cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Pengaruh pengapuran dan pemupukkan P, K terhadap produktivitas dan kualitas buah papaya CV. Merah Muda di lahan rawa Titin Purnama; Hendri Hendri; Jumjunidang Jumjunidang; D Fatri; Andre Sparta
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/13884

Abstract

Pepaya Merah Delima berpotensi untuk dibudidayakan di lahan rawa lebak. Permasalahan lahan rawa lebak yaitu pH rendah dan ketersediaan hara dalam tanah rendah sehingga perlu diberikan pengapuran dan pemupukan tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis kapur, pupuk P dan K terbaik untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pepaya Merah Delima. Penelitian dilakukan di lahan rawa lebak TTP Siak, Kecamatan Sai Mandau (BPTP Riau) dari bulan Januari 2018 sampai Desember 2019. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan petak utama yaitu dua taraf dosis kapur (6 dan 9 t ha-1) dan anak petak kombinasi dari tiga taraf dosis pupuk P2O5 (100, 200, 300 g tan-1) dan tiga taraf dosis pupuk K2O (150, 300, 450 g tan-1), setiap perlakuan terdapat tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kapur dosis 6 t ha-1 dan kombinasi P dan K dosis 300 g tan-1+ 300 g tan-1 berturut-turut, dapat meningkatkan produksi pepaya Merah Delima sampai 51% dengan rata-rata produksi 98,00 kg tan-1, jumlah buah rata-rata 95,45 tan-1, bobot buah 1.031,30 g buah-1, PTT 11,81 oBrix, dan kekerasan buah 55,08 kg cm-2. Pemberian kapur dan tambahan pupuk P dan K efektif untuk memperbaiki sifat lahan rawa lebak sehingga dapat meningkatkan hasil tanaman pepaya Merah Delima. Papaya CV. Merah Delima is potential to be cultivated on tidal swampland. The problems of tidal swampland are low degree of pH and low nutrient availability in the soil, thus it needs additional liming and fertilization. This study aimed to obtain the best dose of lime, also phosphorus and potassium fertilizers to increase the productivity and quality of papaya cv. Merah Delima. The study was conducted at TTP Siak, Sai Mandau district (BPTP Riau) from January 2018 to December 2019. The study used a Split Plot Design with the main plot was two doses of lime (6 and 9 t ha-1) and the subplot was combination of three doses of P2O5 fertilizer (100, 200, 300 g plant-1) and three levels of K2O fertilizer (150, 300, 450 g plant-1), with three replications. The results showed the application of lime at dose of 6 t ha-1 combined by P and  K fertilizer of 300 g plant-1 + 300 g plant-1, respectively, could increase papaya production up to 51%, whereas average production 98.00 kg plant-1, average number of fruits 95.45 plant-1, fruit weight 1,031.30 g fruit-1, TSS 11.81 °Brix, and fruit hardness of 55.08 kg cm-2. Application of lime and additional fertilizer into the tidal swampland are effective to improve its characteristics and able to increase the papaya Merah Delima production.
Perbedaan pertumbuhan dan produktivitas varietas bayam hijau dan bayam merah Arya Widura Ritonga; Muhammad Syaifuk Ar Rosyid; Axel Anderson; Muhamad Achmad Chozin; Purwono Purwono
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14664

