penanaman kentang di dataran menengah maupun dataran rendah.ABSTRACTPotato (Solanum tuberosum) is one of the important staple foods in the world. This plant is mostly cultivated in high-altitude regions with low temperatures. As the number of lands for potato cultivation is getting smaller due to land conversion. Potato cultivation in low-altitude regions with high temperatures yields low productivity. This study was designed to determine the effect of altitude and temperature changes on potato plants in the tuber formation phase. Control plants were planted in an area with an altitude of 2921 meters above sea level (m asl), with day/night temperatures (190C/120C). After the tuber formation phase, some plants were transferred to areas with an altitude of 115 m above sea level and day/night temperatures (300C/240C). Change in altitude with different temperatures resulted in shade avoidance, changes in the accumulation of biomass on plant stems, and yield reduction. This is due to decreasing sucrose content as photosynthesis assimilates, and chlorophyll content due to genetic factors and enzyme metabolism. Therefore, to support the increasing demand for potato commodities, breeding potato plants resistant to heat stress is needed to expand the potato planting area in middle or low altitudes. 

Page 1 of 2 | Total Record : 14