Abstract

Bayam termasuk salah satu sayuran terpenting di Indonesia karena paling banyak dikonsumsi setelah kangkung. Bayam hijau dan bayam merah merupakan jenis bayam paling banyak ditanam dan dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan dan produktivitas varietas bayam hijau dan bayam merah. Penelitian dilakukan pada Februari – April 2021 di Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University. Sebanyak 9 varietas bayam hijau (Maryland, Richie, Maestro, Benua, Doly, Khanafiah, Manila, Pacific, White Leaf) dan 4 varietas bayam merah (Mira, Baret Merah, Clara, Aurora) ditanam menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan tiga ulangan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa varietas bayam hijau memiliki kandungan persentase warna hijau daun lebih banyak namun memiliki persentase warna biru dan merah yang lebih rendah dibandingkan varietas bayam merah. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa varietas bayam hijau menghasilkan tinggi tanaman dan produktivitas yang lebih baik dibandingkan varietas bayam merah, namun varietas bayam merah menghasilkan luas daun dan jumlah daun per tanaman saat panen yang lebih baik besar dibandingkan varietas bayam hijau. Varietas White Leaf merupakan varietas bayam yang sangat baik karena memiliki persentase warna hijau daun yang tinggi, luas daun yang besar dan produktivitas yang tinggi. Spinach is one of the most important vegetables in Indonesia because it was the second most consumed after kangkung. Green spinach and red spinach are the most widely grown and consumed types of spinach. This study aimed to determine differences in growth and productivity between varieties of green spinach and red spinach. The research was conducted in February – April 2021 at the Leuwikopo Experimental Field, Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University. A total of nine varieties of green spinach and four varieties of red spinach were planted using a completely randomized block design with three replications. The results showed that the green spinach variety contained a higher percentage of green leaf color but had a lower percentage of blue and red leaf color than the red spinach varieties. The results also showed that the green spinach varieties produced better plant height and productivity than the red spinach varieties, but the red spinach produced better leaf area and a number of leaves per plant at harvest than the green spinach. The White Leaf variety is the excellent spinach variety because it has a high percentage of green leaf color, large leaf area, and high productivity.
Kultur suspensi sel tanaman gajah beranak (Goniothalamus tapis Miq) terhadap kandungan zat goniotalamin Imam Mahadi; Sri Wulandari; Wan Safii; Irda Sayuti
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14710

Abstract

Zat goniotalamin pada tanaman gajah beranak (Goniothalamus tapis) merupakan obat alternatif penyembuhan kanker. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan zat goniotalamin melalui kultur kalus dan kultur suspensi sel. Metode penelitian eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan kombinasi 2,4-D (1-10 mgL-1) dan BAP (0,5-2 mgL-1) menggunakan eksplan batang muda, terdiri dari 17 perlakuan dan 3 kali ulangan. Analisis data menggunakan Analysis of Variances dan uji lanjut Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf 5%. Hasil menunjukkan bahwa kultur kalus G. tapis pada media 5,0 mg L-1 2,4-D + 1 mg L-1 BAP adalah yang terbaik dengan waktu muncul kalus 28,33 hari dan persentase pembentukan kalus 100%. Kalus untuk kultur suspensi sel bertekstur remah dan berwarna kuning kehijauan. Kultur suspensi sel menghasilkan pertumbuhan sel yang cepat, tidak lembek berair dan mudah dipisahkan. Hasil kualitatif Kromatografi Lapis Tipis kultur suspensi sel sangat jelas, bersih dan terdapat potensi kandungan zat goniotalamin pada perlakuan 2,4-D 5 mg L-1 + BAP 0,5 mg L-1, 2,4-D 5 mg L-1 + BAP 1 mg L-1, 2,4-D 5 mg L-1 + BAP 2 mg L-1, 2,4-D 10 mg L-1 + BAP 0,5 mg L-1 dan 2,4-D 10 mg L-1 + BAP 1 mg L-1. Hasil kuantitatif zat goniotalamin dengan Kromatografi Cair Prestasi Tinggi terdapat pada perlakuan 2,4-D 5,0 mgL-1 + BAP 1 mg L-1 yaitu 9,57 mg g-1.The goniothalamine compound on Goniothalamus tapis is an alternative cancer medicine. This study aimed to obtain gonotalamin through callus culture and suspension cell culture. The experiment research method was Completely Randomized Design (CRD) with a combination of 2.4-D (1-10 mg L-1) and BAP (0.5-2 mg L-1) using young stem explants consisting of 17 treatments with 3 replications. Data analysis used ANOVA and DMRT at 5%. The results showed that G. tapis callus culture on 5.0 mg L-1 2.4-D + 1 mg L-1 BAP was the best treatment medium with callus emergence time of 28.33 days and percentage of callus formation 100%. The callus used for suspension cell culture was friable and greenish-yellow in color. Suspension cell culture resulted in rapid cell growth, was not fleshy, and easily separated. The  quality test by Thin Layer Chromatography (TLC) from suspension cell culture resulted very clear, clean, and potential content of goniothalamin found in treatments 2.4-D 5.0 mg L-1 + BAP 0.5 mg L-1, 2.4-D 5.0 mg L-1 + BAP 1 mg L-1, 2.4-D 5.0 mg L-1 + BAP 2 mg L-1, 2.4-D 10 mg L-1 + BAP 0.5 mg-1 and 2.4-D 10 mg-1 + BAP 1 mg-1. The quantitative results of the best goniotalamine compounds in cell suspension cultures using High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) on medium 2,4-D 5.0 mgL-1 + BAP 1 mg L-1 ie 9.57 g-1.
Formula padat Bacillus cereus STRAIN TLE1.1 untuk pengendalian penyakit busuk pangkal batang (Sclerotium rolfsii) pada tanaman tomat Yulmira Yanti; Hasmiandy Hamid; Reflin Reflin; Yaherwandi Yaherwandi; Febri Yani Chrismont
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14679

Abstract

Penyakit utama tanaman tomat yaitu busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Sclerotium rolfsii dapat menimbulkan kerugian mencapai 80-100%. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan formula padat Bacillus cereus strain TLE1.1 yang efektif untuk pengendalian penyakit busuk pangkal batang pada tanaman tomat. Penelitian bersifat eksperimen dengan mengamati kemampuan formula padat B.cereus strain TLE1.1 dalam pengendalian penyakit busuk pangkal batang dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri atas kombinasi bahan pembawa formula padat yang terdiri atas limbah padat ampas tebu, ampas tahu dan tongkol jagung, fungisida serta kontrol. Masing-masing formula padat B. cereus strain TLE1.1 diintroduksi pada benih dan bibit tomat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua formula mampu menekan penyakit busuk pangkal batang tanaman tomat. Formula terbaik dalam menurunkan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman yaitu formula ampas tahu dan ampas tahu + tongkol jagung. Main disease of tomato plant, namely stem rot caused by Sclerotium rolfsii which can cause losses up to 80-100%. The aim of the study was to obtain a solid formula of Bacillus cereus strain TLE1.1 which was effective for controlling stem rot disease in tomato plant. This research was an experimental study to know the ability of the solid formula of B. cereus strain TLE1.1 in controlling stem rot disease which was carried out in a completely randomized design consisting of 9 treatments and 3 replications. The treatment consisted of a combination of solid formula carriers consisting of sugarcane solid waste, tofu dreg and corncob, fungicides and controls. Each solid formula of B. cereus strain TLE1.1 was introduced into tomato seeds and seedlings. The results showed that almost all of the formulas were able to suppress stem base disease of tomato plants. The best formula that reduced stem rot in plants were the tofu dreg and tofu dreg + corncob formula.
Aplikasi pupuk hayati ameliorant, dan pupuk NPK terhadap N total, P tersedia serta pertumbuhan dan hasil jagung pada inceptisols Mieke Rochimi Setiawati; Lia Nur Linda; Nadia Nuraniya Kamaluddin; Pujawati Suryatmana; Tualar Simarmata
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/15121

Abstract

Inceptisols umumnya memiliki tingkat kesuburan tanah rendah sampai sedang. Upaya peningkatan ketersediaan hara tanah Inceptisol dengan pupuk anorganik NPK perlu diimbangi dengan aplikasi pupuk hayati dan amelioran organik. Percobaan ini bertujuan untuk mengurangi dosis pupuk NPK dengan menggunakan pupuk hayati dan amelioran organik serta meningkatkan hasil tanaman jagung. Percobaan dilakukan di Pasir Banteng, Kabupaten Sumedang. Penelitian menggunakan RAK faktorial. Pupuk hayati dengan amelioran organik sebagai faktor pertama sebanyak empat taraf: tanpa pupuk hayati dan amelioran (kontrol), diberi pupuk hayati, amelioran organik, dan gabungan keduanya. Faktor kedua yaitu dosis pupuk NPK empat taraf: 100%, 80%, 60%, 40% NPK dosis anjuran.  Dilakukan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara pupuk hayati, amelioran organik, dengan pupuk NPK terhadap tinggi tanaman, N-total tanah, bobot tongkol berkelobot dan tanpa kelobot. Pemberian pupuk hayati dan amelioran disertai pupuk NPK 100% dan yang tanpa diberi amelioran menghasilkan bobot tongkol tanpa kelobot sebesar 1.089 g dan 1.064 g per tanaman. Pemberian pupuk hayati dengan amelioran dan pemberian pupuk NPK 100% menghasilkan bobot pipilan per tanaman 526,08 g dan 539,08 g. Aplikasi pupuk hayati dan amelioran organik belum mampu mengurangi dosis penggunaan pupuk NPK pada Inceptisols asal Pasir Banteng. Inceptisols generally have low to moderate soil fertility. The effort to increase the nutrients availability in Inceptisol through the application of NPK fertilizers need to be balanced with biofertilizers and organic ameliorants. This experiment aimed to reduce the dose of NPK fertilizer by using biofertilizers and organic ameliorants and to increase maizeyields. The experiment was conducted in Pasir Banteng, Sumedang Regency. The factorial RBD was used. The biofertilizer with organic ameliorant as the first factor: no biofertilizer and no ameliorant (control), biofertilizer, organic ameliorant, and combination of both. The second factor was dose of NPK fertilizer: 100%, 80%, 60%, 40% of recommended NPK dose. It was repeated three times. The results showed that there was interaction between biofertilizer, organic ameliorants, with NPK fertilizers on plant height, N-total soil, weight of cobs with and without husk. The application of biofertilizer and ameliorant with 100% NPK fertilizer and without ameliorant were 1,089 g and 1,064 g of cobs without husks, respectively. The application of biofertilizer with ameliorant and 100% NPK fertilizer had a grain weight of 526.08 g and 539.08 g, respectively. The application of biofertilizers and organic ameliorants has not been able to reduce the dose of NPK fertilizer on Inceptisols from Pasir Banteng.
Respons bibit kopi Liberika hasil sambung pucuk dengan kopi Robusta pada berbagai panjang entres dan inokulasi mikoriza Elis Kartika; Gusniwati Gusniwati; Made Deviani Duaja
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/12747

Abstract

Grafting bibit kopi memiliki tujuan menghasilkan tanaman dengan karakteristik terbaik dari dua varietas kopi yang disambungkan. Kopi robusta digunakan sebagai batang bawah, karena lebih tahan terhadap kondisi yang tidak menguntungkan di lahan gambut. Upaya peningkatan ketahanan batang bawah dapat memanfaatkan mikoriza dan disambungkan dengan kopi liberika sebagai batang atas. Penelitian ini bertujuan untuk  mendapatkan bibit kopi Liberika unggul hasil grafting dengan kopi Robusta bermikoriza serta mendapatkan panjang entres kopi Liberika yang mampu meningkatkan pertumbuhan bibit kopi Liberika hasil sambung pucuk. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor dan empat ulangan. Faktor pertama adalah inokulasi mikoriza (tanpa aplikasi mikoriza dan aplikasi mikoriza gabungan Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c) dan  faktor kedua berupa panjang entres (10, 15, 20 dan 25 cm). Parameter yang diamati adalah persentase keberhasilan sambungan, waktu pecah tunas, pertambahan tinggi bibit, pertambahan jumlah daun, jumlah tunas, bobot kering tunas, dan infeksi mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan respons bibit kopi Liberika hasil grafting dengan bibit kopi Robusta bermikoriza terbaik diperoleh pada panjang entres 15 cm, sedangkan yang disambungkan dengan Robusta tidak bermikoriza diperoleh pada panjang entres 25 cm. Pertumbuhan bibit kopi Liberika hasil grafting dengan bibit kopi Robusta terbaik pada berbagai panjang entres diperoleh pada kopi Robusta bermikoriza.” The main goal of coffee grafting is to create a crop with the best characteristic of two coffee varieties in one plant. Robusta coffee is used as the rootstock, which is more resistant to constraints and unfavorable conditions in the peatland. The effort to increase rootstock resistance is inoculated by mycorrhizae and grafted with Liberica coffee as the scion. This study aimed to obtain the best scion length in order to increase the growth of Liberica coffee with Robusta coffee as the inoculated rootstock. The experiment used factorial completely randomized design with the first factor was mycorrhizae inoculation (without inoculation and inoculation of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c combination) and the second factor was  the length of scion (10, 15, 20 and 25 cm). The variables observed were the percentage of success grafted plants, shoot break time, growth (plant height, number of leave, number of shoots, and shoot dry weight) and mycorrhizae infection. The results showed that the plant inoculated by mycorrhizae and scion lenght of 15 cm gave the best percentage of the success graft, shoot break time, and growth of scion. While, the root stock without inoculation showed the best result with the scion length 25 cm. The best growth of grafted plant was obtained in all scion length with mycorrhizae inoculation. 
Pendugaan parameter genetik karakter akar beberapa genotype kedelai (Glycine max (L.) Merril) Deviona Deviona; Eva Nurjanah; Elza Zuhry; Armaini Armaini; Suhartina Suhartina
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akar menjadi salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan, perkembangan, serta hasil tanaman kedelai. Hal ini disebabkan akar menjadi organ pertama yang merespon kondisi media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabilitas dan nilai heritabilitas karakter akar beberapa genotipe kedelai. Penelitian dilaksanakan menggunakan wadah dari kaca (rhizobox) di Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Riau. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap, dengan perlakuan berupa 20 genotipe kedelai yang diulang 3 kali. Benih yang digunakan berasal dari Balitkabi. Karakter yang diamati yaitu: panjang plumula, panjang akar primer, panjang akar sekunder, jangkauan akar sekunder, kedalaman akar sekunder, dan jumlah akar yang panjang >1 cm. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman genetik yang sangat tinggi pada karakter panjang plumula, panjang akar sekunder, jangkauan akar dan jumlah akar yang panjang >1 cm. Karakter kedalaman akar sekunder memiliki keragaman genetik luas, sedangkan panjang akar primer memiliki keragaman genetik rendah. Nilai heritabilitas seluruh karakter tinggi kecuali kedalaman akar sekunder yang memiliki nilai heritabilitas sedang dan panjang akar primer yang memiliki nilai heritabilitas rendah. Root is one of the important factors that determine the growth, development, and yield of soybean plants. Root is the first organ to respond to growing media conditions. This study aimed to determine variability and heritability values of root characters of several soybean genotypes. The research was conducted using a glass container (rhizobox) at the Plant Breeding Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Riau. The study was an experimental research in a completely randomized design, with the treatment consisted of 20 genotypes repeated 3 times. The seeds used originated from Balitkabi. The characters observed were: plumule length, primary root length, secondary root length, secondary root reach, secondary root depth, and number of long roots >1 cm. The results showed that there was very wide variability in the character of the plumule length, secondary root length, secondary root range, and number of root range >1 cm. The secondary root depth character had wide genetic variability, while the primary root length had narrow genetic variability. The heritability values for all characters were high except for secondary root depth which had medium heritability and the primary root length had low heritability.
Pengaruh priming terhadap vigor benih kedelai (Glycine max (L.) Merril.) yang dikecambahkan pada media dengan cekaman alumunium Agustiansyah Agustiansyah; Paul B Timotiwu; Nabila Lutfiah
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/13458

Abstract

Kandungan aluminium yang tinggi pada tanah Ultisol merupakan salah satu masalah utama dalam budidaya tanaman kedelai mulai dari fase perkecambahan hingga pertumbuhan tanaman. Perlakuan priming pada benih diyakini mampu memperbaiki perkecambahan pada lingkungan yang kurang menguntungkan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh priming pada perkecambahan benih kedelai yang dikecambahkan dalam media masam dan mengandung aluminium. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama adalah jenis priming : tanpa priming, H2O (air), KNO3 1%, KNO3 2%, GA3 50 ppm, GA3 100 ppm, dan PEG 6000 7,5%. Faktor kedua adalah varietas kedelai yaitu: Anjasmoro, Burangrang, dan Grobogan. Data dianalisis sidik ragamnya dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5% menggunakan program statistika R Studio. Hasil penelitian menunjukkan priming PEG 7,5% dan varietas Burangrang secara mandiri merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan vigor benih kedelai berdasarkan variabel waktu muncul kecambah, kecepatan perkecambahan, dan panjang hipokotil. Implikasi penelitian ini adalah PEG 7,5% dapat digunakan untuk perbaikan perkecambahan pada tanah masam dengan kandungan aluminium yang relatif tinggi. High aluminium content in Ultisol is the main problem in soybean cultivation from germination to planting growth phases.Priming treatment is believed to improve seed germination in a poor-growing environment. This study aimed to determine the effect of priming of soybean seeds germinated under acid medium and aluminium stress. The experimental design used was Completely Randomized Design (CRD) with factorial pattern. The first factor was priming type : no priming, H2O (water), 1% KNO3, 2% KNO3, 50 ppm GA3, 100 ppm GA3, and 7.5% PEG 6000. The second factor was soybean variety : Anjasmoro, Burangrang, and Grobogan.  The data obtained were analyzed using the R Studio statistic program with a 5% HSD test. The study resulted that each PEG 7.5% priming and Burangrang  variety independently was the best in increasing soybean seed vigor based on sprout time emergence, germination speed and hypocotyl length. This research implicates that PEG 7.5% can be used to improve seed germination on acid soils with high aluminium content. 
Pengaruh pemupukan N terhadap serapan dan efisiensi penggunaan N, serta hasil padi hibrida Risqa Naila Khusna Syarifah; Zulfa Ulinuha; Purwanto Purwanto
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/15084

Abstract

Pemupukan N pada padi hibrida menjadi krusial mengingat varietas padi hibrida sangat responsif, sehingga harus diketahui dosis yang tepat untuk menghasilkan produksi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis N terhadap serapan N, efisiensi penggunaan N, dan hasil padi hibrida. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang diulang tiga kali. Faktor pertama adalah varietas padi hibrida yang terdiri dari Varietas Mapan P05, Varietas SL-8 SHS Sterling, dan Varietas Intani 602. Faktor kedua adalah dosis pemupukan N yang terdiri dari kontrol tanpa pemupukan N, dosis N 100 kg ha-1, dan dosis N 200 kg ha-1. Terdapat respon yang beragam antar varietas padi hibrida terhadap taraf pemupukan N, Serapan N, efisiensi penggunaan N tertinggi yang dihasilkan oleh varietas Intani 602 masing-masing sebesar 138,57 %, dan 36,13%. Serapan N tanaman padi tertinggi dicapai pada dosis N 100 kg ha-1, dan efisiensi penggunaan N tertinggi pada dosis N 200 kg ha-1. Hasil gabah tertinggi dicapai pada varietas Mapan P05 sebesar 7,42 t ha-1, dan dosis pemupukan N 100 kg ha-1 memberikan hasil tertinggi sebesar 7,47 t ha-1. Implikasi dari penelitian ini bahwa dosis nitrogen 100 kg ha-1 dapat menjadi acuan sebagai dosis pemupukan N varietas padi hibrida di Indonesia. Hybrid rice is responsive to nitrogen, so it’s necessary to find the optimum dose to optimize the production. The  aim of this research was to examine the effect of nitrogen on N uptake, N use efficiency, and yield of hybrid rice. This study used a randomized block design with three replications. The first factor consisted of the  Mapan P05 variety, the SL-8 SHS Sterling variety, and Intani 602 variety. The second factor was Nitrogen dosage consisted of control, 100 kg ha-1, and 200 kg ha-1. There were various responses among hybrid rice varieties to the level of fertilization. The highest N uptake and N use efficiency was achieved in the Intani 602 variety at 138.57% and 36.13%, respectively. The highest N uptake was achieved at 100 kg ha-1 of N, and the highest N use efficiency was at 200 kg ha-1. The highest yield was achieved in the Mapan P05 variety (7.42 t ha-1), and the dose of N at 100 kg ha-1 gave the highest yield (7.47 t ha-1). The implication of this research is that the nitrogen dose of 100 kg ha-1 can be used as a reference for hybrid rice varieties fertilizer in Indonesia.
Saponins accumulation and antimicrobial activities on shallot (Allium cepa L.) from marginal land Nur Aeni Ariyanti; Sonia Latifa
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/12524

Abstract

Saponins are one of the secondary metabolites found in Shallot (Allium cepa L.), particularly in the roots. Microclimate differences in the cultivation area are thought to have a significant impact on the production of secondary metabolites, such as saponins. This research aimed to observe the saponins content in the root of shallot plants cultivated in marginal agricultural land and their antimicrobial activity against bacteria (Ralstonia solanacearum) and fungus (Fusarium oxysporum). This research was observational research with a random sampling method. The samples were collected from the shallot plantation with two different cultivation conditions. Two varieties of ‘Bima' and 'Tiron' cultivated by farmers in sandy coastal land Samas, Bantul were used. The plants were harvested at 1, 1.5, and 2 months after planting, respectively. The crude saponins extract was used to test antimicrobial activity. Shallot plants cultivated in marginal coastal sandy land produced higher saponins accumulated in their roots. The saponins production increased along with the maturity of shallot plants, both cultivated in marginal coastal sandy land and regular paddy field. The saponins extracted from the roots of shallots cultivated in both marginal and regular land showed higher antimicrobial activity than antifungal activity. Saponin merupakan salah satu metabolit sekunder yang terdapat pada bawang merah (Allium cepa L.), terutama pada bagian akar. Perbedaan iklim mikro pada lahan budidaya diduga akan berpengaruh terhadap produksi metabolit sekunder termasuk saponin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan saponin pada bagian akar tanaman bawang merah yang dibudidayakan di lahan pertanian marginal serta aktivitas antimikrobanya terhadap bakteri (Ralstonia solanacearum) dan jamur (Fusarium oxysporum). Penelitian ini merupakan penelitian observasi dengan metode pengambilan sampel secara acak. Sampel berasal dari perkebunan bawang merah dengan dua lahan budidaya yang berbeda. Digunakan dua varietas yaitu 'Bima' dan 'Tiron' yang dibudidayakan oleh petani di daerah pantai Samas,kabupaten Bantul. Bahan tanaman dipanen pada tiga waktu berbeda, yaitu 1 bulan, 1,5 bulan dan 2 bulan berturut-turut setelah tanam. Ekstrak kasar saponin digunakan untuk menguji aktivitas antimikrobanya. Tanaman bawang merah yang dibudidayakan di lahan marginal pasir pantai menghasilkan saponin yang  lebih tinggi yang terakumulasi pada akarnya. Produksi saponin semakin meningkat seiring dengan umur tanaman bawang merah, baik yang dibudidayakan di lahan marginal pasir pantai maupun di lahan sawah biasa. Saponin yang diekstraksi dari akar bawang merah yang dibudidayakan di lahan marginal dan lahan biasa menunjukkan aktivitas antimikroba yang lebih tinggi daripada aktivitas antijamurnya.